• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Kajian Teori 1. Kepala Sekolah

2. Implementasi Pendidikan Karakter

a. Persamaan dan Perbedaan Karakter, Akhlak, dan Moral

Seorang filusuf Yunani Heraclitus mengatakan, bahwa: “Karakter adalah takdir”. Karakter membentuk takdir seseorang. Takdir tersebut menjadi seluruh takdir masyarakat. “Dalam karakter warga negara”, kata Cicero, “terletak kesejahteraan bangsa”.64

Karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti sifat- sifat kejiwaan, akhlak, budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain, tabiat, watak.65 Bila dilihat dari asalnya, istilah karakter berasal dari bahasa Yunani, “karasso”, yang berarti, “cetak biru”, “format dasar” atau sidik seperti dalam jari. Pendapat lain menyatakan bahwa, istilah “karakter” berasal dari bahasa Yunani, “charassein”, yang berarti, “membuat tajam”, atau “membuat dalam”.66

Karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat mempertanggung jawabkan setiap akibat dari keputusannya.67 Atau bisa disebutkan bahwa, karakter adalah kecenderungan kuat untuk bertindak sesuai

63 Dale H Schunk, Learning Theories An Education Perspective, terj. Eva Hamidah, Rahmat Fajar, edisi 6, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), 585.

64 Thomas Lickona, Characters Matters: How to Help Our Children Develop Good Judgment, Integrity, and Essential Virtues, terj, Juna Abu Wamaungo, Jean Antunes Rudolf Zien, (Jakarta:Bumi Aksara, 2012), 12.

65 Kamus Besar Bahasa Indonesia, 389.

66 Saptono, Dimensi-Dimensi Pendidikan Karakter Wawasan, Strategi, dan Langkah Praktis, (Erlangga, 2011), 18.

67 Samani, Hariyanto, Konsep Pendidikan Karakter, 41.

dengan prinsip moral dalam berbagai situasi.68 Thomas Lickona mengatakan ada tiga bagian yang saling berhubungan dalam membentuk suatu karakter, yaitu:

pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral. Karakter yang baik terdiri dari mengetahui hal yang baik, mengiginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik. Kebiasaan cara berpikir, kebiasaan dalam hati, dan kebiasaan dalam tindakan. Ketiga hal ini diperlukan untuk mengarahkan suatu kehidupan moral. Ketiganya ini diperlukan untuk mengarahkan suatu kedewasaan moral.69

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, akhlak adalah budi pekerti, kelakuan.70 Sedangkan menurut Kamus Ilmiah Populer, akhlak adalah budi pekerti, tingkah laku, perangai.71 Al-Ghazali mengatakan, “akhlak bukanlah pengetahuan tentang baik dan jahat maupun qudrat untuk baik dan buruk, bukan pula pengetahuan yang baik, dan jelek, melainkan suatu keadaan jiwa yang mantap”.72 Al-Faidh Al-Kasyani mengatakan, “akhlak adalah ungkapan untuk menunjukan kondisi yang mandiri dalam jiwa yang darinya, muncul perbuatan- perbuatan dengan mudah tanpa didahului perenungan dan pemikiran”.73

Moral berasal dari bahasa Latin, yaitu mos (adat istiadat, kebiasaan, cara tingkah laku, kelakuan), mores (adat istiadat, kelakuan, tabiat, watak, akhlak, cara

68James Arthur, “Pendekatan Tradisional Terhadap Pendidikan Karakter di Inggris dan Amerika”, dalam Handbook of Moral and Character Education, terj, Imam Baehaqie, Derta Sri Widowatie, (Bandung: Nusa Media, 2014), 125.

69 Lickona, Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and Responbility, terj, Juma Abdu Wamungo, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 82.

70 Kamus Besar Bahasa Indonesia, 15

71 Acmad Maulana, et. al. Kamus Ilmiah Populer, (Yogyakarta: Absolut, 2004),7.

72Abu Muhammad Iqbal, Konsep Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan, (Madiun: Jaya Star Nine, 2013), 203.

73 Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), 14.

hidup).74 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata moral adalah ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti, susila75. Istilah moral lebih sering digunakan untuk menunjukan kode, tingkah laku, adar, atau kebiasaan dari individu atau kelompok, seperti apabila seseorang membicarakan tentang moral.76

Ternyata semua kata tersebut: budi pekerti, akhlak, moral, watak, dan karakter memiliki arti yang sama. Namun dalam tulisan yang sering muncul adalah karakter, moral. Akhlak, afeksi atau afektif. Hal ini disebabkan, kata-kata tersebut dewasa ini sering muncul dalam percakapan pendidikan, utamanya dalam pendidikan karakter. Ada sebuah definisi dari kamus umum tersebut yang menunjukan perbedaan yang tidak terlalu signifikan. Perbedaan karakter, moral, dan akhlak dari pengertian di atas disebutkan bahwa, moral berarti ajaran baik dan buruk (kognitif), sedangkan akhlak merupakan penerapan dari pengetahuan moral yang akan membedakannya dengan orang lain. Sedangkan karakter lebih menanamkan kebiasaan tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan, sehingga seorang anak akan memiliki kesadaran, kepedulian, serta komitmen untuk menerapkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Bisa juga dikatakan karakter adalah sifat alami yang dimiliki oleh seseorang dalam merespon situasi yang dialaminya secara alami, untuk bertindak jujur, tanggung jawab, amanah, serta menghormati. Sebagaimana yang dikatakan oleh Thomas Lickona di atas, bahwa

74 Sjakarwi, Pembentukan Kepribadian Anak Peran Moral Intelektual, Emosional, dan Sosial sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 27.

75 Kamus Besar Bahasa Indonesia, 592.

76 Sjakarwi, Pembentukan Kepribadian, 28.

karakter meliputi tiga aspek yaitu pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral.

Jadi karakter memiliki ciri-ciri sebagai berikut:77

1) Karakter adalah “siapakah dan apakah kamu pada saat orang lain sedang melihatmu” (character is what you are when no body is looking).

2) Karakter adalah sebuah hasil nilai-nilai dan keyakinan (character is the results of values and beliefs).

3) Karakter adalah sebuah kebiasaan yang menjadi sifat alamiah kedua (character is a habbit that become second nature).

4) Karakter bukanlah reputasi atau apa yang dipikirkan oleh orang lain terhadapmu (characters not reputation or what others think about you).

5) Karakter bukanlah seberapa baik kamu dari pada orang lain (characters is not how much better you are than others).

6) Karakter tidak relatif (character is not relative).

b. Pengertian Implementasi Pendidikan Karakter

Menurut Kamus Ilmiah Populer kata, “Implementasi”, berarti pelaksanaan; penerapan implement.78 Kata pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah, “proses pengubahan dan tata laku seseorang atau

kelompok orang, upaya mendewasakan orang melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan, mendidik.79 Sedangkan kata karakter, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti sifat-sifat kejiwaan, akhlak, budi

77 Fatchul Mu’in, Pendidikan Karakter Konstruksi Teoritik dan Praktik, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), 161-162.

78 Achmad Maulana, Kamus Ilmiah, 162.

79 KBBI.web.id/didik, di akses tanggal 13 April 2015.

pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain, tabiat, watak.80 Sekolah dapat diartikan bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan member.81

Dengan demikian implementasi pendidikan karakter di sekolah dapat diartikan sebagai, “Pelaksanaan pendidikan untuk mengubah perilaku seseorang agar mempunyai budi pekerti yang membedakannya, dengan orang lain melalui proses belajar mengajar. Di mana guru menyampaikan pelajaran, sedangkan siswa belajar untuk menerapkan apa yang disampaikan oleh guru”.

c. Tujuan Implementasi Pendidikan Karakter

Amanah Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003, bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, tetapi juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernapas nilai luhur bangsa, serta agama.82

Pendidikan karakter pada tingkat satuan pendidikan mengarah pada pembentukan budaya sekolah atau madrasah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan sehari-hari, serta simbol-simbol yang dipraktikan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitarnya. Budaya sekolah atau madrasah merupakan ciri khas, karakter atau watak dan citra sekolah atau madrasah tersebut di mata masyarakat luas.83

d. Implementasi Pendidikan Karakter Di Sekolah

80 Kamus Besar Bahasa Indonesia, 389.

81 Ibid.,796.

82Hamdani Hamid, Beni Ahmad Saebani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2013), 37.

83 Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter, 9.

Pada umumnya, pendidikan karakter menekankan pada keteladanan, penciptaan lingkungan, dan pembiasaan; melalui berbagai tugas keilmuan dan kegiatan kondusif. Dengan demikian, apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dikerjakan oleh peserta didik dapat membentuk karakter mereka. Selain menjadikan keteladanan dan pembiasaan sebagai metode pendidikan utama, penciptaan iklim dan budaya serta lingkungan yang kondusif juga sangat penting, dan turut membentuk karakter peserta didik.84

Penerapan pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan, melalui metode berikut:

1) Keteladanan

Metode ini merupakan metode pendidikan dan pengajaran dengan cara pendidik memberikan contoh teladan yang baik kepada anak agar ditiru dan dilaksanakan. Suri teladan dari para pendidik merupakan faktor yang besar pengaruhnya dalam pendidikan anak.85

Metode keteladanan yang dicontohkan guru memiliki pengaruh sangat besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan pribadi peserta didik.

Keteladanan ini memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak, guna menyiapkan dan mengembangkan SDM, serta menyejahterakan masyarakat, kemajuan negara pada umumnya. Oleh karena itu, dalam mengefektifkan dan menyukseskan pendidikan karakter di sekolah, setiap guru dituntut untuk memiliki kompetensi kepribadian yang memadai, bahkan kompetensi ini akan melandasi atau menjadi landasan bagi kompetensi-

84Ibid.

85 Dindin Jamaludin, Paradigma Pendidikan Anak dalam Islam, (Bandung:Pustaka Setia, 2013, 71.

kompetensi lainnya. Dalam hal ini, guru tidak hanya dituntut untuk mampu memaknai pembelajaran, tetapi yang paling penting adalah bagaimana menjadikan pembelajaran sebagai ajang pembentukan karakter dan perbaikan kualitas pribadi peserta didik.86

Keberhasilan pendidikan karakter di sekolah sangat ditentukan oleh keberhasilan kepala sekolah dalam melibatkan seluruh warga sekolah dalam upaya menyelenggarakan pendidikan karakter di sekolah.87 Dengan peran kepala sekolah sebagai leader, di mana sebagai seorang kepala sekolah dituntut untuk bertanggung jawab terhadap perkembangan sekolah yang dipimpinnya.88 Upaya yang bisa dilakukan oleh kepala sekolah terkait dengan penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah, beserta seluruh warga sekolah. Di- antaranya:

Pertama, seluruh staf menunjukkan tanggung jawab ini dengan keteladanan dalam nilai-nilai dasar etika dalam perilaku mereka sendiri dan mengambil peran dari peluang lainnya untuk mempengaruhi peserta didik yang berinteraksi dengan mereka. Kedua, nilai-nilai dan norma-norma yang sama yang memengaruhi kehidupan peserta didik, mempengaruhi juga kehidupan kolektif orang-orang dewasa dalam komunitas di sekolah. Seperti halnya peserta didik, orang-orang dewasa tumbuh berkarakter dengan berkolaborasi satu sama lain dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang akan memajukan kelas dan sekolah. Mereka juga memperoleh manfaat dari perluasan pengembangan staf dan kesempatan untuk mengamati rekan kerja dan kemudian menerapkan strategi pengembangan karakter dalam kerja mereka dengan peserta didik. Ketiga, sekolah

86 Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter. 9.

87 Ibid. 37.

88 Marno, Triyo Supriyanto, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. 38-39.

harus meluangkan waktu untuk refleksi moral bagi para staf karena hal ini berarti membantu untuk memastikan bahwa sekolah berjalan sebagai satu kesatuan.

Refleksi alamiah ini adalah kondisi yang sangat diperlukan untuk pengembangan kehidupan moral di sebuah sekolah.89

Selain itu sebagai seorang kepala sekolah yang bertanggung jawab. Juga mempunyai tanggung jawab atas keteladanan dari para guru. Karena setiap apa yang dilakukan oleh guru akan selalu mendapat sorotan dari orang sekitar maupun lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru. Sehubungan dengan itu, beberapa hal ini perlu mendapat perhatian dan bila perlu didiskusikan dalam forum MGMP dan KKG, yaitu:90

a. Sikap dasar, postur psikologis yang nampak dalam masalah-masalah penting, seperti keberhasilan, kegagalan, pembelajaran, kebenaran, hubungan antar manusia, agama, pekerjaan, permainan, dan diri.

b. Bicara dan gaya bicara, pengunaan bahasa sebagai alat berpikir.

c. Kebiasaan bekerja, gaya yang dipakai oleh seseorang dalam bekerja yang ikut mewarnai kehidupannya.

d. Sikap melalui pengalaman dan kesalahan, pengertian hubungan antara luasnya pengalaman dan nilai serta tidak mungkinnya mengelak dari kesalahan.

e. Pakaian, merupakan perlengkapan pribadi yang amat penting dan menampakkan ekspresi seluruh kepribadian.

f. Hubungan kemanusiaan, diwujudkan dalam semua pergaulan manusia, intelektual, moral, keindahan, terutama bagaimana berperilaku.

89 Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter, 37-38.

90 Ibid. 171

g. Proses berpikir, cara yang digunakan oleh pikiran dalam mengahadapi dan memecahkan masalah.

h. Perilaku neurotis, suatu pertahanan yang dipergunakan untuk melindungi diri dan bisa juga untuk menyakiti orang lain.

i. Selera, pilihan yang jelas merefleksikan nilai-nilai yang dimiliki oleh pribadi yang bersangkutan.

j. Keputusan, keterampilan rasional dan intuitif yang dipergunakan untuk menilai setiap situasi.

k. Kesehatan, kualitas tubuh, pikiran dan semangat yang merefleksikan kekuatan, perspektif, sikap tenang, antusias, dan semangat hidup.

l. Gaya hidup secara umum, apa yang dipercaya oleh seseorang tentang setiap aspek kehidupan dan tindakan untuk mewujudkan kepercayaan itu.

2) Pembiasaan

Islam mengajarkan bahwa, anak berada dalam kondisi fitrah (suci, bersih, belum dosa) sejak saat lahir sampai baligh.Dalam konsep Islami, fitrah adalah kecenderungan bertauhid secara murni, beragama secara benar atau beriman dan beramal saleh.91

Pembiasaan adalah sesuatu yang sengaja dilakukan secara berulang-ulang, agar sesuatu itu dapat menjadi kebiasaan. Pembiasaan sebenarnya, berintikan pengalaman yang dibiasakan itu adalah sesuatu yang diamalkan. Pembiasaan menempatkan manusia sebagai sesuatu yang istimewa, yang dapat menghemat kekuatan, karena akan menjadi kebiasaan yang melekat dan spontan, agar

91 Dindin, Paradigma Pendidikan Anak, 72.

kekuatan itu dapat dipergunakan untuk berbagai kegiatan dalam setiap pekerjaan dan aktivitas lainnya.92

Kepala sekolah sebagai educator dituntut untuk mempunyai kemampuan dalam melaksanakan model pembelajaran di sekolah.93 Sehubungan, dengan kegiatan pembiasaan yang diajarkan kepada siswa-siswi di sekolah. Melalui pengalaman untuk membentuk karakter siswa-siswi. Bisa dilakukan melalui program pengalaman sebagai berikut:

a. Thaharah b. Shalat c. Puasa

d. Menutup aurat e. Muamalah.94

Program pengalaman yang diberikan kepada siswa dilengkapi dengan pendidikan yang berkaitan dengan muamalah, diantaranya sebagai berikut:

a. Tata cara menyembelih hewan.

b. Tata cara mengakadkan kedua mempelai yang menikah.

c. Tata cara mengurus jenazah sampai menshalatinya.

d. Tata cara membagikan zakat fitrah dan zakat mal.

e. Tata cara pembagian harta waris.

f. Tata cara berakad dalam perwakafan.95

92 Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter, 166.

93 Donni Juni Priansa, Rismi Somad, Manajamen Supervisi, 53.

94 Hamdani Hamid, Beni Ahmad Saebani, Pendidikan Karakter Islam, 158-159.

95 Ibid., 159.

Sebagai kepala sekolah juga harus mampu untuk menggunakan waktu secara efisien, antara lain sebagai berikut:

a. Membiasakan diri untuk disiplin waktu (on time). Artinya, jika jam kerja pukul 07.00-13.00, maka setiap pekerjaan harus dimulai pukul 07.00 dan baru selesai pukul 13.00. Meskipun pandangan kontruktrivisme tidak harus demikian, tetapi bagi peserta didik itu akan lebih baik, karena pribadi mereka masih sangat labil, yang harus distabilkan dengan aturan dan tata tertib.

b. Membiasakan bekerja secepat mungkin. Tugas yang dapat dikerjakan dengan 10 menit tidak perlu dikerjakan sampai 15 menit. Tentu saja mempercepat waktu tersebut bukan berarti mengabaikan kualitas pekerjaan. Jadi, bagaimana mengerjakan tugas dengan baik dalam waktu yang cepat.

c. Membiasakan diri untuk tidak membiarkan waktu kosong tanpa kegiatan.

Setiap waktu kosong harus diisi dengan kegiatan yang bermanfaat.96 3) Penciptaan Lingkungan yang Kondusif

Peranan kepala sekolah dalam memlihara suasana sekolah tidak terbatas pada peserta didik saja, tetapi juga perlu memperhatikan perilaku guru selama berada di lingkungan sekolah. Hal ini penting karena hanya kepala sekolah yang mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk menasihati guru yang kurang kondusif dalam pembentukan perilaku peserta didik di sekolah. Banyak sekolah yang berprestasi dan berhasil dalam proses belajar mengajar, karena kepala sekolah memiliki disiplin yang kuat, sehingga segala sesuatunya berjalana sebagaimana mestinya. Para guru, pegawai tata usaha dan peserta didik merasakan bahwa, peraturan yang ada di sekolah mereka benar-benar harus

96 Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter, 70.

dipatuhi tanpa kecuali, karena kepala sekolah sendiri sangat patuh terhadap peraturan yang ada. Perilaku yang disiplin memang harus dimulai dari pimpinannya. Kerapian berpakaian, cara duduk yang sopan, cara berbicara, makan dan minum, dan cara memimpin tentu akan diperhatikan oleh guru dan peserta didik. Dalam kesempatan upacara bendera pun kepala sekolah akan menjadi pusat perhatian, karena dalam kesempatan itu. Kepala sekolah bisa memberikan nasihat kepada warga sekolah tentang tata cara hidup yang bermoral, sopan santun, dan kepatuhan terhadap kedua orang tua.97

Kepala sekolah juga dituntut untuk memiliki kemampuan dalam mengelola sarana dan prasarana di sekolah.98 Di mana peran kepala sekolah terebut erat kaitannya dengan penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter. Misalnya kondisi meja guru dan kepala sekolah yang rapi, kondisi toilet yang bersih, disediakan tempat sampah yang cukup, halaman sekolah yang hijau penuh pepohonan, tidak ada punting rokok di sekolah.99

Selain itu, lingkungan yang kondusif di sekolah. Antara lain dapat dikembangkan melalui berbagai layanan dan kegiatan sebagai berikut:100

a. Memberikan pilihan bagi peserta didik yang lambat maupun cepat dalam melakukan tugas pembelajaran. Pilihan dan pelayanan individual bagi peserta didik, terutama bagi mereka yang lambat belajar akan membangkitkan nafsu dan semangat belajar, sehingga membuat mereka betah belajar di sekolah.

97 Pupuh Fathurrohman, AA Suryana, Fenny Fatriany, Pengembangan Pendidikan Karakter, (Bandung:

Refika Aditama, 2013), 159.

98 Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, 108.

99 Muchlas Samani, Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, 147.

100 Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter, 21.

b. Memberikan pembelajaran remedial bagi peserta didik yang kurang berprestasi, atau berprestasi rendah. Dalam sistem pembelajaran klasikal, sebagian peserta didik akan sulit untuk mengikuti pembelajaran secara optimal, dan menuntut peran ekstra guru untuk memberikan pembelajaran remedial.

c. Mengembangkan organisasi kelas yang efektif, menarik, nyaman, dan aman bagi perkembangan potensi seluruh peserta didik secara optimal. Termasuk dalam hal ini, adalah penyediaan bahan pembelajaran yang menarik dan menantang bagi peserta didik, serta pengelolaan kelas yang tepat, efektif, dan efisien.

d. Menciptakan kerja sama saling menghargai, baik antar peserta didik, maupun antar peserta didik dengan guru dan pengelola pembelajaran lain. Hal ini mengandung implikasi bahwa setiap peserta didik memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengemukakan pandangannya tanpa ada rasa takut mendapatkan sanksi atau dipermalukan.

e. Melibatkan peserta didik dalam proses perencanaan belajar dan pembelajaran.

Dalam hal ini, guru harus mampu memposisikan diri sebagai pembimbing dan manusia sumber. Sekali-kali, cobalah untuk melibatkan peserta didik dalam proses perencanaan pembelajaran, agar mereka merasa bertanggung jawab terhadap pembelajaran yang dilaksanakan.

f. Mengembangkan proses pemebelajaran sebagai tanggung jawab bersama antara peserta didik dan guru, sehingga guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator, dan sebagai sumber belajar.

g. Mengembangkan sistem eveluasi belajar dan pembelajaran yang menekankan pada evaluasi diri sendiri (self-evaluation). Dalam hal ini, guru sebagai fasilitator harus mampu membantu peserta didik untuk menilai bagaimana mereka memperoleh kemajuan dalam proses belajar yang dilaluinya.

Dengan pelayanan yang demikian, diharapkan akan tercipta iklim belajar dan pembelajaran yang nyaman, aman, tenang dan menyenangkan (joyful teaching and learning), yang mampu menumbuhkan semangat gairah, dan nafsu belajar peserta didik, sehingga dapat mengembangkan dirinya secara optimal.101

Dokumen terkait