Selama tujuh tahun yaitu tahun 2004 hingga tahun 2011 terjadi perubahan fungsi sawah di Kabupaten Bandung. Fenomena alih fungsi sawah dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, antara lain mikro, meso, dan makro.
Rumusan Masalah
Sedangkan konversi lahan pada tingkat makro disebabkan oleh faktor politik yaitu aspek peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat. Kebijakan pengendalian konversi lahan dengan model sistem dinamika diharapkan efektif mencegah konversi lahan sawah.
Tujuan Penelitian
Dinamika sistem merupakan suatu metode berpikir sistematis yang dapat melihat berbagai aspek secara integral dan dapat menjelaskan secara struktural fenomena transformasi lahan yang terjadi. Penjelasan struktural bersifat generatif dan mempunyai kemampuan tinggi dalam mendesain ulang struktur sistem agar perilaku yang dihasilkan konsisten dengan yang diinginkan.
Urgensi (Keutamaan) Penelitian
Kontribusi terhadap Pengembangan Iptek-Sosbud
Luaran yang Ditargetkan
Secara akademis, istilah “bumi” baru diperkenalkan pada tahun 1970-an, yang dimaksudkan sebagai arti kata “bumi” dalam bahasa Inggris. Tanah juga sering dianggap sebagai barang konsumsi, dimana tanah sering kali dikuasai dan diidam-idamkan bukan hanya karena tanah tersebut menambah produksi langsung bagi masyarakat, namun juga karena tanah itu sendiri mempunyai nilai konsumen.
Konsep Ekonomi Sumberdaya Lahan
Model klasik teori sewa tanah yang banyak digunakan adalah konsep sewa tanah David Ricardo dan Von Thunen (Suparmoko, 2008). Menurut Von Thunen, sewa tanah berkaitan dengan biaya transportasi dari daerah yang jauh ke pusat pasar.
Alih Fungsi Lahan dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya
Winoto (2005) menyatakan bahwa ancaman konversi lahan sawah di masa depan sangat besar dan mengancam sekitar 42,40%. Di sisi lain, perubahan fungsi sawah yang dilakukan oleh pemilik sawah pada umumnya bersifat sporadis.
Dampak Alih Fungsi Lahan terhadap Petani
Konversi lahan pertanian terutama terjadi pada lahan persawahan yang sangat produktif menjadi lahan pemukiman dan industri. Dalam konteks kewilayahan, alih fungsi lahan pertanian untuk penggunaan lain dapat meningkatkan kesejahteraan wilayah.
Beberapa Pendekatan dalam Pemodelan Kebijakan
Ide ini terus berkembang hingga Wassily Leontif menerbitkan makalah tentang analisis input-output modern pada tahun 1936. Analisis input-output, seperti pendekatan ekonometrik, bekerja dengan menggunakan data ekonomi yang dapat diamati untuk melihat mekanisme atau struktur sebab akibat. Fitur pemodelan umum dari analisis input-output adalah cara untuk menggambarkan aliran uang, sumber daya, atau produk antara produsen dan konsumen yang berbeda dalam perekonomian yang dapat diamati.
Model input-output didasarkan pada tiga asumsi penting, yaitu: (a) Linearitas, yaitu hubungan numerik antara input dan output setiap kegiatan produksi harus tetap konstan (asumsi skala hasil konstan), (b) Kontinuitas , setiap kegiatan industri harus mampu meningkatkan atau mengurangi output secara marginal pada tingkat tertentu, dengan tetap menjaga rasio konstan antara input dan output, (c) Penyesuaian instan. Analisis input-output tidak memiliki dimensi waktu, tidak ada cara untuk menunjukkan penundaan input atau produksi output. Oleh karena itu, analisis input-output paling berguna untuk menganalisis perubahan marjinal dalam sistem perekonomian jangka pendek.
Masalah utama analisis input-output adalah keterbatasan penggunaannya, termasuk terbatasnya penggunaan akibat penyederhanaan konsep.
Pemodelan Kebijakan Menggunakan System Dynamics
- Perkembangan System Dynamics
- Permasalahan dalam System Dynamics
- Prinsip Dasar System Dynamics .1 Analisis Sistem
- Prinsip Pendekatan Pemodelan System Dynamics
- Langkah-langkah Pemodelan Menggunakan System Dynamics
Penggunaan metodologi dinamika sistem lebih fokus pada tujuan meningkatkan pemahaman tentang bagaimana perilaku muncul dari struktur kebijakan dalam sistem. Oleh karena itu metode dinamik sistem menitikberatkan pada sistem tertutup atau sistem umpan balik. Putaran umpan balik membentuk hubungan kausal melingkar antar variabel, bukan hubungan yang dihasilkan dari korelasi statistik.
Putaran umpan balik ini merupakan landasan utama model ini, dan konsep ini tertanam dalam sebagian besar landasan ilmu sosial dan teori sistem (Richardson, 1991). Setelah batasan model dapat ditentukan, struktur putaran umpan balik yang saling berinteraksi akan terbentuk. Putaran umpan balik mengemukakan hubungan sebab-akibat melingkar antar variabel, bukan hubungan karena korelasi statistik.
Putaran umpan balik positif akan menghasilkan pola pertumbuhan atau penurunan yang eksponensial, sedangkan putaran umpan balik negatif akan menghasilkan pola pencarian tujuan.
Kajian Penelitian yang Relevan
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Ramdan pada tahun 2012 dengan judul: “Dampak Implementasi Kebijakan Penataan Ruang Terhadap Efektivitas Pengendalian Konversi Sawah di Kabupaten Subang”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dimensi implementasi kebijakan penataan ruang yang berhubungan dengan efektivitas pengendalian konversi lahan sawah di Kabupaten Subang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konversi lahan sawah di Pulau Jawa jauh lebih besar dibandingkan daerah lain di Indonesia dan trennya terus meningkat.
Dampak keseluruhannya adalah meningkatkan konversi lahan sawah dan semakin meningkatkan penguasaan lahan di kalangan pemilik modal. Tingginya laju konversi lahan sawah beririgasi di Pulau Jawa semakin memperkuat indikasi bahwa peraturan yang mengatur konversi lahan sawah yang ada saat ini tidak efektif. Berbagai kajian mikroskop menunjukkan bahwa harga tanah, aktivitas perekonomian suatu wilayah, pembangunan pemukiman dan daya saing produk pertanian merupakan faktor ekonomi yang menentukan terjadinya konversi lahan sawah.
Sementara itu, secara makro: konversi lahan sawah berhubungan positif dengan pertumbuhan PDB/PDB; Konversi lahan sawah berhubungan negatif terhadap nilai tukar petani.
Kerangka Pemikiran dan Hipotesis
Selain faktor-faktor di atas, alih fungsi lahan sawah menjadi non-sawah disebabkan langsung maupun tidak langsung oleh kebijakan pemerintah. Pertama, kebijakan yang secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan perubahan fungsi sawah, misalnya kebijakan pengembangan kegiatan industri atau kebijakan pembangunan perumahan yang akan menyebabkan perubahan fungsi sawah. Namun kenyataannya sawah masih mengalami konversi sehingga diperlukan kebijakan pengendalian yang komprehensif.
Pertambahan jumlah penduduk juga menyebabkan luas kepemilikan lahan semakin menyempit, sedangkan luas kepemilikan lahan mempengaruhi terjadinya konversi lahan pertanian. Meningkatnya konversi lahan pertanian akan mengurangi luas lahan pertanian, sehingga ketersediaan pangan akan menurun dan akan membatasi pertumbuhan penduduk sehingga menyebabkan terciptanya umpan balik negatif yang akan menimbulkan keseimbangan. Sebaliknya, semakin luas lahan pertanian maka semakin besar juga rata-rata luas kepemilikan lahan pertanian sehingga dapat memperlambat laju konversi lahan pertanian sehingga menimbulkan feedback positif yang mengarah pada pertumbuhan.
Meningkatnya pertumbuhan ekonomi akan memerlukan lahan pemukiman yang semakin luas, hal ini akan mengakibatkan terjadinya konversi lahan pertanian, sehingga luas lahan pertanian akan semakin berkurang.
METODOLOGI
- Desain Penelitian dan Batasan Wilayah yang Dimodelkan
- Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
- Pengolahan dan Analisis Data
- Lokasi Penelitian dan Waktu Pelaksanaan
- Letak Lokasi Kabupaten Bandung
- Kondisi Fisik dan Lingkungan
- Kondisi Kependudukan
- Kondisi Perekonomian
Daerah penelitian yang dijadikan model adalah wilayah Kabupaten Bandung dengan luas Ha (4,75% dari luas Ha Provinsi Jawa Barat). 9 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Cimahi, dan pada tahun 2007 terjadi pembentukan Kabupaten Bandung Barat berdasarkan Undang-undang No. Iklim di Kabupaten Bandung dipengaruhi oleh dua musim tetap yaitu musim barat dan musim timur dengan iklim tropis dipengaruhi oleh iklim muson.
Berdasarkan data yang ada, rata-rata curah hujan tahunan di wilayah Kabupaten Bandung berkisar antara 1.500 mm – 4.000 mm per tahun. Geologi Kabupaten Bandung terdiri dari 2 yaitu endapan permukaan dan batuan sedimen serta batuan vulkanik. Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa rata-rata laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Bandung dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2011 adalah sebesar 2,32% per tahun.
Kepadatan penduduk Kabupaten Bandung pada tahun 2011 sebesar 1.872 jiwa/km2, dengan kecamatan terpadat berada di Kecamatan Margahayu sebesar 11.607 jiwa/km2.
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bandung
Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2006-2011 (Jutaan Rupiah)
Tahun
NO LAPANGAN USAHA
Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha Tahun 2006-20011 (Jutaan Rupiah)
Sektor Primer
Pada tahun 2011, kontribusi sektor pertanian mengalami penurunan dari 7,37 persen pada tahun 2010 menjadi 7,33 persen pada tahun 2011. Banyak faktor yang menyebabkan menurunnya peran sektor pertanian, antara lain semakin sempitnya lahan pertanian, rendahnya tingkat pengetahuan tentang budidaya pertanian dan rendahnya pendapatan masyarakat. teknologi yang digunakan dalam bidang pertanian. Rendahnya nilai tambah sektor pertanian tercermin dari nilai jual produk pertanian yang masih sangat rendah dibandingkan sektor lainnya sehingga menjadikan sektor ini kurang menarik untuk diusahakan.
Hal serupa juga terjadi pada sektor pertambangan dan penggalian yang persentase penerimaannya turun dari 1,30 persen pada tahun 2010 menjadi 1,27 persen pada tahun 2011.
Sektor Sekunder
Sektor Tersier
- Penggunaan Lahan
- Struktur Model
- Diagram Subsistem
- Sub Model Permukiman dan Lahan Permukiman
- Uji Perilaku Model
- Perilaku Model
Permukiman dan pemukiman merupakan ruang aktivitas penduduk, sedangkan beras merupakan bahan makanan penduduk. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, yang paling mungkin dilakukan adalah dengan mengubah lahan sawah dan ladang menjadi kawasan pemukiman. Lahan sawah merupakan salah satu faktor produksi produksi padi yang keberadaannya semakin berkurang akibat dialihfungsikan menjadi lahan pemukiman dan industri.
Keberadaan lahan sawah selalu berkurang karena pertambahan lahan sawah dari lahan garapan lebih sedikit dibandingkan dengan lahan sawah yang dialihfungsikan menjadi lahan pemukiman. Kendala alih fungsi lahan sawah menjadi lahan pemukiman adalah lahan sawah yang tidak dapat dijadikan lahan pemukiman. Berdasarkan ketiga gambaran di atas, dapat dikatakan bahwa perilaku model pengembangan penduduk, permukiman, dan lahan pemukiman mampu meniru perilaku sejarah.
Begitu pula dengan lahan pemukiman terbangun yang mengalami pertumbuhan selama kurang lebih 20 tahun, kemudian stabil pada tahun-tahun berikutnya, seperti terlihat pada gambar 4.14 di bawah ini.
Pmk-Terbangun
- Simulasi dan Analisis
- Perilaku Sawah
- Perilaku Stok Padi
- Saran
Intervensi kebijakan yang dapat dilakukan dalam upaya mengendalikan alih fungsi lahan sawah dan menjamin ketersediaan beras dapat dicapai melalui beberapa kegiatan, antara lain: mengendalikan pertumbuhan penduduk, menurunkan standar kebutuhan penduduk terhadap lahan pemukiman, menurunkan jumlah rata-rata penduduk. konsumsi beras per per kapita melalui diversifikasi pangan. , dan meningkatkan nilai intensitas tanam padi. Kemudian, guna menekan laju konversi lahan sawah dan menjaga stok beras, dibuat beberapa skenario agar laju konversi lahan sawah dapat ditekan dan eksistensi Kabupaten Bandung sebagai kabupaten swasembada beras dapat dipertahankan. Peningkatan kelas kepadatan penduduk dari sedang ke tinggi berarti kebutuhan akan kawasan pemukiman tidak terlalu tinggi, sehingga konversi lahan sawah menjadi pemukiman dapat dicegah, sedangkan diversifikasi pangan dan intensitas tanam kurang berhubungan langsung dengan perilaku. nasi. bidang.
Penambahan stok beras sangat dipengaruhi oleh luas sawah dan ladang, rata-rata produksi dan intensitas tanam, sedangkan berkurangnya stok beras dipengaruhi oleh tingkat konsumsi beras oleh penduduk. Laju konversi lahan sawah dapat dikurangi dengan meningkatkan kelas kepadatan penduduk dari sedang menjadi tinggi. Skenario gabungan harus disiapkan agar dapat dilakukan upaya untuk mengurangi laju konversi lahan sawah.
Pengaruh Penerapan Kebijakan Penataan Ruang Terhadap Efektivitas Pengendalian Perubahan Lahan Sawah di Wilayah Subang (Disertasi).