BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEP
E. Jenis dan Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah dari mana data dapat diperoleh.
Apabila penelitian menggunakan lembar observasi atau wawancara dalam mengumpulkan datanya, maka sumber data tersebut disebut responden, yaitu
orang yang merespon atau menjawab pertanyan -pertanyan penelitian, baik pertanyaan tertulis maupun lisan,. Sumber Data yang menjadi bahan baku penelitian, untuk diolah merupakan data primer dan sekunder.
Sugiyono (2020:15) data yang diperlukan dalam penelitian bersumber dari data primer dan data sekunder.
1. Data Primer
Data yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung untuk melengkapi data, maka melakukan wawancara secara langsung dan mendalam dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebagai alat pengumpulan data. Dalam ini sumber data utama (data primer) diperoleh langsung dari setiap informasi yang diwawancarai secara langsung dalam penelitian.
2. Data Sekunder
Menurut Sugiyono (2013;2018), data sekunder merupakan sumber data yang tidak dapat secara langsung oleh peneliti. Data bukan berasal dari pihak pertama, tetapi tidak pihak kedua data yang dapat berupa data tertulis, yaitu sumber diluar kata-kata dan tidak yang termasuk sebagai sumber dalam kedua, namun tetapi penting untuk menjunjung pengumpulan data penelitian. Adapun sumber data sekunder yang diperoleh dari jurnal, dan data yang lain relevan.
F. Insrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan dalam melakukan penelitian dalam mengumpulkan data agar pekerjaan lebih mudah dan hasilnya
lebih baik, dalam artinya lebih cepat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Penelitian sendiri sebagai instrumen utama dalam Human Instrument. Adapun alat bantu penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pedoman wawancara, adalah alat yang digunakan dalam melakukan wawancara yang dijadikan dasar untuk memperoleh informasi yang berupa daftar pertanyaan.
2. Lembar observasi, berisi hal-hal tentang kegiatan yang diamati penelitian pada saat melakukan pengamatan langsung lapangan.
3. Catatan dokumentasi adalah data pendukung kegiatan yang dikumpulkan sebagai sebagai penguatan data observasi dan wawancara yang baru gambar, data sesuai dengan kebutuhan penelitian.
4. Alat tulis menulis, yaitu buku, pulpen, atau pensil sebagai alat untuk mencatat informasi yang yang didapat pada saat wawancara, kamera ponsel sebagai alat dokumentasi setiap kegiatan penelitian, alat perekam sebagai alat untuk merekam pada saat peneliti mewawancarai informan.
G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode sebagai berikut;
1. Observasi merupakan aktivitas penelitian dalam rangka mengumpulkan data yang berkaitan dengan masalah penelitian melalui proses pengamatan langsung di lapangan (Gulo, :2020 :166). Jenis observasi yang akan dilakukan adalah observasi secara langsung di lapangan mengenai makna
tradisi massorong sesajen yang menjadi fokus penelitian adalah masyarakat sekitar.
2. Wawancara (Interview), adalah pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh pewawancara (pengumpul data) kepada responden dicatat dengan alat peneliti melakukan wawancara secara langsung dengan narasumber dan wawancara dilakukan menyampaikan sejumlah pertanyaan kepada narasumber, hingga keterangan dianggap cukup untuk melengkapi informasi terhadap penelitian.
3. Dokumentasi, merupakan suatu Teknik pengumpulan data dengan cara menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen. Baik dokumen tertulis, gambar, maupun elektronik,. Jenis data ini berupa sampel untuk memenuhi atau melengkapi data-data yang akan diteliti.
H. Teknik Analisis Data
Analisis Data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh observasi, wawancara catatan lapangan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan dan kedalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, sintesa, mengusun kedalam pola. Memilih mana yang penting dan yang mana yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah di pahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Dimana penyusunan diarahkan untuk menjawab rumusan masalah. Analisis data dalam penelitian kualitatif bersifat induktif yaitu analiasi berdasarkan data yang di peroleh selanjutnya dikembangakan menjadi lebih rinci hingga mudah dimengerti yaitu dengan model Miles dan Huberman
sebagaimana dikutip Sugiyono (2008). Aktivitas yang dilakukan dalam Teknik analisis data dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu:
1. Reduksi Data
Data yang sudah dianalisis dengan mereduksi yang terkumpul. Mereduksi berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, fokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dalam hal ini, data yang tidak terkait dengan ciri atau karakteristik pokok bahasan masalah masalah klarifikasi data dikelompokkan dengan keperluan dan tujuan penelitian.
2. Penyajian Data
Display Data adalah Penyajian data secara sistematis dengan memberikan kronologi dan ditonjolkan pokok-pokoknya sehingga bisa dikuasai secara jelas dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagian hubungan antar kronologi, flow chart atau gambar (yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif). Adapun bentuk- bentuk display ini bias berupa grafik, matrik, network atau bentuk yang lain.
Tujuan diperlukannya display peneliti dapat menguasai data secara cermat dan tidak tenggelam dalam tepukan data.
3. Pengambilan Keputusan
Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga sehingga diteliti menjadi jelas dapat berupa hubungan
interaktif,hipotesis atau teori, sehingga kesimpulan awal dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berubah bila terdapat bukti-bukti baru. Namun jika kesimpulan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan maka kesimpulan tersebut adalah kesimpulan yang kredibel.
I. Teknik Keabsahan Data
Teknik keabsahan data adalah proses mengtringulasikan tiga data yang terdiri dari data observasi, wawancara, dan dokumen.Dalam setiap penelitian diperlukan suatu kebenaran atau keabsahan data agar penelitian memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas.Alat yang digunakan untuk menguji keabsahan data yang terdiri dari triangulasi sumber, triangulasi waktu, triangulasi teori, dan triangulasi pakar. Keabsahan data ini termasuk dalam cross check karena data yang diperoleh lebih terjamin dan factual sesuai dengan fenomena yang terjadi di lapangan.
1. Triangulasi sumber, artinya keabsahan data yang diperoleh agar mendapatkan informasi yang sesuai maka peneliti melakukan perbandingan melalui pengecekan ulang terhadap suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda. Agar memperoleh data yang berbeda dan hasil yang akurat maka peneliti melakukan wawancara terhadap narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Sungguminasa Gowa untuk keabsahan informasi.
2. Triangulasi metode, peneliti melakukan penelitian untuk melengkapi kekurangan informasi yang diperoleh dengan cara ricek cross cek kepercayaan data kepada sumber yang sama dengan metode tertentu.
Peneliti membandingkan melalui data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, kemudian diperkuat dengan dokumentasi dan melalui teori teori yang terkait dengan tema penelitian yakni Dukungan Sosial Keluarga Terhadap Pola Pikir Narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Sungguminasa Gowa
3. Triangulasi waktu, waktu yang digunakan untuk menguji keabsahan data dengan melakukan pengamatan dan wawancara dalam waktu dan situasi yang berbeda. Tujuan dari triangulasi waktu adalah untuk mengetahui keakuratan data yang diperoleh selama wawancara dan observasi lapangan.
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Gambaran Umum Kabupaten Luwu Utara
Kabupaten Luwu Utara adalah salah satu daerah kabupaten dan kota di Provinsi Sulawesi Selatan. Ibu kota Kabupaten Luwu Utara terletak di Pekajong . Masamba sebagai Ibu kota Kabupaten berjarak 430 Km kearah utara dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kabupaten Luwu Utara yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 tahun 1999 dengan ibukota Masamba merupakan pecahan dari Kabupaten Luwu. Kabupaten Luwu Utara berada pada posisi jalan trans Sulawesi yang menghubungkan Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Utara. Kondisi wilayah Kabupaten Luwu Utara bervariasi terdiri dari daerah pegunungan/dataran tinggi, dataran rendah. Saat pembentukannya daerah ini memiliki luas 14.447,56 km2 dengan jumlah penduduk 442.472 jiwa.Dengan terbentuknya Kabupaten Luwu Timur maka saat ini luas wilayahnya adalah 7.502,58 km2. Secara Geografis Kabupaten Luwu Utara terletak pada 010 53’ 19”
– 020 55’ 36” lintang selatan, dan 1190 47’ 46” - 1200 37’ 44 Bujur Timur dengan batas- batas wilayah sebagai berikut :
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Sulawesi Utara b. Sebelah Timur berbatasan dengan Luwu Timur
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Luwu dan Teluk bone 3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja dan Sulawesi
Barat.
49
Luas wilayah Kabupaten Luwu Utara tercatat 7.502,58, 75 Km2 dengan jumlah penduduk 321.979 jiwa dan secara administrasi pemerintahan terbagi menjadi 11 Kecamatan dengan 169 Desa yang merupakan desa definitif. Dari 169 desa tersebut terdapat 4 (empat) desa sudah termasuk dalam klasifikasi daerah perkotaan atau sudah dalam bentuk kelurahan. Keempat kelurahan yaitu, kelurahan Kappuna, Kelurahan Bone, Kelurahan Kasimbong dan kelurahan Baliase. Kecamatan Sukamaju merupakan Kecamatan dengan jumlah desa terbanyak, yaitu 26 desa dan UPT sedangkan Kecamatan Rampi adalah paling sedikit jumlah desanya, yaitu hanya 6 desa. Kemudian terdapat 7 Kelurahan dan 4 unit pemukiman Transmigrasi. Terdapat pula sekitar 8 (delapan) sungai besar yang mengaliri wilayah Kabupaten Luwu Utara. Sungai yang terpanjang adalah sungai Rongkong dengan panjang 108 km yang melewati 3 Kecamatan, yaitu Kecamatan Sabbang, Kecamatan Baebunta dan Kecamatan Malangke.
Adapun rincian Kabupaten Luwu Utara secara administrasi pemerintahan sebagai berikut :
Gambar 4.1 Peta Luwu Utara
Tabel 4.1 Nama, Jarak Ibukota, banyaknya Desa/Kelurahan, Lingkungan/
Dusun menurut Kecamatan di Kabupaten Luwu Utara
No. Kecamatan Ibukota Kecamatan Banyak Desa
Banyak Kelurahan
Banyak Dusun
Nama Jarak ke
Ibukota Kab. (km)
1. Sabbang Marobo 15 19 1 97
2. Baebunta Salassa 12 20 1 113
3. Malangke Tolada 38 14 0 59
4. Malangke Barat Pao 44 13 0 61
5. Sukamaju Sukamaju 21 26 0 100
6. Bone-Bone Bone-Bone 28 20 1 72
7. Masamba Kasimbong 0 17 4 61
8. Mappedeceng Kapidi 15 15 0 49
9. Rampi Onondaga 88 6 0 18
10. Limbong Limbong 165 7 0 22
11. Seko Padang Balua 198 12 0 52
Jumlah Total 169 7 940
Sumber : BPS Kabupaten Luwu Utara Tahun 2018
Berdasarkan data tersebut dapat diuraikan daftar nama kelurahan dan desa berdasarkan kecamatan yang ada di Kabupaten Luwu Utara yaitu, sebagai berikut:
1. Kecamatan Sabbang
Desa Bakka, Desa Batu Alang, Desa Bone Subur, Desa Buangin, Desa Buntu Terpedo, Desa Dandang, Desa Klotok, Desa Kampung Baru, Desa Malimbu, Desa Mari-Mari, Desa Marobo, Desa Pararra, Desa Pengkendekan,
Desa Pompaniki, Kelurahan Sabbang, Desa Salama, Desa Tandung, Desa Torpedo Jaya, Desa Tete Uri, Desa TulakTallu.
2. Kecamatan Baebunta
Kelurahan Baebunta, Desa Beringin Jaya, Desa Bumi Harapan, Desa Kariango, Desa Lara, Desa Lawe, Desa Lembang-Lembang, Desa Marannu, Desa Mario, Desa Mekar Sari Jaya, Desa Meli, Desa Mukti Jaya, Desa Mukti Tama, Desa Palandan, Desa Polewali, Desa Radda, Desa Salassa, Desa Salulemo, Desa Sassa, Desa Tarobok.
3. Kecamatan Malangke
Desa Benteng, Desa Girikusuma, Desa Ladongi, Desa Malangke, Desa Pattimang, Desa Petta Landung, Desa PincePute, Desa Pute Mata, Desa Salekoe, Desa Takkalala, Desa Tandung, Desa Tingkara, Desa To Lada, Desa Tokke.
4. Kecamatan Malangke Barat
Desa Arusu, Desa Baku-Baku, Desa Cenning, Desa Kalitata, Desa LimbongWara, Desa Pao, Desa Pembuniang, Desa Penganjang, Desa Pole Jiwa, Desa Pombakka, Desa Waelawi, Desa Waetuo, Desa Wara.
5. Kecamatan Sukamaju
Desa Banyuwangi, Desa Kaluku, Desa Katulungan, Desa Lampuawa, Desa Lino, Desa MinangaTallu, Desa Mulyasari, Desa Mulyorejo, Desa Paomacang, Desa Rawamangun, Desa Salulemo, Desa Saptamarga, Desa Sidoraharjo, Desa Subur, Desa Sukadamai, Desa Suka harapan, Desa Sukamaju, Desa Sukamukti, Desa Sumber Baru, Desa Tamboke, Desa Pelangi, Desa Tulung Indah, Desa Tulung Sari, Desa Wonokerto, Desa Wonosari.
6. Kecamatan Bone Bone
Desa Bantimurung, Desa Banyu Urip, Desa Batang Tongka, Kelurahan Bone-Bone, Desa Bungadidi, Desa Bunga Padi, Desa Karondang, Desa Muktisari, Desa Munte, Desa Patila, Desa Patoloan, Desa Pongko, Desa Poreang, Desa Ampang, Desa Sido Binangun, Desa Sidomakmur, Desa Sidomukti, Desa Sukaraya, Desa Sumber dadi, Desa Tamuku.
7. Kecamatan Masamba
Desa Baleno, Kelurahan Kappuna, Kelurahan Bone, Kelurahan Kasimbong, Kelurahan Baliase, Desa Kemiri, Desa Laba, Desa Lantang Tallang, Desa Lapapa, Desa Lero, Desa Masamba, Desa Pandak, Desa Pincara, Desa Pombakka, Desa Pongo, Desa Rompu, Desa Sepakat, Desa Sumillin, Desa Toradda.
8. Kecamatan Mappedeceng
Desa Benteng, Desa Cendana Putih, Desa Cendana Putih Dua, Desa Cendana Putih Satu, Desa Harapan, Desa Hasanah, Desa Kapidi, Desa Mangalle, Desa Mappedeceng, Desa Mekar Jaya Tondok, Desa Sumber Harum, Desa Sumber Wangi Desa TarraTallu, Desa Ujung Mattajang, Desa Uraso.
9. Kecamatan Rampi
Desa Dodolo, Desa Lebani, Desa Onondoa, Desa Rampi, Desa Sulaku, Desa Tedeboe.
10. Kecamatan Limbong
Desa RindingAllo, Desa Kanandede,DesaKomba, Desa Limbong, Desa Marampa, Desa Minanga, Desa Pengkendekan.
11. Kecamatan Seko
Desa Berapa, Desa Embona tanah, Desa Hoyane, Desa Lodang, Desa Malimongan, Desa Marante, Desa Padang Balua, Desa Padang Raya, Desa Taloto, Desa TanamaKaleang, Desa Tapi Yahoo, Desa Tirobali, Desa Wono.
Iklim termasuk iklim tropis, suhu udara minimum 25,300 C dan suhu maksimum 27,90 0C dengan kelembaban udara rata-rata 83 %. Menurut pengamatan (SP) bone-bone secara rata-rata jumlah hari hujan sekitar 9 hari dengan jumlah curah hujan 76. Stasiun pengamatan amasangan mencatat secara rata-rata jumlah hari hujan sekitar 8 hari dengan curah hujan 226. Sedangkan berdasarkan stasiun pengamatan Malangke secara rata-rata jumlah hari hujan sekitar 11 hari dengan jumlah curah hujan 247, dan stasiun pengamatan sabbang mencatat bahwa rata- rata jumlah hari hujan sekitar 14 hari dengan jumlah curah hujan 256.
2. Keadaan Penduduk Kabupaten Luwu Utara
Jumlah Penduduk Kabupaten Luwu Utara tercatat sebanyak 290.365 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 146.312 jiwa dan perempuan sebanyak 144.053 jiwa yang tersebar di 11 Kecamatan, dengan jumlah penduduk terbesar yakni 46.364 jiwa (15,97%) mendiami Kecamatan Bone-Bone dan jumlah penduduk terkecil yakni 2.912 jiwa (1,00%) mendiami Kecamatan Rampi. Rincian Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk menurut kecamatan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2 Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Luwu Utara
No .
Kecamatan Luas Wilayah Penduduk Kepadatan
Penduduk (orang/km2)
Km2 % Jumlah %
1. Sabbang 525,08 7.00 35.327 12,17 67
2. Baebunta 295,25 3.94 43.468 14,97 147
3. Malangke 350,00 4.67 27.105 9,33 77
4. Malangke Barat 93,75 1.25 23.631 8,14 252
5. Sukamaju 255,48 3.41 40.939 14,10 160
6. Bone-Bone 277,33 3.70 46.364 15,97 167
7.
Masamba 1.068,85 14.25 31.988 11,02 30
8. Mappedeceng 275,50 3.67 22.142 7,63 80
9. Rampi 1.565,65 20.87 2.912 1,00 2
10. Limbong 686,50 1.00 3.826 1,32 6
11. Seko 2.109,19 28.11 12.663 4,36 6
Jumlah Total 7.502,58 100,00 290.365 100,00 39 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara Tahun 2018
Kepadatan penduduk di Kabupaten Luwu Utara telah mencapai 39 jiwa/km2.Kecamatan Malangke Barat adalah Kecamatan terpadat dengan tingkat kepadatannya 252 jiwa/km2 dan paling rendah adalah Kecamatan Rampi yaitu 2 jiwa/km2. Kecamatan Seko dan Kecamatan Rampi Merupakan dua Kecamatan
terluas dengan luas masing-masing 2.109,19 Km2 atau 28% dari total luas wilayah Kabupaten Luwu Utara dan 1.565,65 Km2 atau 21% dari total luas Kabupaten Luwu Utara. Kecamatan Seko juga adalah Kecamatan yang letaknya paling jauh dari ibukota Kabupaten Luwu Utara, yakni berjarak 198 Km. Dan yang paling
Tabel 4.1 Peta Kecamatan Malangke Barat
B. Letak Geografis dan Administrasi Desa Pengkajoang
Desa Pengkajoang merupakan salah satu desa dari 13 desa yang ada di Kecamatan Malangke Barat dengan luas wilayah 40 Km2, dengan jarak desa dengan Ibukota Kecamatan adalah 2 km dengan waktu tempuh adalah 10 menit sedangkan jarak desa dengan Ibukota Kabupaten adalah 42 km dengan waktu tempuh adalah 50 menit. Kondisi wilayah Desa Pengkajoang berada di daerah pesisir dengan ketinggian rata-rata diatas 3 meter dari permukaan laut, dengan batas-batas desa sebagai berikut:
Sebelah Selatan : Teluk Bone
Sebelah Utara : Desa Arusu
Sebelah Barat : Desa Waelawi/Pembuniang Sebelah Timur : Desa Pao
Adapun secara administrasi Desa Pengkajoang secara administrasi terdiri dari 4 (empat) dusun yaitu Dusun Labbu, Dusun Tompe, Dusun Panasae dan Dusun Kampung Baru.
C. Data Kependudukan dan Kondisi Sosial Ekonomi
a. Kependudukan
Tabel 7. Jumlah penduduk Desa Pengkajoang berdasarkan masing-masing dusun adalah sebagai berikut:
No. Nama Dusun Jumlah Penduduk Tahun 2019
Jumlah Penduduk Tahun
2020 Ket
KK LK PR JML KK LK PR JML
1. Labbu 170 324 324 648 170 322 323 645
2. Tompe 181 344 325 669 181 344 325 669
3. Panasae 137 289 289 578 137 289 289 578
4. Kampung baru
115 213 220 433 115 215 221 436
Jumlah 603 1.170 1.158 2.328 603 1.170 1.158 2.328 Sumber Data : Arsip Desa Pengkajoang
b. Aktivitas Ekonomi Masyarakat
Kondisi wilayah Desa Pengkajoang berada di daerah pesisir dengan ketinggian rata-rata di atas 3 meter dari permukaan laut dengan luas lahan masing- masing dusun adalah sebagai berikut:
a. Luas lahan perkebunan masing-masing dusun adalah:
1) Dusun Labbu: 55 Hektar 2) Dusun Tompe: 45 Hektar 3) Dusun Panasae: 60 Hektar
4) Dusun Kampung Baru: 50 Hektar
b. Luas lahan persawahan masing-masing dusun adalah:
1) Dusun Labbu: Tidak ada 2) Dusum Tompe: Tidak ada 3) Dusun Panasae: 10 Hektar
4) Dusun Kampung Baru: 10 Hektar
c. Luas lahan persawahan masing-masing dusun adalah:
1) Dusun Labbu: 80 Hektar 2) Dusum Tompe: 70 Hektar 3) Dusun Panasae: 50 Hektar
4) Dusun Kampung Baru: Tidak Ada c. Tingkat Pendidikan di malanke barat
DESA/KELURAHAN
SEKOLAH DASAR/Sederajat
2020
SMP/Sederajat 2020
SMA/Sederajat 2020
NEGERI Public
SWASTA Private
NEGERI Public
SWASTA Private
NEGERI Public
SWASTA Private
(1) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
001 POMBAKKA 2 - - 1
2 WAELAWI 3 - 1 - - -
3 PENGKAJIAN 1 1 - 1 - 1
4 PAO 2 - 1 - - -
5 WAETUWO 1 1 1 1 -
6 ARUSU 2 - 1 - - -
7 PEMBUNIANG 1 - - - - -
8 CENNING 3 - - 1 1 -
9 WARA 2 - 1 1 - -
10 LIMBONG WARA 1 - - - - -
11 KALITATA 1 - 1 - - -
12 POLE JIWA - - - - - -
13 BAKU-BAKU 1 2 1 1 - -
JUMLAH/Total 20 4 6 6 2 1
Sumber : Kabupaten Luwu Utara dalam angka
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
1. Makna Sosial Tradisi Massorong Sesajen
Tradisi yang dalam bahasa latin disebut Tradition, “diteruskan” atau kebiasaan, merupakan suatu tingkah laku atau pembuatan yang dilakukan secara berulang-ulang oleh suatu kelompok masyarakat dan sudah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari masyarakat. Hal ini juga menunjukkan bahwa orang tersebut menyukai perbuatan itu kebiasaanya yang diulang-ulang ini dilakukan secara terus menerus karena dinilai bermanfaat bagi sekelompok orang tersebut melestarikannya. Kata ``Tradisi” diambil dari Bahasa latin “Tradere '' yang bermakna mentransmisikan dari satu tangan ke tangan lain untuk dilestarikan.
Tradisi secara umum dikenal sebagai suatu bentuk kebiasaan yang memiliki rangkaian peristiwa sejak kuno. Setiap tradisi dikembangkan untuk beberapa tujuan, seperti tujuan politis atau tujuan budaya dalam beberapa masa jika kebiasaan sudah diterimah oleh masyarakat dan dilakukan secara berulang, maka segala tindakan yang bertentangan dengan kebiasaan akan dirasakan sebagai perbuatan yang melanggar hukum.
Selain itu terdapat beberapa ciri ciri dari tradisi di antaranya
a. Tradisi mengacuh pada kepercayaan, benda atau istiadat yang dilakukan atau diyakini dimasa lalu di transmikrasikan melalui waktu dengan diajarkan oleh satu generasi ke generasi berikutnya, dan dilakukan atau diyakini di masa kini.
59
b. Awalnya, tradisi diwariskan secara lisan tanpa membutuhkan sistem penulisan alat untuk membantu proses ini termasuk alat puitis seperti rime dan aliterasi. Kisah-kisah yang dilestarikan dengan demikian juga disebut sebagai tradisi atau sebagai bagian dari tradisi lisan.
c. Tradisi sering dianggap kuno, tidak dapat diubah, dan sangat penting, meskipun terkadang tradisi tersebut kurang “alami” dari pada yang diperkirakan. Diasumsikan bahwa setidaknya dua transmisi selama tiga generasi diperlukan agar praktik, keyakinan, atau objek dipandang sebagai tradisional.
d. Beberapa tradisi sengaja diciptakan karena satu dengan alasan sering kali untuk mengerti atau meningkatkan pentingnya Lembaga tertentu.
e. Tradisi juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan hari ini, dan perubahan tersebut dapat diterima sebagian dari tradisi kuno, tradisi berubah perlahan, dengan perubahan dari satu generasi ke generasi berikutnya dianggap signifikan.
Massorong adalah tradisi yang menghanyutkan sesaji ke aliran sungai untuk meminta keselamatan oleh penunggu air. Selain itu, tradisi massorong akan mendatangkan berkah atau tolak bala serta sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas rahmat yang diperoleh. Tradisi massorong juga merupakan penghormatan kepada nenek moyang dan apabila tidak dilaksanakan akan sakit. Sedangkan sesajen adalah sarana komunikasi masyarakat kepada kekuatan tertinggi yang telah memberikan kehidupan dan yang menjadi pusat harapan atas berbagai keinginan positif masyarakat atau sarana komunikasi masyarakat kepada
kekuatan-kekuatan gaib yang menurut pemahaman masyarakat telah melindungi mereka selama ini sesajen dapat berupa berbagai macam benda, namun umumnya berupa makan, disebut kuliner sesaji sebagian sesajen berupa benda-benda khusus yang dipercaya disukai sang kekuatan tertinggi .khususnya yang terjadi di sekitar masyarakat yang masih mengandung adat istiadat yang sangat kental. Sesajen mengandung arti pemberian sesajen -sesajen sebagai tanda penghormatan atau rasa syukur terhadap semua yang terjadi dimasyarakat sesuai bisikan ghaib yang berasal dari para normal atau petuah-petua. Sesajen merupakan warisan budaya hindu dan budha yang bisa dilakukan untuk memuja para dewa, roh tertentu atau penunggu tempat (pohon, batu, persimpangan,) dan lain-lain. Yang mereka yakini dapat mendatangkan keberuntungan dan penolak kesialan. Seperti: upacara menjelang panen yang mereka persembahkan kepada Dewi Sri (dewi padi dan kesuburan) yang mungkin masih dipraktekkan sebagian di daerah pengkajoang.
Proses ini sudah sangat lama, sudah bisa dikatakan dari nenek moyang kita yang mempercayai adanya pemikiran-pemikiran yang religious. Kegiatan ini dilakukan oleh masyarakat guna mencapai sesuatu keinginan atau terkabulnya sesuatu yang bersifat duniawi namun sampai sejau ini masi banyak juga yang pemeluk agama silam mengikuti ajaran tersebut di sebabkan karena sudut pandang yang membedakan antara budaya dengan ajarana agama
Adapun Pendapat Dari Salah Satu Informan yang Selalu pemeluk agama hindu yang masih melakukan tradisi Massorong sesajen selaku masyarakat Pengkajoang Kabupaten Luwu Utara tersebut bernama Kr mengatakan
Massorong sasejen memang sangat berkaitan dengan ajaran agama kami tapi hal tersebut bukan berarti tidak bisa di lakukan agama lain