• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Beton Aspal

Dalam dokumen TUGAS AKHIR - Universitas Bosowa (Halaman 69-75)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

2.5. Karakteristik Beton Aspal

Karakteristik campuran yang harus dimiliki oleh campuran beton aspal adalah:

1. Stabilitas

Stabilitas adalah kemampuan perkerasan jalan menerima beban lalu lintas tanpa terjadi perubahan bentuk tetap seperti gelombang, alur dan bleeding. Kebutuhan akan stabilitas sebanding dengan fungsi jalan, dan beban lalu lintas jalan yang melayani volume lalu lintas tinggi dan

II - 46

dominan dari kendaraan berat, membutuhkan perkerasan jalan dengan stabilitas tinggi sebaliknya perkerasan jalan yang diperuntukkan untuk melayani lau lintas kendaraan ringan tentu tidak perlu mempunyai nilai stabilitas yang tinggi.

Faktor yang mempengaruhi nilai stabilitas beton aspal adalah:

a. Gesekan internal yang dapat berasal dari kekerasan permukaan dari butir agregat, luas bidang kontak antar butir, gradasi agregat, kepadatan campuran dan tebal film aspal. Stabilitas terbentuk dari kondisi gesekan internal yang terjadi antara butir-butir agregat, saling mengunci dan mengisi butir–butir agregat dan masing-masing butir saling terikat akibat gesekan antar butir dan adanya aspal. Kepadatan campuran menentukan pula tekanan kontak, dan nilai stabilitas campuran. Pemilihan Agregat bergradasi baik atau rapat akan memperkecil rongga antar agregat sehingga aspal yang ditambahkandalam campuran menjadi sedikit. Hal ini berakibat film aspal menjadi tipis. Kadar Aspal yang optimal memberikan nilai stabilitas maksimum.

b. Kohesi adalah gaya ikat aspal yang berasl dari daya lekatnya atau kemampuan aspal untuk melekat, sehingga mampu memelihara tegangan kontak antara butir agregat. Daya kohesi terutama ditentukan oleh penetrasi aspal, perubahan viskositas akibat temperatur, tingkat pembebanan, komposisi kimiawi aspal, efek dari waktu dan umur aspal. Sifat dari rheoligi aspal menentukan kepekaan

II - 47

aspal untuk mengeras dan menjadi rapuh yang akan mengurangi daya kohesinya.

2. Keawetan atau Durabilitas

Keawetan atau durabilitas adalah kemampuan beton aspal menerima beban lalu lintas seperti berat kendaraan dan gesekan atas roda kendaraan dan permukaan jalan serta menahan keausan akibat perubahan cuaca dan iklim seperti udara, air atau perubahan temperatur.

Durabilitas beton aspal dipengaruhi oleh tebalnya film atau selimut aspal, banyaknya pori dalam campuran, kepadatan, dan kedap airnya campuran.

Selimut aspal yang tebal akan membungkus agregat secara baik, beton aspal akan lebih kedap air, sehingga kemampuannya menahan keausan semakin baik. Tetapi semakin tebal selimut aspal maka semakin mudah terjadi bleeding yang mengakibatkan jalan semakin licin. Besarnya pori yang tersisa dalam campuran setelah pemadatan, mengakibatkan durabilitas beton aspal menurun. Semakin besar pori yang tersisa semakin tidak kedap air dan semakin banyak udara di dalam beton aspal yang menyebabkan semakin mudahnya selimut aspal beroksidasi dengan udara dan menjadi getas dan durabilitasnya menurun.

3. Kelenturan dan Fleksibilitas

Kelenturan dan Fleksibilitas adalah kemampuan beton aspal untuk menyesuaikan diri akibat penurunan (konsolidasi/settlement) atau mampu menahan lendutan akibat beban lalu lintas dan pergerakan dari pondasi atau tanah dasar, tanpa terjadi retak. Penurunan akibat berat sendiri tanah

II - 48

timbunan yang dibuat diatas tanah asli. Fleksibilitas dapat ditingkatkan dengan mempergunakan agregat bergradasi terbuka dengan kadar aspal yang tinggi.

4. Ketahanan Terhadap Kelelehan (Fatique Resistance)

Ketahanan terhadap kelelehan (fatique resistance) merupakan kemampuan beton aspal menerima lendutan berulang akibat beban lalulintas, tanpa terjadinya kelelehan berupa alur dan retak selama umur rencana. Hal ini dapat tercapai jika menggunakan kadar aspal yang tinggi.

5. Kekesatan/Tahanan Geser (Skid Resistance)

Kekesatan/tahanan geser (skid resistance) adalah kemampuan permukaan beton aspal terutama pada kondisi basah,memberikan gaya gesek pada roda kendaraan sehingga kendaraan tidak tergelincir atau slip. Faktor-faktor untuk mendapatkan kekesatan jalan sama dengan untuk mendapatkan stabilitas yang tinggi, yaitu kekasaran permukaan dari butir-butir agregat, kepadatan campuran dan tebal film aspal. Ukuran maksimum butir agregat ikut menentukan kekesatan permukaan. Dalam hal ini agregat yang digunakan tidak saja harus mempunyai permukaan kasar tapi juga mempunyai daya tahan untuk permukaannya agar tidak menjadi licin akibat repetisi kendaraan.

6. Kedap Air (Impermeabilitas)

Kedap air (impermeabilitas) adalah kemampuan beton aspal untuk tidak dimasuki air ataupun udara kedalam lapisan beton aspal. Air dan udara dapat mengakibatkan percepatan proses penuaan aspal, dan

II - 49

pengelupasan film/selimut dari permukaan agregat. Jumlah pori yang tersisa setelah beton aspal dipadatkan dapat menjadi indikator kekedapan air campuran. Tingkat permeabilitas beton aspal berbanding terbalik dengan tingkat durabilitasnya.

7. Mudah Dilaksanakan (Workability)

Mudah dilaksanakan (workability) adalah kemampuan campuran beton aspal untuk mudah dihamparkan dan dipadatkan. Tingkat kemudahan dalam pelaksanaan menentukan tingkat efisiensi pekerjaan.

Faktor yang mempengaruhi tingkat kemudahan dalam proses penghamparan dan pemadatan adalah viskositas aspal, kepekaan aspal terhadap perubahan temperatur dan gradasi serta kondisi agregat. Revisi atau koreksi terhadap rancangan campuran dapat dilakukan jika ditemukan kesukaran dalam pelaksanaan.(Sumber: Pedoman Perencanaan Campuran Beraspal, Departemen Pekerjaan Umum, 2010)

2.5.1. Sifat-Sifat Campuran Beton Aspal

Campuran Beton aspal memiliki sifat sebagai berikut:

a. Tahan terhadap keausan akibat beban lalu lintas b. Kedap air

c. Mempunyai nilai structural

d. Mempunyai stabilitas yang tinggi.

e. Peka terhadap penyimpangan perencanaan dan pelaksanaan.

II - 50 2.5.2. Fungsi Campuran Beton Aspal

Campuran beton Aspal mempunyai fungsi sebagai berikut:

a. Sebagai pendukung lalu lintas b. Sebagai lapis aus

c. Sebagai pelindung konstruksi dibawahnya akibat pengaruh air dan cuaca

d. Menyediakan permukaan jalan yang rata dan tidak licin.

2.5.3. Perencanaan Campuran

Lapisan aspal yang baik haruslah memenuhi 4 syarat yaitu stabilitas, durabilitas, fleksibilitas dan tahan geser. Jika memakai gradasi rapat akan menghasikan gradasi yang baik, berarti memberikan stabilitas yang baik tetapi mempunyai rongga pori yang kecil sehingga memberikan kelenturan fleksibilitas yang kurang baik dan akibat tambahan pemadatan dari beban lalu lintas yang berulang serta aspal yang mencair akibat pengaruh cuaca akan memberikan tahanan geser yang kecil. Sebaliknya jika menggunakan gradasi terbuka akan diperoleh kelenturan yang baik tetapi stabilitas yang kecil.Kadar aspal yang terlalu sedikit akan mengakibatkan lapisan pengikat antarbutir kurang, terlebih jika kadar rongga yang dapat diserapi aspal lebih besar. Hal ini akan mengakibatkan lapisan pengikat aspal cepat lepas dan durabilitas kurang. Kadar aspal yang tinggi mengakibatkan durabilitas dan kelenturan yang baik tetapi dapat terjadi bleeding sehingga stabilitas dan tahanan geser berkurang.

II - 51

Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa haruslah ditentukan campuran agregat-agregat dan aspal seoptimal mungkin.

Dengan kata lain haruslah direncanakan campuran yang meliputi gradasi agregat (mutu agregat) dan kadar aspal sehingga dihasilkan lapisan perkerasan yang dapat memenuhi keempat syarat yang disebutkan di atas, sehingga akan diperoleh:

1. Kadar aspal yang cukup memberikan kelenturan.

2. Stabilitas cukup memberikan kemampuan memikul beban sehingga tidak terjadi deformasi yang merusak.

3. Kadar rongga memberikan kesempatan untuk pemadatan tambahan akibat beban berulang.

4. Dapat memberikan kemudahan kerja sehingga tidak terjadi segresi.

5. Dapat menghasilkan campuran dan menghasilkan lapisan perkerasan yang sesuai dengan persyaratan dalam pemilihan lapisan perkerasan pada tahap perencanaan.

Dalam dokumen TUGAS AKHIR - Universitas Bosowa (Halaman 69-75)

Dokumen terkait