BAB III. INDUSTRI KEUANGAN NON-BANK SYARIAH
3.2. Implementasi Kebijakan IKNB Syariah
3.2.3. Penelitian IKNB Syariah
Kesimpulan dan rekomendasi dari masing-masing kajian di atas dapat diuraikan sebagai berikut:
3.2.3.1. Kajian Asuransi Syariah Kesimpulan:
i. Konsep asuransi syariah sebenarnya sudah ditemukan prakteknya pada zaman Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan isitlah Al Aqilah, Al Muwalat, Al Qasabah, al Tanahud, al Umra dan sebagainya. Sehingga konsep asuransi syariah tidak sekedar merubah kontrak- kontrak asuransi konvensional dengan akad yang sesuai dengan prinsip syariah.
ii. Konsep asuransi konvensional yang sekarang di- praktikkan, mengandung unsur gharar, maysir dan riba sehingga asuransi konvensional tidak sesuai dengan prinsip syariah. Di sisi lain, asuransi syariah merupakan konsep asuransi yang menggunakan prinsip ta’awuni (tolong menolong) dan menggunakan konsep sharing of risk. Hal ini berbeda dengan konsep asuransi konvensional yang menggunakan konsep transfer of risk.
iii. Masih banyak jenis akad yang perlu dikembangkan di dalam konsep asuransi syariah untuk memberi ruang bagi industri asuransi syariah dalam mengembangkan produk-produk yang dapat diimplementasikan.
iv. Dalam praktik asuransi syariah sekarang ini masih terdapat produk-produk yang belum sharia compliances, misalnya produk unit link yang masih ada dana hangus pada tahun pertama. Selain itu juga diindikasikan masih terdapat pelanggaran dalam praktik marketing, misalnya dalam bentuk risywah (suap), tathfif (ke- curangan) dan maksiat.
Rekomendasi:
i. DSN MUI sebagai pemegang otoritas fatwa perlu mengkaji secara komprehensif terkait inovasi akad- akad syariah.
ii. OJK perlu mengatur ketentuan tentang komisi agen, untuk menghindari praktek dana hangus pada tahun pertama produk unit link.
iii. Asosiasi asuransi syariah perlu menyusun kode etik pemasaran asuransi syariah yang dapat digunakan sebagai pedoman perilaku agen asuransi dalam kegiatan pemasaran.
3.2.3.2. Studi Tentang LKM Syariah Kesimpulan:
i. LKM syariah memiliki peran strategis dalam member- dayakan kelompok usaha mikro, kecil dan menengah.
Non Performing Financing (NPF) LKM syariah rata- rata 4 %.
ii. LKM Syariah sudah mengimplementasikan konsep GCG. Hal ini terlihat dari: a). SDM sudah memenuhi jumlah dan kompetensi yang diperlukan untuk mengelola operasionalisasi LKMS b). Dari aspek independensi, mayoritas permodalan LKMS berasal dari anggota, c). Sebagian besar LKMS telah memiliki pedoman tentang manajemen keuangan, pembiayaan kategori lancar lebih dari 60 %, rasio kecukupan modal di atas batas standar minimum, d). Aturan, sarana infrastruktur dan teknologi yang dimiliki telah memadai untuk menunjang aktivitas operasional, e). Pola koordinasi manajemen LKMS sudah berjalan dengan baik, sudah ada pertemuan rutin antara pengurus, pengelola dan pengawas. f). Pengawasan dan monitoring dilakukan dengan adanya pengembangan kartu keanggotaan dan updating database anggota secara berkala, selain itu dilakukan audit internal dan eksternal dalam aspek keuangan. Pengawasan terhadap operasionalisasi LKMS juga dilakukan oleh DPS, g). Produk yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan nasabah dan diselenggarakan dengan menggunakan akad, walaupun mayoritas masih menggunakan skema murabahah.
iii. Dalam aspek regulasi, pelaku LKMS merasa keberatan terhadap ketentuan mengenai kewajiban transformasi menjadi bank bagi LKMS yang memiliki lebih dari satu cabang, karena hal ini akan menghambat gerak LKMS untuk menjadi besar.
Rekomendasi:
i. Kementerian Koperasi dan UKM serta OJK perlu bersama-sama merumuskan regulasi dan kebijakan yang tepat untuk penguatan LKMS. Baik dalam aspek penguatan kapasitas permodalan maupun SDM pengelola LKMS.
ii. Peran asosiasi BMT perlu ditingkatkan untuk memper- juangkan kebijakan dan peraturan terkait standarisasi SOP (standard operating procedure), SOM (standard operating manajemen), Sistem informasi, audit internal dan eksternal, serta akses pendanaan.
iii. Perlu dikembangkan forum komunikasi lintas sektoral untuk mengembangkan model lembaga keuangan mikro yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan sebagai upaya pemecahan masalah yang dihadapi LKMS.
3.2.3.3. Penelitian tentang Pembiayaan Syariah Kesimpulan:
i. Terdapat 5 permasalahan yang menghambat pengembangan industri pembiayaan syariah, yaitu:
1). Regulasi, 2). Keterbatasan sumber dana, 3).
Minimnya pengetahuan syariah, 4). Sektor pembiayaan yang terbatas, 5). Persaingan yang sangat ketat.
ii. Terdapat 4 cluster yang harus didorong untuk pengembangan industri pembiayaan syariah, yaitu:
1). Alternatif pembiayaan jangka pendek, 2). Alternatif pembiayaan jangka panjang, 3). Alternatif pendanaan jangka pendek, 4). Alternatif pendanaan jangka panjang.
iii. Menurut perspektif pelaku usaha, pembiayaan konsumen dan sewa guna usaha merupakan peluang pasar yang paling bagus untuk jenis pembiayaan jangka pendek. Sedangkan faktoring dan kartu kredit bukan merupakan jenis produk yang menjadi prioritas untuk dikembangkan.
iv. Pembiayaan multiguna seperti pembiayaan perbaikan rumah perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan.
v. Dalam jangka panjang, terdapat 4 jenis produk pembiayaan yang dapat dikembangkan, yaitu: 1).
Pembiayaan haji/umrah, 2). Pembiayaan multijasa (selain haji/umrah), 3). Pembiayaan modal kerja, 4).
Jasa keagenan (fee based income).
vi. Dalam konteks sumber pendanaan, dalam jangka pendek, produk yang perlu menjadi prioritas untuk dikembangkan adalah penerbitan sukuk, penerbitan medium term notes, pendanaan dari perbankan dan pinjaman subordinasi. Sedangkan dalam jangka panjang, sumber pendanaan yang perlu mendapatkan prioritas lebih besar adalah sumber dana asuransi, dana pensiun, dana infaq, sedekah dan wakaf.
Rekomendasi
i. Untuk mendukung pengembangan industri pembiayaan, diperlukan perbaikan regulasi yang ada. Beberapa hal yang perlu direvisi diarahkan untuk;
a) Tidak membatasi produk pembiayaan tertentu dengan akad tertentu. Misalnya tidak membatasi pembiayaan konsumen dengan akad murabahah, salam dan istishna.
b) Memperluas sektor pembiayaan yang tidak hanya terbatas pada 4 sektor pembiayaan.
c) Memperbolehkan perusahaan asuransi dan dana pensiun agar dapat menyalurkan dananya secara langsung di perusahaan pembiayaan.
d) Tidak membatasi obyek pembiayaan.
ii. Meningkatkan edukasi dan literasi kepada masyarakat terkait transaksi muamalah.
iii. Mendorong Pemerintah untuk menerbitkan undang- undang yang mengatur tentang perusahaan pembiayaan.
iv. Mendorong pelaku industri pembiayaan syariah untuk membentuk asosiasi perusahaan pembiayaan syariah.