BAB II. LANDASAN TEORI
2. Karakter
a. Pengertian karakter
Karakter sebagai suatu penilaian subjektif terhadap kepribadian seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima oleh masyarakat. Karakter berarti tabiat atau kepribadian. Karakter merupakan keseluruhan disposisi kodrati dan disposisi yang telah dikuasai secara stabil yang mendefinisikan seorang individu dalam keseluruhan tata perilaku psikisnya yang menjadikannya tipikal dalam cara berpikir dan bertindak. Karakter dapat didefinisikan sebagai paduan daripada segala tabiat manusia yang bersifat tetap, sehingga menjadi tanda yang khusus untuk membedakan orang yang satu dengan yang lain.
Batasan ini menunjukkan bahwa karakter sebagai identitas yang dimiliki seseorang yang bersifat menetap sehingga seseorang atau sesuatu itu berbeda dari yang lain. 20
Karakter mengacu pada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).21 Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang,
19 Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional ...., h. 16.
20 Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2012), h. 8
21 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 75.
18
18
berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain.22
Karakter disebut kepribadian. Kepribadian dalam bidang ilmu psikologi, diartikan sebagai karakteristik atau cara bertingkah laku yang menentukan penyesuaian dirinya yang khas terhadap lingkungannya.23 Kepribadian (personality) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakan dengan orang lain; integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendirian, kemampuan, dan potensi yang dimiliki oleh seseorang;
segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain. 24
Hamdani Bakran Adz-Dzakiey memberikan definisi kepribadian adalah eksistensi diri manusia yang bersifat khas, yang tumbuh, dan berkembang melalui proses nasabiyyah (keturunan) dan proses tarbiyyah (belajar) yang terpancar pada pola pikir, sikap, perilaku, tindakan, dan penampilannya. 25 Dalam al-Qur’an diisyaratkan tentang kepribadian yang tinggi, mulia, dan tangguh yang bersifat ketuhanan. Sebagaimana firman Allah Swt dalam QS.
Ali Imran/3 : 79, sebagai berikut :
22 Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter, (Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional, 2011), h. 5.
23 Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), h. 128.
24 Hamdani Bakran Adz-Dzakiey, Psikologi Kenabian, (Yogyakarta: Beranda Publising, 2007), h. 606.
25 Hamdani Bakran Adz-Dzakiey, Psikologi Kenabian ..., h. 113.
19
“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. 26
Karakter disebut juga perilaku. Perilaku adalah sesuatu yang dilakukan manusia untuk memuaskan segala kebutuhan atau keinginannya, baik kebutuhan jasmani dan nalurinya. Dengan kata lain, perilaku merupakan ekspresi atau ungkapan yang muncul dari adanya kebutuhan-kebutuhan jasmani dan naluri-naluri pada manusia.27 Perilaku sebagai bentuk proses pemuasan terhadap segala kebutuhan atau keinginan manusia tersebut berjalan sesuai dengan dua faktor yang menjadi tonggak kepribadian manusia, yaitu:
(1) Persepsi atau pemahaman yang ada pada seseorang sebagai hasil proses berpikirnya terhadap suatu fakta; dan (2) Kecenderungan yang terdapat dalam jiwa manusia terhadap suatu fakta.
b. Tujuan pendidikan karakter
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter atau akhlak mulia peserta
26 Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Pustaka Al- Kautsar, 2009), h. 60.
27 Suparman Syukur, Etika Religius, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 5.
20
20
didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. 28
Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan, keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktekkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.
Ramli, sebagaimana yang dikutip Sri Haryati, menjelaskan bahwa pendidikan karakter memilki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya
28 Sri Haryati, Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013, Jurnal, FKIP UTM, 2017, h. 15.
21
bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda. 29
Pendidikan karakter bertujuan membentuk dan membangun pola pikir, sikap, dan perilaku peserta didik agar menjadi pribadi yang positif, berakhlak karimah, berjiwa luhur, dan bertanggung jawab. Dalam konteks kehidupan, pendidikan karakter adalah usaha sadar yang dilakukan untuk membentuk peserta didik menjadi pribadi positif dan berakhlak karimah sesuai standar kompetensi lulusan, sehingga dapat diimplementasikan dalam kehidupan.
Sjarkawi, sebagaimana yang dikutip Sri Haryati, berpendapat bahwa pendidikan karakter bagi anak bertujuan agar secara sedini mungkin dapat:
1) Mengetahui berbagai karakter baik manusia.
2) Menunjukkan contoh perilaku berkarakter di kehidupan sehari- hari.
3) Mengartikan dan menjelaskan berbagai karakter.
4) Memahami sisi baik menjalankan perilaku berkarakter.
5) Memahami dampak buruk karena tidak menjalankan karakter baik.
6) Melaksanakan perilaku berkarakter dalam kehidupan sehari- hari. 30
Lebih lanjut Syarkawi, sebagaimana yang dikutip Sri Haryati, menjelaskan tujuan pendidikan karakter adalah mendorong lahirnya
29 Sri Haryati, Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 ..., h. 16.
30 Sri Haryati, Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 ..., h. 17.
22
22
anak-anak yang baik. Begitu tumbuh dalam karakter yang baik mereka akan tumbuh dengan kapasitas dan komitmennya untuk melakukan berbagai hal yang terbaik dan melakukan segalanya dengan benar dan cenderung memiliki tujuan hidup. Untuk itu karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sedini mungkin, sebab jika gagal dalam menanamkan karakter anak maka akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. 31
Sedangkan menurut Rachman, sebagaimana yang dikutip Sri Haryati, bahwa tujuan pendidikan karakter diantaranya sebagai berikut:
1) Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya dan karakter bangsa.
2) Mengembangkan potensi afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai karakter.
3) Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.
4) Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri dan kreatif.
5) Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan. 32
31 Sri Haryati, Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 ..., h. 17.
32 Sri Haryati, Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 ..., h. 18.
23 c. Jenis-jenis karakter
Dari pendidikan karakter yang dicanangkan di setiap negara khusunya di Indonesia tentu saja harus ada ketegasan dan kejelasan tentang nilai nilai atau karakter-karakter yang harus dimiliki oleh setiap siswa. Karakter setiap orang tentunya mencerminkan karakter bangsanya. Indonesian Heritage Foundation merumuskan sembilan karakter dasar yang menjadi tujuan pendidikan karakter. Kesembilan karakter tersebut yaitu33:
1) Cinta kapada Allah SWT dan semesta beserta isinya 2) Tanggung jawab, disiplin, dan mandiri
3) Hormat dan sopan santun 4) Jujur
5) Kasih sayang, peduli, dan kerjasama
6) Percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah 7) Keadilan dan kepemimpinan
8) Baik dan rendah hati
9) Toleransi, cinta damai, dan persatuan.
Kemudian, enam pilar karakter berdasarkan The Six Pillar of Character yang dikeluarkan oleh Character Count Coalition (a Project of The Joseph Institute of Ethics), sebagai berikut34:
1) Trustworthiness, bentuk karakter yang membuat seseorang menjadi beritegrasi, jujur, dan loyal.
33Hilda Ainissyifa, Pendidikan Karakter dalam Perspektif Pendidikan Islam, Jurnal Pendidikan Universitas Garut Vol. 08, No. 01, 2014, h. 8.
34Hilda Ainissyifa, Pendidikan Karakter ..., h. 9.
24
24
2) Fairness, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki pemikiran terbuka serta tidak suka memanfaatkan orang lain.
3) Caring, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki sikap peduli dan perhatian terhadap orang lain maupun kondisi sosial lingkungan sekitar.
4) Respect, bentuk karakter yang membuat seseorang selalu menghargai dan menghormati orang lain.
5) Citizhenship, bentuk karakter yang membuat seseoorang sadar hukuman dan peraturan serta peduli terhadap lingkungan alam.
6) Responsibility, bentuk karakter yang membuat seseorang bertanggung jawab, disiplin, dan selalu melakukan sesuatu dengan sebaik mungkin.