BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
B. Kajian Teori
a. Tingkat Religiusitas 1) Pengertian Religiusitas
Religiusitas menurut Glock dan Stark adalah tingkat konsepsi seseorang terhadap agama dan tingkat komitmen seseorang terhadap agamanya. Glock dan Stark mengemukakan bahwa agama adalah sistem symbol, sistem keyakinan, sistem nilai, dan sistem perilaku yang terlembagakan, yang semuanya itu berpusat pada persoalan- persoalan yang dihayati sebagai yang paling maknawi (ultimate meaning)20
Menurut Harun Nasution, pengertian agama berasal dari kata Al- Din, religi (relegere, religare) dan agama. Al-Din (semit) berarti undang-undang atau hukum.Kemudian dalam bahasa Arab, kata ini mengandung arti menguasai, menundukan, patuh, utang, balasan dan kebiasaan. Sedangkan kata religi (latin) atau relegere, berarti mengumpulkan dan membaca. Kemudian religare berarti mengikat.
19Nurul Khotimah.“Pengaruh Religiusitas…………, hlm. 37-48.
20Djamaludin Ancok dan Fuad Nasori Suroso, Cetakan VIII, Psikologi Islam: Solusi Islam Atas Problem-Problem Psikologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hlm. 77-78.
Adapun kata agama terdiri dari a= tidak, gam= pergi, mengandung arti tidak pergi, tetap ditempat atau diwarisi secara turun temurun. Bertitik tolak dari pengertian kata-kata tersebut, menurut harun nasution intisarinya adalah ikatan. Oleh karena itu, agama mengandung arti sebagai ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi oleh manusia.21
Menurut Taib Thahir Abdul Mu‟in agama adalah suatu peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal untuk dengan kehendak dan pilihannya sendiri mengikuti peraturan tersebut, guna mencapai kebahagiaan hidupnya didunia dan akhirat.22
2) Dimensi Religiusitas
Menurut Glock & Stark, terdapat lima dimensi religiusitas yaitu:
a) Dimensi Keyakinan Atau Ideologis
Dimensi keyakinan adalah tingkat sejauh mana seseorang menerima hal-hal yang dogmatic dalam agamanya, misalnya kepercayaan kepada Tuhan, malaikat, surga dan neraka. Pada dasarnya, setiap agama juga menginginkan adanya unsur ketaatan bagi setiap pengikutnya. Adapun dalam agama yang dianut oleh seseorang, makna yang terpenting adalah kemauan untuk mematuhi aturan yang berlaku dalam ajaran agama yang dianutnya. Jadi, dimensi keyakinan lebih bersifat doktriner yang harus ditaati oleh penganut agama. Dengan sendirinya, dimensi keyakinan ini
21Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2011) hlm. 12.
22Taib Thahir Abd. Mu‟in, Ilmu Kalam, (Jakarta: Widjaya, 1996), hlm. 121.
menuntut dilakukannya praktek-praktek peribadatan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
b) Dimensi Praktik Agama Atau Ritualistik
Dimensi praktik agama yaitu tingkatan sejauh mana seseorang mengerjakan kewajiban-kewajiban ritual dalam agamanya. Unsur yang ada dalam dimensi ini mencakup pemujaan, ketaatan, serta hal- hal yang lebih menunjukan komitmen seseorang dalam agama yang dianutnya. Wujud dari dimensi ini adalah perilaku masyarakat pengikut agama tertentu dalam menjalankan ritual-ritual yang berkaitan dengan agama. Dimensi praktik dalam agama Islam, dapat dilakukan dengan menjalankan ibadah sholat, puasa, zakat, haji ataupun praktek muamalah lainnya.
c) Dimensi Pengalaman Atau Eksperensial
Dimensi pengalaman adalah perasaan-perasaan atau pengalaman yang pernah dialami dan dirasakan. Misalnya merasa dekat dengan tuhan, merasa takut berbuat dosa, merasa doanya dikabulkan, diselamatkan oleh tuhan dan lain sebagainya.
d) Dimensi Pengetahuan Agama Atau Intelektual
Dimensi pengetahuan agama adalah dimensi yang menerangkan seberapa jauh seseorang mengetahui tentang ajaran-ajaran agamanya terutama yang ada di dalam kitab suci maupun yang lainnya. Paling tidak seseorang yang beragama harus mengetahui hal-hal pokok mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab
suci dan tradisi. Dimensi ini dalam Islam meliputi pengetahuan tentang isi Al-Quran, pokok-pokok ajaran yang harus diimani dan dilaksanakan, hukum Islam dan pemahaman terhadap kaidah-kaidah keilmuan ekonomi Islam perbankan syariah.
e) Dimensi Konsekuensi
Adalah dimensi yang mengukur sejauh mana perilaku seseorag dimotivasi oleh ajaran-ajaran agamanya dalam kehidupan social, misalnya apakah ia mengunjungi tetangganyayang sakit, menolong orang yang kesulitan, mendermakan hartanya dan sebagainya.23 b. Pengetahuan
Menurut KBBI, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui, kepandaian, segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran).24 Menurut Plato, ”Pengetahuan terbagi menjadi alam non alamiah (pengetahuan ideal abadi yang bersifat trasenden, tidak berubah, sempurna, hasil tangkap akal budi), serta alam yang alamiah (pengetahuan particular biasa yang bersifat temporal, berubah, tidak stabil, tidak dapat dimengerti, tidak pasti, hasil tangkapan indera)”.25 Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, pengetahuan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan,
23Djamaludin Ancok dan Fuat Nasori Suroso, Psikologi Islami: Solusi Islam Atau Problem-Problem Psikologi, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2008), cet. VII, hlm. 77-78.
24Rukmana, “Definisi tahu”, dalam http://kbbi.web.id/tahu/. Diakses pada 7 November 2019 pukul 20.00.
25Dagun, Save M , Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara, 1997), Hlm. 817-818.
pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga.26
Pengetahuan konsumen adalah semua informasi yang dimiliki konsumen mengenai berbagai macam produk dan jasa serta pengetahuan lainnya yang terkait dengan produk dan jasa tersebut dan informasi yang berhubungan dengan fungsinya sebagai konsumen. Adapun pengetahuan yang harus diketahui responden dalam preferensi menabung pada bank syariah adalah sudah mengertikah perbedaan bank syariah dengan bank konvensional, tentang konsep bagi hasil pada tabungan syariah, tentang bunga atau riba adalah haram, serta apakah bunga atau riba bertentangan dengan ajaran agama. Iman dan ilmu (pengetahuan) merupakan landasan umat manusia untuk melakukan proses internalisasi dan transformasi dua modal hakiki dalam kehidupan. 27
Pengetahuan yang tinggi, merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi minat. Pengetahuan mengarah kepada pemahaman, pemahaman yang baik akan mampu mengukur besarnya manfaat yang akan diperoleh, sehingga memungkinkan untuk lebih mudah mengambil keputusan. 28 Engel, Blackwell dan Miniard membagi pengetahuan konsumen ke dalam tiga jenis pengetahuan :
26Ibid, hlm. 817-818.
27Fadhilatul Hasanah, "Pengaruh Tingkat Religiusitas, Pengetahuan, Kualitas Produk dan Kualitas Pelayanan Terhadap Preferensi Menabung Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palembang pada Bank Syariah", Balance Jurnal Akuntansi dan Bisnis, Vol 4, Juni 2019, hlm 489.
28Kristiyadi dan Sri Hartiyah, "Pengaruh Kelompok Acuan………., hlm. 46 .
1) Pengetahuan produk, adalah kumpulan berbagai macam informasi mengenai produk, merek, terminologi produk, atribut produk harga produk, dan kepercayaan mengenai produk. Pengetahuan produk adalah pengetahuan konsumen akan sesuatu produk yang akan ia beli, sehingga informasi yang didapat mengenai suatu produk akan bermacam-macam.
2) Pengetahuan pembelian, faktor pembelian adalah mencakupi bermacam potongan informasi yang dimiliki konsumen yang berhubungan erat dengan perolehan produk, lokasi pembelian produk, dan waktu pembelian.
3) Pengetahuan pemakaian, faktor pemakaian mencakup informasi yang tersedia di dalam ingatan mengenai bagaimana suatu produk dapat digunakan dan apa yang diperlukan untuk menggunakan produk tersebut.29
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoadmojo adalah:
1) Umur, yaitu lamanya hidup seseorang dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan. Semakin tinggi umur seseorang, maka semakin bertambah pula ilmu atau pengetahuan yang dimiliki, karena pengetahuan seseorang diperoleh dari pengalaman sendiri, maupun pengalaman yang diperoleh dari orang lain.
29Engel, Blackwell dan Miniard, Perilaku Konsumen, (Jakarta : Binarupa Aksara, 1994), hlm. 121-317.
2) Pendidikan, merupakan proses menumbuh kembangkanseluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui pengetahuan, sehingga dalam pendidikan perlu dipertimbangkan umur (proses perkembangan) dan hubungan denganproses belajar. Dengan pendidikan, manusia dianggap akan memperoleh pengetahuan implikasinya. Semakin tinggi pendidikan, hidup manusia akan semakin berkualitas, karena pendidikan yang tinggi akan membuahkan pengetahuan yang baik, yang menjadikan hidup yang berkualitas.
3) Paparan Media Masa, melalui berbagai media massa baik cetak maupun elektronik, maka berbagai informasi dapat diterima oleh masyarakat, sehingga seseorang yang lebih sering terpapar media masa akan memperoleh informasi yang lebih banyak, dan dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan yang dimiliki.
4) Sosial Ekonomi (Pendapatan), dalam memenuhi kebutuhan primer, maupun sekunder keluarga, status ekonomi yang baik akan lebih mudah tercukupi dibanding orang dengan status ekonomi rendah, semakin tinggi status sosial ekonomi seseorang, semakin mudah dalam mendapatkan pengetahuan, sehingga menjadikan hidup lebih berkualitas.
5) Hubungan Sosial, faktor hubungan sosial mempengaruhi kemampuan individu sebagai komunikan untuk menerima pesan menurut model komunikasi media. Apabila hubungan sosial
seseorang dengan individu baik, maka pengetahuan yang dimiliki juga akan bertambah.
6) Pengalaman, merupakan suatu sumber pengetahuan atau suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu.30 c. Minat Menabung
1) Pengertian Minat
Secara etimologi pengertian minat adalah perhatian, kesukaan (kecenderungan hati) kepada sesuatu keinginan31. Minat merupakan kecenderungan seseorang untuk membuat pilihan aktivitas, kondisi- kondisi individual dapat merubah minat seseorang. Sehingga dapat dikatakan minat itu tidak stabil sifatnya.32
Minat dalam kamus besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai sebuah kecenderungan hati yang tinggi terhadap suatu gairah atau keinginan. Minat adalah sebagai suatu keadaan dimana seseorang memiliki perhatian yang besar terhadap objek yang disertai dengan keinginan untuk mengetahui dan mempelajari hingga akhirnya membuktikan lebih lanjut tentang objek tersebut.33 Minat merupakan kecendrungan seseorang yang tetap memperhatikan dan mengenang
30Notoadmodjo, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm. 133.
31WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1982), hlm. 650.
32Muhaimin, Korelasi Minat Belajar Pendidikan Jasmani terhadap hasil Belajar Pendidikan Jasmani, (Semarang: IKIP, 1999), hlm. 4
33Nurul Khotimah, "Pengaruh Religiusitas…………, hlm. 40.
beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang dan diperhatikan secara terus menerus yang disertai dengan rasa senang yang tinggi terhadap sesuatu.34
2) Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Minat
Menurut Crow and Crow, berpendapat ada tiga faktor yang mempengaruhi timbulnya minat, yaitu :
a) Faktor Dorongan Dari Dalam
Artinya mengarah pada kebutuhan-kebutuhan yang muncul dari dalam individu, merupakan faktor yang berhubungan dengan dorongan fisik, motif, mempertahankan diri dari rasa lapar, rasa takut, rasa sakit dan juga dorongan ingin tahu membangkitkan minat untuk mengadakan penelitian dan sebagainya.
b) Faktor Motif Sosial
Mengarah pada penyesuaian diri dengan lingkungan, agar dapat diterima dan diakui oleh lingkungannya atau aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sosial seperti bekerja, mendapatkan status, mendapatkan perhatian dan penghargaan.
c) Faktor Emosional atau Perasaan
Mengartikan minat yang erat hubungannya dengan perasaan atau emosi. Keberhasilan dalam beraktifitas yang didorong oleh minat akan membawa rasa senang dan memperkuat minat yang
34Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), hlm.180.
sudah ada, sebaliknya kegagalan akan mengurangi minat individu tersebut.35