BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Kajian Teori
Kata urgensi berasal dari bahasa latin yaitu urgere (kata kerja) yang berarti mendororng. Dan jika di tinjau dari bahasa Inggris yaitu urgent (kata sifat) dan di dalam bahasa Indonesia ialah urgensi (kata benda). Kata urgensi mengacu kepada sesuatu yang memberikan sebuah
23
dorongan kepada seseorang, yang mengharuskan seseorang untuk menyelesaikan suatu hal. sehingga, urgensi mengumpamakan hal ihwal yang mendorong seseorang memiliki keharusan untuk segera diselesaikan.21
Penggunaan kata urgensi dalam penelitian ini adalah urgensi apa yang mengharuskan akta lahir sebagai persyaratan untuk melakukan perkawinan, yaitu keadaan darurat apa sehingga peraturan akta lahir sebagai syarat melakukan perkawinan yang di atur dalam PMA No 20 Tahun 2019 Pasal 4 Ayat 1 huruf B harus dibuat.
2. Akta Kelahiran
Akta Kelahiran adalah suatu istilah yang terdiri dari dua suku kata, yaitu akta dan kelahiran. Oleh karena itu, pembahasan tentang definisi akta kelahiran diawali dengan pengertian dari masing-masing kata tersebut.
Akta secara etimologi berasal dari bahasa belanda yaitu acte dan dalam bahasa Inggris disebut act atau deed.22 Terdapat dua pengertian umum berkenaan dengan kata akta secara etimologi, yaitu; Suatu perbuatan atau tindakan hukum dan catatan terhadap tindakan hukum yang dapat dijadikan bukti perbuatan yang dilakukan.23
R. Subekti berpendapat bahwa akta merupakan kata yang diserap berdasarkan Bahasa latin actum yang memiliki arti sebagai jamak kata
21 Ulti Murniyana Wati, “Urgensi Bimbingan Konseling Islam Dalam Membentuk Akhlaq Siswa SD Muhammadiyah 17 Semarang Tahun Pelajaran 2015/2016” (Skripsi, UIN Walisongo Semarang, 2016), 9.
22 Akbar Faisal, Administrasi Pemerintahan Indonesia, (Jakarta: UNIMAL Press, 2017), 33.
23 Faisal, Administrasi Pemerintahan Indonesia, 34.
yaitu perbuatan-perbuatan.24 M. Isa Arif dalam bukunya “Pembuktian dan Daluwarsa” memberikan definisi akta sebagai surat yang ditandatangani untuk kepentingan pembuktian seseorang tertentu sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.25 Pasal 165 Stasblaad tahun 1941 Nomor 84 memberikan definisi akta adalah sebagai berikut:
“Surat yang diperbuat demikian oleh atau dihadapan pegawai yang berwenang untuk membuatnya menjadi bukti yang cukup bagi kedua belah pihak dan ahli warisnya maupun berkaitan dengan pihak lainnya sebagai hubungan hukum, tentang segala hal yang disebut didalam surat itu sebagai pemberitahuan hubungan langsung dengan perhal pada akta itu”.26
Kelahiran merupakan peristiwa kehidupan pertama yang dialami oleh setiap manusia dan oleh karenanya melekatlah hak pertamanya sebagai manusia yang sah (legal). Kelahiran merupakan rangkaian dari tiga tahap, dimulai dengan pembukaan jalan lahir, keluarnya janin, dan pengeluaran plasenta dengan ancaman kematian.27
Akta Kelahiran didefinisikan oleh Henry S. Siswosoediro, akta kelahiran adalah suatu bentuk akta yang wujudnya berupa selembar kertas yang diterbitkan oleh kantor catatan sipil yang berisi tentang informasi mengenai identitas anak yang dilahirkan, yaitu nama, tanggal lahir, nama orang tua, dan tanda tangan pejabat yang berwenang.28 Akta kelahiran adalah bukti sah yang otentik mengenai status anak yang diterbitkan oleh Lembaga Negara yang berwenang.
24 R. Subekti, Kamus dan Istilah-Istilah Hukum, (Semarang: CV Bintang Jaya, 2016), 78.
25 M. Isa Arif, Pembuktian dan Daluwarsa, (Jakarta: PT Permata Indah, 2015), 65.
26 Setneg RI, Stasblaad tahun 1941 Nomor 84, Pasal 165.
27 Mochtar, Persalinan dan Kelahiran, (Jakarta: PT Utama Press, 2018), 67.
28 Henry S. Siswosoediro, Akta Kelahiran dalam Administrasi Pemerintahan, (Semarang:
CV Bintang Pertama, 2016), 7.
25
Pencatatan kelahiran merupakan kewajiban sebuah Negara sebagai wujud dari perlindungan Negara terhadap warga negaranya. Akta Kelahiran merupakan hak identitas seseorang sebagai perwujudan Konvensi Hak Anak (KHA) sebagaimana yang disebutkan dalam UU No.
23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Oleh karena itu, pemerintah wajib untuk menyelenggarakan instansi pelaksana yang bertugas mencatat kelahiran anakanak di Indonesia. Eksistensi legal seseorang sebenarnya baru diakui setelah kelahirannya dicatatkan. Dengan ini, Akta Kelahiran merupakan dokumen autentik yang paling dasar, yang harus diberikan negara kepada anak-anak Indonesia yang baru dilahirkan. Melihat begitu pentingnya kepemilikan atas Akta Kelahiran, terdapat beberapa fungsi utama Akta Kelahiran, yaitu: pertama, memberikan petunjuk terhadap relasi antara anak dan orang tuanya secara hukum. Kedua, Hak Anak terkait identitas awal sebagai Warga Negara yang memiliki status legal untuk mendapatkan jaminan perlindungan secara hukum, dan hal ini dibuktikan dengan adanya akta kelahiran.29
Manfaat dari memiliki akta kelahiran adalah sebagai berikut :30 a. Anak mempunyai bukti terhadap identitas yang digunakan sekarang
secara otentik;
b. Pengurusan kelengkapan berkas atau surat administrasi kewarganegaraan dapat lebih mudah;
29 Siswosoediro, Akta Kelahiran dalam Administrasi Pemerintahan, 17.
30 Kusuma Pradana, Akta Kelahiran: Urgensi dalam Aspek Perlindungan Hukum, (Jakarta: CV Sinar Pratama, 2017), 29.
c. Dapat memudahkan seseorang dalam kegiatan yang berhubungan dengan perlunya melengkapi berkas administrasi kependudukan seperti mendaftar sekolah, menikah atau bekerja;
d. Dapat digunakan untuk mengurus peralihan hak waris, asusransi atau Ibadah Haji;
e. Dan adanya akta kelahiran dapat memberikan justifikasi terhadap status hukum terkait kedewasaan dan kecakapan seseorang.
Manfaat di atas merupakan sesuatu yang memberikan pedoman bahwa kepemilikan akta kelahiran sangatlah penting bagi setiap warga negara. Secara umum, seseorang yang memiliki akta kelahiran dapat melahirkan kemaslahatan-kemaslahatan yang nantinya dapat dipermudah untuk mengurus setiap aspek yang berhubungan dengan masalah administrasi pemerintahan. Dan secara aspek yuridis, adanya akta perkawinan dapat memberikan gambaran terkait asal usul seseorang, sehingga dapat ditelusuri mulai kelahirannya kapan, dimana kelahirannya dan siapa yang melahirkan seorang anak tersebut. Adapun aspek mudhorot bagi seseorang yang tidak memiliki akta kelahiran adalah sebagai berikut:
a. Anak tidak memiliki identitas yang jelas;
b. Dalam pengurusan administrasi pemerintahan, seorang anak yang tidak memiliki akta kelahiran tidak dapat mengurus hal tersebut;
c. Anak tidak dapat mengakomodir hak-hak yuridisnya.
27
d. Dalam pengurusan yang berkaitan dengan berkas administrasi tidak dapat dipenuhi sehingga akan menyulitkan mengurusnya seperti dalam mengurus pendidikan, pekerjaan dan perkawinan.31
Akta kelahiran sebagai bukti otentik dari identitas seseorang menjadi sangat penting, karena dengan adanya akta kelahiran maka identitas seseorang dapat terverifikasi secara jelas dan terang terkait asal usul dari orang tersebut. Akta kelahiran ini juga berkaitan dengan relasi nasab seseorang dengan orang tuanya. Sehingga dengan adanya akta kelahiran, maka seseorang dapat diverifikasi terkait siapa orang tuanya.
Oleh karena itu, secara aspek yuridis adanya akta kelahiran yang ditujukan agar dimiliki oleh setiap orang merupakan kewajiban untuk menghandirkan satu system yang terintegrasi untuk menjelaskan dan menguatkan identitas seseorang dan menghindarkan seseorang dari kemudhorotan seperti tidak dapat dipenuhinya seluruh hak sebagai manusia yang secara kodrati memiliki hak asasi yang melekat pada diri sendiri.
Dokumen akta kelahiran harus didasari pada pembuatannya yang otentik atau asli dan tidak ada pemalsuan pada akta kelahiran tersebut. UU Administrasi Kependudukan telah menegaskan bahwa segala bentuk pemalsuan dan penyalahgunaan dokumen kependudukan dapat menjadi alasan untuk menjadikan status pengurusan setiap dokumen yang berkaitan
31 Pradana, Akta Kelahiran: Urgensi dalam Aspek Perlindungan Hukum, 31.
dengan administrasi kependudukan dibatalkan secara hukum.32 Contohnya adalah jika seseorang sedang mengurus pendaftaran kehendak perkawinan di KUA, sementara dokumen kependudukan yang digunakan terindikasi terdapat pemalsuan, maka pendaftaran kehendak perkawinan tersebut dapat dibatalkan. Bahkan secara yuridis tindakan pemalsuan tersebut dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum yang dapat dikenakan sanksi.
Oleh karena itu, keontetikan dokumen kependudukan seperti akta kelahiran juga menjadi satu hal yang sangat urgen untuk diperhatikan, sehingga tidak terdapat upaya untuk mencari jalan belakang agar dapat mengakali ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Pencatatan Perkawinan
Pencatatan pernikahan di Indonesia jelas diatur dalam Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 2. Menurut undang-undang tersebut perkawinan harus di ikuti dengan pecatatan perkawinan. di dalam pasal tersebut jikalau disatukan akan dianggap bahwa pencatatan perkawinan adalah hal yang memengaruhi sah atau tidaknya suatu perkawinan, berbeda dari mengikuti aturan dari agama masing-masing dan kepercayaannya. Tetapi ada juga pendapat bahwa pencatatan perkawinan hanyalah syarat administratif saja yang tidak memengaruhi sah atau tidaknya suatu perkawinan.
Peraturan pencatatan perkawinan ini membuat perkawinan menjadi jelas, baik bagi pihak yang bersanngkutan maupun pihak lain. Karena
32 Herman Setyanto, Hukum Administrasi Pemerintahan, (Jakarta: CV Korones Press, 2017), 76.
29
suatu perkawinan yang tidak tercatat dianggap perkawinan itu tidak ada dan tidak mendapatkan kepastiian hukum. Walaupun adanya peraturan pencatatan perkawinan untuk menghindari akan adanya pihak yang dirugikan, tetapi nyatanya masih banyak masyrakat yang tidak melakukan pencatatan perkawinan, perkawinan yang mereka laksanakan hanya sesuai peraturan agama masing-masing.33
4. Peraturan Menteri Agama Nomor 20 Tahun 2019
Peraturan perkawinan saat ini yang berlaku ialah PmA No. 20 tahun 2019, peraturan tersebut merupakan acuan bagi Kantor Urusan Agama (KUA) untuk melaksanakan tuganya dalam hal pencatatan perkawinan. PmA No 20 Tahun 2019 tentang Pencatatan Pernikahan ini di dalamnya menjelaskan tentang peraturan pendaftaran kehendak nikah, pemeriksaan dokummen kehendak nikah, perjanjian nikah, penolakan kehendak nikah, pengumuman kehendak nikah, pencatatan nikah hingga penyerahan buku nikah. Didalam PmA No 20 Tahun 2019 juga mengatur persyaratan administrasi apa saja yang harus dilengkapi oleh calon pengantin untuk melaksanakan perkawinan sesuai undang-undang yang berlaku
5. Maqashid Syariah
Maqashid Syariah merupakan dua kata gabungan yang disatukan yaitu dengan asal kata dari maqashid ebagai bentuk jamak yang memiliki arti tempat sebuah tujuan, sementara syariah adalah kata yang digunakan
33 Rachmadi Usman, “Makna Pencatatan Perkawinan Dalam Peraturan Perundang- Undangan Perkawinan Di Indonesia”, 256.
untuk menunjukkan sebuah aliran dari sumber air, sedangkan dari segi kebahasaan syariah diartikan agama, millah, metode, jalan atau sunnah.34 Dalam terminologinya, syariah memiliki arti sekumpulan aturan atau norma dari Allah SWT untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia di muka bumi.35
Maqashid syariah dalam arti yang digabungkan menjadikan makna dari kata tersebut secara sederhana berarti maksud dari sebuah pensyariatan. Maqashid syariah secara terminologi diartikan sebagai tujuan atau target akhir dari sebuah pensyariatan yang bermuara pada terciptanya sebuah kemaslahatan.36 Para ulama memberikan definisi maqashid syariah dengan berbeda-beda salah satunya adalah makna atau hikmah yang ditetapkan syari’ pada setiap atau sebagian besar yang disyariatkan-Nya sebagai pedoman manusia di muka bumi.37 Ibnu Asyur memberikan definisi maqashid syariah sebagai berikut:38
“Makna atau hikmah yang dijaga oleh syari’ dalam setiap ketentuan-Nya, serta makna atau hikmah ini tidak berlaku hanya pada sebagian syariat saja akan tetapi secara keseluruhan maknanya terjaga dalam aspek sifat, tujuan umum, dan makna hukum yang tidak diperhatikan dalam keseluruhan hukum yang telah disyariatkan”.
Pengertian yang dikemukakan oleh Ibnu Asyur memberikan peluasan terhadap diskursus maqashid syariah. Karena berdasarkan pendapat tersebut, kedudukan maqashid syariah menjadi sangat penting
34 Mohammad Aminullah, Teori Ushul Fiqh dan Maqashid Syariah, (Jakarta: Mizan Press, 2017), 8.
35 Farhan Faizin, Paradigma Maqashid Syariah, (Bandung: HAZ Press, 2017), 29.
36 Aminullah, Teori Ushul Fiqh dan Maqashid Syariah, 11.
37 Mohammad Salim Faris, Maqshid Syariah, (Semarang: CV Kurnia Wijaya, 2018), 25.
38 Aminullah, Teori Ushul Fiqh dan Maqashid Syariah, 13.
31
sebagai metodologi penentuan hukum islam.39 Berbagai pengertian maqashid syariah diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa maqashid syariah merupakan tujuan atau hikmah yang dijaga oleh pembuat syariat dalam berbagai ketentuan-Nya yang meliputi berbagai aspek dari syariat itu sendiri.
Konsep maqashid syariah telah menjadi perhatian sejak lama sebelum masa al-shatibi yang digadang-gadang sebagai ulama terkemuka dalam diskursus maqashid syariah. Konsep maqashid syariah sejatinya telah ada dalam masa nabi secara embrionya, karena dasar dari pengukuhan sebuah hukum dari syari’ senantiasa termanifestasikan pada sebuah value yang mengarahkan pada kemaslahatan.40 Maqashid dalam rentang sejarahnya telah ditelusuri oleh seorang dari masa tabi’in yaitu Ibrahim Al Nakha’i yang dapat dilihat dari pendapatnya yaitu “hukum Allah secara keseluruhan mengandung makna dan tujuan yang mengarah pada sebuah pensyariatan dengan jalan kemaslahatan tertentu”.41 Dan karena itulah, maqashid syariah dijadikan oleh setiap ulama untuk memperhatikan kemaslahatan dalam setiap pengukuhan dasar hukum setiap mazhab.42
Konsep maqashid yang dikemukakan oleh para ulama seperti Ibnu Asyur memandang bahwa maqashid syariah sebagai hikmah menjadikannya dasar ditetapkannya sebuah hukum. Pendapat ini terdapat
39 Aminullah, Teori Ushul Fiqh dan Maqashid Syariah, 15.
40 Asy’ari Azhar, Maqashid Syariah dalam Metodologi Hukum Islam, (Jakarta: Madina Press, 2019), 20.
41 Azhar, Maqashid Syariah dalam Metodologi Hukum Islam, 21.
42 Aminullah, Teori Ushul Fiqh dan Maqashid Syariah, 29.
perbedaan yang mendasar di kalangan ahli ushul fiqih karena menurut ulama ushul fiqih, dasar penentuan adanya hukum tidaklah dipandang melalui hikmah pensyariatan, akan tetapi hal tersebut disebabkan adanya illah yang menjadi dasar disyariatkannya sesuatu.43 Hal ini didasarkan oleh kaidah “al hukmu yadurru ma’a illaatihi la ma’a hikmatihi wujudan wa adaman” yang berarti sebuah hukum didasarkan keberadaannya berdasarkan illat yang menyertainya bukan karena hikmah dari adanya sebuah hukum.44 Berdasarkan kaidah tersebut, kedudukan hikmah dalam penentuan sebuah hukum tidak menjadi aspek yang diperhatikan, oleh karena itu pendapat tersebut terlihat bersebrangan dengan pendapat Ibnu asyur yang memposisikan maqashid syariah berupa hikmah pensyariatan dalam segala aspek penentuan syariat. Namun, pendapat yang menghilangkan posisi maqashid syariah dalam penentuan hukum tidak tepat sekali. Karena meskipun illah menjadi penentu akan adanya hukum, posisi maqashid syariah dalam metodologi penentuan hukum harus diperhatikan dengan tujuan untuk memperhatikan aspek kemsalahatan melalui kajian mendalam sehingga kemaslahatan yang dimaksud dapat dicapai.45
Maqashid syariah dalam penelitian ini didasarkan pada konsep yang menjadikan maqashid syariah sebagai hikmah atas pensyariatan sesuatu sehingga kedudukan maqashid syariah menjadi diskursus yang mengkaji makna dan tujuan dari sebuah hukum untuk mencapai sebuah
43 Azhar, Maqashid Syariah dalam Metodologi Hukum Islam, 25.
44 Aminullah, Teori Ushul Fiqh dan Maqashid Syariah, 28.
45 Salim Faris, Maqshid Syariah, 29.
33
kemaslahatan. Hal ini menjadi sangat penting, karena banyaknya perubahan yang terjadi seiring berkembangnya zaman membutuhkan banyak elaborasi dan perluasan terhadap makna dan tujuan dari sebuah hukum yang disyariatkan tanpa menghilangkan unsur kemaslahatan didalamnya.
Maqashid syariah dalam konsepsinya secara sederhana merupakan makna dari hukum yang disyariatkan Allah SWT dengan tujuan untuk menciptakan kemaslahatan bagi manusia. Maqashid syariah terklasifikasikan berdasarkan beberapa hal yaitu sebagai berikut:46
a. Pertama adalah berdasarkan tujuannya maqashid syariah terbagi menjadi dua yaitu ; Pertama, maqashid al shari’ yaitu maksud dan tujuan dari penciptaan hukum berdasarkan pembuat hukum yang mengarahkan pada kemaslahatan manusia dalam menjalankan perannya di dunia berdasarkan aturan yang telah ditetapkan. Kedua, maqashid al mukallaf yaitu maksud dan tujuan yang ditetapkan oleh manusia sesuai dengan aturan Allah SWT.
b. Kedua adalah berdasarkan kebutuhan serta akibat hukumnya yaitu terbagi menjadi tiga. Pertama, kebutuhan yang terkategorikan sebagai daruriyyah yaitu kebutuhan esensial yang dibutuhkan oleh manusia baik dalam aspek duniawi ataupun ukhrowi. Kategori ini akan memiliki konsekuensi apabila tidak terlaksanakan maka akan dapat mengakibatkan rusaknya tatanan kehidupan, sehingga dalam kategori
46 Aminullah, Teori Ushul Fiqh dan Maqashid Syariah, 30.
ini sangatlah diwajibkan untuk dijaga keberlangsungannya. Cakupan dalam kategori kebutuhan daruri terklasifikasikan menjadi lima pokok ajaran yaitu, hifdz ad-din, hifdz an-nafs, hifdz al aql, hifdz an-nasl, dan hifdz al mal. Kedua, kebutuhan al hajiyyah yaitu kebutuhan dengan kategori berupa kebutuhan sekunder yang berkedudukan sebagai pendukung untuk menghindarkan seseorang dari kesulitan atau masyaqoh ketika ingin memenuhi kebutuhan primer. Konsekuensi dari tidak memenuhi kebutuhan sekunder tidaklah berdampak pada rusaknya tatanan dunia, akan tetapi apabila kategori ini dipenuhi, maka kebutuhan primer akan memiliki kesempurnaan. Ketiga, kebutuhan dengan kategori tahsiniyyat yaitu kebutuhan tersier atau penunjang untuk menyempurnakan dua kategori kebutuhan diatas. Dalam kategori ini, maka pelaksanaannya akan mengakibatkan seseorang dapat melakukan penyempurnaan terhadap kebutuhan yang berkategori doruri dan hajji.
c. Ketiga ialah berdasarkan cakupan kemaslahatannya yaitu terbagi menjadi 3. Pertama maqasid al ammah yaitu keseluruhan hukum yang telah ditetapkan dengan mengandung sifat dan tujuan dari penciptaan hukum yang meliputi keadilan, kemudahan, persamaan dan lainnya.
Kedua, maqasid al khassah adalah tujuan dan makna yang terdapat dalam cabang tertentu hukum islam. Lingkup kategori ini adalah berupa perlindungan dan kemaslahatan anak, keluarga, stabilitas keluarga dan lingkungan tempat hidup yang terhindar dari tindakan
35
kriminal. Ketiga, maqasid al-juz’i merupakan tujuan atau hikmah yang terdapat dari balik sebuah hukum yang disyariatkan oleh Allah SWT kepada manusia. Lingkup kemaslahatan ini berkaitan dengan illah hukum yang diketahui kemudian hikmah dan tujuannya dapat diambil dari alasan penciptaan tersebut tanpa disebutkan dalam nash- nash syariat.
d. Keempat adalah ditinjau berdasarkan kekuatan dalilnya yang terklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu: pertama, al maqasid al qat’iyah yaitu kemaslahatan yang dikuatkan oleh dalil-dalil qat’i yang telah tersebutkan secara berulang-ulang. Kategori ini yaitu meliputi kemudahan, menghilangi masyaqoh, keadilan, kepemilikan harta, keamanan dan menjaga kehormatan diri. Kedua, maqasid az-zaniyyah yaitu maslahat yang didapatkan berdasarkan kajian mendalam melalui ijtihad para ulama, oleh karena itu dalam kategori ini terdapat perbedaan pendapat pada penetapan kemsalahatannya. Contohnya adalah persetujuan dari kedua calon mempelai untuk menjadi suami istri. Persyaratan ini didapatkan berdasarkan ijtihad ulama bahwa perkawinan tujuannya adalah membangun keluarga yang harmonis, maka demi kemaslahatan serta terwujudnya tujuan tersebut dibutuhkan persetujuan anatara kedua calon. Ketiga, maqasid al wahmiyyah yaitu tujuan dan makna berupa kemaslahatan yang diperoleh melalui pengamatan dan persangkaan tanpa melalui kajian yang mendalam dan dalam kategori ini tidak terdapat dalil yang menguatkannya.
Garis besar taksonomi konsep maqasid syariah adalah perwujudan kemaslahatan dari setiap atau sebagian hukum islam yang telah disyariatkan oleh Allah SWT. Pembagian tersebut bertitik tumpu pada konsep pemenuhan usul al khamsah atau maqasidus syariah yaitu sebagai berikut:47
a. Hifdz ad-din yaitu memelihara seluruh ajaran pokok agama yang mengacu pada ibadah, hukum dan akhlak yang telah disyariatkan oleh Allah SWT. Contoh pelaksanaan untuk memenuhi hal ini adalah menegakkan sholat lima waktu.
b. Hifdz an-nafs yaitu memelihara jiwa sebagai bentuk penegakan kehidupan yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT kepada manusia.
Salah satunya adalah dengan cara makan, minum dan tidak menghilangkan nyawa orang lain dengan alasan yang haq.
c. Hifdz al-aql yaitu memelihara akal yang menjadi organ vital serta instrumen untuk manusia agar dapat membedakan kebenaran dan kesalahan. Dan oleh karena itu, akal senantiasa harus dijaga karena dapat berpengaruh pada penilaian tersebut. Contoh dari pelaksanaan hal ini adalah belajar dan tidak meminum-minuman keras yang dapat menghilangkan kesadaran akal.
d. Hifdz an-nasl yaitu bentuk pemeliharaan terhadap keturunan agar tidak terjadi kerancuan atas garis keturunan yang disebabkan oleh tindakan
47 Aminullah, Teori Ushul Fiqh dan Maqashid Syariah, 33-35.
37
yang mengataskan hawa nafsu semata. Contoh dari pelaksanaannya adalah menjauhi tindakan zina.
e. Hifz al-mal yaitu pertanggungjawaban seseorang terhadap pemberian berupa harta dengan menjaga harta tersebut agar dapat digunakan untuk kemanfaatan dirinya, keluarga dan orang lain. Contoh dari pemenuhan hal ini adalah melakukan pekerjaan bagi orang yang telah berkeluarga yang dapat menghasilkan upah sehingga seseorang dapat terus mencukupi kebutuhan keluarganya.
Perkawinan jika ditinjau dari perspektif maqashid syariah menurut Khoiruddin Nasution dalam bukunya “Islam Tentang Relasi Suami dan Istri”, menyimpulan bahwa ada lima tujuan umum perkawinan, yakni : (1) memperoleh ketenangan hidup dengan penuh cinta dan kasih sayang, sebagai tujuan pokok dan utama, kemudian disusul dengan tujuan yang lain : (2) tujuan reproduksi (penerusan generasi), (3) pemenuhan kebutuhan bilogis (seks), (4) menjaga kehormatan, dan (5) ibadah.48
Perkawinan merupakan hal yang memuat paling tidak tiga hal dari maqashid al- syariah, yaitu memelihara agama (hifz al-Din), keturunan (hifz al-Nasl) dan jiwa (hifz al-Nafs). Perkawinan dapat dikatakan memelihara agama dilihat dari sisi bahwa disamping kebutuhan dan fitrah manusia, perkawinan juga merupakan ibadah serta dalam rangka menjaga individu dari kemaksiatan, zina dan tindak asusila yang diharamkan. Lebih jauh perkawinan dianggap sebagai setengah dari agama (nisfu ad-dîn),
48 Khoirudin Nasution, Hukum Perkawinan, (Jakarta: Pustaka Abadi, 2015), 35.
sehingga mereka yang telah berumah tangga dipandang telah sempurna agamanya.49
49 Nasution, Hukum Perkawinan, 36.
39