• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Saran

2.7 Tabel pengukuran cairan amnion

(3) Tidak boleh ada bagian janin yang terletak di dalam area pengukuran tersebut

Pengukuran Amnion dengan metode Phelan (4 kuadran / AFI)

(1) Abdomen dibagi atas 4 kuadran

(2) Setiap kuadran diukur indeks cairan amnionnya (3) Pengukuran harus tegak lurus dengan

(4) Bidang horizontal dan tidak ada boleh ada bagian janin diantaranya

Interpretasi pengukuran cairan amnion berdasarkan single pocket dan Phelan

2.7 Tabel pengukuran cairan amnion

pertama kehidupan disebabkan oleh keadaan ini.

Hiperbilirubinemia menyebabkan bayi terlihat warna kuning, keadaan ini timbul karena akibat akumulasi pigmen bilirubin (4Z, 15Z bilirubin 1X alpha) yang berwarna ikhterus pada sklera dan

kulit. Pada masa transisi setelah lahir, hepar belum berfungsi secara optimal sehingga proses glukuronidasi bilirubin tidak terjadi secara maksimal. Keadaan ini menyebabkan dominasi bilirubin tak terkonjugasi dalam darah(Roderic, 2006).

Pada inkompabilitas ABO, hiperbilirubinemia lebih menonjol dibandingkan dengan anemia dan timbulnya pada 24 jam pertama. Reaksi hemolisis terjadi selag zat anti dari ibu masih terdapat dalam serum bayi.

b. Pemeriksaan fisik

1) Tanda–Tanda Vital

Sudah penampakan umum janin dievaluasi, pemeriksaan harus diteruskan dengan pemeriksaan tanda – tanda vital, terutama pada frekuensi jantung (frekuensi jantung normal 120-160 x/m), frekuensi nafas (40-60 x/m), suhu, dan tekanan darah (sering divadangkan unuk bayi sakit). Selain itu panjang tubuh, berat badan, dan dan linkar kpala harus diukur dan dicatat pada kurve pertumbuhan untuk mrnrntukan pertumbuhan untuk menentukan pertumbuhan

normal, terlalu cepat, atau terlambat menururt usia kehamilan tertentu. (charlton, 2006).

2) Kulit

a) Abnormalitas kulit yng abnormal (kulit kolodium;

aplasia kutis; sklerema neonatorum)

b) Warna bayi kaukasia yang normal adalah merah muda.

(1) Pucat : anemia atau perfusi yang buruk (2) Warna kelabu : asidosis

(3) Plethora : polisitemia (4) Ekimosis : trauma lahir

(5) Ikhterus : peningkatan bilirubin yang bereaksi indirek

c) Lesi vaskuler

d) Lesi berpigmen dan nevi (bercak mongolian) e) Rua (milia)

c. Pemeriksaan penunjang

Pengukuran bilirubin diindikasikan jika ikterus pada usia 24 jam dan tampaknya signifikan pada pemeriksaan klinis.

Pemeriksaan lebih lanjut, selain bilirubin serum total yang mungkin dibutuhkan (usia <3 minggu) antara lain bilirubin direk, albumin serum, hitung darah lengkap, hitung retikulosit dan apusan untuk morfologi darah tepi. Untuk golongan darah dan tes antibodi direk dapat dilakukan direct antibody test atau tes Coombs(anonym,2007)

d. Diagnosis kerja

Menururt statistik kira – kira 20% dari selururh kehamilan terlihat dalam ketidakselarasan darah AB dn 75% daru jumlah ini terdiri dari ibu golonan darah O da janin golongan darah B atau A. Walaupun demikian hanya terjadu pada sebagian kecil tampak pengaruh hemolisis pada bayi baru lahir. Hal ini disebabkan oleh karena isoglutinin anti-A dan anti-B yang terdapat dalam serum ibu sebagian besar terbentuk 19-S, yaitu gamaglobulin-M yang tidak dapat melalui plasenta (merupakan makroglobulin) dan disebut isoaglutinin natural. Hanya sebagian kecil dari ibu yng mempunyai golongan darah O, mempunyai antibodi 7-S, yaitu gamaglobulin g (isoaglutinin imun) yang tinggi dan dapat melalui plasenta sehingga mengakibatkan henmolisis pada bayi(Roderic, 2006).

Ikterus biasanya timbul dalam waktu 24 jam sesudah lahir, tidak pucat oleh karena itu, tidak terdapat anemia atau hanya didapatkan anemia ringan saja. Jarang sekai terjadi hidrop fetalis dan hepatosplenomegali. Kira-kira 40-50% mengenai anak pertama, sedangkan anak-anak berikutnya mungkin terkna dan ungkin tidak. Bila terkena tidak ampak gejala yang berat seperti pada inkopaabilitas rhesus(Roderic, 2006).

Kadar hemoglobin normal dan kagdang agak mennurun (10-12 g%), retikulositosis, polikromasi, sferositosis dan sl darah merah yang berinti jumlahnya meningkat, uji Coombs mungkin

negatif atau positif lemah. Pengobatan dengan terapi sinar, tranfusi tukar dan seebagainya tergantung peningkatan kadar hiperbilirubin(anonym,2008)

e. Diagnosis banding

1) Inkompabilitas Rhesus

Hemolisis biasa terjadi bila ibu mempunyai rehsus negatif atau positif. Bila sl darah janin masuk keperadaran darah ibu, amak ibu akan dirangsang olh antigen Rh sehingga membentuk antibodi terhadap Rh. Zat antibodi Rh ini dapat melalui plasenta dan masuk keperadaran darah janin dan selanjutnya mengakibatkan penghancuran eritrosit janin (hemolisi). Hemolisis ini terjadi dalam kandungan dan akibatnya ialah pembentukan sel darah merak berinti yang bayak. Oleh karena keadaan ini disebut Eritoblastosis Fetalis.

Pengaruh kelainan ini biasanya tidak terlihat pada anak pertama tetapi akn nyata pada anak yang dilahirkan selajutnya.

Bila ibu seblum mengandung anak pertama pernah mendapat tranfusi inkompatibel atau ibu mengalami keguguran dengan janin yang mempunyai rhesus positif , pengaruh kelainan inkompanilitas Rheesus ini akan terlihat pada bayi yag dilahirkan kemudian.

Bayi yang lahir kemungkinan mati (Still Birth) atau berupa Hidrops Fetalis yang hanya dapat hidup beberapa jam

dengan gejala odeme yang berat, ascites, anemia dan hepotosplenomegali. Biasanya bayi seperti ini mempunyai plasenta yang besar, tampak pucat dan cairan amnionnya berwarna kuning emas. Eritoblastosis fetaklis pada saat saat lahir tampak normal, tetapi beberapa jam kemudian timbul ikterus yang makin lama akin berat (hiperbilirubinemia) yang mengakibatkan “kernikterus”, hetosplenomegali dan pada pemeriksaan darah tepi akan didapatkan anemia, retikulositosis, jumlah normoblasdan eritobls lebih banyak dari biasa, banyak sel darah (sri granulosit) muda. Kadar bilirubin direk dan indirek meninggi juga terdapat bilirubin dalam tinja dan feses(charlton,2006).

Pemeriksaan golongan darah ibu dan anak (Rh dan ABO), uji Coombs, riwayat mengenai bayi yang dilahirkan sebelumnya, ikterus yang timbul dalam waktu 24 jam sesudah lahir, kadar hemoglobin darah taki pusat <15 g%, kadar bilirubin dalam darah tali pusat >5 mg%, hati dan limfa membesar, kelainan pada pemeriksaam darah tepi dll.

Pengobatan dengan transfusi tukar.

f. Etiologi

Sistem ABO oleh Lansteuner pada tahun 1900. Ia menyatakan bahwa serum seseoramg tidak mugkin mngandung antibodi terhadap antigen yng terdapat dalam eritrositnya sendiri kecuali dalam keadaan patologis.

Golongan

darah Genotip Antigen

(aglutinogen

Antibodi (aglutinin)

Frekuensi

O OO - Anti-A

dan anti-B

±40%

A AA/AO A Anti-B ±26%

B BB/BO B Anti-A ±27%

AB AB AB - ±7%