Gambar 1. Padang Savana di Taman Nasional Baluran
D. Manajemen bagi kelestarian
IV. IMPLEMENTASI PENGELOLAAN POPULASI DAN HABITAT
Upaya pengelolaan suku Columbidae diawali dari pengamatan perilaku berkembang biak yang diamati melalui pergantian bulu sayap primer kiri dan kanan pada waktu yang berbeda dimana bulu burung yang bagus dan baru tumbuh dibandingkan dengan bulu burung yang rusak atau kusam (Bismark &
Soemadikarta, 1992). Pengamatan dilakukan di alam waktu penangkapan dan di kandang guna mengetahui apakah perkembang biakan burung punai tergantung musim penghujan atau kemarau. Pergantian dan pertumbuhan bulu dinilai menggunakan sistim skor sebagai berikut (Somadikarta, 1968 dalam Bismark &
Soemadikarta, 1992) (Gambar 1):
0 = nilai untuk bulu yang tua
1 = bulu yang lepas atau berbentuk tiang kecil 2 = bulu berupa tiang agak besar atau berbulu sedikit 3 = bulu menjelang setengah pertumbuhan
4 = bulu yang telah mencapai separuh hingga tiga perempat panjang 5 = bulu yang tumbuh sempurna
Sistem skor terhadap bulu primer tercantum pada Gambar 1, dibawah ini:
Gambar 1.Penilaian terhadap bulu sayap primer dalam pergantian bulu burung Penilaian bulu sayap primer kiri dan kanan dihitung melalui pergantian sayap burung punai gading betina (Treron vernans L.) yang dilakukan dalam
kandang pemeliharaan (Tabel 2). Sedangkan kondisi bulu sayap primer dalam pergantian bulu burung dapat dilihat pada Gambar 2.
Tabel 2. Jumlah skor bulu primer punai gading betina (Treron vernans L.) pada bulan Nopember (2009), Mei (2010), Oktober (2010) Kalimantan Barat No.
Skor
rata‐Rata (Nopember) Jumlah
Skor
rata‐rata (Mei) Jumlah
Skor rata‐rata
(Oktober) Jumlah
Kiri Kanan Kiri Kanan Kiri Kanan
1 2 3 4 5 6
17 17 19 24 28 20
31 27 14 16 34 30
48 44 33 40 62 50
23 18 20 16
‐
‐
14 39 12 19
‐
‐
37 57 32 35
‐
‐
18 17 40 47
‐
‐ 13 18 38 28
‐
‐
31 35 78 75
‐
‐
Kanan : Bulu
Kiri
Kanan : Bulu
Kiri
a
b.
Gambar 2. Struktur sayap bulu primer, bulan Nopember, 2009a; Mei, 2010b; dan Oktober, 2010c .
Kiri : 1, 1, 1, 1, 2, 2, 2, 3, 3, 2
Kanan : 3, 3, 2, 2, 5, 5 5, 5, 5, 4
Kiri: 2, 2, 2, 1, 4, 4, 4, 5, 5, 5
Kanan : 2, 2, 2, 2, 1, 1, 1, 1, 1,1
Kanan:5,5.4,4,5,5,5,5,5
Kiri : 0,2,2,3,3,4,4,5,,5
Kanan : 4,4,4,4,5,5,3,3,,0,4,4
Kiri : 4,0,4,4,4,5,5,4,4,4
c
Berdasarkan hasil analisis nilai skor bulu sayap primer kiri dan kanan burung betina punai gading (Treron vernans L), bulan Oktober ‐ Nopember di Kalimantan Barat (Tabel 2) akan memasuki musim kawin. Hal ini terlihat dari nilai skor bulu sayap yang memiliki kecenderungan mulai berganti sehingga nilainya bergerak mendekati angka 100 bagi bulu sayap primer burung kiri dan kanan yang berjumlah 20 batang dengan nilai 5. Pergantian dan pertumbuhan bulu sayap primer tersebut akan diikuti dengan pergantian dan pertumbuhan bulu ekor dan secara positif berkolerasi dengan penumpukan lemak pada tubuh burung dalam rangka persiapan energi untuk menghadapi musim kawin (Bismark & Soemadikarta, 1992).
Skor bulu burung primer pada Mei tidak terjadi perbedaan yang
mencolok. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mac Kinnon et al., 2000 bahwa burung suku Columbidae umumnya berkembang biak pada bulan September‐
Desember Kemungkinan burung telah melewati masa perkawinan yang membutuhkan bulu yang bagus, terutama bagi burung jantan untuk menarik burung betina, maupun persiapan energi untuk melaksanakan kegiatan perkawinan (Gambar 2). Setelah masa ini burung yang mengeram dan mengasuh anaknya memiliki bulu yang kembali rusak dan kembali berganti untuk melakukan aktifitas mencari pakan dan berkelompok lagi. Pengetahuan tentang musim perkembangbiakan merupakan upaya untuk pelestarian populasi burung suku Columbidae maupun waktu pemanfaatannya.
Pemanfaatan populasi burung suku Columbidae juga perlu mengingat status konservasinya. Di Indonesia, beberapa jenis burung punai yang statusnya hampir terancam dan dilindungi di antaranya burung punai salung (Treron oxyura), punai timor (Treron psittaceus), punai sumba (Treron teysmanii Schlegel, 1879) dan Ducula pikeringii (Birdlife International, 2001, Mepow, 2010; Hau, 2013;
TN Manupeu Tanah Daru, 2011). Ekosistem savana sebagai habitat yang dimanfaatkan oleh burung ini adalah daerah nir‐konservasi yang merupakan areal terbuka hijau daerah jelajah burung punai, sepanjang tersedia pakan sebagai faktor utama yang menentukan kehadirannya (Noerdjito, 2009).
Tumbuhan sumber pakan antara lain berupa semak, rumput‐rumputan maupun pohon yang berbuah seperti salam (Syzygium polianthum Wigh Walp) dan kersen (Muntingia calabura L.) (Kutilang Indonesia, 2012).
Penggunaan dan pemilihan habitat oleh burung suku Columbidae tergantung dari perubahan ketersediaan sumber pakan dan musim. Burung ini dapat terbang 40 km dalam sehari dari tempat bertengger ke lokasi sumber pakan (Camfield, 2004). Buah ficus merupakan pakan utama pada saat musim kawin maupun di luar musim kawin (Devi & Saikia, 2012a). Rata‐rata jumlah buah yang dimakan tiap kunjungan makan seukuran buah ficus, kersen, salam, kariwaya, mayam, poakas, jawi‐jawi adalah 10 – 20 buah, tergantung pada banyaknya buah yang masak dan jumlah anggota kelompok burung. Jenis dan
intensitas buah yang dimakan oleh burung punai disesuaikan dengan ukuran tubuh dengan pembatasan jumlah maksimum dari buah‐buahan yang ditelan dan daging buah yang dapat dicerna dengan sekali gigitan, seperti jumlah buah Prunus mahaleb yang dimakan burung Columba palumbus (460,0 gram) sebanyak 21 buah (Jordano & Schupp, 2000) Sebagai contoh, burung dara makan sebanyak 12‐20% dari berat badannya (Daugherty, 2013). Burung punai mendatangi pohon sumber pakan sekali setiap harinya dalam jangka waktu tertentu. Apabila datang gangguan, mereka akan terbang berdua, bertiga, atau dalam kelompok kecil dan bersuara bersama‐sama disertai suara kepakan sayap yang keras pindah ke pohon yang didekatnya untuk kembali ke pohon pakan. Perilaku ini termasuk perilaku altruistik yaitu perilaku yang lebih mementingkan keselamatan kelompok daripada dirinya sendiri (Bachtiar, 2007)
Pengelolaan ekosistem savana dapat dikelola sebagai kawasan ekosistem esensial untuk habitat satwaliar terutama suku Columbidae ataupun kawasan hutan dengan nilai konservasi tinggi yang mempunyai konsentrasi nilai‐
nilai keanekaragaman hayati yang penting secara global, regional dan lokal (misalnya spesies endemik, spesies hampir punah, tempat menyelamatkan diri (refugia). Kegiatan dalam rangka mendukung habitat sebagai kawasan ekosistem esensial dilakukan dengan identifikasi inventarisasi dan validasi data ekosistem, sosialisasi dan koordinasi pengelolaan ekosistem esensial, kesepakatan pengelolaan ekosistem esensial, forum kerjasama, rencana strategis/aksi pengelolaan, pelaksanaan rencana strategis/aksi, moritoring dan evaluasi rencana dan kerjasama masyarakat dan hutan. Hal serupa juga dapat dilakukan untuk kawasan hutan dengan nilai konservasi tinggi (HCVF).