POSTNATAL CARE
C. Analisis Bivariat
17. Hidayat, Aziz Alimul. Metode Penelitian Keperawatan Dan Tekhnik
Analisa Data. Jakarta : Rineka Cipta, 2008
18. Margono. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta, 2013
19. Soekidjo, Notoatmodjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta, 2012
Perawatan Tali Pusat Oleh Ibu Nifas Sebelum Dan Sesudah…
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TERAPI BABY SPA DI PUSKESMAS KECAMATAN PULOGADUNG JAKARTA TIMUR TAHUN 2016
Bintang Petralina, SST, M.Keb.
ABSTRAK
Masa balita merupakan masa yang sangat penting dan memerlukan perhatian yang serius. Pada masa ini berlangsung proses tumbuh kembang yang sangat pesat yaitu pertumbuhan fisik, psikomotorik, mental dan sosial. Kualitas tumbuh kembang pada masa ini menentukan banyak aspek kehidupan, termasuk kesehatan, intelektualitas, prestasi dan produktivitas di kemudian hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu nifas tentang terapi baby spa di Puskesmas Kecamatan Pulogadung Jakarta Timur tahun 2016. Penelitian ini menggunakan metode Deskriptif, populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu nifas di Puskesmas Kecamatan Pulogadung yang berjumlah 136 ibu nifas. Sampel diambil dengan menggunakan rumus slovin sehingga didapat 58 responden. Penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling. Intrumen penelitian ini menggunakan kuesioner dan pengolahan dilakukan secara manual. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar ibu nifas berpengetahuan cukup sebanyak 31 responden (53.4%), sebagian besar berusia 20‐35 tahun dan berpengetahuan cukup yaitu sebanyak 27 responden (58.69%), sebagaian besar berpendidikan menengah (SMA‐SMK) dan berpengetahuan cukup 25 responden (69.45%), berdasarkan pekerjaan sebagian besar tidak bekerja dan berpengetahuan cukup sebanyak 27 responden (57.5%), berdasarkan paritas sebagian besar pada primipara dan berpengetahuan cukup sebanyak 16 responden (61.54%), berdasarkan sumber informasi sebagianbesar pada media elektronik dan berpengetahuan cukup sebanyak 20 responden (55.56%). Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ibu nifas di Puskesmas Kecamatan Pulogadung Jakarta Timur memiliki pengetahuan yang cukup tentang terapi baby spa. Sehingga diharapkan ibu dapat membawa bayinya untuk melakukan terapi baby spa guna meningkatkan tumbuh kembang bayinya.
Kata Kunci : Pengetahuan ibu nifas, terapi baby spa
PENDAHULUAN
Masa bayi dikatakan sebagai golden age atau masa keemasan karena pada masa ini perkembangan otak berlangsung. Masa bayi merupakan tahapan dimana pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat, dimulai dari bayi itu lahir hingga nanti berusia 1 tahun. Namun, apabila tidak dalam pemantauan yang baik akan berakibat terjadinya gangguan pertumbuhan dan perkembangan dalam masa ini (WHO, 2013).
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang berkesinambungan, karena pertumbuhan merupakan bagian dari
proses perkembangan. Pertumbuhan meliputi perubahan tinggi badan , berat badan, gigi, struktur tulang dan karakteristik seksual. Pertumbuhan ini bersifat kuantitatif, sedangkan perkembangan meliputi sistem motorik, sensorik dan psikososial bersifat kualitatif (Suryabrata, 2011).
Berdasarkan data yang diperoleh bahwa masih tingginya angka kejadian gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada bayi khususnya gangguan perkembangan motorik didapatkan 23,5 (27,5%) per 5 juta bayi dan balita mengalami gangguan (UNICEF, 2005).
Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Terapi Baby Spa…
Masalah gangguan pertumbuhan seperti pendek (stunting) pada bayi di Indonesia masih mengkhawatirkan. Hasil survey nasional sebesar 36,8 persen (Riskesdas, 2007), 35,6 persen (Riskesdas, 2010), dan 37 persen (Riskesdas, 2013) bayi mengalami gangguan pertumbuhan (Riskesdas, 2014).
Bayi dan balita yang mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan di Provinsi DKI Jakarta menempati urutan ke‐
11 dengan jumlah 120.960 dari 863.999 bayi dan balita (Depkes, 2014).
Masa 5 tahun pertama merupakan masa kritis bagi kehidupan seorang anak yang akan berdampak signifikan terhadap perkembangan anak berikutnya. Pada bayi yang berat badannya kurang dari batas normal dapat berisiko terjadinya hipoglikemia dan mengalami gangguan tumbuh kembang sehingga perlu diberikan penanganan yang salah satunya adalah pemberian latihan relaksasi. Dengan adanya pemberian relaksasi untuk bayi, para orang tua juga dapat mendeteksi kelainan pada tubuh bayi sejak dini (Saphiranti dan Ginayatunisa, 2011).
Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi gangguan pertumbuhan dan perkembangan bagi bayi dan balita yaitu Denver Development Screening Test atau skrining DDST, tetapi program tersebut belum sepenuhnya terlaksana. Sesuai dengan perkembangan ilmu beberapa tenaga kesehatan melakukan beberapa upaya untuk mengatasi gangguan pertumbuhan dan perkembangan bagi bayi dengan salah satu metode pemberian relaksasi yaitu pemberian baby spa. Secara lebih rinci baby spa didefinisikan sebagai
salah satu cara penatalaksanaan kesehatan dengan mempergunakan air. Bayi yang diberikan terapi baby spa akan mengalami peningkatan fungsi dari nervus vagusnya. Hal ini akan menyebabkan produksi enzim penyerapan gastrin dan insulin menjadi meningkat, sehingga penyerapan terhadap sari makanan menjadi lebih baik. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa pemberian relaksasi akan membantu meningkatkan berat badan (Journal of Pediatric Psychology, 2009).
Bayi yang dilakukan terapi baby spa secara rutin memberi dampak klinis yang positif, di antaranya mengubah gelombang otak secara positif, memperbaiki sirkulasi darah dan pernapasan, serta merangsang fungsi pencernaan serta pembuangan.
Dampak positif lainnya yaitu meningkatkan kenaikan berat badan, mengurangi depresi, meningkatkan kesiagaan, mengurangi kembung dan sakit perut, membuat lelap tidur (IDAI, 2010).
Di Indonesia saat ini hanya beberapa orang tua yang memberikan terapi baby spa pada bayinya, dikarenakan biaya yang cukup mahal dan pengetahuan orang tua yang kurang. Akan tetapi, sebenarnya terapi baby spa dapat dilakukan di rumah tanpa mengeluarkan banyak biaya dengan syarat orang tua telah benar ‐ benar memahami bagaimana cara melakukan terapi baby spa (Aditya, 2014).
DKI Jakarta khususnya wilayah Jakarta Timur menempati urutan ke‐5 dengan jumlah 118 dari 42.021 bayi yang mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Sebagai salah satu cara untuk mengatasi gangguan pertumbuhan dan perkembangan tersebut yaitu dengan
pemberian relaksasi pada bayi atau terapi baby spa. Di Jakarta Timur sudah terdapat sekitar 11 klinik yang menyediakan terapi baby spa, tetapi klinik‐klinik tersebut hanya sebatas permainan bagi bayi belum sepenuhnya digunakan untuk mengatasi gangguan pertumbuhan dan perkembangan (Depkes, 2012).
METODELOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode Deskriptif, populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh ibu nifas di Puskesmas Kecamatan Pulogadung yang berjumlah 136 ibu nifas. Sampel diambil dengan menggunakan rumus slovin sehingga didapat 58 responden. Penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling. Intrumen penelitian ini menggunakan kuesioner dan pengolahan data menggunakan program SPSS untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu nifas tentang terapi Baby Spa.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas tentang Terapi Baby Spa di Puskesmas Kecamatan Pulogadung Jakarta Timur Tahun 20016
No. Variabel
Pengeahuan
N %
Kurang Cukup Baik
n % n % n %
1.
Usia
< 20 Tahun 20 – 35 Tahun
>35 Tahun
1 15 6
25 32.61
75
2 27 2
50 58.69
25 1 4 0
25 8.70
0 4 46
8
100 100 100 2.
Pendidikan Dasar Menengah Tinggi
14 8 0
63.64 22.22
0
6 25 0
27.27 69.45
0
2 3 0
9.9 8.33
0 22 36 0
100 100 100 3.
Pekerjaan Tidak Bekerja Bekerja
13 9
32.50 50
23 8
57.50 44.40
4 1
10 5.6
40 18
100 100 4.
Paritas Primipara Multipara Grandemultipara
7 12 3
26.92 41.38 100
16 15 0
61.54 51.72
0
3 2 0
11.54
6.90 0
26 29 3
100 100 100 5
Sumber Informasi Tidak Pernah Media Cetak Media Elektronik Lain ‐ Lain
8 0 13
1
61.54 0 36.11
25
4 5 20
2
30.77 100 55.56
50 1 0 3 1
7.69
0 8.33
25 13 5 36 4
100 100 100 100
Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Terapi Baby Spa…
Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa sebagian besar ibu nifas di Puskesmas Kecamatan Pulogadung berpengetahuan cukup tentang terapi baby spa.
Pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia yang sekadar menjawab pertanyaan sedangkan baby spa adalah rangkaian stimulasi tumbuh kembang anak dengan memadukan layanan berenang (baby hydro), pijat bayi (baby massage) hingga perawatan kulit untuk bayi (Notoadmodjo, 2012).
Penelitian yang sama dilakukan oleh Hapsari tahun 2015 yang berjudul
“Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Spa Bayi di BPM Indah Febriyanti Kemiri, Kebak Kramat, Karanganyar tahun 2015”, dari jumlah sampel sebanyak 33 responden didapatkan sebagian besar responden berpengetahuan cukup yaitu sebanyak 19 responden.
Hasil yang diperoleh peneliti dengan penelitian orang lain sama yaitu sebagian besar responden berpengetahuan cukup, hal ini dapat dilihat bahwa sebagian besar ibu sudah memiliki pengetahuan yang cukup tentang terapi baby spa, namun di lain sisi dari hasil penelitian diperoleh hanya 7 responden yang menyatakan bersedia untuk melakukan terapi baby spa pada bayinya.
Menurut peneliti hal tersebut mungkin dikarenakan belum banyaknya fasilitas kesehatan yang menerapkan terapi baby spa dan biaya terapi baby spa juga menjadi salah satu kendala bagi orang tua.
Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa pengetahuan ibu nifas tentang terapi baby spa sebagian besar berpengetahuan cukup yaitu pada kategori usia 20‐35 tahun.
Semakin bertambahnya usia seseorang dapat berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya. Semakin bertambahnya usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya. Sehingga pengetahuan yang diperoleh semakin baik, begitu pula pengetahuan tentang terapi baby spa (Notoadmodjo, 2012).
Hasil penelitian yang dilakukan Hapsari pada tahun 2015 yang berjudul “ Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Spa Bayi di BPM Indah Febriyanti Kemiri, Kebak Kramat, Karanganyar tahun 2015 ” diperoleh bahwa hasil yang terbanyak adalah usia >35 tahun sebanyak 21 responden dengan kategori berpengetahuan cukup sebanyak 13 responden.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan tidak sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Hapsari dengan hasil sebagian responden berpengetahuan cukup pada katagori usia > 35 tahun. Hal ini juga menunjukkan ketidaksesuaian dengan teori Notoatmodjo yang mengatakan bahwa semakin bertambahnya usia semakin banyak pengetahuan yang diperoleh.
Menurut peneliti usia tidak mempengaruhi seberapa banyaknya pengetahuan tentang terapi baby spa karena jika kita tidak mencari banyak informasi dari berbagai media kita tidak akan tahu informasi‐informasi terbaru, semakin bertambahnya usia pula semakin banyak kegiatan yang harus dilakukan dan semakin banyak pula kebutuhan yang harus dipenuhi.
Informasi tentang baby spa lebih banyak diperoleh dari media elektronik contohnya televisi, internet, dan media sosial sehingga ibu nifas dengan kategori usia berapapun
bisa mendapatkan informasi tentang terapi baby spa.
Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa pengetahuan ibu nifas tentang terapi baby spa sebagian besar berpengetahuan cukup dengan kategori pendidikan.menengah (SMA‐SMK).
Pendidikan adalah suatu proses pengembangan kemampuan (perilaku) kearah yang diinginkan, pendidikan mencakup pengalaman, pengertian, dan penyesuaian diri dari pihak terdidik terhadap rangsangan yang diberikan kepadanya menuju kearah pertumbuhan dan perkembangan (Notoatmodjo, 2012).
Hasil penelitian Hapsari 2015 yang berjudul “Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Spa Bayi di BPM Indah Febriyanti Kemiri, Kebak Kramat, Karanganyar tahun 2015”, menyatakan bahwa dari 33 responden bahwa mayoritas pendidikan lulusan perguruan tinggi sebanyak 15 responden dengan kategori berpengetahuan cukup sebanyak 10 orang.
Dari hasil penelitian yang dilakukan berbeda dengan penelitian Hapsari tahun 2015 yaitu dalam penelitian berdasarkan pendidikan mayoritas terbanyak adalah lulusan perguruan tinggi berjumlah 15 responden dengan kategori pengetahuan cukup sebanyak 10 orang. Dalam penelitian ini terdapat kekurangan penelitian karena peneliti tidak memperoleh responden yang memiliki pendidikan tinggi sehingga tidak dapat dibandingkan serta dibutuhkan penelitian lebih lanjut dengan jumlah responden yang lebih banyak untuk dapat melihat perbandingannya.
Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa pengetahuan ibu nifas tentang terapi
baby spa sebagian besar berpengetahuan cukup dengan kategori ibu tidak bekerja
Pekerjaan adalah kegiatan yang harus dilakukan untuk menunjang kehidupan, pekerjaan ibu juga dapat mempengaruhi pengetahuan dan kesempatan ibu dalam mengetahui terapi baby spa ( Wawan dan Dewi, 2010).
Menurut penelitian Hapsari tahun 2015 yang berjudul “Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Spa Bayi di BPM Indah Febriyanti Kemiri, Kebak Kramat, Karanganyar tahun 2015” menyatakan bahwa dari 33 responden yang memiliki persentasi tertinggi adalah ibu yang bekerja sejumlah 21 responden dan yang memiliki persentasi terkecil adalah ibu yang tidak bekerja sejumlah 12 responden.
Dari hasil penelitian yang dilakukan berbeda dengan penelitian Hapsari tahun 2015 yaitu dalam penelitian berdasarkan pekerjaan mayoritas terbanyak ibu bekerja berjumlah 21 responden dengan kategori pengetahuan cukup. Menurut peneliti pengetahuan tentang baby spa dapat diperoleh oleh ibu yang bekerja dan ibu yang tidak bekerja. Ibu yang bekerja di luar rumah akan memiliki akses yang lebih baik terhadap berbagai informasi contohnya dari rekan‐
rekannya, sedangkan untuk ibu yang tidak bekerja juga bisa mendapatkan informasi yang cukup mengenai terapi baby spa, contohnya ibu tersebut dapat mencari informasi dari media elektronik, media cetak maupun tenaga kesehatan. Ibu yang tidak bekerja juga memiliki waktu lebih banyak untuk mencari informasi‐informasi yang dibutuhkannya. Oleh sebab itu ibu yang bekerja maupun yang tidak bekerja sama‐
sama mempunyai peluang untuk memperoleh informasi tentang terapi baby spa. Namun
Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Terapi Baby Spa…
menurut peneliti ibu yang tidak bekerja juga dapat mendapatkan informasi yang cukup mengenai terapi baby spa, contohnya dapat diperoleh dari media elektronik atau kerabat.
Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa pengetahuan ibu nifas tentang terapi baby spa sebagian besar berpengetahuan cukup pada kategori primipara.
Paritas merupakan banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh seorang wanita (Wawan dan Dewi, 2010).
Menurut penelitian Novitasari dengan judul “Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Pijat Bayi di Dukuh Cemetuk Desa Lorong Tawangsari Sukoharjo Tahun 2012”
menyatakan bahwa dari 35 responden yang memiliki presentasi tertinggi adalah pada multipara yaitu sebanyak 13 responden dengan kategori pengetahuan cukup sebanyak 7 responden.
Dari hasil penelitian yang dilakukan berbeda dengan penelitian Novitasari dengan judul “Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Pijat Bayi di Dukuh Cemetuk Desa Lorong Tawangsari Sukoharjo Tahun 2012”
dari jumlah sampel sebanyak 35 responden didapatkan presentase terbanyak yaitu pada multipara dengan kategori berpengetahuan cukup sebanyak 7 responden. Menurut peneliti pengetahuan tentang baby spa dapat diperoleh oleh ibu primipara maupun multipara. Pada primipara mungkin akan lebih antusias untuk mencari banyak informasi yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan anaknya sehingga lebih banyak mendapatkan informasi tentang terapi baby spa sedangkan pada multipara mungkin akan lebih banyak mendapat pengalaman dari anak sebelumnya. Oleh sebab itu pada ibu
primipara maupun multipara sama‐sama mempunyai peluang untuk memperoleh informasi tentang terapi baby spa.
Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa pengetahuan ibu nifas tentang terapi baby spa sebagian besar berpengetahuan cukup pada katagori media elektronik.
Sumber informasi adalah segala sesuatu yang menjadi perantara dalam menyampaikan informasi baik dari media cetak maupun melalui kesehatan seperti pelatihan dan penyuluhan yang diadakan oleh dokter, bidan dan perawat
( Notoatmodjo 2010).
Menurut penelitian Novitasari dengan judul “Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Pijat Bayi di Dukuh Cemetuk Desa Lorong Tawangsari Sukoharjo Tahun 2012”
diperoleh hasil dari 35 responden yang mengetahui tentang terapi baby spa mendapat informasi dari dukun yaitu sebanyak 12 responden.
Dari hasil penelitian yang dilakukan berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Novitasari dengan judul “Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Pijat Bayi di Dukuh Cemetuk Desa Lorong Tawangsari Sukoharjo Tahun 2012”. Dalam penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden mendapatkan informasi dari media elektronik, sedangkan penelitian sebelumnya berasal dari dukun, namun sama – sama berpengetahuan cukup. Namun penelitian sebelumnya hanya berfokus pada pijat bayi sehingga sebagian besar responden mendapatkan informasi dari dukun. Menurut peneliti hal ini terjadi karena memang lebih banyak informasi tentang terapi baby spa dapat diperoleh melalui media elektronik seperti televisi, internet, dan social media
daripada informasi yang diberikan oleh petugas kesehatan. Hal ini dapat dilihat bahwa dari 58 responden hanya sebagian responden yang pernah mendapatkan informasi tentang terapi baby spa, padahal metode relaksasi ini merupakan salah satu upaya untuk menangani gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada bayi.
Namun memang terapi baby spa ini masih membutuhkan biaya yang cukup mahal.
SIMPULAN
Berdasarkan dari hasil penelitian mengenai Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas tentang Terapi Baby Spa di Puskesmas Kecamatan Pulogadung Jakarta Timur Tahun 2016 yang telah dilaksanakan pada tanggal 29 April s/d 03 Mei 2016 di dapat sampel yaitu 58 responden. :
1. Sebagian besar pengetahuan ibu nifas tentang terapi baby spa di Puskesmas Kecamatan Pulogadung Jakarta Timur tahun 2016 adalah cukup.
2. Sebagian besar pengetahuan ibu nifas tentang terapi baby spa di Puskesmas Kecamatan Pulogadung Jakarta Timur tahun 2016 berdasarkan usia berada pada kategori usia 20‐35 tahun dengan pengetahuan cukup.
3. Sebagian besar pengetahuan ibu nifas tentang terapi baby spa di Puskesmas Kecamatan Pulogadung Jakarta Timur tahun 2016 berdasarkan pendidikan berada pada kategori pendidikan menengah ( SMA‐SMK ) dengan pengetahuan cukup
4. Sebagian besar pengetahuan ibu nifas tentang terapi baby spa di Puskesmas Kecamatan Pulogadung Jakarta Timur
tahun 2016 berdasarkan pekerjaan yaitu pada kategori ibu yang tidak bekerja dengan pengetahuan cukup.
5. Sebagian besar pengetahuan ibu nifas tentang terapi baby spa di Puskesmas Kecamatan Pulogadung Jakarta Timur tahun 2016 berdasarkan paritas yaitu pada kategori primipara dengan pengetahuan cukup.
6. Sebagian besar pengetahuan ibu nifas tentang terapi baby spa di Puskesmas Kecamatan Pulogadung Jakarta Timur tahun 2016 berdasarkan sumber informasi yaitu mendapat informasi dari media elektronik dengan pengetahuan cukup.
DAFTAR PUSTAKA
Aditya, N. 2014. Handbook for new mom panduan Lengkap Merawat Bayi Baru Lahir. Jogjakarta: Stiletto Book.
Agus, Riyanto dan Budiman. 2013. Kapita Selekta Kuesioner Pengetahuan dan
Sikap Dalam Penelitian Kesehatan.
Jakarta: Salemba Medika
Novitasari Ana, Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Pijat Bayi di Dukuh Cemetuk Desa Lorong Tawangsari Sukoharjo Tahun 2012, Jurnal Diploma III Kebidanan STIKes Kusuma Husada Surakarta
Departemen Kesehatan. 2012 Masalah Gangguan Pertumbuhan Bayi di Provinsi DKI Jakarta
Drs. Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers, 2011.
Field, Dieter, J, Hernandez, M. Emory E.K;
Redzepi, M, 2003; Stable 11 Preterm Infants Gain More Weight and Sleep
Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Terapi Baby Spa…
Less After Five Days of Massage Therapy.Journal of Pediatric Psychology, Vol.28 no.6, hal.403‐411 Hidayat, A. 2008. Ilmu Kesehatan Anak.
Jakarta: Salemba Medika.
http://www.idai.or.id diunduh tanggal 13 Maret 2016
Jitowiyono, S. dan Weni Kristiyanasari. 2010.
Asuhan Keperawatan Neonatus Dan Anak. Jakarta : Nuha Medika.
Cetakan I.
Hapsarin Lina, Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Spa Bayi di BPM Indah Febriyanti Kemiri, Kebak Kramat, Karanganyar tahun 2015, Jurnal Diploma III Kebidanan STIKes Kusuma Husada Surakarta
Mahayu, P. 2014. Imunisasi dan Nutrisi.
Jogjakarta:BUKU BIRU.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: PT Rikena Cipta
Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: PT Rikena Cipta
Riset Kesehatan Dasar. 2010 Masalah Gangguan Pertumbuhan Bayi di Indonesia
Saphiranti, Dona dan Ginayatunisa, Astrid.
2011. Mom and Baby SPA. Program Studi Sarjana Desain Interior,
Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Jurnal Tingkat Sarjana bidang Seni rupa dan Desain.
Sumadi Suryabrata. 2011. Metodologi Penelitian, Jakarta : Raja Grafindo Persada
Syahdina, 2010. Seluk Beluk dan Fungsi Spa.
Tim Galenia MCC, 2014. Home Baby Spa.
Jakarta: Penebar Plus.
UNICEF. 2005 Angka Kejadian Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan pada Bayi
Wach, Cornell. 2000. Children Development, Dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Asuhan Nutrisi Pediatrik. Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia
Wawan, A. Dewi, M. 2010. Teori &
Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia. Yogjakarta: Muha Medika.
World Health Organization. 2013 Pertumbuhan dan Perkembangan Bayi
Widodo, A. 2013. Efetivitas Baby Spa Terhadap Lamanya Tidur Bayi Usia 3‐
4 Bulan, Surakarta: Fisioterapi UMS.
Yahya, N. 2011, Spa Bayi & Anak, Solo:
Metagraf.