Hasil review penulis terhadap beberapa studi terdahulu yang dianggap relevan dengan kajian ini, baik yang berkaitan dengan interaksi antar umat beragama maupun tafsir al-Misbah, al-Munir dan tafsir Fi Dzilalil Qur‟an, diantaranya adalah:
1. Disertasi yang ditulis oleh Ahmad Izzan dengan judul Iklusifisme tafsir: Studi relasi muslim dan non-Muslim dalam tafsir al-Mizan. Sebagai syarat meraih gelar Doktor pada Program Doktoral Sekolah Pasca Sarjana Uin Syarif Hidayatullah Jakarta.22 Dalam disertasi tersebut penulis mengkaji tentang Studi terhadap tafsir Tabataba‟I terkait relasi Muslim dan non Muslim diderivasi pada tema pluralitas agama, kebebasan beragama, toleransi agama, dialog dan solidaritas dengan non-muslim, dan pemeliharaan tempat-tempat ibadah, didapat kesimpulan bahwa, tafsir yang dibangun atas dasar paradigma inklusif terkait relasi muslim dengan
22 Dr. Ahmad Izzan, M.Ag. Disertasi. Dengan Judul Iklusifisme Tafsir:
Studi Relasi Muslim Dan Non-Muslim Dalam Tafsir Al-Mizan. Karya Dipertahankan Di Program Doktoral Sekolah Pasca Sarjana Uin Syarif Hidayatullah Jakarta.
19
non-muslim menghasilkan sikap apresiatif terhadap pemeluk agama lain (non-Islam).
2. Disertasi yang ditulis oleh Evra Willya Dengan judul: Fiqh hubungan antar umat beragama menurut Thabathaba‟I dalam tafsir al-Mizan. Sebagai syarat meraih gelar doktor pada Sekolah pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2008.23 Dalam disertasi tersebut penulis mengkaji tentang Diskursus hubungan antar umat beragama saat ini menjadi persoalan penting yang dihadapi manusia, karena adanya klaim kebenaran dan keselamatan dari masing-masing agama, yang memicu terjadinya konflik antar umat beragama yang sangat menganggu tertatanya kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu diperlukan fiqh hubungan antar umat beragama yang dipahami secara universal oleh semua pemeluk agama dalam pergaulan hidup di tengah-tengah masyarakat yang mungkin mengalami perubahan.
3. Tesis yang ditulis oleh Agustin hanapi Dengan judul: Muamalah Muslim dengan non muslim menurut Muhammad Abduh (Studi tentang nikah, makanan, sembelihan, jizyah serta muamalah dalam pengembangan dakwah islamiyah). Sebagai syarat meraih gelar Magister dalam ilmu agama Islam di Fakultas syari‟ah program pascasarjana (S2) universitas islam negeri syarif hidayatullah Jakarta. 2004.24 Dalam tesis tersebut penulis mengkaji tentang
23 Disertasi. Dengan Judul: Fiqh Hubungan Antar Umat Beragama Menurut Thabathaba‟I Dalam Tafsir Al-Mizan. Karya Evra Willya. Dipertahankan Di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2008.
24 Tesis. Dengan Judul: Muamalah Muslim Dengan Non Muslim Menurut Muhammad Abduh (Studi Tentang Nikah, Makanan, Sembelihan, Jizyah Serta Muamalah Dalam Pengembangan Dakwah Islamiyah). Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Dalam Ilmu Agama Islam Oleh Agustin Hanapi.
Dipertahankan Di Fakultas Syari‟ah Program Pascasarjana (S2) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2004.
20
Muhammad Abduh yang telah memberikan sumbangan besar bagi dunia Islam dibidang pemikiran, pola pemahamannya tentang muamalah dengan non muslim cukup moderat. Usaha besar dengan nilai yang cukup besar, tampaknya niscaya akan dijadikan sebuah bahan cermatan dan penelitian bagi pemerhati masalah muamalah dengan non muslim secara professional dan kemudian mengarahkan pandangan kita kepada khazanah keilmuan pada bidang yang lain.
4. Piagam Madinah (bentuk teks asli ada di lampiran)
Dalam dokumen kesepakatan yang dikenal dengan Piagam Madinah, penyebutan Piagam Madinah adalah ash-Shifah sebagai nama yang dipergunakan dalam dokumen tersebut, disebut sebanyak 8 kali (pada pasal 22, 37, 39, 42 (dua kali), 46 (tiga kali) sementara sebutan “kitab”: tertulis dua kali yaitu pada pembukaan dan penutup.
Setidaknya ada tiga peristilahan untuk penamaan terhadap sahifah, yaitu: treaty (perjanjian), charter (piagam) dan constitution (konstitusi).25 Pertama, treaty (perjanjian), istilah ini mengandung arti suatu perjanjian antara dua atau lebih golongan, atau antar pemerintahan untuk bekerja sama. Penamaan itu karena sebagai perjanjian antara Muhajirin dan Anshar yang merupakan komunitas Muslim dan antara kaum muslimin dan kaum Yahudi serta sekutu- sekutunya agar terhindar dari pertentangan suku dan bersama-sama mempertahankan keamanan kota. Kedua, charter (piagam), istilah itu mengandung arti suatu dokumen yang menjamin hak-hak, kekuasaan-kekuasaan, dan kewajiban-kewajiban tertentu, baik piagam badan yang memerintah suatu negara, piagam universitas, piagam badan hokum, maupun piagam yang memberikan kekuasaan
25 Lihat lebih lanjut dalam J. Suyuthi Pulungan, Prinsip-Prinsip Pemerintahan Dalam Piagam Madinah Ditinjau Dari Pandangan Al-Qur‟an, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 113-115.
21
kepada suatu masyarakat. Penamaan ini karena isinya mengatur kewajiban-kewajiban kemasyarakatan serta pembentukan persatuan dan kesatuan semua warga dan prinsip-prinsipnya untuk menghapuskan tradisi dan peraturan kesukuan yang tidak baik.
Ketiga, constitution (konstitusi), istilah ini merupakan prinsip- prinsip pemerintahan yang bersifat fundamental dalam suatu bangsa atau pernyataan secara tidak langsung mengenai peraturan- peraturan, institusi-institusi, dan kebiasaan-kebiasaan baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Penamaan ini karena didalamnya terdapat prinsip untuk mengatur kepentingan umum dan dasar-dasar social politik untuk membuat masyarakat dan pemerintahan sebagai wadah persatuan penduduk Madinah. Walaupun dinamakan dengan tiga istilah tersebut, namun bentuk dan muatan sahifah tidak menyimpang dari pengrtian ketiga istilah tersebut.
5. Declaration of Human Right (bentuk teks asli ada di lampiran)
Konsep modern tentang Hak Asasi Manusia merupakan anak kandung kebudayaan Barat abad ke-18. Ia lahir dari Rahim modernitas Barat, ketika teori sekuler modern tentang hukum alam diterima para filosof Zaman pencerahan. Teori hukum alam itu kemudian diperluas cakupannya, dan lahirlah kesepakatan luas tentang prinsip hak-hak alamiah manusia. Didorong, antara lain, oleh Revolusi Perancis (1789-1799), Revolusi Amerika, dan berakhirnya Perang Dunia II (1939-1945) dengan kekalahan fasisme Jerman, Italia, dan Jepang. Prinsip hak-hak alamiah manusia itu kemudian ditetapkan dalam Piagam Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Revolusi PBB nomor 217 A (III) pada tanggal 10 Desember 1948 yang dinyatakan sebagai the Universal Declaration
22
of Human Right (Deklarasi Universal tentang HAM). Deklarasi ini mengesahkan 30 pasal tentang Hak-Hak Asasi Manusia yang dapat dikelompokkan menjadi: (a) personal Rights (Hak Asasi Pribadi), (b) Property Rights (Hak Asasi Ekonomi), (c) Legal Equality Rigths (Hak Asasi untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan), (d) Political Rights (Hak Asasi Politik), (e) Sosial and Cultural Rights (Hak Sosial dan Kebudayaan), (f) Procedural Rights (Hak Asasi untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan.26