• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Data

Dalam dokumen daftar isi (Halaman 78-119)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

F. Analisis Data

Dalam menganalisis data, digunakan analisis kualitatif maupun analisis kuantitatif.

1. Analisis kualitatif dimaksudkan untuk menganalisis data yang tidak yang tidak dikuantifikasikan. Seperti bahan pustaka, hasil wawancara, peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan masalah yang dikaji.

2. Kuantitatif digunakan data empiris seperti jawaban-jawaban responden yang sudah berbentuk angka-angka dalam table laporan mengenai tindak pidana narkotika dan psikotropika dalam bentuk tabulasi/table.

Selanjutnya dianalisis dengan kuantitatif dalam penyajian data secara distribusi frekuensi dengan menggunakan rumus :

P = x 100 % Keterangan :

P = Presentase

F = frekuensi (Nilai yang diperoleh)

N = Jumlah frekuensi dari seluruh klasifikasi atau kategori variasi (responden)

100 % = Presentase seluruh penilaian

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Selayang Pandang Keadaan Geografis Kabupaten Enrekang

Kabupaten Enrekang termasuk dalam salah satu wilayah dalam Provinsi Sulawesi Selatan yang secara astronomis terletak pada 3° 14’

36” - 3° 50’ 00” LS dan 119° 40’53” - 120° 06’ 33” BT dan berada pada ketinggian 442 m dpl, dengan luas wilayah sebesar 1.786,01 km².

Posisi wilayah Kabupaten Enrekang berbatasan dengan :

 Sebelah Utara : Tana Toraja

 Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Luwu dan Sidrap

 Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sidrap dan

 Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Pinrang.

Selama setengah dasawarsa terjadi perubahan administrasi pemerintahan baik tingkat kecamatan maupun pada tingkat kelurahan/desa, yang awalnya pada tahun 1995 hanya berjumlah 5 kecamatan dan 54 desa/kelurahan, tetapi pada tahun 2008 sampai sekarang jumlah kecamatan menjadi 12 kecamatan dan 129 desa/kelurahan. Adapun pembagian kecamatan dalam lingkup kabupaten Enrekang antara lain:

1. Kecamatan Alla 7. Kecamatan Cendana

2. Kecamatan Anggeraja 8. Kecamatan Curio

3. Kecamatan Enrekang 9. Kecamatan Malua

4. Kecamatan Masalle 10. Kecamatan Baraka

5. Kecamatan Buntu Batu 11. Kecamatan Bungin

6. Kecamatan Baroko 12. Kecamatan Maiwa

Secara umum bentuk topografi wilayah Kabupaten Enrekang terbagi atas wilayah perbukitan karst (kapur) yang terbentang di bagian utara dan tengah, lembah-lembah yang curam, sungai serta tidak mempunyai wilayah pantai.

B. Efektivitas Penegakan Sanksi Pidana Terhadap Penyalahgunaan dan Peredaran Narkotika di Kabupaten Enrekang

Kasus peredaran dan penyalahgunaan narkotika beberapa tahun belakangan ini meningkat pesat di kota-kota besar di Indonesia termasuk di daerah Kabupaten Enrekang. Kebanyakan pemakainya adalah Mahasiswa dan anak putus sekolah. Keadaan ini sungguh sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan, apalagi para pelakunya adalah generasi muda yang diharapkan menjadi penerus bangsa ini.

Mengingat peredaran narkotika dan psikotropika sekarang ini sudah begitu merebak, maka penanggulangannya tidak dapat semata- mata dibebankan kepada pemerintah dan aparat penegak hukum saja, tetapi merupakan tugas dan tanggung jawab kita bersama.

Meskipun narkotika sangat bermanfaat dan diperlukan untuk pengobatan dan pelayanan kesehatan, namun apabila disalahgunakan atau digunakan tidak sesuai dengan standar pengobatan dapat merugikan masyarakat khususnya generasi muda dan menimbulkan bahaya yang lebih besar bagi kehidupan dan nilai-nilai budaya bangsa yang pada akhirnya akan dapat melemahkan ketahanan nasional.

Berikut adalah tabel mengenai data jumlah laporan tindak pidana narkotika yang diterima oleh Kepolisian Polres Enrekang mulai dari tahun 2012 sampai dengan akhir 2016, adalah sebagai berikut :

Tabel 1 : Jumlah laporan Tindak Pidana Peredaran Narkotika yang diterima oleh Kepolisian Resort Enrekang, mulai dari tahun 2013 sampai dengan 2017

No. Tahun Jumlah Laporan Polisi

Jumlah Tersangka

1

2013 6 10

2

2014 10 15

3

2015 6 12

4

2016 16 28

5

2017 (januari- Oktober)

7 8

Jumlah

Sumber Data : Polres Enrekang Tahun 2017

Berdasarkan data pada tabel di atas menunjukan bahwa data jumlah laporan polisi di Polres Enrekang pada tahun 2012 sebanyak 3 (tiga) laporan dengan jumlah tersangka sebanyak 7 (tujuh) tersangka.

kemudian pada pada tahun 2013 jumlah laporan polisi sebanyak 6 (enam) dengan jumlah tersangka sebanyak 10 (sepuluh) tersangka, pada tahun 2014 jumlah laporan sebanyak 10 (sepuluh) dengan jumlah tersangka sebanyak 15 (lima belas) tersangka, selanjutnya pada tahun 2015 jumlah laporan polisi sebanyak 6 (enam) dengan jumlah tersangka 12 (dua belas) tersangka dan pada tahun 2016 jumlah laporan polisi sebanyak 16 (enam belas) dengan jumlah tersangka sebanyak 28 (dua puluh delapan) tersangka. Hal ini berarti bahwa pada tahun 2012 sampai dengan tahun 2014 jumlah laporan dan tersangka mengalami peningkatan, namun pada tahun 2015 jumlah laporan dan tersangka mengalami penurunan sebanyak 4 (empat) laporan dan 3 (tiga) tersangka, kemudian pada tahun 2016 kembali mengalami peningkatan yang signifikan yaitu sebanyak 16 (enam belas) laporan dengan jumlah tersangka sebanyak 28 (dua puluh delapan) tersangka.

Kesimpulan dari data tabel di atas menunjukan bahwa tindak pidana peredaran gelap narkotika dan/atau penyalahgunaan narkotika

dari tahun ke tahun menunjukan kecenderungan yang semakin meningkat kecuali pada tahun 2015. Masalah peredaran gelap narkotika merupakan masalah nasional dan Internasional karena berdampak negatif yang dapat merusak serta mengancam berbagai aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara serta dapat menghambat pembangunan nasional.

Tabel 2 : Pendapat Responden mengenai efektivitas penegakan hukum atas tindak pidana peredaran narkotika di Kabupaten Enrekang

No Uraian Frekuensi Persentase %

1 Efektif 12 30.00

2 Kurang efektif 18 45.00

3 Tidak efektif 10 25.00

Jumlah 40 100.00

Sumber Data : Hasil olahan data primer Tahun 2017

Tabel di atas menggambarkan bahwa 30.00 % responden berpendapat bahwa penegakan hukum atas tindak pidana peredaran narkotika di Kabupaten Enrekang sudah efektif. Kemudian, terdapat 45.00

% responden berpendapat bahwa penegakan hukum atas tindak pidana peredaran narkotika di Kabupaten enrekang kurang efektif. Selanjutnya,

terdapat 25.00 % responden berpendapat bahwa penegakan hukum atas tindak pidana peredaran narkotika di Kabupaten Enrekang tidak efektif.

Banyak penyebab seseorang menyalahgunakan obat-obatan terlarang atau narkotika sehingga menjadi korban penyalahgunaan narkotika, penyebabnya adalah : (Mardani, 2007 : 10)

1. Keingintahuan yang besar tanpa sadar akibatnya;

2. Keinginan untuk mencoba karena penasaran;

3. Keinginan untuk bersenang-senang;

4. Keinginan untuk mengikuti tren atau gaya;

5. Keinginan untuk diterima oleh lingkungan pergaulannya;

6. Lari dari kebosanan atau kegetiran hidup;

7. Pengertian yang salah bahwa penggunaan yang sekali-sekali tidak akan menimbulkan ketagihan;

8. Semakin mudah untuk mendapatkan narkotika dimana-mana dengan harga relative murah;

9. Tidak siap mental untuk menghadapi tekanan pergaulan sehingga tidak mampu menolak narkotika secara tegas.

Dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ahli, setidaknya ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya penyalahgunaan narkotika diantaranya sebagai berikut : (AR. Sujono dan Bony Daniel, 2011 : 7)

1. Faktor individu, terdiri dari aspek kepribadian dan kecemasan/depresi, yang termasuk dalam aspek kepribadian antara lain : kepribadian yang ingin tahu, mudah kecewa, sifat tidak sabar dan rendah diri. Sedangkan yang termasuk dalam kecemasan/depresi adalah karena tidak mampu menyelesaikan kesulitan hidup, sehingga melarikan diri dalam penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang.

2. Faktor sosial budaya, terdiri dari kondisi keluarga dan pengaruh teman. Kondisi keluarga disini merupakan kondisi yang disharmonis seperti orang tua yang bercerai, orang tua yang sibuk dan jarang dirumah, serta perekonomian keluarga yang serba berlebihan maupun yang serba kekurangan. Sedangkan yang termasuk dalam pengaruh teman misalnya karena berteman dengan seseorang yang ternyata pemakai narkotika dan ingin diterima dalam suatu kelompok.

3. Faktor lingungan, lingkungan yang tidak baik maupun tidak mendukung dan menampung segala sesuatu yang menyangkut perkembangan psikologis anak dan kurangnya perhatian terhadap anak, juga bias mengarahkan seorang anak untuk menjadi user/pemakai narkotika.

4. Faktor narkotika itu sendiri. Mudahnya didapat, didukung dengan faktor yang sudah disebut di atas, semakin memperlengkap timbulnya penyalahgunaan narkotika.

Selain melakukan penelitian di Polres Enrekang, Penulis juga melakukan penelitian di Kejaksaan Negeri Enrekang berupa wawancara dengan bapak Andi Muhammad Taufik, SH., MH., selaku Kasipidum Kejaksaan Negeri Enrekang terkait penyebab terjadinya peredaran dan penyalahgunaan narkotika di Kabupaten Enrekang yaitu faktor individu, faktor lingungan/pergaulan bebas dan faktor mudahnya mendapatkan narkotika, lanjut beliau mengatakan bahwa rata-rata pelaku dijerat dengan Pasal 112 yang ancaman hukumannya paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan Pasal 114 yang mana ancaman hukumannya paling singkat 5 (lima)tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun tentang Undang-Undang Narkotika (wawancara tanggal 9 Maret 2017).

Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 10 maret 2017 dengan BRIPKA ASRIWAN DJURANI, SH bahwa pelaku tindak pidana peredaran dan penyalahgunaan narkotika khususnya di Kabupaten Enrekang rata-rata adalah pelaku baru, ini disebabkan karena :

1. Adanya rasa ingin tahu atau coba-coba;

2. Karena pergaulan bebas dan imbalan yang besar;

3. Mudahnya mendapatkan narkotika.

Lanjut beliau mengatakan bahwa para pelaku mendapatkan narkotika dari Kabupaten tetangga seperti Sidrap, Pinrang dan juga Pare- Pare, karena ketiga daerah ini merupakan tempat para bandar narkotika yang selalu memasok narkotika ke Kabupaten Enrekang.

Sedangkan berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu tokoh masyarakat bapak Jumain, S.pd pada tanggal 15 maret 2017 mengatakan bahwa hukuman yang diberikan kepada pelaku tindak pidana narkotika di Kabupaten Enrekang masih lebih baik dibandingkan dengan daerah lain, karena dapat meminimalisir residivis pelaku tindak pidana narkotika dan rata-rata pelakunya adalah pelaku baru. Lanjut beliau mengatakan bahwa meskipun belum mampu untuk menekan jumlah kasus peredaran dan penyalahgunaan narkotika di Kabupaten Enrekang sendiri maka seharusnya diperlukan peran serta masyarakat, tokoh agama dan paling penting ialah peran serta keluarga.

Uraian tersebut di atas menyimpulkan bahwa hipotesis yang dikemukakan peneliti pada BAB II, benar terbukti bahwa penegakan hukum atas tindak pidana peredaran narkotika di Kabupaten Enrekang kurang efektif.

1. Upaya-Upaya Kepolisian Dalam Penanggulangan Peredaran dan Penyalahgunaan Narkotika di Kabupaten Enrekang

Upaya penanggulangan untuk mengatasi tindak pidana peredaran narkotika di Kabupaten Enrekang telah di upayakan dan dilakukan oleh beberapa instansi yang terkait dalam hal ini adalah aparat kepolisian Resort Enrekang bekerja sama dengan pihak-pihak yang terkait seperti para orang tua, masyarakat dan sekolah-sekolah di Kabupaten Enrekang.

Adapun upaya-upaya dalam rangka menanggulangi tindak pidana peredaran narkotika yang dilakukan oleh pihak kepolisian Enrekang (wawancara dengan AKP Ridwan, Kasat Res Narkoba, tanggal 14 Maret 2017) yaitu sebagai berikut :

1) Upaya Preventif

Upaya penanggulangan secara preventif dilakukan adalah dengan mengupayakan untuk mencegah terjadinya kejahatan tersebut. Untuk itu, kegiatan yang dilakukan adalah dengan mengupayakan optimalisasi kegiatan intern pada institusi kepolisian khususnya personil dan sarananya, antara lain :

a) Memberikan pengawasan secara wajar terhadap pergaulan anak dalam lingkungan masyarakat;

b) Melakukan pemeriksaan urin tiap 3 (tiga) bulan sekali di sekolah-sekolah;

c) Dalam keluarga orang tua diwajibkan memberikan pendidikan agama, pendidikan budi pekerti, dan disiplin,

serta orang tua harus menjadi tauladan yang baik terhadap anak-anaknya;

d) Memperketat pengawasan dengan melakukan patroli rutin pada tempat rawan penyalahgunaan dan peredaran narkotika di Kabupaten Enrekang dan

e) Menciptakan parsitipasi dari warga masyarakat agar melaporkan hal-hal yang mencurigakan di lingkungan sekitarnya.

Upaya pencegahan secara preventif oleh pihak kepolisian Enrekang harus dilakukan secara sistematis, terencana, terpadu, dan terarah agar mencegah terjadinya tindak pidana peredaran narkotika.

Dalam usaha pencegahan ini dilakukan tindakan mempersempit ruang gerak, mengurangi dan memperkecil pengaruhnya terhadap aspek-aspek kehidupan lainnya.

2) Upaya Pre-emtif

Upaya pre-emtif yang dilakukan oleh beberapa kegiatan-kegiatan eduktif dengan sasaran menghilangkan faktor-faktor penyebab yang menjadi pendorong dan faktor peluang yang biasa disebut faktor korelatif kriminogen dari kejahatan tersebut. Sasaran yang hendak dicapai adalah terciptanya suatu kesadaran, kewaspadaan dan daya tangkal serta terbinanya dan terciptanya suatu kondisi perilaku dan norma hidup bebas dari psikotropika.

Upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika dan psikotropika melalui pengendalian dan pengawasan langsung terhadap jalur-jalur peredaran gelap dengan tujuan agar potensi kejahatan itu tidak berkembang menjadi ancaman faktual.

Kegiatan ini pada dasarnya berupa pembinaan dan pengembangan lingkungan pola hidup masyarakat dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat produktif, konstruktif, dan kreatif, sedangkan kegiatan yang bersifat preventif edukatif dengan metode komunikasi, informasi dan edukasi yang dapat dilakukan melalui berbagai jalur antara lain pendidikan dan lembaga keagamaan. Adapun cara-cara yang dilakukan oleh institusi kepolisian adalah dengan memberikan penyuluhan akan dampak ditimbulkan dalam penggunaan psikotropika ini bagi dirinya sendiri maupun bagi keluarga dan lingkungannya.

3) Upaya Represif

Penanggulangan secara refresif dilakukan adalah dengan memberikan tindakan kepada pelaku tindak pidana narkotika dan psikotropika ini sesuai dengan hukum yang berlaku. Upaya ini terlihat sudah dilakukan dengan baik sejak perkara ditangani oleh pihak kepolisian sendiri, kemudian berkasnya dilimpahkan ke Pengadilan Negeri untuk diproses lebih lanjut.

Usaha penangulangan tindak pidana narkotika secara represif, juga merupakan usaha pengangulangan kejahatan dengan hukum pidana

yang pada hakekatnya merupakan bagian dari usaha pencegahan hukum (khususnya pencegahan hukum pidana narkotika) oleh karena itu sering pula dikatakan, bahwa politik dan kebijakan hukum pidana juga yang merupakan bagian dari penegakan hukum (Law Enforcement Policy).

Marc Ancel sebagaimana dikutip Barda Nawawi Arief, dikemukakan kebijakan hukum pidana (Penal Policy) adalah suatu ilmu sekaligus seni yang pada akhirnya mempunyai tujuan praktis untuk memungkinkan peraturan hukum positif dirumuskan secara lebih baik dan untuk memberi pedoman tidak hanya kepada pembuat Undang-undang dan juga kepada para penyelengggara atau pelaksana putusan pengadilan (Barda Nawawi Arief, 2005 : 21).

2. Kendala-Kendala Pihak Kepolisian Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Peredaran Narkotika di Kabupaten Enrekang

Kepolisian Resort Enrekang dalam melakukan upaya penanggulangan tindak pidana narkotika tentu tidak selamanya berjalan dengan baik dan sesuai dengan harapan aparat penegak hukum dalam hal ini pihak polres Enrekang pada khususnya maupun masyarakat Enrekang pada umumnya.

Adapun kendala-kendala yang dihadapi pihak kepolisian dalam menanggulangi tindak pidana narkotika (wawancara dengan bapak AKP Ridwan, Kasat Res Narkoba, tanggal 14 Maret 2017) adalah sebagai berikut :

1) Kurangnya partisipasi masyarakat dalam memberikan informasi mengenai peredaran dan penyalahgunaan narkotika untuk bekerja sama dengan kepolisian Enrekang.

2) Sulitnya menentukan lokasi transaksi yang digunakan oleh pelaku kejahatan penyalahgunaan dan peredaran narkotika di Enrekang.

3) Kurangnya aparat kepolisian di lapangan dalam mencari para pelaku tindak pidana narkotika

Maka dari itu, hal terpenting adalah kesadaran masyarakat Enrekang dapat bekerja sama dengan pihak kepolisian dalam pengungkapan para pelakutindak pidana penyalahgunaan dan peredaran narkotika dengan melaporkan langsung apabila di lingkungan sekitar ada suatu dugaan tindak pidana narkotika.

Sementara hasil wawancara dengan pelaku peredaran narkotika yang bernama Muh. Darwis alias Awwis pada tanggal 7 April 2017 mengaku telah menjual sabu-sabu kepada temannya yang bernama Yus, hal ini disebabkan karena pelaku hanya ingin memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan cara mudah.

C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum Atas Tindak Pidana Peredaran Narkotika di Kabupaten Enrekang

Pada BAB I ditegaskan mengenai rumusan masalah kedua sebagai berikut yakni faktor-faktor apakah yang mempengaruhi penegakan hukum atas tindak pidana peredaran narkotika di Kabupaten Enrekang, berdasar pada rumusan masalah tersebut di atas maka pembahasan hasil penelitian dikemukakan sebagai berikut.

Pada BAB II tentang hipotesis, dikemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum atas tindak pidana peredaran narkotika di Kabupaten Enrekang antara lain : Faktor substansi hukum, faktor struktur hukum, faktor kesadaran hukum/masyarakat, faktor budaya dan faktor sarana dan prasarana.

Kelima faktor tersebut di atas akan dibahas satu persatu secara terperinci dengan dukungan data yang telah diolah serta tergambar pada berbagai tabel hasil penelitian, sebagai berikut.

1. Faktor Substansi Hukum

Konsekuensi Negara hukum yang telah dipilih oleh pendiri Negara mengimplikasikan bahwa segala bentuk kegiatan manusia diatur oleh hukum. Hukum yang dimaksud bukan hanya pada ketentuan-ketentuan normatif yang dikeluarkan oleh penguasa, tetapi meliputi pula asas-asas hukum yang mendasari ketentuan normatif tersebut. Mengenai asas hukum ini Satjipto Rahardjo (2003 : 141) menyatakan :

Asas hukum memberikan nutrisi kepada sistem perundang- undangan, sehingga ia tidak hanya merupakan bangunan

perundang-undangan, melainkan bangunan yang sarat dengan nilai dan punya filsafat serta semangatnya sendiri.

Sebagai konsekuensi apabila kita meninggalkan asas-asas hukum adalah adanya kekacauan dalam sistem hukum.

Dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dinyatakan bahwa undang-undang ini diselenggarakan berasaskan keadilan, pengayoman, kemanusian, ketertiban, perlindungan, keamanan, nilai-nilai ilmiah, dan kepastian hukum.

Undang-undang tentang Narkotika bertujuan :

a) Menjamin ketersedian Narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

b) Mencegah, melindungi, dan menyelematkan bangsa Indonesia dari penyalahgunaan Narkotika.

c) Memberantas peredaran gelap narkotika dan Prekursor Narkotika; dan

d) Menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan social bagi Penyalah Guna dan pecandu Narkotika.

Diundangkannya Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika menggantikan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika menunjukan adanya upaya-upaya kearah pembangunan hukum.

Secara filosofis, keberadaan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dimaksudkan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur yang merata, berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dimana kualitas sumber daya manusia Indonesia sebagai salah satu modal pembangunan nasional perlu dipelihara dan ditingkatkan secara terus menerus, termasuk derajat kesehatannya. Selain itu untuk meningkatkan derajat kesehatan sumber daya manusia Indonesia dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat perlu dilakukan upaya peningkatan di bidang pengobatan dan pelayanan kesehatan, antara lain dengan mengusahakan ketersediaan Narkotika jenis tertentu yang sangat dibutuhkan sebagai obat serta melakukan pencegahan dan pemberantasan bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika.

Ada beberapa perbedaan mendasar dalam bidang penyidikan yang dilakukan sebelum dan sesudah adanya Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Sebelum adanya Undang-Undang tersebut, shabu-shabu dan extacy tergolong dalam psikotropika Golongan II yang ancaman pidananya lebih rendah. Kini Narkotika jenis tersebut tercantum dalam Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 dan masuk pada golongan I dengan ancaman pidana yang lebih berat

(wawancara dengan bapak BRIPKA ASRIWAN DJURANI, SH, tanggal 10 Maret 2017).

Tabel 3 : Jawaban responden mengenai faktor substansi hukum terhadap penegakan hukum atas tindak pidana peredaran narkotika di Kabupaten Enrekang

No Kategori jawaban Frekuensi Persentase

1

Berpengaruh 22 55.00

2

Kurang berpengaruh 10 25.00

3

Tidak berpengaruh 8 20.00

Jumlah

40 100.00

Sumber data : data primer yang diolah, Tahun 2017

Tabel di atas menggambarkan bahwa 55.00 % responden menjawab faktor substansi hukum (isi peraturan hukum) berpengaruh terhadap penegakan hukum tindak pidana peredaran narkotika.

Selanjutnya 25.00 % responden menjawab bahwa faktor substansi hukum kurang berpengaruh terhadap penegakan hukum tindak pidana narkotika dan kemudian 20.00 % responden menjawab bahwa faktor substansi hukum tidak berpengaruh terhadap penegakan hukum tindak pidana narkotika.

Tabel tersebut adalah pendapat responden mengenai substansi hukum (isi peraturan hukum) yang mengatur peredaran dan penyalahgunaan narkotika cukup berpengaruh.

2. Faktor Struktur Hukum

Negara hukum yang hanya dikonstruksikan sebagai bangunan hukum perlu dijadikan lebih lengkap dan utuh, dalam hal perlu dijadikannya memiliki struktur politik pula (Satjipto Rahardjo, 2009 : 8).

Hukum hanya merupakan sebuah teks mati jika tidak ada lembaga yang menegakkannya. Oleh sebab itu, dibentuklah penegak hukum yang bertugaskan untuk menerapkan hukum.

Dalam pelaksanaannya, hukum dapat dipaksakan daya berlakunya oleh aparatur negara untuk menciptakan masyarakat yang damai, tertib dan adil. Terhadap perilaku manusia, hukum menuntut manusia supaya melakukan perbuatan yang lahir, sehingga manusia terikat pada norma- norma hukum yang berlaku dalam masyarakat. Mengenai penegak hukum, (Zainuddin Ali, 2010 : 9) berpendapat :

Penegak hukum atau orang yang bertugas menerapkan hukum mencakup ruang lingkup yang sangat luas. Sebab, menyangkut petugas pada strata atas, menengah dan bawah. Artinya di dalam melaksanakan tugas penerapan hukum, petugas seyogyanya harus memiliki suatu pedoman salah satunya peraturan tertulis tertentu yang mencakup ruang lingkup tugasnya.

Perkara penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika, termasuk perkara yang didahulukan dari perkara lain untuk diajukan ke pengadilan guna penyelesaian secepatnya. Proses pemeriksaan perkara tindak pidana Narkotika dan tindak pidana Prekursor Narkotika pada tingkat banding, tingkat kasasi, peninjauan kembali, dan eksekusi pidana mati, serta proses pemberian grasi, pelaksanaannya harus dipercepat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Dalam operasional, Reserse Narkotika dibagi dalam dua bidang yakni dalam bidang operasional (Penyidik Lapangan) dan penyidik di dalam sebagai penyidik yang melakukan tugas penyidikan (pemberkasan perkara). (Wawancara dengan Kasat Res Narkoba, Akp Ridwan, SH, tanggal 14 Maret).

Efektivitas hukum dalam menanggulangi tindak pidana narkotika sangat ditentukan oleh penegak hukum. Hal ini sesuai dengan pemikiran dari Achmad Ali mengatakan bahwa efektif tidaknya suatu aturan hukum secara umum tergantung pada optimal dan profesional tidaknya aparat penegak hukum untuk menegakkkan berlakunya aturan hukum tersebut, mulai dari tahap pembuatannya, sosialisasinya, proses penegakan hukumnya yang mencakupi tahapan penemuan hukum (penggunaan penalaran hukum, interpretasi dan konstruksi), dan penerapannya terhadap suatu kasus konkret. Efektif atau tidaknya aturan hukum juga

mensyaratkan adanya standar hidup sosio-ekonomi yang minimal di dalam masyarakat (Achmad Ali,2009 : 378).

Hambatan dalam upaya penanggulangan dan pemberantasan narkotika, terjadi karena kurangnya sumber daya di tubuh Polri baik secara kualitas maupun secara kuantitas, kurangnya sumber daya aparat penegak hukum ini dapat dilihat dari rendahnya pengetahuan tentang pemberantasan tindak pidana narkotika dan ketidaktahuan dalam mengungkap pelaku yang telah menggunakan modus-modus yang semakin canggih dan begitu banyak jenis narkotika yang beredar namun jumlah aparat yang ditugaskan tidak begitu banyak (wawancara dengan Akp Ridwan, SH, Kasat Res Narkoba).

Berikut dijelaskan tentang pendapat responden mengenai pengaruh faktor struktur hukum terhadap penegakan hukum tindak pidana narkotika di Kabupaten Enrekang.

Dalam dokumen daftar isi (Halaman 78-119)

Dokumen terkait