4. HASIL KAJIAN
4.3 Kajian Literatur
Bagian ini secara terpisah memberikan hasil desk study yang tim peneliti lakukan. Kajian desk study yang dilakukan, seperti disebutkan di atas, tidak hanya mencari penelitian atau kajian terkait yang dilakukan sebelumnya. Kajian literatur juga dilakukan untuk mencari argumentasi landasan syariah terhadap komponen yang membentuk Indeks Zakat Nasional. Adapun hasil kajian desk study yang dilakukan dipaparkan secara singkat pada tabel dibawah ini
1. Dimensi Makro
Tabel 2 Dimensi Makro
No. Indikator Literature Review Legitimasi Syariah
1. Regulasi Penerbitan UU No. 23 Tahun 2011 telah
Kamal al-Din bin al- Hamam; salah seorang
27
menunjukkan bahwa pengelolaan zakat sangat penting dilindungi oleh negara karena dengan disahkannya ke dalam undang-undang maka ada hukum yang mengikat untuk ditaati oleh badan lembaga pengelola zakat, dan menertibkan lembaga zakat yang belum resmi atau akan dikenakan sanksi.
Keberadaan Undang- undang ini juga harus didukung dengan Peraturan Daerah.
Dengan adanya pasal 1 ayat 5 UU No.32 Tahun 2004 dapat memungkinan pemerintah daerah untuk membentuk Peraturan Daerah (Perda) sesuai dengan keperluan di daerahnya dan juga dapat
ulama dari madzhab Hanafi, menyatakan penguasa memiliki kewajiban yang mutlak dalam pelaksanaan hukum zakat. Demikian pula Nabi dan dua
khalifah; Abu Bakar dan Umar. Karena terjadi perubahan kondisi masyarakat, maka pada
pemerintahan Uthman urusan diserahkan kepada gubernur sebagai wakil
kepanjangan tangan khalifah. Para sahabat mendukung kebijakan tersebut. Dan jika suatu penduduk negeri
enggan melakukan zakat, maka zakat akan diambil secara paksa oleh wakil-wakil
28
mengeluarkan perda
tentang zakat. (Saf, 2015)
tersebut.
2.
Anggaran pemerintah untuk
zakat
Beberapa kajian , seperti yang dilakukan Saf
(2015), membuktikan kontribusi positif peran peraturan pemerintah anggaran pemerintah nasional dan daerah terhadap zakat. Dari studi di daerah
Mojokerto, diperoleh hasil peningkatan jumlah muzaki dan biaya
operasional BAZ Mojokerto yang
ditanggung oleh APBD Kota Mojokerto,
sehingga dana zakat dapat difokuskan untuk penyaluran kepada mustahik zakat.
Zakat adalah ibadah personal yang memiliki dampak sosial jangka panjang. Karena itu, zakat merupakan pilar terpenting dalam sistem keuangan Negara yang diyakini mampu
mewujudkan kesejahteraan
masyarakat (al-Falah wa al-Sa‟adah). Salah satu fungsi zakat dalam sistem keuangan negara adalah pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas pendidikan. ( Al- Tayyib, al-Wafi, al- Zakah wa Dawruha al- Fa‟il fi al-Takhfif…, 11, Lih. Basyir „Abd al- Karim (2004), al-
29
„Ab‟ad al-Nadzariyah wa al-Maidaniyyah li al-Zakah, Multaqa al- Dawli Hawla
Muassasah al-Zakah.
Jamiah al-Balidah, 10- 11)
3
Database lembaga zakat
Efektifitas pengumpulan dana zakat dan
pendayagunaannya sangat tergantung pada kelengkapan apa database yang dimiliki khususnya terkait dengan jumlah muzaki dan mustahik.
Beberapa kajian menunjukkan bahwa ketiadaan database zakat menjadi salah satu faktor dibelakang
ketidakmampuan institusi zakat untuk melakukan fungsinya dengan baik (Nurzaman (2011), Aedy ( 2013).
Menurut Qatadah, yang dimaksud hak (Haqq) dalam QS Al-
Dzariyat:19 adalah kewajiban zakat. Dalam ayat tersebut Allah SWT memuji orang yang bertakwa lantaran menyisihkan bagian dari harta mereka untuk orang-orang miskin.
Dengan cara ini, harta orang kaya akan
menjadi bersih dan hati orang miskin terjauh dari sifat iri dan dengki.
Persepahaman antara orang kaya dan orang
30
miskin inilah yang kemudian akan bermetamorfosis menjadi kehidupan yang harmonis dari tengah masyarakat.
2. Dimensi Mikro
Tabel 3 Dimensi Mikro
No. Indikator Literature Review Legitimasi Syariah
1 Kelembagaan
1.1 Tata kelola yang baik menjadi keharusan karena berhubungan dengan kepercayaan dari stakeholders.
Bahkan tata kelola ini ikut diatur dalam ZCP bab 8 mengenai good amil governance untuk menjamin pengelolaan yang baik melalu kode etik, dan peraturan lainnya, serta adanya dewan pengawas zakat
1.1 Sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam
melaksanakan hukum Allah SWT dalam aspek ibadah harta benda (Ibadah Maliyah), maka lembaga zakat
memiliki beban moral yang amat berat. Jika transparansi,
akuntabilitas dan profesionalitas adalah
31
di institusi tersebut.
1.2 Laporan keuangan badan/lembaga zakat harus diaudit oleh
Kantor Akuntan Publik resmi dengan merujuk pada standar penilaian Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI.
1.3 Pada buku Antonio (2001) tercantum poin karakteristik audit syariah yaitu;
a) Pengungkapan kewajaran penyajian laporan keuangan dan unsur kepatuhan
syariah.
b) Memeriksa akunting dalam aspek produk, baik sumber dana ataupun pembiayaan.
c) Pemeriksaan atas sumber dan penggunaan zakat.
tuntutan agama, etika dan budaya dalam dunia kerja, maka transparansi, akuntabilitas dan
profesionalitas menjadi lebih prioritas dalam pengelolaan ibadah zakat. Lembaga zakat tidak hanya dituntut garang dan tegas kepada wajib zakat, tetapi juga cermat, cerdas dan bijaksana dalam penyalurannya.
Salah satu aspek transparansi dan akuntabilitas yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad adalah fungsi controlling.
Dalam waktu berkala, Nabi SAW selalu melakukan check and balance terhadap para
32
d) Ada tidaknya transaksi yang mengandung unsur- unsur yang tidak sesuai dengan syariah.
petugas zakat untuk mengevaluasi
pekerjaan mereka, baik aspek pengumpulan ataupun penyaluran.
Semua itu dilakukan untuk memastikan agar pelaksanaannya sesuai dengan hukum syariat (Al-Bukhari, Sahih al- Bukhari. Kitab al- Ahkam, Bab Hadaya al-Amal, hadits no.
6753)
2 Dampak Zakat
2.1 Dalam dimensi mustahik, Indeks Zakat Nasional (IZN)
mengukur dampak zakat terhadap mustahik yang dapat dinilai dari materi, ruhani, tingkat harapan hidup, literasi, dan akses pendidikan. Pada tahap ini, IZN
menggunakan beberapa
2.1 Selain ibadah individual, zakat merupakan ibadah yang memiliki dampak sosial kemasyarakat.
Zakat diyakini mampu berkontribusi dalam membentuk spirit kebersamaan antara golongan kaya dan miskin. Sebuah
33
metode penghitungan yang dibuat oleh
institusi lokal maupun internasional. Seperti dalam mengukur dampak zakat secara materi dan ruhani, IZN menggunakan metode CIBEST IPB yang dikembangkan oleh Beik dan Arsyianti (2015).
2.2 Pengukuran dampak selanjutnya adalah
dengan melihat dari peningkatan standar kelayakan hidup lain yang tercermin dari tingkat kesehatan, tingkat literasi, dan akses pendidikan yang merupakan bagian dari Indeks Pembangunan Manusia (Nurzaman, 2011).
masyarakat beradab yang golongan kaya tidak sombong karena kekayaannya, dan golongan miskin tidak merasa hina karena kefakirannya. Model masyarakat ideal yang pernah digambarkan oleh Rasulullah SAW:
“Perumpamaan orang- orang Islam dalam hal kasih sayang seperti satu tubuh, bila satu anggota tubuh sakit maka seluruh anggota lain ikut merasakan sakit sehingga
semuanya tidak bisa tidur dan merasa demam karenanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
34