BAB III URAIAN PROSES PENGOLAHAN
3.2 PENGOLAHAN BLACK LIQUOR
3.2.4 Incinerator
NCG (Non Condesable Gases) adalah hasil proses berupa gas yang tidak
dapat dikondensasi kembali. NCG terbagi menjadi dua jenis yaitu:
1. CNCG (Concentrated Non Condensable Gases)
Berasal dari vapor evaporator dan metanol plant
Kandungan sulfur lebih tinggi
Tekanan tinggi
Gambar 3.9 CNCG Plant 2. DNCG (Diluted Non Condesable gases)
Berasal dari vapor tangki - tangki penyimpanan (WBL, HBL, Tangki condensate A,B,C)
Kandungan sulfur lebih sedikit, namun tinggi oksigen
Tekanan atmosfer
Gambar 3.10 DNCG Plant
Vapor dari seluruh effect evaporator dialirkan melalui effect 5 menuju
surface condenser dan new segregated condenser. Kedua kondensor tersebut berfungsi sama yaitu untuk proses kondensasi vapor seluruh effect evaporator menggunakan air pendingin sehingga menghasilkan NCG. Aliran NCG kemudian ditarik dengan vacuum pump menuju collection tank. Collection tank diisi dengan air dingin sebanyak setengah dari volume tangki yang bertujuan untuk mengikat kondensat yang sudah terikat ke bawah dan vapor akan naik ke atas yang merupakan produk CNCG. Produk CNCG tersebut kemudian dialirkan menuju recovery boiler, lime kiln, incinerator. Kondensat yang ada pada collection tank kemudian ditampung ke tangki C-condensate. Kondensat yang ada di dalam tangki C-condensate dipompakan menuju stripping column untuk dikontakkan dengan LP steam. Hasil dari pengontakan steam dengan kondesat menghasilkan gas stripper column. Kondensat dari stripper column dialirkan menuju tangki A- condensate. Gas stripper column dibawa menuju stripper condenser untuk proses kondensasi gas tersebut dan dilanjutkan dengan proses kondensasi di trim condenser. Gas hasil dari proses kondensasi tersebut disebut stripper off gas (SOG). Sedangkan kondensat dari hasil kondensasi tersebut dialirkan menuju tangki A-condensate. Selanjutnya pada tahap methanol plant, SOG dialirkan menuju methanol column dan dikontakkan secara langsung dengan LP steam sehingga gas akan naik ke partial condensor untuk proses kondensasi dengan menggunakan media air dingin. Kondensat dari methanol column kemudian dialirkan ke tangki A-condensate. Hasil dari partial condenser berupa vapor dialirkan menuju final condenser untuk proses kondensasi terakhir untuk mendapatkan metanol. Proses tersebut juga menggunakan air dingin sebagai media perpindahan panas. Sehingga hasil metanol berupa liquid dialirkan menuju methanol tank, sedangkan vapor dialirkan kembali menuju collection tank untuk memperoleh produk CNCG kembali. Produk metanol digunakan sebagai bahan bakar di lime kiln, recovery boiler, incinerator. DNCG diperoleh dari hasil vapor tangki penyimpanan, baik dari area fiber line maupun area energy. Vapor tersebut dialirkan menggunakan blower menuju cooling scrubber. Dalam cooling scrubber, terdapat spray yang digunakan untuk menyemprot air dengan tujuan untuk mengikat kandungan SO2 di dalam vapor (DNCG), sementara vapor yang terkondensasi dan air menjadi kondensat. Cooling scrubber memiliki dua unit
yang berbeda, dimana kedua unit tersebut dipisahkan berdasarkan aliran sumber vapor yang masuk. Kondensat yang dihasilkan kemudian dikumpulkan dan disimpan dalam tangki kondensat, sedangkan hasil DNCG kemudian dikontakkan dengan LP steam. Sehingga DNCG dapat digunakan sebagai bahan bakar di recovery boiler, multi fuel boiler, dan incinerator.
3.2.5 Recausticizing
Recausticizing merupakan serangkaian proses pengolahan green liquor dari recovery boiler. Green liquor mengandung Na2S, Na2CO3 dan NaOH. Pada recausticizing, senyawa Na2CO3 akan direaksikan dengan senyawa kapur CaO untuk membentuk CaCO3.
Gambar 3.11 Recaustizing Lime Kiln Plant
Green liquor dimasukkan ke dalam surge untuk dihomogenkan menggunakan agitator. Kemudian dimasukkan ke green liquor clarifier untuk mengendapkan kotoran berupa dreg. Selanjutnya green liquor dipanaskan dengan steam menggunakan green liquor heater mencapai 85°C sebelum diumpankan ke slaker. Slaker merupakan unit pencampuran antara green liquor dengan zat kapur (CaO) dari hot lime silo. Temperatur pencampuran sekitar 106°C. Na2CO3 pada green liquor akan bereaksi dengan CaO dan air membentuk NaOH dan CaCO3. Dari alat slaker white liquor akan diolah lagi pada tangki causiticizer yang berjumlah 3 unit dialirkan secara overflow, dari causiticizer 1 ke causiticizer 2 dan causiticizer 3. Causiticizer ini membuat kandungan NaOH dari white liquor berkonsentrasi rendah menjadi konsentrasi tinggi. Kemudian white liquor yang
masih bercampur dengan lumpur dipompakan ke white liquor tank. White liquor tank dilengkapi dengan agitator yang dapat memisahkan white liquor dengan lumpur (lime mud). Selanjutnya white liquor akan dimasukkan ke white liquor storage dan lime mud akan dicuci di lime mud washer tank dengan cara pengadukan. Lime mud akan mengendap dan cairan bagian atas disebut weak wash liquor yang akan dipompakan ke dissolving tank untuk digunakan kembali pada unit recovery boiler. Lime mud yang telah dicuci dimasukkan ke dalam lime mud storage tank untuk selanjutnya dipompa ke lime mud filter dan diumpankan kembali ke lime kiln.
3.2.6 Lime Kiln
Lime kiln merupakan suatu alat yang dapat mengkalsinasi batu kapur (limestone) dan lime mud untuk mendapatkan kalsium oksida. Lime kiln merupakan tungku pembakaran yang bekerja berputar dengan kecepatan 1,6 rpm, diameter 3 meter dan panjang 79 meter. Bahan bakar yang digunakan pada lime kiln adalah minyak solar melalui sprayer yang ditambah dengan udara sehingga terjadi proses pembakaran. Proses pembakaran lime kiln diawali dengan penghancuran batu kapur hingga diperoleh serpihan dengan ukuran 2 – 12 mm.
Selanjutnya serpihan ini akan ditransportasikan menggunakan belt conveyor kemudian dicampurkan dengan lime mud dari lime mud filter pada proses recausticizing untuk dikalsinasi. Panas yang timbul akibat pembakaran induced draft fan (IDF) dan abu hasil pembakaran akan 82 terhisap sehingga pencemaran lingkungan dapat dikurangi. Produk hasil lime kiln berupa CaO yang digunakan pada proses recausticizing.
3.2.7 Turbin Uap
Turbin yang digunakan di PT. Toba Pulp Lestari Tbk adalah suatu penggerak dengan prinsip mengubah energi potensial uap bertekanan tinggi (high pressure steam) yang dialirkan dari multi-fuel boiler dan recovery boiler menjadi energi kinetik untuk selanjutnya diubah menjadi energi mekanis yang akan mneggerakkan generator yang akan menghasilkan energi listrik sekitar 29-31MW untuk kebutuhan seluruh pabrik. Turbin akan mengubah high pressure steam menjadi low pressure steam dan medium pressure steam. Steam yang dihasilkan
dari turbin uap dapat dialirkan ke berbagai plant/unit yang ada di pabrik seperti digester, evaporator, preheater pada recovery boiler dan lain-lain.
Gambar 3.12 Turbin Uap Plant
3.2.8 Multifuel Boiler
Gambar 3.13 Multifuel Boiler
Multi-Fuel Boiler merupakan boiler yang berjenis pipa air dengan kapasitas uap yang dihasilkan adalah 200 ton/hari pada tekanan 84 kg/cm2, sedangkan steam yang dihasilkan berada pada temperatur 490°C. Ketel uap atau boiler ini memanfaatkan bahan bakar dengan jenis biomassa seperti kulit kayu hasil pemotongan, cangkang sawit, dan serabut kelapa sawit, untuk
melalui proses pindah panas oleh gas nyala pada pipa air di sepanjang sisi dapur pembakaran pada temperatur 700 – 900°C. Uap yang dihasilkan melalui pembakaran tersebut akan digunakan untuk menggerakkan turbin untuk pembangkit listrik di mill dan komplek perumahan.
Tahapan multi fuel boiler ini tidak jauh berbeda dengan tahapan pada recovery boiler. Yang membedakan hanya bahan bakar dan kegunaannya.
Biomassa akan didistribusian menggunakan conveyor menuju bak penampungan sementara sebelum dibakar. Lalu pada MFB ini tidak ada water drum seperti pada RB, namun steam drum, economizer, dan ESP tetap ada dengan fungsi yang sama.
BAB IV
UTILITAS DAN PENGOLAHAN LIMBAH
4.1 UTILITAS
4.1.1 Unit Pengolahan Air
Air sungai yang masuk ke rapid mixing (sebanyak 4 buah) dilakukan penambahan poly aluminum chloride, hypo, caustic, dan alum sebagai koagulan.
Air yang telah ditambahkan bahan-bahan kimia tersebut kemudian masuk ke bagian slow mixing (sebanyak 3 buah) yang masing-masing dilengkapi dengan slow speed mixer yang bekerja secara seri untuk tujuan pengendapan secara kimia dan proses penggumpalan dengan dilakukan penambahan polimer sebagai flokulan. Air selanjutnya masuk ke tempat setting basin (sebanyak 12 buah) mengalir ke saluran dimana sebagian air masuk ke tangki penampungan clarified water dan sebagian lagi dilewatkan melalui 16 gravity filter dan selanjutnya ke tangki penampungan filter water.
Gambar 4.1 Proses Water Treatment 4.1.2 Demineralization Plant
Di dalam pabrik pulp untuk pengisian boiler dibutuhkan suatu air yang
jernih dan bebas dari mineral- mineral (air demineralisasi). Penggunaan air bebas mineral pada boiler untuk mencegah terjadinya korosi akibat adanya logam - logam kesadaan seperti Ca, Mg, CO3 2-, S04 2-, dan Cr sehingga dibutuhkan pengolahan air dengan tahap sebagai berikut:
1. Tahapan Filtrasi
Air keluar dari tangki penjernihan (filter water tank) di area water treatment plant masih mengandung sedikit kotoran yang terbawa dari residual klorin. Dan pada tahap filtrasi ini, kotoran-kotoran yang terbawa tersebut disaring dan air yang keluar menjadi lebih jernih dan mempunyai kekeruhan (turbidity) yang rendah serta batas maksimal residual klorin 1 ppm. Alat penyaring tersebut dinamakan karbon filter. Terdapat 3 unit karbon filter dan ketiganya dioperasikan menurut keperluan air yang diperlukan.
2. Tahapan Pertukaran Ion
Air proses yang sudah disaring dengan carbon filter akan dihilangkan (terutama ion-ion zat anorganik) dengan resin penukar ion, agar air yang dihasilkan tidak menyebabkan korosi oleh ion-ion Ca, Mg, SiO2, dan sebagainya dan yang menyebabkan korosi (oleh ion ion SO4 2-, Cl, dan sebagainya) pada pemakaian air untuk kriteria yang tinggi (umpan air boiler, air pendingin diesel dan sebagainya). Air yang sudah jernih tadi masih mengandung ion-ion dari logam dan sisa asam seperti Ca2+, Mg2+, Co32-, SO42-, Fe2+, Cl-. Selanjutnya air itu dikirim ke tahapan pengolahan untuk penghilangan/pertukaran ion agar dihasilkan air yang bebas mineral (demineralisasi water) melalui cation exchanger dan anion exchanger.
3. Mix Bed
Mix bed tank berfungsi untuk mengikat sisa-sisa dari anion dan kation, bisa dilakukan sekaligus dari kation ditambah dengan anion agar yang masuk kedalam mixing tank bebas dari kation dan anion. Metode regenerasi juga mempengaruhi kapasitas resin, jika regenerasi tidak sempurna, maka otomatis kapasitas resin akan menurun. Setelah air dari sungai Asahan diproses di clarified water pada water treatment plant,
maka dilanjutkan dengan proses demineralisasi. Pada proses ini bertujuan untuk menghilangkan kandungan Mg, Ca, Fe dengan mengelola air secara kimia. Tahapan ini dimulai dengan mengalirkan air dari water treatment plant ke activated carbon filter. Pada activated carbon filter menggunakan karbon aktif dalam proses penyaringan dimana bertujuan untuk penyempurnaan penyaringan air dari gravity filter. Jumlah activated carbon filter digunakan sebanyak 3 buah. Setelah melalui tahap penyaringan dari activated carbon filter, selanjutnya dilakukan pemisahan kandungan ion pada air. Pemisahan ion yang dilakukan pada tahap awal adalah dengan menggunakan cation exchanger, dimana pada unit ini ditambahkan resin trap (perangkap resin) yang berfungsi untuk mengikat kandungan ion positif dari air. Cation exchanger bertujuan untuk memisahkan kandungan ion positif dari air dan digunakan cation exchanger sebanyak 4 buah. Setelah kandungan ion positif dari air telah dipisahkan, maka dilakukan proses gasifikasi pada gasifier, dimana bertujuan untuk menghilangkan kandungan gas dalam air dan apabila dalam air terdapat kandungan gas maka dapat menyebabkan korosifitas pada alat yang digunakan. Selanjutnya, air dialirkan ke anion exchanger bertujuan untuk memisahkan kandungan ion negatif pada air dan ditambahkan resin trap ke dalam anion exchanger dan digunakan sebanyak 4 buah. Setelah dilakukan proses pemisahan kandungan ion pada air, maka air dialirkan ke dalam demin tank. Dari demin tank, air dialirkan ke mix bed, dimana pada tahap ini dilakukan kembali penghilangan kandungan ion negatif dan positif pada air dengan menambahkan resin trap. Lalu air dialirkan ke heat exchanger dengan input yaitu air dari mix bed dan juga kondensat dari tangki kondensat dengan output yaitu air yang akan dialirkan ke mixing tank dan air yang dialirkan ke deacrator dimana dari deacrator akan dialirkan kembali ke mixing tank. Selanjutnya air dari mixing tank dialirkan ke water heater dengan keadaan tekanan steam yang rendah (low pressure steam).
4.1.3 Water Cycle
Dalam proses produksinya industri pulp membutuhkan banyak air dalam
jumlah yang sangat besar. Air dari sisa produksi (proses washing, screening dan bleaching) akan diolah kembali dan dimanfaatkan kembali. Kegiatan dalam mengolah air sisa produksi adalah dengan menambah zat kimia untuk memisahkan serat dengan air dari black liqour. Serat yang berhasil dipisahkan akan di press untuk mengurangi kadar air kemudian dikirim ke tempat penyimpanan bahan baku untuk diproses kembali. Sedangkan air bersih akan dikirim ke tangki air untuk digunakan kembali sebagai bahan baku dalam proses produksi. Alat yang digunakan untuk memisahkan serat dan air dikendalikan dengan menggunakan komputer di ruang Distribution Control System. Pengolahan air sisa produksi merupakan upaya untuk menghemat penggunaan air dan mengurangi volume limbah cair yang harus diolah oleh unit pengolahan limbah.
4.2 PENGOLAHAN LIMBAH
PT. Toba Pulp Lestari memiliki Departement Environment yang melakukan pengendalian limbah (padat, cair, dan gas) dengan menerapkan prinsip reduce, reuse, recycle, dan recovery. Unit Pengolahan Limbah (UPL) cair berfungsi untuk mengolah limbah cair sebelum dibuang ke sungai Asahan, limbah padat seperti sludge dan kulit kayu digunakan kembali sebagai bahan bakar, dan limbah gas diolah terlebih dahulu melalui filter di mana emisi gas yang keluar tidak boleh melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh pemerintah. Sehingga PT. Toba Pulp Lestari telah memperoleh Green PROPER karena telah mampu menjaga emisi < 50% yang ditetapkan pemerintah.
4.2.1 Limbah Padat
Limbah padat yang dihasilkan berupa kulit kayu hasil pencacahan bahan baku. Limbah kulit kayu tersebut dimanfaatkan sebagai bahan bakar pada unit Multifuel Boiler. Sementara debu hasil pembakaran dikendalikan dengan menggunakan alat pengendali berupa Electrostatic Presipitator (ESP), kemudian di recycle kembali dan dicampur dengan heavy black liqour sebelum dibakar.
4.2.2 Limbah Cair
Limbah cair yang dihasilkan berupa hasil pengolahan dari ash leaching yang mengandung chloride dan potassium yang mana sebagian hasil pengolahan
dari ash leaching diolah kembali di leaching tank dan sebagian lagi langsung masuk ke effluent.
4.2.3 Limbah Gas
Limbah gas yang dihasilkan pada proses bleaching yaitu gas ClO2
(chlorine dioxide). Proses pengelolaan limbah gas ini dilakukan dengan menggunakan scrubber di mana semua gas ClO2 dialirkan sehingga kadar ClO2
dapat berkurang. Selanjutnya gas tersebut di monitoring dengan CEMS agar berada pada ambang batas minimal. Limbah gas yang berasal dari multifuel boiler, recovery boiler, lime kiln diolah dengan ESP (Electrostatic Precipitator).
Gas yang dihasilkan ditangkap berdasarkan muatan elektron yang dimilikinya.
Muatan elektron pada limbah gas ditangkap dengan muatan elektron pada ESP sehingga partikel tersebut jatuh ke bawah. Partikel yang jatuh tersebut dapat diolah kembali. Pada lime kiln partikelnya diolah kembali untuk proses kalsinasi dan partikel yang sangat kecil atau tidak bermuatan dilepaskan ke udara
BAB V TUGAS KHUSUS
PENGARUH PERSENTASE TOTAL SOLID (%TS) BLACK LIQUOR DAN PENAMBAHAN NA
2SO
4TERHADAP KADAR
NA
2S YANG TERKANDUNG PADA GREEN LIQUOR
5.1 LATAR BELAKANG
Proses produksi pulp menghasilkan limbah cair yang merupakan sisa pencucian pulp dan sisa pemasakan dari digester yang disebut black liquor (BL).
Black liquor ini termasuk limbah cair B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya) jika langsung dibuang ke lingkungan dapat menyebabkan pencemaran (Adurrahman, dkk., 2023).
Black liquor yang dikirim ke unit recovery boiler diproses untuk menghasilkan green liquor dan steam. Green liquor diproses untuk menghasilkan white liquor yang kemudian dimanfaatkan kembali sebagai larutan pemasak pada pulp making (Masnur, dkk., 2023).
Total solid weak black liquor sekitar 14% dan 86% air. Weak black liquor perlu ditingkatkan total solidnya agar memungkinkan pada proses pembakaran. Heavy black liquor memiliki total solid sekitar 68 – 73% dengan nilai bakar sekitar 14500 kJ. Heavy Black Liquor mengandung 20-30% senyawa kimia anorganik dengan kandungan utama yaitu Na2CO3, Na2SO4, NaOH, Na2S dan 40-50% senyawa organik yang berasal dari kayu selama pemasakan di digester dan sisanya adalah air. Kandungan solid dalam black liquor merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam operasi recovery boiler. Heavy black liquor (HBL) yang digunakan pada recovery boiler merupakan hasil dari proses pemekatan pada evaporator. Kandungan TS yang tidak sesuai dalam HBL akan membuat proses pembakaran berlangsung tidak sempurna di recovery boiler.
Selain itu, kandungan Na2S yang terkandung pada black liquor masih dalam persentase yang rendah sekitar 10-15% sehingga kadar persentase Na2S perlu ditingkatkan. Kandungan Na2S yang baik pada green liquor sekitar 25-35%.
Penambahan Na2SO4 akan meningkatkan persentase kadar Na2S yang terkandung pada green liquor. Tetapi proses pembakaran yang tidak sempurna akan menurunkan efisiensi reduksi dan Na2S yang dihasilkan. Untuk itu, perlu dilakukan analisa untuk melihat pengaruh persentase total solid black liquor terhadap kadar Na2S pada green liquor dan analisa untuk mengetahui pengaruh penambahan Na2SO4 terhadap kadar Na2S yang dihasilkan.
5.2 RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dari tugas khusus ini adalah:
1. Bagaimana pengaruh total solid heavy black liquor terhadap kadar Na2S yang terkandung dalam green liquor.
2. Bagaimana pengaruh penambahan Na2SO4 terhadap kadar Na2S yang terkandung dalam green liquor.
3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kandungan kadar Na2S dalam green liquor.
5.3 TUJUAN TUGAS KHUSUS
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari tugas khusus ini adalah:
1. Memahami pengaruh total solid heavy black liquor terhadap kadar Na2S yang terkandung dalam green liquor.
2. Memahami pengaruh penambahan Na2SO4 terhadap kadar Na2S yang terkandung dalam green liquor.
3. Memperoleh hasil dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kadar Na2S dalam green liquor.
5.4 RUANG LINGKUP
Tugas khusus ini dilaksanakan di PT. Toba Pulp Lestari pada tanggal 11 Juli 2023 – 11 Agustus 2023. Dalam tugas khusus ini penulis mencoba
menganalisa pengaruh persen total solid heavy black liquor dan penambahan Na2SO4 terhadap kualitas green liquor yang dihasilkan.
5.5 TINJAUAN PUSTAKA 5.5.1 Recovery Boiler
Recovery boiler memiliki steam bertemperatur 480oC dan bertekanan 65 kg/cm3 yang biasanya digunakan sebagai pembangkit listrik (high pressure steam) (Saragih, dkk., 2022). Recovery boiler pada PT. Toba Pulp Lestari menggunakan black liquor sebagai bahan bakarnya untuk menghasilkan steam.
Recovery boiler merupakan suatu unit boiler yang berfungsi untuk mereduksi sodium sulphate menjadi sodium sulphide sehingga memurnikan senyawa-senyawa kimia anorganik yang terkandung dalam black liquor, membakar kandungan organik black liquor dan sekaligus sebagai pembangkit steam bertekanan tinggi. Bahan bakar boiler adalah black liquor yang telah ditingkatkan kadar solidnya. Weak black liquor memiliki 14–17% kadar solid.
Syarat agar black liquor dapat terbakar di furnace adalah kadar solidnya lebih dari 72%. Oleh karena itu weak black liquor dipekatkan terlebih dahulu menjadi heavy black liquor dengan cara menguapkan air pada weak black liquor dengan vacuum evaporator. Heavy black liquor mengandung senyawa anorganik dengan kandungan utama Na2CO3, Na2SO4, NaOH, Na2S, dan senyawa organik yang berasal dari kayu selama pemasakan di digester berupa serat kayu dan lignin serta air. Energi panas yang terkandung dalam heavy black liquor berkisar 3100-3500 kcal/kg dry solid.
Energi panas digunakan untuk mengkonversi senyawa anorganik dan membentuk steam bertekanan tinggi. Proses pengeringan pirolisis dan gasifikasi terjadi sebelum HBL sampai ke dasar furnace oleh hembusan udara panas. Proses gasifikasi berfungsi untuk mereduksi sodium sulfat menjadi sodium sulfit.
Reaksinya sebagai berikut :
Sodium sulfat membantu dalam proses pemasakan di digester agar mencapai reduksi maksimum dari sulfat menjadi sulfida melalui proses recovery boiler. Ukuran kualitas reduksi ini dinamakan reduction efficiency. Kecepatan reduksi ini dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
Kecepatan reduksi(%)= Na2S
Na2S+Na2SO4×100 % 5.5.2 Pembakaran Black Liquor
Pembakaran di dalam recovery boiler akan menghasilkan residu (Na2CO3, Na2S, dll). Ketika dilarutkan dalam air, larutan tersebut akan membentuk menjadi ‘Green Liquor’ yang selanjutnya dapat digunakan sebagai white liquor setelah dilakukan beberapa treatment (Sumarna, dkk., 2023).
Untuk memulai pembakaran di furnace dan untuk menstabilkan kondisi pembakaran digunakan bahan bakar solar yang disemprotkan start-up burner dan load burner kedalam furnace. Selama pembakaran terjadi beberapa proses yaitu senyawa-senyawa organik terbakar melepaskan panas dan sebagian berubah menjadi gas, sodium sulfat (Na2SO4) direduksi menjadi senyawa sodium sulfit (Na2S) dan senyawa-senyawa anorganik meleleh seperti lahar merah yang disebut smelt. Area penyemprotan dapat divariasikan dengan merubah panjang dari spray gun dan dengan merubah lip angle (sudut lidah) dari nozzle. Apabila area penyemprotan harus dinaikkan, misalnya karena rendahnya dry solid dari black liquor sehingga pembakaran normal tidak bisa dipertahankan maka stroke dari spray gun dapat dinaikkan dengan memperpanjang leher (gun) dari spray gun tersebut. Didistribusi dari black liquor pada kedua sisi dari furnace harus sama, untuk itu mengatur spray gun dapat dilakukan dengan merubah sebuah “inner connecting rod” yang dikoneksi diantara eccentric dari gearbox dan spraygun.
Level area penyemprotan dari spray gun juga diatur dengan menaikkan atau menurunkan gun dengan cara yang sama seperti diatas dan juga besarnya area penyemprotan dapat dinaikkan atau dikurangi dengan menggerakkan (memutar) ujung rod didalam eccentric. Dalam mempergunakan lip angle (sudut lidah spray gun) harus dipilih dengan hati-hati untuk dimensi furnace yang sesuai.
Karena untuk furnace yang lebih lebar dan lebih besar penggunaan lip angle dari