• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Teori

Dalam dokumen aktivitas jual beli pedagang kaki lima (Halaman 34-53)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Kajian Teori

1. Tinjauan Umum Tentang Jual Beli a. Pengertian Jual Beli

Secara bahasa Jual Beli merupakan pertukaran barang dengan barang, selain itu jual beli adalah istilah yang dapat digunakan untuk menyebut transaksi yang terjadi sekaligus, yaitu menjual dan membeli.19 Secara istilah jual beli adalah menukar barang dengan barang atau barang dengan uang dan melepaskan hak milik dari satu kepada yang lain dengan saling merelakan.20 Menurut Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanbilah yang dikutip Mardani, jual beli adalah tukar menukar harta dalam bentuk pemindahan kepemilikan.21

Menurut pasal 20 ayat 2 Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, jual beli adalah jual beli antara benda dengan benda, atau pertukaran antara benda dengan uang.22 Menurut syariat Islam, jual beli merupakan pertukaran harta tertentu dengan harta lain berdasarkan keridhaan antara keduanya atau dengan arti lain yaitu memindahkan hak milik dengan hak milik lain berdasarkan atas kesepakatan, persetujuan dan perhitungan materi.23 Menurut ulama Hanafiyah, jual beli adalah saling menukar harta dengan harta melalui cara tertentu, selain itu ulama Hanafiyah juga mendefinisikan bahwa jual

19 Imam Mustofa, “Fiqih Mu’amalah Kontemporer” (Kota Metro Lampung: STAIN Jurai Siwo Metro Lampung, 2014), 19.

20 Suhendi, Fiqih Muamalah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), 67.

21 Mardani, Fiqih Ekonomi Syariah (Jakarta: Kencana, 2012), 101.

22 Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) Pasal 20 ayat 2.

23 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Terjemahan Jilid 12, (Bandung: Al-Ma’arif, 1987) 121.

beli merupakan tukar menukar sesuatu yang diingini dengan yang sepadan melalui cara tertentu yang bermanfaat.24

Sedangkan menurut ulama Malikiyah, jual beli merupakan akad mu’awadah / timbal balik atas selain manfaat dan bukan pula untuk menikmati kesenangan. Selain itu ulama Malikiyah secara khusus mengartikan jual beli yaitu akad mu’awadah / timbal balik atas selain manfaat dan bukan pula untuk menikmati kesenangan, bersifat mengalahkan salah satu imbalannya bukan perak bukan emas, objeknya jelas dan bukan hutang.25

Menurut ulama Shafi’iyah, jual beli menurut syara’ adalah suatu akad yang mengandung tukar menukar harta dengan harta dan syarat yang akan diuraikan agar memperoleh kepemillikan atas suatu benda dan manfaat untuk waktu selamanya. Ulama Hanabilah mengemukakan bahwa jual beli dalam syara’ adalah tukar menukar harta dengan harta atau tukar menukar manfaat yang mubah dengan manfaat yang mubah untuk waktu selamanya, bukan riba atau bukan uang.26

Jadi, jual beli adalah tukar menukar barang dengan uang dan diikuti dengan pemindahan kepemilikan dari satu pihak kepada pihak lainnya dengan saling merelakan.

b. Dasar Hukum Jual Beli

24 M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), 113.

25 Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalat (Jakarta: Amzah, 2013), 175.

26 Muslich, Fiqh Muamalat, 176.

1) QS. Al-Baqarah Ayat 275





























































































Artinya: orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.

Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang- orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka;

mereka kekal di dalamnya.27 2) QS. Al-Baqarah Ayat 198

































27 Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta Timur:

Pustaka Al-Mubin, 2013), 26.























Artinya: tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu;

dan Sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar Termasuk orang-orang yang sesat.28

c. Rukun Dan Syarat Jual Beli 1) Rukun Jual Beli

a) Penjual dan pembeli sebagai pelaku transaksi b) Adanya barang sebagai objek dari transaksi c) Adanya ijab dan qabul (sighat)

d) Nilai tukar pengganti barang 2) Syarat Jual Beli

a) Syarat orang yang berakad, orang yang berakada memerlukan beberapa syarat sebagai berikut:

(1) Baligh dan Berakal

Orang yang berakad haruslah baligh dan berakal, sehingga mampu dalam memelihara harta dan agamanta serta telah cakap untuk melakukan tindakan hukum. Namun terdapat perbedaan pendapat ulama bahwa anak mumayyiz dan berakal sudah boleh

28 Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta Timur:

Pustaka Al-Mubin, 2013), 27.

melaksanakan jual beli. Mumayyiz berarti anak berumur 7 tahun yang sudah mengetahui baik dan buruk tetapi belum baligh.

(2) Saling Ridha

Saling rida artinya melakukan jual beli dimana salah satu pihak tidak melakukan suatu tekanan atau paksaan kepada pihak lainnya, sehingga pihak yang lain tersebut melakukan perbuatan jual beli atas kemauannya sendiri, namun apabila ada unsur paksaan maka jual beli tersebut tidak sah.

b) Syarat Sighat

Sighat merupakan pernyataan ijab qabul yang bisa melalui ucapan atau lafal, tulisan, ikrar atau perjanjian kontrak, dan perbuatan atau adat kebiasaan. Syarat sighat yaitu:

(1) Bersambung atau ada kesesuaian dengan ijab dan qabul (2) Tidak dibatasi waktu

(3) Satu majelis

(4) Syarat-syarat Obyek Transaksi c) Syarat Objek Transaksi

Syarat-syarat yang terkait dengan barang yang diperjualbelikan yaitu sebagai berikut:29

29 Wahbah al-Zuahily, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh (Damaskus: Dar al- Fikr al-Mu’ashir, 2005), 3320.

(1) Keberadaannya Jelas

(2) Dapat dimanfaatkan dan bermanfaat bagi manusia (3) Milik seseorang

(4) Boleh diserahkan saat akad berlangsung atau pada waktu yang disepakati bersama ketika transaksi berlangsung30

d. Bentuk-bentuk Jual Beli 1) Jual Beli Yang Sahih

Jual beli dapat dikatakan sebagai jual beli yang sahih apabila jual beli itu di syariatkan, memenuhi rukun dan syarat yang ditentukan, tidak ada kaitannya dengan hak orang lain, dan tidak tergantug pada hak khiyar lagi. Yang dimaksud disini adanya pertukaran hak kepemilikan barang dan harga. Barang menjadi milik pembeli, sedang harga menjadi milik pembeli, sedang harga menjadi milik penjual seusai terjadinya ijab qabul bila tidak terdapat hak pilih untuk melanjutkan transaksi atau membatalkannya. Jual beli seperti ini disebut sebagai jual beli yang sahih.31

2) Jual Beli Yang Batal

Jual beli dikatakan sebagai jual beli yang batal adalah yang tidak terpenuhi rukun dan objeknya, atau idak dilegalkan

30 R Shahira, S Surahmad, “Perlindungan Konsumen Dalam Jual Beli Properti (Studi Kasus PT Developer Properti Indoland)” Journal Al-Maslahah Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial, Vol.10, (Januari, 2023):4.

31 H.S, Fachruddin, Mencari Kurnia Allah (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), 40.

baik hakikat maupun sifatnya. Artinya, pelaku atau objek transaksi (barang atau harga) dianggap tidak layak secara hukum untuk melaksanakan transaksi.

3) Jual Beli fasid

Ulama hanafiyah membedakan jual beli fasid dengan jual beli yang batal. Apabila kerusakan dalam jual beli itu terkait dengan barang yang dijual belikan, maka hukumnya batal, seperti jual beli benda-benda haram seperti khamar, babi dan darah. Apabila kerusakan pada jual beli itu menyangkut harga barang dan boleh diperbaiki maka jual beli itu dinamakan fasid.

Hukum jual beli ini dapat menciptakan hak kepemilikan barang bila telah diterima atas seizin pemilik baik secara tersurat maupun tersirat, seperti pembeli menerima barang ditempat transaksi tanpa ada halangan dari penjual. Dapat diartikan bahwa jual beli fasid merupakan jual beli yang dilegalkan dari segi hakikatnya tetapi tidak legal dari sisi sifatnya. Artinya, jual beli ini dilakukan oleh orang ang layak pada barang yang layak, tetapi mengandung sifat yang tidak diinginkan oleh syariah.32 e. Transaksi Yang Dilarang

Hukum asal dari muamalah adalah semuanya diperbolehkan sebelum ada dalil yang melarangnya. Larangan ini dikarenakan beberapa sebab antara lain adanya unsur penipuan, adanya pihak

32 H.S, Fachruddin, Mencari Kurnia Allah, 41.

yang mendzalimi pihak lainnya dan sebagainya. Beberapa hal yang termasuk transaksi yang dilarang, yaitu:

1) Riba 2) Penipuan 3) Perjudian 4) Gharar 5) Monopoli

Beberapa transaksi diatas jelas dilarang oleh syariah Islam karena dapat merugikan pihak tertentu termasuk pihak yang melakukan transaksi.33

2. Tinjauan Umum Tentang Pedagang Kaki Lima (PKL) a. Pengertian Pedagang Kaki Lima (PKL)

Pedagang Kaki Lima atau yang biasa disingkat dengan kata PKL adalah istilah untuk menyebut penjaja dagangan yang menggunakan gerobak. Secara etimologi atau bahasa, pedagang biasa diartikan sebagai jenis pekerjaan yang berkaitan dengan jual beli. Pedagang adalah orang yang bekerja dengan cara membeli suatu barang yang kemudian barang tersebut dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi sehingga mendapat keuntungan dari barang tersebut. Kaki lima diartikan sebagai lokasi berdagang yang tidak permanen atau tetap. Dengan demikian, pedagang kaki lima dapat

33 Sri Nurhayati Wasilah, Akutansi Syari’ah di Indonesia (Jakarta: Salemba Empat, 2014), 59.

diartikan sebagai pedagang yang tidak memiliki lokasi usaha yang permanen atau tetap.34

Pedagang Kaki Lima, yang selanjutnya disingkat PKL, adalah pelaku usaha yang melakukan usaha perdagangan dengan menggunakan sarana usaha bergerak maupun tidak bergerak, menggunakan prasarana kota, fasilitas sosial, fasilitas umum, lahan dan bangunan milik pemerintah dan/atau swasta yang bersifat sementara/tidak menetap. Pedagang kaki lima merupakan salah satu jenis perdagangan dalam sektor informal, yakni operator usaha kecil yang menjual makanan, barang dan atau jasa yang melibatkan ekonomi uang dan transaksi pasar, hal ini sering disebut dengan sektor informal perkotaan.

b. Ciri-ciri Pedagang Kaki Lima (PKL)

1) Kelompok pedagang yang kadang sekaligus menjadi produsen, yaitu pedagang makanan dan minuman yang memasaknya sendiri.

2) Pedagang kaki lima memberikan konotasi bahwa mereka umumnya mejual dagangannya di atas tikar di pinggir jalan, di depan toko, maupun dengan menggunakan grobak dorongan kecil dan kios kecil.

3) Pedagang kaki lima umumnya menjual dagangannya secara eceran.

34 Gilang Permadi, Pedagang Kaki Lima: Riwayatmu dulu, nasibmu kini (Bogor: Yudhistira ,2007), 2.

4) Pedagang kaki lima umumnya bermodal kecil.

5) Kualitas dagangan yang dijual relatif rendah, bahkan ada pedagang yang khusus menjual barang cacat dengan harga sangat rendah.

6) Omzet penjualan pedagang kaki lima tidak besar dan cenderung tidak menentu.

7) Para pembeli umumnya berdaya beli rendah.

8) Umunya pedagang kaki lima merupakan usaha “familt enterprise”, artinya anggota keluarga juga turut membantu dalam usaha tersebut.

9) Mempunyai sifat “one man enterprise”,35 yaitu usaha yang hanya dijalankan oleh satu orang Memiliki ciri khas yaitu terdapat sistem tawar-menawar antara pembeli dan pedagang.

10) Sebagian Pedagang Kaki Lima melakukan usahanya secara musiman, sering kali jenis dagangannya berubah-ubah.

11) Pedagang Kaki Lima umumnya menjual barang yang umum, jarang menjual barang yang khusus.

12) Anggapan bahwa para Pedagang Kaki Lima ini merupakan kelompok yang menduduki status sosial terendah dalam masyarakat.

13) Pedagang Kaki Lima tidak memiliki jam kerja yang tetap.

35 Gilang Permadi, Pedagang Kaki Lima: Riwayatmu dulu, nasibmu kini (Bogor: Yudhistira ,2007), 8.

14) Pedagang Kaki Lima memiliki jiwa “entrepeneurship” yang tinggi.

c. Sejarah Munculnya Pedagang Kaki Lima (PKL)

Istilah Pedagang Kaki Lima berasal dari masa kolonial Belanda. Jauh sebelum Indonesia merdeka, pemerintah Belanda membuat sebuah peraturan yakni setiap jalanan yang dibangun harus memiliki sarana untuk para pedestrian atau pejalan kaki yang dinamakan trotoar. Trotoar ini memiliki lebar 5 feet way (kaki:

satuan panjang yang digunakan oleh mayoritas bangsa Eropa).

Kebijakan ini juga diterapkan oleh Raffles pada saat ia bertugas di Singapore pada tahun 1819, tepatnya di Chinatown. Kemudian setelah Indonesia merdeka, trotoar untuk pejalan kaki itu sering dimanfaatkan untuk tempat berjualan. Kata 5 feet sering disalah artikan ke dalam bahasa Melayu yakni Kaki Lima karena penerjemahan Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Melayu menggunakan hukum Diterangkan-Menerangkan.36

Dari istilah trotoar kaki lima inilah pedagang yang berjualan di wilayah tersebut sering dijuluki dengan nama Pedagang Kaki Lima.

Istilah ini menjalar ke Medan, kemudian dari Medan terus menjalar sampai ke Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Kemudian setelah Indonesia merdeka, trotoar yang tadinya berfungsi sebagai jalur pedestrian atau pejalan kaki sering disalahgunakan oleh

36 Dikutip dari http://www.komunitashistoria.com/article/2015/12/03/sejarah-pedagang-kaki-lima/

diakses pada tanggal 09 November 2022 pukul 11:20.

pedagang untuk tempat berjualan atau sekedar untuk tempat beristirahat meletakkan gerobak dagangan mereka. Sehingga masyrakat Indonesia menyebutnya dengan Pedagang Kaki Lima.

Menurut Susan Blackburn dalam Jakarta Sejarah 400 Tahun, pada akhir abad ke-19 jumlah PKL di Batavia suka berteriak untuk menarik pembeli.

Tapi pemerintah pada saat itu tidak menyukai kehadiran mereka. Menurut salah satu bumiputera yang duduk di Dewan Kota yaitu Abdoel Moeis menyatakan bahwa pedagang kaki lima itu diusir karena banyak orang Belanda yang mau melihat adanya pedagang kaki lima yang kotor di kawasan tersebut. Jumlah Pedagang Kaki Lima terus meningkat pasca kemerdekaan. Bahkan pada dekade 1950-an, Dewan Perwakilan Kota Sementara (DPKS) menyatakan bahwa Pedagang Kaki Lima merupakan salah satu sumber utama konflik penduduk di Jakarta. Sehingga DPKS mengupayakan pemindahan para Pedagang Kaki Lima ke tempat yang lebih memadai untuk berdagang, namun upaya itu gagal karena kota kekurangan lahan untuk pasar.37

Pada tahun 1960-an, citra Pedagang Kaki Lima makin buruk.

Beberapa alasannya adalah Pedagang Kaki Lima dianggap merusak keindahan kota, cara dagangannya primitif dan membuat malu negara apabila ada tamu asing yang berkunjung. Tetapi sebagian

37 Dikutip dari http://www.komunitashistoria.com/article/2015/12/03/sejarah-pedagang-kaki-lima/

diakses pada tanggal 09 November 2022 pukul 11:20.

kalangan membela pedagang kaki lima tersebut, salah satunya Mayapada. Mayapada berpendapat bahwa sebagian pedagang- pedagang baru mampu berjualan dengan cara berkaki lima. Untuk mengatasi hal ini, gubernur Jakarta pada saat itu, gubernur Ali Sadikin mengeluarkan pengumuman Gubernur DKI No.

Ib.1/1/11/1970 pada tanggal 27 Juli 1971. Dalam peraturan tersebut salah satunya menyatakan bahwa pemerintah telah menyediakan lahan baru untuk mereka. Bagi Pedagang Kaki Lima yang membandel, gubernur Sadikin bersikap tegas dan menindak Pedagang Kaki Lima tersebut.

Namun pada masa gubernur Cokropranolo, kebijakan mengenai Pedagang Kaki Lima mulai melemah. Sehingga sejak saat itu jumlah Pedagang Kaki Lima tidak terkendali. Mereka mulai memadati pinggiran jalan Ibukota.

d. Penyebab Kemunculan Pedagang Kaki Lima (PKL)38

Sejak terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1998, banyak sekali kegiatan ekonomi yang bergerak di sektor formal beralih ke sektor informal. Faktor utama beralihnya kegiatan ekonomi dari sektor formal ke sektor informal adalah sifat dari sektor informal yang tidak memerlukan tingkat keterampilan yang tinggi, modal usaha yang besar, dan sarana yang sederhana sehingga mudah

38 Muhammad Yunus, Auliya Insani, “Tata Kelola Pedagang Kaki Lima Di Kota Makasar (Studi Kasus Pedagang Pisang Epe’ Di Pantai Losari)”, Jurnal Analisis dan Kebijakan, Edisi No. 1 Vol.

3, Departemen Ilmu Administrasi Universitas Hasanuddin, 2017, 24.

dijangkau oleh semua lapisan masyarakat atau mereka yang belum memiliki pekerjaan yang tetap.

Terutama sejak terjadinya krisis moneter yang menyebabkan banyak perusahaan di Indonesia tidak bisa menutupi biaya operasionalnya lagi sehingga harus ditutup. Hal ini menyebabkan terjadinya Pemecatan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran.

Sehingga angka pengangguran di Indonesia saat itu meningkat dengan pesat. Salah satu kegiatan usaha yang bergerak di sektor informal adalah Pedagang Kaki Lima. Kesulitan untuk mencari pekerjaan serta keterbatasan kemampuan modal untuk mendirikan usaha bagi masyarakat golongan ekonomi lemah mendorong mereka untuk melakukan suatu usaha dalam mempertahankan hidupnya.

Untuk mempertahankan hidupnya mereka mencari nafkah yang sesuai dengan kekuatan serta kemampuan yang dimilikinya yang serba terbatas. Wujud keterbatasan ini adalah keterbatasan tingkat pendidikan, keterbatasan kemampuan ekonomi atau keterbatasan modal, keterbatasan tentang pengetahuan dalam tatanan atau peraturan yang berlaku, membuat mereka para masyarakat ekonomi lemah untuk berusaha dalam bentuk usaha dagangan berupa pedagang kaki lima (PKL) yang mereka laksanakan di kota- kota besar untuk memenuhi kebutuhan hidup.39

39 Dikutip dari https://media.neliti.com/media/publications/134958-ID-pengaruh-pertumbuhan- dan-perkembangan-te.pdf diakses pada tanggal 09 November 2022 pukul. 12.01.

Pedagang Kaki Lima umunya menempati tempat-tempat yang senantiasa dipandang sebagai sebuah keuntungan, misalnya pusat kota, tempat keramaian, hingga tempat- tempat yang berpotensi menjadi objek wisata. Pedagang kaki lima terutama di daerah tujuan pariwisata sangat bersentuhan dengan pengunjung ataupun masyarakat pada umumnya. Karena pedagang kaki lima lebih mudah untuk dijumpai dibanding dengan pedagang resmi yang berjualan di tempat yang tetap.

Hal ini memudahkan wisatawan ataupun masyarakat untuk memenuhi kebutuhan berupa barang-barang ecer. Dengan demikian peran pedagang kaki lima dalam memenuhi kebutuhan masyarakat mendapat tempat yang cukup penting.

3. Tinjauan Umum Tentang Sadd Al-Dzari’ah a. Pengertian Sadd Al-Dzari’ah

Ungkapan (idhafah) yang dikenal dengan sadd al-zari'ah terdiri dari dua kata sadd dan zari'ah. Sedih adalah kata benda abstrak yang diturunkan secara etimologis (mashdar). Istilah Arab sadd berarti menambal lubang dan memperbaiki sesuatu yang rusak atau cacat.

Adz-dzari'ah, di sisi lain, adalah kata tunggal (isim) yang menunjukkan jalan, sarana (wasilah), dan alasan mengapa sesuatu terjadi. Menurut Al-Sathibi Sadd Al-Zariah, ini mengacu pada

melakukan tugas yang awalnya bermanfaat tetapi akhirnya menimbulkan bahaya (mafsadatan).40

Menurut M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sadd Al-Zariah adalah pengecualian dari aturan ketika menurunkan hukum Islam dari Ihktihsan. Sedangkan Sadd Al-Zariah merupakan pengecualian yang bersifat pencegahan, Ihktihsan merupakan pengecualian yang bersifat kebolehan dan kemudahan.41 Al-Qarafi mengklaim bahwa sadd al-zari'ah adalah pemutusan jalan bahaya (mafsadah) untuk mencegah bahaya tersebut. Sekalipun suatu perbuatan tidak mengandung unsur mudharat (mafsadah), kita tetap harus menghentikannya jika itu berfungsi sebagai katalis atau pemicu terjadinya mudharat (mafsadah). Senada dengan itu, Ash-Syaukani mendefinisikan al-zari'ah sebagai kesulitan atau masalah yang halal pada saat pembuahan tetapi akan menimbulkan perilaku yang haram (al-mahzhur).

Menurut ash-Syatibi, sadd adz-dzari'ah adalah perbuatan menolak sesuatu yang halal (jaiz) agar tidak mengarah kepada sesuatu yang haram (mamnu'), menurut kitabnya al-Muwafat.

Mukhtar Yahya dan Fatchurrahman menegaskan bahwa sadd al- zari'ah berarti melenyapkan atau memblokir jalan yang mengarah pada perbuatan melawan hukum. Namun, Ibn al-Qayyim al- Jauziyyah menegaskan bahwa jalan atau perantara itu bisa

40 Wahbah Al-Zuhayliy, Al-Wajiz fi Ushul Al-Fiqh, (Damaskus: Dar Al-Fiqr,1999),108

41 M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Falsafah Hukum Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), 320.

menyerupai apa pun yang dilarang atau diizinkan. Nampaknya sebagian ulama, seperti asy-Syathibi dan asy-Syaukani, membatasi al-zariah sebagai sesuatu yang pada awalnya diperbolehkan berdasarkan beberapa contoh pemahaman yang diberikan di atas.

Namun Al-Qarafi dan Mukhtar Yahya berbicara secara umum tentang adz-dzari'ah dan tidak membatasinya pada perilaku yang diperbolehkan. Selain itu, Ibnu al-Qayyim mewartakan al-zari'ah yang sebelumnya dilarang. Menurut Abdul Hamid, sadd al-zari'ah adalah menetapkan peraturan yang melarang perilaku tertentu yang pada dasarnya diperbolehkan atau dilarang untuk menghentikan terjadinya perilaku terlarang lainnya. Menurut perspektif yang dikemukakan di atas, sadd al-zari'ah adalah tindakan yang dilakukan sebelum sesuatu yang tidak diinginkan (atau lebih buruk) terjadi.42 b. Objek Sadd Al-Dzari’ah

Ibnu al-Qayyim membagi al-zari'ah menjadi empat kategori berdasarkan sifat akibat yang ditimbulkannya. Kategori tersebut adalah sebagai berikut:

1) Perbuatan yang pada hakekatnya terikat untuk menimbulkan kerugian (mafsadah). Misalnya, minum alkohol dapat menyebabkan keracunan, dan perzinahan dapat menghasilkan anak yang orang tuanya tidak diketahui.

42 Muhamad Takhim, Saddu al-Dzari’ah dalam Muamalah Islam. Jurnal Ekonomi dan Bisnis: Vol.

14 No.1. 2019. 20

2) Perbuatan yang pada hakekatnya dapat diterima atau dianjurkan (mustahab), tetapi sengaja digunakan sebagai sarana terjadinya peristiwa yang negatif (mafsadah). Misalnya, menikah dengan wanita yang sudah tiga kali bercerai (attahlil). Ilustrasi lainnya adalah melakukan transaksi dengan cara yang memberikan kesan riba.

3) Perilaku yang pada dasarnya dapat diterima tetapi secara tidak sengaja mengarah pada hasil yang tidak diinginkan (mafsadah), dan secara umum, hasil yang buruk tetap terjadi meskipun tidak diinginkan. Karena itu, lebih banyak mudharat (mafsadah) yang mungkin terjadi daripada manfaat (maslahah). Contohnya adalah mencaci maki berhala yang disembah oleh orang-orang musyrik.

4) Tindakan yang dapat diterima secara umum tetapi terkadang menyebabkan kejahatan (mafsadah). Hasil positif lebih banyak daripada yang negatif. Melihat seorang perempuan yang dilamar, misalnya, dan mengkritik seorang pemimpin yang saleh.

Sedangkan dilihat dari aspek kesepakatan ulama, al-Qarafi dan asy-Syatibi membagi al-zari’ah menjadi tiga macam, yaitu:

1) Sesuatu yang telah disepakati untuk tidak dilarang meskipun bisa menjadi jalan atau sarana terjadinya suatu perbuatan yang diharamkan. Contohnya menanam anggur, meskipun ada kemungkinan untuk dijadikan khamar; atau hidup bertetangga

Dalam dokumen aktivitas jual beli pedagang kaki lima (Halaman 34-53)

Dokumen terkait