Tentu saja tidak, sebenarnya pernyataan tersebut merupakan konsep dasar bagi para sarjana hukum yang benar-benar mengetahui hakikat dan ciri-ciri ilmu hukum. Ungkapan yang sering dilontarkan oleh para sarjana hukum yang tidak memahami hukum ini semakin memperkuat ejekan para sarjana lainnya terhadap ilmu hukum.
Teori Jabatan dan Jabatan Notaris
31 Notaris adalah pejabat umum yang berwenang membuat akta autentik sepanjang pembuatan akta autentik tertentu tidak diperuntukkan bagi pejabat umum lainnya. Namun notaris bukanlah satu-satunya pejabat publik yang diberi tugas oleh undang-undang untuk membuat akta autentik.
Teori Kewenangan
Kewenangan diperoleh dengan cara atribusi, yaitu pemberian wewenang pemerintahan yang baru melalui suatu ketentuan dalam peraturan perundang-undangan. “Dalam amanatnya tidak ada pemberian kewenangan baru atau pelimpahan wewenang dari suatu Badan atau Jabatan TUN kepada Badan lainnya.” 43.
Teori Tanggung Jawab
Dalam hal atribusi, tanggung jawab wewenang terletak pada penerima wewenang (attributary), dalam hal pendelegasian, tanggung jawab wewenang terletak pada penerima wewenang (delegans) dan bukan pada pemberi wewenang (delegataris), sedangkan dalam hal dari suatu amanat, tanggung jawab wewenang terletak pada pemberi amanah (mandans) bukan penerima amanat (mandanary). Menurut Hans Kelsen dalam teorinya tentang tanggung jawab hukum menyatakan bahwa “seseorang secara hukum bertanggung jawab atas suatu perbuatan tertentu atau yang ditanggungnya.
Teori Perlindungan Hukum
Menurut fikih, delik adalah suatu perbuatan yang diancam hukuman karena merupakan pelanggaran hukum. a) Perlindungan hukum preventif bertujuan untuk mencegah timbulnya perselisihan, yang mengamanatkan tindakan pemerintah untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan berdasarkan kewenangannya. Perlindungan hukum merupakan unsur penting dan merupakan konsekuensi dari suatu negara hukum, bahwa negara wajib menjamin hak-hak hukum warga negaranya.
Prinsip Equality
Aspek ketiga, yaitu Konstitusi dijiwai dengan supremasi hukum karena asas-asas umum konstitusi (misalnya mengenai hak atas kebebasan) adalah hasil-hasil dan putusan-putusan pengadilan yang menentukan hak-hak individu dalam hal-hal tertentu yang dibawa ke pengadilan. Prinsip ini merupakan salah satu landasan doktrin Rule of Law yang juga menyebar ke negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Konsep Akta Otentik
Syarat-syarat penandatanganan akta tersebut dapat dilihat dari Pasal 1874 KUH Perdata dan Pasal 1 Ordonansi Nomor 29 Tahun 1867 yang memuat ketentuan mengenai pembuktian tulisan pribadi yang dibuat oleh orang Indonesia atau yang dipersamakan dengan itu. Diantara surat-surat atau tulisan-tulisan yang disebut dengan akta, ada lagi kelompok yang mempunyai kekuatan pembuktian tertentu, yaitu yang disebut dengan akta otentik.
Prinsip Good Governence
Istilah politik hukum menimbulkan anggapan bahwa hukum adalah produk politik, padahal hukum (ius, Recht, droit, jurisprudence) bukanlah produk politik. Dengan kata lain, istilah politik hukum merupakan istilah yang lebih baik tertanam dalam konteks hukum sebagai peraturan.
Politik Hukum Jabatan Pejabat Umum
Dari sini kita akan membahas tentang istilah perwira umum. Di Indonesia, yurisdiksi pejabat publik hanya terbatas pada bidang hukum privat. Jika melihat uraian di atas, notaris sebenarnya hanyalah jabatan entry level dan bukan satu-satunya pejabat publik.
Kilasan Larangan Rangkap Jabatan Bagi Notaris
Berdasarkan Pasal 1 UUJN dikatakan bahwa Notaris adalah pejabat umum yang mempunyai wewenang membuat akta otentik dan wewenang lain yang ditentukan dalam undang-undang ini atau berdasarkan undang-undang lain. Kemudian pada tanggal 13 November 1954, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1954 tentang Wakil Notaris dan Wakil Notaris Sementara. Undang-undang Nomor 33 Tahun 1954 tentang Wakil Notaris dan Wakil Notaris Sementara (Lembaran Negara Tahun 1954 Nomor 101, Tambahan Lembaran Negara Nomor 700);
Sejarah Pejabat Pembuat Akta Tanah
Peraturan mengenai alat bukti perbuatan hukum berupa akta pemindahan atau pembebanan dan peraturan mengenai pemindahan nama secara dinas (Overschrijving Ambtenaar) sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang tentang Pemindahan Nama S. Apabila tidak terdapat peraturan mengenai akta pemindahan dan pemindahan jabatan. atas nama (Overschrijving Ambtenaar) hal ini menimbulkan permasalahan baru mengenai tata cara pelaksanaan penyerahan (leveraging) hak kebendaan atau hak milik nyata dalam rangka peralihan hak atas tanah, khususnya yang terjadi karena jual beli. 115. Biro Pendaftaran Tanah berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 190 tanggal 1 Juni 1957 tidak lagi berada di bawah Departemen Kehakiman, tetapi dilimpahkan kepada Departemen Agraria dengan tugas melaksanakan pengukuran, peta dan pembukuan seluruh tanah yang ada di dalamnya seluruh Indonesia, serta pendaftaran hak atas tanah dan pendaftaran peralihan hak itu.
Sejarah Pejabat Lelang
Penjualan umum merupakan alat untuk mengadakan perjanjian atau kesepakatan yang paling menguntungkan bagi penjual dengan mempertemukan pihak-pihak yang berkepentingan. Berdasarkan buku Persatuan Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia (Engelbrecht), pengertian penjualan umum adalah sebagai berikut. Berita Acara Lelang yang merupakan produk hukum Juru Lelang mempunyai kedudukan yang sama dengan akta otentik karena memenuhi syarat-syarat suatu akta otentik sebagaimana diatur dalam Pasal 1868 KUH Perdata Belanda.
Perkembangan Kewenangan Pejabat Umum di Indonesia Berdasarkan bunyi pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris
Oleh karena itu, pelayanan publik dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh birokrasi publik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat penggunanya. Dari pengertian pelayanan publik di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan publik adalah segala bentuk pelayanan. Dalam kaitannya dengan pelayanan publik yang dilakukan oleh pejabat pemerintah, pelayanan tersebut dapat digolongkan sebagai pelayanan yang tidak berwujud sehingga tidak terlihat.
Prinsip-Prinsip Hukum yang Melandasi Pemisahan Jaba- tan Pejabat Umum
Prinsip efisiensi dan efektivitas tersebut di atas mendasari pembagian jabatan perwira umum di Indonesia. Pembagian ini membagi Pejabat Umum di Indonesia menjadi 3 bidang yaitu Notaris, Pejabat Perjanjian Tanah dan Pejabat Lelang. Maksud dari pembagian jabatan Pejabat Umum di Indonesia jika dilihat dari asas efektifitas adalah bahwa pembagian ini bertujuan untuk menjamin kepastian hukum terhadap produk-produk yang dihasilkan oleh Pejabat Umum tersebut.
Prinsip Good Governance Yang Melandasi Pemisahan Jabatan Pejabat Umum
Tata kelola yang baik sebenarnya berarti pengelolaan atau kepemimpinan yang baik, bukan tata kelola yang baik. Pandangan lain mengatakan bahwa good governance berarti akuntabilitas, transparansi, keterbukaan dan supremasi hukum (legal framework). Prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik juga tertuang dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Konspirasi dan Nepotisme.
Preskripsi Pengaturan Pejabat Umum Yang Dilandasi Prinsip Good Governance
Adanya pemisahan ini dimaksudkan agar seorang PNS dapat bekerja secara profesional dalam melaksanakan tugasnya. Sebelum melaksanakan tugas Perwira Umum, Perwira Umum harus mempunyai surat. Dari uraian prinsip-prinsip tata kelola yang baik yang telah diuraikan pada subbab sebelumnya, hanya prinsip akuntabilitas yang menjadi dasar pemisahan jabatan perwira jenderal di Indonesia.
Relevansi Pemisahan Jabatan Pejabat Umum Dalam Konteks Pelayanan Publik Modern
Konsekuensi dari orientasi pelayanan publik yang berorientasi pada kepentingan publik adalah PNS tidak bisa lepas dari nilai-nilai. Hal ini menggambarkan bahwa pemisahan jabatan pejabat umum sudah tidak relevan lagi dengan konsep aparatur sipil negara modern yang mengedepankan keseimbangan dan persamaan hak bagi warga negara. Konsep kinerja dan efisiensi yang mendasari pemisahan jabatan perwira umum di Indonesia, sebagaimana dibahas pada bab sebelumnya, tidak relevan dengan aparatur sipil negara modern karena hanya berjalan pada satu arah.
Karakteristik Pejabat Publik Di Indonesia
Sehubungan dengan penyebutan Notaris sebagai pejabat publik, maka istilah pejabat publik lambat laun dirasa kurang tepat dan harus dimaknai Notaris adalah pejabat publik. Pengertian pejabat publik dalam UU KIP tidak sepenuhnya relevan jika dikaitkan dengan notaris sebagai pejabat publik. Notaris sebagai pejabat publik, produk akhirnya adalah suatu akta otentik yang terikat pada ketentuan hukum perdata khususnya Undang-Undang Pembuktian.
Jabatan Notaris Sebagai Jabatan Terhormat ( Officium No- bile )
Notaris sebagai fungsi kehormatan (officium nobile) mempunyai peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam masyarakat modern, yang memerlukan pendokumentasian suatu peristiwa hukum atau perbuatan hukum tertentu yang dilakukan oleh badan hukum, baik dalam arti badan hukum yang berbentuk badan hukum. orang (nattuelle person) dan badan hukum dalam arti badan hukum (rechtperson). Jabatan Notaris merupakan suatu jabatan yang terhormat (Officium Nobile) karena Notaris sebagai pejabat umum merupakan suatu jabatan yang dapat dipercaya (Vertrouwens Ambt) dan secara pribadi Notaris adalah orang yang dipercaya oleh masyarakat untuk memberikan bukti berupa suatu akta otentik. (Orang Vertrouwens). Selain itu, sebagai profesi yang mandiri, Notaris wajib menjalankan jabatannya dengan penuh tanggung jawab atas segala kewajibannya.
Prinsip Hukum Yang Menjadi Dasar Larangan Rangkap Jabatan Notaris
Klasifikasi Pejabat Negara
bupati/walikota dan wakil bupati/wakil walikota; dan K. Pejabat pemerintah lainnya yang ditentukan oleh undang-undang. Ketentuan hukum ini mengatur bahwa mereka yang merupakan pemimpin atau anggota senior negara atau pejabat tertinggi negara sebagaimana disebutkan di atas, memenuhi syarat sebagai pegawai negeri. Apabila seorang Notaris akan diangkat menjadi pejabat, maka ia wajib mengambil cuti selama memangku jabatan pejabat negara (Pasal 11 ayat 1 dan 2 UUJN), dan wajib menunjuk Wakil Notaris yang menerima protokol, dan setelah itu tidak lagi menduduki jabatan pejabat negara, notaris dapat melanjutkan tugasnya sebagai Notaris (Pasal 11 ayat 3) - (6) UUJN).
Karakteristik Kewenangan Pejabat Negara
Ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur kedudukan Notaris atau PPAT yang menjadi anggota DPR berbeda secara substansi. Dan menurut pasal 30 peraturan kepala BPN nomor 1 tahun 2006 wajib berhenti dan berdasarkan pasal 12 huruf l dan 50 ayat atau PPAT dilarang berpraktik atau dilarang sama sekali menjalankan tugasnya sebagai Notaris atau PPAT. Dari segi normatif, kedua aturan di atas tidak sejalan, yakni menurut Pasal 11 ayat 2. (1) dan (2) digabungkan dengan ayat dan setelah selesai cuti dapat mengambil kembali Surat Keputusan (SK) untuk menjalankan tugasnya sebagai Notaris, menurut pasal 30 Peraturan Kepala BPN Nomor 1 Tahun 2006 wajib mengundurkan diri, sedangkan menurut pasal 12 huruf ( l) dan 50 ayat (1) huruf (l) UU RI No. 10 Tahun 2008, Notaris atau PPAT dilarang berpraktik. 250.
Karakteristik Kewenangan Notaris
Dengan memperhatikan batasan-batasan di atas, maka ketentuan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan harus berbentuk Undang-undang dan bukan berdasarkan Undang-Undang. Akte pendirian perseroan terbatas sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat 1, dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Akta jaminan diatur dalam Pasal 5 ayat 1 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan, Hak Tanggungan Atas Tanah dan Benda-benda Yang Berhubungan Dengan Pertanahan.
Hubungan Jabatan Notaris dengan Pelayanan Publik Notaris merupakan pejabat umum yang berfungsi menjamin
Kedudukan Notaris Yang Rangkap Jabatan Sebagai Pe- jabat Negara
Lubis yang menyimpulkan bahwa profesi hukum adalah segala pekerjaan yang berhubungan dengan permasalahan hukum. Penyalahgunaan profesi hukum juga dapat terjadi karena adanya tekanan dari klien yang menginginkan penyelesaian kasus yang cepat dan tentu saja kemenangan. Pada huruf (d) ayat pertama Pasal 17 UUJN disebutkan dengan jelas bahwa Notaris dilarang merangkap menjalankan fungsi pejabat negara.
Keabsahan Akta Yang Dibuat Oleh Notaris Yang Rang- kap Jabatan Sebagai Pejabat Negara
Kelima kedudukan akta notaris tersebut di atas tidak dapat dilaksanakan secara bersamaan, melainkan hanya dapat berlaku pada satu kedudukan saja, yaitu pada saat akta notaris tersebut diajukan pembatalannya oleh yang bersangkutan. Asas praduga hukum berlaku, dengan pengertian apabila akta notaris tersebut belum pernah diajukan ke pengadilan untuk dibatalkan oleh pihak yang berkepentingan dan terdapat putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap, atau akta notaris tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum. bukti-bukti sebagai akta di bawah tangan, atau tidak batal demi hukum atau dibatalkan oleh para pihak sendiri. Penerapan Asas Praduga Hukum terhadap Akta Notaris dengan demikian berlaku secara terbatas, apabila ketentuan-ketentuan tersebut di atas terpenuhi.
Tanggunggugat Notaris Atas Akta yang dibuat pada saat Rangkap Jabatan sebagai Pejabat Negara
Notaris yang mempunyai kuasa pembuktian akta di bawah tangan dan akta notaris yang batal demi hukum merupakan dua istilah yang berbeda. Ketentuan terkait sebagaimana disebutkan di atas menyatakan bahwa apabila suatu akta Notaris dilanggar, maka akta tersebut mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan, dan dengan tegas dinyatakan dalam pasal-pasal tertentu dalam UUJN. Hal ini dapat diartikan bahwa suatu akta Notaris yang telah merosot mempunyai kekuatan pembuktian seperti akta di bawah tangan, dan suatu akta Notaris batal demi hukum.