• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN

B. Kajian Teori

1. Peran Alumni Pesantren a. Peran

Peranan adalah tindakan yang dilakukan orang atau sekelompok orang dalam suatu peristiwa, peranan merupakan perangkat tingkah laku yang diharapkan, dimiliki oleh orang atau seseorang yang berkedudukan di masyarakat. Kedudukan dan peranan adalah untuk kepentingan pengetahuan, keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain Menurut Soerjono Soekanto Pengertian Peranan adalah sebagai berikut: Peranan merupakan aspek dinamis kedudukan (status) apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya maka ia menjalankan suatu peran. Peran yang bisa disebut juga dengan peranan (role) memiliki beberapa arti:

1) Aspek dinamis kedudukan

2) Perangkat hak-hak dan kewajiban

3) Perilaku aktual dari pemegang kedudukan

4) Bagian aktivitas yang dimainkan oleh seseorang10 b. Alumni

Alumni Menurut Oxford Avanced Learnes Dictionari, alumni adalah mantan siswa atau peserta didik pada sekolah, lembaga, atau univeritas tertentu.11 Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia alumni merupakan orang-orang yang telah mengikuti atau

10 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada) 212-213

11 Oxford Advanced Learnes Dictionary. 1995. Oxford: Oxford University Press.

tamat dari suatu sekolah atau perguruan tinggi.12 Berdasarkan dua definisi tersebut dapat diketahui bahwa alumni merupakan peserta didik yang telah menyelesaikan pendidikan pada suatu lembaga pendidikan baik itu pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Alumni merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam sebuah siklus pendidikan. Alumni menjadi penghubung sekolah dengan kampus dan dunia global. Alumni juga berfungsi sebagai media yang menyampaikan visi dunia kepada sekolah. Alumni juga membawa manfaat tersendiri bagi sekolah atau perguruan tinggi, baik dalam bentuk akademik maupun bidang pragmatis, seperti pemutakhiran kurikulum berbasis relevansi dengan kebutuhan pasar atau dunia kerja, dan contnuing education yaitu sekolah atau perguruan tinggi dapat dikembangkan menjadi media belajar sepanjang hayat bagi alumni. Dari penjelasan tersebut perlu dilakukan penelusuran alumni salah satunya dengan cara penyebaran kuesioner yang bertujuan untuk mengetahui kualitas alumni, mendapatkan masukan informasi penting bagi pengembangan sekolah atau perguruan tinggi mendapatkan masukan bagi perbaikan kurikulum, dan sebagai bahan evaluasi untuk proses akreditasi.

c. Pesantren

Istilah pondok pesantren merupakan gabungan dari dua kata yang mempunyai satu arti yaitu dari kata “pondok” dan “pesantren”.

12 Kamus Besar Bahasa Indonesia.2015.(online),(KBBI.Web.id), diakses tanggal 30 Agustus 2015.

Pondok bisa diartikan sebagai tempat tinggal yang biasanya terbuat dari bambo sedangkan pesantren bisa di artikan sebagai sekolah islam yang mempunyai asrama atau pondok. Pesantren secara etimologi berasal dari kata santri yang mendapat awalan pe- dan akhiran -an sehingga menjadi pe-santria-an yang bermakna kata "shastri yang artinya murid. Sedang C.C. Berg. berpendapat bahwa istilah pesantren berasal dari kata shastri yang dalam bahasa India berart seorang sarjana ahli kitab-kitab suci agama Hindu. Kata shastri berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku suci agama atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan. Pendapat lain mengatakan, kata santri berasal dari kata Cantrik (bahasa Sansekerta, atau mungkin jawa) yang berart dikembangkan oleh Perguruan Taman Siswa dalam sistem asrama yang disebut Pawiyatan.13 Istilah santri juga ada dalam bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji.

M. Dawam Rahardjo memberikan pengertian pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan dan penyiaran agama Islam, itulah identitas pesantren pada awal perkembangannya. Sekarang setelah terjadi banyak perubahan di masyarakat, sebagai akibat pengaruhnya, definisi di atas tidak lagi memadai, walaupun pada intinya nanti pesantren tetap berada pada fungsinya yang asli, yang selalu dipelihara di tengah-tengah perubahan yang deras. Bahkan karena menyadari arus perubahan yang kerajp kali tak terkendali itulah, pihak luar justru

13 Nurcholish Madjid, Bilik-bilik Pesantren, Sebuah Potrect Perjalanan, (Jakarta, Paramadina,1977), hal 20.

melihat keunikannya sebagai wilayah sosial yang meng terhadap dampak modernisasi.

Abdurrahman Wahid, mendefinisikan pesantren secara teknis, pesantren adalah tempat di mana santri tinggal. Mahmud Yunus, mendefinisikan sebagai tempat santri belajar agama Islam.

Abdurrahman Mas'ud, mendefinisikan pesantren refers to a place where the santri devotes most of hisor her me to live in and acquire knowledge. mengacu pada tempat di mana para santri mencurahkan sebagian besar waktunya untuk Hisor hidup dan memperoleh pengetahuan.

Imam Zarkasyi, secara definitif mengartikan pesantren sebagai pondok, di mana kyai sebagai figur sentralnya, mesjid sebagai pusat pengajaran agama Islam dibawah bimbingan kyai yang diikuti santri sebagai kegiatan lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau kegiatan yang menjiwainya, dan utaman ya. Secara singkat pesantren bisa juga dikatakan sebagai laboratorium kehidupan, tempat para santri belajar hidup dan bermasyarakat

2. Pendidikan Keagamaan a. Pendidikan

Pendidikan adalah pembelajaran, pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Dan juga merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan

martabat manusia, dan berlangsung sepanjang hayat, yang dilaksanakan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu pendidikan dalam proses mencapai tujaunnya perlu dikelola dan berlangsung.

Masyarakat merupakan tanggug jawab bersama antara kelompok dalam suatu sistem terpadu dan serasi Pendidikan berasal dari kata "pedagogi" yang berarti pendidikan dan kata "pedagogia"

yang berarti ilmu pendidikan yang berasal dari bahasa Yunani.

Pedagogia terdiri dari dua kata yaitu "Pacdos" dan "Agoge" yang berarti "saya membimbing, memimpin anak.14 Dari pengertian ini pendidikan dapat diartikan kegiatan seseorang dalam membimbing dan memimpin anak menuju kepertumbuhan dan perkembangan secara optimal agar dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab. Ahmad D.

Marimba memaknai pendidikan sebagai bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.15 H.

Muhamad Daud Ali, berpendapat bahwa pendidikan adalah usaha oleh manusia untuk mengembangkan potensi manusia lain atau memindahkan nilai-nilai yang dimilikinya kepada orang lain dalam masyarakat.16

14 Bab 1 Pasal 1Ayat 1 UUD No.20 Tahun 2003

15 Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam (Bandung , Al-Ma’arif, 1996). 166.

16 H. Muhammad Daud Ali dan Hj. Habiba Daud, Lembaga-lembaga Islam di Indonesia (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 1995), 137.

b. Keagamaan

Keagamaan adalah sifat yang terdapat dalam agama segala sesuatu mengenai agama atau usaha yang dilakukan seseorang atau perkelompok yang dilaksanakan secara kontinu (terus-menerus) maupun yang ada hubunganya dengan nilai-nilai keagamaan. Contoh:

ceramah keagamaan, peringatan hari-hari besar Islam, shalat berjama’ah, shalat sunah rawatib, tadarus Al-Qur’an dan lain-lain.

Pengertian Agama dan Religiusitas Banyak ahli menyebutkan agama berasal dari bahasa Sansakerta. yaitu a yang berarti tidak dan

"gama" yang berarti kacau. Maka agama berarti tidak kacau (teratur).

Dengan demikian agama itu adalah peraturan, yaitu peraturan yang mengatur keadaan manusia, maupun mengenai sesuatu yang gaib, mengenai budi pekerti dan pergaulan hidup bersama.17 Menurut Daradjat agama adalah proses hubungan manusia yang dirasakan terhadap sesuatu yang diyakininya, bahwa sesuatu lebih tinggi dari pada manusia. Sedangkan Glock dan Stark mendefinisikan agama sebagai sistem simbol, sistem keyakinan, sistem nilai, dan system perilaku yang terlembaga, yang kesemuanya terpusat pada persoalan- persoalan yang dihayati sebagai yang paling maknawi.18

17 Faisal Ismail, Paradigma Kebudayaan Islam: Studi Kritis dan Refleksi Historis, (Jogyakarta, Titian Ilahi Press, 1997). 28

18 Drajat Zakiyah, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta, Bulan Bintang,2005), 10.

Dokumen terkait