BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
3. Kajian Tentang Kendala Yang Dihadapi Orang tua Dalam
a. Pengertian kendala yang dihadapi orang tua
Kendala yang dihadapi orang tua di rumah merupakan berkaitan di lingkungan tempat anak tinggal sangat mempengaruhi perilaku anak setiap hari. Pengaruh lingkungan sangat kuat sekali pengaruhnya terhadap prilaku anak sehingga orang tua hendaknya dapat mengontrol prilaku anak dalam kesehariannya. Peran lingkungan yang sangat berpengaruh dalam prilaku anak maka orangtua dapat memberikan landasan yang kuat kepada anak melalui pendidikan agama dan memberikan kasih sayang yang penuh kepada anak agar anak terpengaruh dengan lingkungan.
Kendala yang dihadapi orang tua merupakan kuranya waktu bersama anaknya akibat kesibukan pekerjaan diluar rumah sehinga kurang perhatian dan kasih sayang kepada kedua orangtuanya serta kurangnya pengetahuan mendidik anak dalam mengajarkan mengenai agama. Pergaulan anak dalam lingkungan dan pemahaman dan kesadaran anak iru sendiri.
Kendala orang tua dalam mendidik anak-anaknya:
1. Orang tua sulit untuk mengontrol kemarahan saat anak melakukan kesalahan bahkan kesalahan kecilpun sudah
membuat orang tua teriak-teriak dengan nada tinggi yang membuat anak itu merasa ditekan dan merasa terpukul.
2. Stress menghadapi anak yang sulit diatur sehingga mengatur memusuhi anak dan mendiamkan anak terlalu lama
3. Sering menghukum anak dengan tindakan keras baik itu mencaci maki,mengejek,merendahakan harga diri anak, memukul atau menampar anak,dan mengurung anak tanpa mengasihani anak itu sendiri
4. Terlalu egois dalam bayangan terhadap anak tanpa mempertimbangkan perasaan anak
5. Kebingungan dalam lingkungan anak sehingga selalu terjadi konflik dengan anak setiap waktu
6. Anak mengalami trauma mendalam terhadap perlakuan orang- orang tuanya
7. Orang tua yang ingin menghilangkan masa lalunya yang penuh dengan kekerasan dari orangtua nya dulu
8. Orang tua yang ingin melihat bagaimana mengatasi dan membimbing anaknya lebih lanjut sehingga perkembangan anak yang terjamin baik
b. Kendala dalam mendidik anak
Melakukan suatu pekerjaan kerap kali muncul kendala- kendala yang dapat menghambat proses pelaksanaan pekerjaan tersebut juga dapat menggagalkan tujuan yang hendak dicapai.
Begitupun dalam mendidik anak tidak sedikit kendala yang harus dihadapi oleh orang tua antara lain:
1. Kendala Internal
Merupakan sumber dari dalam pribadi anak. kendala- kendala itu dapat berupa anak malas untuk belajar, keinginan bermain yang berlebihan, sikap tidak mau mendidik atau sikap melawan, gangguan kesehatan, seperti tua daksa, tua grahita, dan lain-lain.
2. Kendala Eksternal
Merupakan sumber dari luar anak. kendala-kendala itu dapat berupa perilaku orang tua yang terlalu keras, terlalu otoriter, terlalu memanjakan, terlalu khawatir, terlalu lemah, terlalu egois, terlalu pesimistis, terlalu banyak aturan dan permintaan, dan hubungan yang kurang harmonis dengan anak.
Kendala lain yang termasuk kendala eksternal merupakan keadaan ekonomi keluarga yang kurang menguntungkan, hubungan antara ayah dan ibu yang tampak dimata anak kurang harmonis karena sering bertengkar dihadapan anak. hubungan dengan kakak atau adik yang kurang harmonispun dapat menjadi kendala eksternal. Tidak sedikitpun kasus keributan, konflik di antara sesame anak di dalam sebuah keluarga dengan berbagai penyebabnya.
Lingkungan keluarga dalam perkembangan anak dapat diberikan melalui pengawasan intern dan ekstem. Mewujudkan generasi anak yang terbaik dan dapat dilakukan melalui keahlian dan kesabaran untuk memberikan sistim pendidikan. Untuk mewaspadai keutuhan sikap dan prilaku tumbuh kembangnya anak baik dari aspek sikap, prilaku dan pertumbuhan sesial anak yang selalu berbaur dengan keadaan lingkungan disekitarnya.
Lingkungan keluarga terinteraksi dengan peran sekolah dan masyarakat. Banyak orangtua yang sibuk dengan hanya mempercayakan perkembangan anaknya kepada sekolah (pendidik/guru) dan memperkerjakan kepada masyarakat (pembantu) untuk mengurus anaknya tanpa mengontrol perkembangan dari anaknya sehingga sikap dan pribadi anak beragam sesuai dengan dengan situasi dan kondisi yang didapatkannya.
Orang tua dapat menjadi jiwa yang adaptasi terhadap perkembangan anaknya, menyiapkan orangtua pendamping yang baik ketika orangtua melaksanakan pekerjaan di luar rumah agar anaknya dapat tumbuh lebih baik dan mempersiapkan anaknya dengan memilihkan tempat yang aman dan nyaman untuk perkembangan anaknya yang seutuhnya melalui proses transfer nilai. Kebanyakan orangtua yang berpandangan bahwa apabila mereka mengirimkan anaknya kesekolah dengan mempercayakan
sekolah dapat memperbaiki dan merubah pola tingkah laku anaknya dan merasa bahwa mereka tidak akan berurusan lagi dengan pendidikan untuk bekal pertumbuhan anaknya.
Keadaan rumah yang kurang memenuhi derajat kesehatan dan kurang akomodatif bagi seluruh anggota keluarga juga menjadi bentuk lain dari kendala eksternal dalam mendidik anak. yang termasuk kendala eksternal merupakan lingkungan dan bentuk pergaulan yang bebas. Keadaan lingkungan yang kurang mendukung terhadap upaya mendidik antara lain tidak teraturnya tata bangun perumahan atau pemukiman yang bercampur aduk dengan tempat-tempat hiburan, terlalu dekat dengan pusat-pusat keramaian, pusat pembelajaran, dan lain-lain. Sedangkan pergaulan bebas merupakan pergaulan hidup anak-anak manusia yang mengabaikan berbagai normal kehidupan yang berlaku.
Faktor yang menjadi partisipasi orangtua pada pengelolaan lembaga PAUD yang paling tinggi adalah faktor waktu, dimana faktor ini menjadi penentu bisa atau tidaknya orang tua terlibat dalam kegiatan yang memberikan kesempatan untuk berpartisipasi.
Kemudian faktor materi atau uang, banyaknya orang tua yang merasa tidak memiliki materi berlebihan menyebabkan keterbatasan dan menjadi kendala untuk perpartisi pasi dalam kegitian pengelolaan lembaga PAUD.
Faktor kendala yang selanjutnya merupakan latar belakang pendidikan yang berbeda, menjadikan orangtua merasa tidak memiliki kompetensi atau tidak layak untuk turut berpartisispasi secara langsung dalam pengelolaan lembaga PAUD. Faktor terakhir adalah tidak pahamnya orang tua tentang anak usia dini mengenai pengertian,tujuan,esensi, dan inti dari pendidikan anak usia dini hal ini menyebabkan orang tua lebih mempercayakan setiap kegiatan anaknya pada lembaga PAUD tanpa mau terlihat langsung. Menuntut lembaga untuk memberikan hasil yang positif dan progresif tanpa harus terlibat orang tua yang seperti ini seringkali berpikir bahwa lembaga bertanggung jawab karena orangtua telah membayar lembaga.
Semenjak manusia lahir telah dipengaruhi oleh keluarga dalam pengertian yang sederhana merupakan badan terkecil dari masyarakat yang terbentuk karena adanya ikatan perwakilan.
Sebagaimana kelompok sosial lainnya, keluarga melakukan berbagai fungsi dan peranannya masing-masing. Orang tua memiliki peranan dan fungsi sebagai pelindung dan pemelihara terhadap anak-anaknya dari berbagai kemungkinan yang dapat mengancam kehidupan anak.
Pendidikan dan pengajaran yang diditerima dari sekolah formal, tidak sepenuhnya dapat mengubah perilaku remaja akan tetapi dapat dipahami bahwa pondasi kepribadian yang kokoh itu
bagi anak merupakan dibangun oleh kedua orang tuanya baru kemudian lingkungan yang lebih luas. Banyak rutinitas orangtua tersebut menyebabkan timbulnya problem bagi orangtua, karena orang tua tidak lagi mempunyai kesempatan untuk mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan memberikan perhatian serta pengawasan langsung terhadap pembinaan.
Salah satu tugas orang tua sebagai motivator terhadap anaknya, motivator yang diberikan sangat berperan penting dalam mendorong anak sehingga timbul keinginan untuk belajar dan guru harus mampu mengenali motif-motif yang melatar belakangi permasalahan anak. serta orang tua sebagai pembimbinbg yang mampu membimbing anak didiknya menjadi manusia dewasa, susila dan cakap.
Orang tua juga dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab atas kelancaran perjalanan. Sebagai orangtua yang memberikan bimbingan dan membantu dalam penyelesaian berbagai masalah yang dihadapi anaknya, orangtua diharapkan mampu untuk memberikan berbagai informasi yang diperlukan dalam proses belajar anaknya membantu setiap anak dalam mengatasi masalah yang dihadapi.
c. Kemampuan berbicara anak usia 4-6 tahun 1. Pengertian berbicara anak usia dini
Kemampuan berbicara merupakan kemampuan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan kepada orang lain.
Penggunaan bahasa lisan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya pelafalan, intonasi, pilihan kata, struktur kata dan kalimat, isi pembicaraan, cara memulai pembicaraan dan mengakhiri pembicaraan.
Kemudian berbicara pada dasarnya harus memiliki oleh semua orang yang du dalam kegiatannya membutuhkan komunikasi, baik yang sifatnya satu arah maupun yang timbal balik ataupun keduanya. Seseorang yang memiliki keterampilan berbicara yang baik akan memiliki kemudahan di dalam pergaulan baik itu dirumah, disekolah, maupun di tempat lain. dengan kemampuan segala pesan yang disampaikan akn mudah dicerma sehingga komunuikasi dapat berjalan lancar dengan siapa saja.
Berbicara merupakan suatu keterampilan berbahasa yang berkembangan pada kehidupan anak yang hanya didahulu oleh keterampilan menyimak dan pada masa tersebutkan kemampuan berbicara dipelajari lingguis dalam tarigan.
Berbicara.
Kemampuan berbicara pada dasarnya harus dimiliki oleh semua orang yang didalam kegiatannya membutuhkan komunikasi baik yang sifatnya satu arah maupun yang timbal balik ataupun keduanya. Seseorang yang memiliki keterampilan berbicara yang baik akan memiliki kemudahan didalam pergaulan, baik dirumah, disekolah, maupun ditempat lain.
Berbicara juga merupakan alat komunikasi terpenting dalam kelompok. Anak belajar bagaimana berbicara dengan baik dalam komunikasi dengan orang lain bertambahnya kosa kata yang berasal dari berbagaisumber menyebabkan semakin banyak perbendaharaan kata yang memiliki. Anak mulai menyadari bahwa komunikasi yang bermakna tidak dapat dicapai bila anak tidak mengerti apa yang dikatakan oleh orang lain.
Berbicara merupakan tuntutan kebutuhan hidup manusia sebagai makhluk sosial, manusia akan berkomunikasi dengan orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alam utamanya. Berbicara merupakan kegiatan berbahasa yang penting dalam kehidupan sehari-hari dengan berbicara seseorang dapat mengungkapkan pikiran sddan perasaanya kepada orang lain secara lisan.
2. Tujuan berbicara pada anak usia dini
berbicara merupakan suatau alat untuk mengkomunikasi gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau menyimak. Adapun tujuan utama berbicara merupakan untuk berkomunikasi agar anak dapat menyampaikan pikiran secara efektiv, sang pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin di berkomunikasi.
Ada 4 tujuan umum dalam berbicara anak suhartono mengemukakan:
a. Memiliki perbendaharaan kata yang cukup yang diperlukan untuk berkomunikasi sehari-hari
b. Mau mendengarkan dan memahami kata-kata serta kalimat c. Mampu mengungkapkan pendapat dan sikap dengan lafal
yang tepat
d. Berminat menggunakan bahasa yang bbaik. Berminat untuk menghubungkan anatara lisan dan tulisan.
d. Kendala kemampuan berbicara anak
Kendala yang muncul pada anak disini merupakan anak menggamati bunyi-bunyi huruf yang dibuat di depan mulut yaitu huruf (G menajdi D, dan K menjadi T). Anak juga mengubah suatu konsonan dalam sebuah kata untuk membuatnya serupa dengan konsonan lain dalam kata tersebut merupakan huruf T dan C, anak
menggamati bunyi-bunyi huruf tertentu yang sulit diucapkan menajdi bunyi yang mudah diucapkan yaitu (Fmenjadi P, S menajdi T, H menjadi A, J menjadi D, Z menajdi D).
Penggunaan suara yang berlebihan kondisi ini marupakan dimana anak-anak terlalu banyak mengeluarkan suara yang berlebihan seperti berteriak, mengeram, atau menirukan suara sesuatu, bernyanyi, berbicara tanpa henti yang dapat mengakibatkan parau yang kronis. Kendala ini tidak muncul pada subjek yang diteliti, anak yang tidak berteriak ketika berbicara tidak menggeram dan tidak berbicara tanpa henti justru anak malah jarang berbicara.
Kendala berbicara yang terjadi pada anak usia dini dapat memperngaruhi kemampuan berbicara anak bahkan kendala atau masalah yang umum terjadi pada kemampuan bebricara anak merupakan cadel. Dayer mengemukakan cadel merupakan salah satu kesalahan bicara yang lazim dan dapat digolongkan menjadi dua jenis dasar yaitu cadel sentral (interdental) dan cadel lateral.
Cadel sentral terjadi apabila lidah seorang anak menonjol keluarga dari antara gigi-gigi depan dan aliran udara diarahkan ke depan dan kebawah menuju tengah lidah. Banyak anak yang mengalami cadel sental samapai mereka berusia 4-6 tahun dan banyak juga yang sembuh dengan sendirinya. Sedangkan cadel lateral terjadi apabila udara keluar dari sekitar sisi-sisi lidah
bukannya dari tengah, jenis cadel ini bukan merupakan bagian dari urutan perkembangan normal dan cenderung tidak menghilang dengan sendirinya.
Kendala proses fonologis anak-anak menyederhanakan bunyi-bunyi bahasa yang kompleks ketika mempelajari bahasa.
Kendala proses fonologi ini ditandai dengan adanya penggantian bunyi-bunyi tertentu atau penghilangkan pada bunyi-bunyi terntu suatu kata yang dicapai oleh tidak ada pengulangan kata, tidak ada perpanjangan kata dan tidak terputus-putus ketika mengucapkan kata.
e. Indikator kendala yang di hadapi orang tua dalam meningkatkan kemampuan berbicara anak
Ada beberapa indikator yang mengenai kendala:
1. Orang tua selalu berusaha dalam meningkatkan kemampuan berbicara anak menghadapi kesulitan
2. Orang tua mengajak anak berbicara saat anak nonton televisi atau saat anak bermain akibatnya anak kurang fokus menjawab pertayaan orang tua.
3. Orang tua kerap mengeluh karena anak mereka tak terbuka menceritakan hal-hal yang mereka alami apalagi mencurahkan isi hatinya akibatnya anak malas berbicara.
4. Penting untuk orang tua harus cari tahu apa penyebab kemarahan anak atau gampang emosi dan berusaha mengajak anak berbicara bahkan membantunya mengontrol emosi.
5. Orang tua perlu melatih diri anak agar bisa lebih berani atau percaya diri dengan mengajak anak berbicara tentu dapat membantu mengembangkan dirinya.
G. Metode Penelitian