• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identitas Informan

Dalam dokumen UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR (Halaman 49-54)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Identitas Informan

Identitas informan dalam penelitian ini merupakan salah satu hal yang penting dapat membantu kelancaran penelitian. Berikut ini merupakan pembahasan mengenai identitas informan yang meliputi umur, tingkat pendidikan, pengalaman berusahatani, dan jumlah tanggungan keluarga.

5.1.1. Umur

Kegiatan usahatani sangat membutuhkan apakah tergolong produtif dalam melakukan usaha petani. Umur petani akan mempengaruhi kecepatan dan cara kerja dalam melaksankan usahataninya. Petani muda relatif dengan tenaga yang kuat akan lebih cepat menerima inovasi yang dianjurkan. Semakin tua petani ada berpengaruh terhadap pendapatan. Hal ini sesuai dengan teori Soekartawi (2003) mengemukakan bahwa rata-rata petani Indonesia yang cenderung tua dan sangat berpengaruh pada produktivitas sektor pertanian Indonesia, petani berusia tua biasanya cenderung sangat konservatif/memelihara menyikapi perubahan terhadap inovasi teknologi. Adapun umur informan petani rumput laut di Desa Bontosunggu Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto dapat dilihat pada tabel berikut.

36 Tabel 4. Identitas Informan Petani Berdasarkan Umur di Desa Bontosunggu

Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto, tahun 2021

No. Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Presentase (%)

1. 30-35 2 40

2. 36-41 2 40

3. 42-46 0 0

4. 47-52 1 20

Jumlah 5 100

Sumber : Data Primer Setelah Diolah 2021

Berdasarkan tabel 4 menjelaskan bahwa dari jumlah informan sebanyak 5 orang, terdapat 2 orang (40 %) yang berumur antara 30-35 tahun, 2 orang 4(0%) yang berumur 36-41, 0 orang (0 %) yang berumur antara 42-46, dan informan yang berumur 47-52 sebanyak 1 orang (20%). Berdasarkan kelompok umur maka dapat dikatakan bahwa umur sebagian besar informan masih berada pada kisaran usia produktif.Menurut teori Yuri dan Nasri (2014). Komposisi penduduk suatu wilayah tidak lepas dari perhitungan angka beban tanggungan yaitu kelompok umur 1-14 tahun dianggap sebagai kelompok yang belum produktif, kelompok umur 15-65 tahun sebagai kelompok umur yang produktif dan kelompok umur 64 tahun ke atas sebagai kelompok yang tidak produktif.

5.1.2. Tingkat Pendidikan Informan

Tingkat pendidikan menunjukkan salah satu faktor penting, khususnya dalam menghadapi teknologi dan keterampilan dalam berusahatani tingkat pendidikan juga mempengaruhi pola pikir dalam mengambil keputusan, dimana petani dengan tingkat pendidikan yang relatif tinggi dapat meningkat bertindak lebih dinamis dalam pengolahan usahatani. Hal ini sesuai dengan teori (Hidayat, et.all, 2003). Tingkat pendidkan formal yang dimiliki petaniakan menunjukkan

37 tingkat pengetahuan serta wawasan yang luas bagi petani untuk menerapkan apa yang diperoleh agar meningkatkan ushataninya. Untuk lebih jelasnya tingkat pendidikan informan dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Tingkat Pendidikan Informan di Desa Bontosunggu Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto.

No. Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Presentase

1. SD Sederajat 1 20

2. SMP Sederajat 1 20

3. SMA Sederajat 3 60

Jumlah 5 100

Sumber : Data Primer Setelah Diolah. 2021.

Tabel 5. Dapat dijelaskan bahwa dari keseluruhan informan yang ada di Desa Bontosunggu Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto ada 1 orang (20%) yang berpendidikan SD, berpendidikan SMP 1 orang (20%), dan yang melanjutkan ke SMA sebanyak 3 orang (60%). Hal ini menggambarkan bahwa Desa Bontosunggu Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto tingkat pendidikan informan tergolong rendah.

Berdasarkan teori (Hidayat, et.all. 2003) menunjukkan pendidikan informan di Desa Bontosunggu pada tingkat sekolah dasar (SD) memiliki pengetahuan minim dimana petani cenderung mengikuti kebiasaan secara turun temurun yang akan berpengaruh dalam mengambil sebuah keputusan. Tingkat pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) memiliki wawasan tingkat pengetahuan yang lebih dibandingkan tingkat SD. Sementara itu tingkat pendidikan sekolah menengah atas (SMA) memiliki pengetahuan yang spesifik

38 dalam melakukan usahatani dengan mempertimbangkan pola pikir dalam pengambilan keputusan dan mampu mengadopsi inovasi teknologi yang ada.

5.1.3 Pengalaman Berusahatani

Pengalaman usahatani informan sangat penting dalam pengelolaan usahatani.

Pengalaman berhubungan dengan keterampilan dan penggunaan teknologi, yang didukung oleh usia petani yang produktif dan kemampuan untuk mengatasi masalah yang dihadapi dalam proses produksi dengan pengalaman yang lebih lama membuat petani memiliki kemampuan dalam melakukan kegiatan produksi dibandingkan dengan petani yang kurang berpengalaman. Karakteristik pengalaman usahatani dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 6. Pengalaman Berusahtani Petani di Desa Bontosunggu Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto.

No. Pengalaman Usahatani Jumlah Presentase (%)

1. 5-14 tahun 3 60

2. 14-25 tahun 2 40

Jumlah 5 100

Sumber : Data Primer Setelah Diolah 2021.

Berdasarkan tabel 6. Jumlah Informan sebanyak 5 orang dapat dilihat bahwa informan yang memiliki pengalaman usahtani antara 5-14 tahun berjumlah 3 orang sedangkan informan yang memiliki pengalaman usahatani 14-25 tahun berjumlah 2 orang. Ini menunjukan bahwa pengalaman berusahatani di Desa Bontosunggu Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto tergolong sudah mapan karna sudah berpengalaman. Petani yang mempunyai pengalaman berusahatani yang lama akan semakin berhati-hati untuk mengambil tindakan yang berkaitan dengan peningkatan produksinya demi kesejahteraan keluarga petani itu

39 sendiri.(Fadhla, 2017) tingkat pengalaman akan memberikan perubahan pada keterampilan kerja seorang petani ke arah yang lebih efektif karena makin tinggi pengalaman maka semakin efesien petani tersebut mengalokasikan biaya produksi dan penggunaan tenaga kerja yang lebih baik. Petani yang memiliki pengalaman kerja yang lebih lama akan lebih mudah mengantisispasi berbagai masalah yang akan di hadapi dalam mengelola usahataninya.

5.1.4 Jumlah Tanggungan Keluarga

Jumlah tanggungan keluarga merupakan semua orang yang berada dalam satu keluarga atau satu rumah yang menjadi tanggungan petani termasuk petani itu sendiri sebagai kepala keluarga. Kepala keluarga tersebut bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidupdan kesejahteraan keluarganya. (Mandang, 2020) Banyaknya jumlah tanggungan keluarga akan mendorong petani melakukan banyak aktivitas terutama dalam mancari dan menambah pendapatan keluarganya.

Adapun jumlah tanggungan keluarga petani rumput laut di Desa Bontosunggu sebagai berikut:

Tabel 7. Jumlah Tanggungan Keluarga Menurut Iforman Desa Bontosunggu Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto.

No. Jumlah Tanggungan keluarga

Jumlah (jiwa)

Presentase

1. 1-3 3 60

2. 4-5 2 40

Jumlah 5 100

Sumber : Data Primer Setelah Diolah 2021.

40 Tabel di atas menjelaskan bahwa, ada 3 orang (60%) dengan jumlah tanggungan keluarga 1-3 orang dan 2 orang (40%)dengan jumlah tanggungan keluarga 4-5 orang. Tabel diatas menjelaskan bahwa jumlahtanggungan keluarga terbanyak berada pada 2 orang dengan jumlah tanggungankeluarga 4-5 orang dalam satu keluarga. Petani yang memiliki anggota yangbanyak dan memiliki lahan sedikit tidak mampu mencukupi kehidupan keluargapetani tersebut. Untuk menyewa tenaga kerja dalam melakukan berusahatanipetani tidak mengeluarkan uang karena dibantu oleh anggota keluarga sehinggasedikit meringankan pengeluarannya.

5.2 Pengelolaan Rumput Laut di Desa Bontosunggu Kecamatan Tamalatea

Dalam dokumen UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR (Halaman 49-54)

Dokumen terkait