• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan antar Kelompok Sosio – Kultural

Sebagai masyarakat pesisir pedesaan, masyarakat Prigi membangun hubungan sosial mekanik, karena kedekatan emosi dan moral. Struktur masyarakat pedesaan memiliki karakter yang sederhana. Mereka hanya dibedakan dari aspek status pekerjaan dan praktek keagamaan. Misalnya dalam masyarakat nelayan sruktur terbagi ke dalam : 1. Pemilik kapal

2. Nelayan 3. Pedagang 4. Buruh.

Hubugan sosial yang terbangun pada masyarakat dari struktur di atas adalah hubungan yang saling menguntungkan. Seperti yang telah disinggung pada bab sebelumnya, hubungan dalam struktur ini ada solidaritas dan ada persaingan.

Solidaritas yang dibangun dalam keseharian mereka dalam bingkai kerukunan, sebagaimana rakyat pedesaan yang masih tradisional. Persaingan antar pedagang dan nelayan dan pemilik kapal telah disadari bersama, tidak sampai menimbulkan konflik terbuka.

237 Data KPU Kecamatan Watulimo.

Begitu pula dalam struktur sosial lainnya, yakni dari kelompok umat beragama Seperti telah disinggung pada bab sebelumnya, bahwa dalam praktek keberagamaan, masyarakat terbagi kedalam 4 struktur sosio-kultural, yaitu : Kelompok NU Tradisional, NU Modernis, Muhammadiyah, dan Abangan. Kelompok pertama sampai ketiga sering disebut dengan kelompok santri. Masing-masing varian memiliki karakter, cara pandang dan praktek keagamaan yang berbeda- beda.

1. Kelompok NU Tradisional, adalah kelompok ber-Islam secara mewarisi dari pendahulunya, dan taklid kuat kepada Ulama. Oleh karenanya perilaku ulama selalu menjadi referensinya. Begitu pula kelompok ini beragama secara turun-temurun dari orang tua. Biasanya mereka tidak mendapatkan pendidikan agama maupun pendidikan formalnya yang memadai, misalnya madrasah atau pondok pesantren.

Mereka banyak melakukan upacara-upacara tradisi lokal yang ada di lingkungan sosial. Para ahli menyebutnya mereka adalah kelompok Islam yang statis. Namun secara realitas mereka bukan kelompok yang statis, tetap ada perubahan-perubahan yang dialami karena pengaruh dari interaksi sosial. Pandangan mereka tentang tradisi lokal adalah penting, karena leluhur juga melakukannya. Tidak pernah memikirkan tentang bid’ah, mereka pikirkan bahwa selametan memiliki nilai kebaikan, baik untuk dirinya sendiri, maupun untuk masyarakat umumnya.

2. Kelompok NU Modernis, pada umumnya kelompok ini berasal dari keluarga NU.

Tetapi mereka telah mendapatkan pendidikan yang memadai, misalnya madrasah maupun pesantren. Pola pikir mereka labih rasional dan modern dibanding kelompok tradisional. Mereka memandang tradisi lokal dilihat dari kepentingan agama, tidak penting. Tetapi mereka bisa mengakomodasi keberadaan tradisi lokal, untuk kepentigan dakwah Islamiyyah. Upacara tradisi lokal yang terpengaruh oleh

bid’ah oleh masyarakat lainnya diupayakan untuk diberi warna Islam. Dalam kehidupan pribadi, kelompok ini tidak mempraktekkan tradisi lokal, tetapi dalam kehidupan sosial mereka menghargai orang lain yang mempraktekkan. Mereka tetap menghadiri undangan orang lain yang sedang melakukan selametan atau upacara lainnya, sebagai bentuk solidaritas sosial.

3. Kelompok Muhammadiyah, kelompok ini menempati posisi minoritas di masyarakat.

Meski demikian mereka memiliki status ekonomi yang mapan di masyarakat.

Mereka lebih banyak sebagai wiraswasta dan PNS. Kelompok ini memiliki pandangan keagamaan sebagai Islam murni, dan cara berpikir yang lebih rasional.

Dibanding dengan kelompok NU, kelompok Muhammadiyah lebih tekstualis.

Mereka sama sekali tidak pernah melakukan tradisi lokal, karena diyakini sebagai praktek bid’ah, setiap bid’ah adalah syirik. Untuk praktek lokal ini, kelompok Muhammadiyah memiliki karakter yang menonjol. Karena mereka sama sekali tidak pernah mau terlibat dalam praktek tradisi lokal, baik secara aktif maupun pasif. Jika diundang oleh kelompok lain untuk menghadiri acara selametan, bisa dipastikan mereka tidak pernah hadir. Keyakinan inilah yang mempengaruhi kelompok Muhammadiyah kurang begitu akrab dengan dengan kelompok lainnya. Karakter ini diperkuat karakter lainnya dengan membangun komunitas dan masjid yang khusus untuk jamaah Muhammadiyah. Oleh masyarakat lainnya kelompok ini dikenal sebagai kelompok eksklusif.

4. Kelompok Abangan, adalah kelompok mayoritas di masyarakat. Kelompok ini diakui sebagai pelaku tradisi lokal yang aktif. Meskipun mayoritas pemeluk Islam, tetapi praktek keberagamaannya adalah abangan, yakni lebih banyak melakukan sinkretisme. Kelompok ini menurut Suwardi Indraswara disebut sebagai kelompok

kejawen, yang berpusat pada budaya mistik 238. Salah satu karakter kelompok mistik adalah suka pada mitos. Oleh sebab itu cara berpikir mithis lebih banyak mendominasi kelompok abangan. Mereka lebih percaya kepada dongeng-dongeng sakral. Sistem berpikir semacam ini diwariskan secara turun-temurun. Mereka akrab dengan tradisi lokal dengan selametan sebagai ritualnya.

Kelompok abangan sebagai kelompok pewaris tradisi masyarakat, menjadi penting keberadaannya. Setiap upacara tradisi diselenggarakan, kelompok ini menjadi penggerak yang penting. Lingkungan alam Prigi menjadi pengaruh penting atas model pemikiran kelompok abangan ini. Kepercayaan kepada yang gaib, roh halus, makhluk halus dan tradisi nenek- moyang menjadi warna kehidupan batin masyarakat.

Dalam hubungan sosial antar kelompok tersebut, mereka tidak memiliki masalah yang berarti. Karena sebagai masyarakat pedesaan, nilai-nilai kebersamaan dan kontrol sosial masih kuat. Toleransi atas perbedaan praktek agama tidak menjadi masalah berarti. Kerja - sama antar kelompok masih dapat disaksikan dalam interaksi sosial. Seperti kebersamaan dalam pelaksanaan pembangunan, seperti membangun jalan, membangun poskamling, dan memelihara kebersihan dan menjaga lingkungan.

Namun dalam praktek keberagamaan mereka memiliki karakteristiknya masing-masing. Perbedaan ini muncul dan dirasakan ketika ada perbedaan penentuan awal bulan puasa atau hari raya. Sering kali perbedaan ini menjadi masalah yang mengganggu di masyarakat. Meskipun sebenarnya itu kejadian yang tidak dikehendaki oleh mereka. Organisasi keagamaan yang sentralistik ini tidak menguntungkan bagi masyarakat di daerah. Perbedaan sering terjadi antara kelompok Muhammadiyah dengan yang NU. Kelompok NU, baik modernis maupun tradisional dapat bekerja sama dengan

238 Suwardi Indraswara, Mistik Kejawen, 8.

kelompok abangan. Oleh karena kelompok ini dapat mengakomodir tradisi yang berlaku pada masyarakat abangan. Kelompok abangan dalam menentukan awal puasa atau hari raya mengikuti ketentuan kelompok NU.

Simbol-simbol yang dapat dijadikan dasar untuk menentukan penggolongan sosio- kultural antara lain.

1. Kelompok NU Tradisional, memiliki simbol agama:

a. Masjid

 Setiap selesai kumandang azan pada shalat wajib, selalu dinyanyikan syair dan pujian.

 Pada waktu shalat, speaker selalu dikeraskan.

 Sebelum memasuki azan dan shalat shubuh selalu dikumandangkan tarhim melalui speaker .

 Setelah jamaah shalat wajib, jama’ah selalu mengadakan dzikir dan doa bersama.

 Sering dijadikan tempat untuk melakukan ritual selametan.

b. Kebudayaan

 Sering melakukan ritual selametan, baik di rumah maupun di luar rumah.

 Terlibat secara aktif dengan tradisi-tradisi lokal.

 Sering melakukan ziarah kubur.

 Sering melakukan kegiatan keagamaan seperti tahlilan, yasinan, khataman, istighasah atau diba’an.

2. Kelompok NU Modernis memiliki simbol antara lain:

a. Masjid

 Dikumandang azan pada shalat wajib dan jama’ah bersama

 Pada waktu shalat, tidak menggunanakan speaker

 Setelah jamaah shalat wajib, mengadakan dzikir dan do’a bersama

 Kegiatan pengajian dan kajian agama bersama

 Sekali-kali melakukan acara kalenderikal : tahun baru hijriyah, mauludan b. Kebudayaan

 Tidak melakukan ritual selametan di rumah maupun di luar rumah

 Terlibat secara pasif dengan tradisi lokal, untuk menghormati orang lain.

 Kadang melakukan ziarah kubur keluarga

 Terlibat secara pasif kegiatan keagamaan seperti tahlilan dan yasinan 3. Kelompok Muhammadiyah, kelompok ini memiliki simbol antara lain :

a. Masjid

 Memiliki masjid khusus yang sekaligus sebagai identitas diri kelompok.

 Setiap waktu shalat wajib selalu dikumandangkan azan, tetapi tidak dikuti oleh nyanyian syair dan pujian.

 Tidak dikumandangkan tahrim diwaktu sebelum shubuh.

 Setelah jamah shalat wajib, mereka melakukan doa sendiri-sendiri.

 Masjid tidak pernah dijadikan tempat untuk melakukan ritual selametan.

b. Kebudayaan

 Tidak pernah melakukan ritual selametan, baik di rumah maupun di luar rumah.

 Tidak terlibat secara aktif maupun pasif dengan tradisi-tradisi lokal.

 Tidak melakukan ziarah kubur.

 Tidak pernah melakukan kegiatan keagamaan seperti tahlilan, yasinan, khataman, istighasah atau diba’an.

4. Kelompok Abangan, kelompok ini memiliki simbol : a. Masjid

 Tidak memiliki masjid secara khusus, karena mereka tidak aktif melakukan shalat wajib.

 Mereka mendatangi masjid sekali setahun pada hari raya, dan menggabungkan diri dengan masjid NU Tradisional.

b. Kebudayaan

 Sering melakukan ritual selametan, baik di rumah maupun di luar rumah.

 Terlibat secara aktif dengan tradisi-tradisi lokal.

 Sering melakukan ziarah kubur.

 Tidak terlibat aktif maupun pasif dengan kegiatan keagamaan seperti tahlilan, yasinan, khataman, istighasah atau diba’an.

 Biasanya menyimpan dan memiliki banyak benda magis, seperti pusaka, batu aji, jimat dan lain sebagainya.

Dengan mengenal simbol tersebut di atas, dengan mudah dikenali identitas mereka dari kelompok mana. Sebagai kelompok minoritas, Muhammadiyah lebih banyak menjadi perhatian kelompok lain. Karena tidak banyak melakukan interaksi dengan kelompok lain dalam medan budaya yang sama. Seperti kelompok NU tradisional dengan abangan, mereka sering bertemu pada medan budaya yang sama.

Seperti pada acara ritual selametan, dua kelompok ini sering bertemu. Mereka dipertemukan pada karakter keberagamaan yang hampir mirip. Ketika ritual di gunung

atau di laut mereka bisa bertemu. Sementara kelompok NU modernis dan tradisional, mereka bisa bertemu dalam medan budaya masjid atau ritual selametan. Sementara NU modernis dengan Muhammadiyah mereka memiliki karakter keberagamaan yang mirip.

Medan budaya masjid dapat mempertemukan mereka. Dengan tradisi intelektualnya, kedua kelompok ini dapat bekerja sama. Untuk kelompok Abangan dan Muhammadiyah, mereka tidak memiliki modal kultural untuk melakukan persinggungan dalam medan budaya. Karena kesenjangan cara pandang dan pola pikir keagamaan mereka berbeda jauh. Oleh sebab itu kelompok Abangan lebih dekat dengan kelompok NU tradisional dari pada dengan kelompok Muhammadiyah.

Sekali lagi kondisi di atas hanya berdasarkan basic sosio-kultural semata. Di bidang lain khususnya Muhamadiyah bisa bekerja sama dengan kelompok Abangan.

Misalnya sebagai pemilik kapal, orang Muhammadiyah tetap membutuhkan kelompok Abangan, baik nelayan maupun pedagang. Begitu pula dengan kelompok pemilik kapal dari Abangan masih membutuhkan kerja sama dengan pedagang dari orang Muhammadiyah. Kepentingan agama dapat dipisahkan dengan kepentingan ekonomi.

Keyakinan agama tidak sampai mengganggu hubungan ekonomi, dan ini selalu dipedomani oleh masyarakat.

BAB IV

MITOS, TRADISI, ETIKA SOSIAL DAN RELIGI DALAM PENGGOLONGAN SOSIO – KULTURAL