• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis dan Tipe penelitian

BAB III. METODE PENELITIAN

B. Jenis dan Tipe penelitian

2. Data Sekunder, yaitu data yang dikumpulkan peneliti dari berbagai laporan-laporan atau dokumen-dokumen yang bersifat informasi tertulis yang berkaitan dengan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Takalar.

D. Informan Penelitian

Adapun informan yang dimkasud dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Kepala bidang kesejahteraan sosial kabupaten takalar.

2. Koordinator UPPKH (Unit Pelaksa program keluar harapan) Kabupaten Takalar

3. UPPKH(Unit Pelaksana Program Keluarga Harapan) Kecamatan Galesong, Kecamatan Polongbangkeng Utara dan Kecamatan Mangarabombang.

4. Masyarakat yang menerima program PKH.

E. Prosedur Pengumpulan Data

Guna memperoleh data yang relevan dengan tujuan penelitian, makadigunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Pengamatan (observasi)

Pada metode pengamatan ini, peneliti akan melakukan pengamatanlangsung ke lapangan mengenai proses pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH), khususnya di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Galesong, Kecamatan Polongbangkeng Utara dan Kecamatan Mangarabombang.

2. Wawancara (interview)

Peneliti akan melakukan wawancara langsung secara mendalam kepadainforman yang menjadi obyek dari penelitian ini yaitu Kepala Dinas Sosial kabupaten Takalar, Kepala Bidang Bina Sosial dan Tenaga Kerja Kabupaten Takalar, masing-masing UPPKH di tiga Kecamatan, dan Masyarakat yang menerima wawancara.

3. Dokumentasi

Dokumen yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data pegawai di Dinas Sosial Kabupaten Takalar, data-data UPPKH di tiga Kecamatan, dan masyarakat RTSM yang menerima bantuan dalam bidang pendidikan dan kesehatan.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data ialah langkah selanjutnya untuk mengelola data dimana datayang diperoleh, dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa untukmenyimpulkan persoalan yang diajukan dalam menyusun hasil penelitian.Dalammodel ini terdapat 3 (tiga) komponen pokok. Menurut Miles dan Huberman(Dalam Sugiyono, 2012:92-99) ketiga komponen tersebut yaitu:

1. Reduksi Data (data reduction)

Data yang diperoleh di lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu perludicatat secara teliti dan rinci. Seperti telah dikemukakan makin lama penelitidi lapangan, maka jumlah data akan makin banyak, kompleks dan rumit.Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data.Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang

pokok,memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya danmemebuang yang tidak perlu.

2. Penyajian Data (data display)

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentukuraian singkat, bagan, hubungan antar kategori dan sejenisnya.Display data memberikan penyajian data dalam bentuk matriks, network, chart atau grafik, dengan demikian penelitian dapat menguasai data.

3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi (conclusion drawing and verification) Langkah ketiga dalam analisis data kulitatif adalah penarikan kesimpulan danverifikasi.Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, danberubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung padatahap pengumpulan data berikutnya.Tetapi apabila data kesimpulan datayang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh kembali bukti-bukti yangvalid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan mengumpulkan data,maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

G. Keabsahan Data

Salah satu cara yang digunakan oleh peneliti dalam pengujian kredibilitasdata adalah dengan triangulasi. Menurut Sugiyono (2012:125) Triangulasidiartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, danberbagai waktu. Lebih lanjut Sugiyono (2012:127) membagi triangulasi ke dalamtiga macam, yaitu:

1. Triangulasi Sumber, triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telahdiperoleh melalui beberapa sumber. Dalam hal ini peneliti melakukanpengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh melalui hasilpengamatan, wawancara dan dokumen-dokumen yang ada.Kemudianpeneliti membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara, danmembandingkan hasil wawancara dengan doumen yang ada.

2. Triangulasi Teknik, triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumberyang sama dengan teknik yang berbeda. Dalam hal ini data yangdiperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi dan dokumen.Apabila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut,menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusilebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untukmemastikan data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanyabenar karena sudut pandangnya berbeda-beda.

3. Triangulasi Waktu, waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yangdikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yanglebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka pengujiankredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekandengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasiyang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, makadilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastiandatanya. Triangulasi dapat juga dilakukan dengan cara mengecek

hasilpeneitian, dari tim peneliti lain yang diberi tugas melakukanpengumpulan data.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Obyek Penelitian

1. Keadaan Pegawai UPPKH Dinas Sosial Kabupaten Takalar

Hasil observasi menunjukkan bahwa jumlah pegawai yang bertugas di UPPKH kabupaten Takalar adalah sebanyak delapan orang. Mulai dari kepala dinas, ketua UPPKH, Sekretaris, bidang penyaluran bantuan, bidang verifikasi, bidang data dan SPM, koordinator kabupaten, operator. Sedangkan untuk setiap UPPKH di sembilan kecamatan didampingi oleh dua orang dalam satu kecamatan yang menjadi pendamping program keluarga harapan dengan komposisi satu orang sebagai koordinator merangkap sebagai anggota.

Tabel 1.Keadaan Pegawai Berdasarkan Eselon

No Tingkat Eselon Jumlah

(Orang)

1 II 2

2 III 3

3 IV 3

4 Non Eselon/UPPKH Kecamatan 16

Jumlah Total 24

Sumber data: Dinas Sosial Kabupaten Takalar Tahun 2016

Berdasarkan hasil tabel di atas menunjukkan bahwa dalam program keluarga harapan terdapat dua komponen implementor atau pelaksana yang bertugas menjalankan program keluarga harapan yakni komponan UPPKH di Sekretariat Dinas Sosial Kabupaten Takalar dan UPPKH yang bertugas menjadi pendamping di setiap kecamatan. Sekretariat UPPKH di Dinas Sosial Kabupaten Takalar itu dijabat oleh pegawai negri sipil sedangkan untuk UPPKH di setiap

Pengarah

MUHAMMAD RIDWAN T, SE MM

Ketua UPPKH Dra. Hj.ST.AIDAH, M.AP

Sekretaris HJ HASIAH, S.Sos

BIDANG VERIFIKASI RISMA WULANG PERTAMASARI, S.Sos

OPERATOR SYAMSU ALAM,

S.Kom BIDANG PANYALURAN

BANTUAN PUJIATI BIDANG DATA DAN SPM

ABDUL HARIS HAMID,SE

KOORDIANTOR KABUPATEN AMRIN, S.Sos

kecamatan dijabat oleh petugas non PNS yang telah lolos mengikuti seleksi rekrutmen UPPKH.

Bagan 2.

Struktur Organisasi

UPPKH Dinas Sosial Kabupaten Takalar

Sumber data: Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Dinas Sosial Kabupaten Takalar

Tabel 2. Data Sumber Daya Manusia (Staf/Pendamping) PKH Kecamatan Mangngara Bombang, Polombangkeng Utara, dan Galesong.

NO NAMA JABATAN TINGKAT

PENDIDIKAN 01 MUHAMMAD RIDWAN. T, SE,MM Kepala Dinas Sosial S2

02 HJ. AIDAH, MM Kepala Bidang Kesos S2

03 HJ HASIAH, S.Sos Sekretaris S1

04 ABDUL HARIS HAMID, SE Bidang Data SPM S1

05 PUJIATI Bidang Penyalur

Bantuan

SMA 06 RISMA WULANG PERMATASARI,

S.Sos

Bidang verifikasi S1

07 AMRIN, S.Sos Koord. Kabupaten S1

08 SYAMSUL ALAM, S.Kom Operator S1

09 SYAMSU ALAM, S.KOM Operator S1

10. FIRMAN, S.Pd

Anggota : SUPRIADI,S.pd

Koord. Pendamping Kec. Mangngara Bombang

S1

11 MEGAWATI, S.Sos Anggota : ISMAIL, SE

Koordinator

Pendamping Kec.

Polombangkeng Utara S1

12 MUHAMMAD FADLI, SE Anggota : MUH.ASRI,S.pd

Koord. Pendamping Kec. Galesong

S1

13 ARIFANDI S.pd Anggota : SURIATI, SE

Koord Pendamping Kec. Galesong Selatan

S1

14 MUH. ARFAH, SE

Anggota : RAHMAWATI,S.pd

Koord Pendamping Kec. Galeong Utara

S1

15 HASRIANA, S.Sos Koord Pendamping

Kec. Mappakasunggu S1 16 RAMLI, SE

Anggota : IRMAWATI, S.pd

Koord Pendamping Kec. Pattalassang

S1 17 JUFRI, SE

Anggota : ARDIYANSA, SE

Koord Pendamping Kec. Polongbangkeng Selatan

S1

18 LUKMAN,S.pd Koord Pendamping

Kec. Sanrobone

S1

Tabel 3. Jumlah penerima Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Takalar

Program PKH 2012/2013 2013/2014 2014/2015

Kesehatan 2549 2918 3249

Pendidikan Anak 2613 3037 4799

Sumber data:Sub Bagian Operator PKH

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa penerima Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Takalar pada tahun 2013 2014 2015 mengalami peningkatan, ini dapat dilihat bahwa mulai awal berjalannya Program Keluarga Harapan pada tahun 2011 meliputi Sembilan Kecamatan yakni Pattallassang, Galesong, Galesong Selatan, Galesong Utara, Polongbangkeng Selatan, Polongbangkeng Utara, Mangarabombang, Mappakasunggu, dan Sanrobone dari dua program yang berjalan PKH Bidang Kesehatan, dan PKH Bidang Pendidikan Anak.

Tabel 4. Jumlah penerima Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Galesong, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kecamatan Mangarabombang.

KECAMATAN TAHUN

2012/2013 2013/2014 2014/2015

Galesong 165 215 233

Polongbangkeng Utara 211 295 365

Mangarabombang 564 761 225

Mappakasunggu 450 448 287

Galesong Selatan 387 351 321

Galesong Utara 214 209 147

Polongbangkeng Selatan 202 207 205

Pattallassang 114 107 109

Sanrobone 231 226 200

Sumber data:Sub Bagian Operator PKH

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa penerima Program Keluarga Harapan (PKH) ditiga Kecamatan meliputi Kecamatan Galesong, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kecamatan Mangarabombang dari tahun 2013, 2014, 2015 memiliki jumlah peningkatan peserta PKH bidang Pendidikan setiap tahun, dapat dilihat bahwa Kecamatan Mangarabombang penerima PKH paling banyak karena memiliki wilayah yang sangat luas dibandingkan dengan Kecamatan lainnya.

Tabel 5. Jumlah penerima Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Takalar Tahun 2015/2016.

Kecamatan Ibu Hamil Gizi Balita

Galesong 70 73

Polongbangkeng Utara 76 74

Mangarabombang 84 89

Mappakasunggu 64 50

Galesong Selatan 48 41

Galesong Utara 55 50

Polongbangkeng Selatan 49 47

Pattallassang 43 38

Sanrobone 47 48

Sumber data:Sub Bagian Operator PKH

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dalam bidang kesehatan yakni ibu hamil dan gizi balita jumlah penerima bantuan yang paling tertinggi berada di kecamatan Mangngarabombang, Kecamatan Galesong, dan Polongbangkeng Utara.

B. Implementasi Kebijakan Program Keluarga Harapan (PKH) di Dinas Sosial Kabupaten Takalar

Peran pemerintah tidak terlepas dari tangung jawab untuk mengentaskan persoalan kemiskinan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya yang dihadapi oleh masyarakat sehingga kestabilan kehidupan berbangsa dan bernegara dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Salah satu kebijakan pemerintah yang diharapkan mampu mencapai tujuan tersebut adalah dengan hadirnya program nasional dengan nama program keluarga harapan (PKH) yang dikeluarkan oleh Kementrian Sosial RI yang diperuntukkan kepada masyarakat dengan kelas ekonomi ke bawah yang telah dilaksanakan di seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Salah satu daerah yang juga ikut serta dalam mensukseskan kebijakan dari program keluarga harapan (PKH) adalah kabupaten Takalar propinsi Sulawesi Selatan yang sejak tahun 2011 hingga saat ini masih terus berjalan di setiap kecamatan yang ada di dalamnya. Kabupaten Takalar seyogyanya memiliki sembilan kecamatan yakni; Pattallassang, Galesong, Galesong Selatan, Galesong Utara, Polongbangkeng Selatan, Polongbangkeng Utara, Mangarabombang, Mappakasunggu, dan Sanrobone. Pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) ini dilakukan oleh Bidang Kesejahteraan Sosial pada Dinas Sosial Kabupaten Takalar. Diantara kesembilan Kecamatan tersebut, terdapat tiga kecamatan yang dianggap memiliki jumlah Keluarga Sangat Miskin (KSM) terbesar yaitu;

Kecamatan Galesong, Kecamatan Polongbangkeng Utara, dan Kecamatan Mangarabombang.

1. Proses Pelaksanaan

Dalam proses pelaksanaan Program Keluarga Harapan dilaksanakan berdasarkan Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia No. 02A/HUK/2008 tentang "Tim Pelaksana Program Keluarga Harapan (PKH) Tahun 2008" tanggal 08 Januari 2008 dan Keputusan Bupati/Walikota tentang "Tim Koordinasi Teknis Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten/Kota/TKPKD". Berfokus kepada sistem pentargetan (targeting) yang didasarkan atas database yang disediakan BPS. Database ini adalah PPLS08 dan SPDKP 2007 yang telah diputuskan oleh TNP2K bahwa seluruh program bantuan sosial berbasis keluarga harus berdasarkan atas hasil unifikasi data. Dengan Standar Operational Procedure oleh para Unit Pelaksana Program Keluarga Harapan yaitu :

1. Seleksi dan Penetapan lokasi PKH 2. Sosialisasi dan Rapat Koordinasi

3. Rekruitmen dan Diklat Pendamping- Operator PKH

4. Pembentukan Sekretariat UPPKH Kab/Kota (Perangkat SIM PKH) 5. Pertemuan Awal dan Validasi calon Peserta PKH

6. Pembayaran pertama kali dan Rekonsiliasi

7. Bimbingan Teknis (Reguler dan Service Provider)

8. Verifikasi komitmen peserta PKH pada layanan Kesehatan dan Pendidikan 9. Pembayaran berdasarkan verifikasi

10. Monitoring,evaluasi dan Pelaporan.

Tabel 6.

Tahapan Implementor Target Group

1 Data yang di olah TNP2K Pendataan langsung ke rumah masyarakat peserta PKH

2 Dikirim ke pusat Pendataan kembali sebagai

peserta PKH 3 Verifikasi oleh Tim Pelaksana PKH

4 Dilaksanakan oleh Unit Pelaksana Program PKH

Reduksi Data 2016

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa tahapan pertama data yang diola TNP2K, kemudian dikirim kepusat untuk diverivikasi oleh tim pelaksana PKH dan dilaksanakan oleh Unit Pelaksanna Program Keluarga Harapan (UPPKH). Kemudian Pendataan langsung ke rumah masyarakat peserta PKH dan pendataan kembali sebagai peserta PKH.

1. Komunikasi

Komunikasi implementasi mensyaratkan agar implementor mengetahui apa yang harus dilakukan, komunikasi diartikan sebagai proses penyampaian informasi komunikator kepada komunikan. Selain itu juga dalam komunikasi implementasi kebijakan terdapat tujuan dan sasaran kebijakan yang harus disampaikan kepada kelompok sasaran, hal tersebut dilakukan agar mengurangi kesalahan dalam pelaksanaan kebijakan.

Dalam implementasi, tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran suatu program yang akan dilaksanakan harus diidentifikasi dan diukur karena implementasi tidak dapat berhasil atau mengalami kegagalan bila tujuan-tujuan itu tidak dipertimbangkan.

Uraian lebih lanjut terkait dengan arti komunikasi dalam implementasi kebijakan program keluarga harapan (PKH) di Dinas Sosial Kabupaten Takalar , maka hasil wawancara yang dilakukanpenulis dengan “AI” selaku Kepala Bidang Kesejahteraan Sosial Kabupaten Takalar, terkait proses pelaksanaan PKH di Kabupaten Takalar, sebagai berikut:

“Tujuan dari program keluarga harapan (PKH) dalam bidang pendidikan adalah tentunya memberikan peluang bagi anak-anak miskin untuk dapat mengenyam dunia pendidikan dengan baik tanpa terbebani oleh biaya- biaya luar sekolah seperti alat tulis dan seragam sekolah, maka dari itu diberikanlah bantuan dana melalui program PKH. Sedangkan dalam bidang kesehatan khususnya pada ibu hamil dan gizi bayi adalah agar bagaimana para ibu hamil yang kurang mampu dapat memperoleh asupan gizi yang baik bagi kesehatan diri dan bayi dalam kandungannya agar tidak terganggu kesehatannya sehingga dapat melahirkan dengan selamat.

Begitu juga dengan bayi yang memerlukan asupan gizi yang baik agar pertumbuhan dan perkembangannya dapat berjalan lancar, maka dari itu program PKH ini menjadi solusi yang positif bagi mereka yang kurang mampu.” (Hasil wawancara dengan , pada tanggal01 Juni 2016).

Berdasarkan uraian penjelasan dari informan di atas dapat diketahui bahwa tujuan dari implementasi program keluarga harapan dalam bidang pendidikan adalah agar para anak-anak dapat bersekolah dengan baik tanpa terbebani oleh biaya-biaya diluar sekolah seperti alat tulis, seragam sekolah, dan lain-lain karena program PKH memberikan bantuan dana bagi anak-anak yang kurang mampu.

Sedangkan tujuan dari implementasi program PKH dalam bidang kesehatan seperti ibu hamil dan gizi bayi adalah dengan membantu ibu hamil serta bayi yang kurang mampu agar mendapatkan asupan gizi yang baik sehingga proses persalinan dan perkembangan bayi dapat berjalan lancar.

Untuk memperoleh informasi yang lebih lanjut, maka wawancara dilakukan dengan “AMR” Koordinator UPPKH Kabupaten Takalar yang menjelaskan sebagai berikut :

“Tujuan utama dari program keluarga harapan (PKH) adalah terpenuhinya hak-hak pendidikan bagi semua anak tanpa terkecuali sehingga program PKH ini diharapkan mampu menjadi pion yang dapat menyanggah setiap kebutuhan anak-anak yang kurang mampu untuk dapat memperoleh pendidikan yang layak . Sedangkan dalam bidang kesehatan pada ibu hamil dan gizi bayi adalah agar para ibu kondisi kesehatan ibu hamil dan bayinya dapat terjamin hingga akhirnya menjalani persalinan dengan selamat. Begitu juga untuk bayi yang memiliki latar kelemahan belakang ekonomi orang tuanya juga dapat terjamin asupannya sehingga dapat menekan angka kematian dari ibu hamil dan penderita bayi atau balita yang mengalami gizi buruk.” (Hasil wawancara dengan AMR, pada tanggal 01 Juni 2016).

Berdasarkan uraian penjelasan di atas yang menjelaskan bahwa implementasi tujuan utama dari program keluarga harapan (PKH) dalam bidang pendidikan adalah untuk memenuhi hak-hak pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu sehingga program keluarga harapan diharapkan menjadi pion penyanggah setiap kebutuhan anak-anak yang kurang mampu untuk dapat memperoleh pendidikan yang layak. Sedangkan tujuan utama dari program keluarga harapan dalam bidang kesehatan untuk para ibu hamil dan bayi adalah untuk tetap menjamin kondisi kesehatan ibu hamil dan bayi agar tetap sehat sehingga angka kematian ibu hamil dan bayi atau balita penderita gizi buruk dapat terus menerus ditekan.

Lebih lanjut wawancara dilakukan dengan “FM” Pendamping PKH di Kecamatan Mangngarabombang menjelaskan sebagai berikut :

“Tujuan utama dari implementasi program keluarga harapan (PKH) khususnya dalam bidang pendidikan adalah untuk melaksanakan amanah dari undang-undang serta program pemerintah untuk dapat menyekolahkan semua warga negara hingga 12 tahun tanpa terkecuali. Selain itu dalam bidang kesehatan adalah dengan menjamin ibu hamil dan bayi agar tetap sehat dan kuat. Hal ini sangat sejalan dengan program pemerintah propinsi Sulawesi Selatan dan Kabupaten Takalar tentang pendidikan dan kesehatan gratis sehingga kita tidak lagi mendengar adanya anak-anak yang tidak bersekolah karena persoalan biaya serta adanya ibu hamil yang meninggal serta bayi yang menderita gizi buruk karena kekurangan asupan.” (Hasil wawancara denganR, pada tanggal 01 Juni 2016).

Dari hasil penjelasan informan di atas sejalan dengan penjelasan kepala Dinas Sosial dan Kepala Bidang Kesejahteraan Sosial yang menjelaskan bahwa tujuan utama dari program keluarga harapan (PKH) adalah untuk menjamin hak- hak pendidikan bagi anak-anak di Indonesia minimal sampai 12 tahun atau SMA dan menjaga kesehatan ibu hamil serta bayi agar tetap terjaga sehingga dapat menekan angka anak-anak yang putus sekolah dan ibu hamil yang meninggal serta bayi penderita gizi buruk.

Untuk lebih lanjut informasi terkait komunikasi maka hasil wawancara dengan salah seorang penerima bantuan PKH (RW) sebagai informan mengungapkan :

“Menurut saya para petugas atau pegawai yang bertugas diprogram PKH sangat intens memberikan informasi kepada kami baik melalui Via telepon maupun secara langsung sehingga kami ketika ada hal-hal yang berkenaan dengan program PKH kami cepat dapat menindaklanjuti informasi tersebut.” (Hasil wawancara denganRW, pada tanggal 15 Juli 2016).

Dari hasil wawancara dengan salah seorang informan di atas menjelaskan bahwa para petugas atau pegawai yang bertugas melaksanakan program keluarga harapan sangat intens dalam memberikan informasi baik melalui via telepon maupun dengan mendatangi secara langsung sehingga ketika ada hal-hal yang penting terkait dengan PKH dapat ditindaklanjuti dengan cepat oleh masyarakat.

Untuk lebih lanjut informasi terkait komunikasi maka hasil wawancara dengan salah seorang penerima bantuan PKH (S) sebagai informan mengungapkan

“Kalau soal komunikasi dan keterbukaan informasi sudah sangat bagus karena kami didatangi secara langsung untuk diberitahukan bersama dengan kepala desa dan kepala dusun. ” (Hasil wawancara dengan S, pada tanggal 15 Juli 2016).

Hasil wawancara dengan informan diatas menjelaskan bahwa persoalan komunikasi dan keterbukaan informasi terkait dengan program keluarga harapan sudah sangat cukup baik karena pemberitahuan tentang program ini disampaikan langsung bersama dengan kepala desa dan kepala dusun.

Dari hasil wawancara dengan beberapa informan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam proses implementasi kebijakan program keluarga harapan (PKH) di Kabupaten Takalar dalam aspek komunikasi dengan mengukur tingkat pemahaman implementator terkait dengan tujuan dari program keluarga harapan (PKH) dengan melihat hasil wawancara dengan para informan telah memberikan gambaran bahwa para implementator program keluarga harapan (PKH) di Dinas Sosial Kabupaten Takalar memahami dengan baik apa yang menjadi ukuran serta tujuan dari implementasi program keluarga harapan (PKH).

Hal ini terlihat dari kutipan jawaban dari hasil wawancara yang dilakukan kepada para informan yang memiliki fungsi yang berbeda akan tetapi secara keseluruhan telah memahami bahwa tujuan dari program keluarga harapan adalah untuk mengentaskan kemiskinan dengan mengurai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat baik di bidang pendidikan maupun di bidang kesehatan. Selain itu hasil wawancara dengan beberapa informan yang bersumber dari masyarakaat

penerima bantuan program keluarga harapan menjelaskan bahwa persoalan komunikasi dan pemberian informasi sudah sangat cukup baik kepada masyarakat baik yang melalui via telepon ataupun dengan mendatangi secara langsung sehingga masyarakat dapat menanggapi dengan baik arah serta orientasi dari program keluarga harapan tersebut bersama dengan pemanfaatannya

2. Sumber daya

Sumber daya berkaitan dengan segala sumber yang dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan implementasi kebijakan program keluarga harapan (PKH) di Dinas Sosial Kabupaten Takalar. Dari hasil obsservasi awal peneliti mendapatkan informasi terkait sumberdaya baik sumberdaya staf, fasilitas, dan sumberdaya anggaran yang mendukung keberhasilan dari implementasi program keluarga harapan (PKH) Di Dinas Sosial Kabupaten Takalar terkhusus untuk program ibu hamil dan gizi balita dalam bidang kesehatan. Pada Sumber daya ini mencakup beberapa indikator yang menjadi alat ukur tercapainya keberhasilan dalam pelaksanaan kebijakan tersebut. Indikator itu antara lain:

a. Sumberdaya Manusia (Staf/Pendamping Program PKH)

Dalam hal implementasi kebijakan program keluarga harapan (PKH) di Dinas Sosial tentunya tidak hanya bergantung pada kuantitas sumber daya manusia yang bertindak selaku implementator dari kebijakan implementasi program tersebut, akan tetapi keahlian serta kemampuan dari implementator baik staf maupun pendamping program di lapangan harus cukup berkualitas.

Berkaitan dengan hal itu, maka hasil wawancara dengan “AI” selaku Kepala Bidang Kesejahteraan Sosial menyatakan bahwa:

“Kemampuan dan keahlian dari staf serta pendamping dari program keluarga harapan (PKH) khususnya di Kabupaten Takalar sudah cukup ini sudah baik. Akan Tetapi jumlah dari pendamping masih kurang karena adanya beberapa kecamatan yang belum memiliki pendamping sehingga ada beberapa pendamping yang harus bertanggung jawab pada lebih dari satu kecamatan”(Hasil wawancara A.I 1 Juni 2016)”.

Hasil wawancara di atas menjelaskan bahwa untuk persoalan sumber daya manusia sebagai implementator dari program keluarga harapan (PKH) baik staf maupun para pendamping sudah cukup ahli dalam menjalankan tugas serta tanggung jawabnya. Akan tetapi terkait dengan kuota jumlah pendamping untuk setiap kecamatan di Kabupaten Takalar itu belum terpenuhi secara keseluruhan sehingga terkadang ada pendamping yang mendampingi dua kecamatan sekaligus.

Hasil wawancara dilanjutkan dengan “AMR” yang menjabat selaku koordinator pendamping PKH Kabupaten Takalar mengatakan bahwa :

“Dalam implementasi kebijakan program keluarga harapan (PKH) di kabupaten Takalar yang paling berperan penting adalah pendamping dari program tersebut. Pendamping dari PKH sudah cukup berkompeten dalam menjalankan tugasnya karena sebelum para pendamping di tempatkan pada wilayahnya masing-masing mereka terlebih dahulu mereka dibekali dengan bimbingan teknis, pelatihan, dan lain-lain sehingga telah memiliki kesiapan untuk melaksanakan program” (Hasil wawancara dengan AMR, pada tanggal 01 Juni 2016).

Hasil wawancara dengan informan di atas menjelaskan bahwa dalam implementasi kebijakan program keluarga harapan (PKH) khususnya di Dinas Sosial Kabupaten Takalar sangat dipengaruhi oleh pendamping dari program tersebut. Kemampuan dari para pendamping PKH di Kabupaten Takalar sudah cukup berkompeten dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Hal tersebut disebabkan karena sebelum para pendamping itu menjalankan tugas di

Dokumen terkait