• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Pejabat Publik Di Indonesia

Dalam dokumen Hukum Dan Politik Hukum Jabatan Notaris (Halaman 134-141)

Pasal 1 angka 1 UUJN menyatakan bahwa Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang ini atau berdasarkan undang-undang lainnya. Ketentuan tersebut telah secara tegas menyatakan bahwa Notaris adalah Pejabat.

Jabatan Notaris diadakan atau kehadirannya dikehendaki oleh aturan hukum dengan maksud untuk membantu dan melayani masyarakat yang membutuhkan alat bukti tertulis yang bersifat otentik mengenai keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum.

Pada suatu jabatan butuh subjek untuk menjalankan jabatan tersebut sesuai dengan kewenangan yang melekat. Dari adanya kebutuhan tersebut maka diperlukan adanya Pejabat sebagai sosok yang menjalankan suatu jabatan. Kata Pejabat dalam kosakata bahasa indonesia memiliki makna “Pegawai pemerintah yang memegang jabatan (unsur pemimpin) atau orang yang memegang suatu jabatan”

188 Berkaitan dengan Jabatan dan Pejabat tersebut Habib Adjie berpendapat:

Jabatan merupakan suatu bidang pekerjaan atau tugas yang sengaja dibuat oleh aturan hukum untuk keperluan dan fungsi tertentu serta bersifat berkesinambungan sebagai suatu

188 http://kbbi.web.id/jabat, diakses Rabu, 19 Juli 2017, pukul 16.58 WIB.

lingkungan pekerjaan tetap. Jabatan merupakan suatu subjek hukum yakni pendukung hak dan kewajiban. Agar suatu jabatan dapat berjalan maka jabatan tersebut disandang oleh subjek hukum lainnya yaitu orang. Orang yang diangkat untuk melaksanakan jabatan disebut pejabat. Suatu jabatan tanpa ada pejabatnya, maka jabatan tersebut tidak dapat berjalan.189

Secara historis, penyebutan Notaris sebagai pejabat umum sudah ada mulai dari Burgerlijk Wetboek, Peraturan Jabatan Notaris sampai ke era berlakunya UUJN. Hal tersebut dapat dilihat dari : 1. Pasal 1868 BW yang menyebutkan : “Eena authentieke acte is

zoodanige welke in de wettelijken vorn is verleden, door of ten overstaan van openbare ambtenaren die daartoe bevoegd zijn ter plaatse alwaar zulks is gescheid” (Suatu akta otentik ialah suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan undang-undang oleh atau dihadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu ditempat akta itu dibuat).190

2. Pasal 1 PJN yang menyatakan : “Notaris adalah pejabat umum yang satu-satunya berwenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta otentik, menjamin kepastian tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan grosse, salinan dan kutipannya, semuanya sepanjang pembuatan akta itu oleh suatu peraturan umum tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain”.191 3. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang

Jabatan Notaris, yang menyatakan : “Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.”

4. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, yang menyatakan : “Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan memiliki

189 Habib Adjie I, Op. Cit., h. 10-11.

190 Habib Adjie I, Op. Cit., h. 13.

191 Komar Andasasmita, Op. Cit., h. 14.

kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang ini atau berdasarkan undangundang lainnya.”

Penyebutan Pejabat Umum merupakan terjemahan dari kata Openbaar Ambtenaar dalam bahasa Belanda. R. Soegondo Notodisoerjo menyatakan penyebutan Notaris sebagai pejabat umum erat kaitannya dengan wewenang dan tugas kewajiban Notaris membuat akta otentik untuk masyarakat umum.192 Kewenangan Notaris untuk melayani masyarakat umum tersebut dikatakan oleh Komar Andasasmita terbatas pada lapangan hukum perdata saja.193

Pendapat lain dikemukakan oleh R. Soesanto yang tidak memberikan terjemahan dari Openbaar Ambtenaar sebagai Pejabat Umum tetapi sebagai Pegawai umum:

“Pegawai umum adalah pegawai yang diangkat untuk keperluan siapa saja yang memerlukan surat (akta) menurut Pasal 1868. Rumusan pegawai umum yang lebih lengkap yaitu bahwa ia seorang yang mengabdi pada badan pemerintahan, misalnya Negara, Provinsi, Kotapraja. Tugas badan-badan tersebut diwakilkan kepada pegawai umum, serta pula dapat mempergunakan kekuasaan badan itu.”194

Berkaitan dengan penyebutan Notaris sebagai Pejabat Umum seiring dengan berjalannya waktu penyebutan Pejabat Umum dirasa tidak tepat dan sudah seharusnya dimaknai Notaris adalah Pejabat Publik. Dalam Wet op het Notarisambt yang mulai berlaku tanggal 3 April 1999, Pasal 1 huruf a disebutkan bahwa “Notaris : de ambtenaar”, Notaris tidak lagi disebut sebagai Openbaar Ambtenaar sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 Wet op het notarisambt yang lama (diundangkan tanggal Juli 1842, Stb 20). Tidak dirumuskan lagi Notaris sebagai Openbaar Ambtenaar, sekarang ini tidak dipersoalkan, apakah notaris sebagai Pejabat Umum atau bukan, dan perlu diperhatikan bahwa istilah Openbaar Ambtenaar dalam konteks ini tidak bermakna umum, tetapi bermakna Publik195. Ambt pada dasarnya adalah jabatan publik. Dengan demikian jabatan Notaris adalah

192 R. Soegondo Notodisoerjo, Op.Cit., h. 42-43.

193 Komar Andasasmita, Op. Cit., h. 46.

194 R. Soesanto, Tugas, Kewajiban dan Hak-Hak Notaris, Wakil Notaris (Sementara), Pradnya Paramita, Jakarta, 1978, h. 34-35.

195Philipus M. Hudjon dan Tatiek Sri Djatmiati, Argumentasi Hukum, Gadjahmada University Press, Yogyakarta, 2005, h. 80.

jabatan publik tanpa perlu atribut Openbaar.196 Penjelasan pasal 1 huruf a tersebut diatas bahwa penggunaan istilah istilah Notaris sebagai Openbaar Ambtenaar sebagai tautologi.197

Jika ketentuan dalam Wet op het Notarisambt tersebut diatas dijadikan rujukan untuk memberikan pengertian yang sama terhadap ketentuan Pasal 1 angka 1 UUJN yang menyebutkan Notaris adalah Pejabat Umum yang berwenang untuk membuat akta otentik, dan kewenangan lainnya sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 15 ayat 2 dan 3 UUJN, maka pejabat umum yang dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 UUJN harus dibaca sebagai pejabat publik atau Notaris sebagai pejabat publik yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) dan (3) UUJN dan untuk melayani kepentingan masyarakat.198

Di Negara Belanda untuk sesuatu yang bersifat umum digunakan beberapa istilah antara lain Generaal, Algemeen, Openbaar dan Publiek. Kata-kata tersebut mempunyai arti yang sama, tapi penerapannya bisa berbeda. Kata General dipergunakan untuk sesuatu yang tidak ditujukan untuk hal tertentu sebagai lawan khusus (speciaal), arti ini sama dengan kata umum dalam bahasa Indonesia.

Publiek dalam bahasa Indonesia berkaitan dengan khalayak ramai.

Dengan demikian arti generaal dan umum mempunyai arti yang sama, yaitu untuk sesuatu yang tidak ditujukan untuk hal tertentu sebagai lawan khusus, sedangkan publik dalam bahasa Indonesia berkaitan dengan orang/masyarakat banyak secara umum.199

Algemeen diartikan sebagai pengaturan (aturan hukum) yang bersifat umum misalnya Algemene Bepalingen Vat Wetgeving Voor Nederlands-Indie, sedangkan Openbaar diartikan ditujukan kepada atau untuk lembaga (hukum) yang mempunyai tugas umum, seperti Openbaar Ambtenaar yang ditujukan kepada Notaris sebagai Pejabat Umum yang melayani umum dalam pembuatan akta otentik. Publiek ditujukan untuk substansi suatu hukum, misalnya Publiekrecht yang

196 Ibid.

197 Habib Adjie I, Op. Cit., h. 50.

198 Ibid.

199 Habib Adjie II, Op. Cit., h. 25.

berarti hukum publik yang di dalamnya ada keterlibatan pihak pemerintah. 200 Menurut Habib Adjie:

“Dengan demikian kata Algemeen, Openbaar dan Publiek senantiasa mempunyai arti berkaitan dengan hukum atau mempunyai makna hukum. Bahasa Indonesia belum mempunyai istilah yang tepat untuk mengartikan atau mengakomodir kata –kata tersebut. Bahasa Indonesia hanya mengenal kata umum dan publik. Meskipun demikian agar tidak rancu dalam penggunaannya maka istilah publik (dalam bahasa Indonesia) harus diartikan sama dengan publiek (dalam bahasa Belanda) yang mempunyai makna hukum, sehingga penggunaan istilah atau kata publik hanya untuk badan atau pejabat pemerintah yang dilengkapi kekuasaan atau kewenangan dan fungsi tertentu menurut aturan hukum untuk melayani kepentingan masyarakat, seperti mereka yang bekerja di pemerintahan (eksekutif) dari pusat sampai daerah disebut sebagai Pejabat Publik.” 201

Pengertian tentang Pejabat Publik banyak dijumpai pada lapangan hukum administrasi negara. Untuk memahami tentang Pejabat Publik dapat dimulai dengan mencari pengertian secara harfiah. Istilah “Pejabat Publik” terdiri dari dua suku kata, yaitu

“Pejabat” dan “Publik”. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBIH) memberi pengertian “Pejabat” dengan: pegawai pemerintah yang memegang jabatan penting (unsur pimpinan).202 Sementara, istilah

‘Publik: diartikan dengan: orang banyak (umum).203 Dari pengertian ini, dapat dipahami bahwa “Pejabat Publik” adalah pegawai pemerintah yang memegang jabatan penting sebagai pimpinan yang mengurusi kepentingan orang banyak. Dengan defenisi yang demikian, seseorang dapat dikatakan sebagai “Pejabat Publik” apabila memenuhi 3 (tiga) syarat, yaitu: bahwa dia adalah pegawai pemerintah, menjabat sebagai pimpinan dan tugasnya adalah mengurusi kepentingan orang banyak.

200 Ibid.

201 Ibid, h. 26.

202 http://kbbi.web.id/pejabat, diakses Rabu, 19 Juli 2017, pukul 16.58 WIB.

203 http://kbbi.web.id/publik, diakses Rabu, 19 Juli 2017, pukul 17.15 WIB.

Dalam kaitannya dengan hukum tata negara dan hukum administrasi negara, istilah “Pejabat Publik” memiliki makna yang similar (sama) dengan istilah “Pejabat Tata Usaha Negara”. Menurut Hans Kelsen, bahwa setiap jabatan yang menjalankan fungsi-fungsi

law creating function and law applying function’ adalah pejabat tata usaha negara. Artinya, bahwa setiap jabatan yang melaksanakan fungsi- fungsi pembuatan dan pelaksanaan norma hukum negara dapat disebut sebagai pejabat tata usaha negara atau pejabat publik.Pandangan Hans Kelsen tersebut juga mensyaratkan 3 (tiga) hal, yaitu : 1) adanya jabatan; 2) adanya fungsi pembentukan norma hukum negara yang melekat pada jabatan tersebut; dan 3) selain fungsi pembuatan norma hukum negara, juga melekat fungsi pelaksanaan norma hukum negara pada jabatan tersebut.204

Pengertian tentang Pejabat Publik juga terdapat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (selanjutnya ditulis UU KIP). Dalam Pasal 1 angka 8 UU KIP dinyatakan bahwa “Pejabat Publik adalah orang yang ditunjuk dan diberi tugas untuk menduduki posisi atau jabatan tertentu pada badan publik.” Sedangkan yang dimaksud badan publik dijelaskan dalam Pasal 1 angka 3 UU KIP yang menyatakan :

“Badan Publik adalah lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif dan badan lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara, yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, atau organisasi nonpemerintah yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, sumbangan masyarakat, dan/atau luar negeri.”

Pengertian tentang Pejabat Publik yang terdapat pada UU KIP tidak sepenuhnya relevan apabila dikaitkan dengan Notaris sebagai Pejabat Publik. Perbedaan yang mendasar adalah pada UU KIP Pejabat Publik dalam melaksanakan tugas jabatannya mendapatkan sumber dana dari APBN/APBD baik seluruhnya

204 Hans Kelsen, Teori Hukum Murni, Terjemahan Raisul Mutaqien, Nuansa dan Nusa Media, Bandung, 2006, h. 276-277.

maupun sebagian, sedangkan Notaris sebagai Pejabat Publik sama sekali tidak menggunakan dana dari APBN/APBD.

Penyebutan Notaris sebagai Pejabat Publik terdapat pula dalam pertimbangan hukum Putusan Mahkamah Agung dengan nomor perkara 2812 K/Pdt/2001, tanggal 28 November 2002, yang menyatakan:

“bahwa keberatan ini tidak dapat dibenarkan, oleh karena judex facti tidak salah menerapkan hukum, karena perikatan in casu dilakukan di hadapan Pejabat Publik, yang oleh peraturan perundang-undangan diberikan kewenangan sebagaimana dimaksud oleh Pasal 1868 KUHPerdata jo.

Pasal 1870 KUHPerdata dan Pasal 15 HIR, maka perikatan in casu mengikat baik terhadap para pihak yang melakukan perikatan dan para ahli warisnya”.

Notaris sebagai Pejabat Publik dalam pengertian mempunyai wewenang dengan pengecualian. Dengan mengkatagorikan Notaris sebagai Pejabat Publik. Dalam hal ini publik yang bermakna umum, bukan Publik sebagai khalayak umum. Notaris sebagai Pejabat Publik tidak berarti sama dengan Pejabat Publik dalam bidang pemerintah yang dikatagorikan sebagai badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, hal ini dapat dibedakan dari produk masing-masing Pejabat Publik tersebut. Notaris sebagai Pejabat Publik produk akhirnya yaitu akta otentik, yang terikat dalam ketentuan hukum perdata terutama dalam hukum pembuktian. Akta tidak memenuhi syarat sebagai Keputusan Tata Usaha Negara yang bersifat konkret, individual, dan final. Serta tidak menimbulkan akibat hukum perdata bagi seseorang atau badan hukum perdata karena akta merupakan formulasi keinginan atau kehendak (wilsvorming) para pihak yang dituangkan dalam akta Notaris yang dibuat atau dihadapan Notaris. Sengketa dalam bidang perdata diperiksa di pengadilan umum (negeri). Pejabat Publik dalam bidang pemerintahan produknya yaitu Surat Keputusan atau Ketetapan yang terikat dalam ketentuan Hukum Administrasi Negara yang memenuhi syarat sebagai penetapan tertulis yang bersifat individual dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata, dan sengketa dalam Hukum Administrasi diperiksa di Pengadilan Tata Usaha negara. Dengan demikian dapat disimpulkan

bahwa Notaris sebagai Pejabat Publik yang bukan Pejabat atau Badan Tata Usaha Negara.

Dalam kaitan ini perlu dipikirkan mengenai reposisi Notaris sebagai Pejabat Umum ke Pejabat Publik, bukan berarti Publik dalam pengertian umum, tapi Publik dalam arti suatu Jabatan yang mempunyai kewenangan tertentu berdasarkan aturan hukum yang mengatur jabatan tersebut, dalam hal ini kewenangan Notaris sebagaimana tercantum dalam Pasal 15 UUJN dan produk Pejabat Publik tersebut dalam hal ini Notaris, yaitu akta mempunyai kekuatan hukum dan nilai pembuktian yang sempurna para pihak dan siapapun sepanjang tidak dibuktikan sebaliknya, bahwa akta tersebut tidak sah dengan menggunakan azas praduga sah secara terbatas. Kemudian Notaris sebagai Pejabat Publik mempunyai batasan pertanggung jawaban yaitu sampai yang bersangkutan masih mempunyai kewenangan sebagai Notaris, maka ketika seorang Notaris pensiun atau berhenti dengan alasan apapun sudah tidak mempunyai pertanggungjawaban lagi.205

7.3 Jabatan Notaris Sebagai Jabatan Terhormat (Officium No-

Dalam dokumen Hukum Dan Politik Hukum Jabatan Notaris (Halaman 134-141)