BAB VI. PROSPEK PEREKONOMIAN DAN ARAH KEBIJAKAN
1. Kajian Bisnis Microbanking Syariah dalam Rangka Peningkatan Outreach Perbankan Syariah
1. Kajian Bisnis Microbanking Syariah dalam Rangka
microbanking berupa layanan keuangan dengan skala kecil, seperti tabungan, kredit (pembiayaan), transfer, asuransi mikro dan pelayanan remittance. Nilai satuan transaksi biasanya kecil ("mikro"), biasanya lebih rendah dari rata-rata PDB per kapita.
Potensi pasar mikro merupakan peluang pasar menarik bagi banyak provider (penyedia kebutuhan modal mikro). Pemain (provider) yang terlibat dalam pembiayaan mikro cukup banyak diantaranya Bank Umum/Syariah, BPR/S, BMT/KJKS, KSP, Pegadaian dan lain-lain, yang menyebabkan persaingan yang ketat (pasar persaingan sempurna) dalam memperebutkan ceruk pasar pembiayaan mikro. Namun pasar yang belum tergarap di sektor mikro ini sebenarnya masih sangat luas. Hal tersebut dikarenakan persaingan ketat baru terpusat di sektor perdagangan.
Peluang untuk menggarap sektor lain masih terbuka luas.
Berdasarkan data Kementrian Koperasi dan UMKM, setidaknya dibutuhkan Rp383,6 triliun untuk mendukung permodalan mikro dari berbagai pihak. Sampai dengan Desember 2013, jumlah nasabah mikro yang sudah terlayani oleh bank baru sebanyak 10,139 juta rekening.
Dengan mengasumsikan jumlah rekening yang menunjukkan jumlah unit usaha mikro, maka hanya sekitar ±18% dari 56,6 juta unit usaha mikro yang baru dilayani oleh lembaga bank (Statitistik Perbankan posisi Desember 2013).
Jika dibandingkan dengan banyak penyedia keuangan mikro yang ada, bank komersial memiliki ke- unggulan kompetitif yang potensial di sejumlah daerah, seperti brand image yang sudah dikenal konsumen, infrastruktur dan sistem yang lengkap, serta kemudahan akses terhadap sumber modal. Di beberapa negara, bank komersial melalui regulasi dipaksa oleh pemerintah untuk menyediakan layanan keuangan kepada masyarakat berpendapatan rendah yang menjadi target microfinance/
microbanking. Namun upaya pemaksaan pemerintah ini umumnya bukan program yang berkelanjutan. Banyak kredit program kepada usaha mikro mengalami kegagalan di tengah jalan. Di lain pihak, dari pengalaman beberapa negara termasuk Indonesia terbukti bahwa bank komersial yang mempunyai komitmen penuh untuk melayani segmen mikro dapat memperoleh sustainable profit dan memiliki
potensi pertumbuhan seperti Grameen Bank di Bangladesh, Accacion di Amerika Latin dan Bank BRI di Indonesia.
Namun keberhasilan beberapa bank komersial tersebut tidak serta merta mendorong bank, khususnya bank syariah mau melakukan “downscaling” dalam memberikan pelayanan jasa keuangan kepada kelompok mayoritas yang menempati “The Bottom of Pyramid” dalam struktur perekonomian. Fokus bisnis utama sebagian besar bank syariah saat ini adalah segmen middle class (kelas menengah), retail banking, consumer banking dan corporate. Selain itu adanya gap antara demand side dan supply side yang terutama disebabkan oleh asymetric information dan persyaratan prudential perbankan merupakan faktor penyebab terjadinya financing constraints bagi masyarakat kecil (mikro) untuk mengakses keuangan formal. Hal tersebut menyebabkan mikro sangat bergantung pada sumber-sumber keuangan non formal (non bank) yang menjalankan praktik layanan keuangan seperti perorangan yang menjalankan usaha simpan pinjam (rentenir) dan bentuk-bentuk usaha simpan pinjam yang dilakukan oleh lembaga non keuangan.
Tantangan yang dihadapi perbankan untuk menyediakan jasa microbanking di antaranya: (i) Karakter nasabah mikro yang sering dikonotasikan lemah, skala kecil, penampilan sangat informal, administrasi acak- acakan dan atribut lainnya sangat jauh di bawah standar perbankan; (ii) Skill yang dimiliki SDM perbankan masih terbatas karena kendala lokasi nasabah yang jauh dan seringkali SDM yang sudah dilatih dan mempunyai kinerja bagus pindah atau direkrut oleh bank lain; (iii) Sebagian besar nasabah umum belum mempunyai badan hukum formal; (iv) Kasus moral hazard pada usaha mikro; (v) Bank masih meminta jaminan aset sebagai jaminan utama, termasuk untuk pembiayaan KUR yang sudah dijamin oleh pemerintah dan; (vi) Aspek legalitas, untuk nilai kredit yang sangat kecil perjanjian kredit dilakukan di bawah tangan, sehingga bank tidak dapat melakukan pengikatan agunan secara hukum.
Hasil studi literatur, FGD, indepth interview dan survey lapangan membuktikan bahwa bisnis microbanking
dapat menjadi usaha yang mempunyai value added, baik untuk nasabah maupun untuk penyedia jasa microbanking.
Key success factors dalam bisnis microbanking terutama meliputi (1) trusted institution, yang ditandai visi dan komitmen yang sangat kuat dari penyelenggara micro- banking untuk tidak sekedar mengejar bisnis (profit) tetapi juga berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat kecil seperti yang dilakukan BTPN Syariah, Grameen Bank, BMT Sidogiri, LKMA Panampuang; (2) trusted SDM, melalui penggunaan SDM lokal yang mengetahui wilayah dan karakter nasabah lokal, berkarakter baik, berintegritas, mempunyai daya tahan yang kuat (endurance) dan skill untuk membangun dan membina hubungan yang baik dengan nasabah; (3) skema produk yang sederhana, mudah dipahami, fleksibel, cepat pelayanannya serta jaminan yang mudah dipenuhi oleh usaha mikro; (4) Menggunakan atribut/infrastruktur keagamaan/sosial;
(5) Pengawasan operasional pembiayaan yang intensif dan pengawasan internal yang kuat untuk membangun manajemen risiko yang baik dan pemantauan/analisa kualitas aset secara berkesinambungan; (6) Partisipasi aktif komunitas/sosial masyarakat (local wisdom) dan pemerintah sebagai lembaga penjamin (umbrella body).
Hingga saat ini belum ada pendekatan tunggal (model bisnis) untuk memasuki pasar microbanking.
Banyak cara yang bisa dilakukan oleh bank syariah untuk memasuki pasar microbanking, bergantung dari bagaimana bank syariah melakukan kontak dengan nasabahnya.
Pendekatan dapat dilakukan secara langsung (direct) dan tidak langsung (indirect) antara lain dengan membentuk unit/divisi khusus microbanking dalam struktur organisasi bank, mempersiapkan infrastruktur layanan keuangan tanpa kantor (branchless banking) dan/atau bekerja sama dengan penyedia jasa microbanking lainnya seperti LKMS, BMT dan KSP. Namun demikian, penelitian ini merumuskan common strategic issues yang harus diperhatikan agar penetrasi bank syariah ke pasar microbanking berhasil, yang dikelompokkan menjadi: (1) Internal bank syariah;
(2) Internal LKMS yang melakukan linkage dengan bank syariah; (3) Pendukung/Opportunities; dan (4) External Challenges;
Isu-isu strategis terkait internal bank syariah meliputi (1) SDM microbanking syariah, yang dituntut memiliki profesionalisme dalam dua aspek sekaligus yaitu aspek aktivitas microbanking dan juga aspek syariah; (2) Umbrella Body, dalam bentuk lembaga penjamin pembiayaan penting untuk mendukung perluasan layanan pembiayaan mikro perbankan syariah; (3) Financial Sustainability atau kemampuan perbankan syariah memberikan pelayanan keuangan mikro secara berkelanjutan dengan tidak bergantung kepada sumber dana-dana mahal dan donor;
dan (4) Welfare Impact Orientation, yang mensyaratkan perbankan syariah memiliki orientasi pemberdayaan dan perluasan kesejahteraan masyarakat di samping orientasi terhadap profit.
Sementara isu-isu strategis yang terkait dengan internal LKMS yang melakukan linkage dengan bank syariah diantaranya adalah: (1) SDM DPS, peran dewan syariah (shariah board) ini menjadi sangat sentral dalam pengembangan lembaga keuangan syariah karena sangat menentukan kemajuan lembaga keuangan syariah; (2) Stratifikasi LKMS, yang dilakukan secara professional dan independen misalnya oleh lembaga rating eksternal guna membantu perbankan syariah menetapkan kualifikasi LKMS yang dapat diajak berkerja sama disesuaikan risk appetite bank; (3) Garantor (social capital), yang keberadaannya diharapkan efektif mengurangi risiko kegagalan usaha sehingga perbankan syariah terdorong untuk memperluas jangkauan pembiayaan mikronya.
Sedangkan isu-isu strategis yang sifatnya pendukung/opportunities bagi pengembangan aktivitas microbanking diantaranya adalah: (1) Financial Inclusion, berupa program regulator dan pemerintah untuk mem- berikan kesempatan kepada setiap penduduk untuk dapat mengakses lembaga keuangan formal; (2) Affirmative policy, berupa kebijakan dan enabling environment yang kondusif bagi perkembangan bank syariah; (3) Lembaga non bank yang mendukung usaha mikro menjadi micro- bankable (MBA) yang dilakukan oleh berbagai community development institutions dalam bentuk pembinaan dan pendampingan usaha dan pemberdayaan masyarakat;
(4) Lembaga-lembaga non bank pendukung LKMS,
lembaga-lembaga non-bank yang menjadi penguat LKMS contohnya seperti pondok pesantren, posdaya, BAZ, LAZ, Gapoktan, Dewan Masjid Indonesia; (5) Infrastruktur bersama, yang keberadaannya diharapkan menciptakan positive sum game sebagai mengantisipasi gesekan atau persaingan yang oleh sebagian lembaga keuangan di anggap kurang fair seiring ekspansi aktivitas microbanking oleh perbankan syariah.
Adapun external challenges yang dapat berdampak signifikan pada kesuksesan pengembangan aktivitas microbanking adalah: (1) Nasabah yang rasional, sikap nasabah yang lebih rasional yang menuntut perbankan syariah memberikan fasilitas yang lebih baik dari pesaing atau meningkatkan kualitas layanan; (2) Produk substitusi dari penyedia jasa keuangan lainnya terutama bank
konvensional yang memiliki keunggulan komparatif seperti luasnya jaringan kantor, yang dapat dihindari misalnya dengan mengutamakan linkage dengan LKMS lokal, (3) Disharmoni regulasi, diantaranya terkait pengawasan LKMS dan koperasi syariah yang perlu dikoordinasikan dan dirumuskan kembali antar pemangku kepentingan.
Penelitian ini juga merumuskan model penguatan permodalan bagi usaha mikro melalui mekanisme sinergi antar sumber-sumber pembiayaan yang berasal dari dana masyarakat pada perbankan, dengan dana pemerintah daerah, kementerian, dan atau NGO/lembaga pendukung, menggunakan dua pendekatan yaitu Direct Expansion Pattern (DEP) dan Linkage Model (Indirect). Dalam kedua pendekatan tersebut, peran pemerintah dan lembaga pendukung LKMS serta partisipasi aktif komunitas sosial
Gambar
Model Pengembangan Micro Banking Syariah - (DEP dan Linkage Model)
Model Pengemban Mocrobanking Syariah (DEP and Linkage Model)
Lembaga Donor
Dana Pemerintah
Kementrian dan Lembaga
Dana Masyarakat/DPK
Bank
Syariah LKMS
MBA (Microbankingable) Linkage Model 1. Channeling 2. Executing 3. Joint Financing
Menumbuhkan dan membina
Islamic Social Finance (BAZNAS dan LAZ) Lembaga
Pemeringkat Independen Lembaga
Penjamin Pembiayaan
Garantor / Social Collateral Direct
Expansion
Membangun Komunitas Kelompok
Pemberdayaan 1 Kelompok
Pemberdayaan 2 Kelompok
Pemberdayaan 3 Zakatable Community Empowerment, Capacity Building, Financial Literacy, ZIS and Saving Culture, Productive Activity
Edukasi Community Empowerment
masyarakat (local wisdom) dalam community development sangat diperlukan sebagai insentif bagi perbankan syariah dalam memperluas outreach dan meningkatkan proporsi pembiayaan usaha mikro. Namun demikian, kompetensi yang perlu dikembangkan bank syariah untuk kedua pendekatan tersebut sedikit berbeda. Pada model DEP, bank syariah dituntut mempunyai produk/layanan yang unik (differentiation), menjadi trusted institution, dan memiliki infrastruktur pembiayaan mikro yang memadai.
Sementara dalam melakukan Linkage, fokus pengembangan kompetensi bank syariah adalah pada kemampuan berkolaborasi dan penawaran low cost products.
Rekomendasi
Berdasarkan hasil penelitian, berikut ini beberapa rekomendasi pengembangan bisnis microbanking perbankan syariah:
2. Kajian Pemetaan Struktur dan Interkoneksi dalam