• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Pendukung dan Penghambat Komunikasi Antara

BAB III METODE PENELITIAN

D. Faktor Pendukung dan Penghambat Komunikasi Antara

Komunikasi yang baik itu dibangun antara pembina dengan santri agar menghasilkan sebuah pemahaman yang baik bagi para santri dalam memperdalam agama mereka, para santri sudah menganggap ustadz dan ustadzahnya seperti bapak dan ibu mereka sendiri. Kedekatan antara pembina dengan santri pun terlihat dari cara berkomuniksi dan bertegur sapa. Pembina merupakan komunikator yang berperan dalam upaya meningkatkan pemahaman agama santri, sehingga bukan hanya profesionalisme semata yang dibutuhkan tetapi juga kemampuan menciptakan komunikasi yang efektif, oleha Karen itu sebelum kita berkomunikasi dengan orang lain maka kita harus meciptakan suasana yang baik dan suatu hal yang tidak akan membuat udiens itu bosan.

Dan kemudahan yang ditemukan pembina baik dari segi komunikasinya maupun hubungan dengan santrinya, komunikasi itu berjalan dengan lancar karena santri menerima nasehat-nasehat yang diberikan.

Ada beberapa faktor yang mendukung dalam proses komunikasi yaitu:

1. Keterbukaan

Dengan sikap keterbukaan pembina dalam mendengarkan masalah maupun kendala yang santri sampaikan itu sangat mendukung terjalinnya

komunikasi yang baik misalnya pada saat memberikan arahan dan santri akan menyampaikan masalah. Kemudian pembina akan mendengarkan santri tersebut dengan masalah yang dihadapi. Komunikasi pembina dalam peningkatan pemahaman santri di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu adalah adanya keakraban antara pembina dengan santri yang menjadikan proses belajar mengajar menjadi lebih nyaman, dan santripun dapat lebih mudah memahami apa yang disampaikan pembina. Jadi dalam memberikan materi pembina tidak ada rasa canggung, begitu juga dengan santri, apabila santri belum paham maka santri tidak takut atau canggug untuk bertanya kepada pembinanya. Sikap terbuka pembina dalam menyampaikan materi kepada santri tanpa ada yang disembunyikan antara pembina dengan santri mempunyai sikap keterbukaan yang mendukung terciptanya efektifitas komunikasi.Hal ini sesuai dengan yang diungkapakan oleh Ustadza Adewiyah , yang mengatakan:

“Yang mejadi faktor pendukung dalam berkomunikasi dengan adanya keterbukaan antara pembina dengan santri itu sendiri, sehingga komunikasi ini bisa berjalan efektif. Sehingga pembina harus terbuka dengan santrinya.”72

Dengan adanya sikap keterbukaan antara pembina dengan santri akan tercipta komunikasi yang baik di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu, hal ini akan membuat semakin akrab antara pembina dengan santri dalam berkomunikasi baik dalam belajar mengajar, sehingga santri dapat menerima pelajaran atau materi dari pembina akan lebih bersemangat dan lebih mudah memahami.

72Adewiyah Pembina Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu “ wawancara” pada tanggal 10 februari 2020.

2. Public Speaking

Seorang Pembina merupakan kudwah bagi santrinya tergantung bagaimana Pembina tersebut mampu menyajikan kepada sanri karastristik yang baik bagi santrinya tersebut salah satunya Public speaking, retorika atau seni berbahasa yang baik dapat mengubah pola pikir santri kearah yang lebih baik sehingga memang sangat perlu bagi seorang Pembina mampu membius santrinya dengan retorikanya yang menarik.

3. Masyarakat

Selain dengan keterbukan adanya juga dukungan dari masyarakat sekitar yang ikut memantau kegiatan serta tingkah laku para santri di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu, selain mendukung masyarakat juga ikut serta dan terlibat dalam kegiatan yang dilakukan setiap hari-harinya di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu, semua itu merupakan suatu dukungan yang membuat hubungan pembina, santri dan masyarakat sekitar menjadi baik.

Dalam komunikasi yang dilakukan oleh para pembina tentu saja tidak semuanya dapat berjalan dengan lancar dan komunikasi yang dilakukan pembina terhadap santri adalah adanya sikap dan kepribadian santri yang beraneka ragam.

Dan faktor yang menjadi penghambat dalam proses komunikasi yaitu:

1. Perilaku santri

Perilaku santri disini merupakan bawaan dari luar lingkungan pondok pesantren yang akhirnya mempengaruhi dan mempunyai dampak negatif di dalam pondok pesantren, karena ketika pembina melakukan proses komunikasi

dengan santri, namun perilaku santri yang tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh pembina dapat menyebabkan komunikasi itu menjadi terhambat.

Hal ini sesuai dengan yang diungkapakan oleh Ustadza Najmah yang mengatakan:

“Salah satu faktor yang menjadi kendala bagi kami pembina dalam berkomunikasi dengan santri yaitu kepribadian maupun perilaku santri yang datang dan masuk di pondok pesantren ini berbeda-beda atau bermacam karakternya. Oleh karena itu bagaimana pembina mendidik para santri ini menjadi lebih baik sesuai dengan yang diharapkan.”73 Terkadang pembina memiliki hambatan berkomunikasi dengan santri apalagi kepada santri yang nakal dan perilakunya kurang sopan,akan tetapi disinilah kita melihat pesan seorang Pembina yang bijaksana dalam membimbing santri dalam hal ilmu keagamaan.

2. Latar belakang yang berbada-beda

Di dalam pondok pesantren itu terdapat santri yang datang dari berbagai daerah yang memiliki latar belakang berbeda-beda dan selain itu pesantren juga merupakan lembaga yang dekat dengan masyarakat. Dan di pesantren juga aka nada berbagai banyak peraturan yang telah ditetapkan oleh para ustad dan ustadzah yang mempunyai tanggung jawab didalam pesantren tersebut sehingga semua santri harus mematuhi aturan yang berlaku. Hal ini sesuai dengan yang diungkapakan oleh Ustadza Nur Afiah yang mengatakan:

“Santri pada pondok pesantren ini tidak seluruhnya taat pada aturan- aturan pondok pesantren yang telah ditetapkan, karena pada dasarnya santri yang ada pada pondok pesantren memiliki latar belakang yang berbeda-beda mulai dari segi budaya, pendidikan dan kebiasaan. Dan

73Najmah Pembina dan Pengajar di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu “ wawancara” pada tanggal 31 Mei 2020

ada juga yang sudah terdidik baik dalam keluarganya, ada juga yang dimasukkan kedalam pondok pesantren karena nakal dan latar belakang inilah yang menjadi sebuah hambatan bagi pembina pondok pesantren.”74

3. Orang tua

Orang tua juga merupakan penghambat bagi santri dalam pondok pesantren karena orang tua yang terlalu tegas terhadap anaknya, tidak mengkomunikasikan secara baik-baik jika anaknya melakukan kesalahan dalam pondok pesantren. Sehingga menjadi faktor penghambat pembina dalam membina santri di pondok pesantren, karena meskipun pembina sudah membina maupun berkomunikasi dengan santri secara baik, akan tetapi jika hubungan santri dengan orang tua yang tidak efektif, maka akan berpengaruh pembinaan yang dilakukan kepada santri itu. Hal ini sesuai dengan yang diungkapakan oleh Ustadza Najmah yang mengatakan:

“Terkadang orang tua menjadi salah satu faktor penghambat karena tidak sedikit santri yang bersikap tertutup terhadap teman-teman santri maupun dengan pembinanya, setelah saya lakukan introgasi dengan salah satu santri saya mendapati bahwa ternyata perilaku tertutup santri tersebut dikarenakan permasalahan dengan orang tuanya yang terlalu tegas terhadap anak tersebut sehingga menjadikan anak itu pendiam.”75 Orang tua juga harus mendukung anaknya ketika berada di pondok pesantren selain Pembina yang memberikan nasehat orang tua juga harus memberikan nasehat karena terkadang anak itu akan mnedengarkan nasehat orang tuanya sebelum orang lain.

74Nur Afiah Pembina dan Pengajar di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu

“wawancara” pada tanggal 22 februari 2020.

75Najmah Pembina dan Pengajar di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu

“wawancara” pada tanggal 31 Mei 2020

Penulis dapat menyimpulkan bahwa pembina merupakan faktor penting untuk membina santri agar memiliki akhlak dan kepribadian yang baik ketika mereka masuk di dalam pondok pesantren. Pembina Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu tidak hanya berperan sebagai ustadzah ataupun pembina, tapi juga harus sebagai teman, sahabat, guru dan juga orang tua agar terjalin hubungan yang harmonis baik sesama anak santri, pembina dengan santri maupun dengan ustad dan pengasuh utama di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu. Kita ketahui bahwa pola komunikasi pembina merupakan faktor utama yang harus terjalin dengan baik karena komunikasi yang baik bukan hanya dengan kata-kata namun juga harus menunjukkan sikap dan karakter yang sesuai di lingkungan pondok pesantren. Selain itu juga pembina harus lebih memperhatikan santri yang berada di lingkungan pondok pesantren, agar komunikasi yang terjalin disemua elemen pondok pesantren dapat terlaksana dengan baik, dan santripun tidak takut maupun merasa segan dalam

berkomunikasi dengan pembinanya.

70 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian pada skripsi ini, maka dapat dismpulkan sebagai berikut:

1. Pesantren berupaya membina santri baik itu dari segi akhlak, tingkah laku, dan sopan santun dengan melakukan berbagai kegiatan dan pola komunikasi dengan berbukti efektif dan intensif dalam menanamkan nilai- nilai akhlakul karimah yang mana pesan selalu intens yang dilakukan setiap hari oleh pembina (komunikator) terhadap santri (komunikan).

2. Adapun pola komunikasi yang digunakan pembina dalam menanamkan nilai-nilai akhlak santri yaitu Pola Komunikasi Verbal, Pola Komunikasi Nonverbal, Pola Komunikasi Antarpribadi.

3. Faktor pendukung dan penghambat komunikasi interpersonal antara ustadz dan santri dalam menanamkan nilai-nilai akhlak, ada beberapa faktor yang mendukung dalam proses komunikasi yang dilakukan yaitu: Keterbukaan antara pembina dengan santri dan dukungan masyarakat yang sangat bagus.

Adapun faktor yang menghambat proses dalam komunikasi yang dilakukan yaitu, perilaku santri, latar belakang yang berbeda-beda dan dukungan orang tua.

B. Saran

1. Bagi pesantren dan pembina hendaknya selalu berusaha menjadikan pesantren sebagai lingkungan dunia pendidikan yang agamis, dalam arti terwujudnya dalam mengamalkan ajaran-ajaran agama secara nyata bukan hanya sekedar teori.

2. Bagi guru agama sekaligus yang berperan sebagai seorang Da‟i dan Dai‟a disarankan memiliki rasa pengabdian dan tanggung jawab dalam peningkatan moral serta akhlak santri dan juga dapat memberikan tauladan yang baik untuk para santrinya.

C. Penutup

Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT yang telah mencurahlan rahma dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan dengan segenap kemampuan dan keterbatasan.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan keterbatasan dan jauh dari kata sempurna, namun karya terbesar yang penulis persembahkan bagi perkembangan ilmu dakwah, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat di harapkan penulis.

Dan hanya kepada Allah SWT kami memohon petunjuk dengan berserah diri, harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan kita semua pelaksana dakwah islamiah. Aamiin.

DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah, Taufan. 2017. Komunikasi Interpersonal Ustad Dalam Meningkatkan Karakter Santri. Skripsi Komunikasi Islam.

Asmaran. 1992. Pengantar Studi Akhlak, Jakarta: Rajawali Pers.

Asmaran. 1994. Pengantar Studi Akhlak. Cet-II; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Arikunto, Suhasmi. 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

Jakarta: Rineka Cipta.

Bamadib, Sutari Imam. 1987. Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis.

Yogyakarta: Fak IPIKIP.

Burhanuddin, Tamyiz. Akhlak Pesantren. Yogyakarta; ITTAQ Press.

Cangara Hafied, 2005. Pengantar Ilmu Komunikasi. Cet-II; Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Cengara, Hafied. 2007. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Daradjat, Zakiah. 1991. Ilmu Jiwa dan Agama. Jakarta: Bulan Bintang.

Departemen Agama RI. 2005. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung:

Syamil.

Daryanto dan Rahardjo Mulyono, 2016 Teori Komunikasi. Cet-1; Yogyakarta:

Gava Media

Djamarah, Bahri Syaiful. 2004. Pola Komuniasi Orang Tua dan Anak Dalam Keluarga. Jakarta; PT Reneka Cipta.

Effendy, Onong Uchjan. 2011. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung:

Remaja Rosdakarya..

Effendy Muchtar. 2001. Ensiklopedia Agama. Palembang: Universitas Sriwijaya.

Effendy, Uchjana Onong. 1992. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek.

Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Effendy, Uchjana Onong. 1998. Kepemimpinan dan Komunikasi. Bandung: CV Mandar Maju

Efendy, Onong Uchjana. 2017. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Cet-28;

Bandung: Remaja Rosda Karya.

Effendy, Onong Uchjana . 2005. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Effendy, Onong Uchjana . 2003 Dimensi-Dimensi Komunikasi , Bandung:

Rosda Karya

Fajar, Marhaeni. 2009. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Yogyakarta: Grahas Ilmu.

Fauzan. 2001. Urgensi Kurikulum Integrasi Dipondok Pesantren Dalam Membentuk Manusia Berkualitas, Jurnal Pendidikan dan Manajemen, Vol. 6, No. 2.

Fauzan Almansur, M, Djunaidi Ghony, 2016. Metode Penelitian Kualitatif, Cet III; Jogjakarta; Ar-Ruzz Media.

Haedari, Amin dkk. 2105. Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Kompleksitas Global. Jakarta: IRD Press.

Hanurawan, Fattah. 2016. Metode Penelitian Kualitatif Untuk Ilmu Psikolog.

Jakarta; Rajawali Pers.

Herdiansyah, Haris. 2010. Wawancara, Observasi, dan Focus Groups. Jakarta : Rajawali Pers.

https://id.m.wikipedia.org., (9 Mei 2016) http://prasko17. Blogspot. Co. id (9 Mei 2016)

Hasan, M Ali. 1996. Akidah Akhlak. Semarang: Toha Putra.

Haryono, Akhmad. 2005. Etnografi Komunikas Konsep, Metode dan Contoh Penelitian Pola Komunikasi. Jember: UPT Penerbitan UNEJ.

Imroni, 2006. Sejarah Perkembangan Pesantren. Jurnal Ibda, Vol. 4, No. 1 Jalaluddin, Rakhmat. 2000. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya. .

Liliweri, Alo. 1991. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

Muhammad, Arni, 2010. Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Poerwadarminta, 1976. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.

Prastowo, Andi. 2016. Metode Penelitian Kualitatif Dalam Perspektif Rancangan Penelitian. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media.

Purwanto, Djoko. 2010 Komunikasi Bisnis Cet- IV; Jakarta: Erlangga.

Raudhonah. 2007. Ilmu Komunikasi. Cet-1; Jakarta: UIN Press

Syarifuddin, Achmad. 2017. Komunikasi Interpersonal Antara Guru dengan Murid Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Akhlak. Jurnal Komunikasi Islam dan Kehumasan, Vol. 1, No. 2

Sinaga, Hasanuddin. 2006. Pengantar Studi Akhlak. PT Persada Jakarta.

Soyomukti, Nurani. 2010. Pengantar ilmu komunikasi. Jogjakarta: Ar-ruzz media.

Syuhud, A. Fatih. 2008. Santri, Pesantren dan Tantangan Pendidikan Islam.

Pustaka Al-Khoirot.

Suryabrata, Sumadi. 2003. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Saebani, Ahmad Beni dan Afifuddin. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif.

Bandung; Pustaka Setia.

Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung CV. Alfabeta.

Samidi, 2009. Akhlak Santri Antara Teks dan Konteks. Jurnal Analisa Vol 16, No. 01

Tailor, Bodgan. 2008. Pendekatan Kualitatif Untuk Pengendalian Kualitas.

Jakarta: Universitas Indonesia.

Tajibu, Kamaluddin. 2013. Metode Penelitian Komunikasi. Makassar; Alauddin University Press.

Wulur B Meisil, 2016. Ilmu Komunikasi dan Dakwah. Cet-1; Makassar;

Leisyah.

Zahruddin. 2004. Pengantar Studi Akhlak. Pt Raja Grafindo Jakarta.

DOKUMENTASI

Wawancara dengan pengurus dan kepala sekolah MA Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu

Wawancara dengan pembina dan pengajar santri putri Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu

Wawancara dengan Pembina santri putri Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu

Wawancara dengan pembina dan pengajar santri putri Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu

Wawancara dengan pembina dan pengajar Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu

Wawancara dengan pengurus dan pengajar Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu

Wawancara dengan santri putri Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu

Kegiatan santri Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu

Kegiatan santri Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu

Kegiatan santri Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu

Kegiatan santri Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu

Kegiatan Public Speaking Santri Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu

Kegiatan santri Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu

Dokumen terkait