• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. PENYAJIAN DATA DAN INTERPERTASI DATA

4.2. Profil Informan

4.3.1. Pendapat Pengurus tentang Kegiatan pember

Erlina Seha E Pardede atau biasa dipanggil kak Erlina oleh rekan-rekannya di kerja, merupakan Ketua dewan pengurus di Pesada. Kak Erlina yang merupakan salah seorang dari pendiri memulai perhatiannya akan perempuan pada tahun 1990.

Dimana tugasnya adalah mengatur dan mengawasi semua kegiatan di Pesada yang salah satu dari fokus Pesada adalah pemberdayaan perempuan dalam politik sehingga Pesada sebagai sebuah lembaga sosial di masyarakat berfungsi sebagai tempat untuk medapatkan informasi politik perempuan, pendampingan, diskusi-diskusi, seminar, pelatihan, lokakarya dan siaran pers dapat menjalankan peranannya sesuai dengan visi dan misi serta sesuai dengan yang diharapkan oleh masyarakat.

Menurut kak Erlina keberadaan Pesada sebagai lembaga yang ada didesa Jambu Bellang yang mempunyai kegiatan pemberdayaan politik perempuan sangat penting dan berguna bagi perempuan yang mengalami kemiskinan dalam politik karena ketidaktahuan mereka akan politik sebagai hak dan kewajiban. Saat ini tidak ada lagi alasan untuk tidak melibatkan perempuan dalamn segala proses dan pembuatan kebijakan. Panggung perpolitikan sebetulnya tidak elok dan tidak ideal ketika hanya laki-laki yang mendominasi. Harus ada perempuan yang berperan penting, demokrasi tidak ada jika perempuan tidak sepenuhnya berperan “No Democracy Without Women”. Pesada menangkap dan melihat hal ini akan sangat minimnya keterlibatan perempuan dalam pembuat kebijakan, dan tentu ini tidak harus

kemiskinannya dan pemberdayaan adalah merupakan salah satu cara bagi perempuan untuk lepas dari kemiskinannya, sehingga perempuan akan mampu untuk berperan dalam politik. Pesada mengangkat isu mengenai pemberdayaan perempuan, bahkan wacana mengenai pemberdayaan politik perempuan akhirnya menjadi salah satu isu penting yang mencuat ditengah euphoria demokartisasi.

“Pesada sebagai wadah bagi perempuan dalam mendapatkan pengetahuan akan politik perempuan melalui kegiatan-kegiatan pendampingan, diskusi-diskusi, seminar, pelatihan, pemberian bulletin Suara Perempuan maupun siaran pers yang dilakukan, dalam membantu dan membawa perempuan sebagai subyek kebijakan bukan hanya sebagai obyek kebijakan. dan selain itu Pesada juga memberikan penguatan dalam ekonomi karena kita ingin perempuan juga sebagai pelaku dari ekonomi dalam rumah tangganya”. (wawancara dengan informan Erlina, November 2008).

pesada memberikan pemberdayaan mengenai politik perempuan dengan menerapkan pola pendampingan, pola pendampingan dimaksudkan agar perempuan tidak merasa canggung antara pemberi dan penerima. Dalam semua kegiatan yang dilakukan berusaha menyelesaikan dari setiap hal yang tidak dipahami oleh perempuan, hal ini dianggap biasa karena tidak semua yang ikut pemberdayaan merupakan orang-orang yang mempunyai pendidikan sehingga kegiatan dan tujuan yang hendak dicapai tercapai.

“Metode yang dilakukan adalah pola pendampingan, artinya antara sipenerima dan sipemberi tidak ada merasa canggung sehingga membuat mereka lebih mudah untuk membukakan pemikirannya dan mampu lebih cepat menerima hal-hal yang dianggap tabu sebelumnya dan menyelesaikan dari setiap hal yang tidak diketahui apalagi sesuai tingkat pendidkan mereka, karena memang pertama yang kita lakukan adalalah membuat mereka sadar dulu akan pentingnya mereka mengetahui politik

prempuan, nah ketika mereka sudah mempunyai kesadaran akan lebih mudah untuk meberitahukan kepada mereka. ” (wawancara dengan informan Erlina, November 2008 ).

Tujuan dari pemberdayaan yang hendak dicapai dalam pemberdayaan adalah yang pertama meyakinkan bahwa perempuan terwakilkan di lembaga-lembaga pengambilan keputusan, Pesada mendorong perempuan harus ada yang mewakili dalam pengambilan keputusan. Yang kedua adalah dalam setiap pengambilan keputusan yang harus diperhatikan apakah dalam keputusan itu memperhatikan tentang kesetaraan dan keadilan gender di lembaga-lembaga dimana ada pengambilan keputusan. Pesada bukanlah sebagai mesin yang mengubahkan manusia tetapi Pesada hanya memfasilitasi untuk menyampaikan kepada perempuan bahwa dia punya aspirasi terhadap kebutuhan-kebutuhan itu tadi lewat pemberdayaan.

”Tujuan yang ingin kita capai dari kegiatan ini adalah pertama, kita meyakinkan bahwa perempuan terwakilkan, dengan mereka mengikuti kegiatan ini akan ada muncul sebagai wakil perempuan dalam pembuat kebijakan, kedua adalah kita mau pastikan dalam pengambilan keputusan adanya kebijakan- kebijakan yang memperhatikan tentang kesetaraan dan keadilan gender dalam lembaga pengambilan keputusan sebagai contoh kecil lembaga desa”. (wawancara dengan informan Erlina, November 2008) .

Diharapakan dengan adanya kegiatan pemberdayaan kita mengharapkan akan muncul kesadaran akan perlu dan pentingnya perempuan dalam politik, kita membuat mereka sadar akan haknya, sadar akan pikirannya, pandangan-pandangannya berubah semuanya setelah mengikuti pemebrdayaan. Kemandirian mereka sudah terlihat diawali dari mereka setiap kegiatan pertemuan-pertemuan di Pesada mereka sudah berani kritis dalam memandang dan melihat sesuatu. Bagi Pesada Kesadaran merupakan awal dari kegiatan pemberdayaan karena apabila kesadaran telah muncul maka dengan sendirinya ia akan mempunyai keinginan untuk melakukannya ayng

Kak Erlina juga mengatakan kegiatan pemberdayaan ini membawa dampak bagi perempuan didesa ini terbukti dengan munculnya beberapa caleg-caleg dengan keberanian seperti itu, dan yang berikutnya Erlina melihat bagaimana ketika Pilkada dalam kampanye-kampanye perempuan mempunyai keberanian untuk mengkritisi pernyataan yang salah dari calon pemimpin daerah dan hal yang sama mereka lakukan kepada caleg-caleg. Jadi sampai saat ini perempuan didesa ini sudah mempunyai kesadaran politik partisipatif.

”Kegiatan pemebrdayaan ini meutur saya sampai saat ini membawa dampak bagi perempuan terbukti sudah muncul beberapa caleg-caleg dan pada waktu pilkada ketika calon kepala daerah melakukan kampanye mereka berani untuk mengkritisi pernyataan dan apabila menurut mereka salah, jadi sampai saat ini perempuan didesa ini sudah mempunyai kesadaran politik partisipatif”. (wawancara dengan informan Erlina, November 2008).

4.4. Interpretasi Data

4.4.1. Pengetahuan Masyarakat Perempuan Mengenai Pemberdayaan Politik Perempuan

Pengetahuan masyarakat perempuan mengenai pemberdayaan politik perempuan dinilai sudah cukup baik setelah mengikuti pemberdayaan, karena pada dasarnya perempuan-perempuan yang ikut dulunya tidak mengerti bahkan mengalami kebutaan dalam arti perempuan tidak mengetahui sama sekali dan mengalami kegelapan dalam pemahaman akan politik perempuan. Selain mengerti, perempuan- perempuan dinilai sudah mempunyai kesadaran yang tinggi akan peran perempuan

dalam keikutsertaan untuk berpolitik. Hal itu terlihat dari jawaban-jawaban yang dilontarkan para informan tentang pengtahuan mereka mengenai pemberdayaan politik perempuan yang meliputi apakah yang dimaksud dengan pemerdayaan politik perempuan, apakah pemberdayaan politik perempuan itu perlu untuk perempuan, apa manfaat yang diperoleh dari pemberdayaan, dan bagaimana pengaruhnya terhadap lingkungan. Sebagaimana yang dilontarkan informan sebagai berikut:

”Pemberdayaan politik perempuan itu sebagai upaya atau cara pembangunan terhadap perempuan-peremepuan yang termarginalkan dalam politik. Jadi diharapakanlah perempuan yang termarginalkan tadi akan mempunyai posisi tawar dalam status, posisi, kondisi dengan laki-laki dimasyarakat. Kenapa harus dilakukan pemberdayaan terhadap perempuan? Karena memang perempuan yang termarginalkan dalam politik klo laki- laki sudah di beri. Ketika ada sautu upaya pemberdayaan dilakukan untuk perempuan tadi maka paling tidak perempuan diharapkan akan bisa berhadapan dengan kelompok laki-laki”.

(wawancara dengan informan Rismawaty, November 2008).

”Pemberdayaan politik perempuan bukan hanya perlu tetapi perempuan sangat membutuhkannya terutama perempuan- perempuan yang seperti kami ini yang sangat jauh dari akses tentang politik perempuan membuat kami semakin buta tidak mengetahui apa-apa akan politik, namun dengan adanya pemberdayaan ini turut menolong sebagai suatu cara untuk meningkatkan dan membawa perempuan untuk berpartisipasi aktif menjadi pelaku proses pembangunan”. (wawancara dengan informan Ronna, November 2008).

”Pemberdayaan yang dilakukan membantu perempuan sadar secara rasional tidak ikut-ikutlah dengan orang lain, jadi ngerti.

Perempuan yang tidak tahu akan politik dan yang sangat jauh dari informasi akan politik tidak harus di apa namanya e..di (peneliti membantu mengingatkan maksud kata dari informan) o ya dikukung dengan ketidaktahuan akan politik tadi, karena lewat pemberdayaan yang dilakukan sudah nantinya bisa menjawab persoalan-persoalan perempuan tadi. (wawancara

”Kegiatan pemberdayaan tentang politik perempuan pastilah bermanfaat bagi perempuan terutama perempuan desa seperti kami ini yang jauh tertinggal dibandingkan perempuan kota, karena paling tidak kan perempuan kota sudah lebih banyak mendapat informasi tentang politik perempuan nah dengan pemberdayaan yang dilakukan diharapkan membawa kami ke tahap kesadaran biar mempunyai keinginan berperan dalam politik dan dapat jadi mandiri kan”. (wawancara dengan informan Remsina, november 2008).

”Jadi klo menurut saya kegiatan ini baik terhadap lingkungan desa, karna dengan terbukanya pemikiran kami dan ngerti akan peranan kami sebagai perempuan di politik ternyata perempuan harus melibatkan diri untuk memperjuangkan hak-haknya itu saya tau setelah saya ikut”. (wawancara dengan informan Dina, November 2008).

”Kalau saya pribadi ditanya saya senang dengan adanya kegiatan ini karena selain membuat saya sadar saya juga punya sedikit tahulah kenapa perempuan harus diadakan pemberdayaan perempuan. Kan kita perempuan juga harus mau terlibat, janganlah hanya mau dirumah-rumah saja enggak mau tau keadaan kita sebagai perempuan”. (wawancara dengan informan Ibu Rosmita, November 2008).

”Apa yang dibuat Pesada bagus dan punya manfaat, jadi bisalah jadinya tahu lebih setelah adanya kegiatan ini. Jadi klo selama ini kan perempuan-perempuan disini sangat anti dengan politik, banyak orang bilang politik itu kotor, nah..kotorlah jadinya politik itu kalau salah digunakan kan gitunya. Trus karena selama ini orang-orang nganggap politik itu juga enggak untuk perempuan jadinya orang-orang bilang ke perempuan yang ikut kegiatan kayak ini ”petoal-toalken” kalau kebahasa indonesianya sok-sokkan. Tapi klo pun itu dibilang orang-orang saya enggak gitu peduli karena saya kan tahu kenapa saya harus ikut pemberdayaan, toh kan manfaatnya untuk saya juga kan.

(wawancara dengan informan Ibu Hotmaida, November 2008).

Bedasarkan hasil wawancara dengan para informan terlihat jelas bahwa perempuan yang mengikuti kegiatan pemberdayaan telah mempunyai tingkat kesadaran yang baik, mereka menyadari akan perlunya perempuan berpartisipasi dalam politik, dan dari kesadaran itu telah mengetahui bagaimana peran perempuan

yang sampai pada akhirnya dari kesadaran menuju ketahap pengetahuan dan pengetahuan yang mereka miliki membawa ketahap untuk berpartisipasi secara langsung. Untuk itu sangat diperlukan tempat kegiatan yang dapat memfasilitasi perempuan-perempuan untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih mendalam lagi tentang politik perempuan. Pengetahuan mereka mengenai politik perempuan tidak hanya terbatas pada masalah kesadaran dan pengetahuan saja tetapi bagaimana keterlibatan mereka langsung dalam politik.

Perempuan-perempuan desa Jambu Bellang sebelumnya masih sangat minim akan informasi terhadap politik, namun dengan seiring semakin lama mereka mengikuti kegiatan semakin muncul keinginan mereka dalam mencari informasi tentang politik perempun seperti pengakuan mereka dalam tabel berikut bahwa sumber mereka selama ini untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan seputar politik perempuan adalah sebagai berikut:

Tabel 2

Sumber Masyarakat Perempuan untuk Mendapatkan Informasi dan Pengetahuan Seputar Politik Perempuan

No Nama Sumber Informasi

1. Ronna Majalah (suara perempuan/bulanan Pesada, majalah pakpak), media massa (televisi)

2. Rismawaty Majalah (suara perempuan/bulanan Pesada), majalah pakpak, media massa (televisi)

3. Remsina Majalah (suara perempuan/bulanan Pesada), media massa (televisi)

4. Dina Majalah (suara perempuan/bulanan Pesada), media massa (televisi)

5. Ristati Majalah (suara perempuan/bulanan Pesada), media

6. Rosmita Pandiangan Majalah (suara perempuan/ bulanan Pesada), media massa (Televisi)

7. Hotmaida Majalah (suara perempuan/ bulanan Pesada), media massa (Televisi)

Sumber : Wawancara dengan informan, November 2008

Berdasarkan tabel dua (2) diatas dapat dilihat bahwa belum banyak atau masih kurang media atau sumber yang dapat diakses oleh perempuan untuk mendapatkan pengetahuan mereka mengenai politik perempuan, sebahagian hanya mendapatkan sebuah majalah yang difasilitasi oleh pesada secara gratis, dan dari televisi yang mereka punya dan sebahagian lagi dari majalah pakpak yang beberapa kali membahas mengenai politik perempuan. Meskipun dengan keterbatasan sumber untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi mengenai politik perempuan pada dasarnya perempuan-perempuan yang menjadi informan dalam penelitian ini telah mengetahui dengan baik dan benar apa itu politik perempuan.

4.4.2. Respon Masyarakat dengan Keberadaan Pesada Tabel 3

Respon Masyarakat dengan Keberadaan Pesada No Nama Setuju dengan keberadaan

Pesada

Tidak setuju dengan keberadaan Pesada

1. Ronna Sangat setuju -

2. Rismawaty Ya, setuju -

3. Remsina Sangat setuju -

4. Dina manik Sangat setuju -

5. Ristati Sangat setuju -

8. Rosmita Setuju -

9. Hotmaida Sangat setuju -

10. Beres Padang Sangat setuju - Sumber : Wawancara dengan informan, November 2008

Berdasarkan tabel tiga (3) diatas dapat dilihat bagaimana respon dari para informan akan pertanyaan tentang keberadaan Pesada di tengah –tengah masyarakat sangat setuju dengan keberadaan Pesada sebagai lembaga sosial yang menagani masalah pemberdayaan politik perempuan. Hal ini diperkuat dengan dengan pendapat-pendapat informan yang diutarakan tentang keberadaan Pesada sebagai tempat untuk mendapatkan pemberdayaan politik supaya masyarakat mempunyai

kesadaran, pengetahuan, berpartisipasi dan kritis. Berikut adalah pendapat para informan tentang keberadaan Pesada.

“Saya sangat setuju dengan adanya Pesada sebagai sebuah lembaga sosial yang menangani masalah keterbelakangan perempuan dalam politik terutama didesa kami ini, hal ini sangat bermanfaat karena dapat sebagai sarana untuk kami dibawa pada fase sadar akan keterlibatan perempuan didalam politik. Pesada telah membawa kami percaya diri ketika kami berhadapan dengan laki-laki, kami tidak perlu untuk takut atau minder lagi.

Hal itu semua didapat setelah mengikuti pemberdayaan politik perempuan, jadi pesada pas untuk perempuan desa kami seperti ini.” (wawancara dengan iforman Ronna, November 2008).

“Dengan adanya lembaga sosial seperti Pesada yang menagani masalah perempuan khususnya dibidang politik tentu saja membawa kebaikan kepada perempuan-perempuan yang jauh dari akses informasi pengetahuan akan politik. Dengan keberadaan Pesada sebagai pusat penguatan perempuan membuat perempuan yang tidak sadar dan tidak tahu menahu akan politik untuk ikut berpartisipasi dalam politik. Jadi sangat disayangkan kalau banyak sekali perempuan yang tidak sadar akan perlunya perempuan berpartisipasi dalam politik, justru saatnya perempuan harus menunjukkan kemampuannya. Selama ini banyak perempuan menganggap politik itu tidak perlu, menganggap itu hanya untuk laki-laki, padahal yang mengetahui akan kebutuhannya dan untuk membuat kebijakan akan keperluan perempuan adalah perempuan itu sendiri, kaulah dulu berpikir kan bagaimana mungkin laki-laki akan lebih memperjuangkan hak atau kepentingan kita perempuan, jadi siapa lagi kalau bukan perempuan itu sendiri”. (wawancara dengan informan Rismawaty, November 2008).

“Selama ini yang saya tahu belum ada lembaga-lembaga yang mengadakan kegiatan untuk bisa memfasilitasi dengan memberi pengetahuan akan politik perempuan selain Pesada, saya sebagai kepala desa yang tidak ikut pemberdayaan pun ikut senang, karena Pesada sebagai lembaga sosial mempunyai tempat yang positif untuk pembangunan perempuan, dapat dilihat perempuan yang ikut kegiatan pemberdayaan sudah ikut berpartisipasi akan pembangunan desa dan derajat perempuan sudah meningkat sekalipun belum sepenuhnya seperti yang diperjuangkan oleh Pesada dan pasti itu bertahap”. (wawancara dengan informan Beres Padang, November 2008).

Pada dasarnya para masyarakat sangat setuju dengan keberadaan Pesada sebagai lembaga sosial yang menangani masalah politik perempuan di desa Jambu Bellang. Selain pendapat yang diutarakan oleh masyarakat yang ikut maupun tidak mengikuti pemberdayaan mengenai pendapat dan respon mereka tentang keberadaan Pesada, para pengurus juga merasa keberadaan Pesada sebagai tempat pemberdayaan perempuan telah mendapatkan respon yang baik dari masyarakat khususnya masyarakat perempuan dan didukung oleh semakin bertambahnya perempuan- perempuan yang mau ikut pemberdayaan dan samapai saat ini sudah berjumlah tujuh puluh tiga (73) orang. Hal ini terungkap dari pernyataan dari informan berikut:

“Saya merasa kegiatan pemberdayaan yang diadakan oleh Pesada mendapat respon yang baik dari masyrakat khususnya para perempuan, hal ini terlihat dari semakin meningkatnya pertambahan anggota untuk mengikuti kegiatan”. (wawancara dengan informan Erlina Seha, Noveber 2008).

Tabel 4

Data Pemberdayaan Perempuan Desa Jambu Mbellang

No Nama Pendidikan Pekerjaan

1 Berta Nainggolan SLTA Guru

2 Cedi Tumangger SMP Tani

3 Ronna Berutu SLTA Tani

4 Idem Girsang SMP Tani

5 Dermita Tumangger SD Tani

6 Osir Manik SD Tani

7 Tinnen Bancin SLTA Tani

8 Riris Manik SD Tani

9 Rismawaty Berutu SLTA wiraswasta

11 Risdem Padang SD Tani

12 Letmi Padang SD Tani

13 Derli Padang SD Tani

14 Rasta Tumangger SD Tani

15 Linta Padang SD Tani

16 Naomi Boangmanalu SLTA PNS

17 Sonta Tindaon SD Tani

18 Dina Manik SLTP Tani

19 Lisbet Padang SD Tani

20 Tomas Berutu SD Tani

21 Lambok Cibro SD Tani

22 Nosi Tumangger SD Tani

23 Rusli Berasa SD Tani

24 Dewi Ginting SD Tani

25 Nima Banurea SD Tani

26 Maun Padang SD Tani

27 Sura Padang SD Tani

28 Dumariansa Tumangger SD Tani

29 Sale Cibro SD Tani

30 Bungauli Manik SD Tani

31 Tinur Tumangger SD Tani

32 Remsina SLTA wiraswasta

33 Ristati Padang SLTA wiraswasta

34 Rasma Munte SD Tani

35 Norma Padang SD Tani

36 Linda Banurea SD Tani

37 Nurhayati Banurea SD Tani

38 Periana Samosir SD Tani

39 Nurianti Manik SD Tani

40 Sitta Bancin SD Tani

41 Hotmaida Berutu SLTA wiraswasta

42 Merdi Padang SD Tani

43 Helleria Kesogihen SD Tani

44 Angsir Tumangger SD Tani

45 Jenni Saragih SD Tani

46 Salma Padang SD Tani

47 Hermince Siringoringo SD Tani

48 M.Sihombing SLTA wiraswasta

49 Lenna Bancin SD Tani

50 Lidia Padang SD Tani

51 Rahima Padang SD Tani

52 Tiormianna Tinambunan SD Tani

53 Roida Bancin SD Tani

54 Renti Bancin SD Tani

55 Lastri Tamba SD Tani

56 Rosmita Pandiangan SLTA wiraswasta

57 Dani Tumangger SD Tani

58 Suardi Tumangger SD Tani

59 Noralisa Hasugian SD Tani

60 Ernawati Padang SD Tani

61 Poti Padang SD Tani

62 Agnes Banurea SLTA Wiraswasta

63 Rosmaya Cibro SD Tani

64 Pastina Rumasondi SD Tani

65 Mewah Manalu SD Tani

66 Jeremia Karokaro SD Tani

67 Eko Karokaro SD Tani

68 Lasma Tindaon SD Tani

69 Yunetti Bancin SD Tani

70 Santi Manalu SD Tani

71 Narita Tindaon SD Tani

72 Ristati Padang SLTA wiraswasta

73 Rosdiana SLTA wiraswasta

Sumber: Dari Pesada, 2009

4.4.3. Respon Masyarakat Terhadap Berhasil atau Belum berhasil Pesada Dalam Pemberdayaan Politik Perempuan

Tabel 5

Respon Masyarakat Terhadap Berhasil atau Belum Berhasil Pesada Dalam Pemberdayaan Politik Perempuan

No Kegiatan Anggota Kegiatan Pemberdayaan Ronna Rismawa

ty

Ristati Dina Remsina Rosmita Hot mai da

1. Pendampingan Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil 2. Diskusi – Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil

3. Lokakarya Belum Belum Belum Belum Belum Belum Belum 3. Pelatihan Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil 4. Seminar Berhasil Berhasil Berhasil - - Berhasil Berhasil

5. Audience Berhasil Berhasil - - -

6. Siaran Pers Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil 7. Penerbitan

Buletin Suara Perempuan

Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil Berhasil

Sumber: Wawancara dengan informan, November 2008

Berdasarkan tabel lima (5) diatas dapat dilihat bahwasanya kegiatan pemberdayaan belum semua kegiatan yang dilakukan berhasil sampai pada saat ini.

Hal ini diperkuat dari jawaban-jawaban setiap informan yang mereka utarakan pada saat melakukan wawacara tentang sudah atau belum berhasil semua kegiatan dari pemberdayaan yang telah dilakukan. Tabel diatas menunjukkan bahwa tujuh dari tujuh informan yang diwawancarai mengutarakan kegiatan lokakarya belum berhasil Dan pada kegiatan seminar dua dari tujuh informan tidak mengetahui. Demikian halnya pada kegiatan audience lima dari tujuh informan tidak mengetahui. Hal itu disebabkan karena pada kegiatan audience tidak semua anggota mengikuti, hanya sebahagian dari jumlah yang ada. Audience lebih kepada seperti pengutusan bagi yang dianggap lebih mampu. Berikut adalah respon informan terhadap berhasil atau belum berhasil kegiatan pemberdayaan.

“Pemberdayaan yang dilakukan adalah dengan tujuan perempuan tidak lagi buta akan politik. Jadi klo sampai saat ini kegiatan sudah berhasil namun masih ada juganya kegiatan pemberdayaan blm berhasil contonhya lokakarya ga begitu diminati mungkin karena membosankan gitu, tapi kegiatan lainnya sudah berhasil.

Dan kalau saya lihat masih banyak perempuan yang mengalami kebutaan akan politik di desa ini dan sepanjang masih ditemukan kurangnya partisipasi perempuan dalam politik maka pemberdayaan akan harus tetap dilakukan. Salah satu

keberhasilan Pesada dalam kegiatan ini adalah bagaimana Pesada mengubahkan pandangan saya akan politik, tidak seperti pemahaman yang saya miliki saat ini dan yang pada akhirnya saya mencintai bagian ini karena saya melihat bagaimana ketidakadilan terhadap perempuan itu terjadi didaerah ini. Saya tidak buta lagi akan politik demikian halnya dengan masyarakat perempuan lain yang ikut pemberdayaan. Dengan adanya pemberdayaan dapat merubah stigma perempuan tidak mempunyai kemampuan yang selama ini melekat dimasyarakat.

dari hasil pemberdayaan dapat dilihat misalnya yang dahulunya tidak menyadari akan perlunya keterlibatan perempuan dipolitik, sekarang ini sudah mempunyai kesadaran dan pemahaman baru akan politik bahkan sudah menuju ketingkat partisipasi seperti itu kalau menurut saya”. (wawancara dengan informan Ronna, November 2008).

“Kita bisa melihat keadaan yang ada dari pemberdayaan sudah bangkit perempuan dengan munculnya perempuan-perempuan mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif, karena bukan saya saja yang mencalonkan diri sebagai caleg tapi ada satu lagidi desa inijuga, yah sekalipun kita ga tahu kedepannya apakah menang atau tidak, tapi itu kan sudah bisa menggambarkan bagaimana keadaan perempuan setelah ikut kegiatan pemberdayaan. Pengalaman saya pribadi sebagai salah satu calon angggota legislatif sangat merasakan bantuan dan pendampingan, bagi saya Pesada bukan saja hanya mendorong lewat pendidikan politik, namun Pesada tetap menunjukkan komitmennya dengan tidak membiarkan saya berjuang sendiri.

Pesada meolong saya bagaimana cara berbicara/kampanye di depan masyarkat, cara bersikap, baliho, membuat visi dan misi, kontrak politik maupun dana pinjaman tanpa bunga”.

(wawancara dengan informan Rismawaty, November 2008).

Selain pernyataan-pernyataan dari informan yang menyatakan kegiatan pemberdayaan sudah dnilai berhasil, dilihat juga dari sudah munculnya perempuan- perempuan sebagai anggota KPU, pengurus di Kelembagaan Desa dan juga dengan adanya komitmen yang sudah dilakukan oleh pesada berupa kegiatan dalam pencapaian perempuan brpartisipasi dalam politik yang dilakukan adalah:

Dokumen terkait