• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis-jenis Inflasi

Dalam dokumen pengaruh inflasi dan dana perimbangan (Halaman 31-40)

BAB I PENDAHULUAN

A. Tinjauan Teori

1) Jenis-jenis Inflasi

a. Jenis inflasi berdasarkan tingkat keparahannya

1. Inflasi rendah, yaitu inflasi yang tingkat laju inflasinya kurang dari 10% per tahun. Dimana tahun ini Bank Indonesia menargetkan pencapaian inflasi Indonesia berada pada kisaran 4% (+/-1%) sehingga dapat dikategorikan sebagai inflasi rendah.

2. Inflasi menengah, yaitu jenis inflasi yang besarnya berkisar antara 10-30% per tahunnya.

3. Inflasi berat, yaitu jenis inflasi yang besarnya berkisar 30-100%

per tahunnya.

4. Hyperinflation, yaitu jenis inflasi dimana laju inflasinya per tahun berada di atas angka 100%. Indonesia sendiri pernah mengalami hal ini pada masa Orde Lama, dimana besarnya inflasi per tahun bisa mencapai kisaran 600% per tahun.

12

b. Jenis inflasi berdasarkan sumbernya:

1. Inflasi dalam negeri, yaitu inflasi yang terjadi karena peningkatan permintaan masyarakat yang lebih cepat dibandingkan kemampuan pasar untuk memenuhinya.

2. Inflasi luar negeri, yaitu jenis inflasi yang timbul karena inflasi yang terjadi pada negara lain yang menyebabkan harga barang-barang impor meningkat dan ketika barang impor tersebut digunakan sebagai bahan baku industri, maka inflasi akan mempengaruhi harga akhir barang-barang tersebut nantinya.

c. Jenis inflasi berdasarkan faktor penyebabnya 1. Demand pull inflation

Demand pull inflation yaitu inflasi yang terjadi ketika permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa relatif lebih tinggi dibandingkan kemampuan pasar untuk menyediakan kebutuhan tersebut pada waktu itu. Sebagai contoh menjelang hari raya, biasanya harga barang-barang pokok, makanan ringan dan pakaian mengalami peningkatan, hal ini dikarenakan kebutuhan masyarakat yang relatif meningkat dibandingkan dengan hari-hari biasanya.

2. Cost push inflation

Cost push inflation yaitu inflasi yang terjadi ketika adanya kenaikan harga pada barang-barang mentah yang diperlukan

untuk memproduksi barang dan jasa, sehingga harga barang dan jasa mengalami penyesuaian dengan adanya kenaikan harga.

Cost push inflation biasanya disebabkan oleh adanya depresiasi nilai tukar, inflasi di negara pengekspor barang mentah, dan dapat pula terjadi karena adanya bencana alam dan terganggunya sistem distribusi.

Menurut Sisi Nur Indriyani (2016) ada tiga komponen yang menggambarkan bahwa telah terjadi inflasi

1. Kenaikan Harga

Maksud dari kenaikan harga adalah harga suatu barang saat ini lebih mahal dari harga sebelumnya.

2. Bersifat umum

Dikatakan bersifat umum karena kenaikan harga suatu barang tertentu diikuti oleh kenaikan harga-harga lainnya.

3. Berlangsung secara terus-menerus

Naiknya harga suatu barang tidak bisa dikatakan inflasi jika harga barang tersebut hanya terjadi sesaat. Penghitungan inflasi dilakukan dalam rentang waktu minimal bulanan. Jika terjadi dalam waktu bulan akan terlihat apakah kenaikan harga bersifat umum dan terus- menerus.

14

2. Beberapa efek yang ditimbulkan dari inflasi, yaitu : 1. Efek terhadap pendapatan (Equity Effects)

Efek terhadap pendapatan pada umumnya tidak merata, ada yang dirugikan tetapi ada pula yang diuntungkan dari inflasi. Seseorang yang memperoleh pendapatan tetap akan dirugikan oleh adanya inflasi. Misalnya seseorang yang memperoleh pendapatan tetap sebesar Rp. 1.000.000/tahun sedang laju inflasi sebesar 10%

akan memderita kerugian pendapatan sebesar laju inflasi tersebut, yaitu sebesar Rp. 100.000.

2. Efek terhadap efisiensi (Efficiency effects)

Perubahan ini biasanya terjadi melalui kenaikan permintaan akan berbagai macam barang yang kemudian dapat mendorong terjadinya perubahan dalam produksi beberapa barang tertentu sehingga mengakibatkan alokasi faktor produksi menjadi tidak efisien.

3. Efek terhadap Output (Output effects)

Dalam menganalisis kedua efek dialas Equity dan Efficiency effects digunakan suatu anggapan bahwa output tetap. Hal ini dilakukan supaya dapat diketahui efek inflasi terhadap distribusi pendapatan dan efisiensi dari jumlah output tertentu tersebut.

2. Tinjauan Teori Dana Perimbangan

Pengertian Dana perimbangan dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Pasal 1 Ayat 18 tentang Perimbangan antar Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Dana Perimbangan diartikan sebagai dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN), yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (Departemen Keuangan, 2004).

Integovernmental Revenue atau yang biasa dikenal dengan nama dana perimbangan merupakan hasil kebijakan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah di bidang desentralisasi fiskal dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan fiskal antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Desentralisasi adalah kewenangan yang telah diserahkan sepenuhnya menjadi kewenangan daerah dan pembiayaannya diambil dari sumber-sumber penerimaan daerah yang ada. Sumber-sumber penerimaan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi telah diatur secara tegas dalam undang- undang No. 25 tahun 1999 yang kemudian mengalami revisi menjadi undang-undang No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, yaitu :

1. Dana Bagi Hasil (DBH)

Dana Bagi Hasil (DPH) merupakan dana yang bersumber dari APBN yang kemudian dialokasikan kepada setiap daerah

16

berdasarkan angka prsentase untuk memenuhi kebutuhan daerah tersebut.

Dana bagi hasil teridiri dari :

a. Dan Bagi Hasil Pajak, terdiri dari 1. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

Penerimaan Negera dari hasil PBB dibagi imbang yaitu sebesar 10% untuk Pemerintah Pusat dan sebesar 90%

untuk Pemerinta Daerah, dengan rincian sebagai berikut : 1) Untuk provinsi yang bersangkutan sebesar 16,2%;

2) Untuk kabupaten/kota yang bersangkutan sebesar 64.8%;

dan

3) Untuk biaya pemungutan sebesar 9%.

Sedangkan untuk bagian Pemeritah sebesar 10% yang dialokasikan kepada seluruh kabupaten dan kota. Dimana pengealokasian di kabupaten dan kota dibagi dengan rincian sebagai berikut :

1) Sebesar 6,5% dibagikan kepada seluruh kabutan dan kota; dan

2) Untuk insentif kepada kabupaten/kota sebesar 3,5%, yang realisasi pnerimaan PBB Perdesaan dan Perkotaan pada than sebelumnya yang telah mencapai atau melampaui rencana penerimaan yang telah ditetapkan.

2. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) Dimana pembagiannya itu sendiri terdari dari 20% untuk pemerintah pusat dan 80% untuk pemerintah daerah yang akan dibagikan keseluruh kabupaten dan kota. Dengan rincian pemabgiannya sebagai berikut :

1) Untuk provinsi yang bersangkutan sebesar 16%; dan 2) Dan untuk kabupaten dan kota sebesar 64%.

3. Pajak Penghasilan

Pajak Pengahsilan (PPh) diatur dalam Pasal 25 dan Pasal 29 tentang Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri (PPh WPOPDN) dan Pasal 21 tentang Pajak Pengahasilan (PPh), dimana rincian pembagiannya sebagai berikut:

1) Untuk kabupaten dan kota sebesar 60%

2) Dan untuk provinsi sebesar 40%

b. Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (Sumber Daya Alam) 1. DBH Sumber Daya Alam Kehutanan

1) Iuran Izin Usaha Pemanfaatan Hutan (IIUPH)

DBH Kehutanan dari IIUPH sebebesar 80%, dimana pembagiannya untuk untuk provinsi sebesar 16% dan untuk kabupaten dan kota pengahasil sebesar 64%.

18

2) Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH)

Untuk DBH Kehutanan yang berasal dari PSDH untuk daerah sebesar 80% dengan pembagiannya yaitu : untuk provinsi yang bersangkutan sebesar 16%, untuk kabupaten dan kota penghasil sebesar 32% dan untuk kabupaten dan kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan sebesar 32%.

3) Dana Reboisasi (DR).

DBH Kehutanan yang berasal dari Dana Reboisasi (DR), untuk mendanai kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan diberikan sebesar 40% kepada kabupaten dan kota penghasil.

2. DBH Sumber Daya Alam Pertambangan Umum

Penerimaan Pertambangan Umum yang dihasilkan oleh wilayah yang bersangkutan dibagi masing-masing untuk pemerintah pusat sebesar 20% dan untuk pemerintah daerah 80 %.

3. DBH Sumber Daya Alam Perikanan

DBH Perikanan yang berasal dari Pungutan Pengusaha Perikanan dan Pungutan Hasul Perikanan diberikan kepada daerah sebesar 80% untuk seluruh kabupaten/kota dengan porsi yang sama besar.

4. DBH Sumber Daya Alam Pertambangan Minyak dan Bumi DBH pertambangan minyak dan bumi yang dihasilkan oleh penerimaan negara sumber daya alam pertambangan minyak bumi dari wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sebesar 15,5%.

5. DBH Sumber Daya Alam Pertambangan Gas Bumi

DBH sumber daya alam pertambangan dan gas bumi yang dihasilkan dari wilayah yang bersangkutan kemudian dikurangi komponen pajak dan pengutan lainnya yaitu sebesar 69,5%

untuk pemerintah pusan dan 30,5% untuk pemerintah daerah.

6. DBH Sumber Daya Alam Pertambangan Panas Bumi

DBH Pertambangan Panas Bumi yang diihasilkan dari wilayah yang bersangkutan sebesar 20% untuk pemerintah pusat dan 80% untuk pemerintah daerah.

2. Dana Alokasi Umum (DAU)

Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan dana dana yang bersumber dari APBN dimana pengalokasian dana tersebut bertujuan untuk pemerataan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah guna memenuhi kebutuhan dalam terselenggaranya pelaksanaan desentralisasi. Disamping itu DAU juga memilki tujuan lain yaitu untuk memenuhi pendanaan dari kegiatan-kegiatan khusus yang diadakan didaerah tertentu yang

20

tentu kegiatan tersebut tidak terlepas dari tujuan untuk mendorong percepatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Jumlah Dana Alokasi Umum (DAU) yang diberikan kepada daerah ditetapkan sebesar 25% dari penerimaan dalamnegara yang bersumber dari APBN. Untuk daerah provinsi dan kabupaten/kota diberikan masing-masing sebesar 10% dan 90%.

3. Dana Alokasi Khusus (DAK)

Dana alokasi khusus adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas daerah. DAK ditujukan untuk daerah khusus yang terpilih untuk tujuan khusus, karena itu alokasi yang didistribusikan oleh pemerintah pusat sepenuhnya merupakan wewenang pusat untuk tujun nasional khusus.

Dalam dokumen pengaruh inflasi dan dana perimbangan (Halaman 31-40)

Dokumen terkait