Penelitian tentang pendidikan seksual dengan pendekatan, metode dan materi yang berbeda sudah dilakukan oleh penelitian- penelitian sebelumnya:
1. Latifah Permatasari Fajrin, Subar Junanto, dan Diyah Kurniasari, hasil dari penelitian ini tentang tahapan pelaksanaan pembelajaran pendidikan seks dengan metode bercerita yang terdiri dari tiga proses yaitu pembukaan, kegiatan inti, dan penutup. Penerapan metode bercerita dalam pendidikan seks di integrasikan dalam setiap pembelajaran sehingga pembelajaran pendidikan seks dapat berjalan dengan baik.28
2. Dewi Fitriani, Heliati Fajriah, dan Arnis Wardani, kesimpulan dari penelitian ini yaitu: pengembangan media pembelajaran khusus untuk mengenalkan pendidikan seks bagi anak sangatlah jarang dan sangat dibutuhkan mengingat tingginya angka kekerasan seksual yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Media pembelajaran berupa buku Lift the Flap “Auratku” ini layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran untuk mengenalkan pendidikan seks pada anak usia dini. Indikator kelayakan pada materi dan media semuanya mencapai titik kelayakan. Pada tahapan uji coba skala kecil, persentase kelayakan semuanya menunjukkan nilai yang sangat bagus, yaitu sangat layak. Penerapan media pada skala besar diharapkan akan lebih menguatkan hasil kelayakan dari media pembelajaran ini. Jadi buku ini sangat baik dan layak untuk memberikan informasi dan meningkatkan pendidikan seks terhadap anak.29
28 Diyah Kurniasari Latifah Permatasari Fajrin , Subar Junanto,
“Implementasi Pendidikan Seks Pada Anak Usia Dini,” PAUD Lectura:
Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 3, no. 2 (2020): 80.
29 Dewi Fitriani, Heliati Fajriah, and Arnis Wardani, “Mengenalkan Pendidikan Seks Pada Anak Usia Dini Melalui Buku Lift the Flap
„Auratku,‟” Gender Equality: International Journal of Child and Gender Studies 7, no. 1 (2021): 36, https://doi.org/10.22373/equality.v7i1.8683.
3. Anaa Murti Citra Putri Azzahra, Iin Ervina, dan Erna Ipak Rahmawati, kesimpulan dari penelitian adalah penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti media booklet dapat meningkatkan pengetahuan orang tua tentang pendidikan seks anak usia dini. Metode ini dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan pengetahuan pendidikan seks anak usia dini pada orang tua. Hal ini dimaksudkan agar orang tua dapat memberikan anak pengetahuan tentang pendidikan seks sehingga anak dapat mengenali diri sendiri, menjaga tubuh dan terhindar dari ancaman kekerasan seksual.30
4. Tania Putri Sarasati, Nika Cahyati, kesimpuan dari penelitian ini tentang pengembangan media pembelajaran boneka edukatif untuk pengenalan pendidikan seks anak usia 4-5 tahun dapat disimpulkan media boneka edukatif adalah media yang dirancang menyerupai manusia lengkap dengan bagian-bagian alat vital yang digunakan untuk pengenalan pendidikan seks anak. Pengembangan media pembelajaran boneka menghasilkan pengenalan anak pada pendidikan seks sejak dini untuk mencegah terjadinya pelecehan anak dengan dibuktikan dari pembiasaan anak menjaga kebersihan alat kelamin dan melakukan toilet training secara mandiri. Pengembangan media pembelajaran boneka menghasilkan penanaman pendidikan seksual kepada anak didik dengan menggunakan media boneka jari jari.31
5. Christine Masada Hirashita Tobing , Eva Yuliana Machmud, hasil penelitian ini tentang konseling anak terapi dengan cara menggambar orang lebih disukai dan
30 Natalia Devi Oktarina and Liyanovitasari Liyanovitasari, “Pengaruh Media Cerita Bergambar Terhadap Pengetahuan Tentang Seks Dini Pada Anak Natalia,” JURNAL KESEHATAN PERINTIS (Perintis’s Health Journal) 6, no. 2 (2019): 110–15, https://doi.org/10.33653/jkp.v6i2.296.
31 Tania Putri Sarasati and Nika Cahyati, “Pengembangan Boneka jari jari Edukatif Untuk Pengenalan Pendidikan Seks Anak,” Jambura Early Childhood Education Journal 2, no. 2 (2020): 58–69, https://doi.org/10.37411/jecej.v2i2.152.
mudah dipahami serta diikuti oleh anak karena pada anak usia dini sedang aktif mengembangkan daya imajinasinya, dengan menggambar dapat mengkomunikasikan apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh anak. Melalui menggambar orang yang dilakukan anak, dapat mengenal bagian tubuhnya yang sensitif (alat vital dan reproduksi) tidak boleh sembarangan orang menyentuhnya, dan orang tua pun dapat memperkenalkan bagian-bagian sensitif tersebut melalui gambar orang yang dilakukan bersama dengan anak, konselor pun terbantu dalam pelaksanaan konseling edukasi seks pada anak melalui gambar orang yang tidak memerlukan gambar yang harus bagus, namun tetap dalam bentuk identik dengan orang.32
6. Anugrah Sulistiyowati, dkk, kesimpulan dari penelitian ini yaitu pentingnya memberikan pendidikan seksual sejak dini, guru maupun orang tua diharapkan dapat memberikan pendidikan terkait pelecehan seksual sejak dini, dan memberikan pembelajaran tentang psikoedukasi seks dengan bahasa sederhana serta contoh yang nampak seperti alat peraga edukatif, gambar yang berwarna, video edukatif, dan cerita sehingga anak lebih mudah memahami materi yang disampaikan oleh orang tua maupun guru. Orang tua dan guru harus membekali anak dengan agama yang baik dan menjadi contoh yang layak bagi anak. Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya dapat memberikan psikoedukasi lebih sering dan memfollow-up supaya dapat melihat pengaruh keberlangsungan psikoedukasi dalam waktu yang panjang.33
32 Christine Masada, Hirashita Tobing, and Eva Yuliana Machmud,
“Edukasi Seks Pada Anak Usia Dini Melalui Terapi Gambar Orang,”
Seminar Nasional Dan Diskusi Panel Multidisiplin Hasil Penelitian &
Pengabdia Kepada Masyarakat, 2018, 637–41.
33 dan Herlan Pratikto Anugrah Sulistiyowati , dan Andik Matulessy,
“Psikoedukasi Seks: Meningkatkan Pengetahuan Untuk Mencegah Pelecehan Seksual Pada Anak Prasekolah,” Jurnal Lmiyah Psikilogi Terapan 6, no. 2 (2018): 24,https://www.sparkfun.com/datasheets/Components/SMD/ATMega 328.pdf%0Ahttps://journal.uinsgd.ac.id/index.php/istek/article/view/1476%0
Dari hasil penelitian terdahulu ini dapat disimpulkan bahwa penerapan pendidikan seks untuk anak usia dini dapat disampaikan dengan berbagai media dan metode. Serta peran orang tua untuk mengajarkan pendidikan seks kepada anak- anak. Perbedaan peneliti terdahulu ini dengan penelitian yang saat ini yaitu pemanfaatan medianya serta bagaimana mengimplementasi media itu untuk pendidikan seks pada anak. Maka dari ini peneliti melakukan penelitian untuk mengetahui implementasi pemanfaatan media boneka untuk mengembangkan pendidikan seks anak usia 5-6 tahun di taman kanak-kanak pkk 1 Karangrejo kota Metro.