• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Peternak Sapi Bali

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Karakteristik Peternak Sapi Bali

Karakteristik adalah ciri-ciri atau sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang yang ditampilkan melalui pola pikir, pola sikap dan pola tindakan terhadap

lingkungannya (Mislini, 2006). Setiap orang mempunyai pandangan, tujuan, kebutuhan dan kemampuan yang berbeda satu sama lain, perbedaan ini akan terbawa dalam dunia kerja, yang akan menyebabkan kepuasan satu orang dengan yang lain berbeda pula, meskipun bekerja ditempat yang sama. Variabel umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan formal, jenis pekerjaan utama, jumlah ternak yang dimiliki, jumlah anggota keluarga, pengalaman beternak dan bertani dan jumlah anggota keluarga yang terlibat dalam usaha tani ternak merupakan karakter demografi.

4.3.1. Umur

Umur merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kemampuan kerja dan pola pikir peternak dalam mengelola usaha ternak sapi Bali.

Usia produktif merupakan usia ideal untuk bekerja dan mempunyai kemampuan untuk meningkatkan produktivitas kerja serta memiliki kemampuan yang besar dalam menyerap informasi dan teknologi yang inovatif di bidang peternakan maupun pertanian.

Wahid (2012) menyatakan bahwa umur penduduk dikelompokkan menjadi 3 yaitu (1) umur 0-14 tahun dinamakan usia muda/usia belum produktif, (2) umur 15-64 tahun dinamakan usia dewasa/usia kerja/usia produktif, dan (3) umur 65 tahun keatas dinamakan usia tua/usia tak produktif/usia jompo. Klasifikasi umur peternak di Kecamatan Lohia Kabupaten Muna dapat disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Klasifikasi umur peternak di Kecamatan Lohia Kabupaten Muna Klasifikasi Umur Jumlah (orang) Presentase ( % )

15-64 85 94 %

> 64 5 6 %

Total 90 100

Tabel 1 menunjukkan bahwa tingkat umur peternak di Kecamatan Lohia didominasi oleh umur produktif yaitu sebesar 94% yaitu umur 15-64 tahun dan tingkat umur peternak yang berumur non produktif 6% aitu umur lebih dari 64 tahun.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya persentase peternak yang berumur produktif disebabkan peternak yang ada di Kecamatan Lohia melakukan usaha ternak secara turun temurun. Umur produktif akan membuat peternak lebih aktif dan kreatif serta memiliki kemampuan fisik untuk melakukan aktivitasnya termasuk upaya pengembangan usaha yang dimiliki. Peternak yang umurnya non produktif tetapi mereka masih menekuni pekerjaan sebagai peternak dikarenakan sudah menjadi kegiatan seharihari.

Menurut Andini et al., (2013) peternak dengan usia non produktif tersebut masih berusaha tani dikarenakan merasa masih kuat, harus bekerja untuk memperoleh penghasilan, dan tidak ada regenerasi petani. Anak-anak peternak selepas sekolah formal, biasanya merantau keluar daerah untuk mencari pengalam an. Peternak masih bekerja di usia tua karena tidak memiliki jaminan hari tua (pensiun), sehingga harus terus bekerja selama tidak ada yang menjamin hidupnya.

4.3.2. Jenis Kelamin

Jenis kelamin merupakan faktor penting yang menentukan produktivitas kerja. Pada umumnya tingkat produktivitas pekerja laki-laki cenderung lebih tinggi dibanding dengan pekerja wanita. Klasifikasi jenis kelamin peternak di Kecamatan Lohia Kabupaten Muna dapat disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Klasifikasi jenis kelamin peternak di Kecamatan Lohia Kabupaten Muna

Jenis Kelamin Jumlah (orang) Presentase (%)

Laki-Laki 81 90

Perempuan 9 10

Jumlah 90 100

Tabel 2 menujukkan bahwa persentase jenis kelamin peternak laki-laki lebih besar yaitu 90% sedangkan persentase jenis kelamin peternak perempuan yaitu 10%. Hal ini disebabkan dalam menjalankan usaha ternak sapi Bali lebih banyak menggunakan kekuatan fisik. Sedangkan perempuan memiliki fisik yang kurang kuat dan sering mengguakan perasaan dalam bekerja. Selain itu, faktor biologis juga sangat mempengaruhi seperti cuti ketika melahirkan. Pada umumnya laki–laki lebih produktif dan lebih mengandalkan kekuatan fisik sehingga lebih selektif dalam bekerja. Selain itu, wanita yang sudah berkeluarga cenderung lebih sulit untuk membagi waktunya untuk bekerja karena sebagian besar waktunya digunakan untuk mengurus rumah tangga (Ukkas, 2017).

4.3.3. Tingkat Pendidikan Formal

Tingkat pendidikan dalam hal ini pendidikan formal merupakan faktor yang mempengaruhi kemampuan seseorang dalam berpikir, terutama dalam mengambil langkah-langkah atau tindakan dalam upaya peningkatan kesejahteraan hidupnya. Tingkat pendidikan yang dimiliki oleh petani-peternak mulai dari SD, SLTP, SLTA hingga S1. Pendidikan merupakan salah satu indikator dalam menilai kompetensi seseorang dalam melakukan pekerjaan.

Semakin tinggi pendidikan seseorang akan berdampak pada kemampuan kerjanya,

dengan pendidikan yang dimiliki akan membantu seseorang dalam menyerap teknologi. Tidak berbeda dengan peternak yang terdapat di Kecamatan Lohia, aktivitas bertani dan beternak juga harus didukung dengan tingkat pendidikan yang memadai, hal tersebut dimaksudkan untuk mempermudah serapan teknologi dalam kegiatan bertani dan berternak guna meningkatkan hasil produksinya.

Tingkat pendidikan peternak di Kecamatan Lohia Kabupaten Muna dapat disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Tingkat pendidikan peternak di Kecamatan Lohia Kabupaten Muna Tingkat penddikan Jumlah (orang) Presentase (%)

SD 54 60

SLTP 30 33

SLTA 5 6

S1 1 1

Jumlah 90 100

Tabel 3 menunjukkan tingkat pendidikan petani-peternak didominasi oleh SD sebanyak 60 orang (60%), SLTP sebanyak 30 orang (33%), SLTA sebanyak 5 orang (6%) dan S1 sebanyak 1 orang (1%). Tingkat pendidikan peternak bisa dikatakan masih rendah, hal ini dikarenakan lebih dari setengah jumlah responden hanya tamat SD 60% dan SLTP 30%. Kondisi tersebut tentu berdampak terhadap alih fungsi teknologi yang cepat, sehingga optimasi produksi dari aktivitasnya sebagai peternak menjadi kurang maksimal, sementara jika peternak melakukan penggunaan teknologi akan mempersingkat waktu kerjanya dan mempunyai waktu untuk mengerjakan pekerjaan lain sehingga berdampak terhadap peningkatan pendapatan.

4.3.4. Skala Kepemilikan Ternak

Jumlah ternak menunjukkan banyaknya ternak sapi yang dipelihara dan dimiliki oleh responden. Usaha ternak sapi Bali dalam peternakan rakyat masih merupakan usaha sampingan bagi peternak, dimana skala usahanya masih dalam skala usaha kecil. Disamping jumlah ternak yang dipelihara relatif kecil, peternakan rakyat melibatkan anggota keluarga diluar pekerjaan utamanya dalam pemeliharaan ternak. Klasifikasi jumlah ternak peternak di Kecamatan Lohia Kabupaten Muna disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Skala kepemilikan ternak sapi bali di Kecamatan Lohia Kabupaten Muna

Jumlah Ternak Jumlah (Orang) Presentase

1-2 10 11

3-4 33 37

5-6 39 43

≥7 8 9

Total 90 100

Tabel 4 menujukkan bahwa jumlah ternak yang dimiliki oleh peternak Kecamatan Lohia masih dominan dengan skala kepemilikan menengah 5-6 ekor sebanyak 39 orang (43%), skala kepemilikan rendah yaitu 3-4 ekor sebanyak 33 orang (37%), skala kepemilikan sangat rendah yaitu 1-2 ekor sebanyak 10 orang (11%) dan skala kepemilikan ternak dengan kategori tinggi yaitu ≥7 sebenyak 8 orang (9%). Hal ini menunjukkan bahwa usaha ternak sapi Bali peternak di Kecamatan Lohia harus dikembangkan lebih lanjut, karena pada umumnya skala jumlah ternak responden masih tergolong skala kecil, sehingga untuk meningkatkan produktifitas suatu usaha peternak maka dibutuhkan peningkatan dalam jumlah ternak.

Bessant (2005) menyatakan bahwa skala kepemilikan sapi potong peternak yang berstatus sebagai peternakan rakyat, dikelompokkan menjadi 3 bagian yaitu

skala kecil (1-5 ekor), skala menengah (6-10 ekor) dan skala besar (>10 ekor).

Usaha sapi potong yang dijalankan oleh peternak masih termasuk dalam usaha skala kecil. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya keterbatasan modal usaha, jenis usahanya masih merupakan usaha sampingan, tenaga kerja masih melibatkan anggota keluarga diluar pekerjaan utamanya, dan cara pemeliharaannya masih bersifat tradisional. Jika dilihat dari jumla

h ternak pada masing-masing peternak dapat digolongkan dalam peternakan rakyat.

4.3.5. Struktur Kepemilikan Ternak

Struktur kepemilikan ternak dapat dibedakan atas jenis kelamin dan umur, dimana umur ternak sapi terbagi atas dewasa (sapi Bali yang telah berproduksi, umumnya berumur dua tahun atau lebih), muda (sapi Bali lepas sapih yang berumur antara satu hingga dua tahun dan belum berproduksi), dan pedet (anak sapi Bali yang berumur 0 bulan hingga satu tahun atau anak sapi Bali yang masih menyusuh pada induknya) (Putra, 2017). Adapun struktur kepemilikan ternak sapi Bali di Kecamatan Lohia Kabupaten Muna berdasarkan hasil penelitian lapangan yang telah dilakukan dapat disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Struktur Kepemilikan Ternak Sapi Bali di Kecamatan Lohia Kabupaten Muna

Umur Jenis Kelamin Jumlah (ekor)

Pedet Betina 50

Jantan 65

Muda Betina 75

Jantan 50

Dewasa Betina 120

Jantan 85

Total 445

Tabel 5 menunjukan struktur kepemilikan ternak sapi Bali di Lohia Kabupaten Muna dari 90 orang responden diproleh hasil populasi ternak sapi Bali sebanyak 445 ya ekor yang terdiri dari 50 ekor pedet jantan, 65 ekor pedet betina, 75 ekor muda jantan, 50 ekor muda betina, 45 ekor jantan dewasa dan 160 ekor betina dewasa. Persentase ternak betina dewasa lebih tinggi dibanding dengan ternak jantan, selisih ternak betina dewasa dan ternak jantan dewasa tidak terlau besar jumlahnya hal ini dikarenakan peternak di Kecamatan Lohia Kabupaten Muna masi menerapkan sistem perkawinan alam.

4.3.6. Jumlah Tanggungan Keluarga

Jumlah tanggungan keluarga berkaitan dengan penyediaan tenaga kerja dalam keluarga seperti istri, anak dan saudara atau keluarga petani peternak. 45 Jumlah tanggungan keluarga peternak di Kecamatan Lohia merupakan suatu kekuatan dalam usaha ternak. Sawal (2020) menyatakan bahwa besarnya kebutuhan yang harus ditanggung kepala keluarga dalam rumah tangga dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga peternak. Jumlah anggota keluarga yang dimiliki peternak sangat mempengaruhi kegiatan usaha tani, khususnya dalam hal penyediaan tenaga kerja keluarga dalam pengelolaan usaha tani, terutama anggota keluarga yang berada dalam golongan usia produktif.

Penggolongan tanggungan keluarga 1-3 orang dalam jumlah tanggungan dikategorikan sebagai keluarga kecil, jumlah tanggungan 4-6 orang dikategorikan keluarga sedang dan lebih dari 6 orang tanggungan dikategorikan keluarga besar.

Jumlah tanggungan keluarga peternak di Kecamatan Lohia Kabupaten Muna disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Jumlah Tanggungan Keluarga Peternak di Kecamatan Lohia Kabupaten Muna.

Jumlah tanggungan

keluarga (orang) Jumlah (orang) Presentase (%)

1-3 12 13

4-6 63 70

6 15 17

Total 90 100

Tabel 6 menunjukkan bahwa tanggungan peternak di Kecamatan Lohia adalah 4 - 6 orang sebanyak 63 petani-peternak (70%), 1 - 3 orang sebanyak 12 petani-peternak (13%) dan jumlah tanggungan lebih dari 6 sebanyak 15 petani- peternak (17 %). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase tanggungan sedang, hal ini disebabkan peternak yang ada di Kecamatan Lohia masih berumur produktif sehingga jumlah tanggungan keluarga masih tergolong rendah.

Purwanto dan Taftazani (2018) menyatakan bahwa jumlah tanggungan kelurga kedalam tiga kelompok yakni tanggungan keluarga kecil 1-3 orang, tanggungan keluarga sedang 4-6 orang dan tanggungan keluarga besar adalah lebih dari 6 orang. Jumlah tanggungan ini biasanya akan dipengaruhi oleh aspek geografis, pendidikan dan budaya.

4.3.7. Jumlah Anggota Keluarga Yang Terlibat

Jomima (2012) menyatakan bahwa tenaga kerja keluarga yang biasanya digunakan dalam usaha peternakan rakyat terdiri dari ayah (kepala keluarga), ibu dan anak-anak. Kepala Keluarga memegang peranan yang penting dan memiliki

tanggung jawab yang besar atas keberlangsungan usaha peternakan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala keluarga memiliki curahan waktu kerja yang lebih besar dibandingkan dengan anggota keluarga lannya.

Anggota keluarga yang terlibat dalam usaha ternak sapi Bali atau yang biasa disebut sebagai tenaga kerja keluarga merupakan salah satu komponen pendapatan dari pemeliharaan ternak sapi Bali, sehingga tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi. Untuk melihat jumlah anggota keluarga yang terlibat dalam usaha ternak sapi Bali di kecamatan Lohia Kabupaten Muna dapat disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Jumlah Anggota Keluarga Peternak Yang Terlibat Dalam Usaha Ternak Sapi Bali di Kecamatan Lohia Kabupaten Muna.

Jumlah anggota keluarga

yang terlibat (orang) Jumlah (orang) Presentase (%)

1-2 75 83

3-4 15 17

≥ 5 0 0

Total 90 100

Tabel 7 menunjukkan bahwa jumlah anggota yang terlibat dalam usaha ternak sapi Bali di Kecamatan Lohia Kabupaten Muna didominasi oleh jumlah anggota keluarga antara 1-2 orang sebanyak 75 peternak (83%), 3-4 orang sebanyak 15 peternak (17%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase jumlah anggota keluarga yang terlibat dalam usaha ternak sapi Bali masih rendah yaitu 1-2 orang dengan presentase 83%, hal tersebut menyebabkan tidak optimalnya dalan menjalakan usaha ternaknya.

Darmawi (2012) menyatakan bahwa peranan peternak pada pemeliharaan sapinya merupakan kontribusi pencurahan waktu selama pemeliharaan ternak

sangat berkaitan dengan peranan tenaga kerja kelurga peternak, dimana anggota keluarga yang terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan pemeliharaan sapi tentu saja harus dilakukan perhitungan, sehingga seberapa besar curahan waktu dan nilai ekonomi jasa tenaga kerja dapat diketahui. Kemudian nilai ekonomi jasa tenaga kerja tersebut walaupun tidak pernah dibayarkan, namun nilai tersebut adalah nilai pengorbanan dalam pendapatan usaha ternak yang sifatnya tidak tunai.

4.3.8. Pengalaman Berternak

Pengalaman seseorang dalam berternak merupakan penentu keberhasilan dalam mengelola usaha ternaknya. Semakin lama pangalaman yang dimiliki oleh responden semakin tinggi pula wawasan dalam pengelolaan usaha ternaknya sehingga akan berdampak pada hasil produksi yang lebih tinggi. Pengalaman memudahkan para peternak ketika mendapat kendala dalam proses aktivitas pertanian dan peternakan. Pengalaman beternak sapi Bali dan bertani di Kecamatan Lohia Kabupaten Muna disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Pengalaman usaha peternak sapi Bali di Kecamatan Lohia Kabupaten Muna

Pengalaman (Tahun) Berternak

Jumlah (Orang) Presentase (%)

0-10 11 12

11-20 33 37

≥ 20 46 51

Total 90 100

Tabel 8 menunjukkan bahwa pengalaman usaha ternak sapi Bali ≥ 20 tahun sebanyak 46 orang (51%), 11-20 tahun sebanyak 37 orang (31%) dan pangalaman 0-10 tahun sebanyak 11 orang (12%). Hal ini menggambarkan bahwa tingkat pengalaman peternak cukup baik memberikan pengaruh positif terhadap

pengembangan usaha ternak sapi Bali di Kecamatan Lohia Kabupatn Muna.

Ismawati (2020) menyatakan bahwa Pengalaman beternak sangat penting dalam pengembangan usaha karena merupakan indikator tingkat pengetahuan beternak seseorang dalam menjalankan usahanya, sejalan sengan Febrina dan Liana (2008) menyatakan bahwa pengalaman beternak yang cukup lama memberikan indikasi bahwa pengetahuan dan keterampilan peternak terhadap manajemen pemeliharaan ternak mempunyai kemampuan yang lebih baik. Pengalaman beternak sangat berpengaruh terhadap keberhasilan usaha.

4.4 Aspek Fisik

Dokumen terkait