• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah

BAB I PENDAHULUAN

B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah dipaparkan oleh penulis dapat ditemukan beberapa masalah, diantaranya:

a. Pentingnya ASI dan peran ayah dalam pemahaman mengenai ASI dan proses menyusui.

b. Pemerintah kurang memperhatikan ibu bekerja yang menyusui agar mengeluarkan regulasi memberi kesempatan cuti selama 6 bulan.

c. Pandangan hukum Islam terhadap batas-batas dan akibat hukum dalam penetapan radha’ah.

d. Banyak para orang tua para ibu yang tidak mementingkan radha’ah (menyusui)

e. Ibu-ibu yang jarang menyusui lantaran faktor kesibukan.

f. Penafsiran Wahbah Az-Zuhaili mengenai radhâ’ah.

Melihat identifikasi masalah di atas, permasalahan yang akan diteliti terbatas pada permasalahan yaitu tentang radhâ’ah dalam al- Qur’an yang terfokus pada empat ayat radhâ’ah yang terdapat pada surat Al-Baqarah: 233, An-Nisa’: 23, Al-Qashash: 7, at-Thalaq: 6. Penulis tidak banyak dalam memaparkannya.

Berdasarkan pembatasan di atas terdapat rumusan permasalahan yang penulis teliti tentang bagaimana radhâ’ah di dalam al-Qur’an menurut penafsiran Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab tafsir al-Munîr?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui radhâ’ah dalam al-Qur’an menurut penafsiran Wahbah Az-Zuhaili.

D. Manfaat Penelitian 1. Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran tentang pentingnya support keluarga terutama seorang ayah/suami dan sikap ibu dalam memberi ASI pada ibu menyusui.

2. Praktis

a. Sebagai pengembangan khazanah pengetahuan keislaman dilingkungan institusi pendidikan tinggi Islam, khususnya di bidang tafsir al-Qur’an.

b. Untuk menambah wawasan al-Qur’an seputar masalah Air Susu Ibu dan radha’ah (menyusui).

c. Memberi informasi kepada masyarakat khususnya pada ibu menyusui dan keluarga

d. Bagi penulis untuk menambah wawasan tentang pentingnya seorang perempuan menyusui anaknya.

E. Tinjauan Pustaka

Ada beberapa penulis skripsi yang sudah membahas tentang topik ini, Maka dirasa sangat penting untuk menyertakan penelitian terdahulu yang setema guna mengetahui dan memperjelas perbedaan yang subtansial antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya diantaranya:

1. Skripsi yang disusun oleh Siti Khodijah dari Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta (IIQ) dengan mengangkat tema “Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Terhadap Bayi Menurut Islam (Suatu kajian al-Qur’an dan Sains Modern” dalam skripsi ini beliau lebih menekankan pada aspek ajaran Islam tentang pemberian ASI, serta kesesuaian ajaran tersebut dengan penemuan ilmu pengetahuan (Sains atau Modern). Dimana menurut ajaran Islam perlu menjadi bahan pemikiran yang utama bagi para orang tua, baik hak atas kebutuhan pangan dan sandangnya maupun pengisian moral agamanya, karena pengajaran, pendidikan penjagaan dan pemeliharaan orang tua akan membentuk pribadi anak sesuai dengan fitrah dasarnya. Orang tua harus menjadi figur ideal

dihadapan anak-anak yang dilahirkannya. Sehingga kelak setelah dewasa anak akan mampu menghargai orang tuanya.11

2. Skripsi yang disusun oleh Ida Universitas Indonesia pada tahun 2012 dengan mengangkat tema yang berjudul “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif 6 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kemiri Kota Depok Tahun 2011” skripsi hasilnya hanya membahas tentang rendahnya pemberian ASI dikota yang dia teliti tersebut.

Pada kesimpulannya hasil tulisan ini penulis mengatakan bahwasanya masih rendahnya persentase pemberian ASI eksklusif 6 bulan diwilayah Kerja Puskesmas Kemiri Muka Kota Depok yaitu hanya 25,6%.12

3. Skripsi yang disusun oleh Restu Anandya Palupi dari Universitas Airlangga Surabaya pada tahun 2014 dengan mengangkat tema

Perilaku Pemberian ASI oleh Ibu dengan Usia di Bawah 20 Tahun di Kelurahan Sidotopo Surabaya”. Dalam skripsi ini membahas tentang bagaimana latar belakang perilaku pemberian ASI oleh ibu dengan usia di bawah 20 tahun sesuai dengan teori Snehendu B. Kar di kelurahan Sidotopo Surabaya.

Pada kesimpulan disini penulis memaparkan akses informasi (accessibility of information) subyek penelitian juga tergolong rendah dan terlambat. Sebagian besar subyek mengaku tidak pernah mengetahui ASI maupun ASI eksklusif sejak masa kehamilan, hanya

11Siti Khodijah, Skripsi: “Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Terhadap Bayi Menurut Islam (Suatu Kajian Al-Qur’an dan Sains Modern”, (Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta, 2003)

12 Ida, Skripsi: “Faktor-Faktor yang Berhungan dengan Pemberian ASI Eksklusif 6 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kemiri Muka Kota Depok Tahun 2011, (Universitas Indonesia, 2012)

beberapa subyek yang mengaku mendapatkan informasi mengenai ASI pasca persalinan saja.13

4. Selanjutnya skripsi yang dibuat oleh Lukman Hakim dari UIN Sunan Kalijaga yang mengambil tema “Pemberian ASI dalam Persepektif Hadis”. Skripsi ini berisikan tentang pemaknaan hadis-hadis yang berkaitan dengan pemberian ASI, sedangkan penelitian yang akan penulis teliti ini lebih fokus kepada pemaknaan teks-teks al-Qur’an yang berhubungan dengan ayat-ayat ASI.14

F. Metode Penelitian

Dalam sebuah penulisan membutuhkan sebuah metode tertentu.

Tanpa metode suatu penulisan akan sulit untuk dilakukan. Adapun metode ini berfungsi untuk mengarahkan sebuah penulisan dengan mengkaji secara rasional, sistematis dan terarah demi mendapatkan hasil yang optimal. Kemudian langkah-langkah metode dalam penelitian sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang berbasis pada data-data kepustakaan. Penelitian ini merujuk pada sumber-sumber tertulis beberapa literatur, buku, makalah, artikel dan karangan lainnya. Sedangkan ditinjau dari aspek pendekatan, mayoritas yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa

13 Restu Anandya Palupi, Skripsi: “Perilaku Pemberian ASI Oleh Ibu dengan Usia di Bawah 20 Tahun di Kelurahan Sidotopo Surabaya”, (Surabaya, Universitas Airlangga, 2014)

14 Lukman Hakim, Skripsi: “Pemberian ASI dalam Persepektif Hadis”, (UIN Sunan Kalijaga, 2018)

kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.15

a. Sumber Data

Subyek sumber data diantaranya;

1) Sumber Data Primer

Adapun sumber yang penulis gunakan sebagai sumber data primer adalah al-Qur’an dan tafsir al-Munîr karya Wahbah Az-Zuhaili yang membicarakan tentang penyusuan.

2) Sumber Data Sekunder

Yaitu buku-buku dan sumber lain yang ada kaitannya dengan topic utama pembahasan. Dalam hal ini, yang menjadi rujukan sekunder adalah kitab-kitab tafsir yang menjelaskan ayat-ayat yang berkaitan dengan radhâ’ah dan air susu ibu (ASI) dan buku-buku medis yang yang menjelaskan tentang gizi.16

2. Metode Pengumpulan Data

Sebagai layaknya study literatur yang mengumpulkan data melalui kepustakaan (library), maka secara sederhana upaya pengumpulan data penelitian didapat dari penelitian buku dan karya intelektual ilmuan atau ulama yang bisa dijadikan literatur, yang dipandang relevan untuk penelitian ini, yaitu mencatat bagian-bagian tertentu yang dianggap penting dari bahan pustaka tersebut.

15 Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian, (Yogyakarta: TERAS, 2009), h.

100

16 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta:Rienika Cipta, 2006), cet. 13, h. 129

Kemudian penulis melakukan pencatatan diatas lembaran yang sudah penulis sediakan, agar mempermudahkan pemanfaatan data yang terkumpul untuk dianalisa. Kemudian penulis mengklasifikasi lembaran hasil Study pustaka itu sesuai dengan sistematika pembahasan yang ada.

3. Teknik Analisis Data

Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis konten.

Analisis konten yang dimaksud dalam penelitian ini adalah menganalisis isi makna kandungan surat Al-Baqarah: 233, an-Nisa’:

23, al-Qashash: 7, at-Thalaq: 6, kajian analisis fokus terhadap ayat- ayat tersebut, mencari dan menggunakan ayat-ayat al-Qur’an lainnya yang berkenaan dengan kajian ayat yang sedang diteliti, serta memberikan penjelasan terhadap data sesuai dengan penafsiran yang telah ditemukan oleh para mufasir yang sudah ada dan pada masing- masing kitab tafsir yang digunakan dalam penelitian ini. Lalu penulis mengambil kesimpulan dan menarik implikasi. Kegiatan menganalisis ini dengan tujuan untuk menemukan bagaimana hukum radhâ’ah yang terkandung dalam surat dan ayat-ayat di atas adalah menjadi sarana penelitian.

G. Teknik dan Sistematika Penulisan

Teknik penulisan merujuk pada pedoman yang diberlakukan di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) JakartaTahun 2017. Sedangkan sistematika penulisan bertujuan untuk menjelaskan bagian-bagian yang akan ditulis dan akan dibahas dari penelitian ini secara sistematis.

Penelitian ini akan dibagi menjadi lima Bab. Dengan asumsi dasar yang masing-masing memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Adapun sistematika pembahasan ini sebagai berikut:

Bab pertama, sebagaiamana lazimnya dimulai dengan pendahuluan yang merupakan satu pengantar kepada masalah yang memuat: latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, manfaat penelitian, metode penelitian, serta Teknik dan sistematika pembahasan.

Bab kedua, memuat pengertian umum tentang radhâ’ah (menyusui) dan ASI (air susu ibu).

Bab ketiga, tinjauan umum tentang biografi Wahbah az-Zuhaili dalam tafsir al-Munîr.

Bab keempat, memuat analisis penafsiran Wahbah az-Zuhaili dalam tafsitr al-Munîr tentang ayat-ayat radhâ’ah yang terdapat di empat ayat.

Bab kelima, penutup yang berisi ringkasan dari seluruh isi skripsi ini, yang meliputi kesimpulan dan saran.

16 BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG RADHÂ’AH (MENYUSUI) DAN ASI A. Landasan Teori

1. Pengertian Radhâ’ah (Menyusui)

Radhâ’ah (bahasa arab: ةعاضر ) adalah bentuk masdar dari lafadz اعاضر -عضري -عضر yang artinya susuan. Juga berakar dari

عضر - ةعاضرو -

اعاضرو yang berarti menyusui atau menetek.

Sedangkan ةعاضرلا berarti penyusuan.1 ةعاضر adalah sampainya (masuknya) air susu manusia (perempuan) selain ibu kandung kedalam perut seorang anak (bayi) yang belum berusia dua tahun, atau 24 bulan.2 Menyusui menurut Bahasa adalah mengisap susu dari puting susu baik itu dari binatang maupun dari manusia. Menurut syariat adalah mengisap susu dari puting susu atau meminumnya dan semacamnya.3

Semua peraturan dalam islam ialah baik, akan mendapatkan kebaikan pula jika menuruti aturan islam. Sekalian hukum yang terdapat dalam islam dibua toleh Allah SWT. juga dalam hal ini air susu ibu (ASI) yang menjadi makanan utama bagi bayi. Anjuran penyusuan hingga batas waktu tertentu telah diterangkan dalam ayat al-Qur’an. Bagaimana ayat al-Qur’an telah membahas masa penyusuan untuk bayi yang dilahirkan dan pandangan ulama’ atas ayat yang berkaitan dengan penyusuan anak.

1Abdurrahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ‘Ala al-Mazahib al-Arba’ah, Juz v (Beirut:

Dar al-Fikr), h. 219

2Abdul Halim, Donor ASI dalam Persepektif Hukum Islam, Institut Keislaman Abdullah Faqih (INKAFA), Manyar Gresik, dalam Jurnal vol 12, no 12 2016, h. 6

3Syaikh Muhammad Al-Utsaimin, Shahih Fiqih Wanita Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, (Jakarta: Akbar Media, 2009), Cet.II, h. 402

Seorang ibu hendaknya tetap memelihara anaknya dan tetap menaruh perhatian. Pada ayat berikut ini, diterangkan serta hukum- hukum Allah SWT yang berhubungan dengan penyusuan anak dan cara yang harus ditempuh oleh kedua ibu bapak dalam pemeliharaan bayi mereka.4

Masa penyusuan tidak harus selalu 24 bulan karena QS. al- Ahqâh [46]: 15 menyatakan bahwa masa kehamilan dan penyusuan adalah tiga puluh bulan. Ini berarti, jika janin dikandungan selama Sembilan bulan, penyusuannya selama dua puluh satu bulan, sedangkan jika dikandung hanya enam bulan, ketika itu masa penyusuannya adalah 24 bulan.5

Tentang masa menyusui terdapat banyak pendapat. Wajib bagi kita untuk memperhatikan kesehatan ibu dan anak dan kondisi mereka. Suatu hal yang jelas bahwa dua tahun adalah masa terlama menyusui. Maka setelah anak berusia dua tahun, ia harus diberi makanan selain susu. Teori tentang masa menyusui telah berubah.

Para dokter menyarankan agar menyusui anak lamanya 9 bulan, dan terkadang 2 tahun. Tetapi keputusan terakhir tahun 1933 M. bahwa menyusui wajib lebih dari satu tahun dan dipandang baik kalua sampai dua tahun penuh.6

Ketahuilah bahwa pembatasan dua tahun, sifatnya bukan wajib. Karena setelah itu Allah menyebutkan, “Bagi yang mau menyempurnakan penyusuan”. Pada ayat ini, “penyempurnaan

4Muhammad Ali ash-Shabuni, Tafsir Ahkam ash-Shabuni, (Surabaya: Bina Ilmu, 2008), h. 248

5M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah,Jilid I (Jakarta: Lentera Hati, 2010), Cet. III, h. 610

6Syaikh Ali Ahmad Al-Jurjawi, Indahnya Syari’at Islam, (Jakarta: Pustaka Al- Kautsar, 2013), Cet. I, h. 287

menyusui” dikaitkan dengan “kemauan”, berarti penyempurnaan menyusui tidak wajib dua tahun. Alasan lain, setelah itu Allah berfirman:





















“Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya.(QS. Al-Baqarah[2]:233)

Sehingga jelaslah bahwa penyebutan 2 tahun sebagai masa penyusuan, maksudnya adalah menyusui itu tidak wajib dua tahun.

Tetapi tujuan utamanya adalah untuk memutuskan perselisihan antara dua orang suami istri tentang masa menyusui anaknya jika terjadi perselisihan. Bahwa Allah menetapkan dua tahun sehingga perselisihan keduanya berakhir dan bisa diatasi.7

Secara eksplisit Al-Qur’an telah mengatur tentang perempuan menyusui dengan ASI yang hendaknya dilakukan selama 2 tahun.

Hal ini sesuai dengan QS. Al-Baqarah ayat 233.

















































































7Syaikh Ali Ahmad Al-Jurjawi, Indahnya Syari’at Islam, h. 287-288

































...

“ Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut.

bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Baqarah[2]:233).

Ayat ini turun (asbabunnuzul) sebagai petunjuk atas beberapa peristiwa yang dianggap melecehkan posisi bayi pada zaman jahiliyah. Sehingga dibutuhkan penegasan (petunjuk) atas perilaku kasih sayang kepada seorang anak lewat penyusuan. Setiap ibu (meskipun janda) berkewajiban menyusui anaknya sampai anak itu mencapai usia dua tahun. Kalua dikurangi dari masa tersebut apabila kedua ibu bapak memandang ada permasalahannya.8

Kata al-wâlidât dalam penggunaan al-Qur’an berbeda dengan kata ummahât yang merupakan bentuk jamak dari kata umm. Kata ummahât digunakan untuk menunjuk para ibu kandung, sedangkan kata al-wâlidât maknanya adalah para ibu, baik ibu kandung maupun bukan. Ini berarti bahwa al-Qur’an sejak dini telah menggariskan bahwa air susu ibu, baik ibu kandung maupun bukan, adalah

8Muhammad Asad, The Message Of The Qur’an, (Gibraltar: Dar Andalus, 1980), h.

51

makanan terbaik buat bayi hingga usia dua tahun. Namun demikian, tentunya air susu ibu kandung lebih baik dari selainnya. Dengan menyusu pada ibu kandung, anak merasa lebih tentram, sebab menurut penelitian ilmuwan, ketika itu bayi mendengar suara detak jantung ibu yang telah dikenalnya secara khusus sejak dalam perut.

Detak jantung itu berbeda anatara ibu kandung dengan orang lain.9 2. Rukun dan Syarat Radhâ’ah

Rukun susuan ada tiga, yaitu ibu susuan, air susu, dan bayi yang menyusu. Inilah rukun susuan yang menjadikan mahram.

a. Ibu susuan.

Apabila seorang wanita menyusui seorang bayi maka bayi tersebut seperti anaknya secara hukum, dengan tiga syarat yaitu sebagai berikut:

Pertama, si bayi benar-benar menyusu pada wanita tersebut, air susu hewan ternak tidak berkaitan pada pengharaman anak. Jika ada dua bayi menyusu pada satu hewan ternak, maka keduanya tidak terjalin hubungan persaudaraan.

Kedua, wanita yang menyusui dinyatakan masih dalam keadaan hidup. Jika seorang bayi menyusu kepada wanita yang telah meninggal maka hukumnya tidak menimbulkan pengharaman, sebagaimana yang berlaku dalam hukum mashaharah akibat bersenggama dengan wanita yang telah meninggal. Namun air susu seorang wanita saat hidup dipompa,

9M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an vol. I (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 609

kemudian setelah meninggal susu tersebut diminumkan kepada bayi, menurut pendapat yang shahih bayi itu menjadi mahramnya.10

Ketiga, wanita tersebut masih bisa melahirkan akibat hubungan intima tau lainnya. Misalnya dia telah berusia Sembilan tahun keatas, karena kedua putingnya telah dapat mengeluarkan air susu. Jika ternyata air susu tersebut berasal dari wanita yang belum berusia Sembilan tahun. Ini tidak menjadikan mahram.

Jika dia telah berusia Sembilan tahun maka menjadikan mahram, meskipun belum dihukumi baligh, sebab asumsi baligh sudah ada, sementara susuan telah cukup hanya dengan sumsi, seperti halnya nasab.11 Para imam Madzhab sepakat bahwa laki-laki yang mempunyai payudara, lalu disusui oleh bayi, maka tidak menjadikan haram.12

b. Air Susu

Mengenai air susu yang diminum berasal dari seorang perempuan baik masih perawan maupun sudah berkeluarga atau janda terjadi perbedaan pendapat. Menurut Imamiyah bahwa air susu yang diberikan kepada anak susuan harus dihasilkan dari hubungan yang sah. Jadi, kalua air susu itu mengalir bukan disebabkan oleh pernikahan atau kehamilan zina, maka air susu tersebut tidak menyebutkan keharaman, sementara itu Imam Hanafi, Syafi’i dan Hambali berpendapat tidak ada perbedaan antara seorang gadis atau janda, sepanjang bisa mengalirkan air

10 Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Imam Syafi’I, (Jakarta: Almahira, 2012), h. 28

11Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Imam Syafi’I, (Jakarta: Almahira, 2012), h. 28

12Muhammad bin Abdurrahman, Fiqih Empat Madzhab, (Bandung: Hasyimi Press, 2013), h. 387

susu yang bisa diminum oleh anak yang disusuinya maka dapat menyebabkan keharaman.13

Air susu tersebut masuk melalui kerongkongan sampai keperut anak, baik dengan cara menghisap langsung dari putting payudara maupun dengan cara meminumkan dengan gelas, botol atau sejenis lainnya yang menyebabkan kemahraman.14

c. Bayi yang Menyusu

Penyusu tersebut disyaratkan bayi yang dinyatakan dalam keadaan hidup secara normal jika bayi yang sudah meninggal tidak berimplikasi hukum, si bayi disyaratkan belum berusia dua tahun atau 24 bulan. Jika si bayi telah berumur dua tahun susunya tidak menjadikan mahram.15

Allah SWT memberi kasih sayang kepada kita semua, dengan memperluas wilayah kekerabatan kita dengan memasukkan keluarga sepersusuan. Sebagian badan anak yang disusui terbentuk dari susu wanita yang menyusuinya, sehingga dia mewarisi sifat dan akhlak wanita tersebut seperti yang diwarisi oleh anak kandungnya sendiri.16

Dikhawatirkan lagi pada zaman ini ialah bank ASI, dimana anak yang disusui (dengan air susu ibu) itu kelak akan menjadi besar dengan izin Allah, dan akan menjadi seorang remaja di tengah-tengah masyarakat, yang suatu ketika hendak

13Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Madzhab, (Jakarta: PT Lentera Basritama, 2011), h. 340

14Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adilatuhu, Jilid 9 (Jakarta: Gema Insani Darul Fikr, 2011), h. 50

15Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Imam Syafi’i, h. 29

16Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Jilid 2 (Jakarta: Al-I’tishom, 2013), h. 250

menikah dengan salah seorang dari putri-putri dari bank susu itu.

Bahwa wanita tersebut adalah saudaranya sesusuan. Sementara itu dia tidak mengetahui siapa saja yang menyusu bersamanya dari air susu yang ditampungnya, dan tidak mengetahui siapa saja yang menyumbangkan ASI-nya kepada bank susu tersebut. Yang usdah tentu menjadi ibu susuan. Maka haram bagi ibu itu menikah dan haram pula ia menikah dengan putri-putrinya, baik putri itu sebagai anak kandung (nasab) maupun anak susuan.17

Mengenai penghalalan dan pengharaman bank ASI ada dua pendapat diantaranya: yang menghalalkan bank ASI yaitu:

Yusuf Al-Qaradhawi, Al-Ustadz Asy-Syeikh Ahmad Ash- Shirbasi ulama besar Al-Azhar Mesir, beliau menyatakan bahwa hubungan mahram yang diakibatkan karena penyusuan itu harus melibatkan saksi dua orang laki-laki. Atau satu orang laki-laki dan dua orang saksi wanita sebagai ganti dari satu saksi laki-laki.

Bila tidak ada saksi atas penyusuan tersebut, maka penyusuan itu tidak mengakibatkan hubungan kemahraman antara ibu yang menyusui dengan anak bayi tersebut.

Sedangkan yang mengharamkan diantaranya imam yang tiga, Abu Hanîfah, Maliki, dan Syafi’i, mereka memaknai menyusui yang berdampak pada hukum pengharaman adalah setiap yang masuk kedalam perut bayi melalui tenggorokan dan lainnya, seperti masuknya melalui hidungnya. Selain itu, diantara ulama kontemporer yang tidak membenarkan adanya bank ASI adalah Wahbah Az-Zuhaili dan juga majma’ fiqih Islami, beliau

17Yusuf Al-Qaradhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer 2, (Jakarta: Gema Insani, 1995), h. 784

menyatakan bahwa mewujudkan institusi bank susu tidak dibolehkan dari segi syari’ah.18

3. Jumlah Penyusuan yang Menjadikan Haram Dinikahi

Di dalam Al-Qur’an pernah disebut bahwa sepuluh kali penyusuan itu menjadikan haram menikah antara orang yang menyusui dengan anak yang disusui. Kemudian di nasakh dengan lima kali penyusuan. Yang berarti lima kali penyusuan menjadikan orang yang menyusui dan anak yang disusui haram menikah. Dan lima kali penyusuan itu tetap dibaca sebagai ketetapan Al-Qur’an ketika Rasulullah wafat. Bahwa naskh dengan lima kali penyusuan itu turunnya belakangan, sampai Rasulullah wafat dan sebagian orang membaca “lima kali penyusuan” dan menjadikannya sebagai bagian dari Al-Qur’an, karena mereka belum mengetahui adanya naskh tersebut. Setelah mereka mengetahui adanya naskh, maka mereka pun meninggalkannya dan sepakat bahwa hal tersebut tidak lagi dianggap sebagai ketetapan Al-Qur’an.19 Naskh disini ada tiga macam:

Petama, naskh terhadap hukumnya dan sekaligus bacaannya sebagai “sepuluh kali penyusuan” menjadi “lima kali penyusuan”, kedua, yang di naskh hanyalah bacaannya saja tidak pada hukumnya

“lima kali sebagai penyusuan”, seperti halnya dua orang yang sudah lanjut usia berzina, maka keduanya harus tetap dirajam, ketiga, yang di naskh hanya hukumnya saja dan bacaannya itu tetap berlaku.20

18Sudarto, Masailul Fiqhiyah Al-Haditsah, (Yogyakarta: CV. Budi Utama, 2018), Cet. I, h. 180

19M. Abdul Ghoffar, Fikih Wanita, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,2016), Cet. 11, h.

497

20 M. Abdul Ghoffar, Fikih Wanita, h. 497-498

Dokumen terkait