BAB III REGULASI KEWENANGAN KEJAKSAAN MELAKUKAN
B. IMPLEMENTASI KEWENANGAN KEJAKSAAN MELAKUKAN
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2021 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia salah satu isi pasalnya berhasil mendapatkan perhatian khusus bagi pemerhati korps Adhyaksa di Indonesia yakni terkait kewenangan Jaksa dalam melakukan penyadapan. Kewenangan menyadap yang lebih luas tidak terlepas dari fungsi Jaksa sebagai bagian dari penegakan hukum. Sehingga tidak mungkin fungsi ini bisa berjalan dengan
baik tanpa kewenangan tersebut. Perluasan penyadapan dalam tahapan proses peradilan pidana tidak hanya pada lingkup penyidikan saja melainkan juga di tahap penyelidikan, penuntutan, eksekusi, dan pencarian buron.93
Dibolehkannya penyadapan di lingkup kejaksaan memiliki dasar hukum yang kuat, hal tersebut sebagaimana telah diatur dalam Pasal 30C huruf i Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2021 tentang perubahan Undang- Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia yang berbunyi, “Selain melakukan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, Pasal 30A, dan Pasal 30B Kejaksaan: (i) melakukan penyadapan berdasarkan undang-undang khusus yang mengatur mengenai penyadapan dan menyelenggarakan pusat pemantauan di bidang tindak pidana.
Penyadapan yang dilakukan oleh Jaksa dapat dijadikan sebagai alat bukti pada proses pembuktian di pengadilan. Bukti dari dilakukannya penyadapan dapat berupa bukti elektronik. Alat bukti memegang peranan yang sangat penting didalam penegakan hukum karena dengan memiliki alat bukti akan dapat terungkapnya suatu perisitiwa. Pembuktian adalah
93 Johannes Mangihot, “Jaksa Pun Kini Menyadap, Jaksa Agung; Jangan Disalahgunakan, Ini Terkait Privasi”, https://www.kompas.tv/amp/article/239998/videos/jaksa-kini-boleh-menyada p-jaksa-agung-jangan-disalahgunakan-ini-terkait-privasi
ketentuan-ketentuan yang berisi tentang tata cara membuktikan kesalahan terhadap terdakwa dan juga merupakan ketentuan yang mengatur alat bukti yang dibenarkan oleh Undang-Undang.94
Penyadapan merupakan alternatif jitu dalam investigasi kriminal terhadap perkembangan modus kejahatan dalam hal ini penyadapan sebagai salah satu alat pendeteksi yang dianggap lebih efektif dalam mengungkap kasus-kasus tindak pidana. Penyadapan yang menggunakan sarana teknologi yang efektif untuk mengungkapkan kejahatan yang sistematik, seperti korupsi, narkotika, ataupun kejahatan lainnya. Pendek kata, cukup banyak pelaku kasus-kasus kejahatan berat dapat dibawa kemeja hijau berkat hasil penyadapan.95
Kewenangan Jaksa untuk melakukan penyadapan dahulu hanya sebatas berperan sebagai penyidik saja terhadap tindak pidana tertentu. Wajib hukumnya jika ingin menggunakan teknik penyadapan dalam mengungkap suatu kasus tindak pidana harus mendapatkan izin dari Ketua Pengadilan Negeri.96 Secara sederhana, Jaksa untuk melakukan penyadapan diperbolehkan, dengan syarat wajib mendapatkan legalitas izin dari Ketua
94 Nadia Febriani, Haryadi, dan Dessy Rakhmawati, “Penggunaan Saksi Mahkota (Kroongetuige) Dalam Pembuktian di Persidangan Terhadap Tindak Pidana Narkotika”, Pampas: Journal of Criminal, Vol. 1, No. 2, 2020, hlm. 44.
95 Syifa Fachrunisa, “Penyadapan Sebagai Bentuk Upaya Paksa Dalam Hukum Acara Pidanadi Indonesia”, Jurnal Studi Hukum Pidana, Vol. 1 No. 1, 2021, hlm. 45.
96 Ibid.
Pengadilan Negeri. Tanpa adanya legalitas izin tersebut, maka mustahil penyadapan dapat dilakukan untuk memberantas suatu tindak pidana.
Permasalahan diatas terjadi akibat adanya perluasan kewenangan jaksa dalam melakukan penyadapan berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2021 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia (Undang-Undang Kejaksaan Baru) adalah tidak diatur secara jelas, tidak lengkap untuk memenuhi peristiwa hukum sehingga menimbulkan kekaburan norma atau “vague norma” yang berakibat adanya ketidakpastian hukum dan norma tersebut kabur atau tidak jelas. Masalah kewenangan ini perlu diperjelas, mengingat kewenangan jaksa dalam melakukan penyadapan merupakan suatu hal yang kompleks, yang memerlukan aturan yang secara jelas dan tegas.97
Persoalan penyadapan merupakan ranah yang sangat sensitif karena rentan terjadi konflik antara kepentingan publik dan kepentingan privat.98 Maksudnya, penyadapan oleh Jaksa dapat dilakukan dengan adanya batasan-batasan hanya untuk mengetahui tindak pidana saja, bukan pada privasi seseorang tersebut yang disadap.99 Pedoman utama bahwa
97 Vani Kurnia Sandi, Sahuri Lasmadi, dan Elizabeth Siregar, “Tinjauan Yuridis Terhadap Tugas dan Kewenangan Jaksa Sebagai Penyidik dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi”, Pampas Journal Of Criminal, Vol. 1 No. 3, 2020, hlm. 3.
98 Putu Indah Savitri, “Pakar Perlu Pedoman Pelaksanaan Penyadapan Untuk UU Kejaksaan Baru”
99 Syifa Fachrunisa, Op. Cit., hlm. 46.
penyadapan dilaksanakan hanya dalam rangka kepentingan penegakan hukum semata. Diperlukan pengaturan penyadapan secara detail dan ketat agar tidak berpotensi terjadi yang lazim disebut dengan penyalahgunaan kewenangan atau abuse of power dengan menjustifikasi sebagai penegakan hukum. Dan juga pengaturan dalam Undang-Undang tersebut hanya mengatur kewenangan saja tidak mengatur tata cara dan mekanisme mengenai mekanisme penyadapan yang dilakukan oleh Jaksa.
Jaksa membawa kepentingan publik saat melakukan proses penegakan hukum. Akan tetapi, mereka dapat masuk ke ranah-ranah pribadi dan piranti-piranti komunikasi individu dengan kewenangan penyadapan.
Penyalahgunaan kewenangan terkait hal ini yang dapat melanggar hak asasi manusia. Harus ada komitmen bahwa hasil penyadapan itu memang seharusnya memiliki relevansi pada konteks penegakan hukum, jangan sampai membawa persoalan-persoalan individu yang tidak ada kaitannya dengan perkara.100
Jaksa dalam melakukan penyadapan, yang terpenting adalah pedoman utama proses penyadapan yang dapat benar-benar menjamin bahwa penyadapan dilakukan dalam rangka kepentingan penegakan hukum.
Jaminan bahwa penyadapan tidak memiliki tendensi lain, selain untuk
100 7Rofiq Hidayat, “Kewenangan Penyadapan Kejaksaan Harus Diatur Ketat dan Terukur”,
menegakkan hukum, dapat meminimalisir distorsi, penyimpangan atau pelanggaran hak asasi manusia. Selain itu juga, menekankan pentingnya tiga unsur yang harus diperhatikan oleh Kejaksaan ketika melakukan proses penegakan hukum, yakni substansi, prosedur, dan kewenangan. Jika jaksa memiliki niat baik, substansi baik, tetapi prosedurnya tidak baik, maka penegakan hukum akan menjadi tidak baik.101
Mekanisme melakukan penyadapanpun beragam, ada yang harus mendapatkan izin pengadilan dan ada pula yang tanpa izin artinya langsung melakukan penyadapan. Begitu pula dengan jangka waktu penyadapan tersebut berbeda-beda.
Saat ini belum ada Undang-Undang yang secara khusus mengatur mengenai penyadapan. Pengaturan penyadapan sudah terdapat dalam beberapa Undang-Undang, akan tetapi tidak mengatur penyadapan secara rinci. Beberapa Undang-Undang yang mengatur mengenai kewenangan aparat negara, mekanisme, dan tata cara untuk melakukan penyadapan, antara lain:
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi;102
101 Ibid.
102 Indonesia, Undang-Undang Telekomunikasi, Undang-Undang No. 36 Tahun 1999 LN. 1999/
No. 154, TLN No. 3881, Ps. 44 Ayat (1).
2. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;103
3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara;104 4. Undang-Undang No. 11 Tahun 2021 Perubahan Atas Undang-Undang
No. 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia;105
5. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 Perubahan kedua atas Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;106
6. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 Perubahan atas UndangUndang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme;107
103 Indonesia, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 LN.2008/NO.58, TLN No.4843, Ps. 31 Ayat (1).
104 Indonesia, Undang-Undang Intelijen Negara, Undang-Undang No. 17 Tahun 2011 LN.2011/No. 105, TLN No. 5249, Ps. 31 Ayat (1).
105 Indonesia, Undang-Undang Kejaksaan Republik Indonesia, Undang-Undang No. 11 Tahun 2021 perubahan atas Undang-Undang No.16 Tahun 2004, LN No. 67 Tahun 2004, TLN No.
4401, Ps 30c Huruf (i)
106 Indonesia, Undang-Undang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang No. 19 Tahun 2019 Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 LN.2019/NO.197, TLN NO.6409, Ps. 12 Ayat (1).
107 Indonesia, Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 LN.2018/NO.92, TLN NO.6216, Ps. 31 Ayat (1).
Terkhususnya mekanisme penyadapan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2021 tidak terlepas dari bidang Intelijen penegakan hukum sehingga Kejaksaan berwenang untuk melakukan penyadapan berdasarkan Undang-Undang khusus mengatur mengenai penyadapan dan menyelenggarakan pusat pemantauan di bidang tindak pidana. Penyadapan sendiri berarti adalah kegiatan mendengarkan, merekam, membelokkan, mengubah, menghambat, dan/atau mencatat transmisi informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik, baik menggunakan jaringan kabel komunikasi maupun jaringan nirkabel, seperti pancaran elektromagnetik atau radio frekuensi, termasuk memeriksa paket, pos, surat-menyurat, dan dokumen lain. Dapat disimpulkan bahwa mekanisme penyadapan hanya boleh dilakukan dalam ranah tertentu dan tidak dalam sektor yang tidak diatur dalam Undang-Undang.
C. Regulasi Kewenangan Kejaksaan Melakukan Penyadapan Dalam