• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

5. JenisJualBeli Pesanan

1. Menemui orang-orang desa sebelum mereka masuk ke pasar untuk membeli benda-bendanya dengan harga yang semurah-murahnya, sebelum mereka tahu harga pasaran, kemudian ia jual dengan harga yang setinggi-tingginya. Perbuatan ini sering terjadi di pasar-pasar yang berlokasi di daerah perbatasan antara kota dan kampung.

2. Menawar barang yang sedang ditawar oleh orang lain, seperti seseorang berkata, “Tolaklah harga tawarannya itu, nanti aku yang membeli dengan harga yang lebih mahal”. Hal ini dilarang karena akan menyakiti orang lain.

3. Jual beli dengan Najasi, ialah seseorang menambah atau melebihi harga temannya dengan maksud memancing-mancing orang agar orang itu mau membeli barang kawannya.

4. Menjual di atas penjualan orang lain, umpamanya seseorang berkata:

“Kembalikan saja barang itu kepada penjualnya, nanti barangku saja kau beli dengan harga yang lebih murah dari itu.32

Larangan dalam hal ini tidak kembali kepada akad itu sendiri dan juga tidak kepada sesuatu yang menjadi konsekuensi akad, namun kembali kepada hal luar seperti mempersulit, menyakiti, dan ini tidak merusak akad.

5. Jenis Jual Beli Pesanan

Secara bahasa salam dan salaf mempunyai pengertian yang sama baik di tinjau dari fi‟ilnya maupun wazan maknanya. Karena merupakan akad yang memiliki sistem pembayaran yang harus di dahulukan dari penerimaan barang (muslam fyh)33. Sedangkan secara terminologi Salam merupakan transaksi terhadap sesuatu yang dijelaskan sifatya dalam tanggungan dalam suatu tempo dengan harga yang diberikan kontan ditempat transaksi.34

Adapun dalil dari hadist Nabi Saw adalah riwayatIbnu Abbas.ra bahwa ketika Rasulullah Saw datang ke Madinah, saat itu orang-orang menghutangkan uang untukditukar dengan kurma selama dua atau tiga tahun. Kemudianbeliau bersabda :

ملطو هيلع الله ىلص يبىلا مدك :لاك امهنع الله ي ضز ضابع ًبا ًع سمت يف فلطا ًم :لالف نيتيظلاوتىظلا زامثلا يف نىفلظٌ مهو تىًدلما لظيلف .هيلع مفتم (.مىلعم لجا ىلا مىلعم شوو مىلعم ليه يف ف (

َ

“Ibnu Abbas ra. Ia berkata bahwa: Nabi sawtelah datang ke madinah dan mereka (penduduk madinah) memesan buah-buahan selama 1 tahun dan 2 tahun, maka Nabi bersabda: Barang siapa yang

33Tim Laskar Pelangi, Metodelogi Fiqh Muamalah, Cet-2, Kediri: Lirboyo Press, 2003, hal. 86-87

34 Miftahul Khairi,Ensiklopedia Fiqh Muamalah dalampandangan 4 Madzhab, Cet1,Yogyakarta:Maktabah Al-Hanif,2009,hal.137

memesan buah kurma maka hendaklah ia memesannya dalam takaran tertentu. (HR. Muttafaq „alaih.)35

Adapun dalil ijma adalah bahwa Ibnu Mundzirberkata, “Para ulama yang kami ketahui berijma bahwa akadSalām adalah boleh karena masyarakat memerlukannya. “Para pemilik tanaman, buah- buahan, dan barang daganganyang dibutuhkan nafkah untuk keperluan mereka atau untuktanamannya dan sejenisnya hingga tanaman itu matang,sehingga akad Salām ini dibolehkan bagi mereka gunamemenuhi kebutuhan tersebut.

Para fuqaha mengartikan secara umum, salam adalah jual beli barang yang disebutkan sifatnya dalam tanggungan dengan imbalan pembayaran yang dilakukan saat itu juga. Sedang menurut ulama Syafi’iyah, akad salam boleh ditangguhkan hingga waktu tertentu dan juga boleh diserahkan secara tunai.36

Jual beli jenis ini dibolehkan oleh syariat, meskipunbarang yang dijual masih belum terwujud pada saat akad.Dalil yang menunjukkan bahwa jual beli ini syar‟i (sesuaidengan syariat) ialah nash. Imam ash- Shadiq a.s berkata, “Tidak apa-apa jual beli as-Salām” jika engkau terangkansifat-sifat barang yang engkau jual, panjang dan lebarnya, danpada hewan jika engkau jelaskan (sifat) gigi-gigiya.

35Muhammad bin Isma’il Al-Kahlani, Subul As-Salam, juz 3, Mesir: Maktabah Mushthafa Al-Babiy Al-Halabiy, 1960, hal. 49

36Muhammad Harfin Zuhdi, Muqaranah Mazahib Fil Mu‟amalah, Cakranegara Mataram:

Sanabil Perum Bunga Amanah, 2015.hal.100

Ibnu Abbas berkata, “Saya bersaksi bahwa akadsalām yang ditanggung hingga tempo tertentu telahdihalalkan dan dibolehkan oleh Allah sebagaimana dalam firmannya:37

هىُبُت ْها ف ى ًّم ظ ُم ٍل ج أ ى ل إ ًًٍْ د ب ْمُتي ًا د ت ا ذ إ اىُى مآ ًً رَّلا ا هُّي أ اً

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang tidak di tentukan, hendaklah kamu menuliskannya”.38

Dan ketika Allah SWT memerintahkan pencatatan,kemudian memberi keringanan dalam hal persaksian jikatransaksi dilakukan dalam perjalanan dan tidak ditemukanpencatat, maka perintah tersebut bisa mengandung hukumwajib, dan bisa pula hanya sekedar petunjuk.39

Akad Salām merupakan transaksi yang kronologipenamaannya terkait erat dengan subtansi akad, yaknikeharusan serah terima ra‟s al- mal (modal Salām ) terlebihdahulu dimajlis sebelum serah terima barang (Muslam fyh).

Termasuk aturan dalam Salām adalah jika barangyang dijual dengan cara Salām tidak didapatkan saat jatuhtempo, seperti orang yang menjual buah tertentu dengan carasalām , tapi ternyata pohonnya tidak berbuah tahun itu, makaorang yang berhak mendapatkan buat tersebut

37Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi, Edisi Indonesia:Ringkasan Fiqh Sunnah Sayyid Sabiq, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,2013,hlm.781

38 QS Al – Baqarah [2]: 282.

39 Syaikh Ahmad Musthafa al-Farran, Tafsir Imam Syafi‟i Jilid 1 Surah Al-fatihah-Ali Imran,Jakarta:Almahira, 2007, hal.500

harus bersabarhingga barang yang dibelinya ada dan memintanya.

Atauboleh juga memilih untuk membatalkan Salām danmengambil modalnya kembali. Sebab bila suatu akad dihapus,apa yang telah dibayarkan harus dikembalikan ke pemiliknya.Kalau apa yang dibayarkan itu ternyata tidak ada lagi (habisatau musnah), maka ia diberi gantinya.40

Perbedaan Salām dan akad jual beli ada beberapa halmemiliki perbedaan yaitu sebagai berikut:

a. Menurut Hanafiyah, Ra‟s al-mal tidak boleh digantisebelum serah terima dengan penjual (muslam ilyh),serah terima ra‟sul mal merupakan syarat bagi sahnyaakad Salām. Berbeda dengan jual beli, harga bisadiganti jika berupa hutang, dan tidak harus diserahterimakan waktu akad. Untuk muslam fyh tidakboleh ada penggantinya, begitu juga dengan objek akadjual beli yang telah disepakati. Jika muslam melakukanpembatalan atas sebagian kontrak, dengan mengambil sebagian Ra‟s al-maldan muslam fyh, makadiperbolehkan menurut mayoritas ulama. Begitu jugadalam akad jual beli.

b. Penjual (muslam ilyh) tidak diperbolehkan memintamuslam untuk lepas dari ra‟sul mal tanpapersetujuannya, jika muslam setuju, maka akad salambatal. Serah terima ra‟sul mal merupakan syaratsyahnya

40 Shahih al-Fauzan,al-Mulakhkhas al-Fiqhi Juz 2,Jakarta:PustakaIbnu Katsir,2013, hal.

94-95.

akad Salām, berbeda dengan serah terimaharga dalam jual beli.

Sebaliknya, dalam akad Salām,muslam boleh melakukan ibra‟ atas muslam fyh, tidakdalam jual beli, objek akad harus diserahkan.

c. Muslam boleh melakukan hawalah, kafalah dan rahn atas ra‟s al- mal, begitu juga muslam ilyh atas muslamfiih. Dengan catatan, ra’sul mal harus diserahkan muhal ‘alyh (pihak yang menerima pengalihan piutang darimuhil), kafil orang yang menanggung pekerjaan), rahin(orang yang memberikan jaminan) pada saat melakukanakad.41

Pensyariatan Salām sesuai dengan tuntutansyariat dan selaras dengan kaidah-kaidahnya. Didalamnya tidak ada pertentangan dengan qiyas.Sebagaimana boleh menangguhkan penukar dalam jualbeli, boleh pula menangguhkan barang yang dijual dalamSalām , tanpa ada perbedaan di antara keduanya. Dalamsurat Al-Baqaroh dijelaskan bahwa apabila melakukanutang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklahkamu menuliskannya.

Yang dimaksud dengan utang adalah apa yangditangguhkan dari harta-harta yang dijamin dalamtanggungan. Apabila barang yang dijual dideskripsikan,diketahui, dan dijamin dalam tanggungan, dan pembeliyakin bahwa penjual akan menunaikan barang tersebutketika batas waktu yang ditentukan riba, maka barangtersebut adalah utang yang boleh di tangguhkanpembayarannya dan dicakup oleh ayat ini, sebagaimanadikatakan oleh Ibnu Abbas r.a.

41 Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqh Muamalah..., hal.134-135

Ini tidak termasuk ke dalam laranganRasulullah Saw, bagi seorang untuk menjual sesuatuyang tidak ada padanya, sebagaimana sabda beliau yangdiriwayatkan oleh Hakim bin Hisyam, yang berbunyi:

م اىثدح ًعىهام ًب فط ىً ًع سشب يبا ًع ,تهاىعىبا اىثدح ,ددظ

عيل عيبلا ىنم دً ريف لجسلا ىنيتاً ,الله لىطزاً :لاك ,ماصح ًب ميىه ًم هل هعاتب افا يدىع ىبا اوز( .)ندىع عيلام عبتلا ( :لالف ؟قىظلا

)ىوابلالا حيحص يرمرتلا ,هجام ًبا ,داود

َ

“Telah menceritakan kepada kami Musaddad,dari Abu Awanah dari Abi Basyr, dari Yusuf bin MahakHakim bin Hizam, berkata : wahai Rasulullah, adaseseorang lelaki pernah datang kepadaku diamenginginkan aku menjual barang yang tidak adapadaku? Lalu apakah aku harus mencari dari pasar?Rasulullah Saw menjawab,

“Jangan pernah menjualsesuatu yang tidak ada padaku”. (HR. Abu daud, IbnuMajah, Tirmidzi di sahihkan Al-Albani).42

Yang dimaksud dengan larangan ini adalah bahwaseseorang tidak boleh menjual apa yang tidak mampudiserahkannya. Sesuatu yang tidak mampu diserahkannyaadalah sesuatu yang tidak ada padanya dalam pengertian yangsebenarnya sehingga penjualannya adalah penipuan danpertaruhan.

42 Muhammad Nashiruddin Al Albhani, Shahih Sunan Ibnu Majjah, Terj. Ahmad Taufiq Abdurrahman, Jakarta: Pustaka Azzam, 2007, hlm.314

Adapun penjualan sesuatu yang dideskripsikan dandijamin dalam tanggungan, disertai dengan keyakinan akankemampuan untuk menunaikannya pada saatnya, sama sekalitidak termasuk ke dalam masalah ini.43

Diperbolehkannya muamalah semacam ini termasukkemudahan dan toleransi yang diberikan oleh syari’at Islam.Sebab muamalahini memberikan kemudahan bagi masyarakatdalam mewujudkan kemaslahatan mereka.

Adapun rukun dan syarat jual beli salam, sebagai berikut:

a) Mu‟aqidain: Penjual (muslamilaih) dan pembeli (muslam) b) Harga (tsaman)

c) Muslam fih(objek akad) d) Shigat (ijab qobul).44

Adapun syarat salam sama dengan syarat jual beli, karena salam merupakan bagian dari jual beli. Namun ada beberapa syarat tambahan khusus untuk salam sebagai berikut:

a) Untuk barang yang dijadikan sebagai objektransaksi (muslam fyh), syarat yang harusdipenuhi adalah penyebutan jenis, bentuk, kadarbarang dan sifat dengan kalimat yangmenunjukkan keduanya dengan jelas sehinggakedua pelaku akan dapat merujuk kepadanya(yaitu kepada penyebutan jenis dan sifat tersebut)jika terjadi perselisihan. Sebagaimana sabda Nabiyang artinya : Barang

43As-Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah Juz 5, Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2010, hal.98-99

44 Muhammad Harfin Zuhdi, Muqaranah Mazahib Fil Mu‟amalah...,hal. 103

siapa melakukan salaf atassesuatu, maka hendaklah ia melakukannya dalamtakaran yang jelas, timbangan yang jelas, danhingga waktu yang jelas.

(Muttafaq alyh).

Menurut Malikiyah, Syafi‟iyah danHanabilah, wujudnya barang (muslam fyh) hanyadisyaratkan ketika waktu jatuh tempo penerimaan(hulul), dan tidak disyaratkan harus wujud ketikawaktu akad. Sedangkan menurut Abu Hanifah,muslam fyh harus wujud sejak akaddilangsungkan hingga waktu jatuh tempo

(hulul).45

Barang (Muslam fyh) harus berstatushutang dalam tanggungan, sehingga tidak sahapabila bersatus barang yang tertentu secarafisik.

Sebab, bahasa Salām atau Salaf memilikikonsekuensi logis yang diakadi bersifat utangatau tanggungan.46

Sebuah barang (muslam fyh) yang tidakbisa dispesifikasikan melalui kriterianya, tidakboleh di transaksikan melalui akad Salām.

b) Hendaknya harga diserah terimakan di tempatpelaksanaan akad. Di dalam hadist yangmenjelaskan bahwa melakukan Salaf atas sesuatu, maka hendaklah ia melakukannyadalam takaran yang jelas.

Melakukan Salafartinya membayar. Imam syafi’i mengatakan Istilah Salaf tidak akan berlaku hingga barangyang disalafkan dibayar secara tunai sebelumberpisah dengan yang menerima salaf. Sebabbila

45 Tim Laskar Pelangi,Metodologi Fiqh Muamalah..., hal.96-97

46Al-Zuhaili Wahbah, Fiqh Imam Syafi‟ijilid 2,Jakarta:Almahira,2010, hal.30

harganya tidak diterima ditempat transaksi,maka transaksi ini menjadi jual beli utangdengan utang.47

Dalam Fatwa DSN NO:05/DSNMUI/IV/2000 tentang akad Salām telahmemutuskan ketentuan tentang pembayaranharus dilakukan pada saat kontrak disepakati.48

Dan apabila keduanya telah berpisahsebelum pembayaran harga atau mereka telahmengambil kesepakatan akad sebelumpembayaran diterima, akad tersebut batal.Kecuali bila sebagian harga telah dibayar,sedang sebagian yang belum diserahkan berikutbarang pesanan yang menjadi kompensasipembayaran tersebut, hukumnya sah.

Seandainya penerima pesananmenerima pembayaran dimajelis akad, lalumenitipkannya kepada pemesan sebelummeninggalkan tempat itu, akad ini hukumnyaboleh.

Ketika akad Salām dibatalkan karenasuatu faktor, misalnya ketiadaan barangpesanan pada saat tiba masa penyerahan barangsesuai yang dijanjikan, sementara harga pokokmasih tetap utuh, maka pemesan menarikkembali uang yang telah di serahkan. Pihakpenerima pesanan tidak boleh menggantinyadengan barang yang lain.

Akad Salām tidak disyaratkan haruskredit (ditangguhkan), menurut al-madzhab.Sebagimana telah disinggung di depan akadSalām sah dilakukan baik secara tunai maupunditangguhkan

47 Shahih al-Fauzan,Al-Mulakhkhas al-Fiqh Juz 2,Jakarta:Pustaka Ibnu Katsir,2013, hal.94

48 Fatwa DSN-MUI No.05/DSN-MUI/IV/2000 tentang jual beli Salām.

hingga waktu tertentu. Apabilaakad Salām diharuskan secara mutlakmenentukan tunai atau kredit, sementara barangpesanan telah ada, maka akad tersebut haruslahberlangsung secara tunai.49

Jika pembeli memiliki piutang padapenjual, bolehkah dia menjadikan piutangtersebut sebagai harga dalam jual beli as-Salām? Masyhur Fuqaha berpendapat tidak boleh,karena yang demikian itu berarti menjual utangdengan utang. Imam ash-Shadiq as berkatabahwa Rasulullah saw bersabda, “Utang tidakboleh dijual dengan utang”.50 c) Ditentukan temponya secara jelas. Barang yangdiSalām kan (muslam

fyh) pada umumnya adapada waktu penyerahan yang telah ditentukan.51

Hendaklah barang yang dijual dengan caraSalām bukan termasuk benda yang sudahnyata, tetapi hutang yang terjamin.

Penyerahanbarang yang dijual dengan cara Salāmhendaknya dilakukan ditempat terjadinyatransaksi jika memungkinkan. Jika kedua belahpihak telah setuju dengan lokasi penyerahanbarang, barulah Salām boleh dilakukan.Namun jika keduanya masih berselisih tentanglokasinya, maka dikembalikan ke tempattransaksi semula jika memungkinkan,sebagaimana telah dijelaskan diatas.

Pihak pemesan secara khusus berhakmenentukan tempat penyerahan barangpesanan, jika dia membayar ongkos kirimbarang.

49 As-Sayyid Sabiq, Fiqh Imam Syafi‟i ..., hal. 29

50Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Imam Ja‟far Shadiq juz 3&4 ..., hal. 375

51Miftahul Khairi,Ensiklopedi Fiqh Muamalah dalamPandangan 4 Madzhab..., hal.141

Bila tidak memberikan ongkos kirim,maka pemesan tidak berhak menentukan tempatpenyerahannya.52

Atau hendaknya barang yang dijualdengan cara Salām diduga kuat telah tersediasaat jatuh tempo, agar barang tersebut bisa diserahkan pada waktunya. Bila barang yangdiSalām kan tidak ada saat jatuh tempo, makaSalām tersebut tidak sah.53

Sedangkan tempo penyerahan hargajuga harus diketahui untuk menghindarikerugian.Tidak ada batas untuk panjangpendeknya tempo tersebut, selama tidaktergolong kesia-siaan.

Berdasarkan paparan tersebut diatas Syarat salam ini juga berkaitan dengan ra‟s al-mal (harga) dan muslam fih (objek akad). Menurut ulama fuqaha ada enam syarat yang harus dipenuhi agar salam menjadi sah, yaitu sebagai berikut:

Jenis muslam fih harus jelas

Sifatnya diketahui

Ukuran atau kadarnya diketahui

Masanya tertentu diketahui

Mengetahui kadar ra‟s al-mal

Menyebutkan tempat pemesanan/ penyerahan barang.54 b. Ba’i Istishna’

52As-Sayyid Sabiq,Fiqh Imam Syafi‟i 2..., hal. 30

53Shahih Al-Fauzan, al-Mulakhkhas al-Fiqhi Juz 2..., hal.16

54Ahmad Wardi Muslich, Fiqh...,hal. 246

Istiṣna῾ adalah bentuk transaksi yang menyerupaijual beli Salām jika ditinjau dari sisi bahwa obyek (barang) yang dijual belum ada. Barang yang akan dibuatsifatnya mengikat dalam tanggungan pembuatan (penjual)saat terjadi transaksi.

Istiṣna῾secara etimologi adalah mashdar dariIstiṣna῾ asy-syai‟, artinya meminta membuat sesuatu.Yakni meminta kepada seseorang pembuat untukmengerjakan sesuatu.

Secara terminologi adalahtransaksi terhadap barang dagangan dalam tanggunganyang disyaratkan untuk mengerjakannya.

Obyektransaksinya adalah barang yang harus dikerjakan danpekerjaan pembuatan barang itu.55Maksud pembuatan barang disini adalah perbuatan yang dilakukan seseorang dalam membuat barang atau melakukan pekerjaannya.

Dalam istilah fuqaha, Istiṣna῾ didefinisikansebagai akad meminta seseorang untuk membuat sebuahbarang tertentu dalam bentuk tertentu. Dapat diartikansebagai akad yang dilakukan dengan seseorang untukmembuat barang tertentu dalam tanggungan. Maksudnya,akad tersebut merupakan akad membeli sesuatu yangakan dibuat oleh seseorang. Atau bahwa kebutuhanmasyarakat untuk memperoleh sesuatu, seringmemerlukan pihak lain untuk membuatkannya, dan halseperti itu dapat dilakukan melalui jual beli Istiṣna῾, yaitu akad jual beli dalam bentuk pemesananpembuatan barang tertentu dengan kriteria

55Al-Zuhaili Wahbah, Fiqh Islam Wa Adillatuhu, terj. Abdul Hayyie Al- Kattani, (Jakarta: Gema Insani, 2011), hal. 267.

danpersyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli) dan penjual (pembuat).56

Dalam Istiṣna῾bahan baku dan pembuatandari pengrajin.

Sebagian fuqaha berpendapat bahwaobyek akad adalah pekerjaan pembuatan barang saja,karena Istiṣna῾ adalah permintaan pembuatan barangsehingga bentuknya adalah pekerjaan bukan barang.

Akad Istiṣna῾ tercapai dengan terjadinya ijabdan qabul dari pemesan dan pengrajin. Pembeli disebutdengan pemesan, sedangkan penjual disebut pengrajindan barang yang dibuat disebut barang pesanan.Misalnya, jika dua orang sepakat untuk membuat sepatu,wadah, pakaian, perkakas rumah tangga dan sebagainya.

Akad ini menyerupai akad Salām (membelibarang dalam tanggungan dengan harga kontan), karena akad ini merupakan jual beli barang yang tidak ada saatakad. Dalam akad ditetapkan bahwa barang di pesanberada dalam tanggungan pembuat (penjual). Akan tetapi,akad Istiṣna῾memiliki perbedaan dengan akad Salām darisisi ketidakharusan penyerahan harga barang (modal)secara kontan, penjelasan masa pembuatan ataupun waktupenyerahan. Begitu pula tidak disyaratkan bahwa barangyang dipesan merupakan salah satu barang yang dapatdijumpai dipasar.

Mahzab Hanafi menyatakan bahwa akadIstiṣna῾ adalah akad jual beli terhadap barang pesanan,bukan terhadap pekerjaan pembuatan.

56Fatwa DSN NO: 06/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Jual Beli Istiṣna῾

Akad ini bukanjanji atau akad Ijarah atas pekerjaan. Jadi, jika pengrajinmemberikan barang yang tidak dibuat sendiri olehnya,atau barang tersebut ia buat sebelum terjadinya akad tapisesuai dengan bentuk yang diminta, maka akad atasbarang tersebut adalah dibenarkan.

Abu Said al-Barada’i mengatakan bahwa objek akad (ma‟quud alyh) adalah pekerjaan atau prosespembuatan, karena makna Istiṣna῾

adalah memintapembuatan, sehingga merupakan pekerjaan. Pendapat yang kuat dalam ijtihad mazhab Hanafi adalah bahwaobjek akad adalah barang yang dibuat, bukan pekerjaanpembuatannya. Jika pembuat barang mendatangkanbarang yang diminta sesuai dengan bentuk yangdisyaratkan lalu orang yang memesan barang tersebutadalah sah.

Hal itu baik barang atau yang diberikantersebut bukan merupakan hasil kerjaan pengrajin ataupun buatannya tapi dibuat sebelum terjadinya akad.

Namun, jika objek akad Istiṣna῾ ini pekerjaanpembuatan, maka hal itu tidak dibolehkan. Al-Kasani berkata: “jika dalam akad itu disyaratkan adanyapembuatan maka tidak boleh, karena syarat tersebutkerjaan yang terjadi di masa datang dan masa lalu.Pendapat yang benar adalah objek akad adalah barangtapi disyaratkan didalamnya adanya proses pembuatan,karena makna Istiṣna῾adalah meminta pembuatan barang,sehingga akad yang tidak disyaratkan adanya pembuatanmaka tidak dapat disebut sebagai Istiṣna῾.Nama akad inimerupakan bukti atas hal itu. Begitu pula, akad atasbarang dalam

tanggungan dinamakan akad salām, sedangkan akad ini dinamakan akad Istiṣna῾. Secarahukum asal, perbedaan nama menunjukkan perbedaanmakna. Adapun jika pengrajin (pembuat) mendatangkanbarang yang diminta tapi dibuatnya sebelum terjadinyaakad lalu pemesan menerima barang tersebut, maka akadini sah bukan dengan akad awal tapi dengan akad lain,yaitu adanya penyerahan dengan kerelaan masing-masingpihak. Landasan hukumnya, para ulama Hanafiyahberpendapat bahwa jika didasarkan pada qiyas dan kaidahumum, maka akad Istiṣna῾ tidak boleh dilakukan, karenaakad ini mengandung jual beli barang yang tidak ada seperti akad Salām. Jual beli barang yang tidak adaadalah tidak dibolehkan berdasarkan larangan Nabi Sawuntuk tidak menjual sesuatu yang tidak dimiliki olehseseorang. Oleh karena itu, akad ini tidak dapat dikatakansebagai jual beli, karena merupakan jual beli barang yang tidak ada.semua akad ini tidak sah. Pendapat ini diambilpula oleh Zufar, Malik, Syafi’i dan Ahmad. Namundemikian, para ulama tersebut membolehkan akadIstiṣna῾ ini dengan menyamakannya dengan akad Salām.Dalam akad Istiṣna῾ disyaratkan seluruh syarat yang adadalam akad Salām.

Di antara syarat utamanya adalahmenyerahkan seluruh harga barang dalam majelis akad. Ulama Malikiyyah membolehkan penundaan penyerahanharga hingga satu atau dua hari. Mereka juga menyatakanbahwa harus ditentukan waktu penyerahan barangpesanan

sebagaimana dalam akad salām, jika tidak makaakad itu menjadi rusak.

Selain itu, mereka jugamensyaratkan tidak boleh menentukan pembuat barangatau barang yang dibuat. Begitu juga syarat-syarat akadSalām yang lainnya. Dengan demikan, akad Istiṣna῾dianggap tidak sah dan batal jika terjadi tiga hal, yaitutidak ditentukannya waktu penyerahan barang yangdipesan, menentukan pekerja yang membuatnya, danmenentukan barang yang dibuat. Karena kalauditentukan, maka barang tersebut menjadi tertentu dantidak lagi barang dalam tanggungan, padahal salah satusyarat akad salām dan juga akad istiṣna῾

adalah barangyang dipesan harus barang tidak yang berada dalamtanggungan.

Namun, menurut ulama Syafi’iyah, itu adalahsah, baik waktu penyerahan yang ditentukan maupuntidak, yaitu dengan melakukan akad Salam denganpenyerahan secara langsung ditempat akad.Akad secarakontan seperti ini adalah sah menurut mereka.

Para ulama Hanafiyah berpendapat bahwaakad Istiṣna῾boleh berdasarkan dalil Istiṣna῾ yangditunjukkan dengan kebiasaan masyarakat melakukanakad ini sepanjang masa tanpa ada yang mengingkarinya,sehingga menjadi ijma tanpa ada yang menolaknya.Ibnu Mas’ud berkata, “Apa yang dianggap baik olehkaum muslimin maka dia adalah baik menurut Allah swt”.

Dalam hukum Istiṣna῾, yang dimaksud adalahakibat yang ditimbulkan oleh akad Istiṣna῾. Akad Istiṣna῾ memiliki beberapa

hukum, salah satunya adalah dilihatdari akibat utamanya adalah ditetapkannya hakkepemilikan barang yang akan dibuat (dalamtanggungan) bagi pemesan, dan ditetapkannya hakkepemilikan harga yang disepakati bagi pembuatbarang.57

Adapun rukun dan syarat untuk terpenuhinya suatu transaksi jual beli dengan menggunakan akad istishna‟ maka harus memenuhi rukun dan syarat istishna‟ yakni sebagai berikut;

1.

Produsen/ penjual (shani‟)

2.

Konsumen/ pembeli (mustashni‟)

3.

Barang/ jasa/ proyek/ usaha/ objek (mashnu‟)

4.

Harga (tsaman)

5.

Ijab qabul/ serah terima (sighat)58

Dan adapun syarat-syarat yang diajukan ulama untuk diperbolehkan transaksi jual beli istishna‟, yakni sebagai berikut:59 a. Barang (mashnu‟), adanya kejelasan jenis, macam, ukuran dan sifat

barang, karena ia merupakan objek transaksi yang harus diketahui spesifikasinya. Diantaranya sebagai berikut:

 Jenis, minsal mashnu‟, berupa mobil, sepeda, lemari, dan lain- lain.

57 Al-Zuhaili Wahbah, Fiqh Islam Wa Adillatuhu.., hal. 268-270

58 Ascarya, Akad dan Produk Bank Syari‟ah, Cet ke-1, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 97.

59 Ismail Nawawi, Fiqih Muamalah Klasik dan Kontemporer, (Bogor: Galia Indonesia, 2012), hal. 131.

Dokumen terkait