• Tidak ada hasil yang ditemukan

daftar isi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "daftar isi"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ……… i

HALAMAN PERSETUJUAN ……… ii

DAFTAR ISI ……… iii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ………. 1

B. Rumusan Masalah ……… 11

C. Tujuan Penulisan ……….. 11

D. Mafaat Penelitian ……….. 12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori ……… 13

1. Teori Efektifitas Hukum ………... 13

2. Teori Penegakan Hukum ………. 21

3. Teori Pertanggungjawaban Pidana ……… 27

B. Tinjauan Umum ……….. 33

1. Pengertian Pidana ………. 33

2. Pengertian Tindak Pidana ……… 37

3. Pengertian Sanksi Pidana ……… 41

4. Pelaku Penyalahguna Tindak Pidana Narkotika menurut UU RI Nomor 35 tahun 2009 Tentang Narkotika ……….. 42

5. Peredaran Narkotika ………. 46

6. Pengertian dan Penggolongan Narkotika ……….. 47

7. Unsur-unsur Tindak Pidana Narkotika ……… 53

8. Pola Pemakaian Narkotika ………... 56

C. Kerangka Konseptual ………. 60

D. Hipotesis ……….. 63

E. Definisi operasional ……… 63

(8)

BAB III METODE PENELITIAN

A. Tipe Penelitian ………. 68

B. Lokasi Penelitian ………. 68

C. Jenis dan Sumber Data ………. 69

D. Populasi dan Sampel ………. 69

E. Tehnik Pengumpulan Data ……… 70

F. Analisis Data ……… 71

DAFTAR PUSTAKA

(9)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila serta Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, berdaulat dan bersatu dalam suasana perikehidupan bangsa yang aman, dan tentram.

Negara Indonesia berdasar atas hukum tidak berdasar atas kekuasaan belaka. Jadi jelas bahwa cita-cita Negara hukum yang tekandung dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) Tahun 1945 bukanlah sekedar Negara yang berlandaskan sembarang hukum. Hukum yang didambakan bukanlah hukum yang ditetapkan semata-mata atas dasar kekuasaan, yang dapat menuju atau mencerminkan kekuasaan mutlak atau otoriter. Hukum yang demikian bukanlah hukum yang adil yang didasarkan pada keadilan bagi rakyat.

Negara hukum adalah Negara yang berdiri di atas hukum yang menjamin keadilan kepada warga negaranya. Keadilan merupakan syarat bagi tercapainya kebahagiaan hidup untuk warga negara dan sebagai dari pada keadilan itu perlu diajarkan rasa susila kepada setiap manusia agar ia menjadi warga negara yang baik. Peraturan yang sebenarnya menurut

(10)

Aristoteles ialah peraturan yang mencerminkan keadilan bagi pergaulan antar warga negaranya. maka menurutnya yang memerintah negara bukanlah manusia melainkan “pikiran yang adil”.

Satjipto Raharjo (2011:191), dengan berakhirnya pembuatan hukum, maka proses hukum baru menyelesaikan satu tahap saja dari suatu perjalanan panjang untuk mengatur masyarakat. Tahap pembuatan hukum masih harus disusul oleh pelaksanaannya secara konkrit dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Inilah yang dimaksud dengan penegakan hukum itu. Dalam struktur kenegaraan modern maka tugas penegakan hukum itu dijalankan oleh komponen eksekutif dan dilaksanakan oleh birokrasi dari eksekutif tersebut, sehingga sering disebut juga birokrasi penegakan hukum. Sejak negara itu mencampuri banyak bidang kegiatan dan pelayanan dalam masyarakat, maka memang campur tangan hukum juga makin intensif, seperti dalam bidang- bidang kesehatan, perumahan, produksi, dan pendidikan. Tipe negara yang demikian itu dikenal sebagai walfare state. Eksekutif dengan birokrasinya merupakan bagian dari mata rantai untuk mewujudkan rencana yang tercantum dalam (peraturan) hukum yang menangani bidang-bidang tersebut.

Salah satu kebijakan pemerintah di bidang pelayanan kesehatan berusaha untuk mewujudkan masyarakat indonesia yang sejahtera, adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila

(11)

dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Untuk meningkatkan derajat kesehatan maka diperlukan peningkatan di bidang pengobatan dan pelayanan kesehatan dengan upaya mengusahakan ketersediaan obat jenis narkotika tertentu serta dapat digunakan untuk percobaan dan penelitian dalam rangka kepentingan ilmu pengetahuan.

Narkotika diperlukan oleh manusia untuk pengobatan sehingga untuk memenuhi kebutuhan dalam bidang pengobatan dan studi ilmiah diperlukan suatu produksi narkotika yang terus menerus untuk para penderita tersebut. Dalam dasar menimbang Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika disebutkan bahwa Narkotika di satu sisi merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang pengobatan atau pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan di sisi lain dapat pula menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila disalahgunakan atau digunakan tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat dan saksama.

Narkotika apabila dipergunakan secara tidak teratur menurut takaran/dosis akan dapat menimbulkan bahaya fisik dan mental bagi yang menggunakannya serta dapat menimbulkan ketergantungan pada pengguna itu sendiri. Artinya keinginan sangat kuat yang bersifat

(12)

psikologis untuk mempergunakan obat tersebut secara terus menerus karena sebab-sebab emosional.

Masyarakat Indonesia bahkan masyarakat dunia pada umumnya saat ini sedang dihadapkan pada keadaan yang sangat mengkhawatirkan akibat maraknya pemakaian secara illegal bermacam – macam jenis narkotika. Kekhawatiran ini semakin di pertajam akibat maraknya peredaran gelap Narkotika yang telah merebak di segala lapisan masyarakat, termasuk di kalangan generasi muda. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan bangsa dan negara pada masa mendatang.

Sehingga penyalahgunaan dan peredaran narkotika diawali dengan pemakaian pertama pada usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Sekolah Menengah Atas (SMA), karena tawaran, bujukan, dan tekanan seseorang atau kawan sebaya. Didorong rasa ingin tahu atau ingin mencoba, pelajar tersebut mau menerimanya, selanjutnya tidak sulit untuk menerima tawaran berikutnya. Dari pemakaian sekali, kemudian beberapa kali, akhirnya menjadi ketergantungan terhadap zat yang digunakan. Narkotika yang sering disalahgunakan dan menyebabkan ketergantungan antara lain heroin (putauw), sabu (metamfetamine), ekstasi, obat penenang dan obat tidur, ganja dan kokain.

(13)

Narkotika berpengaruh terhadap fisik dan mental, apabila digunakan dengan dosis yang tepat dan dibawah pengawasan dokter anastesia atau dokter phsikiater dapat digunakan untuk kepentingan pengobatan atau penelitian sehingga berguna bagi kesehatan phisik dan kejiwaan manusia. Bahaya penyalahgunaannya tidak hanya terbatas pada diri pecandu, melainkan dapat membawa akibat lebih jauh lagi, yaitu gangguan terhadap tata kehidupan masyarakat yang bisa berdampak pada malapetaka runtuhnya suatu bangsa negara dan dunia.

Negara yang tidak dapat menanggulangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika akan diklaim sebagai sarang kejahatan ini. Hal tersebut tentu saja menimbulkan dampak negatif bagi citra suatu negara.

Peredaran Narkotika yang terjadi di Indonesia sangat bertentangan dengan tujuan pembangunan nasional Indonesia untuk mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya yang adil, makmur, sejahtera tertib dan damai berdasarkan Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945. Untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera tersebut perlu peningkatan secara terus menerus usaha – usaha di bidang pengobatan dan pelayanan kesehatan termasuk ketersediaan narkotika sebagai obat, disamping untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Meskipun narkotika sangat bermanfaat dan diperlukan untuk pengobatan sesuai dengan standar pengobatan, terlebih jika

(14)

disertai dengan peredaran Narkotika secara gelap akan menimbulkan akibat yang sangat merugikan perorangan maupun masyarakat khususnya generasi muda bahkan dapat menimbulkan bahaya yang lebih besar bagi kehidupan dan niali – nilai budaya bangsa yang pada akhirnya akan dapat melemahkan ketahanan nasional.

Peningkatan pengendalian dan pengawasan sebagai upaya penanggulangan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika sangat diperlukan, karena kejahatan narkotika pada umumnya tidak dilakukan oleh perorangan secara berdiri sendiri, melainkan dilakukan secara bersama–sama, yaitu berupa jaringan yang dilakukan oleh sindikat clandestine yang terorganisasi secara mantap, rapi dan sangat rahasia.

Kejahatan Narkotika yang bersifat transnasional dilakukan dengan menggunakan modus operandi yang modern dan teknologi canggih, termasuk pengamanan hasil – hasil kejahatan narkotika. Perkembangan kualitas kejahatan narkotika tersebut sudah menjadi ancaman yang sangat serius bagi kehidupan umat manusia. Peredaran obat terlarang narkotika masih tetap marak, bahkan akhir - akhir ini kejahatan penyalahgunaan Narkotika semakin meningkat yang tadinya hanya sebagai daerah transit bagi barang – barang terlarang tersebut,

(15)

belakangan ini telah dijadikan daerah tujuan operasi peredaran narkotika oleh jaringan peredararan narkotika internasional.

Regulasi Narkotika di Indonesia dimulai sejak berlakunya Ordonansi obat bius (Verdoovende Middelen Ordonantie, stbl. 1927 No.

278 jo. No 536), lalu diganti dengan UU RI No. 9 Tahun 1976 tentang Narkotika, yang kemudian diganti lagi dengan UU RI No. 22 Tahun 1997, dan terakhir diganti dengan UU RI No. 35 Tahun 2009. Dalam pembentukan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, maka seseorang yang menggunakan obat-obat terlarang/Narkotika, yang dikategorikan sebagai korban, sehingga setiap pengguna penyalahgunaan narkotika dapat dikenakan sanksi pidana berupa pidana penjara dan pidana denda ataupun berupa pelayanan terapi dan rehabilitasi yang telah disediakan oleh negara. Hal ini berbeda dengan para pelaku pengedar Narkotika yang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya dengan ancaman pidana pokok sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Presiden telah menetapkan Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 17 tahun 2002 tentang Badan Narkotika Nasional (BNN) yang sekaligus tidak memberlakukan lagi Keputusan Presiden nomor 116 tahun 1999 tentang Badan Koordinasi Narkotika Nasional (BKNN) dalam

(16)

menjamin efektivitas pelaksanaan pengendalian dan pengawasan serta pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika. Keputusan Presiden nomor 116 tahun 1999 tentang Badan Koordinasi Narkotika Nasional (BKNN) sudah dianggap tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan perkembangan keadaan. Badan Narkotika Nasional yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2002 mempunyai tugas membantu Presiden dalam :

a. Mengkoordinasikan instansi Pemerintah terkait dalam penyusunan kebijakan dan pelaksanaannya di bidang ketersediaan, Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran gelap Narkotika.

b. Melaksanakan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika , dengan membentuk satuan tugas – satuan tugas yang terdiri dari unsur – unsur instansi pemerintah terkait sesuai dengan tugas, fungsi dan kewenangannya masing – masing.

Guna terciptanya kerjasama dalam mencegah dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah, maka di provinsi maupun di Kabupaten / Kota telah dibentuk pula Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) dan Badan Narkotika Nasional Kabupaten / Kota (BNNK). Badan Narkotika Nasional Provinsi ditetapkan oleh Gubernur, sedangkan Badan

(17)

Narkotika Nasional Kabupaten / Kota di tetapkan oleh Bupati / Walikota.

Dorongan untuk melakukan kejahatan sudah ada sejak penciptaan manusia di bumi. Pelanggaran terhadap norma hukum tersebut berakibat keseimbangan dalam masyarakat terganggu dan pemulihan kondisi masyarakat harus dilakukan melalui perangkat hukum berupa sangsi (pidana) dalam pelanggaran hukum publik dan sangsi dalam bidang hukum lainnya.

Selanjutnya diperoleh data kasus dari tindak pidana Narkotika di Kabupaten Enrekang sejak tahun 2013 sampai dengan 2017 mencatat kenaikan, sebagai berikut :

1. Tahun 2013 sebanyak 12 Laporan Polisi dengan 18 Tersangka 2. Tahun 2014 sebanyak 18 Laporan Polisi dengan 12 Tersangka 3. Tahun 2015 sebanyak 9 Laporan Polisi dengan 18 Tersangka 4. Tahun 2016 sebanyak 11 Laporan Polisi dengan 28 Tersangka 5. Tahun 2017 sebanyak 11 Laporan Polisi dengan 14 Tersangka

(sumber data: Sat Resnarkoba Polres Enrekang)

Fakta kejahatan Narkotika di Indonesia setiap tahunnya meningkat termasuk di Kabupaten Enrekang propinsi Sulawesi Selatan. Indikatornya adalah kasus-kasus Narkotika yang diadili dan dijatuhi pidana di Pengadilan Negeri Enrekang mulai tahun 2013 sebanyak 12 kasus 18

(18)

Terdakwa, tahun 2014 sebanyak 18 kasus 12 Terdakwa, tahun 2015 sebanyak 9 kasus 18 Terdakwa tahun 2016 sebanyak 11 kasus 28 Terdakwa tahun 2017 11 kasus 14 Terdakwa Serta kasus-kasus Narkotika tersebut terdiri dari berbagai golongan usia dan di dominasi oleh pelaku baru.

Oleh karena itu, Peneliti ingin mengkaji sejauh mana efektivitas penegakan hukum terhadap pelaku Penyalahguna dan pengedar tindak pidana Narkotika berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika di Kabupaten Enrekang. Dengan latar belakang inilah sehingga peneliti tertarik untuk meneliti topik ini yang berjudul “Efektivitas Penegakan Sanksi Pidana Terhadap Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika di Kabupaten Enrekang.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan Latar Belakang Masalah yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah dalam penelitan ini adalah :

1. Bagaimanakah efektivitas penegakan sanksi pidana terhadap penyalahgunaan dan peredaran Narkotika di Kabupaten Enrekang?

2. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi penegakan sanksi pidana terhadap penyalahgunaan dan peredaran Narkotika di Kabupaten Enrekang ?

(19)

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang akan dicapai dengan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui dan menganalisis efektivitasnya penegakan sanksi pidana terhadap penyalahgunaan dan peredaran Narkotika di Kabupaten Enrekang.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan sanksi pidana terhadap penyalahgunaan dan peredaran Narkotika di Kabupaten Enrekang.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dengan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Segi teoritis : Diharapkan dapat memberikan informasi dan menjadi masukan bagi masyarakat pada umumnya dan penegak hukum pada khususnya dalam mencegah dan menanggulangi Penyalahgunaan dan peredaran Narkotika.

2. Segi praktis : Dapat menambah wawasan pengetahuan Penulis khususnya di bidang hukum dan bagi mahasiswa sebagai bahan referensi bagi mereka yang ingin mengetahui dan meneliti lebih jauh mengenai masalah Narkotika serta dapat menjadi koleksi tambahan perpustakaan.

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Teori Efektivitas Hukum

Secara etimologi, kata efektif berasal dari bahasa Inggris effective menjadi efektivitas yang disetarakan dengan kata keefektivan.

Selanjutnya dijelakan bahwa kata efektf mengandung arti keadaan berpengaruh, kemanjuran, atau kemujaraban, keberhasilan dan hal mulainya berlaku (W.J.S. Poerwadarminta, 2001 : 226; Johan M. Echols, 2001 : 153).

Efektivitas merupakan unsur pokok untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan di dalam setiap organisasi, kegiatan ataupun program. Disebut efektif apabila tercapai tujuan ataupun sasaran seperti yang telah ditentukan. Hal ini seuai dengan pendapat H. Emerson yang dikutip oleh Soewarno Handayaningrat (1994 : 16) yang menyatakan bahwa efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Menurut Soejono Soekanto (1988:80) yang menyatakan bahwa efektif adalah sejauh mana suatu kelompok dapat mencapai tujuannya.

Hukum dapat dikatakan efektif jika terdapat dampak hukum yang positif,

(21)

pada saat itu hukum mencapai sasarannya dalam membimbing ataupun merubah perilaku manusia sehingga menjadi perilaku hukum.

Melihat efektivitas dari segi hukum, Achmad Ali (2009:375) berpendapat bahwa ketika ingin mengetahui sejauh mana efktivitas dari hukum, maka pertama-tama kita harus dapat mengukur sejauh mana aturan hukum itu ditaati atau tidak ditaati. Lebih lanjut Achmad Ali pun mengemukakan bahwa pada umumnya faktor yang banyak mempengaruhi efektivitas suatu perundang-undangan adalah professional dan optimal pelaksanaan peran, wewenang dan fungsi para penegak hukum, baik di dalam menjelaskan tugas yang dibebankan terhadap diri mereka maupun dalam menegakkan peraturan perundang-undangan tersebut.

Teori efektivitas hukum menurut Soerjono Soekanto (2008:8) adalah bahwa efektif atau tidaknya suatu hukum ditentukan oleh 5 (lima) faktor, yaitu sebagai berikut :

1. Faktor hukumnya sendiri

Hukum berfungsi untuk keadilan, kepastian dan kemanfaatan.

Dalam praktik penyelenggaraan hukum di lapangan ada kalanya terjadi pertentangan antara kepastian hukum dan keadilan. Kepastian hukum sifatnya konkret berwujud nyata, sedangkan keadilan bersifat abstrak sehingga ketika seorang hakim memutuskan suatu perkara secara penerapan undang-undang saja maka ada kalanya nilai keadilan itu tidak

(22)

tercapai. Maka ketika melihat suatu permasalahan mengenai hukum setidaknya keadilan menjadi prioritas utama. Karena hukum tidaklah semata mata dilihat dari sudut hukum tertulis saja, masih banyak aturan- aturan yang hidup dalam masyarakat yang mampu mengatur kehidupan masyarakat. Jika hukum tujuannya hanya sekedar keadilan, maka kesulitannya karena keadilan itu bersifat subjektif, sangat tergantung pada nilai-nilai intrinsik subjektif dari masing-masing orang.

2. Faktor penegak hukum

Faktor ini meliputi pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum atau law enforcement. Bagian-bagian law enforcement adalah aparatur penegak hukum yang mampu memberikan kepastian, keadilan, kemanfaatan hukum secara proporsional. Aparatur penegak hukum menyangkut pengertian mengenai institusi penegak hukum dan aparat penegak hukum, sedangkan aparat penegak hukum dalam arti sempit dimulai dari kepolisian, kejaksaan, kehakiman, penasehat hukum, dan petugas sipil lembaga pemasyarakatan. Setiap aparat dan aparatur diberikan wewenang dalam melaksanakan tugasnya maing-masing, yang meliputi kegiatan penerimaan, penyidikan, penuntutan, pembuktian, penjatuhan vonis dan pemberian sanksi, serta upaya pembinaan kembali terpidana.

(23)

3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum

Fasilitas pendukung secara sederhana dapat merumuskan sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Ruang lingkupnya terutama adalah sarana fisik yang berfungsi sebagai faktor pendukung. Fasilitas pendukung mencakup tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup dan sebagainya. Jika fasilitas pendukung tidak terpenuhi maka mustahil penegakan hukum akan mencapai tujuannya. Kepastian dan kecepatan penyelesaian perkara tergantung pada fasilitas pendukung yang ada dalam bidang-bidang pencegahan dan pemberantasan kejahatan.

4. Faktor masyarakat

Penegak hukum berasal dari masyarakat dan bertujuan untuk mencapai kedamaian dalam masyarakat. Masyarakat mempunyai pendapat-pendapat tertentu mengenai hukum, masyarakat Indonesia mempunyai pendapat mengenai hokum sangat bervariasi.

5. Faktor Kebudayaan

Faktor kebudayaan sebenarnya bersatu padu dengan faktor masyarakat sengaja dibedakan, karena di dalam pembahasannya diketengahkan masalah system nilai-nilai yang menjadi inti dari kebudayaan spiritual atau non material. Hal ini dibedakan sebab menurut Lawrence M. Friedman yang dikutip Soerdjono Soekanto, bahwa sebagai suatu system (atau subsistem dari system kemasyarakatan), maka hukum

(24)

menyangkup struktur, subtansi, dan kultur atau budaya. Struktur menyangkup wadah atau bentuk dari sistem tersebut yang umpamanya menyangkup tatanan lembaga-lembaga hukum formal, hukum antara lembaga-lembaga tersebut, hak-hak dan kewajiban-kewajibannya.

Kebudayaan hukum pada dasarnya mencakup nilai-nilai yang mendasari hukum yang berlaku, nilai-nilai yang merupakan konsepsi abstrak mengenai apa yang dianggap baik(hingga dianuti) dan apa yang dianggap buruk (sehingga dihindari). Nilai-nilai tersebut, lazimnya merupakan pasangan nilai-nilai yang mencerminkan dua keadaan ekstrim yang harus diserasikan.

Selanjutnya, Soerdjono Soekanto (1983:80) mengemukakan bahwa masalah yang berpengaruh terhadap efektivitas hukum tertulis di tinjau dari segi aparat akan tergantung pada hal berikut:

a). Sampai sejauh mana petugas terikat oleh peraturan-peraturan yang ada.

b). Sampai batas mana petugas diperkenankan memberikan kebijaksanaan.

c). Teladan apa yang sebaiknya diberikan oleh petugas kepada masyarakat.

d). Sampai sejauh mana derajat sinkronisasi penugasan-penugasan yang diberikan kepada petugas sehingga memberikan batas-batas yang tegas pada wewenangnya.

(25)

Agar suatu Undang-Undang dapat diharapkan berlaku efektif, Adam Podgorecki (Ahmad Ali, 1998: 198), mengemukakan bahwa:

Didalam menerapkan hukum sebagai sarana untuk mengadakan social engineering diperlukan kemampuan-kemampuan sebagai berikut :

1. Penggambaran yang baik situasi yang sedang dihadapi;

2. Melakukan analisis terhadap penilaian-penilain dan menyususun penilaian-penilaian tersebut ke dalam tata susunan yang hierarkhis sifatnya. Dengan cara ini maka akan diperoleh suatu pegangan atau pedoman, apakah penggunaan suatu sarana menghasilkan sesuatu yang positif. Artinya, apakah sarana penyembuhannya tidak lebih buruk daripada penyakitnya;

3. Verifikasi terhadap hipotesis-hipotesis yang diajukan. Artinya, apakah sarana-sarana yang telah dipilih benar-benar akan menjamin tercapainya tujuan-tujuan yang dikehendaki atau tidak;

4. Pengukuran terhadap efek-efek peraturan-peraturan yang diberlakukan;

5. Identifikasi terhadap faktor-faktor yang akan dapat menetralisir efek-efek yang buruk dari peraturan-peraturan yang diberlakukan;

6. Pelembagaan peraturan-peraturan di dalam masyarakat sehingga tujuan pembaharuan berhasil dicapai.

(26)

Ketaatan hukum itu memiliki hubungan erat dengan kesadaran hukum menurut Soerjono Soekanto, (2008 :25) bahwa:

Hubungan antara kesadaran dan kepatuhan hukum mempunyai kecenderungan yang kuat untuk tidak dapat dibuktikan secara pasti oleh hakim perilaku hukum tidaklah semata-mata didasarkan pada fungsi. Rendahnya frekuensi perbuatan tadi yaitu bahwa perbuatan tersebut sepantasnya dilakukan dan bahwa terjadinya adalah untuk mencapai keserasian antara ketertiban dengan ketentraman di dalam masyarakat”.

Apabila membicarakan efektivitas hukum dalam masyarakat Indonesia menurut Zainuddin Ali (2006: 94) berarti membicarakan daya kerja hukum dalam mengatur dan/atau memaksa warga masyarakat untuk taat terhadap hukum. Efektivitas hukum berarti mengkaji kaidah hukum yang harus memenuhi syarat, yaitu berlaku secara yuridis, sosiologis, filosofis.

Menurut Wayne Lafavre (Soerjono Soekanto, 2010: 7) bahwa Penegakan hukum sebagai suatu proses, pada hakikatnya merupakan penerapan diskresi yang yang menyangkut membuat keputusan yang tidak secara ketat diatur oleh kaidah hukum, akan tetapi mempunyai unsur penelitian pribadi. Dengan mengutip pendapat Rescoe Pound, maka Lafavre menyatakan, bahwa pada hakikatnya dikresi berada diantara hukum dan moral (etika dalam arti sempit).

Oleh karena itu dapatlah dikatakan, bahwa penegakan hukum bukanlah semata-mata berarti pelaksanaan perundang-undangan,

(27)

walaupun di dalam kenyataan di Indonesia kecenderungannya adalah demikian, sehingga pengertian law enforcement begitu populer. Selain itu, ada kecenderungan yang kuat mengartikan penegakan hukum sebagai pelaksanaan keputusan-keputusan hakim. Perlu dicatat, bahwa pendapat- pendapat yang sempit tersebut mempunyai kelemahan-kelemahan, apabila perundang-undangan atau keputusan-keputusan hakim tersebut malahan mengganggu kedamaian di dalam pergaulan hidup.

Dalam pelaksanaan penegakan hukum hal yang terpenting adalah semangat penyelenggara Negara atau semangat aparatur penegak hukumnya (the man behind law), sebagaimana yang diamanatkan dalam Penjelasan Umum UUD 1945.

Efektivitas hukum dalam kaitanya dengan pelaksanaan Undang- undang bila mana dikaitkan dengan efektivifnya sanksi hukum, maka akan terarah pada pembicaraan tentang sanksi negatif dalam hal ini tentang sanksi negatif dalam hal ini penting kaitanya dengan penerapan kaidah hukum pidana materil.

2. Teori Penegakan Hukum

Penegakan hukum merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide- ide keadilan, kepastian, dan kemanfaatan sosial menjadi kenyataan. Jadi penegakan hukum pada hakikatnya adalah proses perwujudan ide-ide.

(28)

Secara filosofi arti dari penegakan hukum itu menurut Purnadi Purbacaraka, adalah kegiatan menyaksikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidah hukum atau pandangan yang menilai secara mantap dan mengejewantahkan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir yang menciptakan (sebagai sosial engineering), memelihara dan mempertahankan (sebagai sosial control) kedamaian pergaulan hidup manusia.

Menurut Dellyana (1998:32) penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman pelaku dalam lalu lintas atau hubungan- hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Penegakan hukum merupakan usaha untuk mewujudkan ide-ide dan konsep hukum yang diharapkan rakyat menjadi kenyataan.

Selanjutnya, menurut Soerjono Soekanto dalam Dellyana (1998:33) menyebutkan bahwa penegakan hukum adalah kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidah- kaidah atau pandangan nilai yang mantap dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup. Penegak hukum secara konkret adalah berlakunya hukum positif dalam praktik sebagaimana seharusnya patut dipatuhi. Oleh karena itu, memberikan keadilan dalam suatu perkara berarti memutuskan hukum in concreto

(29)

dalam mempertahankan dan menjamin ditaatinya hukum materiil dengan menggunakan cara procedural yang ditetapakan oleh hukum formal.

Satjipto Raharjo (2005:24), memandang bahwa hakekat penerapan hukum (istilah lain penegakan hukum), tidak lain adalah Penyelenggaran pengaturan hubungan hukum setiap kesatuan hukum dalam suatu masyarakat hukum. Pengaturan itu menurutnya meliputi aspek pencegahan pelanggaran hukum hukum (regulation aspect) dan penyelesaian sengketa hukum (settelement of dispute) termasuk pemulian kondisi atas kerugian akibat pelanggaran itu (reparation of conpensacion).

Lebih lanjut Satjipto Raharjo (2005:24), mengemukakan bahwa sepanjang usianya dari suatu proses penegakan hukum, maka baru satu tahap proses perjalanan untuk mengatur masyarakat terselesaikan.

Tahapan pembuatan hukum itu harus dibarengi dengan pelaksanaannya secara konkret dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, dan itulah yang dimaksudkan dengan penegakan hukum.

Relevan dengan penjelasan sebelumnya, Barda Nawawi Arif (2007) merumuskan secara singkat pengertian penegakan hukum adalah sebagai penerapan hukum (acara) pidana dalam menyelesaikan kasus- kasus pidana. Dijelaskan bahwa, dalam literatur hukum pidana di negara barat khususnya Amerika Serikat, istilah penegak hukum pidana lebih dikenal dengan istilah Criminal Justice Syistem.

(30)

Uraian yang dipaparkan tersebut diatas, setidaknya dapat menjadi ukuran dalam memahami lebih jauh tentang pengertian penegak hukum.

Selanjutnya Muladi dan Arief (1992) mengemukakan bahwa untuk penegakan hukum pidana pada prinsipnya sama dengan fungsionalisasi hukum pidana atau dapat pula diidentikan dengan operasioanal hukum pidana atau kontribusi hukum pidana, yaitu supaya bagaiama membuat hukum pidana itu berfungsi, beroperasi bekerja dan terwujudnya secara konkret.

Lebih lanjut Muladi dalam buku yang lain memaparkan bahwa hakikat penegakan hukum yaitu Meskipun penegakan hukum pidana dalam rangka penanggualangan kejahatan bukan merupakan satu- satunya tumpuhan harapan namun keberhasilannya sangat diharapkan karena pada bidang penegakan hukum inilah yang dipertaruhkan hakekat dari suatu Negara berdasarkan hukum.

Pada prinsipnya masalah penegakan hukum merupakan kesenjangan anatara hukum secara normatif (das sollen) dan hukum secara sosiologis (das sein), atau kesenjangan antara prilaku hukum masyarakat yang seharusnya dengan prilaku dalam kenyataanya.

Sesunggunya berbicara tentang penegakan hukum adalah berbicara mengenai penegakan ide-ide dan konsep-konsep yang notabene adalah abstrak sehingga penegakan hukum merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide tersebut menjadi kenyataan. Proses perwujudan ide-

(31)

ide inilah yang menurut Satjipto Raharjo (1987:15) sebagai hakekat dari penegakan hukum.

Penegakan hukum tidak terlepas dari sistem hukum secara keseluruhan, sebagimana Lawrence Miere Friedman membagi unsur sistem hukum tersebut menjadi tiga yaitu struktur hukum, substansi hukum, dan kultur (budaya). Dari tiga unsur sistem hukum tersebut sangat erat kaitanya dengan kesadaran dan ketaatan hukum hal mana yang sering dicampuradukan. Pada hal menurut Achmad Ali, kedua hal tersebut berbeda meskipun sangat erat hubunganya. Kedua unsur ini pula yang sangat menentukan efektif tidaknya penegakan hukum dalam masyarakat.

Berbeda dengan Lawrence M. Friedman, Soerjono Soekanto (1980:216-219) mengemukakan bahwa, dalam rangka penegakan hukum ada empat unsur kesadaran hukum, yaitu :

1. Pengetahuan tentang hukum adalah pengetahuan seseorang mengenai beberapa perilaku tertentu yang diatur oleh hukum.

Pengetahuan tersebut berkaitan dengan perilaku yang dilarang ataupun yang diperbolehkan oleh hukum. Pengetahuan hukum positif erat kaitannya dengan asumsi, bahwa masyarakat dianggap mengetahui isi suatu peraturan manakala peraturan tersebut telah di undangkan.

(32)

2. Pemahaman tentang isi hukum adalah sejumlah informasi yang dimiliki seseorang mengenai isi peraturan dari suatu hukum tertentu. Dengan kata lain pengetahuan hukum adalah : suatu pengertian terhadap isi dan tujuan dari suatu peraturan dalam suatu hukum tertentu, tertulis serta manfaatnya bagi pihak – pihak yang kehidupannya di atur oleh peraturan tersebut.

3. Sikap hukum adalah suatu kecendrungan untuk menerima hukum karena adanya penghargaan terhadap hukum sebagai suatu bermanfaat atau menguntungkan jika hukum itu di taati.

4. Pola perilaku hukum adalah merupakan hal utama dalam kesadaran hukum, karena dapat dilihat apakah suatu peraturan berlaku atau tidak dalam masyarakat.

Jika dihubungkan dengan keefektivan suatu undang-undang dikatakan efektif jika sebagian besar masyarakat mentaati aturan atau undang-undang tersebut dengan kesadaran yang dimilikinya bahwa aturan atau undang-undang tersebut dibuat agar tercipta keselarasan dalam masyarakat (bersifat internalization). Kualitas ketaatan masyarakat pun menjadi ukuran kualiatas dari keefektifan suatu undang-undang. Jika sebagian besar masyarakatanya memiliki tetaatan yang bersifat compliance dan indetifikation, maka kualitas efektif unadang-undang tidak lebih baik pada undang-undang itu sesuai dengan nilai intrinsik yang dianutnya.

(33)

Ada beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat mematuhi hukum, faktor- faktor tersebut adalah sebagai berikut :

a) Compliance, di artikan sebagai suatu kepatuhan yang didasarkan pada harapan akan suatu imbalan dan usaha untuk menghindarkan diri dari hukum atau sanksi yang mungkin di kenakan apabila seseorang melanggar ketentuan hukum.

Kepatuhan ini sama sekali tidak didasarkan pada suatu keyakinan pada tujuan kaidah hukum yang bersangkutan dan lebih di dasarkan pada pengendalian dari pemegang kekuasaan. Sebagai akibat kepatuhan hukum akan ada apabila ada pengawasan yang ketat terhadap pelaksanaan kaidah – kaidah hukum tersebut.

b) Identification, terjadi apabila kepatuhan terhadap kaidah hukum ada bukan karena nilai instrinsiknya, akan tetapi agar keanggotaan kelompok tetap terjaga serta ada hubungan baik dengan mereka yang diberi wewenang untuk menerapkan kaidah – kaidah hukum tersebut. Daya tarik untuk patuh adalah keuntungan yang diperoleh dari hubungan-hubungan tersebut sehingga kepatuhan tergantung pada baik buruknya interaksi tadi.

c) Internatization, pada tahap ini seseorang mematuhi kaidah – kaidah hukum di karenakan secara instrinsik kepatuhan tadi mempunyai imbalan. Isi kaidah – kaidah tersebut adalah sesuai

(34)

dengan nilai – nilai diri pribadi yang bersangkutan atau oleh karena dia mengubah nilai – nilai yang semula di anutnya.

d) Kepentingan – kepentingan para warga masyarakat terjamin oleh wadah hukum yang ada.

Kepatuhan masyarakat terhadap suatu peraturan perundang–

undangan, mereka menganggap bahwa hukum yang dibuat oleh lembaga pembentuk hukum sesuai dengan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat itu sendiri, atau hukum yang dibuat sesuai dengan kebutuhan masyarakat itu sendiri.

3. Teori Pertanggungjawaban Pidana

Sistem pertanggungjawaban pidana dalam hukum pidana positif saat ini menganut asas kesalahan sebagai salah satu asas di samping asas legalitas. Pertanggungjawaban pidana merupakan bentuk perbuatan dari pelaku tindak pidana terhadap kesalahan yang dilakukannya. Dengan demikian, terjadinya pertanggungjawaban pidana karena ada kesalahan yang merupakan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang, dan telah ada aturan yang mengatur tindak pidana tersebut.

Roeslan Saleh (1982:10) menyatakan bahwa:

“Dalam membicarakan tentang pertanggungjawaban pidana, tidaklah dapat dilepaskan dari satu dua aspek yang harus dilihat dengan pandangan-pandangan falsafah. Satu diantaranya adalah keadilan, sehingga pembicaraan tentang pertanggungjawaban

(35)

pidana akan memberikan kontur yang lebih jelas.

Pertanggungjawaban pidana sebagai soal hukum pidana terjalin dengan keadilan sebagai soal filsafat.”

Pengertian perbuatan pidana tidak termasuk hal pertanggung jawaban. Perbuatan pidana hanya menunjuk pada dilarangnya perbuatan, apakah orang yang telah melakukan perbuatan itu kemudian juga dipidana tergantung pada soal, apakah dia dalam melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan atau tidak apabila orang yang melakukan perbuatan pidana itu memang mempunyai kesalahan, maka tentu dia akan dipidana. Tetapi, manakala dia mempunyai kesalahan, walaupun dia telah melakukan perbuatan yang terlarang dan tercela, dia tidak dipidana.

asas yang tidak tertulis : “Tidak dipidana jika tidak ada kesalahan”, merupakan dasar daripada dipidananya si pembuat.

Dalam bahasa asing pertanggungjawaban pidana disebut sebagai

toerekenbaarheid”, „’criminal responbility‟‟, „’criminal liability‟‟. Bahwa pertanggungjawaban pidana dimaksudkan untuk menentukan apakah seseorang tersangka atau terdakwa dipertanggungjawabkan atas suatu tindak pidana (crime) yang terjadi atau tidak. Dengan perkataan lain apakah terdakwa akan dipidana atau dibebaskan. Jika ia dipidana, harus ternyata bahwa tindakan yang dilakukan itu bersifat melawan hukum dan terdakwa mampu bertanggungjawab. Kemampuan tersebut memperlihatkan kesalahan dari petindak yang berbentuk kesengajaan

(36)

atau kealpaan. Artinya tindakan tersebut tercela tertuduh menyadari tindakan yang dilakukan tersebut.

Pertanggungjawaban pidana adalah suatu perbuatan yang tercela oleh masyarakat yang harus dipertanggungjawabkan pada si pembuatnya atas perbuatan yang dilakukan. Dengan mempertanggung jawabkan perbuatan yang tercela itu pada si pembuatnya, apakah si pembuatnya juga dicela ataukah si pembuatnya tidak dicela. Pada hal yang pertama maka si pembuatnya tentu dipidana, sedangkan dalam hal yang kedua si pembuatnya tentu tidak dipidana.

Dilihat dari sudut terjadi suatu tindakan yang terlarang, seseorang akan dipertanggungjawab pidanakan atas tindakan-tindakan tersebut apabila tindakan tersebut bersifat melawan hukum (dan tidak ada peniadaan sifat melawan hukum atau rechtsvaardigingsgrond atau alasan pembenar) untuk itu. Dilihat dari sudut kemampuan bertanggungjawab, maka hanya seseorang yang yang “mampu bertanggungjawab yang dapat dipertanggungjawabkan. Dikatakan seseorang mampu bertanggung jawab (toerekeningsvatbaar), bilamana pada umumnya.

Menurut Roscoe Pound (Romli Atmasasmita, 2000 : 65) bahwa “I Use simple word “liability” for the situation whereby one may exact legally and other is legally subjeced to the exaction” Pertangungjawaban pidana di artikan Roscoe Pound adalah sebagai suatu kewajiban untuk membayar pembalasan yang akan di terima pelaku dari seseorang yang

(37)

telah di rugikan, menurutnya juga bahwa pertanggungjawaban yang dilakukan tersebut tidak hanya menyangkut masalah hukum semata akan tetapi menyangkut pula masalah nilai-nilai moral ataupun kesusilaan yang ada dalam suatu masyarakat.

Dalam bukunya Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia Dan Penerapanya, E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi menjelaskan bahwa unsur mampu bertanggung jawab mencakup :

a. Keadaan jiwanya :

1. Tidak terganggu oleh penyakit terus-menerus atau sementara (temporair);

2. Tidak cacat dalam pertumbuhan (gagu, idiot, imbecile, dan sebagainya), dan

3. Tidak terganggu karena terkejut, hypnotisme, amarah yang meluap, pengaruh bawah sadar/reflexe bewenging, melindur/slaapwandel, menganggu karena demam/koorts, nyidam dan lain sebagainya. Dengan perkataan lain dia dalam keadaan sadar

b. Kemampuan jiwanya :

1. Dapat menginsyafi hakekat dari tindakannya;

2. Dapat menentukan kehendaknya atas tindakan tersebut, apakah akan dilaksanakan atau tidak;

(38)

3. Dapat mengetahui ketercelaan dari tindakan tersebut.

Pertanggungjawaban pidana disebut sebagai “toerekenbaarheid”

dimaksudkan untuk menentukan apakah seseorang tersangka/terdakwa dipertanggungjawabkan atas suatu tindak pidana (crime) yang terjadi atau tidak.

Menurut Roeslan Saleh (1981:75-76) bahwa, tidaklah ada gunanya untuk mempertanggungjawabkan terdakwa atas perbuatannya apabila perbuatannya itu sendiri tidak bersifat melawan hukum, maka lebih lanjut dapat pula dikatakan bahwa terlebih dahulu harus ada kepastian tentang adanya perbuatan pidana, kemudian semua unsur-unsur kesalahan harus dihubungkan pula dengan perbuatan pidana yang dilakukan, sehingga untuk adanya kesalahan yang mengakibatkan dipidananya.

Menurut Moeljatno (dalam Tri Andrisman 2009 :73) unsur-unsur dalam pertanggungjawaban pidana adalah :

1. Kesalahan;

2. Kemampuan bertanggungjawab;

3. Tidak alas an pemaaf.

Moeljatno menyimpulkan bahwa untuk adanya kemampuan bertanggung jawab harus ada :

(39)

a. Kemampuan untuk membeda-bedakan antara perbuatan yang baik dan yang buruk, sesuai dengan hukum dan yang melawan hukum (faktor akal).

b. Kemampuan untuk menentukan kehendaknya menurut keinsyafan tentang baik dan buruknya perbuatan tadi (faktor perasaan/kehendak).

Tegasnya bahwa, pertanggungjawaban pidana adalah merupakan pertanggungjawaban orang terhadap tindak pidana yang dilakukannya.

Dengan demikian, terjadinya pertanggungjawaban pidana karena telah ada tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang, dimana masyarakat telah sepakat menolak suatu perbuatan tertentu yang diwujudkan dalam bentuk larangan atas perbuatan tersebut. Sebagai konsekuensi penolakan masyarakat tersebut, sehingga orang yang melakukan perbuatan tersebut akan dicela, karena dalam kejadian tersebut sebenarnya pembuat dapat berbuat lain. Pertanggungjawaban pidana pada hakikatnya merupakan suatu mekanisme yang dibangun oleh hukum pidana untuk bereaksi terhadap pelanggaran atas kesepakatan menolak suatu perbuatan tertentu.

B. Tinjauan umum

1. Pengertian Pidana

Setiap manusia adalah makhluk tuhan yang tak pernah luput dari kesalahan, kesalahan yang dilakukan dapat berupa perbuatan yang

(40)

merugikan diri sendiri maupun orang lain, hal tersebut tak jarang yang mengganggu ketentraman hidup bermasyarakat. Seseorang yang melakukan kesalahan yang diatur dalam perundang-undangan hukum pidana dapat diberikan sanksi berupa pidana.

Menurut Andi hamzah (1993), pidana adalah hukuman yang dijatuhkan terhadap orang yang terbukti bersalah melakukan delik berdasarkan putusan yang berkekuatan hukum tetap.

Pidana adalah makna sempit dari hukuman, yang mana hukuman mencakup segala sesuatu perbuatan yang bertentangan dengan kaidah- kaidah dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, namun pidana dalah hukuman yang diberikan pada seseorang yang melakukan tindak pidana sesuai yang diatur dalam hukum pidana. Pidana agak sedikit berbeda dengan hukuman, karena pidana diberikan kepada seseorang melalui proses peradilan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku, sedangkan hukuman berlaku kapan saja dan dengan siapa saja yang melakukan perbuatan tercela, meskipun hal tersebut tidak diatur dalam ketentuan perundang-undangan.

Pidana adalah penderitaan yang diberikan kepada seseorang yang telah melakukan kesalahan dan menjalani proses pembuktian sehingga hukuman ditentukan oleh majelis hakim dalam sebuah putusan di pengadilan.

(41)

Moeljatno (1993:56) menyebutkan dalam bukunya beberapa ahli hukum mendefinisikan pidana sebagai berikut :

a. Sudarto (1981), menyatakan bahwa pidana sebagai nestapa yang dikenakan oleh Negara kepada seseorang yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang.

b. Simons menyatakan bahwa pidana merupakan suatu penderitaan yang oleh undang-undang pidana telah dikaitkan dengan pelanggaran terhadap norma, yang dengan suatu putusan hakim yang telah dijatuhkan bagi seseorang yang bersalah.

c. Roeslan Saleh (1984) menyatakan bahwa pidana adalah reaksi atas delik dan ini berwujud suatu nestapa dengan sengaja diterapkan kepada si pembuat delik itu.

d. G.P. Hoefnagles menyatakan sikap tidak setuju dengan pendapat bahwa pidana merupakan suatu pencelaan atau suatu penjeraan (discouragement) atau merupakan suatu penderitaan. Ia melihat secara empiris bahwa pidana merupakan suatu proses waktu, keseluruhan proses pidana itu sendiri (sejak penahanan, pemeriksaan sampai vonis dijatuhkan) merupakan suatu pidana.

Hoefnagles menekankan bahwa pemberian sanksi merupakan suatu proses pembangkitan semangat dan pencelaan untuk tujuan agar seseorang berorientasi menyesuaikan diri dengan suatu norma atau undang-undang yang berlaku.

(42)

e. Van Hamel, menyatakan bahwa hukum positif, arti dari pidana atau straf adalah suatu penderitaan yang bersifat khusus, yang telah dijatuhkan oleh kekuasaan yang berwenang untuk menjatuhkan pidana atas nama negara sebagai penanggungjawab dari ketertiban umum bagi seorang pelanggar, yakni semata-mata karena orang tersebut telah melanggar suatu peraturan hukum yang harus ditegakkan oleh negara.

f. Ted Honderich, menyatakan bahwa Pidana adalah hukuman dari pihak yang berwenang (sesuatu yang meliputi pencabutan/penderitaan) terhadap seorang pelanggar dari sebuah pelanggaran. (Punishment is an the authority’s infliction of penalty (something invloving deprivation or distress) on an offender for an offense).

Dalam Pasal 10 KUHP dikenal dua jenis pidana, yaitu pidana pokok yang terdiri dari :

a. Pidana mati;

b. Pidana penjara;

c. Pidana kurungan;

d. Pidana penjara;

e. Pidana tutupan;

Adapun pidana tambahan terdiri dari : a. Pencabutan hak-hak tertentu;

(43)

b. Perampasan barang-barang tertentu dan;

c. Pengumuman putusan hakim;

Jenis pidana penjara mencakup pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu (Pasal 12 ayat (1) KUHP). Strafmaat dari pidana penjara diterangkan dalam pasal 12 ayat (2) dan ayat (3) KUHP yang menjelaskan sebagai berikut :

(1) Pidana penjara selama waktu tertentu paling cepat danpaling lam lima belas tahun berturut-turut;

(2) Pidana penjara selama waktu tertentu boleh dijatuhkan untuk dua puluh tahun berturut-turut dalam hal yang kejahatan yang dipidananya hakim boleh memilih antara pidana mati, pidana seumur hidup, dan pidana penjara selama waktu tertentu’

begitu juga dalam hal batas lima belas tahun dilampaui sebab tambahan pidana karena perbarengan (concurcus), pengulangan atau karena ditentukan dalam pasal 52 KUHP.

(3) Pidana penjara selama waktu tertentu sekali-kali tidak boleh melebihi dua puluh tahun.

KUHP mengenal peraturan pidana maksimum, artinya dalam setiap delik ancaman pidana hanya diberi batas pidana, missal dalam delik penggelapan Pasal 372 KUHP disitu dicantumkan ancaman pidana paling lama empat tahun atau denda paling banyak Sembilan ratus rupiah.

(44)

2. Pengertian Tindak Pidana

Perbuatan tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai sanksi yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar larangan tersebut. Sejatinya pidana hanyalah sebuah alat yaitu alat untuk mencapai tujuan pemidanaan.

Pada hakekatnya sejarah hukum pidana adalah sejarah dari pidana dan pemidanaan yang senantiasa mempunyai hubungan erat dengan masalah tindak pidana.

Masalah tindak pidana merupakan masalah kemanusiaan dan masalah sosial yang senantiasa dihadapi oleh setiap bentuk masyarakat.

Di mana ada masyarakat, di situ ada tindak pidana. Tindak pidana selalu bertalian erat dengan nilai, struktur dan masyarakat itu sendiri. Sehingga apapun upaya manusia untuk menghapuskannya, tindak pidana tidak mungkin tuntas karena tindak pidana memang tidak mungkin terhapus melainkan hanya dapat dikurangi atau diminimalisir intensitasnya.

Istilah lain dari tindak pidana adalah strafbaar feit yang mana diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia yang artinya tindak pidana, delik, perbuatan pidana, peristiwa pidana, maupun perbuatan yang dapat dipidana. Strafbaar feit terdiri dari 3 kata, yaitu straf diterjemahkan sebagai pidana dan hukum, baar diterjemahkan sebagai dapat dan boleh

(45)

sedangkan feit diterjemahkan dengan tindak, peristiwa, pelanggaran dan perbuatan.

Mardjono Reksodiputro, menjelaskan bahwa tindak pidana sama sekali tidak dapat dihapus dalam masyarakat, melainkan hanya dapat dihapuskan sampai pada batas-batas toleransi. Hal ini disebabkan karena tidak semua kebutuhan manusia dapat dipenuhi secara sempurna.

Disamping itu, manusia juga cenderung memiliki kepentingan yang berbeda antara yang satu dengan yang lain, sehingga bukan tidak mungkin berangkat dari perbedaan kepentingan tersebut justru muncul berbagai pertentangan yang bersifat prinsipil. Namun demikian, tindak pidana juga tidak dapat dibiarkan tumbuh dan berkembang dalam masyarakat karena dapat menimbulkan kerusakan dan gangguan pada ketertiban sosial.

Dengan demikian sebelum menggunakan pidana sebagai alat, diperlukan permahaman terhadap alat itu sendiri. Pemahaman terhadap pidana sebagai alat merupakan hal yang sangat penting untuk membantu memahami apakah dengan alat tersebut tujuan yang telah ditentukan dapat dicapai.

Sudarto (1990/1991:3) berpendapat yang dimaksud dengan pidana ialah penderitaan yang sengaja dibebankan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu.

(46)

Bila dilihat dari filosofinya, hukuman mempunyai arti yang sangat beragam. R. Soesilo menggunakan istilah “hukuman” untuk menyebut istilah “pidana” dan ia merumuskan bahwa apa yang dimaksud dengan hukuman adalah suatu perasaan tidak enak (sangsara) yang dijatuhkan oleh hakim dengan vonis kepada orang yang telah melanggar Undang- undang hukum pidana. Feurbach menyatakan, bahwa hukuman harus dapat mempertakutkan orang supaya jangan berbuat jahat. Secara umum istilah pidana sering kali diartikan sama dengan istilah hukuman. Tetapi kedua istilah tersebut sebenarnya mempunyai pengertian yang berbeda.

Menurut D.Simons bahwa tindak pidana adalah tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak dengan sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggung-jawabkan atas tindakannya dan yang oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum.

Sedangkan Indriyanto Seno Adji Menyatakan, “Tindak Pidana adalah perbuatan seseorang yang diancam pidana, perbuatannya bersifat melawan hukum, terdapat suatu kesalahan dan bagi pelakunya dapat dipertanggung jawabkan atas perbuatannya.

Moeljatno juga berpendapat bahwa tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana barang siapa yang melakukan.

Beliau juga mengatakan tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang

(47)

oleh hukum, untuk melindungi masyarakat dan dapat dipidana berdasarkan prosedur hukum yang berlaku.

Berkaitan dengan pemahaman tindak pidana tersebut di atas Moeljatno, mengemukakan beberapa unsur – unsur untuk adanya suatu tindak pidana atau perbuatan pidana yaitu :

1. Adanya subyek hukum, yang dapat dijadikan subyek hukum hanyalah orang.

2. Adanya perbuatan yang dilarang, perbuatan yang dilakukan sesuai dengan rumusan delik.

3. Bersifat melawan hukum yaitu :

a. Melawan hukum formal artinya apabila perbuatan yang dilakukan sebelumnya telah diatur dalam Undang – undang.

b. Melawan hukum material artinya apabila perbuatan yang dilakukan melanggar aturan atau nilai – nilai yang hidup dalam masyarakat harus adanya kesalahan. Kesalahan yang dimaksud adalah pencelaan dari masyarakat apabila melakukan hal tersebut sehingga adanya hubungan batin antara pelaku dengan kejadian yang nantinya akan menimbulkan suatu akibat. 4. Harus dapat dipertanggung jawabkan.

5. Sesuai dengan waktu, tempat dan keadaan.

Lebih lanjut dalam penjelasan mengenai perbuatan pidana terdapat syarat formil dan syarat materiil. Syarat formil dari perbuatan pidana

(48)

adalah adanya asas legalitas yang tersimpul dalam Pasal 1 KUHP, sedangkan syarat materiil adalah perbuatan tersebut harus betul-betul dirasakan oleh masyarakat sebagai perbuatan yang tidak boleh atau tidak patut dilakukan karena bertentangan dengan atau menghambat akan terciptanya tata dalam pergaulan masyarakat yang dicita-citakan oleh masyarakat.

Dengan demikian dapat dipahami, bahwa sutau tindak pidana merupakan suatu tindakan yang dilarang atau di cela oleh masyarakat dan dilakukan oleh orang yang bersalah yang dapat dikenakan sanksi pidana.

3. Pengertian Sanksi Pidana

Sanksi Pidana adalah suatu hukuman sebab akibat, sebab adalah kasusnya dan akibat adalah hukumnya, orang yang terkena akibat akan memperoleh sanksi baik masuk penjara ataupun terkena hukuman lain dari pihak berwajib. Sanksi Pidana merupakan suatu jenis sanksi yang bersifat nestapa yang diancamkan atau dikenakan terhadap perbuatan atau pelaku perbuatan pidana atau tindak pidana yang dapat menggangu atau membahayakan kepentingan hukum. Sanksi pidana pada dasarnya merupakan suatu penjamin untuk merehabilitasi perilaku dari pelaku kejahatan tersebut, namun tidak jarang bahwa sanksi pidana diciptakan sebagai suatu ancaman dari kebebasan manusia itu sendiri.

(49)

4. Pelaku Penyalahguna Tindak Pidana Narkotika Menurut Undang- Undang 35 Tahun 2009.

Persoalan yang sangat penting kiranya untuk membahas mengenai kisruh penyalahgunaan narkotika dari dulu sampai sekarang tak pernah surut. Sebagaimana kita pahami bersama bahwa banyak generasi muda bangsa Indonesia yang gerak kehidupannya yang telah terkontrol oleh narkotika yang seharusnya menjadi suatu barang yang kaya akan bermanfaat positif bilamana digunakan dalam berbagai aspek keperluan pengobatan dan pengetahuan. Sungguh miris apabila kita melirik kepada tunas-tunas muda bangsa kita yang telah terjerumus dan diperbudak oleh narkotika melalui jalan penyalahgunaan, pada hal pemerintah Republik Indonesia hanya memperbolehkan penggunaan narkotika untuk kepentingan medis dan pengetahuan, dan melarang sepenuhnya penggunaan narkotika untuk diedarkan ataupun dikonsumsi bagi yang tidak bertanggung jawab secara illegal.

Hal tersebut dikarenakan apabila narkotika dipergunakan secara bebas oleh masyarakat, maka efek yang didapat dari penggunaan adalah penurunan pada fungsi otak. Disamping itu, penggunaan secara terus menerus juga berimbas kepada menurunnya system imunitas tubuh, bahkan dapat menyebabkan si pengguna meninggal dunia akibat penggunaan yang berlebihan (overdosis), membludaknya jumlah pecandu Narkotika di Indonesia tak lepas dari peranan para pengedar Narkotika,

(50)

sebenarnya dapat dikatakan bahwa akar dari tingginya angka pecandu Narkotika di Indonesia berasal dari para pengedar Narkotika illegal.

Secara langsung dengan perasaan tidak besalah, mereka (pengedar) telah menjerumuskan setiap korbannya hingga menjadi pengkonsumsi Narkotika ke dalam jurang kematian.

Kehadiran Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika merupakan suatu inovasi baru yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia atas ketidaksesuain situasi dan kondisi yang lazimnya disebut dengan perkembangan zaman. Perumusan Pasal-Pasal yang ada di dalam Undang-Undang itupun dianggap sebagai terobosan yang berani dalam hal penjatuhan sanksi pidana bagi para pengedar. Namun disisi lain, sebenarnya Undang-Undang Narkotika nomor 35 tahun 2009 juga telah mengklasifikasikan para pelaku tersebut menjadi dua golongan antara lain :

1. Pecandu Narkotika adalah orang yang menggunakan atau menyalahgunakan Narkotika dan dalam keadaan ketergantungan pada Narkotika, baik secara fisik maupun secara psikis.

2. Penyalah Guna adalah orang yang menggunakan Narkotika tanpa hak atau melawan hukum.

Para psikologis beranggapan bahwa pecandu Narkotika seseorang yang memerlukan bantuan rill yang bersifat psikologis dengan perlahan agar dapat terbebas dari pengaruh dan ketergantungan yang dakibatkan

(51)

oleh Narkotika, dan solusi yang tepat untuk hal ini adalah dengan merehabilitasi pecandu Narkotika ke panti rehabilitasi medis atau social agar mendapatkan perawatan dari ahlinya sesuai dengan perintah dari Undang-Undang Narkotika. Sedangkan untuk penyalahguna Narkotika yang berupa pengedar Narkotika, mereka dapat berupa orang perseorangan atau korporasi yang bergerak dalam peredaran Narkotika secara illegal, yang artinya berlawanan dengan hukum demi meraup keuntungan materi sebesar-besarnya dari hasil penjualan yang mereka lakukan.

Sebelum adanya Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, apabila terjadi tindak pidana Narkotika yang notabene pelakunya adalah pecandu Narkotika, maka dengan sigap pihak kepolisian segera menangkap, menahan, memeriksa dan mengadili terdakwa di meja persidangan, sampai pada akhirnya pengadilan pun memberikan vonis sanksi berupa pidana penjara selama waktu yang ditentukan ole hakim.

Namun setelah adanya Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika BAB IX bagian kedua Pasal 54 menyatakan bahwa pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan Narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Inilah yang menjadi bahan acuan bagi penegak hukum agar dapat lebih memperhatikan hak pelaku. Dalam hal pelaku yang termasuk dalam kategori ini Undang-Undang pun masih

(52)

memberikan hak lainnya seperti disebutkan dalam Pasal 55 ayat (2) yang berbunyi, :

“Pecandu narkotika yang sudah cukup umur wajib melaporkan atau dilaporkan oleh keluarganya kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial”.

Sudah seharusnya pengetahuan tentang narkotika ini diketahui oleh masyarakat agar mereka dapat ikut serta mencegah dan memberantas kelangsungan dari tindak pidana Narkotika ini, persoalan yang seperti inilah yang sedang kita hadapi, dimana persoalan tersebut berkaitan erat dengan efektivitas dari Undang-Udang nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika sebagai pengganti dari Undang-Undang nomor 22 tahun 1997 yang tidak lagi sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi untuk menanggulangi dan memberantas tindak pidana Narkotika.

5. Peredaran Narkotika

Dengan adanya perkembangan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pesatnya kemajuan komunikasi adalah merupakan salah satu penyebab semakin mudahnya pendistribusian atau peredaran Narkoba hingga menjangkau sampai ke wilayah-wilayah terpencil di seluruh Indonesia.

(53)

Pengertian peredaran adalah suatu proses, siklus, kegiatan atau serangkaian kegiatan yang menyalurkan/memindahkan sesuatu (barang, jasa, informasi, dan lain-lain). Peredaran dapat juga diartikan sebagai impor, ekspor, jual beli di dalam negeri serta penyimpanan dan pengangkutan.

Menurut kamus Tata Hukum Indonesia (Padmo Wahjono, 1987 : 208) pengertian peredaran adalah setiap kegiatan yang menyangkut penjualan serta pengangkutan penyerahan penyimpanan dengan maksud untuk dijual.

Suatu peredaran Narkotika, meliputi setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka perdagangan, bukan perdagangan maupun pemindah tanganan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Peredaran Narkotika tersebut meliputi penyaluran atau penyerahan. Sedangkan pengertian peredaran gelap Narkotika adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tanpa hak dan melawan hukum yang ditetapkan sebagai tindak pidana Narkotika.

Pengertian peredaran Narkotika menurut Pasal 1 ayat (6) Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, mendefinisikan bahwa:

“Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan yang dilakukan

(54)

secara tanpa hak atau melawan hukum yang ditetapkan sebagai tindak pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika.”

Sedangkan menurut penulis sendiri peredaran merupakan suatu proses pemindahan hak atas suatu barang kepada pihak lain.

6. Pengertian dan Penggolongan Narkotika

Ruslan Renggong (2016:121) Pembentukan Undang-Undang Narkotika memiliki empat tujuan, yakni :

a. Menjamin ketersediaan Narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

b. Mencegah, melindungi dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari penyalahgunaan Narkotika.

c. Memberantas peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika.

d. Menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial.

Secara harfiah Narkotika sebagaimana di ungkapkan oleh Wilson Nadack dalam bukunya “Korban Ganja dan Masalah Narkotika”, merumuskan sebagai berikut : Narkotika berasal dari bahasa Yunani, dari kata Narke, yang berarti beku, lumpuh, dan dungu. Menurut Farmakologi medis, yaitu “ Narkotika adalah obat yang dapat menghilangkan (terutama) rasa nyeri yang berasal dari daerah Visceral dan dapat menimbulkan efek stupor (bengong masih sadar namun masih haruis di gertak) serta adiksi.

(55)

M. Arief Hakim (2004:15) mengatakan bahwa sejarah narkotika dan obat-obatan bebahaya mungkin sudah setua umur manusia, dalam bentuknya yang masih agak sederhana narkotika/narkoba telah dikionsumsi manusia diberbagai belahan dunia termasuk Indonesia.

Jenis-jenis Narkoba semakin banyak dan canggih. Selalu saja ada individu dan komunitas pemakai dan pengedar Narkotika disuatu Negara termasuk Indonesia.

Soedjono D. (1977:3) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Narkotika adalah sejenis zat, yang bila dipergunakan (dimasukkan dalam tubuh) akan membawa pengaruh terhadap tubuh si pemakai. Pengaruh tersebut berupa menenangkan, merangsang, dan menimbulkan khayalan (halusinasi).

Sedangkan menurut Elijah Adams memberikan definisi bahwa Narkotika adalah terdiri dari zat sintesis dan semi sintesis yang terkenal adalah heroin yang terbuat dari morfhine yang tidak dipergunakan, tetapi banyak nampak dalam perdagangan gelap, selain juga terkenal istilah dihydo morfhine.

Selain itu ada pula istilah yang digunakan oleh Menteri Kesehatan RI yaitu NAPZA merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya.

Menurut Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, bahwa :

(56)

“Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan- golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang.”

Sedangkan menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang psikotropika memberikan pengertian sebagai berikut : Psikotropika adalah obat atau zat alamiah maupun sintesis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh efektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Pengertian tersebut dapat dipahami bahwa antara narkotika dan psikotropika adalah berbeda, walaupun perbedaan tersebut tidak terlalu mendasar dan pada umumnya masyarakat juga kurang memahami adanya perbedaan tersebut. Zat Narkotika bersifat menurunkan bahkan menghilangkan kesadaran seseorang sedangkan zat psikotropika justru membuat seseorang semakin aktif dengan pengaruh dari saraf yang ditimbulkan oleh pemakai zat psikotropika tersebut.

Gatot Supramono (2004:159), menjelaskan bahwa pengertian tersebut di atas, hal yang sama dengan Psikotropika yaitu bentuk yang sama-sama berupa zat atau obat yang alamiah maupun sintesis.

Perbedaannya pada Narkotika ada yang berasal dari tanaman sedangkan dalam pengertian Psikotropika tidak demikian, Psikotropika pengaruhnya

(57)

menuju kepada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Sedangkan dalam Narkotika langsung menyebabkan penurunan kesehatan, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri. Baik narkotika maupun Psikitropika sama- sama menimbulkan ketergantungan.

Menurut Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Pasal 6 ayat (1) tentang penggolongan Narkotika yaitu :

1. Narkotika Golongan I

Dalam ketentuan ini yang dimaksud Narkotika golongan I adalah Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Heroin, Kokain, Ganja.

2. Narkotika Golongan II

Dalam ketentuan ini dimaksud dengan Narkotika golongan II adalah Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh: Morfin, Petidin.

3. Narkotika Golongan III

(58)

Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan Narkotika Golongan III adalah Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Codein.

Narkotika yang dikonsumsi dengan cara ditelan akan masuk kedalam lambung kemudian ke pembuluh darah, sedangkan jika dihisap atau dihirup, maka Narkotika akan masuk kedalam pembuluh darah melalui hidung dan paru-paru. Jika disuntikan maka zat itu akan masuk kedalam aliran darah dan darah akan membawanya menuju otak (system saraf pusat). Semua jenis Narkotika akan merubah perasaan dan cara pikir orang yang mengkonsumsinya seperti perubahan suasana hati menjadi tenang, rileks, gembira dan rasa bebas. Perubahan pada pikiran seperti stress menjadi hilang dan meningkatnya daya khayal.

Perubahan perilaku seperti meningkatnya keakraban dengan orang lain tetapi lepas kendali. Perasaan-perasaan seperti inilah yang pada mulanya dicari oleh pengguna narkotika, otak manusia memang dilengkapi dengan alat untuk memperkuat rasa nikmat dan menghindarkan rasa sakit dan rasa-rasa yang lain yang tidak enak, guna membantu manusia untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti lapar, haus

(59)

dan tidur, mekanisme ini merupakan pertahanan diri. Jika kita lapar, otak akan menyampaikan pesan agar mencari makanan yang kita butuhkan.

Hal seperti inilah yang menjadi adiksi jika kita mengkonsumsi narkotika dan yang terjadi pada adiksi adalah semacam pembelajaran sel- sel otak pada Hipotalamus (pusat kenikmatan). Terlepas dari dampak buruknya harus diakui bahwa narkotika mampu memenuhi sebagian kebutuhan manusia. Jika tidak, tentu orang tidak akan berpaling kepada narkotika dan mengambil resiko yang berat untuk pekerjaan, keluarga, teman bahkan nyawa hanya untuk Narkotika.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika hanya tiga golongan Narkotika untuk Narkotika golongan I tidak digunakan untuk kepentingan pengobatan, tetapi kegunaannya sama dengan psikotropika golongan I hanya untuk kepantingan ilmu pengetahuan. Narkotika untuk kepentingan ilmu pengetahuan diatur dalam Pasal 13 Undang-Undang Narkotika, menetapkan bahwa lembaga ilmu pengetahuan yang salah fungsinya melakukan kegiatan percobaan, penelitian dan pengembangan dengan izin menteri kesehatan dapat memperoleh, Menanam, menyimpan dan menggunakan narkotika. Kete

Gambar

Tabel  1  :  Jumlah  laporan  Tindak  Pidana  Peredaran  Narkotika  yang  diterima  oleh  Kepolisian  Resort  Enrekang,  mulai  dari  tahun  2013 sampai dengan 2017
Tabel 2 :  Pendapat Responden mengenai efektivitas penegakan hukum  atas tindak pidana peredaran narkotika di Kabupaten Enrekang
Tabel  3  :  Jawaban  responden  mengenai  faktor  substansi  hukum  terhadap  penegakan  hukum  atas  tindak  pidana  peredaran  narkotika di Kabupaten Enrekang
Tabel  tersebut  adalah  pendapat  responden  mengenai  substansi  hukum  (isi  peraturan  hukum)  yang  mengatur  peredaran  dan  penyalahgunaan narkotika cukup berpengaruh
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam skripsi ini penulis mengemukakan permasalahan yang menjadi factor-faktor penyebab terjadinya peredaran narkotika di Kota Gunungsitoli dan bentuk-bentuk tindak pidana

(2) Faktor-faktor yang menghambat penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana pajak fiktif di Kota Bandar Lampung adalah: a) Faktor substansi hukum, yaitu

Faktor penghambat BNN dalam penegakan hukum tindak pidana narkotika adalah : Faktor kelemahan sistem hukum adalah sitem hukum yang lemah memungkinkan akan

Secara substansi, dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 ini sudah merupakan langkah yang baik dalam penegakan hukum di bidang tindak pidana narkotika, akan

tersebut dikenal sebagai tindak pidana narkotika yang dapat berupa penyalahgunaan narkotika1. dan peredaran

Secara substansi, dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 ini sudah merupakan langkah yang baik dalam penegakan hukum di bidang tindak pidana narkotika, akan tetapi

Secara substansi, dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 ini sudah merupakan langkah yang baik dalam penegakan hukum di bidang tindak pidana narkotika, akan

2016, Penegakan Hukum Terhadap Anggota Militer yang Melakukan Tindak Pidana Narkotika di Wilayah Hukum Pengadilan Militer II – 11 Yogyakarta, Naskah Publikasi, Universitas