• Tidak ada hasil yang ditemukan

Internalisasi Nilai

Dalam dokumen internalisasi nilai-nilai pendidikan islam (Halaman 36-45)

B. Kajian Teori

1. Internalisasi Nilai

Pada dasarnya internalisasi telah ada sejak manusia lahir.

Internalisasi muncul melalui komunikasi yang terjadi dalam bentuk sosialisasi dan pendidikan. Hal terpenting dalam menjalankan proses internalisasi adalah nilai-nilai yang harus ditanamkan. Setelah manusia mengerti tentang nilai-nilai, maka akan dibentuk menjadi sebuah kepribadian.

Dalam kamus Oxford “internal” berarti “of or in the inside yang berarti bagian dalam”.23menurut departemen pendidikan dan kebudayaan internalisasi merupakan suatu proses yang dialami seseorang sepanjang hidupnya, dalam hal menerima dan menjadikanbagian milik dirinya,

23 Homby, A.S, Cowie, a.p, Gimson, A.C, Oxford advanced Learner’s Dictionary Of Current English (Great Britain: Oxford University Press, 1986), 89

berbagai sikap, cara mengungkapkan perasaan atau emosi, pemenuhan hasrat, keinginan, nasfu dan keyakinan, norma-norma dan nilai-nilai sebagaimana yang dimiliki oleh individu lain dalam kelompoknya. Dan proses terjadinya internalisasi dapat melalui berbagai tahap atau metode.

Beberapa pakar menyebutkan bahwa internalisasi merupakan potensi dunia afektif yang terjadi setelah melalui tahap penerimaan, pemahaman, merespon dan menilai.24

Internalisasi diartikan sebagai penggabungan atau penyatuan sikap, standar tingkah laku, pendapat, dan seterusnya didalam kepribadian, atau penyatuan nilai dalam diri seseorang atau dalam bahasa psikologi merupakan penyesuaian keyakinan, nilai, sikap dan aturan-aturan baku pada diri seseorang.25Metode internalisasi ini merupakan upaya memasukkan pengetahuan (Knowing) dan keterampilan melaksanakan pengetahuan (Doing) kedalam diri seseorang sehingga pengetahuan itu menjadi kepribadiannya (Being) dalam kehidupan sehari-hari.26

Internalisasi menurut Prof Mulyasa internalisasi yaitu upaya menghayati dan mendalami nilai agar tertanam dalam diri setiap manusia.27 Menurut Chabib Thoha, internalisasi nilai merupakan teknik dalam pendidikan nilai yang sasarannya adalah sampai pada pemilikan

24 Ayi Darmana, Internalisasi Nilai Tauhid Dalam Pembelajaran Sains, Jurnal Pembangunan Pendidikan Fondasi Dan Aplikasi, Vol.XVII No. 1 (2012), 74

25Gunawan, Islam Nusantara Dan Kepesantrenan, (Yogyakarta; Interpena), 177

26 Amirullah, Teori Pendidikan Karakter Remaja Dalam Keluarga, (Bandung; Alfabeta, 2015), 101

27E. Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter (Bandung: Rosda, 2012), 147

nilai yang menyatu dalam kepribadian peserta didik.28 Internalisasi nilai adalah proses menjadikan nilai sebagai bagian dari diri seseorang. Lebih lanjut dijelaskan bahwa proses tersebut tercipta dari pendidikan nilai dalam pengertian yang sesungguhnya, yaitu terciptanya suasana, lingkungan dan interaksi belajar mengajar yang memungkinkan terjadinya proses sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai.

Dari definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa internalisasi sebagai proses penanaman nilai kedalam jiwa seseorang sehingga nilai tersebut tercermin pada sikap dan prilaku yang ditampakkan dalam kehidupan sehari-hari (menyatu dengan pribadi). Nilai-nilai yang diinternalisasikan merupakan nilai yang sesuai dengan norma dan aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.

Dalam proses internalisasi ada tiga tahap yang mewakili proses atau tahap terjadinya internalisasi yaitu tahap transformasi nilai, tahap transaksi nilai, dan tahap transinternalisasi.29

a. Tahap Transformasi Nilai

Tahap ini merupakan suatu proses yang dilakukan oleh pendidik dalam menginformasikan nilai- nilai yang baik dan kurang baik. Pada tahap ini hanya terjadi komunikasi verbal antara pendidik dan peserta didik atau anak asuh, yaitu guru sekedar menginformasikan nilai-nilai yang baik dan kurang baik pada siswanya, yang semata-mata merupakan komunikasi verbal, transformasi merupakan perpindahan

28Chabib Thoha, Kapita Selekta..., 87-93

29Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Upaya mengefektifkan Pendidikan Islam di Sekolah. (Bandung: PT. Rosda Karya, 2012), 301

atau pergeseran suatu hal ke arah yang lain atau baru tanpa mengubah struktur yang terkandung didalamnya, meskipun dalam bentuk yang baru telah mengalami perubahan.30

Sedangkan menurut Thomas Lickona tahap transformasi nilai dikenal dengan sebutan moral knowing sedangkan pada tahap initerdiri dari enam hal, yaitu moral awareness (Kesadaran moral), knowing moral values (mengetahui nilai-nilai moral), perspective taking (penentuan sudut pandang), moral reasoning (logika moral), decision making (keberanian mengambil sikap), self knowledge (pengenalan diri sendiri).31

b. Tahap Transaksi Nilai

Tahap transaksi nilai yaitu suatu tahapan dimana pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antara peserta didik dengan pendidik yang bersifat interaksi timbal-balik.

Dengan adanya tahap ini pendidik dapat memberikan pengaruh kepada peserta didik melalui contoh nilai yang telah dilakukan.

Tahap transaksi ini adalah aspek lain yang harus ditanamkan kepada peserta didik yang merupakan sumber energi dari dalam diri manusia untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral.32

30 Yunus, said, Nilai-nilai kearifan lokal sebagai penguat karakter bangsa, (Yogyakarta;

Deepublish, 2014), 15

31 Thomas Lickona, Educating For Character : How Our School Can Teach Respect And Responbility (New York : Toronto, London, Sydney, Aucland : Bantam Books, 1991), 84.

32 I Mustofa Zuhri, Zidni Ilma, Pendidikan karakter (Upaya Mencetak Manusia yang Berkarakter), (Yogyakarta; Absolute Media, 2016), 98.

Internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam tidak cukup dengan diajarkan melalui pembelajaran saja akan tetapi sekolah dapat menerapkannya melalui sebuah kebiasaan-kebiasaan yang ada di sekolah tersebut.33

Sedangkan menurut Thomas Lickona tahap transaksi nilai juga disebut dengan tahap moral feeling dalam tahap ini juga terdapat enam hal yang merupakan aspek emosi yang harus mampu dirasakan oleh orang untuk menjadi manusia yang berkarakter yaitu: conciense (nurani), self esteem (percaya diri), empathy (merasakan penderitaan orang lain), loving the good (mencintai kebenaran), self control (mampu mengontrol diri), dan humanity (kerendahan hati).34

c. Tahap Transinternalisasi Nilai

Tahap ini jauh lebih mendalam dari tahap transaksi. Pada tahap ini bukan hanya dilakukan dengan komunikasi verbal tapi juga sikap mental dan kepribadian. Jadi pada tahap ini komunikasi kepribadian yang berperan secara aktif. Dengan demikian maka hal yang perlu dilakukan untuk menetralisir adanya kecenderungan santri untuk meniru apa yang menjadi sikap mental dan kepribadian dari seorang guru.35

tahap ini jauh lebih mendalam dari sekedar transaksi. dalam tahapan ini penampilan guru dan siswa bukan lagi sosok fisiknya,

33 I Mustofa Zuhri, Zidni Ilma, Pendidikan karakter (Upaya Mencetak Manusia yang Berkarakter), (Yogyakarta; Absolute Media, 2016),135.

34 Thomas Lickona, Educating For Character : How Our School Can Teach Respect And Responbility.51

35I Mustofa Zuhri, Zidni Ilma, Pendidikan Karakter, 235.

melainkan sikap mental (kepribadiannya). Demikian pula siswa merespon kepada guru bukan hanya gerakan/penampilan fisiknya, melainkan sikap mentalnya dan kepribadiannya.36Oleh karena itu pada tahapa ini komunikasi dan kepribadian masing-masing terlibat secara aktif, artinya bahwa peserta didik menjadi seperti apa yang ia ketahui.

Konsep tersebut seharusnya tidak sekedar menjadi miliknya tetapi menjadi satu dengan kepribadiannya. Inilah yang oleh Ahmad Tafsir disebut dengan tujuan dari aspek being.37

Sedangkan Tahap-tahap Internaliasi menurut David R.

Krathwohl dan kawan-kawannya sebagaimana dikutip Soedijarto dalam bukunya sebagai berikut:

a) Receiving (Menyimak) b) Responding (Menanggapi) c) Valuing (Memberi Nilai)

d) Organization (Mengorganisasikan Nilai)

e) Penyatu ragaan nilai-nilai dalam suatu sistem nilai yang konsisten.38

Para ahli pendidikan telah sepakat, bahwa salah satu tugas yang diemban oleh pendidik adalah mewariskan nilai-nilai luhur budaya kepada peserta didik dalam upaya membentuk kepribadian yang intelek, bertanggungjawab melalui jalur pendidikan. Sebuah upaya

36Mulysa, Manajmen Pendidikan Karakter, (Jakarta: Bumi Aksara,2012), 167

37Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010), 225

38 Soedijarto, Menuju Pendidikan Nasional Yang Relevan Dan Bermutu.(Jakarta: Balai Pustaka, 1993) , 145-146.

mewariskan nilai-nilai tersebut sehingga menjadi miliknya disebut mentransformasikan nilai, sedangkan upaya yang dilakukan untuk memasukkan nilai-nilai tersebut ke dalam jiwanya sehingga melekat dalam dirinya disebut menginternalisasikan nilai.39

Tahap Internalisasi Menurut Thomas Lickona40

Untuk mewujudkan proses transformasi dan internalisasi tersebut, banyak cara yang dapat dilakukan, antara lain dengan cara:

1) Melalui pergaulan

Pergaulan memiliki peran yang amat penting. Melalui pergaulan yang bersifat edukatif nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dapat

39Fuad Ihsan, Dasar-dasar Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2011), 155.

40 Thomas Lickona, Educating for Character How our school can teach respect and responcibility,Diterjemahkan Juma Abdu Wamaungo, mendidik untuk membentuk karakter bagaimana sekolah dapat memberikan pendidikan tenatng sikap hormat dan bertanggung jawab (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 83

Moral knowing Moral loving Moral doing

1.Awareness 2.Knowing moral

values

3.Perspective taking 4.Moral reasoning 5.Decision making 6.Self knowledge

1.Conciense 2.Self esteem 3.Empathy

4.Loving the good 5.Self control 6.humanity

1. Competence 2. Will

3. Habit

disampaikan dengan mudah, baik dengan cara jalan diskusi ataupun tanya jawab. Siswa mempunyai banyak kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang tidak dipahaminya. sehingga wawasan mereka tentang nilai-nilai tersebut akan diinternalisasikannya dengan baik.

Dengan pergaulan yang erat akan menjadikan keduanya merasa tidak ada jurang diantara keduanya. Melalui pergaulan yang demikian peserta didik yang bersangkutan akan merasa leluasa untuk mengadakan dialog dengan gurunya karena sudah merasa akrab, cara tersebut akan efektif dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai agama.41

2) Melalui pemberian suri tauladan

Suri tauladan adalah alat pendidikan yang sangat efektif bagi kelangsungan mengkomunikasikan nilai-nilai agama. Konsep suri tauladan yang ada dalam pendidikan Ki Hajar Dewantoro yaitu ing ngarso sung tulodo, melalui ing ngarso sung tulodo pendidik menampilkan suri tauladannya, dalam bentuk tingkah laku, pembicaraan, cara bergaul, amal ibadah, tegur sapa dan sebagainya. Melalui contoh-contoh tersebut nilai- nilai luhur agama akan diinternalisasikan sehingga menjadi bagian dari dirinya, dan kemudian diaplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari.

Dalam proses penanaman nilai-nilai tersebut memerlukan keteladanan (modelling). Sebab nilai-nilai (values) tidak bisa diajarkan, nilai-nilai hanya bisa dipraktekkan, maka sebagai pendidik, guru harus bisa menjadikan keteladanan bagi muridnya, sehingga pendidikan

41Fuad Ihsan, Dasar-dasar Pendidikan..., 155

dilakukan dengan aura pribadi. Keteladanan menjadi aspek penting, terutama bagi anak-anak, untuk membiasakan hal-hal yang baik. Gerak gerik guru sebenarnya selalu diperhatikan oleh setiap murid. Tindak- tanduk, perilaku dan bahkan gaya guru mengajar pun akan sulit dihilangkan dalam ingatan setiap siswa. Lebih dari itu, karakter guru juga selalu diteropong dan sekaligus dijadikan cermin oleh murid-muridnya.42 3) Melalui pembiasaan

Nilai-nilai luhur agama Islam yang diajarkan kepada peserta didik adalah bukan untuk dihafal menjadi ilmu pengetahuan, akan tetapi untuk dihayati dan diamalkan dalam kehidupannya sehari-hari. Islam adalah agama yang menyerukan kepda pemeluknya untuk mengerjakannya sehingga menjadi umat yang beramalṣaleh.

Dalam teori pendidikan terdapat metode yang bernama Learning by doing yaitu belajar dengan mempraktekan teori yang telah dipelajarinya. Dengan mengamalkan teori yang dipelajarinya akan menimbulkan kesan yang mendalam sehingga mampu diinternalisasi.

Hasil belajar terletak dalam psikomotorik yaitu mempraktekkan ilmu yang dipelajari seperti nilai luhur agama di dalam praktek kehidupan sehari- hari.43

42 Abdul Rohman, Pembiasaan Sebagai Basis Penanaman Nilai-nilai Akhlak Remaja, (Jurnal Nadwa, Volume 6 Nomor 1, Mei 2012), 167

43Fuad Ihsan, Dasar-dasar Pendidikan..., 155

Dalam dokumen internalisasi nilai-nilai pendidikan islam (Halaman 36-45)