BAB II. KAJIAN PUSTAKA
3.5. Interpretasi Data
Data yang dikerjakan sejak peneliti mengumpulkan data dilakukan secara intensif setelah pengumpulan data selesai dilaksanakan. Merujuk pada Lexy J.
Moleong (2006:190), pengolahan data ini dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu wawancara, pengamatan (observasi) yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen resmi, gambar foto, dan sebagainya.
Data tersebut setelah dibaca, dipelajari, dan ditelaah maka langkah selanjutnya adalah mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan cara abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang yang terperinci, merujuk ke inti dengan menelaah pernyataan-pernyataan yang diperlukan sehingga tetap berada dalam fokus penelitian.
Langkah selanjutnya adalah menyusun data-data dalam satuan-satuan itu kemudian dikategorisasikan. Berbagai kategori tersebut dilihat kaitannya satu dengan lainnya dan diinterpretasikan secara kualitatif. Proses analisis dalam penelitian ini telah dimulai sejak awal penulisan proposal, sehingga selesainya penelitian ini yang menjadi ciri khas dari analisis kualitatif.
3.6 Jadwal Kegiatan
No Kegiatan Bulan ke-
1 2 3 4 5 6 7 8 9
1 Pra Survey √
2 Acc Judul Penelitian √
3 Penyusunan Proposal √
4 Seminar Proposal √
5 Revisi Proposal √
6 Penelitian Lapangan √ √ √
7 Pengumpulan dan Analisis Data √ √
8 Bimbingan Skripsi √ √ √
9 Penulisan Laporan √ √ √
10 Sidang Meja Hijau √
3.7 Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dalam penelitian ini mencakup kemampuan dan pengalaman yang dimiliki oleh peneliti untuk melakukan peneliti untuk melakukan penelitian ilmiah. Selain itu terkait erat dengan kelemahan instrument wawancara mendalam.
Kendala lain adalah keterbatasan waktu saat melakukan wawancara dengan informan, hal ini disebabkan kegiatan informan yang sarat akan kesibukan.
Karena informan peneliti adalah pedagang pekan yang cukup sibuk dalam melakukan aktivitas perdagangnya dari pagi hingga malam, maka peneliti harus mampu melihat waktu yang tepat untuk melakukan wawancara. Selain itu keterbatasan waktu karena wawancara baru dapat dilakukan pada waktu para pedagang tidak terlalu sibuk melayani pembelinya. Bahkan untuk melakukan wawancara, peneliti harus melakukan pendekatan dengan cara ikut langsung berjualan dengan para pedagang.
Terlepas dari permasalahan teknis penelitian dan kendala di lapangan peneliti menyadari keterbatasan peneliti mengenai metode menyebabkan lambatnya proses penelitian yang dilakukan, dan masih terdapat keterbatasan dalam hal kemampuan pengalaman melakukan penelitian ilmiah serta referensi buku atau jurnal yang sedikit dikuasai peneliti. Walaupun demikian peneliti berusaha untuk melaksanakan kegiatan penelitian ini semaksimal mungkin agar data dan tujuan yang ingin dicapai dapat diperoleh.
BAB IV
DESKRIPSI WILAYAH DAN PROFIL INFORMAN 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel) yang beribukota di Kota Pinang adalah kabupaten yang baru dimekarkan dari Kabupaten Labuhanbatu pada 24 Juni 2008 sesuai dengan undang-undang Nomor 22 tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Labuhanbatu Selatan, semasa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kabupaten Labuhanbatu Selatan merupakan pintu gerbang penghubung menuju Propinsi Sumatera Utara dari Propinsi Riau.
Awalnya Labuhanbatu Selatan merupakan bagian administratif dari Kabupaten Labuhan Batu namun terkait dengan pelaksanaan otonomi daerah maka Kabupaten Labuhan Batu dipecah menjadi tiga yaitu Kabupaten Labuhanbatu Utara dengan ibukota Aek Kanopan, Labuhanbatu Induk dengan ibukota Rantau Prapat serta Kabupaten Labuhanbatu Selatan dengan ibukota Kota Pinang.
Awal pembentukan kabupaten ini berdasarkan desakan masyarakat, aspirasi masyarakat tersebut akhirnya bergulir melalui proses sebagai berikut:
a) Surat Keputusan DPRD Kabupaten Labuhanbatu Nomor 63 Tahun 2005 Tanggal 31 Oktober 2005 tentang Persetujuan DPRD Labuhanbatu terhadap Pembentukan Kabupaten Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu Selatan.
b) Surat Keputusan DPRD Kabupaten Labuhanbatu Nomor 63a Tahun 2005 tanggal 31 Oktober 2005 tentang Penetapan Ibu Kota Labuhanbatu Selatan.
c) Surat Keputusan DPRD Kabupaten Labuhanbatu Nomor 63b Tahun 2005 tanggal 31 Oktober 2005 tentang kesanggupan dukungan dana dari Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu untuk Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Utara dan Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
d) Keputusan Bupati Labuhanbatu Nomor 135/226/PEM/2005 tanggal 10 Maret 2005 tentang Penetapan Ibu kota Kabupaten Labuhanbatu Utara dan Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
e) Surat Bupati Labuhanbatu Nomor 135/2698/PEM/2005 tanggal 1 Nopember 2005 perihal mohon Persetujuan Pamekaran Kabupaten Labuhanbatu menjadi Kabupaten Labuhanbatu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
f) Keputusan DPRD Sumatra Utara Nomor 1/K/2006 tanggal 21 Januari 2006 tentang Persetujuan Pamekaran Kabupaten Labuhanbatu.
g) Surat Gubernur Sumatera Utara Nomor 135/731 tanggal 26 Januari 2006 perihal Usul Pamekaran Kabupaten Labuhanbatu.
h) Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 903/035.K tanggal 26 Januari 2006 Tentang Bantuan Dana dalam APBD Provinsi Sumatera Utara bagi calon Kabupaten Labuhanbatu Utara dan calon Kabupaten Labuhanbatu Selatan di Wilayah Propinsi Sumatra Utara.
i) Keputusan Bupati Labuhanbatu Nomor 903/452/PEM/2007 tanggal 27 Desember 2007 tentang Dukungan Dana dalam APBD Kabupaten Labuhanbatu bagi Calon Kabupaten Labuhanbatu Utara dan Calon Kabupaten Labuhanbatu Selatan di Kabupaten labuhanbatu.
j) Keputusan DPRD Kabupaten Labuhanbatu Nomor 08 tahun 2008 tanggal 5 Mei 2008 tentang Dukungan Dana dalam APBD Kabupaten Labuhanbatu bagi Calon Kabupaten Labuhanbatu Utara dan Calon Kabupaten Labuhanbatu selatan di Kabupaten Labuhanbatu.
k) Surat Gubernur Sumatera Utara Nomor 135/6191 tanggal 24 juni 2008 Perihal Bantuan Dana Calon Kabupaten Labuhanbatu Utara dan Calon Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
l) Undang - undang RI nomor 22 tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Labuhanbatu Selatan di Propinsi Sumatera Utara ( Lembaran Negara RI Tahun 2008 Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4868 ).
Kabupaten Labuhanbatu Selatan yang luas wilayahnya sebesar 311.600 hektar (3.116,00 Km2) telah mengalami perkembangan seiring perjalanannya sebagai daerah yang baru saja mengalami pemekaran, Kota Pinang sebagai ibukota kabupaten juga telah menjadi kota yang sudah berkembang sebagai pusat pemerintahan dan pusat perekonomian hingga saat ini. Memiliki luas 48.240 hektar atau 15,48% dari keseluruhan wilayah Labuhanbatu Selatan. Secara administratif, wilayah Labuhanbatu Selatan berbatasan dengan kecamatan Bilah Hulu, Rantau Selatan, Bilah Hilir dan kecamatan Panai Hulu (Kabupaten Labuhanbatu) di sebelah Utara, Kabupaten Bengkalis Propinsi Riau di sebelah Timur, Kabupaten Rokan Hilir (Propinsi Riau) dan Kecamatan Simangambat (Kabupaten Padang Lawas Utara) di sebelah Selatan serta Kecamatan Holonganan dan Kecamatan Dolok (Kabupaten Padang Lawas Utara) di sebelah
4.2 Letak dan Batas Wilayah
Kabupaten Labuhanbatu Selatan merupakan bagian dari propinsi Sumatera Utara, letaknya tepat berada pada 1°26’00’’ - 2°12’55’’ Lintang Utara dan 99°40’00’’ - 100°26’00’’ Bujur Timur serta berbatasan langsung dengan propinsi Riau. Memiliki luas wilayah seluas 3.116,00 km2 (311.600 hektar) dan terdiri dari 5 (lima) kecamatan dan 54 desa atau kelurahan yang kesemuanya telah defenitif.
Adapun yang menjadi batas-batas wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah sebagai berikut:
- Sebelah Utara : Kabupaten Labuhanbatu
- Sebelah Selatan : Kabupaten Padang Lawas Utara
- Sebelah Barat : Kabupaten Padang Lawas Utara
- Sebelah Timur : Propinsi Riau
Denah atau peta lokasi Kabupaten Labuhanbatu Selatan
Sumber : BPS Labuhanbatu Selatan hasil sensus penduduk tahun 2010
4.3 Keadaan Penduduk
Berdasarkan hasil pencacahan sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Labuhanbatu Selatan sementara adalah 277.549 orang, yang terdiri atas 141.415 penduduk laki-laki dan 136.134 penduduk perempuan. Dari hasil sensus penduduk 2010 tersebut masih tampak bahwa penyebaran penduduk Labuhanbatu Selatan masih bertumpu di kecamatan Torgamba yakni sebesar 35,35 persen, kemudian diikuti oleh kecamatan Kota Pinang sebesar 19,48 persen sedangkan kecamatan lainnya di bawah 19 persen.
Torgamba, Kota Pinang dan Kampung Rakyat adalah tiga kecamatan dengan urutan teratas yang memiliki jumlah penduduk terbanyak yang masing-
masing berjumlah 98.118 orang, 54.063 orang, dan 51.878 orang. Sedangkan kecamatan Silangkitang merupakan kecamatan yang paling sedikit penduduknya, yakni sebanyak 28.208 orang.
Dengan luas wilayah Labuhanbatu Selatan sekitar 3.116,00 kilo meter persegi yang didiami oleh 277.549 orang maka rata-rata tingkat kepadatan penduduk Labuhanbatu Selatan adalah sebanyak 89 orang per kilo meter persegi.
Kecamatan yang paling tinggi tingkat kepadatan penduduknya adalah kecamatan Kota Pinang yakni sebanyak 112 orang per kilo meter persegi sedangkan yang paling rendah adalah kecamatan Silangkitang yakni sebanyak 73 orang per kilo meter persegi.
4.3.1 Komposisi Penduduk Berdasarkan Kecamatan
Dilihat berdasarkan jumlah penduduk berdasarkan kecamatan-kecamatan yang ada di kabupaten Labuhanbatu Selatan, kecamatan Torgamba merupakan yang terbanyak penduduknya yakni sebesar 98.118 orang. Disusul kecamatan Kota Pinang dengan jumlah penduduk sebanyak 54.063 orang, kecamatan Kampung Rakyat dengan jumlah penduduk sebanyak 51.878 orang, kecamatan Sungai Kanan dengan jumlah penduduk sebanyak 45.282 orang dan kecamatan Silangkitang dengan jumlah penduduk sebanyak 28.208 orang.
Tabel 1
Komposisi Penduduk Berdasarkan Kecamatan
No Kecamatan Jumlah Penduduk
1 Torgamba 98.118 orang
2 Kota Pinang 54.063 orang
3 Kampung Rakyat 51.878 orang
4 Sungai Kanan 45.282 orang
5 Silangkitang 28.208 orang
Labuhanbatu Selatan 277.549 orang Sumber : BPS Labuhanbatu Selatan hasil sensus penduduk tahun 2010
4.3.2 Komposisi Penduduk Berdasarkan Perbandingan Jenis Kelamin Berdasarkan dari data BPS Labuhanbatu Selatan hasil sensus penduduk tahun 2010, komposisi penduduk dilihat berdasarkan perbandingan jenis kelamin di kecamatan Sungai Kanan jumlah penduduk laki-laki sebesar 22.954 orang dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 22.328 orang. Kecamatan Torgamba jumlah penduduk laki-laki sebanyak 50.216 orang dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 47.902 orang. Kecamatan Kota Pinang jumlah penduduk laki-laki sebanyak 27.479 orang dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 26.584 orang. Kecamatan Silangkitang jumlah penduduk laki-laki sebanyak 14.359 orang dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 13.849 orang serta di
kecamatan kampung Rakyat, jumlah penduduk laki-laki sebanyak 26.407 orang dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 25.471 orang.
Tabel 2
Komposisi Penduduk Berdasarkan Perbandingan Jenis Kelamin
No Kecamatan Laki-laki Perempuan
1 Sungai Kanan 22.954 orang 22.328 orang
2 Torgamba 50.216 orang 47.902 orang
3 Kota Pinang 27.479 orang 26.584 orang
4 Silangkitang 14.359 orang 13.849 orang
5 Kampung Rakyat 26.407 orang 25.471 orang Labuhanbatu Selatan 141.415 orang 136.134 orang Sumber : BPS Labuhanbatu Selatan hasil sensus penduduk tahun 2010
4.3.3 Laju Pertumbuhan Penduduk
Secara umum, laju pertumbuhan penduduk kabupaten Labuhanbatu Selatan per tahun selama sepuluh tahun terakhir berdasarkan data BPS Labuhanbatu Selatan hasil sensus penduduk tahun 2010 yakni dari tahun 2000 – 2010 sebesar 2,56%. Laju pertumbuhan penduduk kecamatan Kampung Rakyat adalah yang tertinggi dibanding kecamatan-kecamatan lain di Labuhanbatu Selatan yakni sebesar 2,95% sedangkan yang terendah di kecamatan Silangkitang yakni sebesar 2.05%. Kecamatan Kota Pinang walaupun menempati urutan kedua dari jumlah penduduk namun dari sisi laju pertumbuhan penduduk adalah terendah kedua setelah kecamatan Silangkitang yakni hanya sebesar 2,34%.
Kecamatan Torgamba jumlah penduduknya yang paling banyak dan laju
pertumbuhannya masih di atas laju pertumbuhan penduduk Labuhanbatu Selatan yakni sebesar 2,95%.
4.3.4 Komposisi Penduduk Menurut Suku Bangsa per Kecamatan
Berdasarkan sumber data dari BPS Labuhanbatu Selatan hasil sensus penduduk tahun 2010, persentase komposisi penduduk dilihat dari suku bangsa per kecamatan adalah berikut:
Tabel 3
Komposisi Penduduk Menurut Suku Bangsa per Kecamatan
NO Kecamatan
Suku Bangsa
Melayu Batak Minang Jawa Aceh Lainnya 1 Sungai Kanan 0,15% 78,30% 0,27% 19,62% 0,07% 1,59%
2 Torgamba 0,70% 41,16% 0,74% 52,84% 0,19% 4,37%
3 Kota Pinang 0,65% 55,65% 0,59% 39,43% 0,15% 3,53%
4 Silangkitang 0,07% 18,27% 0,27% 79,75% 0,07% 1,57%
5 Kampung Rakyat
0,34% 30,48% 0,68% 62,49% 0,18% 4,03%
Sumber : BPS Labuhanbatu Selatan hasil sensus penduduk tahun 2010 4.3.5 Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama Yang Dianut per
Kecamatan
Berdasarkan sumber data dari BPS Labuhanbatu Selatan hasil sensus penduduk tahun 2010, persentase penduduk menurut agama yang dianut per kecamatan adalah sebagai berikut:
Tabel 4
Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama Yang Dianut per Kecamatan
No Kecamatan
Agama
Islam Protestan Khatolik Budha Hindu Lainnya 1 Sungai Kanan 97,45% 2,24% 0,29% 0,01% 0,01% - 2 Torgamba 75,98% 22,18% 1,80% 0,03% 0,01% - 3 Kota Pinang 89,59% 8,79% 1,00% 0,57% 0,04% - 4 Silangkitang 99,05% 0,42% 0,49% 0,02% 0,02% - 5 Kampung
Rakyat
92,26% 6,43% 0,52% 0,04% 0,04% 0,07%
Sumber : BPS Labuhanbatu Selatan hasil sensus penduduk tahun 2010
4.3.6 Penggunaan Lahan Menurut Jenis
Berdasarkan data dari Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Labuhanbatu Selatan tahun 2010, penggunaan lahan menurut jenisnya di kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah sebagai berikut :
Tabel 5
Penggunaan Lahan Menurut Jenis
No Jenis Penggunaan Lahan Luas
1 Bangunan perumahan, perkantoran, industri, pendidikan, jalan dll
14.614 hektare
2 Persawahan 14.780 hektare
3 Perkebunan rakyat : a. Kelapa sawit b. Karet
130.264 hektare 28.237 hektare
4 Hutan 39.569 hektare
5 Campuran 6.740 hektare
6 Sungai 9.934 hektare
7 Lainnya 67.462 hektare
Jumlah / Total 311.600 hektare Sumber : Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Labuhanbatu Selatan 2010
4.3.7 Jumlah Tempat Berjualan Yang Terdapat di Pasar atau Pekan Tiap Kecamatan
Berdasarkan data dari Dinas Pasar dan Kebersihan Kabupaten Labuhanbatu Selatan tahun 2009, jumlah tempat berjualan yang terdiri dari los, kios, ruko dan kios terbuka per kecamatan adalah sebagai berikut :
Tabel 6
Jumlah Tempat Berjualan Yang Terdapat di Pasar/Pekan Tiap Kecamatan
No Kecamatan
Pasar atau Pekan
Jenis Tempat Berjualan
Los Kios Ruko Lainnya Jumlah
1 Sungai Kanan 4 6 - - - 6
2 Torgamba 4 5 62 - 4 71
3 Kota Pinang 3 7 315 22 5 249
4 Silangkitang 2 3 - - - 3
5 Kampung Rakyat 1 2 - - - 2
Jumlah / Total 14 23 377 22 9 431
Sumber : Dinas Pasar dan Kebersihan Kabupaten Labuhan Batu Selatan 2009
4.3.8 Perkembangan Jumlah Pedagang di Kabupaten Labuhanbatu Selatan
Berdasarkan dari data Dinas Pasar dan Kebersihan Kabupaten Labuhanbatu Selatan tahun 2004 sampai 2009, perkembangan jumlah pedagang di kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah sebagai berikut :
Tabel 7
Perkembangan Jumlah Pedagang di Kabupaten Labuhanbatu Selatan
No Tahun
Jumlah Pedagang
Jumlah Pribumi Non Pribumi
1 2004 - - -
2 2005 - - -
3 2006 5.124 - 5.124
4 2007 4.211 - 4.211
5 2008 922 - 922
6 2009 921 84 1005
Sumber : Dinas Pasar dan Kebersihan Kabupaten Labuhanbatu Selatan 2009
4.3.9 Jumlah Pedagang Di Pasar/Pekan Menurut Kecamatan
Berdasarkan data dari Dinas Pasar dan Kebersihan kabupaten Labuhanbatu Selatan tahun 2009, jumlah pedagang di pasar atau pekan yang tersebar dimasing- masing kecamatan adalah sebagai berikut :
Tabel 8
Jumlah Pedagang Di Pasar/Pekan Menurut Kecamatan
No Kecamatan Jumlah Pedagang
1 Sungai Kanan 120 orang
2 Torgamba 100 orang
3 Kota Pinang 670 orang
4 Silangkitang 80 orang
5 Kampung Rakyat 35 orang
Jumlah/Total 1005 orang
Sumber : Dinas Pasar dan Kebersihan Kabupaten Labuhanbatu Selatan 2009
4.4. Daerah Pekanan yang Didatangi Pedagang Minang Pancasila 4.4.1 Sidodadi
Pekan ini terletak di kecamatan Kampung Rakyat dan merupakan kawasan perkebunan kelapa sawit. Perkebunan-perkebunan yang ada di wilayah ini antara lain Desa perkebunan Teluk Panji, PT. Asam Jawa, PT. SMA, dan PT. Milano.
Pekan ini berlangsung setiap hari senin dan hanya buka satu kali dalam seminggu, jarak yang ditempuh agar dapat menuju ke pekan ini sekitar 50 km. Para rombongan pedagang biasanya akan berangkat dari Kota Pinang pukul 08.00 pagi dan sampai di pekan pukul 11.00 menjelang siang hari serta akan selesai pada pukul 17.00 sore. Di pekan ini terdapat kurang lebih 100 kios dan 100 lapak tenda serta kaki lima, jumlah pedagang yang jualan di sini mencapai 200 orang. Terdiri dari 60% pedagang etnis Batak, 35% etnis Minang, dan 5% etnis Jawa. Para
pembeli di pekan ini mayoritas beretnis Jawa dengan persentase 75% dan 25%
etnis Batak berupa Nias dan Karo.
4.4.2 Simpang Kanan
Pekan ini terletak di kecamatan Simpang Kanan kabupaten Rokan Hilir Propinsi Riau dan juga merupakan kawasan perkebunan kelapa sawit.
Perkebunan-perkebunan yang ada di wilayah ini antara lain PT. Milano, PT. Asam Jawa dan perkebunan-perkebunan rakyat. Pekan ini berlangsung pada hari selasa dan hari sabtu, jarak yang harus ditempuh rombongan pedagang menuju pekan ini adalah sekitar 60 km perjalanan. Biasanya rombongan pedagang berangkat dari Kota Pinang pukul 08.00 pagi sampai di pekan pada pukul 11.00 menjelang siang dan akan selesai berjualan pada pukul 18.00 sore. Di pekan ini terdapat kurang lebih 100 kios dan 250 tenda atau kaki lima, jumlah pedagang yang berjualan di sini mencapai 350 orang. Terdiri dari 65% pedagang beretnis Batak, 30% etnis Minang dan 5 % etnis Jawa. Para pembeli di pekan ini 40% etnis Jawa, 30% etnis Melayu, 25% etnis Batak dan 5% Nias.
4.4.3 Aek Raso
Pekan ini terletak di kecamatan Torgamba dan merupakan wilayah dari perkebunan kelapa sawit Aek Raso, perkebunan Aek Torob, dan PT. Torganda.
Pekan ini belangsung setiap hari rabu dan hanya berlangsung sekali dalam seminggu, jarak yang ditempuh para pedagang untuk menuju pekanan ini adalah sekitar 80 km perjalanan. Biasanya para pedagang akan berangkat dari Kota Pinang Pukul 05.00 pagi sampai di pekan pukul 09.00 dan akan selesai berjualan
pada pukul 18.00 sore. Di pekan ini terdapat kurang lebih 75 kios dan 100 kaki lima, jumlah pedagang yang berjualan di pekan ini mencapai 170 orang pedagang.
Terdiri dari 75% pedagang beretnis Batak, 25% etnis Minang dan 5% etnis Jawa.
Pembeli di pekan ini 75% beretnis Batak dan I15% etnis Nias dan Jawa.
4.4.4 Lohsari
Pekan ini terletak di kecamatan Kampung Rakyat dan merupakan wilayah dari perkebunan kelapa sawit PT. Tolan III dan PT. Perlabian. Pekan ini berlangsung setiap hari kamis, jarak yang ditempuh para pedagang untuk menuju pekan ini adalah 30 km perjalanan. Para pedagang akan berangkat dari Kota Pinang pada pukul 09.00 pagi dan sampai pada pukul 11.00 WIB. Pekan ini berlangsung hingga malam hari tepatnya pada pukul 20.00 malam. Di pekan ini terdapat kurang lebih 150 kios dan 75 kaki lima, jumlah pedagang yang berjualan di pekan ini mencapai 225 pedagang. Terdiri dari 65% pedagang beretnis Batak, 30% etnis Minang dan 10% etnis Jawa. Pembeli di pekan ini 80% beretnis Jawa dan 20% etnis Batak serta Nias.
4.4.5 Tanjung Medan
Pekan ini terletak di kecamatan Kampung Rakyat dan merupakan termasuk kawasan perkebunan rakyat kelapa sawit. Pekan ini berlangsung setiap hari Minggu, jarak yang ditempuh pedagang untuk menuju lokasi ini mencapai 35 km perjalanan. Para pedagang berangkat dari Kota Pinang pada pukul 07.00 pagi sampai di pekan pada pukul 09.00 dan pekan ini tutup pada pukul 17.00 sore. Di pekan terdapat kurang lebih 70 kios dan 50 kaki lima, jumlah pedagang yang
berjualan di pekan ini mencapai 130 orang pedagang. Terdiri dari 50% pedagang beretnis Batak, 45% etnis Minang dan 5% etnis Jawa penduduk sekitar yang kebanyakan membuka kios makanan. Mayoritas yang menjadi pembeli di pekan ini adalah penduduk beretnis Jawa namun ada juga pembeli etnis Batak dan Nias yang jumlahnya sangat kecil.
4.4.6 Ujung Gading
Pekanan ini terdapat di Padang Lawas Utara dan merupakan masih di wilayah perkebunan kelapa sawit PT. Kasih Idaman, perkebunan Sagala dan perkebunan Ujung Bangau. Jarak pekan ini dari Kota Pinang kurang lebih 40 km perjalanan dan para pedagang biasanya harus menempuh perjalanan selama 2 jam.
Rombongan pedagang akan berangkat dari Kota Pinang pada subuh hari sampai pada pukul 06.00 pagi dan pekan ini akan selesai pada puku 14.00 siang hari.
Terdapat kurang lebih 75 kios dan 75 kaki lima di pekan ini, jumlah pedagang yang berjualan mencapai 150 orang pedagang yang terdiri dari 60% pedagang beretnis Batak dan 40% pedagang etnis Minang. Pembeli di pekan ini merupakan pekerja perkebunan yang terdiri dari 70% etnis Nias, 25% etnis Batak dan 5%
etnis Jawa.
4.4.7 Langkiman
Pekan ini merupakan lokasi terjauh yang ditempuh para pedagang, berada di kawasan perkebunan Torganda milik D.L Sitorus dan termasuk berada di daerah Tapanuli Selatan. Jarak yang ditempuh pedagang agar dapat sampai ke pekan ini mencapai 250 km perjalanan, biasanya para pedagang akan berangkat
dari Kota Pinang pukul 23.00 malam dan sampai pada pukul 03.00 pagi hari. Para pedagang akan beristirahat kemudian akan memulai menggelar barang dagangan pada pagi harinya, pekanan ini adalah pekanan yang selalu ditunggu para pedagang karena biasanya pendapatan yang didapat cukup besar dan hanya berlangsung satu kali dalam sebulan tepatnya ketika para pekerja perkebunan menerima upah kerja mereka. Terdapat kurang lebih 300 kios dan 200 lapak kaki lima, jumlah pedagang yang berjualan di sini mencapai 500 pedagang. Terdiri dari 80% pedagang etnis Batak, 15% etnis Minang dan sisanya 5% etnis Jawa.
Pembeli di pekan ini mayoritas pekerja perkebunan yang beretnis Nias.
4.4.8 IP
Pekan ini terletak di kecamatan Torgamba dan merupakan termasuk wilayah perkebunan-perkebunan kelapa sawit milik rakyat. Pekan ini merupakan pekan terkecil karena hanya berupa tanah lapang yang tidak memiliki kios ataupun los-los pedagang, terdapat kurang lebih 50 orang pedagang yang berjualan secara kaki lima di sini. Terdiri dari 50% pedagang beretnis Batak, 45%
beretnis Minang dan 5% sisanya beretnis Jawa. Para pedagang akan menempuh perjalanan selama 1,5 jam perjalanan tepatnya sepanjang 25 km perjalanan, biasanya para pedagang akan berangkat dari Kota Pinang pukul 09.00 pagi sampai di pekan pukul 10.00 dan selaesai berjualan pada pukul 15.00 siang hari.
4.4.9 Trans
Pekan ini terletak di kecamatan Kampung Rakyat dan berada di kewasan perkebunan kelapa sawit Teluk Panji. Para pedagang akan menempuh perjalanan
kurang lebih sepanjang 30 km, biasanya berangkat dari Kota Pinang pada pukul 08.00 pagi sampai di pekan pukul 10.00 dan akan selesai berjualan pada pukul 18.00 sore hari. Di pekan ini terdapat 75 kios dan 60 kaki lima, jumlah pedagang yang berjulan di pekan ini adalah 125 orang pedagang yang terdiri dari 50%
pedagang beretnis batak, 45% etnis Minang dan 5% etnis Jawa sedangkan pembelinya mayoritas pekerja perkebunan yang beretnis Jawa.
4.5 Profil Informan
4.5.1 Informan pertama (Pedagang Pekan) Nama : Sudirman Pili (SP) Umur : 57 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Jl. Kalapane Gang. Pancasila
Bapak SP merupakan termasuk salah satu pedagang Minang yang telah lama tinggal serta berjualan di Kota Pinang, ia datang ke kota ini sejak 18 tahun yang lalu dan memulai usaha dagangnya setahun kemudian sehingga sudah 17 tahun ia menjalankan usaha dagangnya sampai sekarang ini. Awalnya Bapak SP menjalankan usaha dagang di Kota Medan tepatnya di Pasar Sambu dan Pusat Pasar Medan, ia memiliki toko yang menjual sepatu, sandal dan pakaian jadi.
Namun usaha dagang yang ia rintis mengalami kemunduran dan akhirnya bangkrut karena terlilit banyak utang dan pinjaman di bank. Bapak SP mencoba mencari usaha di tempat lain untuk meneruskan aktifitas perekonomian
keluarganya, ia diajak oleh saudara yang kebetulan telah terlebih dahulu tinggal di Kota Pinang untuk ikut pindah dan melihat-lihat situasi di daerah ini.
Di Kota Pinang, Bapak SP awalnya ingin ikut membuka usaha di kota karena ia melihat pedagang-pedagang termasuk beberapa pedagang Minang yang berjualan di emperan jalan Soedirman baik dengan menyewa ruko (Rumah Toko) maupun berjualan kaki lima, jalan tersebut merupakan jalan lintas Sumatera yang cukup ramai dilalui kendaraan-kendaraan baik menuju Medan maupun sebaliknya menuju Riau sehingga strategis sebagai tempat berdagang, hal ini terlihat dari banyaknya aktifitas perdagangan di tempat ini. Namun Bapak SP berkenalan dan berteman dengan Bapak Lubis yang merupakan orang asli Kota Pinang. Bapak Lubis memiliki kendaraan berupa truk Colt Diesel yang biasa disewa para pedagang pekan yang pada saat itu mayoritas bersuku Batak untuk mengantarkan mereka berjualan ke pekan-pekan di wilayah perkebunan sekitar Labuhanbatu Selatan, Bapak Lubis ini sering melihat barang dagangan berupa sayur-sayuran dan bumbu-bumbu dapur yang dibawa pedagang pekan tersebut sudah habis ketika pekan selesai. Dari cerita tersebut, Bapak SP kemudian memberanikan diri untuk coba ikut berjualan ke pekan-pekan menjual pakaian karena pada saat itu belum ada pedagang yang menjual jenis barang pakaian di pekan-pekan.
Awalnya Bapak SP turun atau berjualan ke pekan dengan menumpang pada para pedagang etnis Batak yang menggunakan truk barang. Bapak SP menaikkan dan menurunkan sendiri barang-barang dagangannya. Pada saat itu, ia merupakan pedagang Minang pertama yang berani berjualan ke pekan-pekan perkebunan dan di setiap pekan yang didatangi hanya ada pedagang-pedagang etnis Batak dan hanya ia sendiri yang beretnis Minang. Modal awal yang dimiliki