• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNALIS YANG BERETIKA

Dalam dokumen POLITIK, MEDIA MASSA, DAN KEBOHONGAN (Halaman 169-200)

BAB II ESAI POLITIK DAN MEDIA MASSA

ESAI 8: JURNALIS YANG BERETIKA

JURNALIS YANG BERETIKA

Jurnalis yang Beretika

Politik merupakan salah satu hal yang sangat berpotensi untuk memberikan pengaruh kepada media massa dalam membingkai sebuah pemberitaan. Pembingkaian berdasar politik bisa saja terjadi begitu saja di luar kesadaran. Namun, terkadang hal itu terjadi dengan penuh kesadaran, bahkan memang telah menjadi kebijakan dari media massa yang bersangkutan. Media massa sulit untuk bisa steril dari sebuah kepentingan politik, karena orang-orang yang berada di dalamnya juga memiliki hak untuk memiliki sebuah pandangan politik tertentu. Mau tidak mau, suka tidak suka, pandangan tersebut tentunya akan merembes kepada karya jurnalistik yang dibuatnya. Perkara rembesan itu terjadi atas factor kesengajaan atau bukan, hal itu menjadi perkara yang berbeda.

Kondisi tersebut akan mengganggu khalayak sebagai pengkonsumsi media massa yang notabene memiliki pandangan politik yang beragam.

Apalagi, saat kepentingan politik yang dibawa oleh media massa merupakan merua televisi maupun radio, yang sejatinya menggunakan frekuensi milik publik dalam penyiarannya. Hingga saat ini kode etik yang telah disepakati oleh sejumlah organisasi profesi kewartawanan juga tidak mengatur secara jelas tentang keterkaitan politik dan media massa. Namun, yang pasti, kode etik telah menggariskan, bahwa wartawan harus mengedepankan independensi dalam pekerjaannya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata independen dimaknai sebagai sebuah kata sifat yang berarti berdiri sendiri; berjiwa bebas;

merdeka; dan tidak terikat. Dalam konteks pemberitaan, wartawan dalam menulis sebuah berita harus melakukannya tanpa ada keterikatan maupun tekanan dari pihak-pihak tertentu. Namun, dengan menulis sebuah karya jurnalistik yang dibingkai dengan pandangan politik yang dimiliki, hal itu juga tidak secara otomatis menyatakan bahwa wartawan yang bersangkutan tidak independen. Bisa saja, mereka membuatnya tanpa ada permintaan, tekanan, keterikatan maupun kesepakatan-kesepakatan dengan pihak lain.

Persoalan tentang independensi ini akan menjadi sebuah perdebatan yang sangat panjang. Di satu sisi, banyak tuntutan agar media tidak berpihak dalam sebuah persoalan. Padahal, di sisi lain, keberpihakan juga bukan berarti mengilangkan sebuah independensi. Artinya, keberpihakan bukan serta merta menunjukkan bahwa sebuah media telah melanggar etika. Etika berasal dari bahasa Yunani Kuno: “ethikos“, yang berarti

timbul dari kebiasaan”, adalah h sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan

penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.

Profesi adalah kata serapan dari kata dalam bahasa Inggris “Profess”, yang bermakna Janji untuk memenuhi kewajiban melakuakn suatu tugas khusus secara tetap/permanen. Sehingga profesi adalah suatu pekerjaan yang melaksanakan tugasnya memerlukan atau menuntut keahlian (expertise), menggunakan teknik-teknik ilmiah, serta dedikasi yang tinggi. Kieser mengatakan bahwa etika profesi sebagai sikap hidup adalah kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan profesional dari pasien atau klien dengan keterlibatan dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka kewajiban masyarakat sebagai keseluruhan terhadap para anggota masyarakat yang membutuhkannya dengan disertai refleksi yang seksama.106

Dengan demikian, profesi harus dipandang sebagai suatu pelayanan, sehingga karena itu, maka sifat tanpa pamrih menjadi ciri khas dalam mengemban profesi. Yang dimaksud dengan "tanpa pamrih" di sini adalah bahwa pertimbangan yang menentukan dalam pengambilan keputusan adalah kepentingan klien dan kepentingan umum, dan bukan kepentingan sendiri. Pada awalnya, etika profesi merupakan sikap etis sebagai bagian integral dari sikap hidup dalam menjalani kehidupan sebagai pengemban profesi. Hanya pengemban profesi yang bersangkutan sendiri yang dapat atau yang paling mengetahui tentang apakah perilakunya dalam mengemban profesi telah memenuhi tuntutan etika profesinya atau tidak.

Karena tidak memiliki kompetensi teknikal, maka awam tidak dapat menilai hal itu.

Namun, seiring perkembangan modernitas, etika yang semula berupa tata nilai yang tidak tertulis itu mulai dibakukan. Terutama setelah lahirnya organisasi-organisasi yang menaungi profesi. Mereka mulai membuat kesepakatan-kesepakatan baku mengenai etika yang harus dipegang teguh sehingga terwujudkan hal yang dinamakan kode etik. Pada dasarnya, kode etik itu dibuat untuk dua tujuan. Pertama, kode etik dibuat untuk melindungi masyarakat dari penyalahgunaan profesi. Kedua, kode etik dibuat untuk menjaga marwah dan martabat profesi, sehingga profesi yang dilakukan tetap memiliki kehormatan di mata masyarakat.

Dietrich Rueschemeyer mendefinisikan profesi sebagai pekerjaan pelayanan yang menerapkan seperangkat pengetahuan atau ilmu secara sistematis pada masalah-masalah yang sangat relevan bagi nilai-nilai utama dari masyarakat. 107

106 B. Kieser, Etika Profesi, Majalah BASIS, No. XXXV/5, 1986.

107 Vilhelm Aubert. 1973. Sociology of Law. London. Penguin Publishing. Hal. 267.

Kompetensi berkeilmuan berkualitas tinggi yang dimiliki para pengemban profesi itu menciptakan masalah khusus tentang pengawasan masyarakat terhadap mereka: awam tidak mampu menilai karya profesional, dan dalam banyak hal bahkan mereka tidak dapat menetapkan sendiri sasaran konkret bagi karya profesional yang diperlukannya. Ini berarti bahwa pengawasan formal oleh birokrasi pemerintahan dan pengawasan informal oleh konsumen terhadap karya profesional, praktis tidak berarti banyak. Profesi adalah kegiatan teknis yang berfungsi dalam kehidupan sosial, dijalankan oleh pelaku-pelaku khusus. Dengan kata lain, profesi adalah kegiatan yang hanya boleh dijalankan oleh pelaku tertentu yang diakui secara kolektif oleh sesama pelaku profesi (informal) ataupun legal oleh pemegang otoritas (formal). Perilaku pelaku profesi ditentukan oleh interaksi institusi yang didukungnya dengan institusi lainnya. Sifat interaksi tersebut dapat berupa determinan atau dominan-submisif, atau egaliter. Dalam masyarakat dengan sistem interaksi yang bersifat egaliter, hubungan antar institusi bersifat struktural fungsional.

Setiap pola kegiatan dalam institusi merupakan tindakan yang bertolak dari harapan/tuntutan (expectation) dari institusi lainnya. Interaksi yang berlangsung merupakan berjalannya peran masing-masing pelaku dalam institusinya. Ukuran perilaku berdasarkan kesesuaian tindakan dengan peran yang dijalankannya dalam institusi, agar institusinya dapat fungsional dalam sistem sosial. Adanya sebuah keahlian atau pengetahuan khusus menjadi pembeda antara pekerja biasa dengan pengemban profesi.

Bahkan, pengemban profesi juga harus melalui sebuah pendidikan khusus untuk bisa menjalankan fungsinya. Contoh profesi yang paling mudah dijumpai adalah dokter, apoteker, guru hingga pengacara.

Wartawan sendiri memiliki karakter yang unik jika dibandingkan dengan profesi lainnya. Memang, membuat sebuah karya jurnalistik membutuhkan sebuah keahlian khusus. Tapi, bukankan keahlian khusus ini juga dibutuhkan pula untuk pekerjaan lainnya, di luar profesi, seperti perajin, programer komputer, tukang cukur hingga pengamen yang membutuhkan keahlian bermusik.

Menjadi seorang wartawan tidaklah membutuhkan pendidikan khusus. Mereka bisa berasal dari disiplin ilmu apa saja. Banyak wartawan yang berasal dari Sarjana Komunikasi, Sarjana Hukum, Sarjana Sastra hingga Sarjana Teknik. Bahkan, di daerah, masih ada pula wartawan yang hanya memiliki ijazah Sekolah Menengah Atas. Mereka belajar untuk membuat karya jurnalistik melalui learning by doing. Mentor-mentornya adalah redaktur atau kawan seprofesi yang telah senior dan berpengalaman. Ada pula yang pada akhirnya mengikuti berbagai pelatihan yang banyak digelar oleh organisasi profesi maupun lembaga di luar pers itu sendiri.

Media-media yang cukup besar, seperti Kompas, misalnya, secara berkala membuat pelatihan kepada para jurnalisnya. Namun, jauh lebih banyak media yang membiarkan wartawannya mencari ilmu di lapangan.

Hasil karya jurnalistiknya tentu tidak bisa dibandingkan. Namun, semua telah bersepakat bahwa wartawan merupakan bagian dari sebuah profesi.

Di Indonesia, mereka juga telah memiliki organisasi profesi, meski pada kenyataannya wartawan tidak lagi diwajibkan untuk menjadi anggota salah satu organisasi kewartawanan. Itu artinya, setiap wartawan harus tunduk dan patuh untuk mentaati kode etik jurnalistik. Sebab, kode etik yang sudah dibuat secara tertulis itu telah disepakati bersama oleh beberapa organisasi kewartawanan bersama Dewan Pers. Kode etik itu bersifat mengikat semua wartawan yang bekerja di Indonesia.

Etika merupakan hal yang sangat penting untuk mewujudkan pers sebagai sebuah media komunikasi masa yang sehat dan bermartabat.

Terdapat beberapa poin penting terkait dengan komunikasi massa, yaitu:108 1. Tanggung jawab

Komunikasi massa haruslah dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Artinya, media memiliki kewajiban untuk selalu berhati-hati dalam menyampaikan informasi. Hal ini mengingat begitu kuatnya pengaruh media massa terhadap pengetahuan masyarakat.

Perlu diingat, tanggung jawab media massa tidak hanya berhenti pada apa yang ditulisnya, namun juga sampai pada setiap dampak dari informasi yang disebarkan. Tanggung jawab harus ditanggung di hadapan Tuhan hingga di depan hukum.

2. Kebebasan

Kebebasan pers merupakan hal yang diidam-idamkan oleh masyarakat serta insan pers. Kebebasan pers merupakan salah satu indicator berkembangnya demokratisasi di dalam sebuah negara.

Sebuah negara demokratis tidak akan melakukan control yang ketat terhadap tulisan media, apalagi penyensoran hingga pemberedelan. Di Indonesia, kebebasan pers menjadi salah satu berkah dari reformasi.

Poin pertama, tanggung jawab, menjadi sebuah pembatas dari kebebasan yang dimiliki oleh pers. Mereka bebas untuk menulis apa yang diinginkan, namun harus berani mempertanggungjawabkan semua karya jurnalistiknya.

Sebenarnya, ancaman terhadap kebebasan pers tidak selalu dating dari negara. Ancaman ini juga bisa hadir justru kelompok masyarakat.

108 Nurudin, 2007, Pengantar Komunikasi Massa, Rajawali Press, Jakarta. Hal 251.

Dalam banyak kasus sering dijumpai adanya sekelompok orang atau individu yang melakukan intimidasi terhadap pers. Namun, masyarakat juga tidak memiliki pandangan yang seragam terhadap kebebasan pers.

Ada yang menganggapnya sebagai hal yang positif, ada pula yang memaknainya sebagai suatu hal yang negative.

Positifnya, kehidupan pers yang bebas dari tekanan akan membuat media dapat berfungsi sebagai watchdog. Namun, banyak juga yang merasa bahwa kebebasan pers telah menjelma menjadi kebablasan pers lantaran banyaknya media yang terindikasi melakukan pelanggaran etika, bersikap partisan.

3. Etik

Etika pada dasarnya merupakan cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Moralitas para pembuat berita akan menentukan nilai dari berita yang dibuatnya.

Etika merupakan hal yang sangat penting dan harus dipegang teguh oleh para jurnalis. Boleh dibilang, pelanggaran terhadap etika merupakan sebuah pintu masuk untuk berhadapan dengan hukum.

Etika berusaha memahami ukuran/kriteria perilaku. Ukuran perilaku selamanya berkaitan dengan 2 aspek, yaitu pertama, aturan yang ditentukan oleh sistem sosial; dan kedua, pilihan nilai yang dianut secara pribadi.

4. Ketepatan dan Obyektivitas

Akursai, akurasi dan akurasi. Kata itu harus dipegang kuat oleh seorang jurnalis agar tidak menyampaikan berita yang keliru kepada khalayak. Informasi haruslah berdasarkan pada fakta, bukan opini atau dugaan dari seorang wartawan.

Adapun objektivitas merupakan bukti bahwa media massa bekerja untuk melayani publik. Pembuatan berita harus melalui sebuah upaya yang jernih dan seimbang sesuai konsep cover both side.

5. Adil kepada semua orang

Media massa sudah semestinya bertindak adil, tidak memberikan ruang yang lebih besar terhadap kepentingan seseorang atau sebuah kelompok. Mereka juga harus melawan terhadap kemungkinan adanya tekanan-tekanan kepentingan.

Media tidak seharusnya menjadi kepanjangan tangan dari kelompok-kelompok tertentu. Apalagi, melakukan penghakiman terhadap seseorang atau yang biasa disebut sebagai trial by press.

Sistem sosial merupakan satuan kehidupan masyarakat dimana di dalamnya terdapat interaksi bagian-bagian yang memiliki fungsi masing- masing. Bagian-bagian yang berinteraksi ini sebagai suatu institusi sosial ditandai oleh adanya tindakan-tindakan yang memiliki pola tertentu.

Berbagai institusi sosial dalam sistem sosial didukung oleh profesi tertentu.

Yang menarik, wartawan dalam pekerjaannya menjalankan dua fungsi sekaligus. Di satu sisi, dia menjalankan pekerjaannya atau profesinya yang tentu saja terikat pada kode etik. Di satu sisi, mereka juga merupakan seorang karyawan dari sebuah perusahaan sehingga terikat dengan peraturan dari perusahaan tempatnya bekerja.

Bukan menjadi masalah jika perusahaan tempatnya bekerja merupakan sebuah media yang memegang teguh kode etik. Namun, sebuah beban berat saat mereka bekerja di sebuah media yang menganggap kode etik merupakan penghalang untuk mencari keuntungan. Padahal, perusahaan tetaplah perusahaan, yang memiliki orientasi untuk mencari keuntungan. Ada pula perusahaan media yang menerapkan etik dengan sangat disiplin. Mereka tidak segan-segan untuk memberikan sanksi kepada wartawannya yang terbukti melanggar kode etik, mulai dari sanksi peringatan hingga pemecatan. Namun, tidak sedikit media yang abai, tidak pernah mempersoalkan wartawannya yang melanggar etik. Bahkan, ada pula yang memang memerintahkan wartawannya melanggar etik demi memberikan keuntungan bagi perusahaan.

Padahal pada dasarnya kode etik jurnalistik yang berlaku di Indonesia tidaklah banyak. Hanya ada 11 Pasal, namun memang pelaksanaannya cukup berat. Secara rinci, kode etik jurnalistik yang disepakati di Indonesia adalah:

1. Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

Penjelasan dari pasal ini adalah:

a. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.

b. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi.

c. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara.

d. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

2. Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.

Penafsiran:

a. menunjukkan identitas diri kepada narasumber;

b. menghormati hak privasi;

c. tidak menyuap;

d. menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya;

e. rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi dengan keterangan tentang sumber dan ditampilkan secara berimbang;

f. menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara;

g. tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri;

h. penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik.

3. Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Penafsiran:

a. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu.

b. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional.

c. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal ini berbeda dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa interpretasi wartawan atas fakta.

d. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.

4. Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.

Penafsirannya:

a. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.

b. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja dengan niat buruk.

c. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.

d. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan foto, gambar, suara, grafis atau tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi.

e. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, wartawan mencantumkan waktu pengambilan gambar dan suara.

5. Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.

Penafsirannya:

a. Identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak.

b. Anak adalah seorang yang berusia kurang dari 16 tahun dan belum menikah.

6. Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.

Penafsirannya:

a. Menyalahgunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum.

b. Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.

7. Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai dengan kesepakatan.

Penafsirannya:

a. Hak tolak adalak hak untuk tidak mengungkapkan identitas dan keberadaan narasumber demi keamanan narasumber dan keluarganya.

b. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan permintaan narasumber.

c. Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan narasumbernya.

d. Off the record adalah segala informasi atau data dari narasumber yang tidak boleh disiarkan atau diberitakan.

8. Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

Penafsirannya:

a. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui secara jelas.

b. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan.

9. Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.

Penafsirannya:

a. Menghormati hak narasumber adalah sikap menahan diri dan berhati-hati.

b. Kehidupan pribadi adalah segala segi kehidupan seseorang dan keluarganya selain yang terkait dengan kepentingan publik.

10. Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.

Penafsirannya:

a. Segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik karena ada maupun tidak ada teguran dari pihak luar.

b. Permintaan maaf disampaikan apabila kesalahan terkait dengan substansi pokok.

11. Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.

Penafsirannya:

a. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.

b. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.

c. Proporsional berarti setara dengan bagian berita yang perlu diperbaiki.

Kode Etik Jurnalistik tersebut ditandatangani oleh 29 organisasi pers di Jakarta, 14 Maret 2006. Dewan Pers menetapkannya melalui Surat Keputusan Nomor 03/SK-DP/III/2006 tentang Kode Etik Jurnalistik yang kemudian disahkan sebagai Peraturan Dewan Pers Nomor 6/Peraturan- DP/V/2008. Sebelas pasal dalam kode etik jurnalistik itu harus menjadi pedoman dalam perilaku seorang wartawan dalam menjalankan tugasnya.

Bahkan, selain kode etik, wartawan juga wajib memperhatikan masalah- masalah estetika, demi menjaga marwah profesinya sebagai seorang intelektualitas.

Melakukan peliputan dengan menggunakan celana pendek serta sandal jepit memang tidak mungkin diatur dalam kode etik jurnalistik.

Namun, hal-hal semacam itu harus menjadi perhatian bagi jurnalis, agar masyarakat serta narasumber bisa memberikan penghormatan yang selayaknya untuk profesi tersebut. Dewan Pers, organisasi profesi maupun perusahaan media tentunya tidak bisa mengawasi setiap waktu perilaku wartawannya yang berada di lapangan, terutama terkait perilaku dan etiknya. Biasanya, permasalah soal etik baru diketahui saat terjadi masalah dan ada pengaduan dari masyarakat.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, dua orang wartawan senior yang banyak memberikan kontribusi bagi dunia pers dan jurnalisme, dalam bukunya yang sangat terkenal, The Element of Journalism menuliskan mengenai sembilan elemen jurnalisme untuk mewujudkan pers yang sehat sehingga memberikan daya dukung bagi jalannya demokrasi. Sembilan elemen tersebut adalah 109:

1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran

Elemen pertama ini memang menjadi bagian paling sulit untuk diterapkan oleh seorang jurnalis. Kebenaran selalu bersifat subyektif, benar bagi sebuah kelompok bisa jadi merupakan kesalahan bagi kelompok lainnya. Sebuah kebenaran sangat tergantung pada latar belakang dari individu atau kelompok yang melihatnya. Kebenaran yang dimaksud oleh dua wartawan senior tersebut adalah kebenaran fungsional, di mana wartawan dalam pekerjaannya harus melakukan berdasar prosedur yang benar. Wartawan harus memiliki sebuah standar baku, sehingga karya jurnalistiknya diproses melalui cara yang benar dan fakta yang memang ditemukan di lapangan. Kebenaran yang dimaksud oleh dua wartawan senior tersebut adalah kebenaran fungsional, di mana wartawan dalam pekerjaannya harus melakukan berdasar prosedur yang benar. Wartawan harus memiliki sebuah standar baku, sehingga karya jurnalistiknya diproses melalui cara yang benar dan fakta yang memang ditemukan di lapangan.

109 Kovach, Bill dan Tom Rosenstiel. 2001. Sembilan Elemen Jurnalisme (terj.). Jakarta. Pantau

Wartawan bisa saja salah dalam menulis berita ataupun dalam memahami data, informasi atau fakta yang ditemukan. Mereka harus membuka diri terhadap fakta-fakta baru yang memberikan informasi yang lebih benar dan lebih akurat. Media juga tidak perlu merasa malu atau gengsi untuk memberikan ralat terhadap beritanya. Media juga tidak perlu merasa malu atau gengsi untuk memberikan ralat terhadap beritanya.

Kebenaran juga bisa sangat bergantung pada perkembangan ilmu pengetahuan, tata nilai hingga hukum. Dahulu kala, Planet Pluto diyakini sebagai sebuah planet. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan telah berhasil membuat definisi baru tentang planet yang membuat Pluto terlempar dari pengertian planet. Belakangan, para ilmuwan kembali mengusulkan agar Pluto kembali mendapatkan statusnya sebagai planet.

2. Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada masyarakat

Dalam menjalani pekerjaannya, seorang jurnalis kerap mendapat keistimewaan dari masyarakat. Jurnalis memiliki keleluasaan untuk mengakses tempat-tempat atau kegiatan yang tidak biasa atau bahkan tidak bisa diakses oleh warga biasa. Hal itu semata-mata karena jurnalis merupakan wakil dari publik, sehingga mendapatkan akses yang luas agar bisa memberikan informasi keada publik.

Previllege atau keitimewaan itu banyak diterima oleh jurnalis lantaran mereka bekerja untuk kepentingan publik. Itu sebabnya, loyalitas jurnalis harus ditujukan pula kepada masyarakat.

Meskipun, pada dasarnya seorang jurnalis merupakan karyawan dari sebuah perusahaan. Mereka bekerja di sebuah perusahaan di bidang pers yang tentunya juga berorientasi terhadap keuntungan. Ada kalanya terdapat benturan kepentingan antara kepentingan perusahaan dengan kepentingan umum.

Saat kondisi ini terjadi, seorang jurnalis harus mampu memijakkan kakinya ke posisi yang tepat, yaitu berada di pihak kepentingan masyarakat. Meskipun mereka terancam kemungkinan terburuk berupa kehilangan pekerjaan. Memang pilihan itu sangatlah berat, namun harus dipegang kuat oleh para jurnalis yang mengedepankan etika dan moral.

3. Intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi

Dalam elemen ketiga ini, Kovach dan Tom Rosenstiel menekankan pentingnya disiplin verifikasi bagi seorang jurnalis. Sebagai orang yang memiliki jaringan yang luas, jurnalis biasa mendapatkan pasokan informasi yang sangat banyak dari sumber-sumbernya. Namun, tidak semua informasi yang diperoleh berasal dari sebuah fakta.

Jurnalis harus menyaring segala informasi yang didapatkan dan mampu membedakan antara fakta, isu, desas desus hingga gosip.

Dalam dokumen POLITIK, MEDIA MASSA, DAN KEBOHONGAN (Halaman 169-200)

Dokumen terkait