• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLITIK HUKUM DALAM PROFESI JABATAN NOTARIS

N/A
N/A
Ayu Fitriyani

Academic year: 2023

Membagikan "POLITIK HUKUM DALAM PROFESI JABATAN NOTARIS"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

Di sini dapat dilihat bahawa beberapa prinsip yang terkandung dalam perlembagaan secara serentak digunakan sebagai dasar perundangan. Undang-undang Jabatan Notaris telah menetapkan bahwa gelar sarjana dalam bidang Notaris merupakan syarat mutlak untuk diangkat sebagai Notaris yang tugas dan fungsinya sebagai pejabat publik di bidang perdata. Di samping itu, jabatan notari, apabila menjalankan profesion, juga memerlukan peraturan etika profesional mengikut apa yang ditetapkan dalam Akta Jabatan Notari.

Disebutkan dengan jelas bahwa unsur etika notaris terdapat pada Pasal 17 UU No. Kebutuhan akan hukum dalam masyarakat terlihat dari semakin banyaknya bentuk-bentuk perjanjian yang dituangkan dalam suatu catatan notaris, dimana notaris merupakan salah satu pegawai negeri sipil yang berwenang membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana diatur dalam undang-undang. pada status notaris. . Sebagaimana tercantum dalam ayat 1 (1) UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN): “Notaris adalah pejabat umum yang mempunyai wewenang membuat akta otentik dan wewenang lain sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.

UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris menyatakan bahwa setiap akta notaris terdiri atas permulaan akta, isi akta, dan akhir akta. Mempunyai wewenang atas perbuatan, yaitu mempunyai wewenang untuk membuat akta otentik sehubungan dengan segala perbuatan, perjanjian, dan ketentuan yang diwajibkan oleh undang-undang atau dikehendaki oleh yang bersangkutan.

PEMBAHASAN

Notaris dan PPAT tidak mungkin bertindak sebagai pegawai negeri yang menjalankan tugas dan wewenangnya bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau prinsip-prinsip umum tata kelola yang baik (Algemene Beginsel Behorlijk Van Bestuur). Penjelasan mengenai tugas dan wewenang Notaris (Habib Adjie, 2009: p. 40) sebagai pejabat umum (openbare amtbbesaren) dan mandiri (lihat: pasal 1 angka 1 UUJN). Penjelasan mengenai tugas dan wewenang Notaris (Habib Adjie, 2009: hal. 40) sebagai pejabat umum (openbare amtbbesaren) dan mandiri.

Saat ini Notaris telah mempunyai Undang-Undang tersendiri dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Demi kepentingan Notaris dan untuk melayani kepentingan masyarakat Indonesia, maka pada tanggal 6 Oktober 2004 pemerintah melakukan upaya untuk mengesahkan Peraturan Jabatan Notaris, yang kita sebut dengan Undang-undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN). Dalam sejarahnya, Notaris merupakan pejabat negara/pejabat umum yang dapat diangkat oleh negara untuk melaksanakan tugas negara dalam memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat guna mencapai kepastian hukum sebagai pejabat yang membuat akta otentik dalam perkara perdata.

Merupakan akta yang mempunyai kekuatan dalam proses hukum.16 Fungsi Notaris merupakan fungsi yang keberadaannya dikehendaki karena terciptanya hubungan hukum antar badan hukum yang bersifat perdata. Pemerintah menghendaki notaris merupakan pegawai negeri yang diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah serta diberi wewenang dan kewajiban untuk melaksanakan pelayanan kepada masyarakat dalam membantu penyelesaian akad, pembuatan akta, dan pengesahannya, yang juga menjadi tanggung jawab notaris. . . Meski disebut pegawai negeri, notaris bukanlah pegawai negeri sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur administrasi publik.

Oleh karena itu, bukan hanya notaris saja yang harus dilindungi, namun juga konsumennya yaitu masyarakat yang menggunakan jasa notaris. yang berarti hukum. Notaris sebagai pejabat publik tidak mempunyai arti yang sama dengan Pejabat Publik pada sektor pemerintahan yang dikategorikan sebagai Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, hal ini dapat dibedakan dengan produk Pejabat Publik manapun. Produk akhir Notaris sebagai Pejabat Umum adalah suatu akta otentik yang berkaitan dengan ketentuan hukum perdata khususnya hak pembuktian. 20 Notaris dalam melaksanakan tugas kedinasannya harus mempunyai kemampuan profesional di bidang hukum dan juga harus dilandasi tanggung jawab dan moral yang tinggi serta dalam pelaksanaan tugas jabatannya serta nilai-nilai dan etika, sehingga dapat melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan hukum dan kepentingan masyarakat.

Dalam melaksanakan tugas dan jabatannya, Notaris harus berpegang teguh pada Kode Etik Notaris, karena tanpanya kehormatan dan martabat profesionalisme akan hilang.

POLITIK HUKUM KENOTARIATAN

PENDAHULUAN

Reformasi SABH dalam kerangka politik undang-undang notaris merupakan langkah memperbaiki pembusukan politik dan perilaku rusak yang selama ini tertanam dalam sistem birokrasi. Riggs tergolong negara transisi,[3] perlu dibangun (rebuild) SABH bidang kenotariatan dengan budaya dan struktur rasional-egaliter, bukan dengan birokrasi rasional-hierarki yang dikembangkan teori birokrasi modern Max Weber. . Rekonstruksi SABH di bidang kenotariatan hendaknya menggunakan hasil ilmu pengetahuan, penelitian dan kajian terhadap komponen-komponen penyebab ketimpangan birokrasi.

Rekonstruksi SABH sektor notaris tidak hanya dapat dilihat secara tekstual dari segi aturan yang melandasinya, namun perilaku para pejabat (birokrat) pada SABH sektor notaris serta permasalahan kontekstual ketimpangan SABH yang paling besar pada sektor notaris. merupakan hal yang penting untuk dikaji, selama puluhan tahun Peraturan SABH di bidang kenotariatan telah berkali-kali diperbaiki, namun hasil dari penerapan birokrasi administrasi hukum di bidang kenotariatan masih jauh dari rasa keadilan. Persoalan mendasarnya adalah bagaimana kebijakan UU Notaris ini akan dilaksanakan untuk mewujudkan SABH di bidang Notaris yang berlandaskan nilai-nilai keadilan sosial sebagai implementasi dari UU Jabatan Notaris.

PEMBAHASAN

Dapat dikatakan bahwa peraturan perundang-undangan memang merupakan suatu bentuk pengaturan hukum dalam negara hukum yang demokratis. Pedoman resmi mengenai perkembangan peraturan perundang-undangan di bidang kenotariatan yang ditegakkan maupun peraturan perundang-undangan di bidang kenotariatan yang tidak ditegakkan (Kebijakan Hukum) untuk mencapai tujuan Negara. Subsistem sosial, politik, ekonomi, budaya sebagai kekuatan yang mempengaruhi pembentukan hukum di bidang notaris.

Arah politik dan konsep hukum kenotariatan semakin jelas setelah diundangkannya Undang-undang No. Pengertian Makna Keadilan Sosial dalam Sistem Birokrasi Penyelenggaraan hukum di bidang kenotariatan dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan. Kualitas interaksi sosial antar pemangku kepentingan yang memaknai nilai keadilan sosial dalam kaitannya dengan komunikasi ekonomi dan politik sangat menentukan arah penafsiran keadilan sosial.

Kajian masyarakat (birokrat) di SABH bidang kenotariatan dengan pendekatan pragmatis meliputi kajian tentang cara penggunaan simbol-simbol dalam komunikasi dalam interaksi sosial. Dengan tujuan untuk memahami simbol-simbol perilaku yang digunakan oleh para pemangku kepentingan dalam interaksi sosial di masyarakat (birokrat) pada SABH di lapangan. Dari analisis ini. Jelas mengapa sistem birokrasi penyelenggaraan hukum di bidang notaris belum memuaskan rasa keadilan masyarakat.

Gagasan dasar negara hukum adalah bahwa negara hukum harus dilaksanakan dengan baik (dalam arti sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat terhadap hukum) dan adil (karena tujuan dasar hukum adalah keadilan). ]. Asas-asas dasar penyelenggaraan Negara Republik Indonesia merupakan hasil konsep negara hukum yaitu Pancasila yang merupakan norma dasar negara Indonesia (grundnorm) dan juga merupakan cita hukum negara Indonesia (rechtsidee). Konstitusi kita memberikan amanat yang tegas bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.

Mengingat jasa kenotariatan dalam proses pembangunan semakin menjadi salah satu kebutuhan hukum masyarakat, maka kebijakan di bidang kenotariatan harus mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan lahirnya sumber-sumber baru kesejahteraan masyarakat, pembangunan. tatanan hidup bersama yang lebih adil dalam kaitannya dengan pelayanan publik di bidang legitimasi hukum, menjamin keberlanjutan sistem sosial, nasional, dan bernegara Indonesia dengan memberikan akses seluas-luasnya kepada generasi mendatang terhadap sumber daya aspek ekonomi masyarakat yang memerlukan payung hukum (penerapan asas kebebasan berkontrak dan lain-lain dalam dunia usaha/lalu lintas usaha), khususnya mengenai kepastian hukum (legalitas hukum), sehingga tercipta tatanan kehidupan bersama yang harmonis menyelesaikan berbagai perselisihan dan konflik di bidang dunia usaha.

KESIMPULAN

Arief Hidayat, Menjadi sebuah negara tidaklah mudah dari segi politik dan hukum, Pidato Pengukuhan Guru Besar Hukum UNDIP, 4 Februari 2010. Suteki, “Rekonstruksi Politik dan Hukum Terhadap Hak Penguasaan Sumber Daya Air Berbasis Nilai-Nilai Keadilan Sosial (Studi Privatisasi Pengelolaan Sumber Daya dengan Air), Disertasi Doktor PDIH UNDIP, Juni 2008. Yos Johan Utama, Gedung Pengadilan Tata Usaha Negara yang berwibawa, pidato pengukuhan Guru Besar UNDIP Semarang, 4 Februari 2010,.

Parsons, Wayne, Kebijakan Publik: Pengantar Teori dan Praktek Analisis Kebijakan, (Diterjemahkan oleh Tri Wibowo Budi Santoso), Kencana, Jakarta, edisi ke-2, September 2006 [1] Arah atau kerangka politik hukum notaris selain UUJN pertimbangan tersebut dapat dipahami dari pertimbangan Permenkumham Nomor: M.01.Ht.03.01 Tahun 2006, bahwa untuk. Pengaruh politik terlihat dari terciptanya suatu produk politik berupa undang-undang khusus yang mengatur jabatan. Dan status Indonesia sebagai negara hukum tentunya juga akan mempengaruhi setiap tindakan dan akta Notaris karena harus berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

4] Salah satu tujuan politik hukum Indonesia adalah mempertegas fungsi lembaga penegak hukum atau eksekutif dan membina anggotanya. Apabila Notaris tidak ingin pihak lain membicarakan hal-hal yang menyangkut dirinya tanpa kehadiran Notaris sendiri, maka Notaris harus mempersenjatai diri mulai saat ini. Ingatlah bahwa notaris tidak akan mampu mempersenjatai diri jika selain memperhatikan pekerjaannya sehari-hari, notaris tidak memperhatikan perkembangan yang saat ini sedang giat berlangsung di segala bidang, khususnya di bidang pembangunan hukum.

11] Suteki, “Rekonstruksi Politik dan Hukum Hak Penguasaan Sumber Daya Air Berbasis Nilai Keadilan Sosial (Kajian Privatisasi Pengelolaan Sumber Daya Air), Disertasi Doktor PDIH UNDIP. 16] I.S Susanto, Kejahatan Korporasi di Indonesia, Produk Kebijakan Rezim Orde Baru, Pidato Pengukuhan Dosen Undip, Semarang, 1999, hal.17] Yos Johan Utama, Membangun Pengadilan Tata Usaha Negara yang Berwibawa, Pidato Pengukuhan Guru Besar UNDIP, Semarang, 4 Februari 2010, hal.5.

19] Arief Hidayat, Bernegara Itu Tidak Mudah Dari Perspektif Politik dan Hukum, Pidato Pengukuhan Guru Besar Hukum UNDIP, 4 Februari 2010, hal 30. Update Terkini Hukum dan Kemasyarakatan diperlukan peraturan perundang-undangan baru untuk memenuhi persyaratan perkembangan masyarakat (ius constituendum). Reformasi hukum dan pembentukan peraturan perundang-undangan baru yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan masyarakat (ius constituendum).

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Untuk mewujudkan Negara Republik Indonesia sebagai Negara Hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 guna

Landasan politik hukum agraria nasional yang digariskan dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang isinya menyatakan bahwa

Politik hukum (legal policy) pasar modal yakni garis atau dasar kebijakan bidang pasar modal untuk menentukan hukum yang seharusnya berlaku dalam Negara. Pasar modal

Ketidakpastian hukum yang terdapat di UUJN dalam hal penentuan sanksi oleh Majelis Pengawas disertai dengan kewenangan yang diberikan oleh UUJN kepada MPW sebagai

Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan yang selanjutnya disebut dengan Kemenko Polhukam adalah Badan Publik Negara sesuai Peraturan Menteri

Politik hukum pertanggungjawaban partai politik dalam pengelolaan bantuan keuangan negara adalah suatu kebijakan hukum (legal policy) negara untuk mencapai tujuan nasionalnya

Landasan politik hukum agraria nasional yang digariskan dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang isinya menyatakan bahwa

Undang-undang ini mengubah beberapa ketentuan yang diatur dalam UUJN, antara lain terkait dengan perlindungan hukum hak ingkar Notaris sebagai saksi yang diatur dalam Pasal 66, yaitu