Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan
C. Kantor Datok
Sampai dengan tahun 2014, kantor datok yang tersedia sebanyak 86 unit, masih dibutuhkan 127 unit lagi, dan kecamatan yang belum tersedia kantor datok adalah Kecamatan Kota Kuala Simpang. Jumlah kantor datok yang dibangun dari tahun 2012 – 2016 dapat lihat pada tabel berikut.
Tabel 2.124
Jumlah Kantor Datok yang Dibangun Sampai Dengan Tahun 2016
No Kecamatan Jumlah
Kampung
Jumlah Kantor Datok Jumlah Kantor Datok 2012 2013 2014 2015 2016
1 Tamiang Hulu 9 2 2 - 1 - 5
2 Bandar Pusaka 15 4 1 - - - 5
3 Kejuruan Muda 15 4 2 - 1 - 7
4 Tenggulun 5 1 - - 1 - 2
5 Rantau 16 7 1 - 1 - 9
6 Kota Kuala Simpang 5 - - - - - -
7 Seruway 24 7 1 - 3 - 11
8 Bendahara 33 8 4 - 1 - 13
9 Banda Mulia 10 7 2 - - - 9
10 Karang Baru 31 5 2 2 1 - 10
11 Sekerak 14 3 1 - - - 4
12 Manyak Payed 36 5 5 - 1 - 11
Jumlah 213 53 21 2 10 - 86
Sumber : DPMK-P2KB Kabupaten Aceh Tamiang, 2017.
2.3.2.9 Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana A. Rata-rata Jumlah Anak per-Keluarga
Rata-rata jumlah anak perkeluarga pada tahun periode tahun 2012 – 2016 menunjukkan tren menurun, dari 2 sampai 3 orang anak perkeluarga berkurang menjadi 1 sampai 2 orang anak perkeluarga. Hal ini menunjukkan bahwa program Keluarga Berencana di Kabupaten Aceh Tamiang telah berjalan dengan baik. Rata-rata jumlah anak per keluarga menurut kecamatan desajikan pada tabel berikut.
Tabel 2.125
Rata-rata Jumlah Anak per-Keluarga Tahun 2012 – 2016 Menurut Kecamatan
No Kecamatan Rata-rata Jumlah Anak Per Keluarga
2012 2013 2014 2015 2016
1 Tamiang Hulu 1,66 1,74 1,73 1,84 1,86
2 Bandar Pusaka 2,12 2,11 2,34 2,02 2,04
No Kecamatan Rata-rata Jumlah Anak Per Keluarga
2012 2013 2014 2015 2016
3 Kejuruan Muda 2,27 2,20 2,07 1,79 1,81
4 Tenggulun 2,06 2,08 1,78 1,72 1,74
5 Rantau 1,97 1,97 1,94 1,80 1,82
6 Kota Kuala Simpang 2,32 2,19 2,07 1,83 1,85
7 Seruway 2,04 2,03 2,44 2,05 2,07
8 Bendahara 2,34 2,29 2,39 1,98 2,00
9 Banda Mulia 2,14 2,15 2,12 2,09 2,11
10 Karang Baru 2,04 2,03 1,96 1,64 1,65
11 Sekerak 2,33 2,27 2,24 2,13 2,15
12 Manyak Payed 2,32 2,31 2,30 2,12 2,15
Jumlah 2,12 2,10 2,09 1,88 1,90
Sumber : Dinas PMK, P2KB Kabupaten Aceh Tamiang, 2017.
B. Cakupan Sasaran Pasangan Usia Subur (PUS) Menjadi Peserta KB Aktif
KB Aktif merupakan jumlah kumulatif dari peserta KB yang terus menerus menggunakan salah satu alat, obat dan cara kontrasep si ditambah dengan jumlah peserta KB baru pada tahun berjalan. Perkembangan jumlah peserta KB aktif dari tahun 2011 sampai dengan 2016 cenderung menurun. 630
Pada tahun 2016 jumlah akseptor KB adalah sebanyak 37.575 orang (77,09 %) menurun sebesar 7,4 % jika dibandingkan tahun sebelumnya. Cakupan ini telah mencapai SPM, yaitu 65 % di tahun 2014. Cakupan peserta KB aktif tiap tahunnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.126
Rasio Peserta KB Tahun 2012 – 2016
No Uraian Tahun
2012 2013 2014 2015 2016
1 Jumlah akseptor KB 42.963 33.037 36.005 42.630 37.575 2 Jumlah pasangan usia subur 47.421 44.746 48.005 50.453 48.739 3 Rasio akseptor KB (%) 90,59 73,83 75,00 84,49 77,09 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Tamiang, 2017.
Pada tahun 2016, cakupan peserta KB aktif terbesar, terdapat di Kecamatan Tamiang Hulu yaitu sebesar 90,93 %, dengan jumlah akseptor sebanyak 2.899 orang, dan pasangan usia subur sebanyak 3.188 pasang, dan cakupan peserta KB aktif terendah adalah di Kecamatan Bandar Pusaka yaitu sebesar 53,64 % dengan jumlah akseptor sebanyak 1.217 orang, dan pasangan usia subur sebanyak 2.269 pasang. Ini berarti Kecamatan Bandar Pusaka perlu mendapat perhatian. Perkembangan cakupan peserta KB aktif tahun 2016 menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.127
Persentase Akseptor KB Tahun 2016 Menurut Kecamatan
No Kecamatan Jumlah akseptor KB Jumlah pasangan usia subur
Rasio akseptor KB (%)
1 Tamiang Hulu 2.899 3.188 90,93
2 Bandar Pusaka 1.217 2.269 53,64
3 Kejuruan Muda 5.046 6.134 82,26
4 Tenggulun 4.196 5.016 83,65
5 Rantau 4.389 5.886 74,57
6 Kota Kuala Simpang 2.048 3.134 65,35
7 Seruway 2.991 4.243 70,49
8 Bendahara 3.107 3.658 84,94
9 Banda Mulia 1.739 2.072 83,93
10 Karang Baru 5.385 6.478 83,13
11 Sekerak 772 1.056 73,11
12 Manyak Payed 3.786 5.605 67,55
Jumlah 37.575 48.739 77,09
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Tamiang, 2017.
2.3.2.10 Perhubungan
A. Jumlah Arus Penumpang Angkutan Umum
Seluruh wilayah di Kabupaten Aceh Tamiang pada umumnya dapat ditempuh melalui jalur darat, oleh sebab itu terkait arus penumpang angkutan umum yang masuk atau keluar dari wilayah Kabupaten Aceh Tamiang hanya menggunakan trasportasi darat berupa Bis sebagai angkutan umumnya. Pada tahun 2012 terlihat jumlah arus penumpang yang menggunakan bis sebanyak 13.472, namun pada tahun-tahun berikutnya menurun drastris hingga 68 % - 72 %. Hal tersebut terjadi karena pada bis antar kabupaten karena ada perubahan trayek, dimana untuk penumpang dari Kualasimpang umumnya naik ditengah perjalanan dan tidak terdata di terminal keberangkatan atau kedatangan, selain itu dengan alasan penghematan masyarakat pada umumnya lebih memilih menggunakan sepeda motor untuk bepergian daripada menggunakan angkutan umum lainnya. Hal tersebut terjadi seiring dengan perubahan jumlah angkutan darat yang ada di kabupaten Aceh Tamiang pada rentang waktu yang sama. Data selengkapnya disajikan pada table berikut.
Tabel 2.128
Jumlah Arus Penumpang Angkutan Umum Yang Masuk/Keluar Daerah Tahun 2012 – 2016
Tahun Jumlah Arus Penumpang Angkutan Umum (Orang) Bis Kereta Api Kapal Laut Pesawat Udara
2012 13.472 - - -
2013 3.248 - - -
2014 3.216 - - -
2015 4.336 - - -
2016 3.424 - - -
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Tamiang, 2013 – 2017.
Tabel 2.129
Jumlah Penumpang dan Angkutan Darat Di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2012 – 2016
Tahun
Angkutan Darat
Jumlah Angkutan Darat Jumlah Penumpang Angkutan Darat
2012 842 13.472
2013 203 3.248
2014 201 3.216
2015 271 4.336
2016 214 3.424
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Tamiang, 2013 – 2017.
B. Jumlah Uji KIR Angkutan Umum
Pengujian KIR angkutan umum jumlahnya fluktuatif dari tahun 2012 sampai 2016, namun perubahan jumlah tersebut tidak terlalu signifikan dari tahun ke tahun, hal ini terjadi seiring dengan jumlah angkutan umum yang beroperasi berdasarkan trayek angkutan di Kabupaten Aceh Tamiang. Begitu pula dengan biaya yang harus dikeluarkan pemilik angkutan umum untuk pengujian kelayakan angkutan umum mereka. Data yang terkait dengan hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.29 dan Tabel 2.30.
Tabel 2.130
Jumlah Uji KIR Angkutan Umum Tahun 2012 – 2016
Uraian Tahun
2012 2013 2014 2015 2016
Kendaran Yang Diuji
(Unit) 1.904 1.578 1.562 1.689 1.698
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Tamiang, 2013 – 2017.
Tabel 2.131
Biaya Pengujian Kelayakan Angkutan Umum Tahun 2012 – 2016
Uraian Tahun
2012 2013 2014 2015 2016
Biaya Pengujian Kelayakan
Angkutan Umum (Rp. per Unit) 33.015 48.360 48.342 48.730 48.464 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Tamiang, 2013 – 2017.
C. Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis
Terminal yang ada saat ini di Kabupaten Aceh Tamiang hanya berjumlah 2 terminal, satu terminal tipe C yang berada di Kecamatan Seruway yang berfungsi sebagai terminal antar kecamatan didalam Kebupaten Aceh Tamiang. Sementara yang satu lagi sudah tipe B sehingga terminal tersebut otomatis sudah menjadi kewenangan propinsi dalam pengelolaannya.
Tabel 2.132
Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2012 – 2016
Tahun Kabupaten Aceh Tamiang (Unit)
Terminal Bis Pelabuhan Laut Pelabuhan Udara
2012 1 - -
2013 2 - -
2014 2 - -
2015 2 - -
2016 2 - -
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Tamiang, 2013 – 2017.
D. Jumlah Kecelakaan Lalu Lintas Yang Terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang
Kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang dalam waktu lima tahun terjadi peningkatan yang sangat berarti di tahun 2015, yang meningkat hampir 100
% dari tahun sebelumnya, begitu juga dengan korban yang mengalami luka-luka dan korban yang meninggal dunia. Meningkatkan jumlah kecelakaan tersebut terutama diakibat oleh faktor manusianya yang kurang hati-hati dan tertib dalam berlalu lintas.
Tabel 2.133
Jumlah Kecelakaan Lalu Lintas Yang Terjadi Tahun 2012 – 2016
No Kecelakaan Lalu Lintas Yang Terjadi
Tahun
2012 2013 2014* 2015 2016
1 Jumlah Kecelakaan 53 40 40 98 106
2 Korban Luka-luka 92 59 59 100 195
3 Korban Meninggal 27 32 32 25 51
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Tamiang, 2013 – 2017.
2.3.2.11 Koperasi, Usaha kecil, dan Menengah
Perkembangan koperasi aktif di Kabupaten Aceh Tamiang periode tahun 2012 – 2015 cenderung meningkat tiap tahunnya, dari 54,61 % pada tahun 2012 meningkat menjadi 55,36% pada tahun 2015, namun pada tahun 2016 terjadi penurunan terhadap jumlah koperasi aktif yaitu 48,61%. Penurunan jumlah koperasi aktif pada tahun 2016 disebabkan karena belum tersedianya petugas pendamping, keterbatasan tata kelola koperasi dan permodalan. Perkembangan koperasi aktif dari tahun 2012 sampai dengan 2016 dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.134
Perkembangan Jumlah Koperasi Aktif Tahun 2012 – 2016
No Uraian Tahun
2012 2013 2014 2015 2016
1 Jumlah Koperasi (unit) 271 274 275 276 264
2 Jumlah Koperasi Aktif (unit) 148 149 155 155 131 3 Persentase Koperasi Aktif (%) 54,61 54,36 55,36 55,36 48,61
Sumber : Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian, 2017.
Jumlah koperasi aktif terbanyak terdapat di Kecamatan Rantau, sedangkan jumlah koperasi aktif terendah terdapat di Kecamatan Sekerak. Kecamatan Karang Baru merupakan kecamatan dengan jumlah koperasi terbanyak namun yang aktif hanya 19 koperasi. Jumlah koperasi aktif menurut kecmatan di Kabupaten Aceh Tamiang adalah sebagai berikut.
Tabel 2.135
Jumlah Koperasi Aktif Tahun 2016 Menurut Kecamatan
No Kecamatan
Tahun
2012 2013 2014 2015 2016
Jumlah Koperasi
Koperasi Aktif
Jumlah Koperasi
Koperasi Aktif
Jumlah Koperasi
Koperasi Aktif
Jumlah Koperasi
Koperasi Aktif
Jumlah Koperasi
Koperasi Aktif
1 Manyak Payed 33 15 33 15 33 15 33 15 26 10
2 Bendahara 30 19 31 19 31 19 31 19 27 11
3 Seruway 20 11 20 11 20 11 20 11 22 15
4 Rantau 39 25 40 25 40 25 41 25 39 26
5 Karang Baru 47 22 47 22 47 23 47 23 44 19
6 Kota Kuala
Simpang 40 10 40 10 40 20 40 20 32 12
7 Kejuaruan
Muda 14 10 14 10 14 10 14 10 15 7
8 Tamiang Hulu 20 11 20 11 20 12 20 12 25 15
9 Banda Mulia 11 8 11 8 11 8 11 8 11 5
10 Sekerak 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
11 Tenggulun 9 4 10 4 10 5 10 5 12 5
12 Bandar Pusaka 7 3 7 3 8 4 8 4 10 5
Jumlah 271 148 274 148 275 155 276 155 264 131
Sumber : Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian, 2017.
Tabel 2.136
Perkembangan Jumlah UMKM Tahun 2012 – 2016 Menurut Kecamatan
No Kecamatan Jumlah UMKM (unit)
2012 2013 2014 2015 2016
1 Manyak Payed 522 792 794 836 836
2 Bendahara 85 116 123 173 173
3 Seruway 65 175 180 199 205
4 Rantau 95 124 169 401 401
5 Karang Baru 86 126 240 275 275
6 Kota Kuala Simpang 200 301 320 705 705
7 Kejuaruan Muda 103 130 137 196 196
8 Tamiang Hulu 50 67 68 86 88
9 Banda Mulia 66 87 88 92 96
10 Sekerak 25 38 55 56 57
11 Tenggulun 135 152 154 161 161
12 Bandar Pusaka 20 29 30 51 51
Jumlah 1.452 2.137 2.358 3.231 3.244
Sumber : Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian, 2017
Tabel 2.137
Rata-rata Omset UMKM Tahun 2012 – 2016 Menurut Kecamatan
No Kecamatan Omset (Rp 000)
2012 2013 2014 2015 2016
1 Manyak Payed 96,865,320 165,865,320 198,865,320 249,899,540 251,865,320
2 Bendahara 3,750,000 5,650,000 5,800,000 5,622,000 5,800,000
3 Seruway 9,500,000 18,560,000 20,000,000 26,729,000 27,700,000
4 Rantau 14,580,000 16,580,000 20,080,000 48,087,000 49,080,000
5 Karang Baru 11,150,000 15,150,000 26,150,000 29,160,000 30,150,000
6 Kota Kuala Simpang 5,221,300 8,621,300 8,621,300 112,103,000 112,103,000
7 Kejuaruan Muda 4,962,000 5,562,000 5,562,000 5,530,000 5,530,000
8 Tamiang Hulu 3,962,000 4,562,000 4,562,000 5,651,000 6,151,000
9 Banda Mulia 2,900,320 3,500,320 3,500,320 4,586,000 5,086,000
10 Sekerak 2,116,000 2,516,000 2,516,000 3,254,000 3,554,000
11 Tenggulun 3,413,000 3,615,000 3,613,000 3,513,000 3,613,000
12 Bandar Pusaka 3,151,000 3,241,000 3,241,000 3,241,000 3,241,000
Jumlah 161,570,940 253,422,940 302,510,940 497,375,540 503,873,320 Sumber : Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian, 2017
2.3.2.12 Penanaman Modal
Penanaman Modal adalah segala bentuk kegiatan menanam modal, baik oleh Penanam Modal dalam negeri maupun Penanam Modal asing untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia. Bidang Penanaman Modal (Investasi) juga merupakan salah satu urusan Pemerinthan Daerah wajib yang sebagian penyelenggaraannya diserahkan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah termasuk Kabupaten/Kota.
Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di bidang penanaman modal (investasi) daerah berpedoman antara lain dengan Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal.
Undang-Undang penanaman modal menjelaskan bahwa dalam rangka penyelenggaraan nasional, penanaman modal harus dijadikan bagian penting dan ditempatkan sebagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominasional, menciptakan lapangan kerja, meningktkan pembangunan ekonomi berkelanjutan, meningkatkan kepasitan dan kemapuan teknologi nasional, mendorong pembangunan ekonomi kerakyatan, serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam suatu system perekonomia yang berdaya asing.
Perkembangan realisasi investasi Kabupaten Aceh Tamiang untuk Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.138
Perkembangan Realisasi Investasi Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2012 - 2016
Tahun Uraian PMA (Ribu US$) PMDN (Rp. Juta)
2012 Proyek 1 1
Nilai Investasi 7.2 645
2013 Proyek 1 5
Nilai Investasi 1,4 24.462,6
2014 Proyek 2 6
Nilai Investasi 1.201,8 80.301,3
2015 Proyek 2 10
Nilai Investasi 0 393.368
2016 Proyek 6 2
Nilai Investasi 8,2 0
Sumber Data : Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, 2017
2.3.2.13 Kepemudaan dan Olah Raga
Jumlah organisasi olah raga di Kabupaten Aceh Tamiang pada tahun 2014 adalah sebanyak 25 klub dari berbagai cabang olah raga, dan tidak ada penambahan sampai dengan tahun 2012. Klub-klub olah raga tersebut adalah PSSI, PBVSI, IPSI, PASI, PERTINA, PERBAKIN, PERCASI, PTMSI, PBSI, IKASI, FORKI, PELTI, KODRAT, PDBI, PABBSI, FPTI, PGI, TI, PODSI, PSTI, ISSI, PERKEMI, POSSI, PERBASI, dan POBSI.
Tabel 2.139
Jumlah Klub Olah Raga Potensial Tahun 2016 Menurut Kecamatan
No Kecamatan
Jumlah Klub Olah Raga (unit) Sepak
Bola
Bulu
Tangkis Voli Pencak
Silat Futsal
1 Tamiang Hulu 4 1 2 - -
2 Bandar Pusaka 3 1 2 - -
3 Kejuruan Muda 8 1 2 - 2
4 Tenggulun 3 - 1 - -
5 Rantau 3 1 2 1 2
6 Kota Kuala Simpang 2 2 1 1 -
7 Seruway 4 1 1 - -
8 Bendahara 6 1 2 - -
9 Banda Mulia 4 1 1 - -
10 Karang Baru 4 2 2 2 2
11 Sekerak 1 - 2 - -
12 Manyak Payed 8 1 2 - 2
Jumlah 50 12 20 4 8
Sumber : Dnas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, 2017.
Minat masyarakat di bidang olahraga pada umumnya sangat baik, jika dilihat dari jumlah klub olahraga yang ada di tiap kecamatan. Dan cabang olahraga favorit dimasyarakat adalah sepak bola, voli dan futsal. Untuk pengembangan kegiatan olah raga
di masyarakat perlu upaya pembinaan agar minat masyarakat makin besar sehingga kemungkinan akan muncul bibit-bibit atlet olahragawan potensial.
Sementara itu jumlah lapangan olah raga yang tersedia pada tahun 2016 adalah sebanyak 552 unit yang tersebar di seluruh kecamatan, terdiri dari lapangan bola kaki, volley, bulutangkis, tenis dan basket, dan terbanyak terdapat di Kecamatan Rantau sebanyak 62 unit, dan paling sedikit terdapat di Karang Baru sebanyak 12 unit.
Ketersediaan lapangan olah raga ini selama lima tahun terakhir cenderung menurun.
Ketersediaan lapangan olah raga per kecamatan tahun 2012 – 2016 disajikan pada tabel berikut.
Tabel 2.140
Jumlah Lapangan Olahraga Tahun 2010-2014
NO Kecamatan Jumlah Lapangan Olah Raga (unit)
2012 2013 2014 2015 2016
1 Tamiang Hulu 18 18 16 13 13
2 Bandar Pusaka 32 31 35 35 32
3 Kejuruan Muda 24 23 23 20 18
4 Tenggulun 42 42 52 50 48
5 Rantau 66 85 75 64 62
6 Kota Kuala Simpang 52 52 33 35 36
7 Seruway 78 80 76 72 70
8 Bendahara 57 57 44 44 42
9 Banda Mulia 33 50 54 50 45
10 Karang Baru 13 13 17 15 12
11 Sekerak 63 63 58 54 51
12 Manyak Payed 69 69 69 62 59
Jumlah 515 547 547 583 552
Sumber : Dnas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, 2017.
Lapangan olahraga yang ada, sebagian besar dibangun secara swadaya oleh masyarakat di atas lahan milik masyarakat, dan pada umumnya masih dalam kondisi yang sangat sederhana dan belum memenuhi standar. Dari tahun ke tahun dapat dilihat adannya penurunan jumlah unit lapangan disebabkan beralihfungsinya lahan untuk keperluan pemilik, ataupun karena lapangan swadaya masyarakat kondisinya sudah tidak layak lagi.
2.3.2.14 Kebudayaan