• Tidak ada hasil yang ditemukan

H. ASESMEN: PELAKSANAAN DAN HASIL

2. Hasil Wawancara

4 walaupun klien menjawab benar pada kesempatan kedua. Di subtest Arithmetic klien juga cukup baik menjawab pertanyaan 2 soal awal dengan tepat walaupun harus diinstruksi secara pelan-pelan dan dilustrasikan dengan orang yang klien kenal. Pada subtest Picture Completion klien diminta untuk menjawab atau menunjuk gambar yang hilang, klien pada 2 soal diawal klien mampu untuk menunjuk 2 bagian gambar yang hilang walaupun klien tidak menatap dengan benar gambar tersebut pada bebrapa gambar klien juga mengetuk- ngetuk gambar tersebut dengan keras dan ditekan-tekan dengan pandangan keatas atau berpaling dari gambar tersebut. Hal tersebut juga terjadi dibeberapa subtest lainnya yang dimana klien tidak memperhatikan instruksi dan perintah yang disampaikan, klien lebih banyak untuk memalingkan perhatiannya kebenda yang membuat klien tertarik atau tidak mau duduk dengan tenang harus diajak bercerita dulu agar klien bisa duduk dengan tenang.

Pada saat subtest Coding klien masih belum bisa memperhatikan arahan yang disampaikan oleh praktikan serta klien belum mampu memegang pensil dengan baik sehingga klien hanya mampu menggambar dengan benar 3 simbol didalam soal tersebut. Selain itu juga klien tidak memperhatikan dengan baik simbol-simbol yang awalnya diberikan contoh cara pengerjaannya oleh praktikan.

2. Hasil Wawancara

Hasil alloanamesa dapatkan berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh ibu klien pada saat menjalani pengobatan di Rumah Sakit Jiwa Magelang dan melalui video call whatsapp. Bahwa ibu klien memaparkan pada saat proses pengandung kondisi ibu yang memiliki tekanan dan berproses menerima kandungan ketiga dikarenakan anggapan ibu bahwa dirinya baru memiliki anak kedua yang masih kecil dan kesusahan ibu untuk mengatur waktu dalam pengasuhan kedua anaknya sebelumnya sehingga secara psikis kondisi ibu yang tertekan dengan kehamilan ketiganya.

Proses kelahiran klien dengan cara normal dengan berat badan 2,7 kg dan tinggi yang normal. Menurut pemaparan ibu bahwa semenjak klien balita di umur 5 bulan klien tidak mampu merespon stimulus dan interaksi yang diberikan oleh orang lain. Badan klien masih tegang dan tangan klien masih menggenggam, serta klien belum bisa tengkurap. Diusia klien 2 minggu klien sudah berhenti ASI dikarenakan ASI ibu sudah tidak bisa keluar lagi walaupun menggunakan pompa air sehingga klien berganti menggunakan susu formula. Sedari kecil klien tinggal bersama dengan pengasuhnya yang berusia 40 tahun dikarenakan profesi orang tuanya guru dan sibuk untuk

bekerja. Diusianya 7 bulan dimana hal itu masih dibantu orang lain dan juga klien belum mampu merespon apapun seperti halnya cahaya, gerakan tangan serta suara dari orang lain.

Berbeda dengan anak diusianya diumur klien 1 tahun klien belum bisa berjalan melainkan klien baru bisa merangkak dan merambat, klien juga belum menunjukkan suara masih terlihat terdiam dan tidak banyak merespon stimulus yang diberikan seperti dipanggil nama ataupun merasakan geli badan, sakit. Klien hanya menangis dan lebih banyak untuk diam. Diusia klien 3 tahun klien baru bisa berlari dan berjalan namun masih belum menunjukkan bahwa klien sudah bisa berbicara sehingga orang tua mulai membawa klien untuk melakukan pemeriksaan okupasi di rumah sakit. Selama 1 tahun klien melakukan pemeriksan okupasi dan wicara dirumah sakit diusianya 4 tahun klien sudah mampu mengeluarkan suara 3-6 kata setiap berbiacara dan masih sering bubbling. Pengobatan dan pemeriksaan tersebut diteruskan oleh orang tua klien sampai akhirnya klien dinyatakan dokter bisa masuk kependidikan taman kanak-kanak.

Diusia klien 6 tahun, klien sudah didaftarkan untuk menjalani pendidikan di TK dekat dengan rumahnya.

Selama bersekolah klien kesusuhan untuk mengikuti pembelajaran dan cenderung diam. Klien juga tidak mampu melakukan perintah yang diberikan oleh gurunya seperti halnya menyusun balok, membedakan warna atau menyebutkannya serta klien juga belum mampu untuk menggunting pola seperti segita, kotak dan lingkaran.

Menurut ibunya klien juga susah berinteraksi dengan teman-temannya dikarenakan klien sering menyendiri dan lebih banyak diam jika ditanya oleh teman-temannya sehingga membuat klien dijauhi oleh teman-temannya di TK. Klien juga sempat tinggal kelas di nol kecil sehingga adanya keterlambatan klien untuk lulus dari TK tersebut.

Selama dirumah, klien juga tidak menunjukkan reaksi atau ekspresi ketika marah, sedih, ataupun ketawa.

Klien lebih memperlihatkan sikap yang diam dan ekpresi yang datar. Selain itu juga sewaktu klien berusia 6 tahun klien pernah mengalami sakit demam berdarah dan dirawat selama 3 minggu. Setelah lulus dari TK klien langsung dimasukkan ke Sekolah Dasar dikarenakan ibunya menganggap teman-teman klien diusia tersebut sudah masuk SD dan klien juga dimasukkan ke SD agar sama dengan teman-temannya. Keluarga memilihkan SD yang

baru merintis di dekat rumahnya anggapannya agar mudah beradaptasi dan bisa memahami kondisi klien.

Sewaktu klien berada di sekolah dasar klien memiliki kesulitan dalam mengikuti pembelajaran karena keterbatasan diri seperti halnya tidak bisa berhitung, belum bisa membaca, dan sulit berkonsentrasi ketika dikelas.

Menurut pemaparan ibunya bahwa klien sering keluar kelas dengan berlari jika klien bosan didalam kelas dan bermain sendiri dihalaman sekolahan tanpa ada teman yang diajak bermain. Klien juga sempat BAB dan BAK dikelas karena takut meminta ijin kepada gurunya sehingga klien membiarkannya saja. Selama duduk dikelas satu klien banyak sekali ketinggalan pelajaran namun ada perkembangan dari diri klien bahwa klien sudah mampu untuk menggunting pola segita, kotak dan lingkaran dengan mandiri.

Pada kenaikan kelas klien dinyatakan untuk tinggal kelas dikarena dari nilai akademiknya tidak mencapai standar yang disekolahnya dan kemampuan klien tidak berkembang. Perasaan klien saat itu biasa tidak ada kesedihan ataupun kecewa dalam dirinya. Sehingga orang tua memutuskan untuk memindahkan klien ke SLB namun keputusan itu masih dikomunikasikan bersama ayah klien

karena ibu klien keberatan jika klien harus tinggal di asrama dengan kondisi klien yang masih kecil. Selama ini ibu klien merasa bersalah dengan diri klien karena tidak bisa merawat klien dengan maksimal dan merasa klien menjadi seperti sekarang adalah keselahan dari orang tua.

Dokumen terkait