• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

3.5. Interpretasi Data

Secara umum, data terbagi atas data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari lapangan, seperti hasil wawancara dan observasi. Sedangkan data sekunder yaitu data yang didapat tidak dari lapangan atau dari sumber lain. Misalnya, dari literatur kepustakaan, majalah, surat kabar,jurnal, buku dan sumber lainnya

Intrepertasi data adalah proses pengorganisasian dan mengurutkan data kedalam pola kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dianalisa selanjutnya. (Moleong, 1997:103).

Analisis data ditandai dengan pengolahan dan penafsiran data yang diperoleh dari setiap informasi baik secara pengamatan, wawancara ataupun catatan-catatan lapangan, dipelajari dan ditelaah kemudian tahap selanjutnya adalah mereduksi data yaitu melalui pembuatan abstraksi yang merupakan usaha membuat rangkuman inti.

Langkah selanjutnya adalah menyusun data-data dalam satuan-satuan. Satuan-satuan itu kemudian dikategorikan. Berbagai kategori tersebut dilihat satu dengan yang lainnya dan diintrepretasikan secara kualitatif.

3.6. Jadwal Kegiatan

Tabel 2

Jadwal Kegiatan Penelitian

KEGIATAN Bulan ke-1

Bulan ke-2

Bulan ke-3

Bulan Ke-4

Bulan Ke-5

Bulan Ke-6

Bulan ke-7

Bulan Ke-8 Pra Penelitian:

- Penyusunan Proposal - perbaikan

Proposal

Persiapan:

- Pengurusan izin

- Penyiapan instrumen penelitian

Penelitian:

- Observasi - Wawancara

Pasca Penelitian:

- Analisis Data

Penyusunan Laporan

3.7. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan dalam penelitian ini antara lain di sebabkan karena terbatasnya kemampuan dan pengalaman yang dimiliki oleh peneliti untuk melakukan kegiatan penelitian ilmiah maksudnya peneliti mengalami kesulitan untuk menyimpulkan atau menganalisis data-data yang di dapat baik itu dari observasi, wawancara, ataupun studi pustaka. Kendala lainnya yang dihadapi adalah terbatasnya waktu yang dimiliki

informan untuk melakukan wawancara, hal ini disebabkan karena padatnya aktivitas informan sehingga ditemui kendala dalam menyesuaikan waktu.

Walaupun terdapat berbagai keterbatasan, peneliti tetap berusaha semaksimal mungkin dalam pengumpulankan berbagai informasi dari informan, serta informasi yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan validitasnya.

BAB IV

PENYAJIAN DATA DAN INTERPRETASI DATA

4.1. Profil Pesada

4.1.1. Sejarah Berdirinya Pesada

Pesada berasal dari bahasa Pakpak yang berarti satu tujuan. Pesada adalah sebuah lembaga sosial sebagai reaksi atas eksistensi masyarakat Pakpak sebagai suatu suku asli kabupaten Dairi yang saat itu kabupaten pakpak Bharat belum terbentuk saat itu masyarakatnya termarginlisasi, secara politik perempuan pakpak jauh kurang diperhatikan dan secara wilayah yang menguasai adalah suku lain khususnya perempuan. Lembaga ini berdiri pada awal oktober 1990 sebagai sebuah yayasan bernama Yayasan Sada Ahmo (YSA) dengan melihat kondisi tersebutlah sejak tahun 1991, YSA telah memulai program pengembangan masyarakat melalui pendidikan anak prasekolah dan pendampingan keluarga orang tua untuk masyarakat Pakpak.

Pengembangan masyarakat dimulai dengan hal yang sangat sederhana oleh YSA dengan mengumpulkan beberapa ibu-ibu tepatnya di Desa Tinada kabupaten Pakpak Bharat dan memberikan usaha peternakan ayam yang pada saat itu ditanggung jawabi oleh Ester Ritonga. Peternakan ayam mengalami perkembangan dengan menghasilkan penjualan telur yang pada akhirnya terbentuk Taman Binaan Anak Asuh (TBAA).

Dalam proses pelaksanaan program, YSA memperoleh temuan bahwa salah satu persoalan dimasyarakat Pakpak adalah berhubungan dengan keadilan gender dan

masalah ekonomi, sejak itu program YSA diperluas kepada pengembangan perempuan dan anak. Dan sejak itu program terakhir YSA bahkan menjadi lebih memperhatikan penguatan permpuan secara ekonomi dan persoalan dengan transisi politik di Indonesia.

Berdirinya lembaga ini diawali oleh perhatian para ilmuwan sosiologi, antropologi dan kaum cediakawan terhadap kondisi perempuan pakpak yang termarginalkan pada saat itu. Para ilmuwan dan cendikiawan yang berjumlah tujuh belas (17) orang menyepakati untuk membuat suatu langkah guna menolong perempuan pakpak dari kemiskinanya. Namun tidak semua para pendiri yang telah sepakat sebelumnya tetap mempunyai spirit yang sama dikarenakan tuntuan keluarga.

Lembaga yang setelah berjalan tujuh tahun mengalami perubahan pada tahun 2003, dimana lembaga melihat bahwasanya agar lembaga lebih independen, transparan, demokratis dan partisipatif, maka tepat pada bulan agustus 2003 YSA memutuskan untuk merubah status hukumnya menjadi perkumpulan yang disebut sebagai Perkumpulan Sada Ahmo (Pesada), serta menghasilkan visi dan misi baru, dan mempunyai semboyan simpelcity dan charity.

Pesada yang pada awalnya memulai kegiatannya di desa Tinada semakin mengembangkan wilayahnya di tiga (3) yaitu kabupaten Pakpak Bharat, Dairi, Nias, dengan delapan (8) kecamatan dan dua puluh tiga (23) desa . Desa Jambu bellang merupakan salah satu desa yang ada di Kabupaten Pakpak Bharat binaan dari Pesada.

Pesada mengembangkan wilayah binaan di desa Jambu Bellang mulai pada tahun 1991 yang kegiatan pada awalnya adalah Taman Binaan Anak Asuh (TBAA) dan

berlangsung Pesada membentuk kelompok diskusi yang membahas mulai dari bagaimana mereka mengelola uang rumah tangga, pertanian, dan dari diskusi-diskusi yang ada muncullah ke pembahasan politik perempuan di pedesaan tentang bagaimana keikutsertaan/keterwakilan perempuan di lembaga, kantor, pembuat kebijakan. Jika dilihat secara wilayah desa Jambu Bellang sebenarnya dekat dengan kabupaten Pakpak Barat namun desa ini sangat tertinggal.

Dalam transisi politik indonesia sudah saatnya perempuan berpartisipasi dalam politik, namun ternyata pemahaman akan politik masih sangat rendah dan banyak perempuan yang belum menyadari akan perlunya perempuan terlibat dalam politik oleh karena itu Pesada melihat perlu ada suatu tindakan sehingga muncullah pemberdayaan. Pemberdayaan sebagai upaya pembangunan untuk membangun perempuan yang mengalami peminggiran.

Pesada dalam melaksanakan kegiatannya memperoleh bantuan dana dari negara Belanda, Inggris, dan Spanyol untuk pengadaan perlengkapan-perlengkapan.

Untuk kegiatan dalam melaksanakan kegiatan pemberdayaan mulai dari pendampingan, seminar, lokakarya, studi banding, siaran pers, para pengurus juga memperoleh bantuan dari pemerintah ataupun pihak-pihak yang melakukan kerjasama dengan Pesada dalam melakukan kegiatan sosialnya.

4.1.2. Struktur Organisasi dan Keanggotaan Pesada

Dalam setiap organisasi terdapat struktur kepengurusan dan menjalankan tugas atau fungsi masing-masing sesuai dengan kekuasaan dan wewenang, demikian

Rapat Anggota PESADA

Rapat Umum

Dewan Pengurus Dewan Pengawas

Direktur Eksekutif/

Wakil Direktur Eksekutif Elpina Sipayung SE

Maringan Pardede Kepala kajian & Capacity

Building Dina Lbn.Tobing S.Sos

Divisi Keuangan Juwel Simatupang SE

Wilayah Nias Selatan

Susi Simarmata Wilayah

Nias Induk Lina Gule Wilayah Dairi &

Humbang Hasundutan King Ronal Silalahi ST Wilayah Pakpak

Bharat Dinta Widarma Solin

Divisi Umum Ramida Sinaga

Wilayah Medan

Kolida Lubis

juga halnya dengan Pesada yang sudah tiga (3) kali mengalami perubahan pengurus dan sampai dengan sekarang struktur kepengurusan Pesada yang disahkan dalam rapat umum anggota adalah sebagai berikut:

Struktur Organisasi PESADA

Dengan penjelasan dan tugas:

 Dewan Pengurus bertugas menjaga arah dan tujuan lembaga sesuai dengan visi misi Pesada

 DE/WDE: Pimpinan Eksekutif dan mempunyai bawahan untuk membantu

menjalankan seluruh program sesuai dengan mandate yang di berikan oleh seluruh eksekutif Pesada

 KKCB: Mengkaji seluruh program Pesada apakah masih mengacu dengan visi

dan misi Pesada dan pengembangan dan peningkatan kapasitas personil Pesada

 Staf Khusus: Membidangi program khusus sesuai dengan keahlian dan membantu program dari seluruh wilayah

 Umum dan Keuangan : Sebagai supporting dalam pelaksanaan seluruh program

 Kord.Wilayah : Mengatur personil di masing masing wilayah dan memastikan terlaksananya rencana kerja di setiap wilayah

 Penasehat Hukum : Bertugas untuk penanganan hukum khususnya kasus perempuan di sinsesitas

1. Dewan Pengawas

Dewan Pengawas bertemu sekali 1 tahun untuk memeriksa laporan keuangan PESADA secara keseluruhan. Dewan Pengawas terdiri dari 3 orang yang dipilih dari 1 orang dari Anggota PESADA dan 2 orang dari CU sekunder

2. Dewan Pengurus

Dewan pengurus sesuai dengan AD pasal 18 dengan tambahan memeriksa laporan keuangan, monitoring laporan keuangan dan mengikuti rapat management sekali 3 bulan.

Struktur Organisasi perkumpulan ini terdiri dari :

1. Anggota Perkumpulan yaitu orang-orang yang bersedia dan memenuhi syarat keanggotaan.

2. Dewan Pengurus yaitu orang orang yang dipilih untuk menjadi Pengurus untuk jangka waktu tertentu.

3. Badan Pelaksana Harian (eksekutif) yaitu seluruh personil perkumpulan di tingkat pelaksana di kantor dan lapangan yang bekerja untuk perkumpulan, diangkat dan diberhentikan oleh Direktur Eksekutif.

4. Dewan Kode Etik yaitu orang orang yang dipilih dari anggota untuk jangka waktu tertentu yang sifatnya adhoc dan bertanggung jawab kepada Rapat Umum.

Pasal 12

Tugas dan Wewenang Dewan Pengurus

1. Menyusun program 3 tahunan yang telah ditetapkan oleh Rapat Umum.

2. Menghadiri rapat-rapat periodik Dewan Pengurus.

3. Memonitor pelaksanaan program melalui kunjungan lapangan.

4. Meminta pertanggungjawaban Direktur Eksekutif per tahun dan pertiga tahunan.

5. Menandatangani dokumen-dokumen penting.

6. Mewakili perkumpulan di depan hukum.

Pasal 13

Tugas dan Wewenang Dewan Kode Etik Dewan Kode Etik 3 orang yaitu: sifatnya adhoc.

1. Menjaga roh dan arah dari perkumpulan

2. Mengawasi pelaksanaan program perkumpulan melalui DE 3. Menindak anggota perkumpulan yang melanggar Kode Etik

4. Memberikan pertanggungjawaban kepada Rapat Umum dan jika dibutuhkan Pasal 14

Tugas dan Wewenang Badan Pelaksana Harian

1. Badan Pelaksana Harian bertugas melaksanakan seluruh program 3 tahunan yang telah ditetapkan oleh Rapat Umum dan program tahunan yang telah dibuat oleh Dewan Pengurus.

2. Melaksanakan kebijakan umum, strategi program, keputusan dan semua peraturan yang ditetapkan oleh Rapat Umum.

3. Menyusun rancangan program tahunan dan anggaran yang akan disahkan Rapat Umum.

4. Menyelenggarakan rapat umum dan mengundang anggota perkumpulan sekurang kurangnya (14 ) hari sebelum diadakan rapat umum berdasarkan tanggal bukti pengiriman surat.

5. Melakukan segala upaya dalam rangka melaksanakan program perkumpulan.

6. Memelihara kekayaan perkumpulan sebaik-baiknya dengan mengindahkan segala peraturan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga perumpulan.

7. Dalam melaksanakan tugas tersebut diatas Direktur Eksekutif memiliki wewenang untuk:

a. Menetapkan peraturan internal (tertulis) Badan Pelaksana Harian.

b. Mengangkat dan memberhentikan staf Badan Pelaksana Harian.

c. Mengatur tata cara/mekanisme penggunaan, peminjaman dan pemanfaatan harta kekayaan perkumpulan.

Pasal 15

Hak dan Kewajiban Badan Pelaksana Harian

1. Badan Pelaksana Harian mempunyai hak untuk memperoleh dan menggunakan fasilitas perkumpulan sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dan aturan lainnya.

2. Badan Pelaksana Harian berkewajiban untuk :

a. Mematuhi kebijakan umum, keputusan dan semua peraturan yang ditetapkan oleh Dewan Pengurus.

b. Membuat laporan pertanggung jawaban pelaksanaan pengelolaan asosiasi, pemanfatan kekayaan, pengelolaan keuangan dan pelaksanaan program perkumpulan kepada Dewan Pengurus (periode 3 tahun).

4.1.3. Visi dan Misi Pesada

Secara umum Pesada bertujuan untuk mewujudkan keadilan perempuan dan anak dalam aspek kehidupan sosial, politik dan ekonomi melalui program-program kerja yang telah ditetapkan. Secara khusus lembaga ini mengembangkan pola-pola pendampingan dan pedidikan langsung ke masyarakat. Adapun Visi dan Misi dari Pesada yaitu:

VISI

Terciptanya kondisi masyarakat yang dijiwai oleh semangat, ketulusan hati, disiplin, kesederhanaan, solidaritas, pengabdian, kesetaraan dan keadilan gender.

MISI

1. Penyadaran hak perempuan, anak dan kelompok marjinal

2. Penguatan ekonomi, soisial, budaya dan politik perempuan dan kelompok marjinal

3. Advokasi dan pembelaan perempuan, anak dan kelompok marjinal 4. Kajian dan penguatan kapasitas

Selain sebagai pusat informasi, pendampingan, diskusi, lokakarya, pelatihan, pendidikan melalui kursus-kursus dan diskusi (penyadaran gender dan hak-hak dalam

politik), pengembangan kapasitas dua organisasi independent; suara perempuan untuk keadilan, kampanye hak-hak perempuan dalam politik, lokarkarya, dan siaran pers.

Secara khusus fungsi Pesada bagi masyarakat perempuan adalah sebagai berikut:

 Sebagai wadah penguatan perempuan dan anak

 Sebagai tempat perempuan yang mengalami peminggiran baik ekonomi, sosial, dan politik

 Sebagai tempat masyarakat khususnya perempuan-perempuan desa

yang mengalami kebutaan dan tidak perduli akan partisipasinya didalam politik

 Sebagai pusat informasi seputar politik perempuan

 Untuk memberikan kesadaran secara rasioanal, diskusi-diskusi tentang

penyadaran gender dan hak-hak perempuan dalam politik, lokakarya, pelatihan, studi banding, seminar, dan siaran pers.

4.2. Profil Informan 4.2.1. Informan Kunci

Informan I

Nama : Erlina Seha E Pardede S.Sos

Umur : 52 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Pendidikan : Sarjana

Jabatan di Pesada : Ketua Dewan Pengurus Periode 2007-2010 Bergabung di Pesada : 1990

Erlina Seha E Pardede S.Sos adalah lulusan Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI). Kak Erlina begitu ia biasa dipanggil oleh rekan-rekan kerjanya di Pesada mempunyai ciri-ciri fisik yaitu tinggi 165 cm, dengan berat badan 75 kg memiliki warna kulit putih dan berambut pendek. Kak Erlina bergabung di Pesada mulai pada tahun1990, selain menjabat sebagai ketua dewan pengurus pada saat ini, ia juga adalah salah satu pendiri dari ketujuh belas orang pendiri Pesada pada kala itu. Kak Erlina bertempat tinggal di Santar bersama dengan suami dan anak- anaknya.

Peneliti berkunjung ke kantor pusat Pesada untuk melakukan wawancara, pada saat itu peniliti melihat ada seorang Ibu yang berdiri di lantai dua dan sambil menanyakan kepada peneliti siapa yang hendak peneliti cari. Peneliti tidak tahu yang menyambut peniliti ternyata adalah Kak Erlina. Terlihat jelas bahwa pribadi kak Erlina cepat akrab dengan orang baru sekalipun. Hal ini terlihat pada saat informan menyambut peneliti dengan hangat. Selain cepat akrab kak Erlina juga mempunyai pengetahuan dan wawasan yang cukup luas, dengan setiap jawaban-jawaban dari informan pada saat mengajukan setiap pertanyaan-pertanyaan. Peniliti juga mendapatkan banyak pemahaman-pemahaman baru tentang politik perempuan.

Kak Erlina bertugas untuk mengatur dan mengkoordinir semua kegiatan pengurus sehingga Pesada sebagai lembaga sosial berjalan sesuai dengan fungsinya.

Selain bertugas sebagai ketua dewan pengurus kak Erlina juga aktif sebagai dosen di Universitas Nomensen Siantar dengan membawa mata kuliah penelitian masyarakat.

Informan II

Nama : Dinta Widarma Solin

Umur : 34 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan Pendidikan : Diploma

Jabatan di Pesada : Koordinator wilayah Pakpak Bharat periode 2007-2010 Bergabung di Pesada : 1994

Dinta Widarma Solin adalah lulusan Diploma dari salah satu perguruan tinggi swasta di Tarutung, Kak Dinta begitu biasa ia dipanggil oleh rekan-rekan kerjanya di Pesada mempunyai cirri-ciri fisik yaitu tinggi 147 cm, dan berat badan 56 kg memiliki warna kulit putih dan berambut pendek. Informan memiliki dua orang anak dan bertempat tinggal tidak jauh dari kantor pusat Pesada. Kak Dinta adalah seorang yang mempunyai pribadi yang sederhana dan luwes, hal ini terlihat dari kehidupan sehari-hari dari informan karena peneliti sendiri kenal dengan informan. Informan menjabat sebagai koordinator wilayah Pakpak Bharat sehingga informan banyak memberikan informasi mengenai pemberdayaan politik perempuan di desa Jambu Bellang.

Kak Dinta merupakan salah satu pegawai terlama dari lima orang yang ada, sehingga tidak salah kalau informan mempunyai informasi yang banyak tentang Pesada. Kak Dinta sudah mempunyai sepak terjang selama ini, pada awalnya ia

Ia bertugas untuk mengatur dan mengkoordinir semua kegiatan di wilayah Pakpak Bharat dalam pencapaian visi dan misi Pesada.

Kegiatan wawancara yang dilakukan dengan informan ini dilakukan di kantor Pesada pada saat sore-sore, karena sore-sore merupakan waktu yang senggang buat informan untuk lebih bisa memberikan waktu banyak.

4.2.2. Informan Biasa Informan I

Nama : Ronna Berutu (yang ikut kegiatan pemberdayaan)

Umur : 34 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Pendidikan : Sekolah Menengah Pertama (SMK) Pekerjaan : Bertani

Jabatan di Pesada : Ketua harian wilayah Pakpak Bharat periode 2007-2010 Bergabung di Pesada : 1999

Ibu Ronna bergabung dengan Pesada pada tahun 1999 sebagai salah seorang anggota Pesada yang ikut kegiatan pemberdayaan di desa Jambu Bellang. Kak Ronna mempunyai pendidikan setara tingkat SMA yaitu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 (SMK) di Sidikalang. Kak Ronna mempunyai ciri-ciri fisik yaitu kulit hitam manis, tinggi badan 160 cm dan berat badan 49 kg, terlihat dari berat badan ia seorang yang kurus namun ia mempunyai kekuatan yang prima. Ketika melakukan wawancara dengan informan peniliti merasa dekat dengan informan dikarenakan peniliti di buat seperti adeknya sendiri dan itu adalah pengakuan dari informan pada

peneliti, informan juga disuguhkan makanan ringan dan teh manis yang di beli dari kedai. Kegiatan wawancara yang dilakukan pada saat itu bertempat di Pajak desa jambu Bellang karena ia sendiri mempunyai kesibukan yang banyak sehingga tepat pada hari kamis yang adalah hari pajak buat masyarakat Jambu Bellang. Masyarakat di desa Jambu Bellang mempuyai kebiasaan yang sudah terpola apabila hari pajak adalah hari libur buat masyarakat

Kak Ronna merupakan masyarakat yang sudah lama tinggal di desa Jambu Bellang, dan ia adalah anak seorang mantan Kepala Desa Jambu Bellang. Selain sebagai anggota yang mengikuti pemberdayaan ia juga dipercayakan sebagai pengurus di wilayah Pakpak Bharat pada periode tahun 2007 sampai 2010 sebagai ketua harian yang pada awalnya kak Ronna sebagai panitia pendidikan tahun 2002.

Dalam kegiatan wawancara Kak Ronna turut membantu peneliti dalam memberikan semua jawaban-jawaban atau infromasi yang berhubungan dengan masalah penelitian, karena selain sebagai yang mengikuti pemberdayaan ia juga adalah anggota yang paling lama dari semuanya yang sampai saat ini masih bertahan.

Selain itu Ibu Ronna juga telah beberapa kali diutus dari anggota Pesada untuk mengikuti seminar, audience, dan siaran pers di radio lokal yang menyangkut mengenai permaslahan perempuan.

Ia masih ingat betul bagaimana ketika itu masyarakat mengolok-olok ia karena terlibat dengan kegiatan politik, tetapi ia tahu betul apa yang ia kerjakan untuk itulah ia tetap bertahan dan tidak mundur dan faktor lainnya adalah krena suaminya sendiri sangat mendukung apa yang dilakukan oleh kak Ronna. Kak Ronna

menyatakan kebulatan hatinya untuk memperjuangkan hak-hak perempuan bersama dengan Pesada.

Kak Ronna merupakan informan yang sangat antusias dalam permaslahan perempuan, ini diperlihatkan dengan jawaban-jawaban yang diutarakan seputar masalah perempuan khususnya dibidang politik, ia mengatakan bukan hanya laki-laki yang berpolitik, tetapi perempuan harus juga berperan jangan mau dijajah oleh kebodohan dan ketidakpedulian akan politik. Perempuan mempunyai tempat yang harusnya sama dengan laki-laki di politik.

Informan II

Nama : Rismawaty Berutu (Anggota yang ikut pemberdayaan)

Umur : 47 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Pendidikan : Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) Pekerjaan : Wiraswasta)

Bergabung di Pesada : 2007

Ibu Rismawaty adalah lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dari salah satu sekolah negeri di Sidikalang. Ibu Rismawaty mempunyai ciri-ciri fisik yaitu tinggi badan 160 cm, berat badan 65 kg dan memiliki warna kulit putih dan berambut ombak sebahu. Ia mempunyai tiga orang anak yang masih sekolah di SLTP dan SD. Kegiatan wawancara yang dilakukan berlangsung di rumah informan pada pagi hari tepatnya pukul 10-an, peniliti sebelumnya dari beberapa hari telah menghubungi informan berdasarkan informasi dari koordinator wilayah. Ketika

peniliti datang kerumah informan ia sudah mempersiapkan diri dengan rapi membuat informan merasa segan. Infroman sangat menerima peneliti dengan ramah dan informan membuat suasana yang begitu hangat. Ia mengatakan sangat mendukung dan senang apabila ada mahasiswa yang juga mempunyai keinginan untuk konsern pada kepentingan perjuangan perempuan, terutama peneliti juga satu suku dengan informan serta informan menyuguhkan minuman teh manis yang membantu peneliti untuk mendapatkan kehangatan badan dikarenakan cuaca yang mendung saat itu dan membuat suasana menjadi lebih santai.

Dari segi ukuran waktu Ibu Rismawaty sebenarnya tergolong masih sangat baru di Pesada apabila dibandingkan dengan yang lainnya, ia bergabung mulai pada tahun 2007, namun sekalipun masih baru informan sudah mempunyai kesadaran dan pemahaman yang tinggi akan politik perempuan, bahkan ia merupakan salah satu calon anggota legislative dari desanya yang diusung oleh salah satu partai baru.

Bukan main-main ia mendapat posisi urut nomor dua (2) dari delapan (8) calon laki- laki lainnya. Ibu Rismawaty mengatakan ia mencalonkan dirinya adalah sebagai perwujudan dari pemberdayaan yang telah ia dapatkan dari Pesada selama ini dan keinginannya untuk menyuarakan kepentingan perempuan di desanya khususnya.

Selain itu Ibu Rismawaty juga adalah salah satu anggota yang sudah beberapa kali dikirim Pesada untuk mengikuti seminar dan studi banding yang dilakukan oleh pihak-pihak organisasi atau lembaga lainnya. Hal ini terungkap pada saat wawancara yang dilakukan.

“Salah satu faktor pendukung saya untuk maju memberanikan

pembuat kebijakan untuk keperluan perempuan yang selama ini tidak diperhitungkan dan satu hal lagi saya juga mengucap syukur karena pesada telah beberapa kali mempercayakan saya untuk ikut seminar dan studi banding Apabila ada undangan dari luar” (wawancara dengan informan Rismawaty, November 2008).

Informan III

Nama : Remsina ( Anggota yang ikut pemberdayaan)

Umur : 45 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Pendidikan : Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Pekerjaan : Wiraswasta

Jabatan : Bendahara wilayah desa Jambu Bellang Bergabung di Pesada : 2005

Ibu Remsina adalah salah satu masyarakat dari sekian banyak yang ikut kegiatan pemberdayaan di Pesada, ia bergabung mulai pada tahun 2005 yang kesehariannya berjualan kelontong dan minuman kopi dirumahnya. Ia mempunyai ciri-ciri fisik yaitu tinggi badan 165 cm, berat badan 62 kg, kulit hitam dan berambut ombak pendek. Ibu Remsina tergolong perempuan yang suka dengan humoris tinggi, ini terlihat pada saat wawancara dengan informan di rumah informan. Ibu Remsina sangat membuat peneliti tertawa-tawa dan ditambah lagi dengan keluguannya dalam berbicara.

Menurut pengakuan dari informan alasan awal ia ikut bergabung di Pesada hanya untuk ikut-ikutan tanpa tahu tujuan ia bergabung serta kebosanannya dengan keadaan rumanhya, dengan ikut bergabung ia bisa mendapat suasana baru dan bisa

Dokumen terkait