• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Penelitian yang Relevan

Dalam dokumen View/Open (Halaman 53-59)

Terdapat berbagai penelitian terdahulu yang berhubungan dengan masalah alih fungsi lahan pertanian, salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Firman pada tahun 2000 yang berjudul “Rural to Urban Land Conversion in Indonesia during Boom and Bust Periods”. Penelitian tersebut membahas alih fungsi lahan pertanian di kawasan pinggiran perkotaan dari kota-kota besar di Indonesia sebelum dan saat krisis ekonomi. Menurut Firman (2000), alih fungsi lahan di kawasan pinggiran kota-kota besar di Indonesia dekade 1990-an sebagian besar disebabkan karena pengeluaran izin lokasi yang berlebihan yang diberikan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN). Surat izin itu secara esensial merupakan alat untuk mengendalikan peruntukan lahan perkotaan, tetapi sebagian besar disalahgunakan sehingga menjadi alat untuk menyediakan lahan yang cukup besar untuk para pengembang, dimana kebanyakan dari mereka pada kenyataannya tidak mempunyai kapasitas untuk mengembangkan proyek-proyek pembangunan berskala besar. Sementara itu, pemilik lahan sepertinya tidak berdaya ketika

mereka tidak mempunyai pilihan lain selain menjual lahan mereka, setelah izin lokasi diberikan kepada para pengembang.

Selanjutnya Firman (2000) menyatakan bahwa krisis ekonomi yang terjadi mulai Tahun 1998 telah menyebabkan alih fungsi lahan di kawasan pinggiran kota terjadi penurunan. Selain terjadi penurunan, krisis ekonomi telah menciptakan lahan tidur di kawasan pinggiran kota-kota besar, di mana investasi yang sangat besar menjadi tidak berguna, ketika para pengembang tidak mampu membayar kembali pinjaman yang telah diberikan oleh bank, baik bank dalam negeri maupun bank luar negeri.

Pada tahun 2009 Gaughan et al melakukan penelitian dengan judul

“Tourism, Forest Conversion, and Land Transformations in the Angkor Basin, Cambodia”. Alih fungsi lahan yang terjadi di Lembah Sungai Angkor ini disebabkan karena berkembangnya kegiatan pariwisata. Sejak dipromosikannya objek wisata tersebut terjadi peningkatan jumlah wisatawan yang sangat signifikan dari 34.000 orang pada tahun 1993 menjadi 1,12 juta pada tahun 2007.

Akan tetapi berkembangnya kegiatan pariwisata tersebut menyebabkan terjadinya deforestasi sebesar 23,4% dari seluruh kawasan hutan yang ada di wilayah tersebut selama 10 tahun, dimulai dari tahun 1995 sampai dengan tahun 2005.

Sementara kegiatan penghutanan kembali hanya berkisar 4,9 % saja. Proses deforestasi terjadi selain karena alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian tanaman pangan, tetapi juga karena pembuatan arang kayu yang diperuntukan bagi rumah makan untuk keperluan kegiatan pariwisata.

Pada Tahun 2010 Pancholy et al melakukan penelitian dengan judul “The Impact of Biofuels on the Propensity of Land Use Conversion among Non- Industrial Private Forest Land-Owners in Florida”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa Amerika banyak mengimpor minyak dimana 60% dari minyak tersebut dipergunakan untuk bahan bakar transportasi. Sementara itu bahan bakar hayati (etanol dan biodiesel) mempunyai potensi untuk menggantikan minyak dan mengurangi ketergantungan nasional terhadap impor bahan bakar fosil. Bahan bakar hayati juga mempunyai keuntungan dilihat dari segi lingkungan seperti mengurangi emisi polutan. Etanol dapat dihasilkan dari

bermacam hasil pertanian yang dapat diperbaharui, seperti jagung, gandum, milo, pohon jeruk, buangan panen, dan sisa hasil hutan. Di AS, jagung adalah bahan baku utama untuk produksi etanol karena selalu tersedia dan secara relatif mempunyai efisiensi tinggi terhadap konversi.

Lahan yang dialokasikan untuk penanaman jagung adalah lahan hutan non-industri yang dimiliki oleh swasta. Di Florida lahan hutan non-industri sebagian besar, yaitu 63% dimiliki oleh swasta yang berjumlah 1060 orang. Dari jumlah tersebut, 45,8% pemilik lahan hutan bersedia menyewakan lahannya untuk kemudian ditanami oleh jagung bagi kepentingan bahan bakar hayati. Dalam penelitian ini tidak diungkap bagaimana permasalahan lingkungan yang akan terjadi, dimana hutan yang biasanya ditanami pohon kayu yang berakar dalam kemudian diganti dengan tanaman jagung yang berakar dangkal.

Pada tahun 2011 Chunmei dan Maclaren melakukan penelitian dengan judul “Evaluation of Economic and Social Impacts of the Sloping Land Conversion Program; A Case Study in Dunhua County, China”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dampak sosial dan ekonomi dari Sloping Land Conversion Program (SLCP). SLCP dimulai pada tahun 2000, yang dilatarbelakangi karena Negeri China menghadapi permasalahan lingkungan serius, seperti erosi tanah, penggenangan ekstrim dan badai debu, sejak meningkatnya tekanan penduduk yang diikuti oleh praktek pertanian yang tidak berkelanjutan. Satu kebijakan Negeri China yang tersebar luas menanggapi permasalahan ini adalah program pemulihan lingkungan dengan mengubah tanaman pertanian menjadi hutan-hutan. Program itu adalah salah satu program konservasi yang paling besar di dunia dengan target dari 14,7 juta hektar dari tanaman pertanian dan 17.3 juta hektar dari lahan yang mengalami kerusakan dikonversi menjadi hutan. Tujuan utama dari SLCP adalah untuk mengurangi erosi tanah dengan mengubah tanaman pertanian, pada kemiringan yang curam sekitar 25° atau lebih di lembah Sungai Yangtze dan 15° di tempat lainnya dari lahan-lahan yang telah rusak dijadikan hutan-hutan atau padang rumput.

Hasilnya menunjukkan bahwa program tersebut, secara umum, tidak efisien. Lima puluh delapan persen dari keluarga yang dilibatkan di dalam

program tersebut mengalami penurunan pendapatan. Mereka mengatakan bahwa SLCP adalah satu tindakan yang secara paksa dikenakan oleh pemerintah. Meski 60% mendukung proyek, ada 16% petani yang mempunyai rencana untuk kembali menanam tanaman pertanian pada lahan hutan tersebut ketika tunjangan dari proyek berakhir pada 2018. Oleh karena itu Chunmei Wang dan Maclaren (2011) menyarankan agar pemerintah perlu menyediakan peluang pekerjaan alternatif selain usahatani untuk memastikan ketahanan program tersebut.

Pada tahun 2005 Harjono melakukan penelitian dengan judul “Evaluasi Implementasi Kebijakan Pengendalian Konversi Lahan Pertanian di Kabupaten Kendal” dengan menggunakan metode formative evaluation meneliti fenomena kurang efektifnya pengendalian konversi lahan pertanian dengan mengkaji produk hukum mengenai konversi lahan pertanian, kinerja panitia pertimbangan izin perubahan tanah, dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat dalam mengkonversi lahan pertanian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya konversi lahan pertanian dipengaruhi oleh: (1) Di dalam peraturan perubahan lahan pertanian tidak terdapat sanksi yang jelas bagi para pelanggarnya; (2) Kurangnya komitmen panitia pertimbangan izin perubahan tanah dalam menindak pelanggar karena alasan kemanusiaan; (3) Perilaku masyarakat dalam mengkonversi lahan pertanian tanpa melalui prosedur perijinan yang ditetapkan pemerintah cenderung melakukan konversi tanpa menempuh prosedur perizinan yang berlaku karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat. Lahan-lahan yang terkonversi kebanyakan untuk permukiman dan dilakukan oleh para petani. Lahan tersebut merupakan lahan subur, beririgasi teknis dan mampu panen lebih dari dua kali dalam setahun.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Ramdan pada tahun 2012 dengan judul: “Pengaruh Implementasi Kebijakan Penataan Ruang terhadap Efektivitas Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah di Kabupaten Subang”. Maksud penelitian ini adalah untuk mengkaji dimensi-dimensi implementasi kebijakan penataan ruang yang dikaitkan dengan efektivitas pengendalian alih fungsi lahan sawah di Kabupaten Subang. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk

menemukan konsep baru tentang implementasi kebijakan bagi pengembangan ilmu administrasi publik.

Tipe desain penelitian yang digunakan adalah penelitian berbentuk riset eksplanatori (explanatory research) yaitu penelitian yang menyangkut pengujian hipotesis penelitian. Desain penelitian ini bukan saja menggambarkan fenomena dan kenyataan empirik, tetapi juga menjelaskan hubungan antar variabel yang selanjutnya dapat diuji secara statistik. Pendekatan kuantitatif dalam penelitian ini menggunakan analisis jalur (path analisys) yang dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh impelentasi kebijakan penataan ruang tehadap efektivitas pengendalian alih fungsi lahan sawah di Kabupaten Subang. Sedangkan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini bertolak dari asumsi tentang realitas atau fenomena sosial yang bersifat unik dan kompleks, sehingga data atau informasi harus ditelusuri seluas-luasnya sesuai dengan variasi yang ada. Dengan cara ini, peneliti dapat mendeskripsikan fenomena yang diteliti secara utuh.

Hasil penelitian Ramdan (2012) menyimpulkan bahwa implementasi kebijakan penataan ruang terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap efektivitas pengendalian alih fungsi lahan sawah di Kabupaten Subang dengan besar pengaruh yang tinggi. Pengaruh ini ditentukan oleh tiga dimensi yaitu organisasi, intepretasi dan aplikasi, dengan dimensi yang paling dominan adalah dimensi organisasi.

Penelitian yang lebih komprehensif dilakukan oleh Ilham dan Friyatno dari Pusat Penelitian Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Bogor, serta Syaukat dari Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian IPB, dengan judul “Perkembangan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konversi Lahan Sawah serta Dampak Ekonominya”. Hasil penelitian menunjukan bahwa konversi lahan sawah di Jawa jauh lebih besar dibandingkan wilayah lain di Indonesia, dan kecenderungannya terus meningkat. Kondisi ini mengindikasikan upaya pengendalian konversi lahan sawah yang dilakukan pemerintah tidak efektif. Di Luar Jawa konversi lahan sawah bersifat fluktuatif. Hal ini disebabkan adanya upaya pemerintah mencetak sawah baru untuk mengantisipasi tingginya konversi yang terjadi di Jawa.

Tekanan ekonomi pada saat krisis ekonomi menyebabkan banyak petani menjual asetnya berupa sawah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dampaknya secara umum meningkatkan konversi lahan sawah dan makin meningkatkan penguasaan lahan pada pihak-pihak pemilik modal. Secara nasional sawah tadah hujan paling banyak mengalami konversi (319 ribu hektar). Di Jawa lahan sawah dengan berbagai jenis irigasi mengalami konversi, masing-masing sawah tadah hujan 310 ribu hektar, sawah irigasi teknis 234 ribu hektar, sawah irigasi semi teknis 194 ribu hektar dan sawah irigasi sederhana 167 ribu hektar. Sementara itu di Luar Jawa konversi hanya terjadi pada sawah beririgasi sederhana dan tadah hujan. Tingginya konversi lahan sawah beririgasi di Jawa makin menguatkan indikasi bahwa peraturan pengendalian konversi lahan sawah yang ada tidak efektif.

Beberapa penelitian lingkup mikro menunjukkan bahwa harga lahan, aktivitas ekonomi suatu wilayah, pengembangan pemukiman, dan daya saing produk pertanian merupakan faktor-faktor ekonomi yang menentukan konversi lahan sawah. Sementara itu dalam lingkup makro: konversi lahan sawah berkorelasi positif dengan pertumbuhan PDB/PDB; konversi lahan sawah berkorelasi negatif dengan nilai tukar petani. Kedua hal ini sejalan dengan temuan pada lingkup mikro. Secara mikro, berkembangnya pemukiman mempengaruhi konversi lahan sawah, namun secara makro pengembangan pemukiman yang diproksi dengan peningkatan jumlah penduduk tidak menunjukkan hubungan yang positif. Hal ini mengindikasikan adanya trend pemilikan rumah bukan hanya sebagai tempat tinggal tetapi sebagai investasi.

Faktor sosial yang berlaku di masyarakat kecenderungannya justru memicu terjadinya konversi lahan sawah. Sementara itu perangkat peraturan pertanahan yang berlaku belum mampu mengendalikan laju konversi lahan sawah.

Kerugian ekonomi akibat adanya konversi lahan sawah, berupa hilangnya produksi padi, tidak berfungsinya sistem irigasi, dan tidak berfungsinya kelembagaan pertanian. Jika diperkirakan secara ekonomi nilai kerugian itu sangat besar. Bahkan upaya pencetakan sawah baru belum mampu menutupi kehilangan pruduksi, sehingga Indonesia harus mengimpor beras.

Dalam dokumen View/Open (Halaman 53-59)

Dokumen terkait