• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLITIK HUKUM KENOTARIATAN

C. KESIMPULAN

Guna menjamin kepastian hukum tentang kedudukan, tugas, wewenang, hak dan kewajiban, formasi, serta produk dari Notaris. Ide/Cita-cita Hukum kenotariatan harus sejalan dg cita-cita hukum, yaitu: 1. Mewujudkan integritas bangsa, 2. Mewujudkan keadilan sosial, 3. Mewujudkan kedaulatan rakyat, 4. Mewujudkan toleransi, 5. Terciptanya alat bukti (dalm hal ini akta otentik) yang kuat dalam lalu lintas hukum, 6. Terciptanya kepastian hukum, ketertiban masyarakat, dan terpenuhi perlindungan hukum, 7. Terciptanya kepastian hak dan kewajiban para pihak. Arah kebijakan yang ditempuh dalam politik hukum kenotariatan, yaitu : 1.

Mewujudkan unifikasi hukum di bidang kenotariatan, yaitu mengadakan pembaharuan dan pengaturan kembali tentang jabatan notaris, 2. Menggantikan peraturan perundangan produk kolonial dengan produk hukum nasional berupa Undang-Undang Jabatan Notaris 3. Mengatur secara rinci tentang kedudukan notaris sebagai pejabat umum, 4. Mengatur secara rinci tentang bentuk, sifat, dan macam akta notaris.

Perwujudan politik hukum kenotariatan tersebut, dibutuhkan suatu sistem penunjang dan

pendukung yaitu SABH. Konsep atau Rekonstruksi SABH di bidang kenotariatan bisa terlaksana secara baik yaitu dengan pembenahan arah kebijakan pembaruan SABH dan perlunya melakukan pengkajian ulang terhadap pelaksanaan Politik Hukum di bidang kenotariatan dan berbagai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tugas dan kewenangan Notaris dalam rangka sinkronisasi dan harmonisasi kebijakan antar sektor demi terwujudnya peraturan perundang-undangan yang didasarkan pada prinsip-prinsip sebagaimana dimaksud konsideran UUJN. Memperkuat kelembagaan dan kewenangan di bidang kenotariatan, dan melaksanakan penataan kembali arah politik hukum kenotariatan yang berkeadilan dengan memperhatikan efektifitas dan efisiensi kinerja di bidang kenotariatan serta penataan terhadap struktur, subtansi dan kultur lembaga pengawas notaris secara komprehensif dan sistematis dengan menekankan pada penerapan tehnologi mutakhir dalam pelayanan publik untuk mencapai pelayanan yang sesuai dengan konsep konsideran UUJN.

DAFTAR PUSTAKA.

Agus Salim, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Edisi Kedua, Tiara Wacana Yogyakarta, 2006.

Arief Hidayat, Bernegara Itu Tidak Mudah, Dalam Perspektif Politik dan Hukum, Pidato Pengukuhan, Guru Besar Ilmu Hukum UNDIP, 4 Pebruari 2010

Budhy Munawar-Rachman, Refleksi Keadilan Sosial Dalam Pemikiran Keagamaan, dalam keadilan Sosial-Upaya Mencari Makna Kesejahteraan Bersama Indonesia, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2004

Budiarjo, Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2001.

F, Ijiswara, Pengantar Ilmu Politik, Putra A. Bardin, Bandung: 1999

I.S Susanto, Kejahatan Korporasi di Indonesia Produk Kebijakan Rezim Orde Baru, Pidato Pengukuhan Guru Besar Madya Undip, Semarang, 1999

Jaya, Nyoman Serikat Putra, Politik Hukum, Badan Penyediaan Bahan Kuliah Program Studi Magister Kenotariatan Undip, Semarang:2007.

Lijan Poltak Sinambela, dkk, Reformasi Pelayanan Publik Teori, Kebijakan, dan Implementasi, Bumi Aksara Cetakan 4, Jakarta 2008

Sanafiah Faisal, Penelitian Kualitatif: Dasar-dasar dan Aplikasi, YA3, Malang, 1990.

Suteki, “Rekonstruksi Politik Hukum Tentang Hak Menguasai Atas Sumber Daya Air Berbasis Nilai Keadilan Sosial (Studi Privatisasi Pengelolaan Sumber Daya Air), Desertasi doktoral PDIH UNDIP.Juni 2008.

Yos Johan Utama, Membangun Peradilan tata Usaha Negara Yang Berwibawa, Pidato pengukuhan, Guru Besar UNDIP semarang, 4 Februari 2010,

Parsons, Wayne, Public Policy: Pengantar Teori dan Praktik Analisis Kebijakan, (Dialih bahasakan oleh Tri Wibowo Budi Santoso), Kencana, Jakarta, cetakan ke 2, September 2006 [1] Arah atau kerangka politik hukum kenotariatan selain dari konsideran UUJN dapat difahami dari konsideran permenkumham Nomor: M.01.Ht.03.01 Tahun 2006, bahwa untuk

melaksanakan ketentuan Pasal 14 dan Pasal 23 ayat (5) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 177 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4432) perlu menetapkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia tentang Syarat dan Tata Cara Pengangkatan, Perpindahan, dan Pemberhentian Notaris. Kegiatan notaris di Indonesia banyak dipengaruhi oleh politik dan hukum itu sendiri. Pengaruh politik dapat terlihat dari dibuatnya suatu produk politik yang berupa undang-undang khusus yang mengatur mengenai jabatan

notaris yaitu Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris. Dan status Indonesia yang merupakan negara hukum tentunya juga akan mempengaruhi setiap tindakan dan perbuatan para notaris karena mereka harus berpedoman pada hukum-hukum yang berlaku.

[2] Agus Salim, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Edisi Kedua, Tiara Wacana Yogyakarta, 2006, hlm. 76

[3] Lijan Poltak Sinambela, dkk, Reformasi Pelayanan Publik Teori, Kebijakan, dan Implementasi, Bumi Aksara Cetakan 4, Jakarta 2008, hlm 61.

[4] Salah satu tujuan politik hukum Indonesia adalah penegasan fungsi lembaga penegak atau pelaksana hukum dan pembinaan anggotanya. Dan salah satu pelaksana hukum itu sendiri adalah notaris. Dengan adanya penegasan pada keberadaan notaris sebagai salah satu pelaksana hukum, berarti notaris telah mendapat hak yang legal untuk menangani perhubungan hukum antar masyarakat

[5] F. Isjwara, Pengantar Ilmu Politik, Putra Abardin, Bandung: 1999, hlm 21

[6] Nyoman Serikat Putra Jaya, Politik Hukum, Badan Penyediaan Bahan Kuliah Program Studi Magister Kenotariatan Undip, Semarang: 2007, hlm13.

[7] Di dalam kehidupan yang dinamis sekarang ini bagi notariat juga merupakan suatu keharusan untuk lebih tajam melihat ke depan daripada masa-masa silam. Untuk itu diperlukan

pengetahuan tentang sejarah perkembangannya sendiri, oleh karena dengan lebih mengenal apa yang terjadi di masa silam dan togas yang harus dilakukannya di dalam masa pembangunan dewasa ini di segala bidang, para notaris akan dapat lebih baik memandang ke masa depan.

Hendaknya para notaris harus senantiasa waspada, agar tidak tertinggal di belakang. Apabila para notaris tidak ingin pihak lain membicarakan hal-hal yang menyangkut dirinya, tanpa hadirnya para notaris sendiri, maka para notaris harus mempersenjatai dirinya sendiri mulai sekarang ini juga. Hendaknya diingat bahwa para notaris tidak akan dapat mempersenjatai dirinya, apabila para notaris di samping perhatiannya untuk pekerjaannya sehari-hari, tidak mempunyai perhatian untuk pembangunan yang kini sedang giat-giatnya dilakukan di segala bidang, terutama di bidang pembangunan hukum.

[8] Di dalam konsiderans dari PJN tersebut dapat dibaca pertimbangan dari pembuat undang- undang untuk mengeluarkan undang-undang itu, antara lain dikatakan bahwa perlu diadakan peraturan supaya dalam hal seorang penjabat notaris tidak ada, jabatan notaris itu dapat

dijalankan sebaik-baiknya, bahwa berhubung dengan hal-hal yang mendesak peraturan ini harus segera diadakan dengan tidak menunggu pengaturan kenotariatan seluruhnya.

[9] Sebagaimana telah diubah terakhir dalam Lembaran Negara Tahun 1945 No.101

[10] Budhy Munawar-Rachman, Refleksi Keadilan Sosial Dalam Pemikiran Keagamaan, dalam keadilan Sosial-Upaya Mencari Makna Kesejahteraan Bersama Indonesia, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2004, hlm. 217.

[11] Suteki, “Rekonstruksi Politik Hukum Tentang Hak Menguasai Atas Sumber Daya Air Berbasis Nilai Keadilan Sosial (Studi Privatisasi Pengelolaan Sumber Daya Air), Desertasi doktoral PDIH UNDIP. Juni 2008.hlm. 63-64

[12] Wayne Parsons, Public Policy: Pengantar Teori dan Praktik Analisis Kebijakan, (Dialih bahasakan oleh Tri Wibowo Budi Santoso), Kencana, Jakarta, cetakan ke 2, September 2006 hlm. 99. Bandingkan tiga cirri tersebut dengan Sanafiah Faisal, Penelitian Kualitatif: Dasar- dasar dan Aplikasi, YA3, Malang, 1990, hlm. 14-15.

[13] Lihat, Sanafiah Faisal, Penelitian Kualitatif: Dasar-dasar dan Aplikasi, YA3, Malang, hlm.

15.

[14] Lihat pendapat Meltzer dalam Wayne Parsons, Op.Cit., hlm. 99.

[15] Op cit Suteki, hlm. 63-65

[16] I.S Susanto, Kejahatan Korporasi di Indonesia Produk Kebijakan Rezim Orde Baru, Pidato Pengukuhan Guru Besar Madya Undip, Semarang, 1999, hlm. 17-18.

[17] Yos Johan Utama, Membangun Peradilan tata Usaha Negara Yang Berwiba, Pidato Pengukuhan Guru Besar UNDIP, Semarang, 4 Februari 2010, hlm 5.

[18] Ibid hlm 3.

[19] Arief Hidayat, Bernegara Itu Tidak Mudah, Dalam Perspektif Politik dan Hukum, Pidato Pengukuhan, Guru Besar Ilmu Hukum UNDIP, 4 Pebruari 2010, hlm 30.

[20] Ibid hlm 31-32

[21] Sesuai dengan tridarma Perguruan Tinggi dan visi misi/tujuan Perguruan Tinggi yaitu mengembangkan dan menyebar luaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian serta

mengoptimalkan penggunaannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional ( UU 2 tahun 1989, Pasal 16, Ayat (1) ; PP 30 Tahun 1990, Pasal 2, Ayat (1) ), diatur juga dalam Peraturan Pemerintah No.60 tahun 1999 tentang Perguruan Tinggi, hal ini selaras dengan pasal 27 UUD NRI 1945.

This entry was posted in Politik Hukum Kenotariatan by Dr. Widhi. Bookmark the permalink.

NEGARA HUKUM DAN POLITIK HUKUM BERKAITAN DENGAN NOTARIS Ratings: 0|Views: 1,176|Likes: 9

Published by zulpiero

BAB I PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara hukum, sebagaimana yang diterangkan dalam penjelasan UUD 1945.

Dengan demikian maka segala sesuatu yang...

See More

BAB IPENDAHULUAN

Indonesia adalah negara hukum, sebagaimana yang diterangkan dalamp e n j e l a s a n U U D 1 9 4 5 . D e n g a n d e m i k i a n m a k a s e g a l a s e s u a t u y a n g b e r h u b u n g a n d e n g a n p e n y e l e n g g a r a a n n e g a r a d a n p e m e r i n t a h a n h a r u s berlandaskan dan berdasarkan atas hukum, sebagai barometer untuk mengukursuatu perbuatan atau tindakan telah sesuai atau tidak dengan ketentuan yangtelah disepakati.Negara hukum adalah suatu negara yang di dalam wilayahnya terdapata l a t - a l a t p e r l e n g k a p a n n e g a r a , k h u s u s n y a a l a t - a l a t p e r l e n g k a p a n d a r i pe m er i nt a h d al am t in da k an - ti nd ak an ny a te r ha d ap p ar a wa rg a ne g a ra d an d a l a m h u b u n g a n n y a t i d a k b o l e h s e w e n a n g - w e n a n g , m e l a i n k a n h a r u s memperhatikan peraturan- peraturan hukum yang berlaku, dan semua orangd al a m hu bu ng an k em a sy ar a ka t an h ar us t un du k p ad a p er at u ra n- p e r at ur a n hukum yang berlaku (Wirjono Prodjodikoro, 1991: 37).S e h u b u n g a n d e n g a n p e r n y a t a a n t e r s e b u t , m a k a h u k u m m e r u p a k a n h i m p u n a n p e r a t u r a n y a n g m e n g a t u r t a t a n a n k e h i d u p a n , b a i k b e r b a n g s a maupun bernegara, yang dihasilkan melalui kesepakatan dari wakil-wakil

rakyaty an g a da di le m ba g a l eg i sl at i f. P ro du k hu ku m t er se b u t d ik el u a rk a n s ec ar a demokratis melalui lembaga yang terhormat, namun muatannya tidak dapatdilepaskan dari kekuatan politik yang ada di dalamnya.

1

Suatu negara yang menganut sistem demokrasi, maka segala sesuatunyah a r u s d i r u m u s k a n s e c a r a d e m o k r a s i , y a i t u d e n g a n m e l i h a t k e h e n d a k d a n a s p i r a s i d a r i m a s y a r a k a t l u a s s e h i n g g a p r o d u k y a n g d i h a s i l k a n i t u s e s u a i dengan keinginan hati nurani rakyat. Tetapi apabila sebaliknya maka terlihatbahwa produk hukum yang dikeluarkan tersebut dapat membuat masyarakat menjadi resah dan cenderung tidak mematuhi ketentuan hukum itu.P e l a k s a n a a n r o d a k e n e g a r a a n t i d a k d a p a t d i l e p a s k a n d a r i b i n g k a i k e k u a s a a n , k a r e n a d a l a m n e g a r a t e r d a p a t p u s a t - p u s a t k e k u a s a a n y a n g senantiasa memainkan peranannya sesuai dengan tugas dan wewenang yangtelah ditentu kan. Namun dalam pelaksanaannya sering berbenturan satu samal ai n, k ar e na ke k u as aa n y an g d ij a la nk an te r se bu t b er hu bu ng an er at de ng an kekuasaan politik yang sedang bermain. Jadi negara, kekuasaan, hukum dan po l it i k me r up ak an s at u ke sa tu a n y an g su l it un tu k d ip is ah ka n, ka r en a s em u a komponen tersebut senantiasa bermain dalam pelaksanaan roda kenegaraandan pemerintahan.Komponen-komponen ini (negara, kekuasaan, hukum dan politik) hanya akan berjalan dengan semestinya apabila ada pelaksana yang mengerti tentangb a g a i m a n a c a r a k e r j a k e e m p a t k o m p o n e n i n i . D i a n t a r a b a n y a k p e l a k s a n a negara, kekuasaan, hukum dan politik ini terdapat mereka yang disebut sebagaipejabat negara, baik secara umum maupun secara khusus.D i a n t a r a p a r a p e j a b a t u m u m y a n g m e m a n g k u t u g a s d a r i n e g a r a , terdapat pejabat yang disebut dengan notaris. Adapun notaris adalah pejabat

2

umum yang khusus ditunjuk oleh negara untuk menangani masalah-masalah pembuatan akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan penetapanyang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang berkepentingandikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta otentik, menjamin kepastian t a n g g a l n y a , m e n y i m p a n a k t a n y a d a n m e m b e r i k a n g r o s s e , s a l i n a n d a n kutipannya, semua sepanjang pembuatan akta itu oleh suatu peraturan umum tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain.Kegiatan notaris di Indonesia banyak dipengaruhi oleh politik dan hukumitu sendiri. Pengaruh politik dapat terlihat dari dibuatnya suatu produk politikyang berupa undang-undang khusus yang mengatur mengenai jabatan

notaris( U n d a n g - U n d a n g J a b t a n N o t a r i s a t a u U U J N ) . D a n s t a t u s I n d o n e s i a y a n g merupakan negara hukum tentunya juga akan mempengaruhi setiap tindakanda n pe rb ua ta n p ar a no ta ri s ka re na m er ek a ha rus be rp ed om an p ad a h uk um - hukum yang berlaku.Berdasarkan pemaparan di atas, maka dalam makalah ini akan dibahasmengenai negara hukum, politik hukum, serta kaitan kedua hal tersebut dengannotaris.

3

BAB IIPEMBAHASANA. Negara Hukum

I n d o n e s i a b e r d a s a r k a n U U D 1 9 4 5 b e r i k u t p e r u b a h a n - p e r u b a h a n n y a ad a la h n eg ar a hu ku m a rt i ny a ne g a ra ya ng be r d as ar ka n h uk um d an bu ka n b e r d a s a r k a n k e k u a s a a n b e l a k a . N e g a r a h u k u m d i d i r i k a n b e r d a s a r k a n i d e kedaulatan hukum sebagai kekuasaan tertinggi. Adapun Negara hukum adalahnegara yang menempatkan hukum pada tempat yang tertinggi, yang meliputip e r l i n d u n g a n t e r h a d a p h a k a s a s i m a n u s i a , p e m i s a h a n k e k u a s a a n , s e t i a p ti n da k an pe m er in ta h di d as ar ka n p ad a p er at u ra n p er u nd an g- u nd an ga n , da n adanya peradilan yang berdiri sendiri.Me nu ru t Pr of . Dr.

J im ly Ass hi dd iq ie , SH a da d ua be la s ci ri pe nt in g d ar i n e g a r a h u k u m d i a n t a r a n y a a d a l a h : s u p r e m a s i h u k u m , p e r s a m a a n d a l a m h u k u m , a s a s l e g a l i t a s , p e m b a t a s a n k e k u a s a a n , o r g a n e k s e k u t i f y a n g

4

independen, peradilan bebas dan tidak memihak. peradilan tata usaha negara,peradilan tata negara, perlindungan hak asasi manusia, bersi fat demokratis,sarana untuk mewujudkan tujuan negara, dan transparansi dan kontrol sosial.Namun secara umum, prinsip-prinsip negara hukum meliputi hal-hal berikut ini :

1.

P e n g a k u a n d a n p e r l i n d u n g a n t e r h a d a p h a k a s a s i m a n u s i a y a n g me n ga n du ng pe r sa ma an da l am b id a ng p ol it i k , h uk um , sosi al , e ko no m i d an kebudayaan. Maksudnya adalah:

Konstitusi harus menjamin adanya perlindungan hak-hak bagi rakyatoleh penguasa, termasuk menjamin bahwa undang-undang dan peraturanp er u nd an g- u nd an g an di b a wa hn ya ti da k b er t en t an ga n de n g an ha k- ha k dalam konstitusi.

Adanya jaminan mengenai hak asasi manusia di dalam konstitusi.

2.

P er ad i la n ya n g b eb a s d an ti d a k me m ih a k ser ta ti da k di p en g ar u hi o le h sesuatu kekuasaan atau kekuatan apa pun, dalam artian semua orang memilikikedudukan yang sama di hadapan hukum. Seseorang yang berkuasa di dalamsuatu negara tidak boleh menggunakan kekuasaannya untuk dapat lolos dari jerat hukum.

3.

Legalitas dalam arti hukum, dalam artian

setiap tindakan penguasa harusd i d a s a r k a n k e p a d a h u k u m ( k o n s t i t u s i ) d a n a d a s a r a n a u n t u k m e n g u j i (mengukur) keabsahan (konstitusionalitas) tindakan penguasa yang dilakukanoleh penguasa lain dengan tingkatan yang lebih tinggi atau dengan kata lain, kekuasaan yang satu dibatasi oleh kekuasaan yang lain (

Power Limits Power ).

5

B. Politik Hukum Politik hukum ( rechtpolitiek

) berasal dari kata rechts

yang berarti hukum,atau ketetapan ( provision

) serta kata politiek

yang berarti kebijakan ( policy

)/

beleid

(van der sat). Sehingga dapat diperoleh pengertian umum bahwa politik h u k u m b e r a r t i k e b i j a k a n h u k u m . K e b i j a k a n h u k u m d a p a t b e r a r t i s e b a g a i rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencan a dalampelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan dan cara bertindak dalam bidanghukum.B eb e ra pa a hl i me nc o ba un tu k me mb e ri k an de fi ni s i me ng en ai p ol it ik hukum ini diantaranya adalah :

Padmo Wahyono :

Politik hukum adalah kebijakan penyelenggara negara yangbersifat mendasar dalam menentukan arah, bentuk maupun isi dari hukum yanga k a n d i b e n t u k d a n t e n t a n g a p a y a n g a k a n d i j a d i k a n k r i t e r i a u n t u k me n gh uk um k an se s u at u.

M ak a me nu r u tn y a p ol it ik h uk um be r k ai ta n de n ga n hukum yang berlaku dimasa datang (ius constituendum).

T e u k u M o h a m m a d R a d h i e :

P o l i t i k h u k u m s e b a g a i s u a t u p e r n y a t a a n kehendak penguasa negara mengenai yang berlaku diwilayahnya/berlaku saat i n i ( i u s c o n s t i t u t u m ) , d a n m e n g e n a i a r a h p e r k e m b a n g a n y a n g a k a n dibangun/hukum yang berlaku dimasa mendatang (ius constituendum).

6

Activity (9) Filters

1.

P e l a k s a n a a n k e t e n t u a n h u k u m y a n g t e l a h a d a s e c a r a k o n s i s t e n ( i u s constitutum)

2.

P em b ah a ru an te r ha da p h uk um da n pe nc ip ta a n k et e nt ua n hu ku m ba r uyang diperlukan untuk memenuhi tuntutan perkembangan yang terjadi dalammasyarakat (ius constituendum)

3.

P e n e g a s a n f u n g s i l e m b a g a p e n e g a k a t a u p e l a k s a n a h u k u m d a n pembinaan anggotanya

4.

M e n i n g k a t k a n k e s a d a r a n h u k u m m a s y a r a k a t m e n u r u t p e r s e p s i e l i t pengambil kebijakan.

C. Kaitan Negara Hukum dan Politik Hukum Dengan Notaris

N o t a r i s s e b a g a i p e j a b a t u m u m m e m i l i k i p e r a n a n s e n t r a l d a l a m menegakkan hukum di Indonesia, karena selain kuantitas notaris yang begitub e s a r , n o t a r i s d i k e n a l m a s u k k e l o m p o k e l i t d i I n d o n e s i a . N o t a r i s s e b a g a i k e l o m p o k e l i t b e r a r t i n o t a r i s m e r u p a k a n s u a t u k o m u n i t a s y a n g s e c a r a so s i ol o gi s, e ko n om i s, p ol it i s s er ta ps ik ol o gi s b er ad a da la m st ra ti fi ka si ya ng relatif lebih tinggi diantara masyarakat pada

umumnya.K eb er a da an sua t u n eg ar a h uk u m me ng ha r us k an ad a ny a p ej a ba t y an g dapat membantu mengatur perhubungan hukum antar warga negara. Di sinilahperan seorang notaris dibutuhkan. Bukan hanya membutuhkan polisi, jaksa atauhakim (yang berfungsi sebagai penegak hukum), namun dalam suatu negara

8

hukum, setiap perbuatan warga negaranya berkonsekuensi hukum. Sehingga u nt u k m e nc e ga h t er j ad i ny a ha l- h al ya ng t id ak d ii ng in ka n d al a m

m el ak u k an perhubungan-perhubungan hukum itu, maka notaris telah ditunjuk dan

diangkato le h n eg a ra un t uk m en an g a ni ma s al a h -m a sa l ah pe r h ub un g a n h uk um a nt a r warga masyarakat itu.Ada p un s al a h sa t u tu j ua n p ol it ik h uk um In d o ne s ia a da la h pe ne ga sa nfungsi lembaga penegak atau pelaksana hukum dan pembinaan anggotanya.Dan salah satu pelaksana hukum ini adalah notaris. Dengan adanya penegasanpada keberadaan notaris sebagai salah satu pelaksana hukum, berarti notaris te la h

m en da pa t h ak y an g l eg al u nt uk me na ng an i p er hu bu ng an hu ku m

a nt ar ma s y ar ak at . Se la in i tu , a kt a ya ng di bu at ol eh n ot ar i s a da l ah su at u p ro du khukum yang diakui kebenarannya, yaitu suatu produk yang lahir oleh kebijakanpolitik hukum.

BAB IIIKESIMPULAN 9

B e r d a s a r k a n p e m a p a r a n y a n g t e l a h d i k e m u k a k a n d i a t a s ,

m a k a kesimpulan yang dapat saya berikan adalah sebagai berikut :1.Ada beberapa prinsip penting di dalam suatu negara hukum yaitu:

a.

P en ga k ua n d an p er li nd un ga n t er h ad a p ha k as as i m an us i a y an g m e n g a n d u n g p e r s a m a a n d a l a m b i d a n g p o l i t i k , h u k u m , s o s i a l , ekonomi dan kebudayaan ; b.

Peradilan yang bebas dan tidak memihak serta tidak dipengaruhi oleh sesuatu kekuasaan atau kekuatan apa pun ; dan

c.

Legalitas dalam arti hukum.2 . P o l i t i k h u k u m n a s i o n a l I n d o n e s i a m e l i p u t i b e b e r a p a h a l b e r i k u t :

a.

P e l a k s a n a a n k e t e n t u a n h u k u m y a n g t e l a h a d a s e c a r a k o n s i s t e n ( i u s constitutum) ;

b.

P em b ah a ru an te r ha da p h uk um da n pe nc ip ta a n k et e nt ua n hu ku m ba r uyang diperlukan untuk memenuhi tuntutan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat (ius constituendum) ;

Dalam dokumen POLITIK HUKUM DALAM PROFESI JABATAN NOTARIS (Halaman 31-42)

Dokumen terkait