oleh pemerintah Malaysia di bawah kendali Perdana Menteri Mahatir Muhammad.
hadiah-hadiah orang-orang Spanyol dapat memperluas kedaulatannya ke seluruh perkampungan Pilipina, akan tetapi SpanyoL mendapatkan perlawanan sengit ketika menghadapi kesultanan Islam di wilayah selatan, yakni Sulu, Maguindanao dan Buayan. Rentetan peperangan yang panjang antara Spanyol dan Islam hasilnya tidak nampak kelihatan, yang nampak adalah bertambahnya ketegangan antara orang Kristen dan orang Islam Pilipina.
Amerika menguasai Pilipina setelah mengalahkan Spanyol. Hubungan dengan masyarakat muslim Pilipina lebih baik. Ini merupakan efek dari kebijakan resmi Amerika untuk membiarkan kehidupan agama orang Islam dan kebiasaan-- kebiasaan ritualnya. Namun demikian, Islam dibenci dan dicurigai. Untuk itu, kontak-kontak dengan saudaranya yang terdekat di Pulau Kalimantan dan pulau-pulau lainnya di Indonesia dibatasi. Ketika sebagian besar rakyat Pilipina memilih di bawah protektorat Amerika, masyarakat muslim Pilipina (dipelopori seratus tokoh agama dari Maranao) pada bulan Maret 1935 menulis surat kepada Presiden Roosevelt yang intinya persetujuannya terhadap pemerintahan protektorat khusus untuk masyarakat muslim yang terpisah dengan Pilipina. Tapi permintaan ini tidak dikabulkan Amerika.
Ketika Manuel Quezon (Presiden Persemakmuran) menyatakan bahwa Undang-undang Nasional akan ditetapkan secara lama terhadap orang-orang Islam dan Kristen, mendapat reaksi keras dari kelompok Islam, karena secara mencolok mengabaikan sistem-sistem sosial dan hukum tradisional Islam. Undang-undang Nasional itu lebih
banyak mengambil dari etika Kristen dan sejarah sosial barat.
Sebagian pemimpin Islam berkeyakinan bahwa peraturan pemerintah yang baru itu merupakan rencana jahat yang disengaja untuk mematikan Islam di Pilipina.249
Setelah kemerdekaan Pilipina tanggal 4 Juli 1946, masyarakat Moro tetap melanjutkan perjuangannya bagi kemerdekaan Moro. Pemerintahan Pilipina yang baru tetap melanjutkan kebijakan mass kolonial yakni melakukan tindakan-tindakan represif kepada gerakan separatis Moro.
Pemindahan masyarakat Katolik Pilipina ke wilayah Mindanao-yang mayoritas beragama Islam-terus dilakukan.
Menjelang tahun 1960 tingginya para pemukim baru yang berasal dari Pilipina Utara dan Tengah membuat Moro menjadi minoritas di wilayah tinggal sendiri. Pemerintah Pilipina, seperti halnya pemerintah kolonial Amerika, juga mengeluarkan sejumlah undang-undang yang mensyahkan pengambilan tanah yang secara turun temurun dimiliki penduduk muslim Moro guna pengembangan proyek perkebunan dan pemukiman.
Kondisi perekonomian yang semakin menurun di kalangan penduduk muslim Moro ditambah lagi dengan kasus pembunuhan di Jabaidah telah memicu lahirnya gerakan Mindanao merdeka MIM (Mindanai Independence Movement) di tahun 1968, tapi gerakan ini dapat diatasi oleh pemerintah Pilipina dengan memberi posisi yang strategis kepada tokoh-tokoh MIM. Hal ini menimbulkan kekecewaan pada kader-kader muda MIM, di bawah kepemimpinan Nur
249 Lihal Cesar A Majul, Dinamika Islam Di Pilipina, Terj. Eddy Zainuri, (Jakarta: LP3ES, 1989), hal. 8-20.
Misuari kader-kader muda itu membentuk Fron Pembebasan Nasional Moro (MNLF-Moro National Liberation Front), sebuah organisasi yang dikenal sangat militan. Tujuan utama dari organisasi ini adalah memperjuangkan kemerdekaan penuh bagi tanah Moro. MNLF ini ternyata mendapat simpati dari negara-negara Islam di bawah OKI sehingga memaksa Presiden Marcos menyetujui perjanjian Tripoli pada tanggal 23 Desember 1976, perjanjian ini memberikan peluang pembentukan wilayah Mindanao sebagai suatu wilayah otonom yang meliputi 13 propinsi dan 9 kota. Marcos bersikeras bahwa untuk menentukan daerah otonom itu perlu diadakan referendum. Hal ini ditolak MNLF, akibatnya gencatan senjata yang telah dideklarasikan sebelumnya berakhir. Pertempuran berlanjut lagi di akhir tahun 1977 yang pada akhimya membuat pemimpin MNLF, Nur Misuari melarikan diri ke Timur Tengah.
Gagalnya perjanjian Tripoli ini memunculkan organisasi sempalan yang tidak puas atas sepak terjang Nur Misuari, di bawah Hashim Salamat berdirilah Fron Pembebasan Islam Moro (Moro Islamic Liberation Front-MILF). Ketika menjadi Presiden di tahun 1986, Aquino mengeluarkan undang- undang baru yang mendeklarasikan berdirinya wilayah otonom bagi muslim Mindanao, tapi MNLF pecah untuk bersatu dan memperbaharui perjuangan bersenjata demi berdirinya Republik Bangsa Moro yang berdaulat.
Pengangkatan Fidel Ramos sebagai Presiden Pilipina di tahun 1992, memberi harapan baru bagi Nur Misuari, Presiden membuka negosiasi dengan MNLF di tahun 1996, persetujuan yang ditanda tangani dengan MNLF menyatakan
bahwa MNLF menjadi badan pengawas atas semua proyek pembangunan ekonomi di seluruh Propinsi di Mindanao untuk tiga tahun, dan Nur Misuari sebagai Gubernur di wilayah itu. Ternyata perjanjian ini terbukti berhasil mengurangi perlawanan bersenjata di Mindanao.
Lain halnya Salamat, pimpinan MLIF ini menyatakan bahwa otonomi yang diberikan kepada bangsa Moro tidaklah memecahkan masalah, pemecahan yang paling jitu atas problem bangsa Moro adalah kemerdekaan penuh lepas dari Pilipina dan berdirinya negara Islam Moro.250 Selain MILF, masih ada kelompok-kelompok sempalan kecil lainnya seperti kelompok pimpinan Abu Sayyaf yang cita-cita perjuangannya sama dengan MILF. Perkembangan terbaru di awal tahun 2002 ini adalah terjadinya pertempuran hebat antara pasukan Nur Misuari dengan pasukan pemerintah Pilipina yang berakhir dengan larinya Nur Misuari dengan sebagian pengikutnya ke Malaysia. Pada masa mendatang, masalah Moro nampaknya akan mengalami babak baru yang cukup rumit.
Menurut Majul, paling tidak ada tiga alasan yang menjadi penyebab sulitnya bangsa Moro berintegrasi secara penuh kepada pemerintah Republik Pilipina. Pertama, bangsa Moro sulit menghargai Undang-undang Nasional, khususnya yang mengenai hubungan pribadi dan keluarga, karena jelas undang-undang itu berasal dari barat dan Katolik, seperti larangan bercerai dan poligami, yang sangat jelas
250 Lihat Erni Budiwanti, Minoritas Muslim di Pilipina, Thailand dan Myanmar: Masalah Represi Politik dalam Problematika Minoritas Muslim di Asia Tenggara, Kasus Moro, Pattani dan Rohingya, et. Riza Sihbudi, (Jakarta: PPW-LIPI, 2000), hal. 137-142.
bertentangan dengan hukum Islam yang membolehkannya.
Kedua, sistem sekolah yang menetapkan kurikulum yang sama, bagi setiap anak Pilipina di semua daerah, tanpa membedakan perbedaan agama dan kultur, membuat bangsa Moro malas untuk belajar di sekolah yang didirikan oleh pemerintah. Mereka menghendaki dalam kurikulum itu adanya perbedaan khusus bagi bangsa Moro, dikarenakan adanya perbedaan agama dan kultur. Ketiga, bangsa Moro masih trauma dan kebencian yang mendalam terhadap program perpindahan penduduk yang dilakukan oleh pemerintah Pilipina ke wilayah mereka di Mindanao, karena program ini telah mengubah posisi mereka dari mayoritas menjadi minoritas hampir di segala bidang kehidupan. 251