• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF digilib.uinkhas.ac.id

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PDF digilib.uinkhas.ac.id"

Copied!
278
0
0

Teks penuh

Pertama, pendahuluan yang terdiri dari: Pengertian Kajian Islam, Tujuan Kajian Islam dan Sasaran Kajian Islam. Kedua, Islam dan Ciri-cirinya, yang terdiri atas: Pengertian Islam, Tujuan Kajian Islam dan Metode Pemahaman Islam. Keempat, As Sunnah sebagai landasan agama Islam, yang terdiri atas: Pengertian As Sunnah, kedudukan As Sunnah dalam Islam dan fungsi As Sunnah.

Tujuan Studi Islam

Sebagai agama kodrat, ajaran dasar Islam harus ditransformasikan ke dalam berbagai dimensi agar mampu berkembang dengan baik dan berinteraksi dengan lingkungan budaya yang dinamis. Mempelajari dan mendalami sumber-sumber ajaran Islam, Al-Qur'an dan hadis sebagai sumber ajaran Islam menjadi landasan berpikir dan bertindak. Kedua, menjadikan ajaran Islam sebagai wacana ilmiah yang transparan dan dapat diterima oleh berbagai kalangan.

Aspek Sasaran Studi Islam

Kajian Islam yang mengarah pada rasionalisasi dan adaptasi merupakan konstruksi kajian Islam yang cenderung subjektif, apologetik, doktrinal, dan tertutup. Oleh karena itu, aspek objektif kajian Islam mencakup dua hal, yaitu aspek objektif keagamaan dan aspek objektif ilmiah. Oleh karena itu, tujuan kajian Islam adalah memusatkan perhatian pada aspek praktis-empiris yang mengandung nilai-nilai keagamaan sehingga dapat dijadikan landasan.

Bentuk-bentuk Agama

Secara historis, penerapan agama wahyu ini dapat diberikan pada agama yang mengajarkan adanya wahyu yaitu Yudaisme, Kristen, dan Islam. Kepercayaan ini tidak mengarah pada kegiatan keagamaan untuk memuja benda atau tumbuhan tersebut, namun animatisme biasanya merupakan salah satu unsur agama; dan Fetishisme, yaitu suatu bentuk agama yang didasarkan pada kepercayaan akan adanya jiwa pada benda-benda alam tertentu dan terdiri dari kegiatan keagamaan untuk memuja benda-benda tersebut dengan jiwa. Materialisme adalah agama yang mendasarkan kepercayaannya kepada Tuhan yang disimbolkan dalam bentuk benda-benda material, seperti patung manusia atau binatang dan berhala atau benda yang dibangun dan dibuat untuk disembah.

Cara Manusia Beragama

Metode ini menekankan pada penghayatan dan pengamalan agama dalam aspek ibadah, baik ritual formal maupun aspek pelayanan sosial keagamaan. Menurut kelompok ini yang terpenting adalah beramal shaleh karena indikator seseorang beragama atau tidak adalah terlaksananya segala amal baik yang bersumber dari agama itu sendiri. Sinkretisme diambil dari bahasa Yunani syncretismos yang berarti menggabungkan ajaran dan praktik agama yang berbeda satu sama lain.

Urgensi Agama Bagi Manusia

Hal ini menandakan bahwa manusia dalam beraktivitas sehari-hari tidak lepas dari tanggung jawabnya sebagai makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Sehubungan dengan itu, dengan segala kelemahan dan keterbatasan yang dimiliki manusia, perlu adanya suatu aturan hidup yang kebenarannya bersifat mutlak, yaitu kebenaran yang bersumber dari Yang Mutlak yaitu Tuhan Yang Esensi, bebas dari segala kelemahan dan kekurangan sebagaimana serta kepentingan tertentu. Agama dengan demikian merupakan kebutuhan primer bagi manusia sebagai makhluk sosial, karena di dalamnya terkandung aturan-aturan hidup yang kebenaran mutlaknya adalah mengangkat harkat dan martabat manusia serta memisahkannya dari segala binatang,63 yang fungsi utamanya menurut Freud adalah: menjaga kesusilaan dan ketertiban masyarakat.64 Pandangan ini, bila dikaitkan dengan makna Anda, mempunyai relevansi yang besar, yaitu.

Karakteristik Islam

Metode Pemahaman Islam

Pengertian Al Qur’an

Otentisitas Al Qur’an

Kedudukan As-Sunnah Dalam Islam

Fungsi As-Sunnah Terhadap Al

Hukum dan Lapangan Ijtihad

Jika seorang muslim dihadapkan dengan suatu peristiwa, atau ditanya tentang masalah yang berkaitan dengan hukum syariah, maka terdapat beberapa peraturan untuk melakukan Ijtihad. Seperti yang dijelaskan oleh Wahbah al-Zuhaili, "boleh jadi hukum Ijtihad itu wajib `ain, fardu kifayah, sunnah malah atau haram, bergantung kepada kemampuan orang yang memikulnya. Pertama, bagi seorang Muslim yang menepatinya. kriteria seorang mujtahid yang diminta fatwa atas suatu peristiwa yang telah terjadi dan ia khuatir peristiwa itu akan hilang begitu saja tanpa kepastian hukum, atau ia sendiri mengalami peristiwa yang tidak jelas hukumnya dalam nash, maka hukum ijtihad tersebut menjadi. wajib `ain.

Kedua, bagi seorang muslim yang memenuhi kriteria seorang mujtahid, yang dimintai fatwa hukum atas suatu peristiwa yang telah terjadi, namun ia khawatir peristiwa tersebut hilang dan ada mujtahid selain dia, maka hukum ijtihad menjadi kifaya wajib. . Ketiga, hukum ijtihad menjadi sunnah jika diterapkan pada permasalahan yang belum atau belum terjadi. Keempat, hukum ijtihad menjadi haram bagi peristiwa yang jelas qathi hukumnya, baik dalam Al-Qur'an maupun Sunnah; atau ijtihad terhadap hal-hal yang hukumnya ditentukan oleh ijma.

Adapun bidang ijtihad (majal al-ijtihad), ialah masalah-masalah yang dibolehkan untuk menentukan hukum dengan cara ijtihad, yang dalam istilah teknis usul fiqh disebut mujtahid fih. Dalam konteks ini, al-Zuhaili dengan tegas mengatakan bahawa sesuatu yang didirikan berdasarkan dalil qath'i ats-tsubut wa dalalah tidak termasuk dalam bidang ijtihad. Tambahan pula, al-Zuhaili mengesahkan wujudnya dua bidang ijtihad: Pertama, sesuatu yang tidak dijelaskan sama sekali oleh Allah dan Nabi Muhammad dalam al-Quran dan Sunnah (ma la nashshaha fi ashlain).

Dan kedua, sesuatu yang dibuktikan berdasarkan dalil dzanni ats-tsubut wa ad-dalalah atau salah satunya-dzanni ats tsubut atau dzanni ad dalalah.

Ijtihad Sebagai Sumber Dinamika

Sedangkan hukum-hukum yang dapat diakui agama secara jelas dan badihi sama sekali bukan bidang ijtihad. Jarak yang jauh ini memungkinkan terjadinya lupa terhadap beberapa ayat, khususnya pada al-Sunnah, yaitu masuknya hadis-hadis palsu dan perubahan makna ayat-ayat tersebut. Oleh karena itu, para mujtahid dituntut untuk sungguh-sungguh menyelidiki kebenaran ajaran Islam melalui kerja ijtihad.

Syariah disajikan secara komprehensif dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah; itu membutuhkan studi dan studi yang serius. Dilihat dari fungsinya, ijtihad merupakan saluran kreativitas pribadi atau kelompok dalam menyikapi peristiwa yang dihadapi berdasarkan pengalamannya. Selain itu, ijtihad juga menjamin terjadinya penafsiran kembali peraturan perundang-undangan sekunder sesuai dengan kondisi yang berlaku saat itu, tanpa melanggar prinsip-prinsip umum, dalil kulli dan maqashid alsyari'ah yang menjadi pedoman hidup.

Ijtihad diperlukan untuk menciptakan kembali semangat dinamis Islam untuk menerobos hambatan dan kebekuan, untuk memperoleh kemaslahatan ajaran Islam, untuk berikhtiar.

Islam di Malaysia

Dengan kejatuhan Kerajaan Aceh sebagai pusat utama politik dan pengajian Islam di Indonesia pada abad ke-17, pusat-pusat pengajian Islam muncul di tempat-tempat lain. Terengganu telah lama dikenali sebagai pusat pengajian Islam tradisional di Tanah Melayu, bahkan mungkin sebelum negeri-negeri lain. Salah seorang tokoh awal yang aktif dalam pendidikan Islam di Kelantan ialah Syeikh Haji Abdul Halim.

Ia sendiri keluar dari PAS karena lebih condong ke Musyawarah Nasional yang dipimpin oleh Dato' Onn Jaafar, sedangkan kelompok PAS lainnya yang dipimpin oleh Haji Ahmad Badawi mendukung Konvensi Nasional yang dipimpin oleh Tuanku Abdul Rahman Putra. Maka lahirlah Perkumpulan Dakwah Muslim Seluruh Malaya (Asosiasi Dakwah Islam se-Malaysia) pada tahun 1931 dengan ketuanya Sayid Abdul Rahman al-Junied. Melalui kajian sejarah Islam Malaysia dan karya-karyanya tentang peran Islam di nusantara, ia mengejutkan kalangan intelektual melalui uji cobanya terhadap teori-teori Barat yang dianut hingga saat ini.

Contohnya, semasa Persidangan Agung PKPIM pada Ogos 1969, mereka menuntut Tunku Abdul Rahman meletakkan jawatan. Keputusan yang diambil oleh Perdana Menteri Mahatir Muhammad pada tahun 1982 untuk melaksanakan dasar pembudayaan nilai-nilai Islam dalam kerajaan telah menjadikan syiar Islam semakin penting apabila dasar itu dilaksanakan secara nyata. Mahatir sendiri menjelaskan dalam peluang temu bual apa matlamatnya, iaitu 'Apa yang kami maksudkan dengan Islamisasi ialah untuk menyemai nilai-nilai Islam dalam kerajaan.

244 Omar Farouk, “Social Research and the Islamic Revival of Malaysia”, dalam Perkembangan dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara, red.

Islam di Pilipina

Ketika Manuel Quezon (Presiden Persemakmuran) menyatakan bahwa konstitusi nasional akan ditetapkan untuk jangka waktu yang lama terhadap umat Islam dan Kristen, hal tersebut mendapat reaksi keras dari kelompok Islam karena secara terang-terangan mengabaikan sistem sosial dan hukum Islam tradisional. Pemerintah Filipina, seperti halnya pemerintah kolonial Amerika, juga mengeluarkan serangkaian undang-undang yang melegalkan pengambilan tanah yang secara tradisional dimiliki oleh penduduk Muslim Moro untuk pengembangan proyek perkebunan dan pemukiman. MNLF rupanya mendapat simpati dari negara-negara Islam di bawah OKI sehingga memaksa Presiden Marcos menerima Perjanjian Tripoli pada tanggal 23 Desember 1976. Perjanjian ini memungkinkan terbentuknya wilayah Mindanao sebagai wilayah otonom yang meliputi 13 provinsi dan 9 kota.

Kegagalan Perjanjian Tripoli mengakibatkan sempalan organisasi tidak senang dengan tindakan Nur Misuari, Front Pembebasan Islam Moro (MILF) dibentuk di bawah pimpinan Hashim Salamat. Ketika menjadi presiden pada tahun 1986, Aquino mengeluarkan undang-undang baru yang menyatakan adanya daerah otonom bagi Muslim Mindanao, namun MNLF dibubarkan untuk menyatukan dan memperbarui perjuangan bersenjata untuk mendirikan Republik Nasional Moro yang berdaulat. Berbeda dengan Salamat, pemimpin MLIF menyatakan bahwa otonomi yang diberikan kepada bangsa Moro tidak menyelesaikan masalah, dan solusi paling efektif terhadap permasalahan bangsa Moro adalah kemerdekaan penuh dari Filipina dan pembentukan Negara Islam Moro.250 Selain itu Di samping MILF, masih terdapat kelompok-kelompok kecil sempalan lainnya, misalnya kelompok pimpinan Abu Sayyaf yang cita-cita perjuangannya sama dengan MILF.

Menurut Majul, setidaknya ada tiga alasan mengapa masyarakat Moro sulit berintegrasi penuh ke dalam pemerintahan Republik Filipina. Pertama, sulit bagi orang Moro untuk mengapresiasi Undang-Undang Nasional, terutama yang mengatur hubungan pribadi dan keluarga, karena undang-undang tersebut jelas berasal dari Barat dan bersifat Katolik, seperti larangan perceraian dan poligami yang sangat jelas. Kedua, sistem sekolah yang menetapkan kurikulum yang sama bagi setiap anak Filipina di semua wilayah, tanpa membedakan perbedaan agama dan budaya, membuat masyarakat Moro enggan belajar di sekolah yang didirikan pemerintah.

Ketiga, masyarakat Moro masih sangat trauma dan marah dengan program perpindahan penduduk yang dilakukan pemerintah Filipina di wilayah mereka di Mindanao karena program ini telah mengubah posisi mereka dari mayoritas menjadi minoritas di hampir semua bidang kehidupan.

Islam di Thailand

Mereka ingin kurikulumnya memiliki perbedaan khusus bagi masyarakat Moro, karena perbedaan agama dan budaya. Setelah integrasi, banyak pemberontakan lokal yang bersifat sporadis tetapi dapat dikalahkan oleh angkatan bersenjata pemerintah Thailand. Jika sebelumnya pemerintah Thailand menggunakan pendekatan kekerasan terhadap kekuasaan untuk menaklukan umat Islam Pattani, kini pemerintah menganggap pendidikan adalah upaya integrasi damai.

Namun bagi masyarakat Pattani, masuknya bahasa Thailand dianggap sebagai upaya menghilangkan budaya Pattani. Selama ini, pemerintah Thailand menghapuskan penggunaan hukum Syariah dan adat istiadat Pattani dan menggantinya dengan hukum masyarakat Siam. Selain kebijakan integrasi yang dipaksakan, perbedaan ekonomi juga semakin menciptakan jarak sosial yang semakin dalam.

Kelompok pertama berpendapat bahwa umat Islam Pattani harus bekerja sama dengan pemerintah Thailand untuk menyelesaikan berbagai masalah ekonomi, administrasi, dan pendidikan. Sebagai bagian dari masyarakat Thailand yang tunduk pada hukum negara, mereka menuntut perlakuan yang sama seperti warga negara. Orientasi perjuangan mereka tidak lagi terfokus pada Islam dan etnis, namun sebagai bagian dari masyarakat Thailand mereka menuntut persamaan hak seperti yang dinikmati oleh mayoritas warga Thailand yang beragama Buddha.

Kelompok kedua berpendapat bahwa masyarakat Muslim Pattani tidak akan mampu mempertahankan dirinya sebagai komunitas etnis dan agama serta tidak akan bisa maju selama berada di bawah dominasi dan kendali ketat pemerintah Thailand.

Islam di Singapura

Islam di Brunei Darussalam

Referensi

Dokumen terkait