Gambar 1. Padang Savana di Taman Nasional Baluran
D. Manajemen bagi kelestarian
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
intensitas buah yang dimakan oleh burung punai disesuaikan dengan ukuran tubuh dengan pembatasan jumlah maksimum dari buah‐buahan yang ditelan dan daging buah yang dapat dicerna dengan sekali gigitan, seperti jumlah buah Prunus mahaleb yang dimakan burung Columba palumbus (460,0 gram) sebanyak 21 buah (Jordano & Schupp, 2000) Sebagai contoh, burung dara makan sebanyak 12‐20% dari berat badannya (Daugherty, 2013). Burung punai mendatangi pohon sumber pakan sekali setiap harinya dalam jangka waktu tertentu. Apabila datang gangguan, mereka akan terbang berdua, bertiga, atau dalam kelompok kecil dan bersuara bersama‐sama disertai suara kepakan sayap yang keras pindah ke pohon yang didekatnya untuk kembali ke pohon pakan. Perilaku ini termasuk perilaku altruistik yaitu perilaku yang lebih mementingkan keselamatan kelompok daripada dirinya sendiri (Bachtiar, 2007)
Pengelolaan ekosistem savana dapat dikelola sebagai kawasan ekosistem esensial untuk habitat satwaliar terutama suku Columbidae ataupun kawasan hutan dengan nilai konservasi tinggi yang mempunyai konsentrasi nilai‐
nilai keanekaragaman hayati yang penting secara global, regional dan lokal (misalnya spesies endemik, spesies hampir punah, tempat menyelamatkan diri (refugia). Kegiatan dalam rangka mendukung habitat sebagai kawasan ekosistem esensial dilakukan dengan identifikasi inventarisasi dan validasi data ekosistem, sosialisasi dan koordinasi pengelolaan ekosistem esensial, kesepakatan pengelolaan ekosistem esensial, forum kerjasama, rencana strategis/aksi pengelolaan, pelaksanaan rencana strategis/aksi, moritoring dan evaluasi rencana dan kerjasama masyarakat dan hutan. Hal serupa juga dapat dilakukan untuk kawasan hutan dengan nilai konservasi tinggi (HCVF).
mampu bertelur beberapa kali tergantung musim setempat dan ketersediaan sumber pakan berupa buah‐buahan.
4. Pengelolaan savana sebagai habitat burung suku Columbidae ditetapkan sebagai kawasan ekosistem esensial ataupun kawasan hutan dengan nilai konservasi tinggi (HCVF).
B. Saran
Perlu dilakukan perkayaan habitat dengan tanaman pakan seperti marga ficus‐ficusan untuk menjaga kelestarian burung suku Columbidae mengingat manfaatnya.
DAFTAR PUSTAKA
Bachtiar, Y. (2007). Pengenalan perilaku
hewan.http://yusufpojokkampus.wordpress.com/materi/perilaku‐hewan /pengenalan‐perilaku‐he…Diakses tanggal 19 September 2011. 12 hal.
Balai Konservasi Sumberdaya Alam, Kalimantan Selatan. (2003). Pemeliharaan pengamanan batas kawasan hutan 32KM di SM Pelaihari Tanah Laut, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Banjarbaru. Hal. 10‐11.
Birdlife International. (2001). Cinnamom‐headed‐Green‐pigeon, Treron fulvicollis.
http://www.birdlife.org/datazone/speciesfactsheet/php?id=2631.
Bismark, M dan S. Somadikarta. 1992. Pergantian bulu sayap Halcyon sancta sancta Vigors and Horsfield dan Hirundo rustica gatturalis Scopoli yang bermigrasi ke Indonesia. Buletin Penelitian Hutan (546):21‐34.
CV. Rumah telur. 2009. Nilai gizi telur, daging ayam dan susu. http://www.rumah telur.co.tv/2009/11/nilai‐gizi‐telur‐daging‐ayam‐dan susu‐html. Diakses tgl. 27‐Januari 2011.
Camfield, A. 2004. Columbidae., Pigeons and pigeons.http://animaldiversity.ummz.umich.edu/accounts/columbiforme s/classification. Diakses 1 September 2013.
Dugherty, R. 2013. Pigeons and pigeons need lots of water. Hal 2.
http://ferrycountyview.com/index.php?option=com content&view=arti.
Diakses 20 November 2013.
Devi, O.S. and P.K. Saikia. 2012. Diet composition and habitat preferences of fruit eating pigeons in tropical forest of eastern Assam, India. NeBio 3(2):51‐
57. http://www.nebio.in/nebio/3(2)2012/Nebio 3 (2) Sunanda 10 pdf.
Diakses 25 November 2013.
Endri, N. 2015. Pengelolaan hutan ulayat dengan sistem zonasi dan pengaruhnya terhadap diversitas burung dan bentuk pemanfaatannya oleh masyarakat Di Nagari Simaneu, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Pasca Sarjana Universitas Pajajaran, Bandung. Tidak diterbitkan.
Hidayat, O. 2013. Keragaman species avifauna di KHDTK Hambala, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallaceae. Vo. 2(1):12‐25.
Hau, J. 2013. Flora dan fauna IUCN Redlist. http://jercil 34.blogspot.comflorafauna‐
IUCN. Diakses 15 September 2013.
Indrawan, M., Prawiradilaga DM and van Balen S. 1995. Birds on fragmental islands persistense in the forest of Java and Bali. Wageningen University and Research Center. Netherlands.
Jacobs. 1974. Quantitative measurement of food selection. Oecologia 14 : 413‐417 Jordano, P and E.W. Schupp. 2000. Determinants od seed disperser
effectiveness:the quantity component and patterns on seed rain for Prunus mahaleb.Ecological Monographs (70):591‐615.
Klappenbach, L. 2013. Pigeons and pigeons. Hal 1.
Http://animal.about.com/od/pigeon‐pigeons/pigeon‐pigeons.htm.
Diakses 12 September 2013.
Kutilang Indonesia. 2012. Pohon‐pohon yang disukai burung. Hal 2.
http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/pohon‐pohon‐yang‐
disukai‐burung ‐html. Diakses 10 September 2013.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2015. Usulan quota burung non appendix 2016. Cibinong, Bogor.
Mac Kinnon, J. K Phillips dam B. van Balen. 2000. Panduan lapangan pengenal burung‐burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Birdlife.
Mepow. 2010. Treron oxyura (punai salung). Hal 1‐2.
http://mepow.wordpress.Com/2010/07/05/treron‐oxyura/punai‐
salung/....Diakses 15 September 2013.
Necker, R. 2007. Head‐bobbing of walking birds. Journal of comparative physiology, A neuroethology, sensory, neural and behavioral physiology 193(2):1177‐1183. Doi:10.1007/s00359‐007‐0281‐3. http://dx.doi.org/
10.1007%Fs00359‐007‐0281‐3. Diakses 20 November 2013.
Noerdjito, M. 2009. Keanekaragaman jenis burung di enclave urban Taman Nasional Gunung Ceremai. Jurnal Biologi Indonesia 5(3):269‐278.
Sawitri, R., R. Garsetiasih, S. Iskandar. 2009. Konservasi in‐situ dan eks‐situ burung punai (Columbidae) sebagai sumber pangan. Laporan Proyek Program Insentif Ristek. 35 hal. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Bogor.
Sawitri, R., R. Garsetiasih, A.S. Mukhtar. 2010. Konservasi in‐situ dan eks‐situ burung punai (Columbidae) sebagai sumber pangan. Laporan Proyek Program Insentif Ristek. 30 hal. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Bogor.
Sawitri, R dan Garsetiasih. 2015. Habitat dan populasi punai (Columbidae) di Mempawah dan Suaka Margasatwa Pelaihari. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi. In Press.
Subela, A. 2009. Di Restoran Pondok Pengkang, punai di tangan lepas ke
penggorengan .
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0703/09/hobo7.html.
Taman Nasional Manupeu Tanah Daru. 2011. Treron teysmanii (Punai sumba). Hal 1. http://tnmanupeu.blogspot.com/2011/02/treron‐teysmanii‐punai‐
sumba‐html.
KARAKTERISTIK SPASIAL HABITAT FISIK BURUNG CIKUKUA TIMOR (Philemon inornatus G.R Gray, 1846) DI LANSKAP CAMPLONG
Oleh :
Blasius Paga1), Yeni Aryati Mulyani2), Lilik Budi Prasetyo2)
1)Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Jl. Prof Herman Yohanes Penfui Kupang.
2)Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB, Jalan Lingkar Akademik, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680
ABSTRAK
Philemon inornatus merupakan salah satu dari enam jenis burung endemik Pulau Timor dengan status dilindungi. Burung P. inornatus dapat dijumpai pada beberapa areal berhutan dan campuran hutan savanna (pantai dan palem‐
paleman) di lanskap Camplong.Tingkat perjumpaan di alam dalam lima tahun terakhir (2006‐2011) terus menurun seiring terjadinya penurunan kualitas dan kuantitas faktor fisik dan biotik. Penguasaan pengetahuan pola spasial lanskap dapat digunakan untuk mengevaluasi kualitas dan kuantitas habitat. Kehadiran P.inornatus pada tiap titik yang dijumpai secara berulang‐ulang dalam lama periode waktu tertentu akan menunjukan akumulasi kebutuhan hidup yang kehendakinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik spasial habitat fisik P. inornatus berdasarkan faktor‐faktor dominan komponen habitat fisik yang berpengaruh terhadap kehadirannya. Hasil analisis Principle Component Analysis (PCA) terhadap faktor fisik habitat diperoleh peubah yang memiliki korelasi yang kuat terhadap kehadiran burung yaitu Normalized Difference Vegetation Indext (NDVI), slope, jarak dari hutan sekunder, jarak dari belukar, jarak dari kebun jambu mete, jarak dari kebum palawija, dan jarak dari jalan.
Kata Kunci: Philemon inornatus, karakteristik, spasial, habitat fisik, endemik
I. PENDAHULUAN
Noske dan Saleh (1996) menyatakan bahwa avifauna Pulau Timor adalah spesial dan unik. Pulau Timor memiliki tingkat tertinggi endemisme burung dibandingkan dengan beberapa pulau besar di Nusa Tenggara (Pulau Lombok, Sumbawa, Flores, dan Sumba). Pulau timor dan Semau memiliki 28 spesies burung endemik (Monk et al 1997; 2000). Salah satu jenis burung endemik yang masuk dalam kelompok Timor adalah Philemon inornatus yang dikenal dengan nama lokal burung cikukua timor. Menurut Sujatnika et al. (1995); Trainor (2002);
Alves (2007), Philemon inornatus adalah salah satu dari enam jenis burung endemik Pulau Timor yang masuk dalam burung sebaran terbatas (Restricted Range/RR). Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 tentang
Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, semua jenis dari famili Meliphagidae terkategori dilindungi.
Populasi Philemon inornatus di kawasan Camplong diduga dalam lima tahun terakhir (2006‐2011) terus menunjukkan penurunan populasi. Indikasi ini dapat diketahui dari semakin berkurang tingkat perjumpaan P.inonatus di alam, baik yang berada dalam maupun di luar kawasan hutan Taman Wisata Alam (TWA), pada areal berhutan dan hutan campuran savana (pantai dan palem‐
paleman) padahal sebelum tahun 1990‐an burung ini merupakan burung yang umum ditemukan.
Faktor penyebab penurunan jumlah populasi burung P.inonatus di kawasan ini diduga akibat berbagai aktivitas tekanan habitat yang cukup serius.
Menurut Noske dan Saleh (1996), ancaman utama burung‐burung hutan di Timor datang dari kerusakan habitat, perburuan, dan mungkin dari tekanan penggembalaan. Sujatnika et al. (1995) menyatakan bahwa hutan gugur‐daun di TWA Camplong pada 1995 telah mengalami proses kerusakan dan gangguan.
Beberapa fakor penyebab kerusakan dan gangguan diantaranya yaitu praktek illegal loging dan kebakaran hutan, konflik klaim kepemililikan lahan antara masyarakat dan pengelola, perburuan dan penggembalaan ternak secara liar, pembukaan dan pelebaran jalan. Aktivitas ini telah mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk lanskap kawasan sehingga kualitas maupun kuantitas habitat burung P.inonatus di kawasan Camplong semakin berkurang,
Kumara (2006) menjelaskan bahwa perubahan suatu lanskap kawasan, dapat dilakukan dengan kuantifikasi pola spasial lanskap yang merupakan hal penting dalam pengelolaan kawasan. Penguasaan pengetahuan pola spasial lanskap dapat membantu kita membuat evaluasi kuantitatif pada saat akan mengelola dan mengembangkan kawasan.
Pada bentuk lanskap yang berubah, setiap spesies seperti P.inornatus akan mencari patch‐patch habitat yang memiliki karakteristik habitat tertentu untuk mendapatkan kebutuhan hidup agar tetap survive dan bereproduksi pada kawasan ini. Kehadiran satwa khususnya P.inornatus pada tiap titik yang dijumpai secara berulang‐ulang dalam lama periode waktu tertentu akan menunjukan akumulasi kebutuhan hidup yang kehendakinya. Oja et al. (2005) dan Nursal (2007) menyatakan bahwa habitat yang sesuai dicirikan oleh kehadiran suatu spesies dengan ketersediaan kebutuhan hidup untuk mampu bertahan hidup dan keberhasilan spesies tersebut untuk bereproduksi dalam jangka waktu yang cukup lama dibandingkan dengan lingkungan lain yang mirip.
Oleh karena itu, kehadiran P.inonatus pada suatu tapak tertentu di kawasan Camplong akan menunjukkan karakteristik habitat yang sesuai dengan kebutuhan untuk kelangsungan hidupnya.
Menurut Sujatnika et a.l (1995), kegiatan survey dan inventariasi tentang status habitat dan spesies satwaliar di Timor dan Wetar belum banyak diketahui.
Noske dan Saleh (1996) menyatakan bahwa tidak ada studi ekologi yang telah dilakukan untuk mendata burung‐burung hutan di Timor. Khusus informasi mengenai habitat P.inonatus pada saat ini masih terbatas pada sebaran berdasarkan altitude dan tipe hutan (Trainor 2002;2008). Menurut Aarts (2008), pengelolaan dan konservasi populasi satwa membutuhkan informasi tentang dimana dan mengapa satwa tersebut ada, serta dimana lagi mereka mampu hidup. Informasi ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan data penggunaan ruang, hubungan data posisional untuk kondisi umum lingkungan dan memanfaatkan hasil model statistik untuk memprediksi penggunaan wilayah geografis lainnya. Pencapaian tujuan tersebut dapat tempuh melalui kajian spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS).
Kajian ini merupakan salah satu kegiatan penting untuk memahami karakteristik faktor‐faktor habitat fisik secara spasial yang dibutuhkan oleh P.inornatus. Indrawan et al. (2007) menyatakan bahwa pendekatan GIS dapat mengungkapkan berbagai hubungan (korelasi) antara faktor biotik dan abiotik dari suatu bentang alam, serta membantu proses perancangan kawasan agar mewakili komunitas hayati yang ada, bahkan menampilkan kawasan‐kawasan yang berpotensi untuk mencari spesies langka maupun dilindungi. Aplikasi SIG dalam kajian karaktersik sapsial fisik habitat P.inornatus akan mampu memberikan infomasi ilmiah tentang tipe habitat dan karakteristik atribut‐atribut habitat yang dibutuhkan bagi kelangsuangan hidup dan keberhasilan reproduksi P.inornatus di lanskap Camplong. Data dan infomasi tersebut diharapkan dapat membantu pengelola dalam merancang strategi pengelolaan untuk menjamin suksesnya konservasi insitu P.inornatus di kawasan Camplong pada masa yang akan datang.
Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik spasial habitat P.
inornatus berdasarkan faktor‐faktor (peubah) dominan komponen habitat fisik yang berpengaruh terhadap keberadaan P.inornatus.