PENDAHULUAN
Latar Belakang
4Achmad Syarifuddin, Komunikasi Interpersonal Guru dan Siswa dalam Penanaman Nilai Akhlak, (Jurnal Komunikasi Islam dan Humas, Vol.1, No.2, 2017), hal. Nilai-nilai moral tidak pernah lepas dari pendidikan dan komunikasi yang baik di sekolah maupun di pesantren. Peran pengawas di pondok pesantren selain sebagai guru juga membimbing santri yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan pondok pesantren, baik dalam hal kedisiplinan beribadah, penerapan nilai-nilai agama, maupun penggunaan bahasa.
Oleh karena itu, seluruh pengawas diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada seluruh siswanya, yaitu dengan memberikan contoh yang baik kepada seluruh siswa, baik dalam penguasaan bahasa maupun pembentukan nilai-nilai moral.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Pola Komunikasi Pengawas dan Santri dalam Penanaman Nilai Akhlak dan Karimah di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu Kecamatan Samaturu Kabupaten Kolaka.” Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat pola komunikasi pengawas dalam pembentukan akhlak dan etika santri di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu Kecamatan Samaturu Kabupaten Kolaka.
Manfaat Penelitian
KAJIAN TEORI
Pola Komunikasi
- Pengertian Pola Komunikasi
- Pengertian Komunikasi
- Macam-macam Komunikasi
Willbur Schram mengatakan bahwa: “Komunikasi didasarkan pada hubungan (intune) antara satu sama lain yang berfokus pada informasi yang sama, yaitu terlibat dalam komunikasi tatap muka.”15. Dengan demikian penulis dapat menyimpulkan bahwa komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan bahasa yang dapat dipahami baik secara lisan maupun tulisan, sehingga unsur terpenting dalam komunikasi verbal adalah bahasa. Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang terjadi antara seorang komunikator dengan sekelompok lebih dari dua orang.
Artinya khalayak meliputi seluruh penduduk atau setiap orang yang membaca atau juga setiap orang yang menonton TV, karena khalayak sebenarnya sangat sulit untuk didefinisikan. Komunikasi massa juga merupakan komunikasi yang disalurkan melalui pemancar audiovisual.
Tinjauan Tentang Penanaman Nilai-nilai Akhlakul karimah
- Pengertian Nilai-nilai Akhlakul Karimah
- Macam-macam Akhlakul Karimah
- Tujuan Penanaman Nilai-nilai Akhalakul Karimah
- Faktor Penanaman Nilai-nilai Akhlakul Karimah
Pendidik merupakan salah satu faktor dalam pengelolaan proses pendidikan, karena tanpa adanya pendidik pendidikan tidak akan berjalan, selain itu pendidik juga mempunyai tujuan membimbing peserta didik dalam mengembangkan ilmu agama khususnya dalam pembinaan akhlak.31. Oleh karena itu, tugas pendidik sangatlah luas, yaitu pendidik harus mampu membimbing dan menasihati peserta didik agar semua peserta didik menjadi anak yang berilmu luas dan berakhlak mulia. Hal ini disebabkan karena siswa selalu mengalami perkembangan jasmani dan rohani, sehingga sikap dan perilakunya pun mengalami perubahan.
Tinjauan Pola Komunikasi Pengawas dan Santri dalam Penetapan Nilai Akhlak pada Hunian Islami.
Tinjauan Tentang Pola Komunikasi Antara Pembina dan Santri
- Pendidikan dan Kepesantrenan
- Komunikasi Sebagai Sarana Pembnetukan Akhlak Islamiyah
Dengan pendekatan yang baik, ilmu-ilmu yang diajarkan di pesantren diharapkan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan baru yang berbeda dengan akhlak. 34. Komunikasi Sebagai Sarana Pembentuk Akhlak Islami di Pondok Pesantren Proses komunikasi dalam penanaman nilai-nilai moral di pesantren adalah komunikasi yang dilakukan oleh pengawas dengan santrinya secara tatap muka, mengajak berdialog untuk mendapatkan respon yang positif. dari siswa dengan menggunakan kata-kata yang mudah dipahami dan dalam suasana yang menyenangkan untuk menanamkan nilai-nilai moral.35. Komunikasi mempunyai misi untuk membantu seluruh peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal dalam proses pengembangan di bidang keagamaan dan agar dapat mengenal diri sendiri serta memperoleh kebahagiaan hidup dengan memiliki nilai-nilai keagamaan yang dapat diterapkan dalam disiplin ibadah. , akhlak yang baik dan perilaku yang sejalan dengan ilmu-ilmu agama yang diajarkan di pesantren.
Kemudian, evaluasi informasi dan komunikasi tersebut akan dikeluarkan atau diingat kembali pada suatu saat, baik secara sadar maupun tidak sadar.
Akhlak Santri Dipondok Pesantren
Pelajar sekolah berasrama umumnya memuji buku yang dipelajari, semuanya adalah buku kuning. Mereka selalu meletakkan buku itu di atas meja, bangku atau almari dan mereka tidak boleh meletakkannya di bawah (lantai) kerana ia selaras dengan tapak kaki. Untuk menjunjung kemuliaan kitab ialah menghormati ilmu kerana ia boleh mendatangkan keberkatan kepada pelajar (talabe), mudah menghafal (muhafazah) dan mendapat ilmu yang bermanfaat.
Sikap menjunjung kitab ini juga terlihat ketika para siswa memegang kitab secara berkumpul atau sesudahnya, yaitu dengan memegangnya di depan dada. Tidak ada siswa yang memegang buku, berjalan-jalan, karena kalau memegang buku berarti di bawah pusar, dan itu berarti kita tidak menghargai buku tersebut. Dengan demikian terbukti banyak santri pesantren yang menjadi tokoh masyarakat, tokoh agama dan lain sebagainya.
Akhlak peserta didik pada dasarnya harus memenuhi 3 unsur nilai kebaikan, yaitu (a) Syariat Islam, (b) Etika yang baik, (c) Etika sosial yang sering disebut dengan kearifan lokal. Kedudukan akhlak sebagai suatu hal yang mulia di pesantren, segala perbuatan baik dan kecerdasan dianggap berharga (sia-sia) jika tidak diikuti dengan perbuatan akhlak yang mulia. Secara etimologis pesantren berasal dari kata santri yang mempunyai awalan pe- dan akhiran -an sehingga menjadi pe-santria-an yang berarti kata “shastri”.
Kata shastri berasal dari kata shastra yang berarti kitab suci, kitab suci agama atau kitab ilmu pengetahuan.42. Menurut Yacub, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang pada umumnya menggunakan metode pengajaran klasikal, masyarakat yang menguasai ilmu agama Islam melalui kitab tertulis agama Islam (kitab kuning).
Faktor Penghambat dan Penunjang Komunikasi Antara
- Faktor Yang Menjadi Penunjang Komunikasi Antara
Faktor penghambat dan pendukung komunikasi antara dosen pembimbing dan mahasiswa dalam pembentukan nilai-nilai akhlakul karimah. Faktor yang mendukung keberhasilan komunikasi antara dosen pembimbing dan mahasiswa untuk membentuk nilai-nilai moral. Faktor pendukung ini tercipta akibat nasehat, bimbingan dan sejenisnya yang dilakukan oleh pembimbing agar siswa tidak terkesan terpaksa sehingga siswa tidak merasa terlalu tegang ketika menerima bimbingan dan pembinaan.
Tanpa adanya pelatih yang harus bekerja keras agar para siswa menceritakan segala permasalahan dan keluhannya kepada pelatih. Dan dalam faktor pendukung tersebut, tutor juga mengetahui latar belakang, kepribadian dan kehidupan santri di pondok pesantren tersebut, sehingga dapat berkomunikasi dengan cepat. Sebab, pelatih dan siswa tinggal berdampingan dan juga bersentuhan langsung dengan siswa selama 24 jam penuh.
Oleh karena itu, dalam membimbing siswa, pengawas mempertimbangkan bahwa siswa dapat menerima bimbingan tanpa harus dipaksa.46.
METODE PENELITIAN
Jenis dan Pendekatan Penelitian
Visi Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu adalah menjadi pesantren tangguh yang menebar rahmat. Begitu pula dengan fungsi Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu dalam kegiatan memajukan dan membentuk agama Islam. 65Fadlulllah S.HI, pengawas dan guru di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu “wawancara” pada tanggal 31 Mei 2020.
66Basri Amir Pengawas dan guru di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu “wawancara” pada tanggal 1 Juni 2020. 67Muhammad Ridwan S.pd MIS Guru dan direktur di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu “wawancara” pada tanggal 19 Februari 2020. Tahfidz Al-Quran merupakan program yang ditujukan kepada santri penghafal Al Quran di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu.
68Nur Afiah, pengawas dan guru di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu “wawancara” pada tanggal 22 Februari 2020. Pesan verbal yang diberikan oleh pengawas kepada santri di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu antara lain: 70Fadlulllah S.HI, pengawas dan guru di Darul Istiqamah Pesantren Amamotu "wawancara" pada 31 Mei 2020.
Lokasi dan Objek Penelitian
Fokus Penelitian
Databron: Darul Istiqamah Amamotu Islamic Boarding School Tabel 1.3 Aantal Ustad en Ustadzah by Darul Istiqamah Amamotu Islamic Boarding School.
Deskripsi Fokus Peneltian
Sumber Data
Instrumen Penelitian
Tehnik Pengumpulan Data
Tehnik Analisis Data
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Pola Komunkasi Menurut Para Pembina
Pola Komunikasi Pembina Dengan Santri Dalam Menanamkan
Faktor Pendukung dan Penghambat Komunikasi Antara
Komunikasi pelatih dalam meningkatkan pemahaman santri di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu adalah adanya keakraban antara pelatih dan santri yang menjadikan proses belajar mengajar lebih nyaman, dan santri lebih mudah memahami apa yang disampaikan pelatih. Dengan adanya sikap terbuka antara pembimbing dan santri maka akan tercipta komunikasi yang baik di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu, hal ini akan membuat pengawas dan santri semakin akrab dalam berkomunikasi baik dalam proses belajar mengajar, sehingga santri dapat menerima pelajaran atau materi dari dosen pembimbing. dengan cara yang lebih antusias dan mudah dipahami. Perilaku santri disini merupakan warisan dari lingkungan luar pesantren, yang pada akhirnya berdampak dan berdampak negatif di dalam pesantren, karena pada saat itu pengawaslah yang melakukan proses komunikasi.
Salah satu faktor yang menjadi kendala bagi kami para pelatih dalam berkomunikasi dengan para santri adalah kepribadian dan tingkah laku para santri yang datang dan masuk ke asrama Islam ini berbeda-beda atau mempunyai karakter yang berbeda-beda. Di dalam pesantren terdapat santri yang berasal dari berbagai daerah dan mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, selain itu pesantren juga merupakan lembaga yang dekat dengan masyarakat. Para santri di pondok pesantren ini tidak mentaati semua peraturan yang telah ditetapkan oleh pondok pesantren, karena pada dasarnya para santri di pondok pesantren ini mempunyai latar belakang yang berbeda-beda mulai dari budaya, pendidikan dan adat istiadat.
Orang tua juga menjadi kendala bagi santri di pesantren, karena orang tua terlalu tegas terhadap anaknya dan kurang berkomunikasi dengan baik ketika anaknya melakukan kesalahan di pesantren. Dapat penulis simpulkan bahwa konselor merupakan salah satu faktor penting dalam mengembangkan santri agar mempunyai akhlak dan kepribadian yang baik ketika bersekolah di pesantren. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Istiqamah Amamotu tidak hanya berperan sebagai ustadzah atau pengawas tetapi juga harus berperan sebagai sahabat, sahabat, guru dan juga sebagai orang tua agar terjalin hubungan yang harmonis dengan sesama santri, pengawas dengan santri dan dengan ustad serta para santri. siswa yang paling penting. pengasuh di Pondok Pesantren Darul. Istiqamah Amamotu.
Kita tahu bahwa pola komunikasi tutor merupakan faktor terpenting yang harus terjalin dengan baik karena komunikasi yang baik tidak hanya dengan kata-kata saja tetapi juga harus menunjukkan sikap dan karakter yang sesuai di lingkungan pesantren. Selain itu tutor juga perlu memberikan perhatian lebih terhadap santri di lingkungan pesantren agar komunikasi yang terjalin pada seluruh elemen pesantren dapat terlaksana dengan baik dan santri tidak takut atau merasa sungkan.
PENUTUP
Kesimpulan
Pondok pesantren bertujuan untuk membina santri yang baik dalam akhlak, tingkah laku dan budi pekerti dengan melakukan berbagai kegiatan dan pola komunikasi yang terbukti efektif dan intensif dalam menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah yang pesannya selalu disampaikan secara intens. setiap hari oleh pembimbing (komunikator) terhadap santri (komunikan). Pola komunikasi yang digunakan Pembina dalam menanamkan nilai-nilai moral pada peserta didik adalah pola komunikasi verbal, pola komunikasi nonverbal, dan pola komunikasi interpersonal. Faktor pendukung dan penghambat komunikasi interpersonal antara ustadz dan santri dalam penanaman nilai akhlak, ada beberapa faktor yang mendukung proses komunikasi tersebut yaitu : Keterbukaan antara dosen pembimbing dengan santri serta dukungan masyarakat yang sangat baik.
Faktor yang menghambat proses komunikasi adalah perilaku siswa, perbedaan latar belakang dan dukungan orang tua.
Saran
Penutup