BAB III. METODE PENELITIAN
3.4 Prosedur Penelitian
3.4.2 Identifikasi Sampel
Identifikasi sampel tanaman Elephantopus mollis Kunth dilakukan di Herbarium ANDA, Jurusan Biologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Andalas Padang.
3.4.3 Karakteristik Simplisia (Pengamatan Mikroskopis)
Pengamatan mikroskopis penampang melintang (akar dan batang) dari Elephantopus mollis K. dibuat dengan membuat sayatan irisan tipis melintang.
Irisan tersebut diletakkan di atas kaca objek, ditambahkan beberapa tetes air kemudian ditutup dengan kaca penutup. Preparat diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 40x. Pada daun dilakukan dengan mengambil penampang melintang daun dari Elephantopus mollis Kunth lalu direndam sebentar dengan alkohol 70 % dan ditambahkan beberapa tetes air. Setelah itu ditutup dengan kaca penutup. Preparat diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 40x.
30 3.4.4 Pembuatan Ekstrak Etanol secara Maserasi
Sebanyak 200 gram simplisia dari setiap bagian tanaman (akar, batang, dan daun) Elephantopus mollis Kunth dimaserasi dengan 2000 mL pelarut etanol 96%. Simplisia yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam botol maserasi atau bejana bewarna gelap yang berbeda , masukkan pelarut etanol sampai simplisia terendam. Biarkan selama 3 x 24 jam, dengan beberapa kali dilakukan pengadukan. Setelah itu larutan hasil maserasi disaring dengan menggunakan kertas saring untuk memisahkan filtrat dan ampasnya. Ampas hasil pemisahan dikeringkan dan maserasi kembali dengan pelarut yang sama (baru) sebanyak 2000 mL selama 3 x 24 jam dengan beberapa kali dilakukan pengadukan, sampai dua kali pengulangan sehingga didapatkan larutan jenih.
Filtrat hasil pemisahan digabungkan kemudian di uapkan dengan rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental dari (akar, batang, dan daun) Elephantopus mollis K. (BPOM RI, 2004). Ekstrak tersebut kemudian ditimbang dengan melakukan perhitungan rendemen dan disimpan.
3.4.5 Penentuan Rendemen Ekstrak
Ekstrak murni yang diperoleh ditimbang beratnya untuk mengetahui rendemen ekstrak tersebut. Rendemen ekstrak dihitung dengan cara membandingkan berat ekstrak dengan berat sampel kering.
Rendemen ekstrak dapat digunakan sebagai parameter standar mutu ekstrak pada tiap bets produksi maupun parameter ekstraksi. Penentuan dapat dilakukan dengan rumus:
Rendemen (%) = Berat Ekstrak
Bobot sampel kering ๐ฅ 100%
31 3.4.6 Pengujian Aktivitas Antioksidan Sebagai Penangkal Radikal Bebas Menggunakan Metode DPPH dengan Spektrofotometer UV-Vis (Sihombing dan Kuncahyono, 2007)
a. Pembuatan Larutan DPPH 35 ยตg/mL (Molyneux, 2004)
Timbang 10 mg (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) DPPH masukkan dalam labu ukur 100 mL, lalu tambahkan metanol sampai tanda batas. Kemudian pipet 17,5 mL larutan DPPH masukkan dalam labu ukur 50 mL, lalu tambahkan metanol sampai tanda batas sehingga diperoleh larutan konsentrasi 35 ยตg/mL.
b. Penetapan Panjang Gelombang (ฮป) Serapan Maksimum DPPH (Mosquera dkk, 2007)
Dipipet sebanyak 4 mL larutan DPPH 35 ยตg/mL yang baru dibuat, masukkan ke dalam vial gelap dan tambahkan dengan 2 mL campuran metanol dan aquadest (1:1), tutup vial lalu dibiarkan selama 30 menit ditempat yang gelap, selanjutnya diukur serapannya pada panjang gelombang 516 nm menggunakan spektrofotometri UV-Visibel.
c. Penyiapan Larutan Induk Asam Galat 500 ยตg/mL (Waterhouse, 1999) Sebanyak 12,5 mg asam galat masukkan ke dalam labu ukur 25 mL dilarutkan dengan 0,5 mL metanol kemuadian ditambahkan dengan aquadest sampai tanda batas sehingga diperoleh konsentrasi larutan 500 ยตg/mL.
d. Penetapan Aktivitas Antioksidan Pembanding Asam Galat (Pourmorad dkk, 2006)
Dibuat larutan pembanding asam galat dengan memipipet sebanyak 10 mL larutan induk asam galat (500 ยต g/mL). kemudian dilarutkan dalam campuran metanol dan aquadest (1:1) dalam labu ukur 100 mL sampai tanda batas, sehingga
32 diperoleh larutan asam galat dengan konsentrasi 50 ยตg/mL. Dari larutan ini masing-masing dipipet (0,3;0,4;0,5;0,6;0,7) mL lalu masukkan ke dalam labu ukur 10 mL, tambahkan campuran metanol dan aquadest (1:1) sampai tanda batas sehingga diperoleh konsentrasi 1,5 ppm, 2 ppm, 2,5 ppm, 3 ppm, dan 3,5 ppm.
Dipipet masing-masing larutan sebanyak 2 mL lalu masukkan ke dalam vial, tambahkan 4 mL larutan DPPH sebanyak 35ยตg/mL. Diamkan selama 30 menit ditempat gelap. Serapan larutan diukur dengan menggunakan alat Spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang serapan maksimum 516 nm.
e. Pembuatan Larutan Sampel dan Penetapan Aktivitas Antioksidan Sampel dari Elephantopus mollis Kunth (Mosquera dkk, 2007)
Ditimbang masing-masing ekstrak etanol (batang, daun, dan akar) Elephantopus mollis Kunth Sebanyak 25 mg dilarutkan dengan 0,5 mL metanol, kemudian ditambahkan metanol dalam labu ukur 25 mL sampai tanda batas, sehingga diperoleh larutan induk ekstrak 1000 ยตg/mL. Dari larutan sampel dipipet (0,2;0,4;0,6;0,8;1) mL. Kemudian tambahkan metanol : aquadest (1:1) dalam labu ukur 10 mL sampai tanda batas. Sehingga diperoleh sampel dengan konsentrasi 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm, 80 ppm, dan 100 ppm. Pipet masing-masing konsentrasi sebanyak 2 mL larutan sampel dengan pipet ukur dan masukkan ke dalam vial, kemudian tambahkan 4 mL DPPH 35ยตg/mL. Campuran di homogenkan dan dibiarkan selama 30 menit ditempat gelap. Serapan diukur pada panjang gelombang serapan maksimum 516 nm dengan menggunakan alat Spektrofotometer UV-Vis.
33 y = a + bx
3.4.7 Analisa Data
Besarnya persentase penghambatan serapan radikal DPPH dihitung sebagai presentase berkurangnya warna DPPH dengan menggunakan rumus perhitungan persentase inhibisi serapan DPPH (Zuhra dkk, 2008):
% Inhibisi = Abskontrol โ (Abs sampel + larutan DPPH 35ยตg/mL) x 100%
Abs Kontrol Keterangan:
Absorban Kontrol : Serapan larutan radikal DPPH 35ยตg/mL.
Absorban Sampel : Serapan larutan sampel ditambah larutan DPPH 35ยตg/mL.
Data diperoleh dari hasil pengukuran absorbansi terhadap Ekstrak Etanol Elephantopus mollis Kunth dan Asam Galat dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang serapan maksimum 400-800 nm.
3.4.8 Penentuan IC50
Penentuan IC50 merupakan besarnya konsentrasi larutan uji untuk meredam 50% aktivitas radikal bebas. Untuk mendapatkan nilai IC50 aktivitas antioksidan.
Maka terlebih dahulu dibuat kurva standar aktivitas yang dibentuk dari data nilai persentase inhibisi dari minimal 5 deret konsentrasti eksrak sebagai sumbu y dan konsentrasi ekstrak antioksidan sebagai sumbu x.
Dari hasil kurva standar diperoleh persamaan regresi linear. Nilai ๐ผ๐ถ50 dihitung dengan cara memasukkan nilai 50% kedalam persamaan kurva standar sebagai sumbu y kemudian dihitung nilai x sebagai konsentrasi ๐ผ๐ถ50.
34 Sehingga pada akhirnya diperoleh nilai konsentrasi hambat 50% (x = IC50).
Semakin kecil nilai IC50 menunjukkan semakin tinggi aktivitas antioksidannya.
(Molyneux, 2004).
35 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Setelah dilakukan penelitian aktivitas antioksidan dari ekstrak Elephantopus mollis Kunth. Maka didapatkan hasil sebagai berikut:
1. Hasil identifikasi tanaman menyatakan spesies Elephantopus mollis Kunth yang termasuk family Compositae dibuktikan dengan nomor identifikasi 480/K-ID/ ANDA/XII/2019 (Lampiran 2, Gambar 5).
2. Berdasarkan hasil pengamatan mikroskopis dalam mengamati karakteristik simplisia:
a. Pada akar diperoleh jaringan penyusun primer yaitu epidermis, endodermis, korteks, empulur, xylem dan floem (Lampiran 6, Gambar 8).
b. Pada batang juga diperoleh jaringan penyusun primer yaitu
epidermis, endodermis, korteks, empulur, xylem, floem dan hablur kecil kristal kalsium oksalat berbentuk druse (Lampiran 7, Gambar 9).
c. Pada daun diperoleh epidermis, trikoma, jaringan pengangkut, dan jaringan dasar (Lampiran 8, Gambar 10).
3. Persentase rendemen dari ekstrak Elephantopus mollis Kunth adalah (Lampiran 4, Tabel 3):
a. Akar = 6,0694%
b. Batang = 6,2828%
c. Daun = 10,1844%
36 4. Hasil penentuan panjang gelombang maksimum Larutan DPPH 35 ยตg/mL yang diukur dengan Spektrofotometer UV-Vis diperoleh serapan maksimum pada panjang gelombang 516 nm (Lampiran 15, Gambar 14). Pada penentuan aktivitas antioksidan diperoleh hasil perhitungan IC50 yaitu ekstrak Elephantopus mollis Kunth pada akar 78,38 ยตg/mL (Lampiran 21, Tabel 5), pada batang 81,96 ยตg/mL (Lampiran 22, Tabel 6), dan pada daun 79,38 ยตg/mL (Lampiran 23, Tabel 7). Sedangkan, larutan pembanding asam galat diperoleh IC50 nya sebesar 3,344 ยตg/mL (Lampiran 20, Tabel 4).
5. Kesetaraan aktivitas antioksidan masing-masing ekstrak dengan pembanding asam galat (Lampiran 26, Tabel 9).
a. 1 mg asam galat setara dengan 23,46 mg ekstrak akar Elephantopus mollis Kunth.
b. 1 mg asam galat setara dengan 24,53 mg ekstrak batang Elephantopus mollis Kunth.
c. 1 mg asam galat setara dengan 23,76 mg ekstrak daun Elephantopus mollis Kunth.
37 4.2 Pembahasan
Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah akar, batang, dan daun dari Elephantopus mollis Kunth (sampel segar) di Jln. Raya Air Dingin, Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, Sumatra Barat. Sebelum dilakukannya penelitian, sampel di identifikasi di Herbarium ANDA, Jurusan Biologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Andalas Padang yang menyatakan bahwa sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah Elephantopus mollis Kunth yang termasuk famili Compositae. Dengan nomor identifikasi 480/K-ID/
ANDA/XII/2019 (Lampiran 2, Gambar 5).
Sampel segar akar, batang dan daun dari E.mollis K. sebanyak 1 kg yang telah diambil secara terpisah perbagian-bagiannya. Kemudian sampel dicuci dengan air, ditiriskan, dan dikering anginkan selama kurang lebih 5 hari.
Pengeringan dilakukan dengan tujuan untuk mencegah reaksi enzimatis yang dapat menyebabkan terjadinya penguraian atau perusakan senyawa di dalam sampel akar, batang, dan daun tersebut. Selain itu proses pengeringan juga bertujuan agar simplisia menjadi awet dan tahan lama. Kemudian dihaluskan dengan blender tujuannya untuk mempermudah selama proses maserasi karena semakin kecil bagian tumbuhan maka akan semakin besar luas permukaannya sehingga memudahkan dalam proses penarikan zat aktifnya.
Pada pemeriksaan mikroskopis penampang melintang akar dari E.mollis K. menggunakan mikroskop ZEISS Primo Star HAL/LED binocular microscope dengan perbesaran 40x. Hasil yang diperoleh pada akar yaitu jaringan penyusun primer seperti epidermis, endodermis, korteks, empulur, xylem dan floem. Pada
38 batang juga diperoleh jaringan penyusun primer yang sama disertai dengan adanya hablur kecil kristal kalsium oksalat berbentuk druse.
Epidermis merupakan jaringan yang terdiri dari sederet lapisan sel yang terletak atau berada di paling luar dari tubuh tumbuhan. Fungsi epidermis yang paling utama adalah sebagai jaringan pelindung semua organ tumbuhan, mulai dari batang, daun, akar, atau buah dari segala kondisi dan pengaruh lingkungan luar. Sel-sel yang tersusun dengan deretan yang rapi pada jaringan epidermis memungkinkan organ bagian dalam tubuh tumbuhan terlindungi dari perubahan suhu udara, kelembaban, infeksi patogen secara langsung, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, jaringan epidermis umumnya memiliki ciri dengan tekstur yang lebih keras dibandingkan dengan jaringan lainnya. Dinding sel epidermis tipis sehingga dapat dilalui air.
Korteks/kulit pertama pada akar yang tersusun dari lapisan-lapisan sel yang berdinding tipis. Korteks memiliki ruang-ruang antar sel yang berfungsi untuk pertukaran gas/udara. Peran korteks adalah sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan.
Endodermis pada akar yang terbentuk dari selapis sel yang tebal. Fungsi endodermis adalah mengatur jalannya larutan yang diserap ke silinder pusat.
Kemudian ada stele (silinder pusat) yang terdiri dari perisikel (perikambium), xilem (pembuluh kayu), dan floem (pembuluh tapis). Perisikel adalah lapisan terluar dari stele yang berperan dalam pertumbuhan sekunder dan pertumbuhan akar ke samping. Di dalam perisikel terdapat xilem dan floem yang merupakan berkas pengangkut. Ada juga empulur yang hanya terdapat pada tumbuhan dikotil.
39 Bentuk morfologi dari kristal kalsium oksalat yang dihasilkan oleh tumbuhan dapat terdiri dari satu bentuk maupun bervariasi pada organ-organ tertentu dan distribusinya terdapat dijaringan tertentu, misalnya hypodermis.
Kristal Kalsium Oksalat termasuk bahan ergastik yang bersifat padat. Terbentuk sebagai hasil akhir metabolisme, ada juga yang terbentuk karena terjadinya pemadatan zat-zat cair makanan cadangan, sehingga berwujud butiran. Proses terjadinya melalui pengendapan hasil metabolisme. Endapan tersebut berupa asam oksalat yang bersifat racun bagi tumbuh-tumbuhan apabila garam oksalat yang jika terakumulasi terlalu banyak. Selain itu kristal tidak larut dalam asam cuka namun larut dalam asam kuat.
Pada penelitian ini didapatkan pada batang E.mollis K. adanya hablur kecil kristal kalsium oksalat berbentuk druse yang merupakan kristal yang berbentuk kelenjar atau globuse masses. Bentuk ini hanya terdapat pada sel-sel tertentu.
Bentuknya seringkali tidak beraturan, dapat serupa bintang, bulat, atau bentuk lainnya.
Penampang melintang daun dari E.mollis K. direndam sebentar dengan alkohol 70 % dengan tujuan melunturkan klorofil pada daun, agar tidak terlalu gelap dan dapat terlihat jelas (transparan) kemudian ditambahkan beberapa tetes air. Pada daun diperoleh jaringan epidermis, trikoma, jaringan pengangkut, dan jaringan dasar dilihat dengan mikroskop dengan perbesaran 40x.
Epidermis pada daun merupakan lapisan terluar dari daun bagian atas dan bawah. Epidermis daun terdiri dari satu lapis sel-sel epidermis yang tidak memiliki ruang antar sel. Epidermis daun berfungsi untuk melindungi bagian atas maupun bawah dari pada sel tersebut. Untuk mencegah penguapan air yang
40 berlebihan, umumnya dan memiliki lapisan lilin atau rambut-rambut halus.
Diantara sel-sel epidermis terdapat stomata (mulut daun) yang berfungsi sebagai pertukaran gas. Stomata umumnya terdapat pada bagian bawah daun tetapi letak stomata tumbuhan air terdapat di bagian atas daun.
Jaringan Dasar terdiri dari jaringan palisade dan jaringan spons. Jaringan tiang (palisade) adalah kumpulan sel-sel berbentuk silindris, tegak, tersusun rapat, dan mengandung kloroplas. Jaringan palisade terletak dibawah epidermis dan pada jaringan tiang ini terjadi fotosintesis. Jaringan bunga karang (spons) adalah jaringan yang berbentuk tidak teratur dan ada ruang antarsel. Jaringan yang tidak rapat ini berfungsi untuk menampung karbon dioksida untuk proses fotosintesis.
Berkas pembuluh angkut terdapat di dalam tulang-tulang daun. Sistem tulang daun merupakan lanjutan dari sistem jaringan pembuluh angkut batang atau cabang dan pembuluh angkut akar. Bagian tersebut merupakan cabang dari silinder pusat yang merupakan cabang dari silinder pusat batang.
Pada penelitian ini penampang melintang daun dari E.mollis K. yang terlihat yaitu epidermis, trikoma, jaringan pengangkut, dan jaringan dasar.
Sebanyak 200 gram simplisia dari setiap bagian tanaman (akar,batang, dan daun) E.mollis K. sebagai sampel penelitian dan akan diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan etanol 96 %. Metoda ekstraksi zat aktif yang digunakan adalah metoda maserasi, yaitu proses pengekstraksian atau penyarian simplisia dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokkan atau pengadukan pada temperature ruangan (suhu kamar). Keuntungan ekstraksi dengan cara maserasi adalah pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana,
41 lebih mudah, dan tidak memerlukan panas sehingga tidak merusak zat-zat yang tidak tahan panas.
Dalam proses ekstraksi dengan cara maserasi ini digunakan pelarut etanol 96% karena sampel yang digunakan adalah sampel kering tetapi masih mengandung sedikit air dimana sampel ini memiliki kandungan air yang rendah, sehingga memerlukan sedikit air untuk membasahinya dan juga dapat membuka pori-pori sampel. Pelarut etanol 96% digunakan dengan tujuan mengikat air dalam larutan, Penyarian ini di lakukan sampai diperoleh filtrat yang bening dengan cara yang sama. Gabungkan filtrat, lalu filtratnya diuapkan dengan rotary evaporator hingga didapatkan ekstrak kental.
Selain itu sifat dari pelarut etanol bersifat universal, dimana dapat dengan mudah melarutkan hampir semua zat, baik yang bersifat polar atau non polar.
Etanol juga bersifat tidak toksik sehingga aman digunakan. Etanol dapat mengendapkan protein serta mampu menghambat kerja enzim sehingga dapat terhindar dari proses hidrolisis dan oksidasi (Harborne,1987).
Menurut (Harborne,1987) ekstraksi efektif jaringan tumbuhan yaitu menggunakan pelarut yang sesuai 10 kali volume atau bobot sampel. Sehingga pada penelitian ini digunakan pelarut etanol 96% sebanyak 2000 ml untuk 200 gram masing-masing bagian sampel akar, batang, dan daun E.mollis K.
Pada Penelitian ini ekstrak kental yang diperoleh menggunakan alat Rotary Evaporator telah dilakukan di Laboratorium Terpadu (Fisika, Kimia, Biologi) LLDIKTI Wilayah X Padang. Dengan nomor surat 045/010/LB/2020. Hasil ekstrak kental simplisia dari setiap bagian tanaman (akar, batang, dan daun)
42 E.mollis K. diperoleh rendemen simplisia sebanyak 6,2828 % pada batang, 10,1844 % pada daun, 6,0694 % pada akar.
Dari data hasil rendemen tersebut diperoleh rendemen akar dan batang lebih sedikit dari pada daun. Hal ini disebabkan karena akar dan batang banyak mengandung selulosa yang merupakan suatu zat polimer dari sakarida (gula).
Selulosa bersifat sangat polar dan larut di dalam pelarut organik, sehingga metabolit sekunder yang bisa diekstraksi lebih sedikit dibandingkan daun.
Nilai rendemen juga berkaitan dengan banyaknya kandungan bioaktif yang terkandung pada setiap bagian tanaman tersebut berbeda-beda. Senyawa bioaktif merupakan senyawa yang terkandung dalam tubuh hewan maupun tumbuhan.
Senyawa ini memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan manusia, diantaranya dapat dijadikan sebagai sumber antioksidan, antibakteri, anti inflamasi, dan anti kanker. Prabowo dkk, (2014) menyatakan bahwa pada berbagai penelitian tentang senyawa bioaktif telah dilakukan untuk tujuan kesehatan manusia, mulai dari dijadikan suplemen sampai obat bagi manusia. Bintang dkk, (2007) menyatakan bahwa senyawa bioaktif ini ada yang dapat berfungsi sebagai antibakteri, antikanker, antiinflamasi dan antioksidan.
Setelah didapatkan hasil ekstrak kental dapat dilakukan uji aktivitas antioksidan menggunakan metoda Spektrofotomeri UV-Vis. Metoda ini memiliki sensitivitas yang tinggi, ketelitian yang bagus dan akurat, serta dapat digunakan pada zat atau senyawa dalam jumlah yang kecil.
Untuk metode pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH karena merupakan metode sederhana, mudah, peka, dan hanya memerlukan sedikit sampel dengan waktu yang relatif singkat (Okawa dkk, 2001).
43 Metode uji antioksidan menggunakan DPPH merupakan satu metode uji kuantitatif untuk mengetahui seberapa besar aktivitas akar, batang, dan daun E.mollis K. sebagai antioksidan. Metode ini menggunakan DPPH ini didasarkan pada penurunan absorbansi akibat perubahan warna larutan warna DPPH, dimana DPPH akan bereaksi dengan atom hidrogen dari senyawa peredam radikal bebas membentuk DPPH Hidrazin yang lebih stabil. Reagen DPPH yang bereaksi dengan antioksidan akan mengalami perubahan warna dari ungu ke warna kuning, intensitas warnanya tergantung kemampuan dari antioksidan (Molyneux, 2004). Pernyataan perubahan warna ini juga dijelaskan oleh Munifah dkk (2007), bahwa jika DPPH ditambahkan dengan senyawa antioksidan maka intensitas warna DPPH yang bermula keungu-unguan akan berkurang sesuai dengan konsentrasi dan kemampuan menghambat dari senyawa antioksidan yang ditambahkan.
Pada penelitian ini digunakan asam galat sebagai pembanding. Asam galat digunakan sebagai pembanding karena asam galat merupakan senyawa yang murah, murni dan mempunyai kestabilan tinggi, apabila disimpan pada waktu lebih kurang dua minggu didalam lemari pendingin dan tertutup (Waterhouse, 1999). Larutan pembanding asam galat yang digunakan sebagai pembanding memiliki IC50 sebesar 3,344 ยตg/mL tergolong sangat kuat dalam menghambat radikal bebas. Pembanding larutan asam galat ini digunakan dalam penelitian karena sudah diketahui berpotensi sebagai antioksidan.
Pengukuran aktivitas antioksidan asam galat dilakukan pada panjang gelombang 516 nm yang merupakan panjang gelombang maksimum DPPH 35 ยตg/mL dengan absorban 0,561. Nilai absorban ini digunakan sebagai nilai
44 absorban kontrol. Sebagai pembanding digunakan larutan pembanding asam galat dengan konsentrasi 1,5;2;2,5;3;3,5 ยตg/mL. Dari absorban yang diperoleh maka dapat dihitung % inhibisi asam galat sehingga dapat diperoleh persamaan regresi Y = -36,458 + 25,848x . Dari persamaan ini dapat dihitung nilai IC50 dari larutan pembanding asam galat diperoleh sebesar 3,344 ยตg/mL.
Pada penelitian ini, aktivitas antioksidan pada ekstrak akar E.mollis K.
dengan konsentrasi 20, 40, 60, 80, 100 ยตg/mL didapatkan persamaan regresi Y = 0,71 + 0,6288x diperoleh hasil perhitungan IC50 sebesar 78,38 ยต g/mL. Aktivitas antioksidan pada ekstrak batang dengan konsentrasi 20, 40, 60, 80, 100 ยตg/mL didapatkan persamaan regresi Y = -4,534 + 0,6653x diperoleh hasil perhitungan IC50 yaitu 81,96 ยตg/mL sedangkan pada ekstrak daun menggunakan konsentrasi 20, 40, 60, 80, 100 ยตg/mL didapatkan persamaan regresi Y = -0,694 + 0,6386x diperoleh hasil perhitungan IC50 sebesar 79,38 ยตg/mL.
Semakin besar konsentrasi senyawa antioksidan dalam sampel maka semakin besar aktifitas penangkapan radikal DPPH oleh sampel tersebut.
Besarnya aktivitas antioksidan ditandai dengan nilai dari IC50. IC50 yaitu larutan sampel yang dibutuhkan untuk menghambat 50% radikal bebas (Molyneux, 2004). Nilai IC50 yang lebih kecil menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan yang semakin tinggi.
Dari data hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan tertinggi diperoleh pada ekstrak akar yang menunjukkan bahwa akivitas antioksidan lebih kuat dibandingkan ekstrak daun dan ekstrak batang. Jika dibandingkan antara ekstrak daun dan ekstrak batang, akivitas antioksidan ekstrak daun lebih kuat dari pada ekstrak batang. Namun bila dibandingkan dengan asam
45 galat dengan IC50 3,344 ยตg/mL menunjukkan bahwa antioksidan sampel lebih rendah dari asam galat.
Hal ini didasarkan pada penggolongan aktivitas antioksidan sangat kuat jika nilai IC50 < 50 ppm, kuat dari 50-100 ppm, sedang dari 100-150 ppm, lemah 150-200 ppm, dan sangat lemah > 200 ppm (Molyneux, 2004).
Berdasarkan data diatas aktivitas antioksidan ekstrak akar, daun, dan batang E.mollis K. ketiganya tergolong kuat dengan nilai IC50 pada akar 78,38 ยตg/mL, pada daun 79,38 ยตg/mL, dan pada batang 81,96 ยตg/mL. Hal ini kemungkinan didukung oleh komponen kimia yang terdapat dalam tanaman ini.
Beberapa penelitian menunjukkan E.mollis K. mengandung berbagai senyawa aktif antioksidan seperti lupeol, lupeol asetat, 2-de-ethoxy-2-hydroxyphantomolin, epifriedelinol, molephantin, dan 2-de-ethoxy-2-methoxyphantomolin (But dkk, 1996). Daun kering E.mollis K. menghasilkan molephantin, molephantinin, 2- deethoxy-2-hydroxyphantomolin, stigmasterol, ester asam lemak ฮฑ-amyrin, dan ester asam lemak lupeol (Ragasa dkk, 2009).
Ooi dkk, (2011) dalam studi komparatifnya bahwa peran utama 3,4-di-O asam quinic-caffeoyl dapat diperoleh informasi bahwa isolat dari ekstrak metanol Elephantopus mollis K. merupakan senyawa aktif antioksidan dari kelompok senyawa fenolik. Senyawa ini juga menggunakan sitotoksisitas yang dimediasi apoptosis dan efek penghambatan ฮฑ-glukosidase dan juga merupakan agen non- toksik yang menjanjikan untuk mengobati kanker dan diabetes mellitus tipe 2.
Studi lainnya menghasilkan senyawa fenolik, yaitu asam caffeic, asam 3,5- dicaffeoylquinic, asam 1,4-dicaffeoylquinic, dan 3,4-dihydroxy-cinamic acid methyl ester sebagai konstituen utama (stuartxchange.org, 2018).
46 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa :
Pada ekstrak etanol dari beberapa bagian tanaman E. mollis K. yaitu akar, batang, dan daun positif memiliki kekuatan aktivitas antioksidan yang ketiga bagiannya tergolong kuat (50-100 ppm). IC50 Aktivitas antioksidan yang diperoleh dari ekstrak E. mollis K. pada akar 78,38 ยตg/mL, pada batang 81,96 ยตg/mL, dan pada daun 79,38 ยตg/mL, Sedangkan IC50 aktivitas antioksidan asam galat sebagai pembanding yaitu 3,344 ยตg/mL.
5.2 Saran
Disarankan untuk peneliti selanjutnya agar melakukan isolasi senyawa aktif antioksidan dari tumbuhan E.mollis K. sehingga dapat dimanfaatkan sebagai senyawa penanda kimia untuk standarisasi herba E.mollis K. serta diharapkan kepada masyarakat untuk dapat menggunakan tanaman tersebut karena memiliki aktivitas antioksidan pada akar, batang, dan daun tanaman E. mollis K.