• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakter Religius Anak 1. Pengertian Anak

Dalam dokumen KECAMATAN METRO UTARA KOTA METRO (Halaman 35-40)

Anak merupakan modal dasar bagi pembangunan sumber daya manusia suatu bangsa.25 Sedangkan menurut pendapat lain, anak adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa harus dijaga, dibina dengan baik dan penuh kasih sayang, karena anak juga memiliki harkat, martabat dan hak yang harus junjung tinggi dan dilindungi, supaya dimasa mendatang anak tersebut dapat berguna dan bermanfaat bagi sesama dan bagi bangsa.26

Pengertian anak berdasarkan pasal 1 ayat (1) UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak adalah seseorang yang belum berusia delapan belas tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan, jadi anak adalah setiap orang yang belum berusia 21 tahun dan belum menikah.27

Dari beberapa pengertian di atas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa anak merupakan seseorang yang berusia dibawah 21 tahun dan

25Ahmad Susanto, Bimbingan dan Konseling di Taman Kanak-kanak (Jakarta:

Prenadamedia Group, 2015), 1.

26Paulus Maruli Tamba, “Realisasi Pemenuhan Hak Anak Yang Diatur Dalam Konstitusi Terhadap Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum Dalam Proses Pemidanaan” 2, no. 5 (2016): 1.

27Undang-undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, (Jakarta: PT. Pradnya Paramita, 2002), 90.

belum menikah dan merupakan modal dasar bagi sumber daya manusia yang senantiasa harus dijaga, dirawat dan dibina penuh dengan kasih sayang agar berguna bagi sesama dan bangsa.

2. Pengertian Karakter Religius Anak

Karakter adalah perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari baik dalam bersikap maupun dalam bertindak.28Bisa dikatakan sesuatu yang baik, misalnya terkait dengan sikap jujur, toleransi, kerja keras, adil, dan amanah. Akan tetapi, tanpa disertai iman yang kuat kepada Allah, karakter tersebut mungkin akan melampaui batas-batas ajaran agama, dalam hal ini agama islam.

Sedangkan menurut Komara religius adalah cara berpikir, bersikap dan berperilaku yang mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ibadah agamadan kepercayaan lain, serta hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain.29

Dari pendapat lain yang senada dengan pendapat di atas menurut Narwanti menyatakan bahwa karakter religius yaitu sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.30

28Muchalas Samani dan Haryanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), 42.

29Ibid.

30Markhamah, Ali Imron, dan Atiqa Sabardila, Reaktualisasi Pendidikan Karakter Berbasis A-Quran (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2020), 29.

Karakter religius adalah karakter utama penentu kehidupan seseorang ke arah yang baik. Dengan demikian, karakter religius membimbing seseorang untuk mencintai Allah Swt, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan.31

Selanjutnya anak adalah anugerah dari tuhan yang maha kuasa yang harus diaga dan dididik yang kelak setiap orangtua akan diminta pertanggungjawaban atas sifat dan perilaku anak semasa di dunia.32

Menurut beberapa pengertian diatas, penulis menyimpulkan bahwa karakter religius anak adalah sikap yang terlihat pada diri seseorang anak dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan keberimanannya kepada Allah SWT. Dengan memiliki karakter religius, hidup seseorang akan mengarah dan terbimbing pada kehidupan yang lebih baik, sebab dengan rasa cinta, keimanan, dan ketaqwaankepada Allah Swt akan membimbing seseorang melaksanakan ajaran islam dengan baik.

3. Aspek-aspek Karakter Religius Anak

Pada tahap pembentukan karakter religius anak juga terdapat beberapa aspek. Berikut ini merupakan aspek-aspek karakter religius anak, antara lain:

a) Aspek iman, menyangkut keyainan manusia dengan Tuhan, malaikat, para nabi, dan sebagainya.

b) Aspek islam, menyangkut frekuensi dan pelaksaan ibadah yang ditetapkan misalnya solat, puasa dan zakat

31Ibid, 28

32www,idjoel.com diunduh pada 24 April 2021

c) Aspek ihsan, menyangkut pengalaman dan perasaan tentang kehadiran tuhan, takut melanggar larangan dan lain-lain.

d) Aspek amal, menyangkut tingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya menolong orang lain, membela orang lemah, bekerja dan sebagainya.

e) Aspek ilmu, yang menyangkut pemahaman orang terhaadap ajaran agama.33

Dari aspek-aspek karakter religius anak diatas dapat disimpulkan bahwa karakter religius biasa dikatakan sebagai karakter religius ujung tombak dalam pendidikan karakter. Karakter religius merupakan salah satu aspek dalam pembentukan karakter, dan dalam karakter religius terdapat lima aspek yaitu aspek iman, aspek islam, aspek ikhsan, aspek ilmu, dan aspek amal.

33Miftahul Jannah, “Metode dan Strategi Pembentukan Karakter Religius yang Diterapkan Di SDTQ-T An Najah Pondok Pesantren Cindai Alus Martapura,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah 4, no. 1 (2019): 91.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Sifat Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini jelas penelitiannya dengan pendekatan kualitatif.

Penelitian ini tentang kejadian yang terjadi dilapangan yang menggambarkan kondisi dan kejadian nyata atau kondisi aktual yang terjadi dilapangan bawah pengamatan dengan tujuan mendapatkan data.1Penelitian lapangan ini dilakukan secara langsung di Kelurahan Karangrejo Kecamatan Metro Utara Kota Metro, di mana objek yang diteliti yaitu peran ayah dalam membentuk karakter religius anak.

2. Sifat Penelitian

Sifat penelitian ini adalah bersifat Deskriptif Kualitatif, Metode deskripsi ini digunakan agar penulis lebih jelas menjelaskan tentang gambaran keseluruhan dari masalah yang di amati dilapangan.2 Dari hasil penelitian ini yang nantinya akan ditulis untuk melengkapi gambar menyeluruh dari hasil penelitian.

Penulis mengungkapkan peran ayah dalam membentuk karakter religius anak dengan cara menjelaskan, memaparkan/menggambarkan dengan kata-kata secara jelas dan terperinci melalui bahasa yang tidak berwujud nomor/angka. Dengan jenis penelitian deskriptif dan

1Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Revisi (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), 26.

2Emzir, Metode Penelitian (Jakarta: Raja Grafindo, 2012), 174.

menggunakan pendekatan fenomenologi maka dapat diasumsikan bahwa sifat dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif lapangan.

Dalam dokumen KECAMATAN METRO UTARA KOTA METRO (Halaman 35-40)

Dokumen terkait