BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Pembahasan
5.2.2 Intervensi Non Fisik
oleh penyakitpenyakit tersebut di atas setelah di intervensi dengan CTPS (Depkes RI, 2009).
Pemasangan poster 7 langkah CTPS di SDN 81 Kalukubodo dilakukan setelah penyuluhan 7 langkah CTPS di kelas 5 SDN 81 Kalukubodo. Poster berukuran kertas A4 yang telah dilaminating tersebut berisi informasi mengenai 7 langkah CTPS dalam bentuk gambar yang didesain sendiri. Informasi mengenai 7 langkah CTPS tersebut diambil dari World Health Organization atau WHO. Poster tersebut terpasang di 8 titik dengan izin kepala sekolah SDN 81 Kalukubodo yaitu di kelas 2 (titik 1), kelas 3 (titik 2), kelas 4 (titik 3), kelas 5 (titik 4), kelas 6 (titik 5), tempat cuci tangan (titik 6,7,8). Pada awalnya, poster terpasang di setiap kelas di SDN 81 Kalukubodo dari mulai kelas 1 hingga kelas 6 dan 2 poster lainnya dipasang di tempat cuci tangan. Namun, kurangnya ruang kosong untuk pemasangan poster di kelas 1 membuat satu poster dipindahkan ke tempat cuci tangan. Pemasangan poster di titik-titik tersebut diharapkan dapat mempermudah siswa untuk mengingat 7 langkah CTPS sehingga dapat membiasakan diri dengan CTPS.
Berdasarkan hasil observasi, 8 poster 7 langkah CTPS di SDN 81 Kalukubodo masih terpasang dengan baik hingga akhir kegiatan PBL II.
liang telinga melalui tangan kita. Sehingga kita akan mudah terinfeksi penyakit bahkan virus. Penyebaran Covid-19 adalah salah satunya. Jika terkontaminasi oleh penderita, tangan yang terkontaminasi akan menyentuh hidung, mata dan mulut.
(Rahmawati & Solichin, 2021).
Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jai-jemari menggunakan air dan sabun untuk menjadi bersih. Salah satu indikator dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah Cuci Tangan Pakai Sabun.
(Meisyaroh, dkk., 2021). Cuci tangan pakai sabun adalah proses membuang kotoran dan debu secara mekanis dari kulit kedua belah tangan dengan memakai air dan sabun, cuci tangan pakai sabun merupakan cara yang sederhana, mudah dan bermanfaat untuk mencegah berbagai penyakit penyebab kematian, yang dapat dicegah dengan cuci tangan yang benar seperti penyakit diare dan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) yang sering menjadi penyebab kematian anak-anak. Hasil penelitian oleh kementrian pemerintah dan swasta tentang CTPS menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang CTPS sudah tinggi, namun praktik di lapangan masih rendah (Natsir, 2018 dalam (Tolonggi, dkk., 2021)).
Mencuci tangan dengan sabun dan air secara mekanis dapat menghilangkan kotoran dan debu dari permukaan kulit dengan lebih efektif. Secara signifikan mengurangi jumlah mikroorganisme patogen. Misalnya virus, bakteri dan parasit lainya di tangan.
Dibandingkan dengan intervensi kesehatan lainnya, cuci tangan pakai sabun merupakan intervensi kesehatan yang paling murah dan efektif, yang dapat mengurangi risiko penyebaran berbagai penyakit (Fewtrell et al. 2005 dalam (Rahmawati & Solichin, 2021)).
Dari 10 pertanyaan tersebut, pertayaan nomor 1, 3, 5 dan 9 merupakan yang paling banyak dijawab dengan benar oleh responden dengan persentase yaitu 100% pada pre-test dan post-test.
Sedangkan pertanyaan yang paling banyak dijawab dengan salah oleh responden adalah pertanyaan nomor 2 dan 7 pada pre-test yaitu 16,7% dan pertanyaan nomor 8 pada post-test yaitu 8,3%. Hasil pre- post test tersebut kemudian di uji menggunakan SPSS dengan uji Wilcoxon. Hasil analisis uji Wilcoxon ditemukan bahwa nilai signifikasi 0,048 < 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan responden terkait CTPS yang benar setelah dilaksanakan kegiatan penyuluhan CTPS.
Adapun DULAH (Duta Sekolah) CTPS dipilih dengan melihat keberanian siswa(i) yang dapat mencontohkan 7 langkah CTPS dengan baik dan benar. Pada saat pemilihan DULAH terdapat 3 kandidat yang berhasil mencontohkan 7 langkah CTPS dengan baik dan benar sehingga untuk menentukan satu DULAH maka diberikan 3 pertanyaan dari materi yang telah disampaikan sebelumnya sehingga terpilih Aisyah Sahrini menjadi DULAH (Duta Sekolah) CTPS.
b) Penyuluhan Imunisasi
Imunisasi yaitu salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir suatu penyakit dan kematian akibat PD3I (Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi). Imunisasi merupakan salah satu cara pencegahan penyakit melalui pemberian imunitas yang diberikan secara teratur sesuai standar yang nantinya mampu memberikan sebuah pertahanan kesehatan. Imunitas yang diperoleh melalui imunisasi adalah imunitas aktif. Dengan demikian jika tubuh seseorang terserang oleh patogen maka hanya akan mengalami sakit ringan. Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) diantaranya TBC, Difteri, Tetanus, Hepatitis B, Pertusis, Campak, Polio, radang selaput otak, dan radang paru-paru. Dengan imunisasi maka anak-anak akan memperoleh perlindungan dan mencegah kecacatan serta kematian (Safitri, dkk., 2021).
Dalam era globalisasi, imunisasi merupakan upaya pencegahan penyakit infeksi menuju masa depan anak yang lebih sehat.
Peningkatan pemberian imunisasi harus diikuti dengan peningkatan efektifitas dan keamanan vaksin. Walaupun demikian, peningkatan penggunaan vaksin akan meningkatkan pula kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang tidak diinginkan. Imunisasi telah diakui sebagai upaya pencegahan suatu penyakit infeksi yang paling sempurna dan berdampak pada peningkatan kesehatan masyarakat (Safitri, 2021).
Pada masa pandemi ini banyak orang tua yang mulai takut dengan pemberian imunisasi, seperti pemberian imunisasi campak, polio dan lain sebagainya terhadap anaknya. Oleh karena itu diperlukan penyuluhan tentang pentingnya imunisasi terhadap para orang tua. Penyuluhan merupakan suatu media komunikasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi tentang pentingnya imunisasi. Menurut Fitriani (2011) menyatakan bahwa penyuluhan kesehatan merupakan suatu proses kegiatan pemberian informasi tentang hidup sehat untuk mengubah perilaku masyarakat.
Penyuluhan kesehatan termasuk salah satu intervensi yang mandiri untuk klien baik secara individu, keluarga, kelompok hingga masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya (Safitri, 2021).
Penyuluhan Imunisasi dilakukan di Kantor Desa Kalukubodo dengan sasaran responden yaitu ibu yang memiliki bayi dan balita.
Jumlah peserta penyuluhan Imunisasi yaitu sebanyak 35 orang yang berasal dari 3 dusun diantaranya yaitu 16 orang dari Dusun Kalukubodo, 11 orang dari Dusun Kp. Pabilaya dan 8 orang dari Dusun Pa’battoang. Untuk distribusi responden penyuluhan Imunisasi berdasarkan umur yaitu 4 responden dengan rentang umur antara 17-21 tahun, 9 responden dengn rentang umur 22-26 tahun, 8 responden dengan rentang umur 27-31 dan terdapat 8 responden juga yang memiliki rentang umur 32-36 tahun, ada 4 responden
dengan rentang umur 42-46 tahun, 1 responden dengan rentang umur antara 37-41 tahun dan 1 responden lagi berumur lebih dari 46 tahun.
Penyuluhan Imunisasi diukur dengan menggunakan instrumen pre-post test yang terdiri dari 10 pertanyaan. Dari 10 pertanyaan tersebut, pertayaan yang paling banyak dijawab dengan benar oleh responden adalah pertanyaan nomor 1 dan 2 pada pre-test dan pertanyaan nomor 1, 2, 9 dan 10 pada post-test yaitu 100%.
Sedangkan pertanyaan yang paling banyak dijawab dengan salah oleh responden adalah pertanyaan nomor 3 pada pre-test yaitu 34,3% dan pertanyaan nomor 4 pada post-test yaitu sebanyak 20,0%.
Setelah di lakukan analisis pre-post test dengan SPSS, hasil analisis uji Wilcoxon ditemukan bahwa nilai signifikasi 0,031 < 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa setelah dilaksanakan kegiatan Penyuluhan terjadi peningkatan pengetahuan responden terkait Imunisasi.
5.3 Faktor Pendukung dan Penghambat