BAB II KAJIAN PUSTAKA
E. Jenis dan Sumber Data Penelitian
1. Data Primer adalah data yang bersumber dari hasil observasi dan wawancara. Data primer dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh langsung dari informan penelitian yaitu wanita yang menjalani rumah tangga dengan suami pemabuk.
2. Data Sekunder merupakan data yang diperoleh tidak langsung dari sumbernya, melainkan dari sumber kedua seperti buku, jurnal, laporan penelitian, hasil survey dan lain-lain. Data sekunder dalam penelitian adalah dokumen yang berupa profil lokasi penelitian, dan informasi dari internet.
F. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif, peneliti menjadi instrument pengumpulan data utama dalam sebuah riset atau disebut human instrument. Peran dari instrument adalah penetapan focus, menetapkan informa sesuai dengan criteria, mengumpulkan data di lapangan, melakukan analisa dan menarik kesimpulan (Sugiono dalam Mamik, 2015). Peneliti juga menyusun pedoman wawancara serta peralatan dokumentasi seperti perekam suara dan kamera untuk mendukung prosess pengumpulan data.
G. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu:
1. Wawancara semi terstruktur
Penelitian ini menggunakan teknik wawancara semi terstruktur. Bentuk wawancara mengikuti pedoman namun pertanyaan yang diajukan tidak benar-benar menurut pedoman wawancara. Teknik ini juga memungkinkan peneliti untuk mengajukan topic lain selama proses wawancara berlangsung. (Mamik, 2015).
Proses wawancara dilakukan senatural mungkin. Panduan wawancara dipergunakan sebagai pembatas agar data yang dikumpulkan tetap sesuai dengan pertanyaan penelitian. Pedoman juga berfungsi sebagai pengingat bagi peneliti terkait topic yang ingin dijabarkan dalam penelitian dan juga sebagaichecklistuntuk melihat data yang sudah ditampung.
2. Pengamatan (Observasi)
Metode pengumpulan data ini dilakukan dengan turun ke lapangan dan merekam aktivitas dari subjek penelitian (John W.Creswel 2016).
Penelitian ini melakukan observasi terdapat ekspresi dan perilaku subjek, serta respon spontan subjek.
3. Dokumentasi
Metode pengumpulan data ini mengambil rekaman sebuah peristiwa yang sudah terjadi. Biasanya data yang diperoleh berupa gambar, laporan, atau karya dari seseorang. Tujuan digunakannya metode ini adalah untuk membuat proses penelitian terlihat nyata.
H. Teknik Analisis Data
Proses analisa data seyogyanya dilakukan secara kontinyu semenjak awal penelitian dimulai. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data deskriptif dengan model analisa interaktif yang dijelaskan oleh Miles dan Hubbermans. Menurut mereka, proses analisa data dilakukan lewat tiga alur. Ketiga alur tersebut adalah:
1. Reduksi data
Proses ini merupakan langkah untuk menyeleksi data yang sudah dikumpulkan selama proses penelitian. Data akan disadur sesuai dengan pertanyaan dan tujuan penelitian. Hal ini perlu dilakukan ketika peneliti sudah turun untuk mengumpulkan data dalam waktu yang relatif panjang.
Proses reduksi akan menghasilkan data yang lebih berkualitas dan memiliki pola tertentu.
2. Penyajian data
Langkah ini dilakukan untuk menyajikan data sesuai dengan pertanyaan penelitian atau sesuai dengan aspek yang diteliti. Dalam penelitian kuantitatif, data bisa disajikan dalam bentuk tabel atau sejenisnya.
Sedangkan dalam metode kualitatif, data dijabarkan lewat teks narasi.
3. Menarik kesimpulan/ verifikasi
Dalam tahapan ini, peneliti meakukan interprerasi untuk mendapatkan pola, hubungan, keterkaitan dalam sebuah penelitian. Setelah ditemukan hal-hal tersebut, barulah peneliti melakukan penarikan kesimpulan yang merupakan jawaban dari pertanyaan penelitian
I. Teknik Keabsahan Data
Uji keabsahan data dilakukan untuk menilai kebenaran dari data yang dikumpulkan dari lapangan. Pemeriksaan keabsahan dalam penelitian ini menggunakan triangulasi, di mana keabsahan data diperiksa dengan metode yang berbeda dan dalam kurun waktu yang berbeda. Terdapat tiga bentuk triangulasi menurut Sugiyono (Fuad, 2014), yaitu sebagai berikut:
1. Triangulasi sumber adalah proses triangulasi dengan memeriksa data yanhg sudah diperoleh dengan suber yang berbeda. Data dari berbagai sumber tersebut kemudian dikelompokkan berdasarkan kesamaan dan perbedaan dari informasi yang diberikan.
2. Triangulasi teknik adalah pengecekan keabsahan data dengan menggunakan metode berbeda dari yang sudah dilakukan sebelumnya.
Contohnya pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi, wawancara, dan juga dikumentasi. Data yang terkumpul kemudian dijabarkan dan dilihat konsistensinya.
3. Triangulasi waktu dilakukan dengan melakukan pengumpulan data di waktu yang berbeda. Tujuannya untuk melihat konsistensi infrormasi yang diberikan oleh narasumber.
J. Etika Penelitian
Seorang peneliti diharuskan mematuhi etika penelitian yang merupaka standar moral peneliti dalam melakukan proses pengumpulan data. Adapun etika dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Informan selalu diberikan informasi terkait tujuan penelitian
2. Informan sudah dimintai persetujuan sebelum diadakan proses pengumpulan data
3. Kerahasiaan identitas informan harus selalu terjaga.
4. Selalu mendapakan izin informan terlebih dahulu
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Letak Geografis
Desa Pabundukang berada di Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Gowa Kecamatan Bontonompo Selatan. Desa Pabundukang adalah salah satu dari delapan Desa di Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa. Desa Pabundukang merupakan ibu kota Kecamatan Bontonompo Selatan. Desa Pabundukang berjarak 30 KM dari Ibu Kota Kabupaten Gowa dengan luas wilayah2,39 km2 dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
Tabel 4.1 batas-batas wilayah Desa Pabundukang
1 Sebelah Utara Desa Barangmamase Kecamatan Galesong Selatan Kabupaten Takalar
2 Sebelah Selatan Desa Salajangki Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa
3 Sebelah Barat Desa Mangindara Kecamatan Galesong selatan Kabupaten Takalar
4 Sebelah Timur Kelurahan Bontoramba Kecamatan
Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa
30
Gambar 4.1 Peta Desa Pabundukang
Desa Pabunkundan memiliki musim kemarau, hujan, dan juga pancaroba.
Musim kemarau melanda dari bulan juli hingga November sementara musim hujan dari januari hingga april. Musim pancaroba terjadi di mulai Mei sampai Juni.
B. Keadaan Penduduk
Berdasarkan data pokok desa penduduk Desa Pabundukang berjumlah 2390 jiwa dengan perincian jumlah laki-laki 1185 jiwa dan perempuan berjumlah 1205 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 629 KK.
Tabel 4.2 jumlah penduduk
1 Laki – laki 1185 jiwa
2 Perempuan 1205 jiwa
3 Usia 18-56 1378 jiwa
4 Usia 56 keatas 177 jiwa
Tabel 4.3 mata pencarian penduduk
No Jenis Pekerjaan Jumlah
1 Karyawan 2
2 PNS 2
3 Swasta 30
4 Wiraswasta/pedagang 200
5 Petani 400
6 Buruh tani 20
7 Nelayan 15
8 Peternak 1
9 Jasa 20
10 Pengrajin 50
11 Pekerja seni 10
12 Pensiunan 2
13 Lainnya 42
14 Tidak bekerja 350
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa mayoritas pekerjaan masyarakat yang ada di Desa Pabundukang adalah petani dengan jumlah 400 orang. Selain itu masyarakat di Desa Pabundukang memiliki berbagai jenis pekerjaan dari kerajinan rumah tangga, sektor industri,perdagangan dan jasa.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
1. Pengalaman kehidupan rumah tangga bersuami pemabuk a. Perlakuan suami terhadap istri dan anak
Dalam leluarga ayah berperan sebagai suami dan juga bapak untuk anak-anaknya. Perannya terdiri dari pendidik bagi anak dan pencari nafkah bagi keluarga. Ayah bertindak sebagai kepala keluarga dan juga memberikan keamanan dan kenyamanan kepada seluruh anggota keluarganya Namun bagi seseorang yang pemabuk, ketika kondisi mabuk seseorang dapat kehilangan akal atau kesadaran diri sehingga tidak jarang berujung pada tindakan asusila ketika berada dirumah. Dengan sub topik tersebut, maka peneliti melakukan wawancara terhadap narasumber dengan topik bagaimana perlakuan suami terhadap istri dan anak ketika di rumah
“Kalau tidak mabukki ya baikji tapi kalau mabukki reseki” (Ketika tidak mabuk ya baik, tetapi ketika mabuk ya menjengkelkan) (D.1 WW, IW. 22/10/20)
“Baikji Cuma kalau sudah minum temperamen na tidak baguski”
(Baik namun ketika mabuk menjadi tempramen) (D.2 WW, SG.
22/10/20)
“Kalau datangi baiknya ya baikki tapi kalau sudah minum sukaki memukul” (Ketika sedang baik ya baik, tetapi ketika habis minum sering memukul)(D.3 WW, MJ. 25/10/20)
33
Dari jawaban yang diutarakan oleh narasumber menunjukkan bahwa ketika sedang tidak mabuk seorang suami akan bertindak seperti biasanya dan cenderung bersikap baik. Namun ketika dalam kondisi mabuk, seseorang dapat kehilangan akal dan akan menjadi lebih sensitif sehingga menyebabkan mudah emosi dan lain sebagainya.
Istri lebih memilih diam ketika suami dalam keadaan mabuk, hal tersebut dapat dilihat dari beberapa ungkapan berikut ini.
“Kalau lagi mabukki diamka walaupun sebenarnya emosika karena kalau orang mabuk gampangi tersinggung jadi lebih baik diamka” (Ketika sedang mabuk istri diam meskipun sebenarnya emosi karena ketika orang sedang mabuk maka jadi lebih mudah tersinggung sehingga lebih baik diam)(D.1 WW, IW. 22/10/20)
“Banyak dianga kalo sudai minum dia sukaki parecu baru kalau ditegurmi disuruh diam marahmi, sayami yang na marahi jadi lebih baik diam” (banyak diam kalau suami sudah minum karena suka membuat kericuhan, ketika ditegur malah istrinya yang dimarahi) (D.2 WW, SG. 22/10/20)
“Tidak ku pedulikan, kalo mabukki biasanya banyak bicaranya bicara tidak yang penting. Itu biasa tidak kubati bati karna kalo di respongi tambah panjangji nanti baru kalo disuruh diam sayaji lagi na marah-marah i jadi ku diamkanji saja” (Tidak saya pedulikan, ketika mabuk suami biasanya banyak bicara hal yang tidak penting.
Itu biasanya tidak saya respon karena ketika direspon akan menimbulkan masalah panjang jadi lebih baik didiamkan saja)(D.3 WW, MJ. 25/10/20)
Ungkapan-ungkapan di atas menjelaskan perilaku istri ketika suami dalam kondisi mabuk. Dimana Istri lebih memilih untuk diam ketika suami sedang dalam keadaan mabuk. Hal tersebut terjadi karena
ketika sedang dalam kondisi mabuk, suami biasanya membicarakan sesuatu yang tidak penting. Istri lebih memilih untuk mengikuti alur suami ketika mabuk agar tidak terjadi masalah yang panjang. Suami yang sedang mabuk biasanya akan mudah tersinggung, oleh karena itu istri lebih memilih untuk diam saja.
Ketika sedang mabuk, istri sering mendapatkan perlakuan buruk dari suaminya. Berikut kutipan wawancara dengan informan :
“Iya sering kata-kata kasar ke saya sama pernahka na pukul”
(Sering berkata-kata kasar dan pernah dipukul” ( D.1 WW, IW.
25/10/20)
Berdasarkan hasil keterangan informan selaku istri yang mempunyai suami pemabuk mengungkapkan bahwa dirinya pernah dipukul oleh suaminya saat mabuk dan sang suami sering melontarkan perkataan kasar kepadanya. Hal ini dialami oleh informan SG dan MJ, berikut kutipan wawancaranya
“Iya, kalau dipukul tidak tapi kalau mabukmi itu seringka biasa na bilang-bilangi” (Iya, tidak dipukul tapi sering berkata kasar ke saya kalau mabuk)(D.2 WW, SG. 22/10/20)
Kemudian berdasarkan hasil wawancara dengan ibu MJ selaku istri yang memiliki suami pemabuk mengatakan bahwa iya terkadang dipukul oleh suaminya yang pemabuk ketika iya terbawa emosi dan bereaksi (marah) terhadap sikap suaminya. Berikut kutipan wawancara dengan ibu MJ
“iya, itu kalo mabukmi baru ada masalahnya dari tempat minumnya baru pulangi pasimbung di rumah kadang terbawa emosi ma marahka juga biasa na pukulka” (Iya itu ketika mabuk
dan ada masalah dari tempat minumnya, ketika pulang ke rumah mengamuk kadang saya terbawa emosi dan marah juga biasa saya dipukul)(D.3 WW, MJ. 23/10/20)
Berdasarkan hasil wawancara diatas, disimpulkan bahwa suami ketika sedang mabuk, istri sering mendapatkan perlakuan kasar dari suami karena emosi suami yang tidak terkontrol. Orang yang sedang mabuk menjadi sangat sensitif dan mudah terpancing emosi sehingga sering melakukan tindakan-tindakan kekerasan mulai dari melontarkan kata-kata kasar hingga melakukan pemukulan.
Selain itu, perilaku mabuk suami juga berdampak pada anak, berikut beberapa kutipan wawancara dengan informan :
“Kalau mabuk anak-anak juga biasa dimarahi” (Ketika mabuk anak-anak pun juga sering dimarahi)(D.1 WW, IW. 22/10/20)
“Kalo sama anaknya tidak terlalu dekatki, dan kalau ku suruh jagai anaknya yang kedua malaski paling na gendong ita sebentar baru na kasimi lagi ke anaknya yang pertama suruh jagai adeknya”
(Kalau sama anaknya tidak terlalu dekat, dan ketika disuruh istrinya untuk menjaga anaknya yang kedua malas, paling menggendong sebentar lalu diberikan ke anaknya yang pertama untuk menjaga adiknya)(D.2 WW, SG. 22/10/20)
“Biasaji bisa dibilang tidak terlalu dekatki sama anaknya. Sakitpi anaknya baru perhatianki” (Biasa saja, bisa dibilang tidak terlalu dekat dengan anaknya. Ketika anaknya sakit baru perhatian) (D.3 WW, MJ. 23/10/20)
Dari kutipan wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa suami atau ayah yang pemabuk cenderung tidak memiliki hubungan dekat dengan anaknya. Sang ayah cenderung lebih cuek atau acuh tak acuh
terhadap anaknya sendiri. Bahkan tidak jarang anak juga menjadi sasaran kemarahan atau kekerasan dari sang ayah ketika sang ayah dalam kondisi mabuk.
Pernyataan tersebut juga didukung oleh hasil observasi peneliti dimana suami pemabuk jarang tinggal dirumah sehingga ayah dan anak tidak memiliki hubungan yang dekat dengan anaknya karena suami lebih banyak meluangkan waktu untuk mabuk- mabukan.
b. Usaha istri menangani suami yang sedang mabuk
Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh wanita yang menikah dengan pemabuk adalah kesulitan untuk memberitahu bahwa laki-laki mereka sudah sudah kelebihan dalam mengkonsumsi alkohol. Ketika mereka melakukan hal ini banyak yang berujung pada keributan.
Berikut beberapa cara yang dilakukan istri untuk menangani suami yang mabuk
“Kalo mabuk sekalimi langsung saja kusiapkan tempat tidurnya supaya langsung tidur atau kudiami kalo pulangi dalam kondisi mabuk terus tidak baguski suasana hatinya ya kudiammiji” (Ketika mabuk langsung disiapkan tempat tidurnya supaya langsung tidur atau didiamkan saja ketika pulang dalam kondisi mabuk dan apabila suasana hatinya sedang tidak bagus juga akan kudiamkan) (D.1 WW, IW. 22/10/20)
Beberapa cara yang dilakukan istri untuk menangani suami yang sedang mabuk diantaranya adalah menyiapkan tempat tidurnya agar sang suami langsung tidur ketika pulang dan tidak menimbulkan masalah. Istri mencoba untuk tidak bicara terlalu banyak agar tidak memancing emosi suami. Istri lebih cenderung untuk menghindari
pertengkaran dengan sang suami dengan berbagai cara aman yang dilakukan.
“Kadang ku tegurki kadang ku biarkanji saja sampai nya tenang sendiri atau kerumahna dulu tetangga tenangpi suaminya baru pulang” (Kadang ditegur kadang dibiarkan saja sampai tenang sendiri, atau ke rumah tetangga dulu ketika sudah tenang baru pulang)(D.2 WW, SG. 22/10/20)
“Dikasi tenangi supaya tidak parecui, biasa kudiami saja nanti tenang sendiriji” (Diberikan ketenangan agar tidak membuat ricuh, biasanya didiamkan saja sampai nanti tenang sendiri) (D.3 WW,MJ. 23/10/20)
Cara lain yang dilakukan oleh istri adalah dengan diam saja dan tidak banyak bicara. Istri mendiamkan suaminya ketika pulang mabuk dan menghindari terjadinya masalah. Istri memilih diam dan tidak melawan apabila sang suami pulang dalam keadaan hati yang kurang bagus atau emosi. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari masalah yang lebih panjang.
c. Usaha istri membuat suami berhenti mabuk
Para istri selalu berusaha untuk mengembalikan suaminya ke kesadaraan awal. Beberapa cara dilakukan oleh para istri untuk menyadarkan suami mereka. Cara-cara yang dilakukan adalah dengan menggunakan persuasi halus. Jika cara ini gagal, maka akan menimbulkan pertengkaran.
“Kalau maui pergi minum sukaki kularang, tapi begitumi kalau tidak diliatmi pergimi” (sering saya melarang untuk pergi minum tapi tetap pergi diam-diam) (D.2 WW, SG. 22/10/20)
“Ku larangi pergi minum, dikasih tauki baik-baik supaya tdk pergi minum. Uang untuk dirinya kubatasi tapi begitumi tidak pengaruhji.
Justru kalau tidak ku kasiki uang bertengkarja” (Saya melarang untuk pergi mabuk, diberi tahu baik-baik agar tidak pergi mabuk.
Uang untuk dia saya batasi tapi tidak berpengaruh. Ketika tidak saya berikan uang menjadi bertengkar)(D.3 WW, MJ. 23/ 10/20)
Cara lain telah dilakukan oleh para istri agar suaminya dapat berhenti mabuk yaitu dengan ke dukun. Hal tersebut dikutip dari pernyataan informan berikut ini
“Pernahma pergi di sanro (dukun) tiupkangi air tdk mempangji, mertuaku juga setiap ada na tau sanro bagus pergi lagi disitu”
(Pernah pergi ke dukun ditiupkan air tapi tidak mempan, mertua saya juga setiap ada dukun yang bagus pergi ke situ) (Wawancara D.1 WW, IW. 22/10/20)
Beberapa cara telah dilakukan seorang istri agar suaminya dapat berhenti mabuk. Salah satunya dengan ke dukun agar suaminya dapat berhenti mabuk. Namun cara yang dilakukan tersebut tidak membuahkan hasil yang nyata, sang suami tetap pergi mabuk. Cara lain yang pernah dilakukan dalam membatasi uang suami agar tidak memiliki uang berlebih untuk digunakan untuk mabuk. Namun Acara tersebut juga tidak membuahkan hasil. Alih-alih mengurangi uang yang terjadi adalh pertengkaran di dalam rumah tangga.
” Tidak tau cara apa lagi supaya berhenti mabuk” (Tidak mengerti cara apa lagi yang dapat dilakukan agar berhenti mabuk) (D.1 WW, IW. 22/10/20)
Ketika cara-cara yang telah dilakukan oleh istri tidak membuahkan hasil, istri lebih cenderung diam dan bingung cara apalagi yang harus dilakukan agar suami berhenti mabuk.
d. Kondisi ekonomi keluarga
Kondisi ekonomi keluarga dengan suami yang pemabuk cenderung cukup atau bahkan seringkali kekurangan. Apabila digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dapat dikatakan cukup atau pas-pasan.
“Kalo Kebutuhan sehari-hari cukupji,bisa dibilang cukupji tapi kadang suamiku suka hutang jadi kadang tidak stabil keuangan”
(Kebutuhan sehari-hari bisa dibilang cukup namun terkadang suami suka berhutang jadi kadang ekonomi menjadi tidak stabil) (D.1 WW, IW. 22/10/20)
“Kalo ekonomi kadang cukup kadang kurang” (Kalau ekonomi kadang cukup kadang kurang)(D.2 WW, SG 22/10/20)
“Kalo ekonomi pas-pasan, karena suamiku pekerjaannya buruh tani bukan yang setiap hari dapat uang” (Kalau ekonomi pas-pasan, karena suami saya bekerja sebagai buruh tani yang tidak setiap hari mendapatkan uang)(D.3 WW, MJ. 23/10/20)
Berdasarkan hasil observasi yang dilihat dan didengar peneliti dilapangan, yaitu mayoritas masyarakat desa Pabundukang berprofesi sebagai petani. Dimana pekerjaan sebagai petani hanya memiliki waktu sibuk di awal ketika mulai menanam dan ketika waktu panen sehingga para suami memiliki banyak waktu untuk mabuk. Dan terkadang para istri juga turut membantu dalam proses perawatan tanaman ketika suami tidak bisa mengerjakan karena perilaku mabuknya. Selain itu istri juga membantu perekonomian keluarga dengan bekerja dan membuka usaha kecil-kecilan di rumahnya.
“Kalo suamiku dia jadi buruh tani atau biasa juga kerja bagunanki” (Kalau suamiku dia sebagai buruh tani atau biasanya juga kerja bangunan)(D.1 WW, SG. 22/10/20)
“Dari Suami sama kerjaka juga untuk tambah pemasukan tapi penghasilan paling besar itu dari suami dibanding saya” (Dari suami dan juga saya yang kerja namun penghasilan paling besar tetap dari suami)(D.2 WW, MJ. 25/10/20)
Suami yang pemabuk cenderung memiliki pekerjaan sebagai buruh. Mayoritas dari mereka bekerja sebagai buruh tani, beberapa juga bekerja sebagai buruh bangunan. Kondisi ini yang menyebabkan kondisi ekonomi keluarga mereka menjadi pas-pasan karena buruh tani bukan pekerjaan yang dilakukan setiap hari dan mendapatkan uang setiap hari.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, tidak jarang sang istri juga membantu untuk bekerja sendiri. Hal tersebut dilakukan untuk menambah pemasukan dan mendukung perekonomian dari keluarga.
“Kalau nafkah rumah tangga dari hasil bertani sama jual gaska juga untuk tambah-tambah pemasukan” (Nafkah rumah tangga berasal dari hasil tani dan menjual gas untuk menambah pemasukan) (D.2 WW, IW. 22/10/20
e. Alasan memilih untuk mempertahankan hubungan
Alasan istri bertahan dan memilih untuk mempertahankan hubungan adalah karena masih sayang dengan sang suami. Alasan lainnya juga adalah karena mereka memikirkan tentang nasib anak- anak mereka apabila mereka memilih untuk berpisah. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan-ungkapan informan :
“Karena masih sayang kalau tidak disayangmi disambeimi (diganti) tapi masih ada perasaan masih bisa dikasih kesempatan siapa tau masih bisaji berubah” (Karena masih sayang kalau tidak disayang diganti, tapi masih ada perasaan, masih bisa diberi kesempatan, siapa tau masih bisa berubah)(D.1 WW, IW 22/10/20)
“Karena masih ada perasaan sama suami, sama mama dari suamiku juga baik sekali kesaya. Mungkin ujian dari tuhan ini dikasih suami yang kayak begitu” (Karena masih ada perasaan dengan suami, dan mama dari suami juga sangat baik kepada saya. Mungkin ini ujian dari tuhan diberikan suami yang seperti itu)(D.2 WW, SG. 22/10/20)
“Karena masih disayangi, kupikirki juga anakku kalo pisahka sama suamiku bagaimana nanti caraku biayai kalo sendirika. Ini saja masih samaja tapi masih kekuranganja” (Karena masih sayang, saya juga memikirkan anak ketika pisah dengan suami bagaimana nanti caranya membiayai anak kalau saya sendirian. Ini saja masih bersama tapi masih banyak kekurangannya)(D.3 WW, MJ. 23/10/20) Istri lebih memilih untuk mengalah dan memberikan kesempatan kepada suami siapa tau sang suami dapat berubah seiring berjalannya waktu. Kekhawatiran istri jika berpisah adalah sang istri tidak mampu membiayai anaknya sendirian dan membutuhkan suami untuk membantu membiayai anak mereka.
2. Pola penyelesaian konflik keluarga bagi rumah tangga yang bersuami pemabuk
a. Konflik yang sering terjadi di rumah
Dari hasil wawancara ditemukan bahwa sering terjadi konflik dalam rumah tangga suami pemabuk dan suasana di rumah juga menjadi tidak kondusif
“Sering” (Sering)(D.1 WW, IW. 22/10/20)
“Iya, seringa bertengkar” (Iya, sering bertengkar) (D.2 WW, SG. 22/10/20)
Penyebab dari terjadinya konflik juga bermacam-macam, tetapi mayoritas masalah perekonomian keluarga.
“Kalau banyak utangnya” (Kalau banyak utangnya) (D.1 WW, IW. IW. 22/10/20)
“Itu kalau kularangi pergi minum karena lebih napilih pergi minum dari pada cari uang” (ketika saya melarang untuk pergi minum karena suami lebih memilih pergi minum dari pada cari uang)(D.2 WW, SG. 22/10/20)
“Itu kalau tidak ku kasiki uang untuk pergi minum, kalau bicara kasar baru emosima juga biasa bertenkarka” (Itu kalau tidak saya kasih uang untuk pergi minum, kalau bicara kasar menjadi emosi dan biasanya bertengkar)(D.3 WW, MJ. 23/10/20)
Beberapa permasalahan yang dapat menimbulkan pertengkaran atau konflik diantaranya adalah masalah perekonomian. Kondisi perekonomian yang tidak stabil menyebabkan keluarga harus meminjam uang kepada keluarga maupun kerabat. Selain itu, sifat suami yang tempramen juga terkadang memicu konflik.
b. Usaha yang dilakukan istri untuk menyelesaikan konflik
Istri menjadi orang pertama yang akan melakukan usaha untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di dalam rumah tangga. Hal tersebut terjadi dikarenakan suami yang pemabuk lebih cenderung memiliki ego yang tinggi dan tempramen. Sehingga sangat susah sekali untuk diajak berkepala dingin.
“Saya ka dia orang tinggi egonya” (Saya, karena suami saya tinggi egonya)(D.1 WW, MJ.23/10/20)